*Rakyat Menjerit Harga Sawit Terjun Bebas, Perhatian Pemkab Dinilai Lebih Condong pada Seremoni: Antara Harapan Kesejahteraan dan Realita Penderitaan Petani*
Tokoh Masyarakat Tegaskan Urgensi Solusi Nyata: “Roda Ekonomi Lumpuh, Kami Butuh Tindakan Bukan Sekadar Seruan Simbolis”
MUKOMUKO, Bengkulu. 27 Mei 2026 – Gelombang kekhawatiran yang mendalam kini berubah menjadi suara lantang dan kritik tajam yang bergema dari berbagai penjuru Kabupaten Mukomuko. Komoditas unggulan yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian daerah dan sumber penghidupan mayoritas warga, yakni kelapa sawit, kini berada di ambang keterpurukan. Anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani yang terus merosot tajam, hingga menyentuh angka yang sangat memprihatinkan yakni Rp2.100 per kilogram di sejumlah perusahaan pengolahan, telah memicu keprihatinan luas sekaligus kekecewaan mendalam di kalangan masyarakat. Di tengah situasi ekonomi yang kian terhimpit ini, perhatian dan langkah nyata pemerintah daerah di bawah kepemimpinan Bupati Mukomuko dinilai banyak pihak belum sepenuhnya hadir dan memihak, terlebih ketika pemberitaan resmi justru lebih banyak menyoroti imbauan pengibaran bendera Merah Putih dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila, sementara persoalan krusial harga sawit yang melumpuhkan ekonomi rakyat seolah belum mendapatkan prioritas penanganan serius dan mendesak.
Kesenjangan antara kondisi riil masyarakat dan fokus kebijakan yang dipandang berjalan lambat inilah yang menjadi alasan utama mengapa berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, tokoh pemuda, hingga perwakilan petani, akhirnya angkat bicara dengan nada yang penuh penekanan. Bagi mereka, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk sekadar berbicara hal-hal bersifat seremonial atau simbolis semata, melainkan momen krusial yang menuntut kehadiran pemimpin untuk turun tangan, mendengar keluh kesah, dan berjuang membela kepentingan rakyatnya di tengah tekanan ekonomi yang berat.
“Rakyat saat ini sedang menjerit dalam diam yang mulai berubah menjadi suara keras. Harga sawit hancur lebur tak seperti biasanya. Ekonomi di pelosok desa hampir lumpuh total karena hampir seluruh sendi kehidupan kami bergantung pada komoditas ini. Namun, apa yang kami lihat? Pemimpin daerah justru lebih sering muncul di ruang publik hanya untuk menyampaikan imbauan mengibarkan bendera. Hal ini sungguh sangat menyakitkan hati kami para petani, rasakan sekali ada ketimpangan besar antara apa yang kami butuhkan dan apa yang menjadi perhatian utama pemerintah saat ini,” ungkap salah seorang tokoh masyarakat yang memiliki pengaruh besar di kalangan petani, dengan nada suara yang mengandung rasa kecewa dan keprihatinan mendalam.
Menurut penilaian para tokoh dan pengamat sosial di daerah ini, kondisi penurunan harga yang terjadi saat ini bukanlah sekadar fluktuasi harga biasa yang bisa berlalu begitu saja. Penurunan harga TBS yang berlangsung serentak dan drastis di berbagai perusahaan pengolahan minyak kelapa sawit (CPO) di wilayah Mukomuko telah memberikan dampak pukulan telak bagi struktur ekonomi masyarakat. Dampak buruk ini tidak hanya dirasakan oleh petani pemilik kebun semata, melainkan telah merembet hingga menyentuh kehidupan para buruh tani, pedagang pengumpul, pelaku usaha kecil, hingga penyedia jasa angkutan di pedesaan.
Data-data yang berkembang di lapangan dan diakui kebenarannya oleh pelaku usaha menunjukkan adanya penurunan yang sangat tajam dan mengejutkan. Tercatat, dalam kurun waktu yang relatif singkat, sejumlah perusahaan bahkan berani menurunkan tingkat pembelian hingga mencapai selisih Rp500 per kilogram. Angka ini terasa sangat besar dan membebani mengingat biaya produksi dan perawatan kebun yang justru terus mengalami kenaikan dari waktu ke waktu.
“Coba lihat daerah-daerah lain di luar sana. Ketika harga sawit jatuh, kepala daerahnya sibuk mengadakan rapat koordinasi, memanggil pihak manajemen perusahaan duduk bersama, berupaya keras merumuskan langkah penyelamatan harga, bahkan tak segan bersuara lantang hingga ke pemerintah pusat demi membela hak rakyatnya. Lantas, apa yang terjadi di Mukomuko? Suasana terasa begitu sunyi. Bupati seolah tidak peka atau belum memahami betul bagaimana denyut nadi ekonomi rakyatnya sendiri yang sedang terguncang hebat ini. Kami ingin ada keberpihakan, bukan ketidakpedulian,” tegas tokoh masyarakat lainnya yang turut memberikan pandangan kritisnya terhadap cara penanganan pemerintah daerah.
Gelombang kemarahan dan kekecewaan publik ini juga mulai mengarah pada sorotan mengenai pola dan gaya kepemimpinan yang dinilai belum sepenuhnya menyentuh akar masalah. Banyak pihak mempertanyakan efektivitas dan prioritas kerja pemerintah daerah yang menurut pengamatan warga, lebih banyak dihabiskan untuk kegiatan perjalanan dinas dibandingkan duduk merumuskan solusi konkret di tempat.
“Dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah atau APBD dikucurkan cukup besar untuk membiayai perjalanan dinas ke sana ke mari, namun apa hasil nyata yang bisa kami rasakan? Di mana investasi besar yang dijanjikan akan masuk dan membuka lapangan kerja baru? Di mana terobosan-terobosan ekonomi yang bisa mengangkat taraf hidup masyarakat? Dan yang paling mendesak saat ini, di mana letak keberpihakan pemerintah kepada petani yang sedang terhimpit utang dan biaya hidup? Yang kami rasakan justru beban rakyat makin berat dan kehidupan makin susah,” kritik seorang tokoh pemuda yang juga aktif dalam organisasi kemasyarakatan setempat.
Para penilai sosial dan pemuka pendapat di Mukomuko sepakat menegaskan bahwa kelapa sawit bukanlah sekadar komoditas perdagangan biasa bagi masyarakat daerah ini. Sawit adalah nyawa, adalah sumber kehidupan, dan menjadi poros utama berputarnya roda perekonomian keluarga besar masyarakat Mukomuko. Maka, ketika harga komoditas ini jatuh bebas tanpa kendali, dampak bergelombangnya akan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Dampak nyata kini sudah mulai terlihat jelas di setiap sudut desa. Warung-warung kelontong mulai sepi pembeli karena daya beli masyarakat merosot tajam. Angsuran kendaraan bermotor dan kebutuhan pokok rumah tangga mulai banyak yang tertunggak. Kegiatan ekonomi yang dulunya ramai dan dinamis kini berjalan sangat lambat bahkan mandek. Situasi kritis seperti ini, menurut pendapat umum, menuntut keberanian luar biasa dari seorang kepala daerah untuk tampil ke depan, berbicara lantang, dan memperjuangkan kepentingan rakyatnya, bukan justru memilih diam, abai, atau tenggelam dalam agenda-agenda seremonial yang kurang memiliki dampak langsung terhadap pemulihan ekonomi.
“Jika memang kebijakan yang dibuat oleh pemerintah pusat atau regulasi di tingkat atas dinilai berdampak buruk dan merugikan kepentingan petani daerah, maka kewajiban kepala daerah adalah berani bersuara, menyampaikan aspirasi, dan berjuang mencari jalan tengah. Jangan hanya diam seribu bahasa sampai rakyat benar-benar marah dan kehabisan kesabaran. Pemimpin itu ada untuk melayani dan melindungi, bukan sekadar memimpin upacara,” tegas salah satu perwakilan kelompok tani dengan nada penuh penekanan.
Selain menyoroti sikap pemerintah daerah yang dinilai pasif, para tokoh masyarakat juga mempertanyakan secara tajam letak keberpihakan Pemkab Mukomuko terhadap keberadaan perusahaan-perusahaan pengolahan kelapa sawit atau CPO yang beroperasi di wilayah hukum daerah ini. Banyak pihak menilai perusahaan terasa terlalu mudah dan leluasa menurunkan harga beli tanpa adanya tekanan, perundingan, atau pengawasan yang serius dan tegas dari pihak pemerintah selaku wakil tertinggi daerah.
“Bupati harusnya berani bertindak tegas, memanggil seluruh pimpinan perusahaan sawit yang ada di sini, duduk melingkar dalam satu meja perundingan, dan bersama-sama mencari jalan keluar serta solusi terbaik agar petani tidak terus menjadi pihak yang paling dirugikan. Jangan biarkan petani berjuang seorang diri menahan beban berat ini sendirian. Ingatlah, ini bukan soal politik atau kepentingan golongan tertentu, ini adalah soal perut rakyat, soal kehidupan ribuan keluarga yang bergantung pada kelangsungan harga sawit yang wajar,” tambah pernyataan tegas dari salah seorang tokoh masyarakat yang mewakili suara banyak pihak.
Hingga berita ini diturunkan, gelombang kritik, masukan, dan tuntutan agar pemerintah daerah lebih responsif diperkirakan akan terus membesar dan semakin nyaring suaranya. Hal ini akan terus terjadi apabila Bupati beserta jajarannya masih dianggap bersikap pasif, lambat, atau belum menempatkan krisis harga sawit sebagai agenda utama dan keadaan darurat daerah yang harus diselesaikan secepatnya. Masyarakat Mukomuko masih menaruh harapan besar agar pemimpinnya segera hadir membawa solusi, bukan sekadar seruan, demi menyelamatkan ekonomi daerah dan kesejahteraan rakyat yang sedang berada di titik nadir ini.
Pewarta: TIM/Redaksi