Beranda blog

Kapolda NTB dan Pangdam XXX/Rinambora Perkuat Sinergi TNI-Polri

0

Kapolda NTB dan Pangdam XXX/Rinambora Perkuat Sinergi TNI-Polri

Warta.in
Mataram,NTB — Kapolda NTB Irjen Pol. Kalingga Rendra Raharja, S.E., M.H., menyambut kedatangan Pangdam XXX/Rinambora Mayjen TNI Edi Saputra, S.I.P., M.Han., Selasa (20/10/2026) pukul 14.00 Wita, di VIP Room Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), Lombok Tengah.

Penyambutan tersebut menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan kelembagaan TNI dan Polri di Nusa Tenggara Barat. Sinergi kedua institusi berperan penting dalam menjaga keamanan, ketertiban, serta stabilitas wilayah.

“Sinergi TNI-Polri perlu terus diperkuat melalui komunikasi, koordinasi, dan kerja sama yang baik demi menjaga keamanan, serta memberikan rasa aman kepada masyarakat,” ungkap Irjen Kalingga.

Dikatakan, kedekatan jajaran TNI dan Polri menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai tantangan keamanan di daerah. Koordinasi yang solid diharapkan mendukung pelaksanaan tugas masing-masing institusi, sekaligus menjaga situasi NTB tetap kondusif.

“Kami berharap hubungan baik dan kerja sama yang telah terjalin dapat terus ditingkatkan. Dengan kebersamaan, berbagai tantangan di daerah dapat dihadapi secara lebih optimal,” kata Irjen Kalingga.

Penyambutan Pangdam XXX/Rinambora di Bandara Internasional ZAM tersebut, mencerminkan pentingnya komunikasi antarpimpinan dalam memperkuat kolaborasi TNI-Polri, untuk menjaga keamanan dan mendukung kehidupan masyarakat di NTB.(sr/hpntb)

Pemdes Sindang Jaya Utamakan Musyawarah dalam Penyaluran Bantuan Beras bagi Warga yang Membutuhkan

0
Oplus_16908288

Warta.in – Rejang Lebong, Bengkulu.

Pemerintah Desa Sindang Jaya, Kecamatan Sindang Kelingi, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, mengedepankan musyawarah bersama masyarakat dalam menentukan penerima bantuan beras. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bantuan tersalurkan secara tepat sasaran, terutama kepada warga kurang mampu dan masyarakat yang memenuhi kriteria sebagai penerima bantuan. (21/10/2026).

Dalam prosesnya, pemerintah desa melibatkan masyarakat untuk membahas pendataan calon penerima bantuan secara terbuka. Pendekatan tersebut diharapkan dapat mendorong penyaluran yang adil dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi serta kebutuhan warga.

Melalui pendataan dan pembahasan bersama, warga yang tergolong miskin dan dinilai layak menerima bantuan diidentifikasi agar penyaluran beras dapat dilakukan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.

Musyawarah ini juga menjadi langkah untuk mencegah kesalahpahaman di tengah masyarakat yang berpotensi memicu perselisihan. Dengan adanya keterlibatan warga dalam proses pengambilan keputusan, setiap kebijakan diharapkan dapat dipahami dan diterima bersama.

Selain berfokus pada penyaluran bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan, pemerintah desa juga berupaya menjaga keharmonisan dan memperkuat kebersamaan antarwarga. Keterbukaan dalam proses pendataan diharapkan dapat membantu mempertahankan situasi sosial yang aman dan kondusif di Desa Sindang Jaya.

Melalui musyawarah dan pendataan yang melibatkan masyarakat, penyaluran bantuan beras diharapkan berlangsung tertib, transparan, dan tepat sasaran. Langkah ini sekaligus diharapkan dapat memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah desa serta menjaga hubungan baik di lingkungan desa.

(TimRedaksi)

Musyawarah Diutamakan untuk Cari Solusi Penambangan Emas Tradisional di Lebong Tambang

0
Oplus_16908288

Warta.in – Lebong, Bengkulu.

Aktivitas penambangan emas tradisional di kawasan persawahan Lobang Kacamata, Desa Lebong Tambang, Kecamatan Lebong Utara, Kabupaten Lebong, menjadi perhatian berbagai pihak. Persoalan ini berkaitan dengan mata pencaharian penambang, hak penggarapan lahan, keselamatan kerja, hingga potensi dampak terhadap lingkungan.

Perbedaan pendapat terkait rencana penutupan lubang tambang turut mewarnai persoalan tersebut. Sejumlah penambang menyatakan keberatan terhadap rencana itu. Karena itu, dialog dan musyawarah dinilai menjadi langkah penting untuk mencari jalan keluar yang dapat diterima oleh semua pihak.

Pada Senin (19/10/2026), Deni Supendi selaku pemilik hak garap lahan menyampaikan imbauan mengenai aktivitas penambangan di kawasan tersebut. Kegiatan itu dihadiri Kepala Desa Lebong Tambang, anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), perangkat desa, Bhabinkamtibmas, Babinsa, Ketua Koperasi Opic, serta unsur Perlindungan Masyarakat (Linmas).

Sebelumnya, pemerintah desa bersama warga juga telah menggelar musyawarah pada Kamis (15/10/2026). Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya membahas persoalan penambangan yang berkembang di tengah masyarakat.

Selain menyangkut kepentingan ekonomi warga, aktivitas penambangan yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menimbulkan berbagai risiko. Di antaranya kerusakan lahan persawahan, longsor atau runtuhnya lubang galian, serta pencemaran tanah dan sumber air akibat pengelolaan limbah yang tidak tepat.

Oleh sebab itu, penyelesaian persoalan ini perlu mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari kondisi di lapangan, keselamatan para penambang, kepastian hukum, hingga upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Untuk mendapatkan solusi yang menyeluruh, koordinasi diharapkan melibatkan pemerintah desa,Pemerintah Kabupaten Lebong, DPRD Kabupaten Lebong, pemilik hak garap lahan, pihak koperasi, para penambang, serta instansi teknis yang membidangi pertambangan dan lingkungan hidup. Dengan keterlibatan seluruh pihak, keputusan yang diambil diharapkan memiliki dasar kajian yang jelas dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Kapolres Lebong AKBP Agoeng Ramadhani, S.H., S.I.K., saat dikonfirmasi mengenai persoalan tersebut, menekankan pentingnya komunikasi dan musyawarah untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

“Kami mengajak seluruh pihak untuk menahan diri, menjaga situasi tetap kondusif, serta mengedepankan dialog dalam menyampaikan aspirasi. Persoalan ini perlu dibahas secara menyeluruh dengan melibatkan pihak-pihak terkait, ter masukmemperhatikan aspek keselamatan dan dampak lingkungan yang mungkin timbul dari aktivitas penambangan. Kami berharap dapat ditemukan solusi yang dapat diterima bersama dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” ujarnya.

Kapolres juga berharap seluruh pihak tetap menjaga hubungan baik dan menghindari tindakan yang dapat memicu perselisihan. Masyarakat diimbau untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi serta memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk menyelesaikan persoalan melalui jalur damai.

Melalui musyawarah dan koordinasi lintas pihak, persoalan penambangan emas tradisional di kawasan Lobang Kacamata diharapkan dapat diselesaikan secara adil dan bertanggung jawab. Kepentingan ekonomi masyarakat perlu menjadi perhatian, tanpa mengesampingkan keselamatan kerja, kepatuhan terhadap hukum, dan kelestarian lingkungan demi kepentingan bersama di masa mendatang.

(Tim Redaksi)

Tim Jaksa Agung Muda Pidana Militer Audensi dengan Pangdam I/BB di Medan

0

Warta.in Medan – Tim Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Militer (Jampidmil) Kejaksaan Agung melakukan audiensi dengan Panglima Kodam I/Bukit Barisan (Pangdam I/BB) Mayjen TNI Hendy Antariksa di ruang kerja Pangdam I/BB, lantai II Makodam I/BB, Medan. Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00 WIB tersebut menjadi ajang silaturahmi untuk mempererat hubungan kelembagaan kedua institusi.

Rombongan Jampidmil dipimpin Kolonel Cpm Hairul Arifin selaku Ketua Tim Koordinasi Perkara Koneksitas. Kedatangan rombongan diterima langsung oleh Pangdam I/BB dan didampingi sejumlah pejabat Kodam I/BB, yakni Asisten Intelijen Kasdam I/BB, Komandan Polisi Militer Kodam (Danpomdam) I/BB, serta Perwakilan Kepala Hukum Kodam (Kakumdam) I/Bukit Barisan.

Audiensi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga komunikasi dan hubungan baik antara Kejaksaan Agung dan TNI, khususnya Kodam I/Bukit Barisan. Hubungan kelembagaan yang terjalin diharapkan dapat mendukung koordinasi dalam pelaksanaan tugas masing-masing institusi.

Salah satu aspek penting dalam hubungan kerja kedua institusi adalah koordinasi penanganan perkara koneksitas, yakni perkara tindak pidana yang melibatkan pihak yang tunduk pada peradilan umum dan pihak yang tunduk pada peradilan militer. Penanganan perkara semacam ini membutuhkan koordinasi sesuai kewenangan dan mekanisme hukum yang berlaku.

Dalam lingkup kejaksaan, keberadaan Asisten Pidana Militer (Aspidmil) di lingkungan kejaksaan tinggi menjadi salah satu unsur pendukung koordinasi penanganan perkara yang melibatkan prajurit TNI dan masyarakat sipil. Koordinasi tersebut diharapkan dapat membantu mewujudkan proses penegakan hukum yang profesional serta memberikan kepastian hukum.

Selain Kolonel Cpm Hairul Arifin, rombongan Jampidmil terdiri atas Fajar Syah Putra selaku Kepala Bagian Tata Usaha dan Pengelolaan serta Pengawalan; Ganda selaku Kepala Seksi Wilayah I; dan Muhammad Bayanullah selaku Kepala Seksi Wilayah II. Turut hadir Harlembang S. Murtanto selaku Kepala Subbagian Tata Usaha. Conny Tonggo Masdalima dan Dwi Setiawan juga hadir sebagai jaksa fungsional, bersama Yola Puspita dan Abner Noel Purba sebagai petugas aset dan barang bukti, serta Habi Ainul Ikhsan selaku pengelola penanganan perkara.

Melalui audiensi ini, hubungan baik antara Kejaksaan Agung dan Kodam I/Bukit Barisan diharapkan terus terpelihara. Komunikasi dan koordinasi antarlembaga yang berjalan baik diharapkan dapat mendukung pelaksanaan tugas secara profesional, terpadu, dan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. (RN)

Sumber: Kodam I/BB

Plt Bupati Tulungagung Resmikan Layanan CT Scan RSUD Campurdara Dr Karneni

0

TULUNGAGUNG – Warta in. – Upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Tulungagung terus dilakukan. Salah satunya melalui penambahan fasilitas pemeriksaan medis berupa Computed Tomography (CT) Scan di RSUD Campurdarat dr. Karneni.

Fasilitas CT Scan tersebut secara resmi diluncurkan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin, pada Rabu (21/10/2026). Kehadiran layanan ini diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam memperoleh pemeriksaan diagnostik yang lebih lengkap di rumah sakit tersebut.

Dengan adanya CT Scan, pasien yang membutuhkan pemeriksaan berdasarkan indikasi medis tidak harus selalu mendapatkan rujukan ke rumah sakit lain.

Fasilitas tersebut juga diharapkan mampu mendukung dokter dalam memperoleh gambaran kondisi tubuh pasien secara lebih detail.

Acara peluncuran turut dihadiri Sekretaris Daerah Tulungagung Tri Hariadi, Kepala Dinas Kesehatan, Ketua Komisi C DPRD beserta sejumlah anggota, jajaran manajemen RSUD Campurdarat dr. Karneni, Direktur RSUD dr. Iskak, serta para direktur rumah sakit swasta di Kabupaten Tulungagung.

Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Baharudin menyampaikan bahwa peningkatan sarana dan prasarana kesehatan merupakan bagian penting dari upaya pemerintah daerah dalam memperluas akses sekaligus meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat.

Menurutnya, penggunaan teknologi CT Scan dapat membantu tenaga medis mendapatkan informasi yang lebih terperinci mengenai kondisi pasien. Hasil pemeriksaan tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai salah satu dasar dalam menentukan diagnosis maupun tindakan medis yang diperlukan.

“Pengembangan fasilitas kesehatan harus terus dilakukan agar masyarakat mendapatkan pelayanan yang semakin baik dan mudah dijangkau,” ujar Ahmad Baharudin.
Selain menambah peralatan medis, Ahmad juga menekankan pentingnya peningkatan kemampuan sumber daya manusia.

Menurutnya, keberadaan fasilitas berteknologi tinggi harus didukung tenaga kesehatan yang kompeten, koordinasi yang baik antarfasilitas kesehatan, serta pelayanan yang profesional dan mengutamakan kebutuhan pasien.

Beroperasinya layanan CT Scan di RSUD Campurdarat dr. Karneni diharapkan dapat memperkuat kemampuan rumah sakit dalam memenuhi kebutuhan pemeriksaan diagnostik sesuai indikasi medis dan kapasitas yang tersedia.

Keberadaan fasilitas tersebut juga diharapkan dapat menekan angka rujukan, terutama terhadap kasus-kasus yang sebenarnya masih dapat ditangani di RSUD Campurdarat.

Bagi masyarakat, hadirnya layanan CT Scan menjadi tambahan pilihan untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan secara lebih dekat dan efisien. Kendati demikian, optimalisasi layanan tetap membutuhkan dukungan tenaga medis yang siap, prosedur pelayanan yang baik, serta fasilitas penunjang yang memadai.

Pemerintah Kabupaten Tulungagung berharap RSUD Campurdarat dr. Karneni terus melakukan pengembangan sehingga keberadaan fasilitas kesehatan tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam memperluas akses terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas.

“Yang terpenting bukan hanya memiliki fasilitas CT Scan, tetapi bagaimana fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal melalui pelayanan yang cepat, tepat, profesional, dan sesuai kebutuhan pasien,” pungkasnya.
Pewarta: Pauji (kabiro tulungagung)

Pelantikan Taruna/Taruni SMKN 1 Cikande Angkatan v tahun ajaran 2026/2027  Berjalan Khidmat

0

Pelantikan Taruna/Taruni SMKN 1 Cikande Angkatan v tahun ajaran 2026/2027  Berjalan Khidmat

KAB. SERANG,– WARTA IN || Pelantikan Taruna/i SMK Negeri 1 Cikande, Kabupaten Serang, Provinsi Banten Tahun Pelajaran 2026/2027 di halaman SMK Negeri 1 Cikande, Rabu (14/9/2022) berjalan khidmat

Hadir dalam acara pelantikan Taruna/i Kepala KCD Seragon (Dr. H. Syadely., S.Pd., M.Si.)

Pengawas Pembina (Rusdani, M.Pd. dan Dr. Hariyanto, M.Pd) Komandan Lanud SAT (Mohammad Eka Wahyudik., M. Han) diwakili kadisop Ketua MKKS SMK (Dadi Mahmudin, M.Pd) Ketua Komite (Aan Suandaria)

Babinsa (Sertu Nasari NRP 31060160370487)

Bhabinkamtibmas (Nur Iman)

Kecamatan Cikande

Kepala Desa Julang

PT. LamiPak

Honda Motor Cikande

PT. Fonusa Agung Mulia Farm, Perwakilan Dunia Usaha Dan Dunia Industri (DU/DI), Komite Sekolah, Dewan guru dan Orang tua/wali siswa.

Kepala SMK Negeri 1 Cikande Jainudin, M.Pd menyebut Tujuan Pendidikan adalah penguatan pendidikan karakter pada satuan pendidikan pormal, sementara hasil analisa kebutuhan pelanggan orang tua siswa dunia usaha dan industri, serta masyarakat yang mengharapkan lulusan SMK Negeri 1 Cikande berkarakter baik, berakhlak mulia, dan tingkat kedisiplinan yang tinggi.

“Calon taruna/i sebanyak 429 orang yang siap dilantik menjadi taruna. Pelantikan dilakukan oleh Kepala SMK Negeri 1 Cikande Jainudin M.Pd.

“Selanjutnya dalam membentuk sikap taruna yang berakhlak mulia disiplin bertanggung jawab, tekun serta tidak mengenal menyerah dalam belajar dan bekerja, membentuk fisik dan mental taruna yang sehat dan kuat, membentuk taruna yang berbudaya yang mampu berkomunikasi dan mengakses informasi, mampu beradaptasi serta menjunjung tinggi nilai- nilai kehidupan,” katanya.

“Berwawasan wiyata mandala SMK Negeri 1 Cikande berpendidikan keagamaan, sosial dan kemasyarakatan, pendidikan fisik , mental dan pengembangan diri peraturan disiplin ketarunaan serta implementasi kurikulum Merdeka,” tandasnya

Kepala Cabang Dinas Seragon KCD (Dr. H. Syadely., S.Pd., M.Si.) mengatakan, dalam rangka pelantikan taruna/i SMK Negeri 1 Cikande di halaman SMK Negeri 1 Cikande ini pihaknya mengapresiasi setinggi tingginya kepada Kepala sekolah SMK beserta jajarannya dan Arhanud Sultan agung Tirtayasa yang telah menjadi instruktur/mendidik calon taruna/i yang akan melaksanakan pelantikan hal ini menandakan untuk meningkatkan komitmen bahwa SMKN 1 Cikande ini akan menghasilkan taruna/i yang tangguh disiplin dan profesional.

“Saya mengimbau kepada taruna taruni yang sudah dilantik ini mudah-mudahan bahwa ilmu yang sudah didapat selama pendidikan di sekolah semoga bermanfaat dan bisa di inplementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya.

“Dan kepada kepala sekolah beserta jajarannya, teruslah menggali potensi yang ada untuk meningkatkan dan mengembangkan sumberdaya yang ada, diharapkan dengan komitmen SMKN 1 Cikande ini betul – betul bisa melahirkan taruna/i yang tangguh, disiplin, berkualitas dan profesional dan juga saya mengajak kepada orang tua serta guru dan steakhoder yang ada kita awasi aset – aset bangsa kita ini, mereka adalah aset, kita mengawasi mereka baik pergaulannya secara moral baik didalam maupun diluar lingkungan,” imbuhnya.

Komandan Lanud SAT (Mohammad Eka Wahyudik., M. Han) diwakili kadisop Ketua Arif Yudi Pratama menjelaskan, pihaknya mengapresiasi kepada Kepala sekolah dengan jajarannya, KCD, dan pelatih Detasemen Arhanud Sultan agung Tirtayasa serta tamu undangan dan taruna/i yang telah melaksanakan kegiatan ketarunaan yang di dalamnya pendidikan kesemaptaan dimana kegiatan ini akan membentuk sebuah karakter siswa yang berkualitas.

“Diharapkan dengan adanya kegiatan ini semoga rohani dan jasmani kalian dapat membentuk karakter, kedisiplinan, dan juga kepada anak- anakku semoga bermanfaat, saya mengucapkan selamat kepada anak anakku bahwa kalian semua diterima di sekolah ini, berharap SMKN 1 Cikande dapat berdaya saing dengan sekolah lain serta dapat menciptakan siswa yang berprestasi, berkualitas serta unggulan di berbagai hal,” pungkasnya.

(Ressy)

“Langkah Senyap Pemkab PALI Sulap Sektor Agraria Jadi Motor Utama Program Strategis Nasional”

0

Warta.in//PALI – 21 Oktober 2026, Pemerintah Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) meluncurkan strategi progresif untuk mengamankan kedaulatan pangan regional sekaligus mendongkrak ekonomi pedesaan. Langkah ini diwujudkan melalui pematangan model integrasi yang mempertemukan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dalam satu ekosistem rantai pasok komoditas pangan yang solid di Sumatera Selatan.

Dalam rapat koordinasi virtual yang digelar dari Ruang Rapat Sekretariat Daerah (Setda) PALI, jajaran pemerintah daerah membedah kesiapan regulasi, tata kelola logistik, hingga sinkronisasi data lintas sektor. Langkah cepat ini diambil untuk memastikan bahwa kebutuhan pangan program MBG sepenuhnya ditopang oleh potensi komoditas lokal yang sehat, bermutu tinggi, dan berkelanjutan.

KDKMP Sebagai Agregator: Garansi Pasar Bagi Petani dan Nelayan PALI, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten PALI, Kartika Yanti, SH., MH, yang memimpin langsung jalannya rapat strategis tersebut menegaskan bahwa hambatan terbesar dalam kedaulatan pangan selama ini adalah rantai pasok yang terlalu panjang dan biaya transaksi yang tinggi. Integrasi kelembagaan ini hadir sebagai solusi konkret mutakhir.

Melalui skema baru ini, KDKMP akan bertindak sebagai agregator resmi di tingkat tapak. Koperasi akan menyerap langsung hasil bumi dari para petani, peternak, dan nelayan tradisional di seluruh pelosok desa di PALI. Komoditas yang telah terkumpul kemudian didistribusikan secara langsung ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di tingkat kecamatan yang dikelola oleh Badan Gizi Nasional.

“Kami ingin memastikan perputaran uang dan dampak ekonomi dari program masif ini murni berputar di dalam daerah dan dinikmati langsung oleh masyarakat PALI. Kehadiran KDKMP menjadi jaminan bahwa SPPG tidak perlu lagi bergantung pada distributor besar dari luar daerah, melainkan murni digerakkan oleh keringat petani dan UMKM lokal kita sendiri,” ujar Kartika Yanti tegas.

Ekspansi Jangkauan dan Multiplier Effect Ekonomi Desa, Hingga saat ini, Kabupaten PALI telah mengoperasikan infrastruktur pendukung berupa tiga titik SPPG di wilayah kecamatan strategis. Fasilitas tersebut telah menyuplai makanan kaya nutrisi bagi ribuan siswa dari puluhan sekolah, mulai dari jenjang PAUD hingga SMA.

Melihat keberhasilan fase awal ini, Pemkab PALI berkomitmen mempercepat perluasan jangkauan operasional ke kecamatan lain, termasuk Abab dan Penukal, yang saat ini sedang dalam tahap finalisasi persiapan operasional.

Secara makro, integrasi ini diproyeksikan mampu mengaktifkan perputaran dana yang sangat masif di tingkat perdesaan. Selain menjamin kecukupan gizi anak sekolah, balita, dan ibu hamil, ekosistem baru ini terbukti menciptakan lapangan kerja baru dalam skala besar—mulai dari jajaran pengelola koperasi, staf juru masak di dapur SPPG, hingga armada kurir distribusi lokal.

Pengawasan Mutu Ketat Demi Cegah ‘Food Waste’ Menyadari ketatnya standar keamanan pangan dan parameter gizi yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, Pemkab PALI tidak ingin kecolongan. Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis—seperti Dinas Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan, serta Dinas Koperasi dan UMKM—diinstruksikan untuk melakukan pendampingan dan pembinaan berkala kepada para produsen lokal dan pengelola KDKMP.

Agenda prioritas yang kini tengah dikebut adalah sinkronisasi data produksi berbasis wilayah dengan Badan Gizi Nasional (BGN) dan Badan Pangan Nasional (Bapanas). Langkah ini krusial agar proyeksi kebutuhan menu harian di setiap SPPG dapat berjalan selaras dengan grafik masa panen komoditas lokal, sehingga risiko pangan terbuang (food waste) akibat ketidaksesuaian pasokan dapat ditekan hingga titik nol.

Model keterpaduan hulu-hilir yang diterapkan Pemkab PALI ini diharapkan tidak hanya sekadar menjadi program pemenuhan nutrisi, melainkan menjadi fondasi kokoh untuk melahirkan generasi emas yang sehat dan cerdas, sekaligus mengakselerasi visi besar PALI dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Syok Akibat Penyitaan Scaffolding Paksa Berbuntut Meninggalnya Ibunda Pelapor, Kasus Hukum Terus Berlanjut

0

Syok Akibat Penyitaan Scaffolding Paksa Berbuntut Meninggalnya Ibunda Pelapor, Kasus Hukum di Polres Gresik Terus Berlanjut

GRESIK//Warta.In – Kasus dugaan tindak pidana pencurian biasa berkedok penyitaan utang piutang yang terjadi di wilayah Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, kini tengah bergulir di meja kepolisian. Permasalahan ini berujung tragis lantaran tindakan sewenang-wenang yang diduga dilakukan oleh terlapor mengakibatkan ibunda pelapor mengalami syok berat hingga akhirnya meninggal dunia.Rabu (21/10/2026)

Proses hukum ini bermula dari perselisihan utang piutang yang berujung pada penyitaan sepihak barang berupa scaffolding. Kasus tersebut telah memasuki tahap mediasi di kepolisian, di mana pihak pelapor, Moh. Aris Abdul Karim, telah menunjukkan itikad baik dengan melunasi kewajibannya. Namun, karena adanya kerugian materiil dan immateriil yang besar, proses pidana tetap dilanjutkan.

Hal tersebut ditegaskan oleh Suliono, S.H., dari Kantor SULIONO, S.H & Partners, selaku Kuasa Hukum yang mendampingi Aris dalam perkara ini. Ia memastikan pelaporan dugaan pencurian ini tidak akan berhenti begitu saja meski utang telah dilunasi.

“Sudah ini tadi tahap mediasi, dan dari pihak Aris sendiri sudah mengembalikan utangnya senilai kurang lebih 10 juta rupiah. Dan disepakati oleh terlapor dan pelapor, kasus untuk dilanjut kembali sampai dengan ada titik temu terkait permasalahan masalah dugaan pencurian scaffolding yang dilakukan oleh saudara Imam Wahyudi,” tegas Suliono, S.H.

Kasus ini secara resmi telah ditangani oleh Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Gresik. Berdasarkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) Nomor: B/1666/IX/2026/Reskrim tertanggal 17 September 2026, kasus ini diselidiki atas dugaan tindak pidana pencurian biasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 476 KUHP (KUHP Baru).

Penyelidikan dilakukan merujuk pada Laporan Pengaduan Masyarakat bernomor LPM/985.Satreskrim/IX/2026/SPKT/POLRES GRESIK tanggal 06 September 2026, dengan Surat Perintah Penyelidikan Nomor: SP. Lidik/1453/IX/2026/Reskrim. Proses penyelidikan saat ini berada di bawah tanggung jawab Kasat Reskrim Polres Gresik, AKP Mohammad Prasetyo, S.I.K., M.Si., dengan penyidik yang bertugas yakni AIPTU Darminto, S.H.

Peristiwa pilu ini bermula pada Jumat, 21 Agustus 2026, sekira pukul 09.00 WIB. Kejadian berlangsung di dua lokasi, yakni di Duku Kembar Semampir Rt.04 Rw.01 dan Jl. Jalak Rt.01 Rw.01, Desa Lowayu, Kec. Dukun, Kab. Gresik.

Moh. Aris Abdul Karim membeberkan kronologi mencekam saat terlapor mendatangi kediamannya dan melakukan tindakan yang memicu histeris keluarganya.

“Kejadian pertama iku, Mas. Dheke nyita scaffolding itu tanpa sepengetahuan saya, tanpa izin aku. Lah, pas waktu ke rumah, itu dia itu mbentak-mbentak sama ibue. Lepas iku posisinya mbentak-mbentak sama ibu mau merampas barang yang ada di rumah. Kemudian, pas itu istri saya nangis, gelur-gelur, dia mau ambil L300, pick up, untuk mengambil barang tersebut,” ungkap Aris menceritakan tindakan arogansi terlapor.

Bentakan dan tindakan perampasan paksa di dalam rumah tersebut berdampak sangat fatal terhadap kondisi kesehatan ibunda Aris. Wanita paruh baya tersebut mengalami trauma psikologis yang berat pasca-kejadian.

“Lah, lepas iku penyebabe ndadekno ibu saya syok. Dan dan syok iku, selama syok iku, itu 2 hari, pas penyitaannya itu hari Jumat, hari Minggu pagi itu ninggal,” terang Aris dengan nada pedih, menyayangkan hilangnya nyawa sang ibunda akibat peristiwa tersebut.

Dengan terbitnya SP2HP dan komitmen untuk melanjutkan proses hukum, pihak keluarga berharap pihak kepolisian dapat mengusut tuntas dugaan perampasan barang secara sewenang-wenang ini agar keadilan bagi pelapor, serta almarhumah ibundanya, dapat ditegakkan.(roy)

Gen Z dan Krisis Finansial Mengintai: Mengapa Literasi Keuangan Tak Bisa Ditunda Lagi

0

Oleh: Dr. Widya Intan Sari, S.E., M.M.

Pernahkah kita membayangkan sebuah generasi yang bisa menghasilkan uang hanya dari membuat konten 15 detik, tetapi juga bisa menghabiskan uang itu dalam 15 detik berikutnya hanya karena tergoda diskon di e-commerce?

Itulah potret jujur Generasi Z hari ini. Generasi yang paling cerdas secara digital, namun paling rapuh secara finansial.

Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK tahun 2024 mengungkapkan sebuah ironi yang menampar: tingkat inklusi keuangan Gen Z sudah mencapai 78 persen, artinya hampir semua punya akses ke bank, e-wallet, paylater, hingga aplikasi investasi. Namun tingkat literasi keuangannya hanya 51 persen. Ada jurang besar antara “bisa mengakses” dan “paham cara menggunakan”.

Mereka fasih menggunakan lima dompet digital, memiliki tiga limit paylater yang aktif, dan bisa membeli saham Amerika dengan satu klik. Tapi ketika ditanya, “Jika besok kamu di-PHK, berapa lama kamu bisa bertahan hidup tanpa pinjaman?” Sebagian besar akan terdiam. Jawabannya seringkali: tidak sampai satu bulan.

Kita tidak sedang membicarakan tentang bagaimana menjadi crazy rich di usia 25 tahun. Kita sedang membicarakan hal yang jauh lebih mendasar: bagaimana caranya agar tidak tenggelam ketika badai finansial datang.

Dan badai itu, suka atau tidak, pasti akan datang.

Mengapa Gen Z Hidup di Era Paling Tidak Pasti Secara Finansial?

Jika generasi orang tua kita menghadapi krisis ekonomi besar mungkin sekali dalam 10 tahun, Gen Z menghadapi ketidakpastian setiap pagi saat bangun tidur.

Pertama, dari sisi pekerjaan. Gen Z adalah generasi gig economy. Mereka akrab dengan istilah freelance, part-time, remote worker, content creator, dan solopreneur. Tidak ada lagi pakem “masuk PNS, kerja 30 tahun, pensiun aman”. Pendapatan mereka cenderung fluktuatif, proyekan, dan sangat tergantung pada algoritma. Hari ini dapat brand deal puluhan juta, bulan depan bisa sepi tawaran sama sekali.

Kedua, dari sisi godaan. Gen Z adalah generasi pertama yang kantongnya benar-benar menjadi target algoritma. Media sosial tidak hanya menjual produk, tapi menjual gaya hidup. Standar “hidup normal” menjadi sangat mahal: harus ngopi di tempat estetik, harus liburan ke luar negeri setahun sekali, harus punya skincare 10 tahap, hingga harus punya gawai terbaru. Tekanan sosial untuk terlihat berhasil jauh lebih besar daripada tekanan untuk benar-benar berhasil.

Ketiga, dari sisi ancaman ekonomi makro. Harga properti di kota besar naik 3 hingga 4 kali lipat lebih cepat dari kenaikan UMR. Inflasi bahan pangan tidak main-main. Sementara itu, kemudahan berutang dibuat semudah memesan makanan daring. Inilah kombinasi sempurna untuk menciptakan krisis finansial personal.

Dalam situasi seperti ini, besarnya gaji tidak lagi relevan. Kuncinya hanya satu: seberapa cerdas kamu mengelola apa yang kamu punya. Dan itu adalah definisi paling sederhana dari literasi keuangan.

Tiga Penyakit Finansial Gen Z yang Diam-Diam Menggerogoti Masa Depan

Jika kita bedah lebih dalam, ada tiga pola berbahaya yang menjadi ciri khas krisis finansial Gen Z:

1. YOLO Economy: Ketika Self-Love Dijadikan Alasan untuk Boros

Generasi Z sangat peduli dengan kesehatan mental. Itu hal yang hebat. Namun, kepedulian itu sering kali dimanipulasi menjadi pembenaran untuk konsumtif. Muncul istilah-istilah seperti “self-reward karena sudah capek kerja”, “healing biar tidak burnout“, atau “tidak apa-apa boros, kamu berhak bahagia”.

Tanpa sadar, self-love berubah menjadi self-sabotage.

Sebuah studi perilaku konsumen menunjukkan bahwa pengeluaran kecil yang berulang (latte factor) adalah pembunuh keuangan paling senyap. Kopi seharga Rp 35.000 yang terlihat sepele, jika dibeli setiap hari kerja nilainya menjadi Rp 700.000 per bulan. Dalam setahun, itu setara Rp 8,4 juta. Uang itu cukup untuk menjadi dana darurat dua bulan bagi banyak pekerja muda di kota besar. Kita tidak dilarang menikmati kopi, tapi kita harus sadar bahwa setiap keputusan finansial kecil hari ini adalah penentu kebebasan finansial kita di masa depan.

2. Jebakan Lingkaran Setan Paylater: Gali Lubang Tutup Lubang Digital

Inilah bom waktu yang paling nyata. OJK mencatat per akhir 2024, total outstanding pinjaman Buy Now Pay Later (BNPL) di Indonesia menembus angka Rp 30 triliun, dengan 70 persen penggunanya adalah kelompok usia 18–35 tahun.

Masalahnya bukan pada produk paylater-nya, melainkan pada pola pikir penggunanya. Banyak Gen Z yang menganggap limit paylater sebagai perpanjangan gaji, bukan sebagai utang. “Ah, masih ada limit 5 juta” dirasa sama dengan “masih ada uang 5 juta”. Padahal itu adalah uang masa depan yang ditarik ke hari ini, lengkap dengan beban bunga dan denda yang mencekik.

Yang lebih berisiko adalah efek domino dari riwayat kredit di SLIK OJK (dahulu BI Checking). Tunggakan pinjaman digital ratusan ribu rupiah yang dianggap sepele hari ini dapat menjadi alasan pengajuan KPR ditolak 5 tahun dari sekarang. Masa depan finansial digadaikan demi kepuasan instan.

3. FOMO Finansial: Ingin Cepat Kaya, Malas Belajar

Gen Z tumbuh di tengah derasnya konten cara cepat memperoleh ratusan juta dari pasar modal atau trading kilat. Algoritma media sosial sering kali membentuk ilusi bahwa kekayaan dapat diraih secara instan.

Akibatnya, banyak yang masuk ke instrumen investasi berisiko tinggi semata karena takut ketinggalan (Fear of Missing Out / FOMO). Mereka membeli instrumen spekulatif hanya karena rekomendasi grup daring atau figur publik tanpa pemahaman dasar yang memadai. Berdasarkan data asosiasi pasar modal, 60 persen investor ritel baru yang merugi di tahun pertama disebabkan oleh ketiadaan pengetahuan dasar investasi.

Prinsip emas Warren Buffett tetap berlaku: “Jangan pernah berinvestasi dalam bisnis yang tidak bisa kamu pahami.” Jika membeli sesuatu hanya karena orang lain membelinya, itu bukan investasi, melainkan spekulasi.

Lalu, Apa Solusinya? Tiga Pilar Bertahan Hidup yang Wajib Dikuasai

Literasi keuangan tidak serumit yang dibayangkan dan tidak memerlukan rumus ekonomi tingkat tinggi. Kuncinya bertumpu pada disiplin atas tiga pilar dasar berikut:

Pilar Pertama: Kuasai Arus Kas, Bukan Pamer Jumlah Gaji

Langkah paling fundamental yang sering dilewatkan adalah pencatatan. Kemapanan bukan semata-mata diukur dari nominal pemasukan, melainkan seberapa presisi seseorang mengendalikan arus pengeluarannya.

Mulailah dengan modifikasi metode alokasi anggaran 50/30/20:

  • 50 persen untuk kebutuhan hidup yang tidak bisa ditawar (tempat tinggal, konsumsi, transportasi, komunikasi).
  • 30 persen untuk keinginan yang masih bisa dikontrol (rekreasi, konser, langganan streaming).
  • 20 persen dialokasikan khusus untuk masa depan (tabungan, investasi, dana darurat).

Jika alokasi 20 persen belum memungkinkan, mulailah dari 10 persen atau bahkan 5 persen secara konsisten. Konsistensi jauh lebih penting daripada nominal.

Pilar Kedua: Bangun Jaring Pengaman Sebelum Membangun Istana

Kekeliruan terbesar anak muda adalah ingin langsung berinvestasi pada instrumen spekulatif agar terlihat berkelas, padahal belum memiliki jaring pengaman.

Setelah arus kas tertata, tugas pertama adalah membentuk dana darurat setara 3 sampai 6 kali pengeluaran bulanan. Tempatkan dana ini pada instrumen likuid dan berisiko rendah, seperti rekening tabungan terpisah atau reksa dana pasar uang, bukan pada instrumen fluktuatif seperti saham atau kripto.

Dana darurat ini berfungsi menyerap benturan finansial ketika menghadapi situasi tak terduga—mulai dari laptop rusak di tengah tenggat waktu, keperluan darurat keluarga, hingga jeda pergantian pekerjaan. Setelah dana darurat dan proteksi dasar (seperti BPJS Kesehatan/asuransi) terpenuhi, barulah ekspansi ke instrumen investasi modal dilakukan.

Pilar Ketiga: Pahami Perbedaan Aset dan Liabilitas, Investasi Leher ke Atas

Banyak kalangan muda yang keliru menganggap gawai terbaru berharga puluhan juta rupiah sebagai aset, padahal nilainya menyusut dan cicilannya membebani arus kas bulanan.

Aset sejati adalah segala sesuatu yang menghasilkan arus kas balik di masa depan. Pada fase awal karier, aset terbaik bagi Gen Z adalah pengembangan keterampilan (investasi leher ke atas). Mengalokasikan dana untuk pelatihan teknis, penguasaan bahasa, atau sertifikasi keahlian jauh lebih bernilai jangka panjang karena secara nyata meningkatkan nilai jual dan kapasitas profesional.

Penutup: Melek Finansial Adalah Bentuk Cinta Diri yang Paling Dewasa

Melek finansial bukan berarti membatasi diri secara ekstrem atau anti-bersenang-senang. Justru sebaliknya, melek finansial adalah bentuk self-love yang paling dewasa: kemampuan berkata “tidak” pada kesenangan sesaat demi memastikan ketenangan hidup di masa mendatang.

Ketidakpastian ekonomi dan dinamika dunia kerja berada di luar kendali kita. Namun, derajat kesiapan dan daya tahan finansial sepenuhnya berada di bawah kendali keputusan kita hari ini.

Bagi Generasi Z, masa depan finansial tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa besar gaji pertama yang diterima, melainkan oleh ketepatan dan kedisiplinan keputusan finansial yang diambil hari ini.

KRISIS SDM DI TENGAH KRISIS AI: KETIKA PERUSAHAAN LUPA UNTUK APA MANUSIA DIPERTAHANKAN

0

Oleh: Yuli Wahyudi, S.E., M.M.
Dosen Manajemen, Universitas Pamulang

Krisis Artificial Intelligence (AI) di dunia kerja bukan lagi sebuah prediksi. Ia sudah terjadi. Di berbagai sektor, dari administrasi hingga kreatif, otomatisasi telah mengambil alih tugas-tugas yang selama ini menjadi tumpuan ribuan pekerja.

Data dari World Economic Forum menyebutkan bahwa 42 persen tugas-tugas operasional dan administrasi kini dapat diotomatisasi. Di dalam negeri, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan alasan efisiensi dan adopsi AI semakin sering terdengar.

Namun, di tengah hiruk-pikuk kekaguman terhadap efisiensi AI, ada satu pertanyaan fundamental yang luput dijawab oleh banyak manajemen perusahaan: Setelah AI mengambil alih pekerjaan, untuk apa manusia dipertahankan?

Di titik inilah letak krisis yang sesungguhnya. Krisisnya bukan pada teknologinya, melainkan pada cara kita mengelola Sumber Daya Manusia (SDM).

Tiga Kegagalan Manajemen SDM di Era AI

Selama dua dekade terakhir, manajemen SDM di Indonesia dibentuk dengan paradigma Human Capital Efficiency. Manusia diposisikan sebagai pos biaya yang harus ditekan. Tugas HRD adalah menekan cost per hire, menekan turnover, dan menekan payroll.

Ketika AI datang dengan janji efisiensi berlipat ganda, paradigma lama ini menjadi bumerang. Banyak perusahaan terjebak dalam tiga kegagalan fatal.

1. Jebakan Efisiensi Buta

Banyak perusahaan melakukan substitusi, bukan transformasi. Mereka memecat sejumlah karyawan untuk digantikan oleh perangkat lunak AI, tanpa pernah mendefinisikan ulang seperti apa pekerjaan yang tersisa.

Akibatnya, perusahaan memang menjadi lebih efisien di atas kertas, tetapi kehilangan karakter, kualitas, dan jiwanya. AI mampu meniru estetika dan kecepatan, tetapi tidak mampu mereplikasi pengalaman, intuisi, dan identitas yang dibangun oleh manusia selama bertahun-tahun. Penghematan biaya jangka pendek dibayar dengan hilangnya keunggulan kompetitif jangka panjang.

2. Pelatihan Kosmetik Tanpa Redefinisi Jabatan

Ini adalah fenomena yang paling banyak terjadi saat ini. Karyawan diwajibkan mengikuti pelatihan singkat tentang prompt engineering atau penggunaan AI generatif, lalu dikembalikan ke sistem kerja dengan Standard Operating Procedure (SOP) yang sama seperti lima tahun lalu.

Ini bukanlah upskilling, melainkan formalitas. Keterampilan baru tidak akan pernah optimal jika wadah pekerjaannya masih usang.

Yang dibutuhkan oleh karyawan hari ini bukan sekadar cara bertanya kepada AI, melainkan kejelasan peran baru. Sebuah jabatan harus didefinisikan ulang. Sebagai contoh, Customer Service tidak lagi relevan sebagai penjawab pertanyaan rutin. Perannya harus berevolusi menjadi Customer Recovery Specialist, yaitu individu yang hanya menangani 20 persen kasus paling sensitif dan kompleks yang gagal diselesaikan oleh AI. Keahlian yang dibutuhkan bergeser dari kecepatan mengetik menjadi kecerdasan emosional, empati, dan kemampuan negosiasi.

Tanpa Job Redefinition, program pelatihan AI hanya akan menghamburkan anggaran.

3. Melupakan Fungsi Utama HR sebagai Penjaga Kemanusiaan

Di era di mana hampir semua tugas teknis bisa diotomatisasi, nilai yang paling langka dan mahal justru adalah nilai kemanusiaan.

AI dapat menyaring ribuan CV dalam hitungan detik, tetapi tidak dapat menilai daya juang dan potensi seseorang di balik CV yang tidak sempurna. AI dapat membuat surat penilaian kinerja yang paling objektif berdasarkan data, tetapi tidak dapat mendeteksi bahwa penurunan kinerja seorang karyawan disebabkan oleh kecemasan akan masa depan pekerjaannya.

Ketika sebuah perusahaan memecat karyawannya melalui email otomatis tanpa dialog, ia tidak hanya kehilangan satu orang. Ia sedang menghancurkan kepercayaan seluruh karyawan yang tersisa. Budaya kerja yang dibangun di atas rasa takut tidak akan pernah melahirkan loyalitas dan inovasi.

Arah Baru: Dari Human Resources Menjadi Human Relevance

Untuk bertahan, manajemen SDM harus melakukan revolusi paradigma. Dari sekadar pengelola sumber daya (Human Resources), menjadi penjaga relevansi manusia (Human Relevance). Setidaknya ada tiga langkah konkret yang harus diambil:

1. Mengubah Model Rekrutmen: Dari Berbasis Ijazah Menjadi Berbasis Adaptabilitas

Di era di mana pengetahuan menjadi usang dalam hitungan bulan, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dan nama besar universitas bukan lagi prediktor kesuksesan. Prediktor yang paling akurat saat ini adalah Adaptability Quotient (AQ). Yaitu, seberapa cepat seseorang mampu belajar hal baru, berdamai dengan ketidakpastian, dan berkolaborasi dengan mesin. Perusahaan harus mulai mencari pembelajar yang lincah, bukan sekadar pemegang gelar.

2. Mengubah Tolok Ukur Kinerja: Dari KPI Menjadi KHI

Key Performance Indicator (KPI) yang selama ini kita kenal sangat robotik: jumlah output, kecepatan, dan kehadiran. Semua metrik tersebut kini dimenangkan oleh AI. Sudah saatnya manajemen SDM mengadopsi Key Human Indicator (KHI). KHI mengukur hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh mesin: seberapa baik seseorang berpikir kritis, seberapa orisinal idenya setelah berkolaborasi dengan AI, dan seberapa besar dampaknya dalam membantu pertumbuhan rekan kerja. KHI tidak mengukur seberapa mirip manusia dengan robot, tetapi seberapa tidak tergantikannya manusia oleh robot.

3. Mengemban Peran Baru Sebagai Dewan Etik AI

Ini adalah peran paling krusial di masa depan. Siapa yang memastikan bahwa algoritma rekrutmen berbasis AI tidak bias gender atau ras? Siapa yang menjamin bahwa data pribadi karyawan yang digunakan untuk melatih model AI tetap aman? Siapa yang bertanggung jawab jika keputusan otomatis dari AI merugikan karyawan?

Jawabannya haruslah divisi SDM. SDM harus naik kelas dari bagian administrasi menjadi penjaga etika teknologi di dalam perusahaan, memastikan bahwa teknologi digunakan untuk memanusiakan manusia, bukan sebaliknya.

Penutup

Pada akhirnya, perusahaan yang akan tumbang di era AI bukanlah perusahaan yang tidak memiliki teknologi paling canggih. Mereka adalah perusahaan yang memiliki teknologi paling canggih, namun dikelola dengan pola pikir manajemen SDM yang paling tertinggal.

AI adalah cermin yang memaksa kita untuk jujur. Ia menunjukkan kepada kita mana pekerjaan kita yang selama ini sebenarnya tidak bernilai tambah, hanya sekadar kesibukan.

Jangan pernah takut bahwa AI akan mengambil pekerjaan kita. Takutlah jika setelah pekerjaan itu diambil, kita tidak lagi tahu apa nilai kita sebagai manusia.

Karena di dunia di mana hampir segalanya bisa diciptakan oleh mesin, satu-satunya hal yang tidak akan pernah bisa diciptakan adalah kemampuan untuk menjadi manusia yang memanusiakan manusia lain. Dan di situlah relevansi kita yang sesungguhnya akan tetap abadi.