31.9 C
Jakarta
Selasa, Mei 5, 2026
Beranda blog

Tambak Opung Banua Simanjorang Mertua Bagur & Sangap Simarmata Lumban Sait Ni Huta Alngit di Hasinggaan

0

Samosir, Saat ini jembatan penghubung dari Desa Bonan Dolok menuju Desa Hasinggaan masih baru kelar pembangunannya, sehingga untuk menuju ke Desa Hasinggaan dari Bonan Dolok dicapai dengan sepeda motor atau naik boat kayu. OH Simarmata SH keturunan dari Opung Ronuan Simarmata bersama Lindung Simarmata keturunan dari Opung Lettem Simarmata berkunjung ke Desa Hasinggaan pada Sabtu 13/12/2025 dengan mengunakan boat kayu milik Pak Siska Simarmata keturunan dari Opung Bartong Simarmata dari Huta Sampuran.

Kami sangat bersukacita karena disambut dengan penuh kehangatan oleh keluarga besar keturunan Opung Banua Simanjorang, yang diawali dengan berjiarah ke tambak / makam keturunan opung Banua Simanjorang. Sungguh sangat luar biasa. Tambak itu sangat megah, bertingkat. Padahal jalanan di desa Hasinggaan ini berliku, sempit, namun tambak ini bisa dibangun dan kini menjadi salah satu kebanggaan bagi masyarakat Hasinggaan., ujar OH Simarmata SH

Sebagaimana hukum adat yang berlaku di kalangan marga Simarmata yang berasal dari Alngit Desa Lumban Suhi Suhi Toruan, yang mengamanatkan hanya anak lelaki pertama yang berhak tinggal di tanah warisan keluarganya, maka berlaku juga di Huta Lumban Sait Ni Huta, dimana hanya anak lelaki pertama dari Opung Pultak Simarmata lah yang berhak tinggal di Huta Lumban Sait Ni Huta yaitu : Panahara Simarmata. Sedangkan kedua adiknya Gollu Simarmata dan Bagur Simarmata, mencari hunian baru di luar Angit.

Berdasarkan sejarah keluarga, diketahui bahwa Bagur Simarmata merantau ke Desa Hasinggaan, lalu menikah dengan boru Simanjorang (anak peremupan dari Opung Banua Simanjorang), menetap hingga akhir hayatnya di Desa Hasinggaan. Begitu juga dengan anaknya yang bernama Sangap Simarmata, menikah dengan boru Simanjorang juga (cucu dari Opung Banua Simanjorang), yang menetap hingga akhir hayatnya di Desa Hasinggaan.

Apa Edu Simanjorang warga Desa Siboro, yang merupakan keturunan Opung Banua Simanjorang menyampaikan sekitar tahun 1980 an, dia datang ke Alngit untuk menghadiri acara peresmian Tambak Keturunan Opung Pultak Simarmata Par Lumban Sait Ni Huta. Saya dihubungi oleh ibunya Wilmar Simanjorang boru Simarmata, yang merupakan cucu dari Sangap Simarmata & boru Simanjorang, agar saya dan ayah saya hadir sebagai Tulang Pamupus dari Lumban Simarmata (anak dari Sangap Simarmata & boru Simanjorang yang merupakan keturunan dari Opung Banua Simanjorang)

Selain itu, salah seorang warga Desa Hasinggaan menceritakan bahwa ia masih ingat sekitar tahun 1980 an itu, Wilmar Simanjorang datang ke Desa Hasinggaan untuk mengambil tanah dari Parholian (tempat pemakaman umum jaman dahulu) sebagai tanda holi holi dari Opung Bagur Simarmata dan Opung Sangap Simarmata yang dikebumikan di Desa Hasinggaan pada ratusan tahun silam. untuk dimasukkan ke tambak / makam keluarga keturunan Opung Pultak Simarmata di Huta Lumban Sait Ni Huta Alngit

Untuk itulah kami datang ke Desa Hasinggaan ini bertemu dan berkenalan dengan keturunan Opung Banua Simanjorang, hula hula dari Opung Bagur Simarmata dan Opung Sangap Simarmata. Kami berharap kedepannya nanti hubungan persaudaraan keluarga Simarmata par Alngit dan keturunan Opung Banua Simanjorang ini akan terus terjalin dengan baik. Rumah peninggalan Opung Banua Simanjorang yang tadinya berada di tanah tempat bangunan tambak keluarga opung Banua Simanjorang tersebut, saat ini ada di Huta Lumban Sosor Alngit, di sebelah Ruma Bolon milik keturunan Opung Tahi Mangalan Simarmata Raja Huta di Huta Lumban Sosor. Keadaan rumah peninggalan opung Banua Simanjorang itu masih sangat layak huni. Rumah tersebut dibawa oleh Lumban Simarmata dengan menggunakan kapal milik keluarga mertuanya marga Sinaga dari Desa Hasinggaan menuju Alngit Desa Lumban Suhi Suhi Toruan. Kami pun sangat berterima kasih atas jamuan secara adat dari keluarga besar tulang Simanjorang, dimana kami menerima dekke (ikan mas), ulos dan beras, disampaikan oleh OH Simarmata SH Ketua Umum Ketiga Punguan Simarmata & Boruna se Indonesia Periode 2002- 2008. (red)

Langkah Preventif, Spanduk Larangan Balap Liar Dipasang di Jalan Lintas Baturaja

0

Warta In

“Muara Enim – Kegiatan preventif dalam rangka menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat terus dilakukan oleh Polsek Lawang Kidul Polres Muara Enim Polda Sumsel. Kali ini, upaya tersebut diwujudkan melalui pemasangan spanduk himbauan larangan aksi balap liar yang dilaksanakan di wilayah Desa Keban Agung, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, pada Selasa (5/5/2026) siang.

Kegiatan tersebut dipusatkan di Jalan Lintas Baturaja RT 06 Dusun 2 Desa Keban Agung yang kerap dijadikan lokasi balap liar oleh sejumlah remaja.

Pemasangan spanduk dilakukan sebagai langkah antisipatif guna menekan potensi gangguan kamtibmas serta mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas yang dapat merugikan masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, Bhabinkamtibmas Desa Keban Agung Aipda Toni Andika Putra bersama Babinsa Sertu Buldani serta Kepala Desa Keban Agung Fajrol Bahri, S.M.NL.P., turut bersinergi dalam memberikan himbauan secara langsung kepada masyarakat sekitar.

Kapolres Muara Enim AKBP Hendri Syaputra, S.I.K., melalui Kapolsek Lawang Kidul Iptu Zakwan Rifqi, S.Tr.K., menerangkan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya preventif kepolisian dalam menciptakan situasi yang aman dan kondusif. “Kami terus berupaya melakukan langkah pencegahan terhadap aksi balap liar yang dapat membahayakan keselamatan pengguna jalan,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keterlibatan berbagai unsur, mulai dari Polri, TNI, hingga pemerintah desa menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas keamanan di lingkungan masyarakat. “Sinergitas ini sangat penting agar pesan-pesan kamtibmas dapat tersampaikan dengan efektif kepada masyarakat,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Desa Keban Agung Fajrol Bahri, S.M.NL.P., menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan tersebut. Ia berharap dengan adanya spanduk himbauan, masyarakat khususnya para remaja dapat lebih sadar akan bahaya balap liar. “Kami sangat mendukung langkah ini demi keselamatan bersama,” katanya.

Selain itu, dirinya juga menghimbau kepada para orang tua agar lebih memperhatikan aktivitas anak-anaknya, terutama pada waktu-waktu rawan terjadinya balap liar. “Kami mengajak para orang tua untuk berperan aktif dalam mengawasi anak-anaknya agar tidak terlibat dalam kegiatan yang membahayakan,” ucapnya.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan masyarakat Desa Keban Agung semakin sadar akan pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan, serta menjauhi segala bentuk aktivitas yang dapat mengganggu kenyamanan dan keselamatan bersama.

(Zulkifli/tim)

Gerak Cepat Polres Gresik Ringkus Pencuri HP di Manyar, Gasak 4 Ponsel Saat Pesta Ulang Tahun

0

Warta.in||GRESIK – Gerak cepat jajaran Satreskrim Polres Gresik membuahkan hasil dengan berhasil meringkus dua pelaku pencurian handphone yang beraksi di wilayah Manyar beserta penadah. Para pelaku memanfaatkan kelengahan korban yang tengah merayakan pesta ulang tahun di sebuah warung kopi, hingga empat unit ponsel berhasil digasak.(5/5/2026)

 

Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Nasution melalui Kasat Reskrim AKP Arya Widjaya menjelaskan, pengungkapan kasus ini bermula dari laporan masyarakat terkait hilangnya empat unit handphone milik sekelompok pemuda di sebuah warung kopi.

 

Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis, 23 April 2026, di Warkop Jirolu 02, Tebalo Center, Manyar. Saat itu, korban berinisial GPA bersama rekan-rekannya tengah merayakan ulang tahun salah satu teman mereka. Dalam suasana santai dan penuh canda, mereka menjalankan tradisi “guyonan” dengan menceburkan teman yang berulang tahun ke tambak yang berada di samping lokasi.

 

Sebelum melakukan aksi tersebut, para korban meletakkan empat unit handphone di atas meja warkop, masing-masing satu unit iPhone 13 Midnight, Poco X5 warna hitam, Oppo A60 warna biru, serta satu unit HP warna krem. Namun, kegembiraan itu justru dimanfaatkan oleh pelaku.

Sekitar pukul 17.10 WIB, setelah kembali dari tambak, para korban mendapati keempat ponsel tersebut telah hilang dari tempat semula.

“Menindaklanjuti laporan tersebut, Unit Resmob Polres Gresik segera melakukan penyelidikan, pada Jumat, 1 Mei 2026 sekitar pukul 16.00 WIB, petugas berhasil mengamankan dua tersangka berinisial AS (32) asal Bangkalan dan SNK (34) warga Kebomas di kawasan Jalan Mayjend Sungkono, Gulomantung,” tegasnya.

 

Dari tangan kedua pelaku, polisi menyita satu unit handphone Oppo A60 milik korban yang belum sempat dijual, serta satu unit sepeda motor Honda Beat dengan nomor polisi W-2928-DL yang digunakan sebagai sarana dalam menjalankan aksi pencurian.

 

Pengembangan kasus terus dilakukan. Berdasarkan hasil interogasi, diketahui bahwa tiga unit ponsel lainnya telah dijual kepada seorang penadah. Tim kemudian bergerak cepat dan pada pukul 21.30 WIB berhasil mengamankan terduga penadah berinisial IAP (30) di sebuah toko servis handphone di wilayah Balongpanggang, Gresik.

 

“Saat ini, seluruh tersangka beserta barang bukti telah diamankan di Mapolres Gresik untuk proses hukum lebih lanjut,” tegasnya.

 

Polisi juga tengah melakukan pendalaman guna melacak keberadaan barang bukti lain yang telah berpindah tangan.

Atas perbuatannya, para pelaku dijerat dengan Pasal 476 KUHP tentang tindak pidana pencurian.

 

“Kami dari Polres Gresik mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi tindak kejahatan di lingkungan sekitar. Apabila menemukan atau mengalami kejadian serupa, masyarakat dapat segera melapor melalui Call Center 110 atau hotline Lapor Kapolres di nomor 0811-8800-2006 (Cak Rama),” tandasnya.(kus)

Jalan Babakan Calibur, Depok Dicor, Akses Dua Kecamatan Kini Lebih Lancar

0

Warta in, Purwakarta — Penantian panjang warga Kampung Babakan Calibur, Desa Depok, Kecamatan Darangdan akhirnya terwujud. Pemerintah Kabupaten Purwakarta resmi mempercepat pembangunan jalan melalui proyek Rehabilitasi Jalan Lingkungan Paket 4-4, yang kini membuka akses vital penghubung dua desa sekaligus dua kecamatan.

Jalan tersebut menghubungkan Desa Depok dengan Desa Sempur, serta menjadi jalur strategis antara Kecamatan Darangdan dan Kecamatan Plered. Kehadiran infrastruktur ini diharapkan mampu memangkas waktu tempuh dan memperlancar mobilitas warga.

Proyek ini memiliki tantangan tersendiri karena melintasi lahan milik PT Kereta Cepat Indonesia China. Pemerintah daerah bersama masyarakat harus melalui proses koordinasi dan negosiasi yang cukup panjang sebelum akhirnya mendapatkan izin penggunaan lahan untuk kepentingan umum.

Selama bertahun-tahun, warga setempat menghadapi kondisi jalan yang rusak parah. Saat musim hujan, akses sering kali terputus dan berdampak pada aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga layanan kesehatan.

Dengan dimulainya pengecoran jalan, antusiasme warga pun meningkat. Mereka berharap jalan tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan dan mempercepat pertumbuhan wilayah.

Hal inipun mendapat respons positif warga sekitar lokasi pengerjaan, “Akhirnya jalan sekitar tempat tinggal kami diperbaiki. Terima kasih buat Pemda Purwakarta,” katanya dengan wajah sumringah.

Adapun proyek ini didanai melalui APBD Kabupaten Purwakarta Tahun Anggaran 2026 dengan nilai kontrak sebesar Rp790.059.865. Pengerjaan ditargetkan selesai dalam waktu 45 hari kalender.

Secara teknis, jalan yang dibangun memiliki panjang 1.006 meter dengan lebar bervariasi antara 1,1 hingga 2,5 meter. Material yang digunakan berupa beton readymix berkualitas tinggi yang diperkuat dengan pasangan batu, guna menjamin ketahanan jalan dalam jangka panjang.

Proyek ini dilaksanakan oleh CV Garuda Muda Putra sebagai kontraktor pelaksana dan mendapat sambutan luar biasa warga, warga pun puas atas hasil pekerjaannya.

 

Patroli Presisi Samapta Polres Muara Enim Cegah Tindak Pidana, Situasi Kota Tetap Kondusif

0

Warta In

“Muara Enim – Dalam rangka menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, Satuan Samapta Polres Muara Enim melaksanakan kegiatan Patroli Perintis Presisi pada Senin malam (4/5/2026) di seputaran Kota Muara Enim. Patroli ini difokuskan untuk mengantisipasi berbagai tindak pidana, khususnya Curat, Curas, dan Curanmor (3C).

Kapolres Muara Enim AKBP Hendri Syaputra, S.I.K melalui Kasi Humas AKP RTM. Situmorang menyampaikan bahwa kegiatan patroli ini merupakan bentuk kehadiran Polri di tengah masyarakat guna memberikan rasa aman serta mencegah potensi gangguan kamtibmas.

“Patroli Perintis Presisi ini rutin dilaksanakan sebagai langkah preventif dalam menekan angka kriminalitas, khususnya pada malam hari. Kehadiran personel di lapangan diharapkan mampu memberikan rasa aman bagi masyarakat,” ujarnya.

Patroli yang menggunakan kendaraan roda empat (R4) ini dipimpin oleh AIPTU Ahmad Arif bersama AIPDA Tomy Aquarius dan BRIPKA Dwi Yatmoko.

Sebelum pelaksanaan, personel terlebih dahulu melaksanakan apel pengecekan dan arahan guna memastikan kesiapan dalam bertugas.

Adapun sejumlah titik strategis yang menjadi sasaran patroli meliputi Hotel Griya Serasan Sekundang, Terminal Regional, SPBU Talang Jawa, Bank BRI, Bank Sumsel Babel, Stasiun KAI, Simpang Kepur, Islamic Center, Kantor Titan, Lapas Kelas II B Muara Enim hingga Jembatan Enim 3.Dalam pelaksanaannya, personel tidak hanya melakukan pemantauan situasi, tetapi juga memberikan imbauan kepada masyarakat. Di area hotel, petugas mengingatkan pengunjung agar selalu waspada terhadap kendaraan yang diparkir.

Sementara di lokasi perbankan, SPBU, dan fasilitas umum lainnya, patroli difokuskan untuk mengantisipasi kejahatan malam hari.Selain itu, patroli juga menyasar kawasan rawan seperti Simpang Kepur dan Islamic Center untuk mencegah aksi balap liar serta potensi gangguan keamanan lainnya. Di Lapas Kelas II B Muara Enim, petugas turut memberikan imbauan kepada penjaga agar tetap siaga dan berhati-hati selama bertugas.

Dari seluruh rangkaian kegiatan patroli yang dilaksanakan, situasi di wilayah hukum Polres Muara Enim terpantau dalam keadaan aman, kondusif, dan terkendali.

Polres Muara Enim menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat melalui kegiatan patroli rutin guna menciptakan rasa aman dan mencegah terjadinya tindak kriminalitas, tutup Kasi Humas.

(Zulkifli//tim)

Bungkus Yang Menghipnotis³

0

Samosir, Kadiman Pakpahan Mr Dreamer menyampaikan bahwa ada suatu fenomena di masyarakat, dimana sentuhan-sentuhan visual sering membuat akal sehat seseorang tertidur. Dalam kajian sosiologis, kondisi di mana masyarakat mudah “terhipnotis” oleh jabatan dan atribut luar,  sering dikaitkan dengan beberapa faktor psikologis dan budaya yang cukup mendalam:
1.Efek halo (halo effect), adalah bias kognitif di mana kesan positif kita terhadap satu aspek seseorang (misalnya, jabatan tinggi atau seragam mewah) meluap ke penilaian kita terhadap karakter mereka secara keseluruhan. Jika seseorang terlihat “berwibawa” dengan aksesori kekuasaan (mobil mewah, ajudan, pakaian dinas), otak kita secara otomatis berasumsi bahwa dia juga cerdas, jujur, dan kompeten, meski belum ada buktinya.
2.Budaya paternalistik, banyak lapisan masyarakat kita masih menganut budaya paternalisme, di mana sosok pemimpin dianggap sebagai figur “bapak” atau “atasan” yang harus dihormati tanpa syarat. Dalam budaya ini, simbol kekuasaan adalah segalanya. Jabatan dianggap sebagai mandat moral, sehingga apa pun yang dilakukan pejabat tersebut sering kali diterima dengan kepolosan sebagai suatu kebenaran.
3.Jebakan visual di era instan, masyarakat saat ini cenderung mengonsumsi informasi secara instan dan permukaan.
a.Logika visual, “kalau dia terlihat seperti orang sukses, maka dia pasti sukses.”
b Validasi media, pejabat yang sering muncul dengan atribut lengkap di media sosial mendapatkan validasi instan. Bagi masyarakat yang sibuk atau kurang literasi politik, penampilan adalah satu-satunya indikator yang mudah dicerna daripada membaca laporan pertanggungjawaban yang rumit.
4.Kebutuhan akan sosok penyelamat (Messiah Complex), sering kali, masyarakat yang merasa kesulitan secara ekonomi atau sosial memiliki harapan instan akan datangnya sosok “pahlawan”. Pejabat yang pandai memainkan aksesori (seperti gaya bicara yang merakyat namun tetap eksklusif) memanfaatkan harapan ini. Masyarakat tidak lagi melihat program kerja, melainkan melihat harapan yang dibungkus oleh wibawa jabatan tersebut.
Apakah Ini salah masyarakat? Tidak sepenuhnya. Sering kali ini adalah hasil dari desain komunikasi politik yang sengaja menciptakan jarak antara “rakyat” dan “penguasa”. Dengan menciptakan kesan eksklusif melalui aksesori dan jabatan, si pejabat sebenarnya sedang membangun benteng agar kekurangannya tidak terlihat.
Namun, menariknya, sekarang mulai muncul pergeseran. Apakah Anda merasa aksesori fisik (seperti iring-iringan mobil mewah) saat ini justru mulai memicu sentimen negatif atau rasa kesal di mata masyarakat yang lebih kritis?
Kondisi ini memang menjadi tantangan besar dalam demokrasi kita. Ketika Anda menyebut masyarakat masih dibutakan oleh sentimen rendah, kita sedang membicarakan fenomena di mana emosi dasar dan identitas permukaan lebih dominan daripada logika kebijakan.
Dalam sosiologi politik, ada beberapa alasan mengapa “sentimen rendah” ini begitu efektif digunakan oleh para pejabat:
1Politik identitas dan emosi dasar, sentimen rendah sering kali bermain di ranah ketakutan (fear mongering) atau kebanggaan semu. Pejabat tidak perlu menjelaskan cara mengatasi inflasi; mereka cukup tampil menggunakan atribut agama, suku, atau gaya hidup tertentu yang menyentuh emosi masyarakat. Ketika emosi sudah tersentuh, nalar kritis biasanya mati.
2.”Roti dan sirkus” (Panem et Circenses), adalah strategi kuno yang masih sangat relevan. Untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari isu-isu berat (seperti korupsi atau kegagalan sistem), pejabat memberikan “hiburan” atau bantuan instan.
a.Roti, bansos atau bantuan tunai di saat-saat strategis.
b.Sirkus, konten media sosial yang lucu, gimik joget, atau aksi panggung yang menghibur.
Masyarakat yang sedang sulit secara ekonomi cenderung lebih menghargai bantuan instan di tangan daripada janji perbaikan sistem yang abstrak.
3.Rendahnya literasi fungsional, banyak orang bisa membaca, tapi tidak semua bisa memahami makna di balik informasi. Kesenjangan ini dimanfaatkan untuk menyebarkan narasi yang dangkal. Akibatnya, masyarakat lebih mudah percaya pada siapa yang bicara (karena jabatannya/aksesorinya) daripada apa yang dibicarakan.
4.Primordialisme yang kuat, ikatan emosional terhadap kesamaan asal-usul sering kali membuat masyarakat menutup mata terhadap keburukan seorang pejabat. Muncul pemikiran, “Biar korupsi, yang penting dia orang kita,” atau “Biar tidak kerja, yang penting dia terlihat religius.” Inilah puncak dari “bungkus” yang mengalahkan “isi”.
Dampaknya bagi masa depan, jika sentimen rendah ini terus dipelihara, kita akan terjebak dalam lingkaran setan di mana:
a.Pejabat kompeten tersingkir, karena tidak pandai bersandiwara.
b.Pejabat pandai akting terpilih, karena mahir memainkan emosi massa.
Namun, sejarah mencatat bahwa sentimen rendah ini biasanya akan runtuh ketika masyarakat sudah mencapai titik krisis yang nyata, dimana bantuan instan tidak lagi cukup untuk menutupi perut yang lapar (red)

K3S Cilamaya Kulon Gelar Rapat Perdana Pasca Rotasi, Apresiasi Dedikasi Korwil dan Tokoh PGRI

0

K3S Cilamaya Kulon Gelar Rapat Perdana Pasca Rotasi, Apresiasi Dedikasi Korwil dan Tokoh PGRI

​CILAMAYA KULON KARAWANG | Warta In Jabar – Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Cilamaya Kulon menggelar rapat perdana pada bulan Mei 2026. Pertemuan ini menjadi momentum penting karena dilaksanakan tepat setelah tuntasnya proses rotasi penempatan Kepala Sekolah di lingkungan wilayah kerja Cilamaya Kulon.

​Selain membahas evaluasi kerja dan adaptasi pasca rotasi, agenda utama rapat kali ini adalah pemberian apresiasi dan tali kasih kepada sejumlah tokoh yang telah memasuki masa purnabakti dan menyelesaikan masa tugasnya.

​Ketua K3S Cilamaya Kulon, Bapak Ayan Haryana, secara simbolis menyerahkan cendera mata sebagai bentuk penghormatan dan ucapan terima kasih atas dedikasi yang luar biasa. Cendera mata tersebut diberikan kepada:

​Bapak Samson Kusumamiharja, selaku Korwil (Koordinator Wilayah) Pendidikan Cilamaya Kulon.

​Mantan Ketua PGRI Kecamatan Cilamaya Kulon.

​Serta sejumlah Kepala Sekolah Purnabakti yang telah mengakhiri masa tugasnya dengan penuh pengabdian.

​Dalam sambutannya, Bapak Ayan Haryana menyampaikan bahwa rotasi kepemimpinan adalah hal yang lumrah untuk penyegaran organisasi, namun jasa dan bimbingan para senior tidak akan terlupakan.

​”Pemberian cendera mata ini hanyalah simbol kecil dari rasa terima kasih kami yang sangat besar. Kami berharap silaturahmi tetap terjaga, dan ilmu yang telah Bapak-Bapak berikan dapat kami teruskan untuk memajukan pendidikan di Cilamaya Kulon,” ujar Ayan.

​Kegiatan yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan ramah tamah dan foto bersama, menandai semangat baru bagi para Kepala Sekolah di posisi penempatan yang baru untuk terus bersinergi membangun kualitas pendidikan di kecamatan Cilamaya Kulon.

Pastikan Ciasem Aman & Bersih, Camat dan Kapolsek ‘Warning’ Desa Soal Sampah Jelang Pilkades

0
0-0x0-0-0#

Pastikan Ciasem Aman & Bersih, Camat dan Kapolsek ‘Warning’ Desa Soal Sampah Jelang Pilkades

CIASEM, SUBANG | Warta In Jabar – Meski gelaran Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak baru akan ditabuh pada Desember 2026 mendatang, Pemerintah Kecamatan Ciasem memilih untuk tidak bersantai. Dalam Rapat Minggon yang digelar Selasa (05/05/2026), Camat Ciasem, Eza, bersama Kapolsek AKP Endang Kurnia langsung tancap gas melakukan konsolidasi total.

Camat Eza menegaskan bahwa rapat kali ini bukan hanya soal politik desa. Ia menyoroti isu lingkungan yang mendesak, yakni pengelolaan sampah yang belum maksimal di tingkat desa, serta pencapaian target PBB.

​”Pilkades memang masih Desember, tapi tertib administrasi, kebersihan desa dari sampah, dan capaian pajak adalah rapor kita hari ini. Jangan sampai karena sibuk persiapan Pilkades, masalah sampah malah terabaikan,” tegas Camat Eza di hadapan para tokoh desa.

Di sisi lain, Kapolsek Ciasem AKP Endang Kurnia menyatakan bahwa pengawasan keamanan sudah dimulai sejak dini. Pihaknya tidak ingin ada gesekan sekecil apa pun yang muncul di 6 desa yang akan melaksanakan hajat demokrasi tersebut.

​”Kami dampingi terus. Deteksi dini potensi konflik adalah kunci agar saat Desember nanti semua sudah berjalan di relnya,” ujar AKP Endang Kurnia.

Meski fokus pada Pilkades, Pemerintah Kecamatan tidak melupakan kewajiban daerah. Camat Eza mengingatkan para kepala desa, termasuk Jaya (Kades Jatibaru), Casmedi (Kades Ciasem Hilir), dan Mista R (Kades Ciasem Tengah), untuk tetap menggenjot realisasi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

​Isu sampah juga menjadi bahasan hangat. Kehadiran perwakilan Puskesmas Ciasem, Ade Sumiati, mengingatkan bahwa pengelolaan sampah yang buruk di desa-desa seperti Ciasem tengah dan Ciasem Baru dapat memicu masalah kesehatan yang serius jika tidak ditangani segera oleh perangkat desa terkait.

​Rapat ini dihadiri, berbagai, di antaranya:

  • Perangkat Desa: Sekdes Jatibaru (Beni), Sekdes Pinangsari (Abd. Rasyid), dan Sekdes Sukamadijaya (Suptan).
  • BPD: Emo Wahyono (Sukamandijaya), Dahlan (Ciasem Hilir), Wawan S, dan Sudiman (Ciasem girang).
  • Tokoh Agama & Sosial: Kepala KUA Tatang S. dan TKSK Aan Parwati.
  • Pendamping Desa: Ali Usman (PD) dan Alim Mudadi (PLD) yang bertugas memastikan penganggaran desa tetap sesuai relnya.

​Rapat Minggon ini ditutup dengan komitmen bersama dari seluruh kepala desa dan aparat keamanan untuk mengawal Kecamatan Ciasem tetap aman, bersih, dan sukses dalam menyelenggarakan Pilkades serentak pada Desember 2026 mendatang.

Gelar Pentas PAI 2026, 387 Siswa SD se-Kecamatan Blanakan Adu Kreativitas di Tanjung Tiga

0
0-0x0-0-0#

Gelar Pentas PAI 2026, 387 Siswa SD se-Kecamatan Blanakan Adu Kreativitas di Tanjung Tiga

TANJUNGTIGA | Warta In Jabar – Sebanyak 387 siswa-siswi terbaik perwakilan dari 32 Sekolah Dasar (SD) di seluruh Kecamatan Blanakan tumpah ruah di Desa Tanjung Tiga pada Selasa (5/5). Kehadiran mereka bertujuan untuk berkompetisi dalam ajang tahunan Pentas PAI (Pekan Kreativitas Siswa dan Seni Pendidikan Agama Islam) 2026.

​Kegiatan yang berlangsung khidmat namun meriah ini menjadi wadah unjuk bakat bagi generasi muda dalam memperdalam nilai-nilai agama sekaligus mengasah mental kompetisi yang sehat.

Guru dan orang tua antri menunggu di selasar kelas

​Tahun ini, panitia menyelenggarakan delapan cabang lomba yang menguji berbagai aspek kemampuan siswa, mulai dari hafalan, seni, hingga praktik ibadah. Kedelapan cabang tersebut adalah:

  1. Lomba Cerdas Cermat (LCC) PAI
  2. Lomba Dai Cilik (Pildacil)
  3. Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ)
  4. Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ)
  5. Lomba Kaligrafi Islam
  6. Lomba Praktik Sholat Berjamaah
  7. Lomba Seni Kasidah
  8. Lomba Praktik Azan

​Acara ini mendapat dukungan penuh dari berbagai elemen. Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua KKG PAI Kecamatan Blanakan, Wakim Zaenul Alim, S.Pd.I, bersama Ketua PGRI Blanakan, Suhandi, S.Pd. Dari sisi pengawasan, hadir Abdullah, S.Ag., M.Pd (Pengawas PAI) dan Muttaqin, S.Si (Pengawas SD), serta Asep Sutandi, S.Pd., M.M. selaku Ketua KKS.

​Pemerintah setempat pun turut memberikan apresiasi melalui kehadiran Kepala Desa Tanjung Tiga, H. Sukur, yang menyambut hangat terpilihnya desa tersebut sebagai tuan rumah penyelenggaraan acara besar ini.

​Ketua Panitia Penyelenggara, Darsono, S.Pd.I, dalam laporannya menyampaikan rasa bangga atas antusiasme para peserta. Ia menegaskan bahwa Pentas PAI bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan jembatan menuju prestasi yang lebih tinggi.

​”Kami berharap kegiatan ini tidak hanya melahirkan prestasi di tingkat kecamatan, tetapi juga mampu mengantarkan siswa-siswi kita berkompetisi hingga tingkat provinsi, bahkan nasional,” ujar Darsono penuh harap.

​Senada dengan hal tersebut, jajaran pengawas menekankan bahwa output utama dari kegiatan ini adalah tumbuhnya nilai-nilai Islami dalam karakter peserta didik melalui cara yang kreatif dan menyenangkan. Dengan persaingan yang cukup ketat dari 32 sekolah, diharapkan terpilih bibit-bibit unggul yang akan mengharumkan nama Kecamatan Blanakan di kancah yang lebih luas.

Tenggat 12 Hari “Menguap”, Penertiban Dipertanyakan: Ada Pembiaran Usaha Tanpa Izin di Tanah Abang?

0

Tanah Abang – Tenggat waktu 12 hari yang sebelumnya digembar-gemborkan sebagai langkah tegas penertiban usaha di Kecamatan Tanah Abang kini justru berujung tanda tanya. Alih-alih ada penindakan, yang muncul justru pernyataan “menunggu laporan” dari pelaku usaha.

Fakta ini memunculkan dugaan adanya pembiaran terhadap usaha karaoke, biliar, dan kuliner yang belum mengantongi izin resmi OSS-PTSP.
Camat Tanah Abang dalam keterangannya menyebut pihaknya masih menunggu laporan dari pelaku usaha terkait perizinan.
“Berkenaan dengan peninjauan lapangan tempo hari, kami masih menunggu laporan dari pihak pelaku usaha mengenai perizinan mereka,” ujarnya.

Pernyataan tersebut dinilai janggal. Sebab, logika pengawasan publik menempatkan pemerintah sebagai pihak aktif yang melakukan verifikasi dan penindakan, bukan sekadar menunggu laporan dari objek yang diawasi.
Lebih mengherankan lagi, hingga tenggat waktu berakhir:
1 Tidak ada data terbuka soal jumlah usaha yang patuh
2 Tidak ada daftar usaha yang melanggar
3 Tidak ada informasi penindakan atau sanksi

Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius: apakah tenggat waktu yang diberikan sejak awal memang disiapkan tanpa mekanisme penegakan?
Sejumlah sumber menyebutkan, aktivitas usaha di lapangan masih berjalan seperti biasa, tanpa terlihat adanya pengawasan lanjutan maupun tindakan dari aparat terkait. Jika benar demikian, maka bukan tidak mungkin terjadi praktik pembiaran sistematis terhadap pelanggaran perizinan usaha.

Padahal, persoalan izin bukan sekadar administrasi. Di dalamnya menyangkut aspek pajak, retribusi daerah, hingga potensi gangguan ketertiban umum.
Ketika pemerintah tidak bergerak setelah tenggat yang mereka tetapkan sendiri, maka yang dipertaruhkan bukan hanya aturan, tetapi juga kredibilitas institusi.
Apakah ini sekadar kelambanan birokrasi, atau ada faktor lain di balik belum bergeraknya penindakan?

Hingga berita ini diturunkan, belum ada kejelasan mengenai langkah konkret dari Kecamatan Tanah Abang bersama Satpol PP, PTSP, dan Bapenda terhadap usaha yang belum berizin.
Publik kini menunggu, apakah akan ada tindakan nyata, atau justru tenggat waktu tersebut hanya menjadi formalitas tanpa konsekuensi.