*DISKUSI RUTIN KAMIS-SENIN GMRI DISAMBANGI SULTAN SALADIN DAN PERMAISURI DARI KERATON KANOMAN CIREBON: *BAHAS KEBANGKITAN SPIRITUAL, EKONOMI NEGARA, HINGGA TATA KELOLA PEMIMPIN YANG BIJAKSANA*
JAKARTA PUSAT – Suasana hangat, penuh kekeluargaan, dan sarat makna mendalam menyelimuti pertemuan rutin yang digelar oleh Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI), tepatnya pada hari Kamis yang jatuh pada tanggal 21 Mei 2026. Agenda diskusi berkala yang dikenal dengan sebutan Kamis-Senin ini, berlangsung sangat istimewa, berkesan, dan penuh kehormatan lantaran kedatangan tamu agung yang disambut dengan tangan terbuka dan rasa hormat tinggi. Hadir secara khusus, berkenan meluangkan waktu, serta turut berbagi pandangan dan pemikiran luhur adalah Sultan Saladin beserta Sang Permaisuri, pasangan mulia dari Kesultanan Kanoman, Cirebon. Di dalam pertemuan santai namun berbobot tersebut, perbincangan mengalir deras, meluas, dan merambah ke berbagai sektor kehidupan bangsa, mulai dari dinamika pemerintahan, fluktuasi nilai tukar mata uang yang mengkhawatirkan, tafsir fenomena alam, pemahaman hakikat spiritual, hingga persoalan-persoalan krusial yang menyentuh langsung hajat hidup rakyat banyak.
Dalam alur pembicaraan yang santai namun tetap berisi pemikiran-pemikiran tajam dan mendasar tersebut, Sultan Saladin menyampaikan pandangan serta pengamatan mendalamnya terkait fenomena gerhana bulan yang terjadi pada bulan suci Ramadhan yang lalu. Peristiwa alam agung tersebut, menurut tafsir, pemahaman, dan kebijaksanaan yang dimiliki oleh Sultan Saladin, merupakan sebuah isyarat besar, pesan semesta, serta tanda alam yang harus menjadi perhatian utama, bahan renungan, dan kewaspadaan bersama bagi seluruh elemen bangsa. Isyarat alam ini mengandung makna bahwa seluruh pihak, baik itu pemerintah, pemangku kebijakan, maupun masyarakat luas, wajib, harus, dan mutlak melakukan langkah-langkah antisipasi yang cermat, tepat, dan matang. Hal ini dilakukan semata-mata agar peristiwa-peristiwa besar atau perubahan yang mungkin terjadi di kemudian hari tidak sampai menimbulkan kerugian besar, kerusakan, ataupun menelan korban yang tidak perlu, baik itu dalam skala kecil maupun besar.
Menyentuh ranah pemahaman batin dan spiritualitas bangsa, Sultan Saladin memberikan pencerahan, wawasan baru, serta koreksi pandangan yang sangat penting bagi kita semua. Beliau menyampaikan fakta yang teramati di tengah masyarakat, bahwa hingga saat ini masih sangat banyak orang yang memiliki anggapan keliru, pemahaman sempit, serta pandangan terbatas, yang menyamakan atau menganggap bahwa hal-hal yang bernuansa spiritual itu sama saja dengan hal-hal yang bersifat klenik, mistis, atau takhayul semata. Pandangan ini, menurut Sultan Saladin, adalah kekeliruan besar yang harus segera diluruskan. Beliau menegaskan dengan tegas dan lugas, bahwa pada hakikatnya, setiap usaha manusia untuk mencari ilmu, setiap langkah untuk belajar memahami kebenaran, serta segala bentuk upaya memperbaiki diri, semuanya itu merupakan bagian tak terpisahkan dari laku, perjalanan, dan proses spiritual yang sejati.
Artinya, masih sangat diperlukan sosialisasi luas, penjelasan mendalam, serta pembinaan pemahaman yang benar mengenai makna, hakikat, dan pengertian sesungguhnya dari spiritualitas. Hal ini dilakukan agar nilai-nilai utama, intisari, dan keutamaan yang terkandung di dalam kehidupan spiritual tersebut dapat dipahami secara jernih, diamalkan dengan benar, dan pada akhirnya mampu menghantar, membimbing, serta mengangkat derajat bangsa dan negara Indonesia ini menjadi sebuah mercu suar yang agung, menjadi pusat peradaban mulia, serta menjadi penerang yang sinarnya bermanfaat bagi seluruh dunia, sebagaimana cita-cita luhur para pendiri bangsa.
Diskusi informal yang hidup dan dinamis dalam lingkaran GMRI ini sempat pula merespons secara tajam, kritis, dan cerdas persoalan ekonomi makro yang sedang membebani pikiran banyak pihak, yakni kenaikan nilai tukar mata uang Dolar Amerika Serikat yang terus melonjak tajam dan semakin menekan kestabilan nilai Rupiah. Terkait dengan tantangan besar ekonomi ini, muncul pemikiran strategis, saran cerdas, dan gagasan konstruktif mengenai langkah apa yang paling efektif, tepat sasaran, dan strategis harus diambil oleh pemerintah untuk dapat menghadang laju pengaruh kuat mata uang asing tersebut. Pendapat yang mengemuka dan disepakati bersama adalah bahwa jalan terbaik, jalan paling cerdas, dan jalan paling ampuh adalah apabila pemerintah bergerak aktif, cepat, dan besar-besaran untuk membuka seluas-luasnya, sebanyak-banyaknya, dan sebaik-baiknya lapangan kerja baru bagi rakyat. Dengan demikian, perputaran roda ekonomi dapat terus berjalan kencang, uang dapat beredar luas, dan kesejahteraan dapat dirasakan merata di tengah masyarakat.
Pandangan, pendapat, serta saran strategis ini ternyata sangat selaras, sejalan, dan bertemu titik temunya dengan gagasan besar yang selama ini disuarakan oleh Sri Eko Sriyanto Galgendu, sosok pemimpin spiritual dan pemikir bangsa, yang selalu mengingatkan agar pemerintah tidak memperbanyak hari libur nasional. Alasannya sangat jelas, masuk akal, dan nyata terlihat dampaknya: bahwa hari libur yang terlalu banyak artinya akan berpotensi besar mengurangi laju mobilitas, mengurangi tingkat produktivitas, serta mengurangi intensitas aktivitas warga masyarakat dalam bekerja dan berkarya. Akibat logis yang mengikutinya tentu saja adalah perputaran uang di tengah masyarakat menjadi terhambat, melambat, atau bahkan berhenti, tidak berputar sebagaimana mestinya, alias ekonomi pun ikut berlibur, demikian penegasan lugas yang disampaikan oleh Sri Eko, seorang pengusaha kuliner yang telah menekuni, menggeluti, dan mengembangkan usahanya selama lebih dari 15 tahun silam tepat di kawasan strategis ring satu Istana Negara, Jakarta.
Di sela-sela pembicaraan yang serius dan mendalam itu, seloroh khas, suasana akrab, dan canda tawa pun mewarnai kehangatan pertemuan. Tepat saat Sultan Saladin sedang menerima panggilan telepon dari seorang sahabatnya yang berada di wilayah Jawa Tengah, beliau menyampaikan sebuah ungkapan pujian, pengakuan, dan penilaian yang sangat tinggi. Dengan nada bercanda namun penuh makna, Sultan Saladin mengatakan bahwa manusia yang paling merdeka, paling bebas, dan paling berani menyuarakan kebenaran di negeri ini adalah Mas Eko —sapaan akrab dan hormat yang biasa beliau tuturkan kepada Sri Eko Sriyanto Galgendu, sosok Pemimpin Spiritual Nusantara yang namanya semakin berkibar, semakin dikenal luas, dan semakin dicintai rakyat karena begitu aktif, lantang, serta tegas tampil di berbagai acara publik, utamanya dalam diskusi-diskusi, perbincangan, maupun siaran bincang santai yang mengangkat tema politik yang panas, aktual, dan menyentuh kepentingan rakyat.
Demikianlah ungkapan luhur yang disampaikan langsung oleh Sultan Saladin, di mana beliau kembali menegaskan pandangannya di hadapan rekan-rekan yang hadir saat menjawab seloroh Mas Gagu dalam pembicaraan santai lewat telepon genggamnya, “Bahwa manusia yang paling merdeka, paling berani, dan paling bebas di negeri ini adalah Sri Eko Sriyanto Galgendu.” Sebuah pengakuan tulus yang lahir dari pandangan mata yang jernih dan penilaian hati yang mendalam.
Pembahasan yang meluas tanpa batas itu pun kemudian menyinggung persoalan pengelolaan keuangan negara serta kualitas pelayanan publik yang sangat menyita perhatian. Salah satu yang menjadi sorotan tajam adalah kewajiban pembayaran utang proyek Kereta Cepat yang mencapai angka sangat fantastis, yakni 540 miliar Rupiah setiap bulannya. Beban pembayaran yang begitu besar ini dinilai sangat menyedot, sangat menguras, dan sangat mengurangi alokasi dana yang seharusnya tersedia untuk perawatan, pemeliharaan, serta peningkatan kualitas fasilitas sarana dan prasarana perkeretaapian lainnya. Akibatnya, muncul kekhawatiran mendalam terkait keselamatan dan pemeliharaan sarana umum. Hal ini dikaitkan pula dengan peristiwa kecelakaan kereta api yang tragis dan memilukan di wilayah Bekasi, yang menurut analisa logika dan pemahaman teknis Sultan Saladin, peristiwa tersebut sungguh tidak masuk akal, tidak seharusnya terjadi, dan sepenuhnya dapat dicegah. Pasalnya, gejala, tanda, atau potensi gangguan seharusnya sudah dapat diketahui, terdeteksi, dan terpantau oleh sistem pengawas paling tidak 15 menit sebelumnya, sehingga sangat memungkinkan untuk segera diantisipasi, diatasi, dan dicegah oleh petugas yang bertanggung jawab di bidang pemantauan serta pengendalian operasional.
Lebih jauh lagi, topik diskusi rutin informal GMRI kali ini pun merambah hingga menyoroti kondisi fasilitas publik di negara kita ini yang dinilai masih kurang baik, kurang tertata, dan masih jauh dari kata memuaskan, apabila dilakukan perbandingan objektif dengan negara-negara tetangga. Sebagai contoh nyata dan perbandingan yang sangat jelas, Sultan Saladin mengemukakan pengalaman pribadinya saat melakukan perjalanan jauh, berwisata, atau bertandang ke luar negeri. Beliau pernah melakukan perjalanan touring mengendarai sepeda motor hingga menembus ke ujung wilayah perbatasan negara Vietnam yang berbatasan langsung dengan negara Tiongkok. Di sepanjang perjalanan yang jaraknya mencapai 400 kilometer lebih itu, Sultan Saladin mengamati dengan cermat dan terkesan, bahwa nyaris tidak ditemukan satu pun ruas jalan yang berlubang, rusak, atau tidak layak pakai. Kondisi jalanan yang mulus, tertata rapi, dan terpelihara baik ini menjadi bukti kualitas pelayanan publik di sana. Pengamatan dan pernyataan tegas ini pun langsung dibenarkan, disetujui, dan dikuatkan oleh Sang Permaisuri, yang senantiasa setia mendampingi Sultan ke mana pun beliau pergi, termasuk kehadiran mereka berdua ke Sekretariat GMRI, diiringi kenikmatan menyantap hidangan bakso Pak Botak yang gurih dan lezat karena keistimewaan racikan bumbu serta kaldu kuahnya yang sangat khas, lengkap dengan kesegaran minuman tradisional beras kencur, baik yang disajikan dingin maupun hangat.
Pada puncaknya, alur diskusi yang semakin mendalam dan berbobot ini akhirnya memuncak, bertemu, dan berfokus pada satu bahasan paling utama, paling krusial, dan paling fundamental bagi kehidupan berbangsa dan bernegara: yakni mengenai sosok ideal, karakter, serta kriteria pemimpin di Indonesia yang sejatinya harus, wajib, dan mutlak memiliki sifat, watak, serta sikap yang sangat bijaksana, sangat arif, dan sangat memahami keadaan. Prinsip dasar ini sangat penting dan mutlak diperlukan, agar setiap kebijakan, keputusan, peraturan, dan langkah strategis yang diambil oleh seorang pemimpin dapat diterima dengan baik, didukung sepenuhnya, serta dirasakan keadilannya oleh seluruh rakyat. Sebab, kebijakan yang baik adalah kebijakan yang lahir dari pemikiran mendalam, selaras dengan kondisi lingkungan, serta sejalan dan seirama dengan aspirasi, kehendak, serta kebutuhan nyata rakyat banyak.
Pandangan luhur mengenai pentingnya sikap bijaksana dalam memimpin ini kemudian disambut, ditanggapi, dan diakui kebenarannya oleh Sri Eko Sriyanto Galgendu, yang sekaligus mengungkapkan realita pahit bahwa menjadi pemimpin yang bijak tersebut bukanlah hal yang mudah, bukan perkara sederhana, dan sangat sulit untuk dilakukan dalam praktiknya. Kesulitan itu bertambah berat, terlebih lagi bagi mereka yang terlanjur merasa lebih senior, merasa lebih tua dalam pengertian usia, merasa lebih berpengalaman, atau merasa lebih berkuasa, sehingga kerap kali enggan, berat hati, atau menolak untuk menerima masukan, pendapat, pandangan, maupun kritikan dari mereka yang berusia lebih muda, apalagi jika harus mendengarkan atau menerima kritik dan saran yang membangun namun menohok dari kalangan di bawahnya.
Seluruh rangkaian diskusi hangat, penuh persahabatan, yang terkesan mengumbar rasa kangen, saling berbagi cerita, serta berbagi uneg-uneg ini, berlangsung begitu mengalir, menyenangkan, dan padat makna hingga tak terasa waktu berlalu lebih dari tiga jam lamanya. Berbagai topik penting telah disinggung, mulai dari urusan kelahiran, visi kepemimpinan, nilai kehidupan, hingga persoalan akhirat dan kematian menjadi bahasan yang tak luput dikupas. Secara khusus pun dibahas mengenai masalah lahan pemakaman umum yang semakin terbatas, serta tingginya biaya pengurusan pemakaman yang nilainya tidak murah lagi di masa kini. Bahkan, hal ini semakin membebani pikiran rakyat ketika belakangan ini muncul wacana kebijakan yang mengusulkan agar lahan kavling pekuburan pun akan dikenakan pajak. Jika hal itu benar terjadi, artinya beban berat hidup rakyat memang akan semakin bertambah berat, sebab masyarakat dipastikan tetap harus menanggung biaya kewajiban, meskipun itu menyangkut pemeliharaan anggota keluarga yang telah meninggal dunia, terlepas dari beban hidup yang berat saat masih hidup.
Demikianlah gambaran lengkap, rinci, dan mendalam mengenai diskusi rutin Kamis-Senin GMRI yang penuh berkah, penuh wawasan, dan penuh pelajaran berharga, berkat kehadiran agung Sultan Saladin beserta Permaisuri dari Keraton Kanoman Cirebon. Sebuah pertemuan yang menyatukan visi, mempertajam pikiran, dan menguatkan tekad untuk membangun bangsa yang lebih baik, lebih bermoral, dan lebih sejahtera.
Pecenongan, 21 Mei 2026
Oleh Jacob Ereste
(HD)