27.4 C
Jakarta
Jumat, Mei 1, 2026
Beranda blog

PT Simarmata Wendeilyna Ulos membuat Topi Koboi Dibungkus Ulos Untuk Pinompar Opung Tongam Sitanggang

0

Samosir, Kembali PT Simarmata Wendeilyna Ulos yang berada di Desa Lumban Suhi Suhi Toruan Dusun 3 Alngit Kec Pangururan Kab Samosir membuat topi koboi dibungkus ulos ragi hotang untuk keturunan Opung Tongam Sitanggang Sipukka Lumban Silo Pangururan. Saya hanya membuat 5 topi koboi dibungkus ulos ragi hotang untuk yang mewakili keturunan Opung Tongam itu, yaitu Darwin Sitanggang Pahompu Panggoaran, Joni Sitanggang, Romuel Sitanggang, Jonny Sitanggang, Serasi Sitanggang. Mungkin nanti di waktu yang akan datang, saya buatkan lagi topi koboi dibungkus ulos, jelas Dr drh Rotua Wendeilya Simarmata MSi CMed yang biasa disapa Wendy pemilik PT Simarmata Wendeilyna ulos

Sekalipun umkm saya ini sudah berbadan hukum melalui PT perorangan yaitu PT Simarmata Wendeilyna Ulos, saya hanya membuat topi ulos berdasarkan pesanan. Tidak menjual di marketplace ataupun lewat media sosial, karena saya harus berbagi waktu dengan kegiatan lain. Untuk membuat topi koboi dibungkus ulos, memerlukan banyak perhatian, dari mulai memilih jenis topi, lalu buat pola topinya, memotong motong ulos. Yang memberatkan adalah ongkos kirim. Jika ada orderan yang akan dikirim dari Pangururan ke luar daerah, ongkos kirim tinggi, sehingga saya harus menjadwalkan pengirimannya bersamaan ketika saya tugas ke Medan. Pengiriman dari Medan, ongkos lebih murah dan lebih cepat tiba di alamat pemesan (red)

Uji eksepsi dipengadilan agama surabaya tuai tanda tanya,proses dinilai belum maksimal

0

Warta.in||Surabaya – Sidang sengketa ahli waris Putra Budiman memasuki babak krusial dengan agenda pembuktian atas eksepsi kompetensi absolut yang diajukan para tergugat dan Turut Tergugat IV di Pengadilan Agama Surabaya. (30/4/2026)

Tahap ini menjadi gerbang penentu: apakah perkara akan tetap diperiksa di pengadilan agama atau bergeser ke Pengadilan Negeri.

Majelis hakim sebelumnya telah memerintahkan para pihak untuk membuktikan dalil masing-masing sebelum masuk ke pokok perkara.

Artinya, setiap argumen tentang kewenangan harus diuji dengan bukti yang nyata—bukan sekadar klaim di atas kertas.

Namun dinamika persidangan memunculkan sorotan keras.

Ketidakhadiran pihak tergugat yang disebut sebagai Ninik kembali menjadi perhatian di tahap sepenting ini.

Dalam pembuktian kompetensi absolut, kehadiran para pihak seharusnya menjadi kunci untuk menguji langsung dalil yang diajukan.

Di sisi lain, dokumen penting berupa surat keterangan ahli waris yang diterbitkan oleh notaris tetap menjadi titik krusial yang belum sepenuhnya terbuka.

Hingga kini, notaris sebagai pihak yang menerbitkan dokumen tersebut belum dihadirkan untuk menjelaskan dasar hukum serta proses penerbitannya di hadapan majelis hakim.

Kondisi ini memicu tekanan yang semakin kuat terhadap jalannya persidangan:
Apakah pembuktian atas eksepsi benar-benar dilakukan secara menyeluruh dan tidak hanya formalitas?

Mengapa pihak-pihak kunci belum dihadirkan untuk diuji keterangannya secara langsung?

Apakah keabsahan dokumen telah benar-benar diperiksa secara terbuka di ruang sidang?

Apakah majelis hakim akan mengambil keputusan berdasarkan fakta yang teruji, bukan sekadar argumentasi?

Dalam sengketa waris, penentuan kompetensi absolut bukan sekadar langkah administratif.

Ia menentukan jalur hukum, ruang pembuktian, hingga arah akhir perkara.

Kini perhatian publik tertuju pada langkah majelis hakim di Pengadilan Agama Surabaya.

Keputusan atas eksepsi ini akan menjadi titik balik: apakah perkara akan masuk ke pembuktian substansi yang terbuka, atau justru terus dibayangi pertanyaan tentang kelengkapan dan ketegasan proses yang dijalankan.(red)

Tabrak Aturan Badan Gizi Nasional, SPPG Sukamandi Ciasem 012 Diduga ‘Pangkas’ Menu Balita Jadi Biskuit Kering

0

Tabrak Aturan Badan Gizi Nasional, SPPG Sukamandi Ciasem 012 Diduga ‘Pangkas’ Menu Balita Jadi Biskuit Kering

​SUBANG | Warta In Jabar – Praktik penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukamandi – Ciasem 012 milik Yayasan Al Mukhtar Nurrohmah Syahidah diduga kuat melenceng dari aturan negara. Alih-alih memberikan makanan segar siap santap, pihak pengelola justru membagikan makanan kering yang telah dilarang oleh pemerintah pusat.

​Temuan ini terungkap pada Rabu (29/04) dan Kamis (30/04), di mana orang tua balita penerima manfaat di Dusun Jurutilu, Kecamatan Ciasem, hanya menerima paket berupa 2 keping biskuit, 1 butir telur asin, dan 2 kotak susu untuk jatah dua hari.

​Tindakan SPPG 012 ini merupakan pelanggaran langsung terhadap Peraturan BGN Nomor 4 Tahun 2026 yang berlaku per April 2026, yang secara eksplisit memerintahkan:

​Haramkan Menu Kering: Seluruh SPPG dilarang keras menyajikan biskuit atau makanan pabrikan sebagai menu utama.

​Wajib Fresh Food: Menu harus berupa makanan lengkap (karbohidrat, protein hewani, nabati, sayur) yang dimasak segar setiap hari.

​Sistem Harian: Distribusi dilarang keras dilakukan dengan sistem “rapel” (digabung untuk dua hari) guna menjamin kualitas gizi yang diterima anak.

​Berdasarkan aturan terbaru, ketidaksesuaian spesifikasi ini membawa konsekuensi hukum dan administratif yang berat bagi yayasan pengelola, di antaranya:

​Diskualifikasi Pengelola: Pencabutan izin operasional SPPG secara permanen dan pemutusan kontrak kerja sama oleh BGN.

​Pengembalian Dana (Refraksi): Kewajiban mengembalikan dana negara yang tidak terserap sesuai spesifikasi menu asli (selisih harga makanan segar vs biskuit).

​Audit Investigasi: Pemeriksaan mendalam atas dugaan manipulasi laporan belanja bahan pangan yang berpotensi ranah pidana korupsi.

​Hingga berita ini diturunkan, Saudari Nisa (Pemilik Dapur) dan Saudari Tasya (Kepala SPPG) belum dapat ditemui. Ketidakhadiran manajemen di lokasi saat jam operasional krusial semakin memperkuat dugaan adanya ketidakterbukaan dalam pengelolaan anggaran gizi nasional di wilayah tersebut.

Tolong Pak Bupati Bandung Dr. HM Dadang Supriatna, S. Ip. M. Si. Perbaiki Atap, Plafon Kantor Damkar Ciparay.

0

Damkar Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, Jum’at, 1 Mei 2026 WARTA. IN
Miris melihat kondisi atap, plafon Kantor Damkar, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, Genteng Merosot, Plafon Bolong, Menganga, tak sedap di pandang mata.
Mohon kepada Bapak Bupati Bandung Dr. H. Dadang Supriatna, S. Ip. M. Si. Untuk sedikit menganggarkan perbaikan genteng, plafon Kantor Damkar Kecamatan Ciparay.
Demi terjaganya keamanan, kenyamanan di lingkungan Kantor Damkar Kecamatan Ciparay. WARTA. IN Biro Bandung Ibnu S SH CSS ALC SIP CIJ CPW.

Amankan Objek Vital, Sat Samapta Polresta Mataram Patroli ke PT Pertamina Patra Niaga Ampenan

0

Amankan Objek Vital, Sat Samapta Polresta Mataram Patroli ke PT Pertamina Patra Niaga Ampenan

Warta.in

Mataram, NTB – Guna memastikan keamanan objek vital, Satuan Samapta Polresta Mataram melaksanakan patroli dengan menyambangi PT Pertamina Patra Niaga di wilayah Kecamatan Ampenan, Jumat (01/05/2026).

Kegiatan patroli ini dilakukan sebagai langkah preventif untuk menjaga stabilitas keamanan di kawasan yang memiliki peran penting dalam distribusi bahan bakar minyak (BBM) bagi masyarakat. Dalam pelaksanaannya, personel memantau situasi di sekitar lokasi serta berkoordinasi dengan petugas keamanan setempat.

Kapolresta Mataram Kombes Pol. Hendro Purwoko, S.I.K., M.H., melalui Kasat Samapta AKP I Nyoman Agus Sugiarta Wiswa, S.H., M.H., menegaskan bahwa pengamanan objek vital merupakan bagian penting dari tugas kepolisian.

“Objek vital seperti Pertamina memiliki peran penting dalam menunjang aktivitas masyarakat melalui distribusi BBM, sehingga pengamanannya harus terus dijaga,” ujarnya.

Ia menambahkan, patroli di kawasan objek vital perlu dilakukan secara rutin guna mengantisipasi berbagai potensi gangguan yang dapat berdampak pada keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Patroli di kawasan objek vital ini penting untuk dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap berbagai gangguan yang dapat mempengaruhi harkamtibmas,” tutupnya.

Dengan kehadiran polisi di objek vital, diharapkan keamanan tetap terjaga serta distribusi kebutuhan masyarakat dapat berjalan lancar tanpa hambatan.(sr/hpm)

Peringati Hari Bumi ke-56,  Bhayangkari NTB Tanam Terumbu Karang di Gili Sudak tuk Lestarikan Ekosistem Laut

0

 

Warta.in

Lombok Barat, NTB – Memperingati Hari Bumi ke-56, Ketua Bhayangkari Daerah Nusa Tenggara Barat (NTB), Ny. Uty Edy Murbowo, memimpin aksi penanaman terumbu karang di kawasan wisata Gili Sudak, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat.

Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (30/4/2026) ini menjadi simbol kepedulian terhadap isu lingkungan global, dalam upaya menjaga keberlanjutan ekosistem bawah laut.

Kawasan Sekotong yang dikenal dengan keindahan bawah lautnya dipilih sebagai lokasi strategis untuk melakukan restorasi karang.

Dalam kegiatan ini, Ny. Uty Edy Murbowo beserta rombongan disambut langsung didampingi langsung oleh Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Barat, Ny. Citra Yasmara.

Komitmen Pelestarian Lingkungan di Hari Bumi

Kegiatan dimulai sejak pagi hari ketika rombongan bertolak dari Pelabuhan Tawun menuju Gili Sudak.

Momentum Hari Bumi ke-56 ini dimanfaatkan Bhayangkari Daerah NTB untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga terumbu karang sebagai rumah bagi biota laut sekaligus pelindung garis pantai dari abrasi.

Dalam sambutannya, Ny. Uty Edy Murbowo menyampaikan bahwa aksi ini bukan sekadar seremonial semata.

Melainkan wujud tanggung jawab moral terhadap generasi mendatang. Ia menekankan bahwa kesehatan laut sangat bergantung pada kondisi terumbu karangnya.

“Selain sebagai ajang silaturahmi, agenda utama kita adalah penanaman terumbu karang dalam rangka Hari Bumi ke-56. Semoga apa yang kita tanam hari ini dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan. Serta stabilitas ekosistem laut, khususnya di wilayah Sekotong yang sangat indah ini,” ujar Ny. Uty Edy Murbowo.

Langkah yang diambil oleh Bhayangkari sejalan dengan upaya Polri dalam menjaga sumber daya alam di wilayah hukum Polda NTB. Berharap kegiatan ini memicu kesadaran kolektif untuk tidak merusak ekosistem laut.

“Kegiatan penanaman terumbu karang ini adalah langkah konkret dalam mendukung keberlanjutan lingkungan hidup. Merupakan investasi masa depan bagi sektor pariwisata dan kesejahteraan nelayan setempat,” ucap Ny. Uty Edy Murbowo.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Barat, Ny. Citra Yasmara, menyatakan rasa bangganya atas terpilihnya Gili Sudak sebagai lokasi penanaman.

Ia berharap keterlibatan Bhayangkari dapat memberikan dampak positif secara langsung terhadap kualitas terumbu karang di wilayah tersebut.

Prosesi Penanaman dan Pengamanan Kegiatan

Setelah pembukaan dan doa bersama, acara dilanjutkan dengan penyerahan terumbu karang secara simbolis.

Puncak kegiatan ditandai dengan aksi menyelam (diving) yang dilakukan oleh Ketua Bhayangkari Daerah NTB didampingi Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Barat untuk meletakkan media tanam karang di titik yang telah ditentukan.

Dengan suksesnya kegiatan ini, diharapkan ekosistem laut Gili Sudak semakin lestari dan menjadi daya tarik wisata bahari yang berkelanjutan di masa depan.(Sr/hpntb)

 

Serikat Buruh Adalah Mitra Utama Merumuskan Kesejahteraan Pekerja NTB

0

Serikat Buruh Adalah Mitra Utama Merumuskan Kesejahteraan Pekerja NTB

Warta.in
Mataram,NTB – Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) tahun 2026 di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi momentum penting bagi penguatan sinergi antara pemerintah dan pekerja. Dalam dialog bertajuk “Satu Tekad, Satu Tujuan, Sejahtera Bersama” yang digelar di Kantor Dinas Nakertrans Prov. NTB, Jumat (1/5).

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyampaikan komitmennya untuk lebih inklusif dalam merumuskan kebijakan daerah. Ia secara terbuka mengakui adanya kekurangan dalam proses penyusunan beberapa Peraturan Daerah (Perda) sebelumnya yang belum maksimal melibatkan serikat buruh. Ia menegaskan bahwa ke depan, setiap regulasi terutama yang berkaitan dengan kesejahteraan pekerja wajib mendapatkan masukan dari para buruh.

​”Saya instruksikan kepada seluruh jajaran Kadis hingga asisten, tolong ingatkan saya. Dalam setiap penyusunan Perda, khususnya terkait pekerja, teman-teman serikat buruh harus dilibatkan. Aspirasi mereka adalah legitimasi bagi kami dalam merumuskan klausul kesejahteraan,” tegas Iqbal.

​Selain keterlibatan dalam kebijakan, Gubernur juga menyoroti aspek pengawasan di lapangan. Ia menyayangkan terkait instruksi sebelumnya mengenai penambahan anggaran dan fasilitas kendaraan bagi tim pengawas ketenagakerjaan yang belum terealisasi sepenuhnya.

​”Saya sudah perintahkan untuk menambah anggaran pengawasan dan menyiapkan kendaraan operasional bagi teman-teman pengawas. Mereka tidak bisa bekerja maksimal tanpa fasilitas. Saya minta Pak Sekda untuk memastikan instruksi ini segera terlaksana,” tambahnya.

​Terkait isu sensitif mengenai Upah Minimum Provinsi (UMP), Gubernur Iqbal memaparkan tantangan dalam menetapkan angka yang ideal. Ia menyebutkan bahwa fokus pemerintah saat ini adalah menyeimbangkan kenaikan upah dengan tingkat implementasi di perusahaan.

​”Kesejahteraan itu dinamis. Dulu kita bicara jam kerja, sekarang di Eropa sudah bicara paternity leave. Di NTB, kita harus realistis melihat kondisi ekonomi. Saya lebih memilih menaikkan upah secara moderat namun dibarengi pengawasan ketat agar semua perusahaan benar-benar membayarnya, daripada naik drastis tapi hanya di atas kertas,” jelasnya.

​Menutup dialog, Iqbal menekankan bahwa indikator kesejahteraan masyarakat NTB sesungguhnya berada pada sektor pertanian. Menurutnya, jika sektor pertanian tumbuh tinggi, maka daya beli dan pendapatan jutaan masyarakat NTB akan meningkat secara nyata, berbeda dengan sektor tambang yang meski angkanya besar, namun cakupan pekerjanya terbatas.

​”Target kita adalah NTB Makmur Mendunia. Saat target itu tercapai, standar kesejahteraan kita pun harus ikut melompat lebih tinggi,” pungkasnya yang disambut tepuk tangan meriah dari perwakilan serikat buruh yang hadir.

Pemprov NTB juga menegaskan komitmen kuat dalam melindungi Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal NTB. Gubernur mengungkapkan bahwa NTB kini selangkah lebih maju dalam mengelola isu buruh migran melalui berbagai terobosan kebijakan yang nyata.

​Gubernur Iqbal menyoroti kelemahan skema zero cost (nol biaya) yang selama ini berjalan, di mana pekerja seringkali terjebak utang kepada lintah darat atau “bank subuh” untuk menutupi biaya keberangkatan sebelum diganti oleh perusahaan di negara tujuan.
​Untuk mengatasi hal ini, Pemerintah Provinsi NTB telah bersepakat dengan perusahaan pemberi kerja (seperti Felda dan Sime Darby) serta Bank NTB Syariah untuk menerapkan skema pembiayaan baru.

​”Seluruh biaya keberangkatan, mulai dari paspor hingga uang makan selama proses, akan ditalangi terlebih dahulu oleh Bank NTB Syariah melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) PMI dengan bunga rendah,” jelas Iqbal. Nantinya, penggantian biaya dari perusahaan akan langsung disetorkan ke bank, sehingga PMI dapat berangkat tanpa beban utang sejak awal.

​Tak hanya urusan keberangkatan, Gubernur juga menginisiasi kerja sama dengan bank di luar negeri, seperti Maybank di Malaysia, untuk mengelola gaji para PMI. Melalui sistem ini, gaji PMI akan langsung dibagi ke dalam beberapa pos tabungan yang telah ditentukan sejak awal seperti alokasi untuk keluarga di kampung halaman, biaya hidup selama bekerja di luar negeri serta tabungan modal usaha yang akan digunakan ketika kembali ke NTB.

​”Kita ingin memutus rantai ‘berangkat miskin, pulang tetap miskin’. Dengan pendampingan wealth management, PMI diharapkan memiliki unit usaha produktif saat kembali ke tanah air,” tambahnya.

​Sebagai bentuk implementasi konvensi internasional mengenai perlindungan buruh migran dan keluarganya, Pemprov NTB tengah merancang sekolah berasrama (boarding school) bagi anak-anak PMI. Program ini merupakan hasil kolaborasi dengan Kementerian Pendidikan dan kementerian terkait lainnya.
​Gubernur merasa prihatin dengan kondisi anak-anak PMI yang selama ini sering dititipkan kepada kakek atau nenek yang sudah renta, sehingga tumbuh kembang dan pendidikannya kurang terpantau.

​”Di sekolah berasrama ini, anak-anak PMI akan dibentuk karakternya dan diberikan keterampilan (skill). Jika nantinya mereka memilih menjadi PMI seperti orang tuanya, mereka akan menjadi PMI yang memiliki keahlian tinggi, bukan pekerja kasar,” tegas Iqbal.

Sementara itu, Wagub NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri SE., M.IP., menitipkan harapan besar kepada Gubernur dan jajaran Dinas Tenaga Kerja untuk memberikan perhatian lebih pada regulasi yang berpihak kepada perempuan. Mengingat peran ganda perempuan sebagai pekerja sekaligus ibu rumah tangga, Wagub mendorong adanya penguatan aturan terkait jam kerja dan fasilitas pendukung lainnya.

​”Saya menitipkan satu harapan kepada Pak Gubernur, khususnya bagi para buruh perempuan agar mendapatkan perhatian dari seluruh asosiasi yang ada. Perempuan selain sebagai pekerja, mereka juga kepala rumah tangga, istri, dan seorang ibu,” ujar Wagub dalam dialog tersebut.

​Wagub menyoroti pentingnya penguatan regulasi terkait jam kerja bagi perempuan. Ia berharap ke depannya ada keberpihakan yang lebih nyata dalam kebijakan daerah yang tidak hanya membahas soal Upah Minimum Provinsi (UMP), tetapi juga menyentuh aspek kesejahteraan spesifik bagi pekerja perempuan.

​Hal ini dinilai mendesak mengingat data menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen tenaga kerja migran asal NTB adalah perempuan. Wagub meyakini bahwa keterlibatan perempuan dalam dunia kerja merupakan kunci keteraturan dan keberhasilan suatu sektor industri.
​Wagub juga menegaskan bahwa setiap tanggal 1 Mei bukan sekadar seremoni, melainkan momentum bagi pemerintah untuk hadir di tengah persoalan yang dihadapi masyarakat, khususnya buruh di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.

​”May Day menjadi momentum untuk mengevaluasi apa saja yang menjadi catatan pada tahun sebelumnya dan apa target kita sampai hari buruh selanjutnya. Kita hadir untuk mendengarkan langsung permasalahan dari berbagai asosiasi buruh agar bisa dicarikan solusi bersama,” pungkasnya.

Saat yang sama, Ketua Serikat Pekerja Nasional (SPN) NTB, Lalu Wira Sakti, menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran lengkap jajaran pimpinan daerah dalam dialog tersebut.

​”Sepanjang sejarah May Day di NTB, baru kali ini dihadiri lengkap oleh Bapak Gubernur, Ibu Wakil Gubernur, Pak Sekda, hingga jajaran Kepala Dinas. Ini momen yang luar biasa dan menunjukkan komunikasi yang baik antara pemerintah, pengusaha melalui Apindo, dan teman-teman buruh,” ujarnya.

​Salah satu poin krusial yang disoroti Lalu Wira adalah komitmen Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, untuk melibatkan serikat buruh dalam setiap penyusunan Peraturan Daerah (Perda) ke depan. Ia mengakui bahwa sebelumnya ada hambatan komunikasi di mana aspirasi buruh belum terserap maksimal dalam regulasi.

​”Tadi Pak Gubernur sudah menyampaikan, ke depan teman-teman serikat akan dilibatkan. Kami di SPN akan terus mengawal janji tersebut agar setiap klausul dalam Perda benar-benar berpihak pada kesejahteraan pekerja,” tegasnya.

​Lalu Wira juga menekankan bahwa buruh harus dipandang sebagai bagian penting dari penggerak ekonomi, bukan sekadar objek kebijakan. Ia berharap pemerintah terus memperjuangkan upah buruh agar sejalan dengan visi “NTB Makmur Mendunia”.

​”Harapan kami, kesejahteraan buruh terus diperjuangkan. Jangan sampai buruh hanya dijadikan objek, tapi harus menjadi bagian penting bagi pengusaha maupun pemerintah untuk memajukan daerah. Jika upah buruh tidak diperjuangkan, maka visi kemakmuran itu akan terasa jauh dari kenyataan,” tambah Wira.

​Menutup pernyataannya, ia mendukung langkah Gubernur dalam mengentaskan kemiskinan ekstrem di NTB hingga nol persen. Menurutnya, kesejahteraan buruh adalah kunci utama dalam mencapai target tersebut.

​”Kami siap bersinergi untuk mencapai target nol persen kemiskinan ekstrem. Dengan kolaborasi yang baik, kita optimistis NTB yang makmur dan sejahtera bagi semua lapisan pekerja dapat terwujud,” pungkasnya.(sr/dkisntb)

 

Bau Penyimpangan Dana Hibah Rp500 Juta di Subang, IMM: Aparat Jangan Diam!

0

Bau Penyimpangan Dana Hibah Rp500 Juta di Subang, IMM: Aparat Jangan Diam!

Subang | Warta In Jabar, Jumat 1 Mei 2026 — Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kabupaten Subang melontarkan peringatan keras terkait dugaan penyimpangan dana hibah pemerintah daerah senilai Rp500 juta yang diterima Dewan Pendidikan Kabupaten Subang.

Sorotan utama tertuju pada penggunaan anggaran yang diduga tidak tepat sasaran. Berdasarkan temuan awal, dana hibah tersebut dipakai untuk renovasi bangunan yang bukan merupakan aset resmi, melainkan hanya berstatus pinjam pakai di kawasan Jalan Panjaitan, Kelapa Gading. Padahal, aset resmi Dewan Pendidikan diketahui berada di Jalan KS Tubun.

Temuan ini memunculkan pertanyaan serius: untuk kepentingan siapa sebenarnya anggaran tersebut digunakan?

Ketua PC IMM Kabupaten Subang, Iqbal Maulana, menegaskan bahwa persoalan ini tidak bisa dianggap sepele dan berpotensi kuat mengarah pada penyimpangan anggaran.

“Ini bukan sekadar kelalaian administratif. Jika dana hibah digunakan di luar aset resmi, maka patut diduga ada penyimpangan. Jangan ada yang bermain-main dengan uang rakyat. Kami akan kawal kasus ini sampai tuntas,” tegasnya.

Sebagai langkah konkret, PC IMM telah resmi melaporkan dugaan tersebut kepada sejumlah lembaga penegak hukum, yakni Kejaksaan, Polres Subang, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), hingga Kejaksaan Tinggi (Kejati).

IMM menilai, laporan ini menjadi ujian bagi keseriusan aparat dalam menegakkan hukum tanpa pandang bulu, khususnya dalam pengelolaan dana publik.

Selain itu, PC IMM juga mendesak agar dilakukan audit menyeluruh terhadap penggunaan dana hibah tersebut, serta meminta pihak Dewan Pendidikan memberikan klarifikasi terbuka kepada masyarakat.

“Jika tidak ada transparansi, maka wajar publik curiga. Dan jika benar ada penyimpangan, maka tidak boleh ada kompromi. Hukum harus ditegakkan,” lanjut Iqbal.

PC IMM menegaskan tidak akan mundur dalam mengawal kasus ini. Bahkan, mereka membuka kemungkinan untuk menggelar aksi terbuka jika proses penanganan dinilai lamban atau tidak transparan.

Kasus ini kini menjadi perhatian publik Subang. Tekanan terhadap aparat penegak hukum pun menguat agar segera bertindak, mengingat dana yang dipersoalkan merupakan uang rakyat yang seharusnya digunakan secara tepat dan akuntabel.

Usai Disebut Tak Punya Etika Oleh LSM Gemul, PLN Balik Bukit Kembali Pasang KWH

0

Lampung Barat, – Viralnya pihak PLN Kecamatan Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat yang sempat membongkar KWH milik warga Kelurahan Way Mengaku tanpa konfirmasi saat tidak ada orang dirumah hingga disebut LSM Gemul pihak PLN tidak punya etika akhirnya kembali memasang KWH.

Untuk diketahui KWH milik salah seorang warga Kelurahan Way Mengaku, sempat di lakukan pembongkaran oleh pihak PLN Kecamatan Balik Bukit. namun hal itu ditanggapi LSM Gemul yang menyebut pihak PLN tidak memiliki etika dalam bekerja hingga akhirnya kembali dilakukan pemasangan oleh pihak PLN.

Namun sangat disayangkan, KWH yang terpasang saat ini bukanlah KWH pascabayar seperti sebelumnya, tetapi diganti dengan KWH Pulsa pada umumnya nya.

Irfan yang merupakan pemilik KWH mengaku bahwa dirinya sangat menyayangkan sikap pihak PLN yang memutus saat tidak ada orang hingga tanpa konfirmasi terlebih dahulu.

Tapi Riyan yang juga LSM Gemul akan mencoba menemui pihak Kepala PLN guna minta klarifikasi terkait aturan soal pemutusan yang dilakukan oleh pihaknya tanpa konfirmasi saat tidak ada orang dirumah.

Sementara sampai KWH terpasang kembali pihak PLN Belum memberikan tanggapan resmi terkait pemutusan tersebut. tapi wartawan media ini akan terus menggali informasi lebih lanjut.

(Tim)

Suara Hati Nurani Anak Bangsa

0

Samosir, Kadiman Pakpahan, Mr.Dreamer mengutarakan egelisahan dalam mengisi relung-relung kehidupan berbangsa dan bernegara sesuatu yang lumrah dan wajar. Suka tidak suka, senang tidak senang, kegelisahan hati nurani tidak dapat terhindarkan sebagai aktualisasi untuk menyikapi berbagai ‘gejolak’ yang terpendam ditengah-tengah masyarakat.
Merujuk pada istilah,  “suara hati nurani anak bangsa”, merupakan  aspirasi tulus dan harapan moral masyarakat Indonesia terhadap masa depan negaranya. Akhir-akhir ini, narasi tersebut semakin kuat muncul dari berbagai gerakan dan inisiatif yang menekankan pentingnya reformasi etika, moral, empati, kepedulian, reformasi pemikiran, tanggung jawab, disiplin nasional, persatuan/kesatuan, dan keadilan dalam kehidupan bernegara.
Suara hati nurani anak bangsa sangat luas karena mencakup dimensi moral, sosial, hukum hingga politik. Secara umum, aspek-aspek yang saling berkaitan dalam ulasan ini meliputi:
1.Aspek Etika dan Kepemimpinan, merupakan inti dari suara nurani, di mana masyarakat menuntut adanya integritas dan moralitas dari para pemimpin. Aspek ini menyoroti bagaimana kekuasaan seharusnya dijalankan dengan amanah, kejujuran, dan tanggung jawab demi kepentingan publik, bukan pribadi atau kelompok.
2.Aspek Hukum dan Keadilan, kondisi ini sering muncul sebagai reaksi terhadap ketidakadilan. Aspek ini mencakup tuntutan agar supremasi hukum ditegakkan tanpa pandang bulu, perlindungan terhadap hak asasi manusia (HAM), serta fungsi hukum sebagai pelindung bagi mereka yang lemah dan terpinggirkan sehingga rasa adil dan keseimbangan terbangun ditengah-tengah masyarakat
3.Aspek Pendidikan Karakter, untuk menghasilkan “anak bangsa” yang berhati nurani, diperlukan fondasi pendidikan yang kuat. Aspek ini berkaitan dengan penanaman nilai-nilai Pancasila, budi pekerti, dan empati sosial sejak dini agar generasi penerus memiliki kompas moral yang benar dalam berbangsa.
4.Aspek Sosial dan Kemanusiaan, berkaitan dengan rasa solidaritas dan gotong royong. Suara hati nurani tercermin dalam gerakan masyarakat yang peduli terhadap kemiskinan, kesejahteraan anak, serta bantuan bagi korban bencana atau konflik sosial di dalam negeri.
5.Aspek Demokrasi dan Konstitusi,  berfungsi sebagai penjaga demokrasi. Aspek ini melibatkan pengawasan masyarakat sipil terhadap jalannya pemerintahan agar tetap setia pada konstitusi dan memastikan proses politik (seperti Pemilu) berjalan secara jujur dan adil, agar yang berdaulat afalah rakyat.
6.Aspek Lingkungan Hidup, mencakup tanggung jawab terhadap alam. Ini adalah kesadaran moral untuk menjaga kelestarian lingkungan demi keberlangsungan hidup generasi masa depan Indonesia.
Berbagai langkah-langkah strategis dan praktis perlu sejalan dan seirama, seperti afanya reformasi pemikiran dan paradigma baru dengan pendekatan out of the box. Pendekatan ini merupakan mesin penggerak utama agar suara hati nurani tidak sekadar menjadi jargon, melainkan transformasi nyata.
Dalam konteks masa kini, kaitan antara nurani dengan pemikiran progresif tersebut dapat dilihat dari beberapa sudut pandang:
1.Dekonstruksi Paradigma Lama, hati nurani sering kali menuntut kita untuk keluar dari cara berpikir “status quo”. Reformasi pemikiran di sini berarti berani mempertanyakan praktik-praktik lama yang dianggap wajar namun sebenarnya merusak moral bangsa, seperti budaya feodalisme dalam birokrasi atau normalisasi korupsi. Paradigma barunya adalah menempatkan pelayanan publik sebagai bentuk ibadah dan integritas sebagai standar tertinggi, bukan sekadar kepatuhan pada aturan formal.
2.Pendekatan Out of the Box dalam Solusi Bangsa, suara anak bangsa saat ini mulai mendorong solusi yang tidak konvensional untuk masalah klasik:
a.Teknologi untuk Transparansi,  menggunakan sistem blockchain atau AI untuk menutup celah korupsi (nurani digital).
b.Ekonomi Berbasis Komunitas,  beralih dari paradigma pertumbuhan ekonomi makro semata menuju penguatan ekonomi akar rumput yang lebih manusiawi dan adil. Sehingga gap antara warga yang lebih beruntung dengan kaum marginal makin mengecil.
3.Reformasi Pendidikan Menuju Critical Thinking, paradigma baru dalam pendidikan tidak lagi hanya menghafal nilai-nilai, tetapi membangun nalar kritis . untuk melahirkan anak bangsa yang kreatif dan inovatif. Anak bangsa diajak untuk berani bersuara ketika melihat ketimpangan. Reformasi pemikiran ini mengubah mentalitas “asal bapak senang” menjadi mentalitas yang berani mengoreksi demi kebenaran, yang merupakan esensi tertinggi dari suara hati nurani.
4.Kepemimpinan Berbasis Empathy-Driven, dulu pemimpin identik dengan instruksi dan otoritas, paradigma baru yang lahir dari suara nurani adalah kepemimpinan yang melayani (servant leadership). Ini adalah pemikiran out of the box di mana kekuatan pemimpin diukur dari seberapa besar empati dan dampaknya terhadap rakyat paling bawah, bukan dari seberapa besar kekuasaan yang ia genggam.
5.Rekonsiliasi Nasional yang Progresif, hati nurani mendorong bangsa untuk berani melihat sejarah secara jujur. Reformasi pemikiran di sini melibatkan keberanian untuk melakukan rekonsiliasi atas konflik masa lalu dengan cara-cara baru yang lebih merangkul, agar beban sejarah tidak menghambat langkah menuju masa depan melainkan menjadi pembelajaran yang produktif.
Dengan demikian, suara hati nurani adalah kompasnya, sementara reformasi pemikiran out of the box adalah kendaraannya untuk mencapai perubahan paradigma tersebut.
Paradigma pembangunan yang dibutuhkan untuk mewujudkan suara hati nurani anak bangsa adalah paradigma yang bergeser dari sekadar pertumbuhan angka (kuantitatif) menuju kesejahteraan yang bermartabat (kualitatif).
Berdasarkan aspirasi reformasi pemikiran tersebut, berikut adalah elemen utama paradigma pembangunan baru tersebut:
1.Pembangunan Berpusat pada Manusia (Human-Centric Development), pembangunan tidak lagi hanya diukur dari megahnya infrastruktur atau tingginya GDP, tetapi dari kualitas hidup manusianya.
a.Paradigma Baru,  fokus pada akses pendidikan berkualitas yang merata, layanan kesehatan yang manusiawi, dan perlindungan sosial yang menjamin tidak ada satu pun warga negara yang “tertinggal di belakang”.
b.Sisi Nurani, menghargai martabat setiap individu sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek atau angka statistik.
2.Ekonomi Hijau dan Berkelanjutan (Regenerative Economy), keluar dari cara berpikir eksploitatif yang merusak alam demi keuntungan jangka pendek.
a.Pendekatan Out of the Box,  pembangunan yang tidak hanya “melindungi” lingkungan, tetapi “memulihkan” (regenerative). Mengalihkan ketergantungan dari energi fosil ke energi terbarukan sebagai bentuk tanggung jawab moral kepada generasi mendatang.
b.Sisi Nurani,  menyadari bahwa hak atas alam yang sehat adalah hak asasi anak cucu kita.
3.Pemerataan yang Inklusif (Pembangunan dari Pinggiran), menghapus kesenjangan tajam antara pusat dan daerah, serta antara si kaya dan si miskin.
a.Paradigma Baru,  memperkuat ekonomi akar rumput (UMKM dan koperasi) dengan sentuhan teknologi digital. Pembangunan harus dirasakan hingga ke pelosok desa dan komunitas adat, sehingga tidak terjadi urbanisasi besar-besaran yang mencabut akar budaya masyarakat.
b.Sisi Nurani,  keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa diskriminasi geografis atau kelas sosial.
4.Transformasi Digital yang Beretika, pembangunan teknologi bukan hanya soal adopsi alat, tapi soal kedaulatan dan etika.
a.Pendekatan Out of the Box, menggunakan teknologi untuk transparansi radikal dalam birokrasi (misalnya sistem e-government yang kebal intervensi). Digitalisasi harus memberdayakan rakyat, bukan menjadi alat pengawasan yang mengekang kebebasan.
b.Sisi Nurani,  kejujuran dalam tata kelola pemerintahan yang didukung oleh sistem yang akuntabel.
5.Pembangunan Karakter dan Budaya (Kekuatan Non-Fisik), menyadari bahwa kemajuan materiil tanpa fondasi karakter akan runtuh oleh korupsi dan konflik.
a.Paradigma Baru,  menempatkan kebudayaan dan nilai-nilai lokal sebagai modal pembangunan. Indonesia maju dengan identitasnya sendiri, bukan menjadi tiruan bangsa lain.
b.Sisi Nurani,  membangun bangsa yang memiliki “jiwa”, di mana nilai gotong royong dan etika publik menjadi landasan setiap kebijakan.
Dengan demikian, atas dasar suara hati nurani anak bangsa, paradigma yang dibutuhkan adalah Pembangunan Berkelanjutan yang Berkeadilan dan Berketuhanan (Bermoral). Ini adalah perubahan cara pandang dari “membangun di Indonesia” menjadi “membangun Indonesia” seutuhnya (red)