Beranda blog

*PROYEK BRONJONG DI RAWA MULYA DIPERTANYAKAN; TANPA PAPAN PROYEK, MUTU BAHAN DIDUGA TIDAK SESUAI SPESIFIKASI*

0

“PROYEK BRONJONG RP35 MILIAR DI RAWA MULYA DIPERTANYAKAN; TANPA PAPAN PROYEK, MUTU BAHAN DIDUGA TIDAK SESUAI SPESIFIKASI.

Mukomuko, 27 Juni 2026 — Pekerjaan pemasangan bronjong senilai Rp35 miliar di ruas Desa Rawa Mulya SP7 menuju Lubuk Sanai II, Kecamatan XIV Koto, menjadi sorotan. Kegiatan ini bersumber dari APBN 2026, dikelola Satuan Kerja Balai Wilayah Sungai Sumatera VII Bengkulu dengan kode satker 412873, bertujuan mengamankan tebing sungai dan jalur jalan lintas strategis.

Namun, pelaksanaannya menimbulkan kekhawatiran. Hanya terdapat satu tanda petunjuk di satu titik saja, tanpa papan identitas proyek yang lengkap sesuai ketentuan. Pengawas lapangan bernama Heru saat dikonfirmasi bersikap acuh, hanya menyebut proyek dikelola Balai Sungai, lalu segera meninggalkan lokasi. Tidak terlihat kehadiran pengawas teknis dari dinas atau konsultan selama pengerjaan berlangsung.

Selain itu, muncul dugaan bahwa bahan batu yang digunakan tidak memenuhi standar teknis yang tercantum dalam kontrak. Seorang narasumber yang tidak ingin disebutkan namanya menyampaikan:

“Ukuran batu untuk bronjong minimal harus berdiameter 25 hingga 30 sentimeter sesuai spesifikasi, namun yang terpasang di lapangan diduga tidak sesuai dengan ketentuan dan analisis yang ada dalam dokumen perjanjian kerja.”

Masyarakat menuntut tiga hal: pertama, segera memasang papan informasi lengkap yang memuat sumber dana, nilai kontrak, nama pelaksana, dan penanggung jawab; kedua, menjamin mutu pekerjaan dan kesesuaian bahan dengan standar teknis; ketiga, meminta instansi berwenang melakukan inspeksi menyeluruh.

Tim redaksi tetap menunggu klarifikasi resmi dari pihak Balai Wilayah Sungai Sumatera VII Bengkulu dan instansi terkait untuk menjaga keseimbangan informasi dan objektivitas pemberitaan.

“Dana ini adalah uang rakyat, bukan milik pribadi. Kami ingin hasilnya benar-benar bermanfaat dan tahan lama, bukan sekadar selesai di atas kertas,” tegas salah seorang warga.

(Tim HD/Redaksi)

 

Satu Meja Satu Saudara: Turnamen Gaple di Rumah Singgah Aktivis PALI Lebur Sekat Polisi, Wartawan, dan Warga

0

Satu Meja Satu Saudara: Turnamen Gaple di Rumah Singgah Aktivis PALI Lebur Sekat Polisi, Wartawan, dan Warga

PALI – Suasana hangat, akrab, dan penuh gelak tawa menyelimuti Rumah Singgah Aktivis Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Selama dua malam berturut-turut, sejak Jumat hingga Sabtu malam (26–27 Juni 2026), tempat ini menjadi saksi bisu berkumpulnya berbagai elemen masyarakat. Sebuah turnamen gaple digelar secara meriah dengan melibatkan insan pers (wartawan), jajaran Kepolisian Resor (Polres) PALI, serta warga lokal.

Acara ini diinisiasi secara khusus untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-80.Di bawah kepemimpinan Efran selaku Ketua Pelaksana, turnamen ini mengusung slogan yang sangat mendalam, yaitu “Satu Meja, Satu Saudara”. Slogan ini bukan sekadar pemanis kata, melainkan benar-benar terwujud nyata di atas meja pertandingan. Saat para peserta sudah duduk berhadapan untuk menyusun strategi permainan gaple, seluruh atribut formalitas seketika luntur. Tidak ada lagi batasan pangkat, status jabatan, maupun latar belakang profesi. Semua yang hadir melebur menjadi satu sebagai saudara yang setara.

Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana Efran menegaskan bahwa esensi utama dari perlombaan ini bukanlah sekadar berburu gelar juara atau memperebutkan hadiah materi. Permainan gaple sengaja dipilih sebagai media pemersatu karena sifatnya yang sangat merakyat, sederhana, dan mampu menjangkau semua lapisan sosial tanpa terkecuali.

“Jangan dinilai dari hadiahnya karena dalam lomba ini kami selaku panitia belum ada kesiapan yang matang. Tapi nilai dari partisipasi kami mengadakan lomba ini dalam memeriahkan HUT Bhayangkara ke-80,” ujar Efran dengan penuh kerendahan hati di hadapan para peserta.

Di sela-sela riuhnya pertandingan, Efran juga memanfaatkan momentum ini untuk menerangkan esensi serta fungsi mendalam dari keberadaan Rumah Singgah Aktivis PALI. Menurutnya, tempat ini didirikan bukan hanya untuk menjadi lokasi singgah atau tempat berkumpul biasa tanpa arah. Wadah ini memiliki peran strategis sebagai pusat penerimaan informasi sekaligus ruang diskusi terbuka untuk mencari jalan keluar bagi berbagai persoalan yang dihadapi oleh masyarakat kecil.

Sebagai bukti nyata, Efran mencontohkan peran aktif rumah singgah ini saat mengawal kasus kelangkaan gas elpiji dan melonjaknya harga di pasaran yang sempat mencekik ekonomi warga beberapa waktu lalu. Melalui gerakan advokasi, rembuk bersama, dan koordinasi intensif yang lahir dari rumah singgah inilah, solusi konkret untuk kepentingan hajat hidup orang banyak dapat diperjuangkan bersama secara bergotong-royong.

Inisiatif positif dan pendekatan non-formal ini mendapat sambutan yang sangat antusias dari perwakilan Polres PALI, para kuli tinta, serta warga yang hadir memenuhi lokasi. Pihak kepolisian menilai bahwa kegiatan santai seperti turnamen gaple ini jauh lebih efektif untuk memperkuat jaringan komunikasi dua arah antara aparat penegak hukum dan masyarakat. Momentum kebersamaan yang cair ini diyakini mampu menjadi fondasi yang kokoh dalam menjaga stabilitas Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) serta merawat keharmonisan sosial di wilayah Kabupaten PALI.

Pantauan langsung di lokasi menunjukkan atmosfer kompetisi yang penuh sportivitas sekaligus menghibur. Dentingan suara balok gaple yang beradu di atas meja, diiringi sorak-sorai renyah dari para penonton saat ada peserta yang terkena ‘gapped’, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang begitu kental.

Melalui kesuksesan gelaran acara ini, Efran bersama seluruh unsur yang terlibat menaruh harapan besar agar hubungan kemitraan, sinergi, dan tali silaturahmi yang telah terbangun dengan baik ini dapat terus dijaga secara konsisten demi kemajuan dan kedamaian daerah Kabupaten PALI ke depan.

 

(Muhamad Randi)

Bangunan TPS Gunung Menang Jadi Sorotan, Besi Sloof dan Balok Diduga Gunakan Behel 8 mm

0
oplus_1024

PALI – Pembangunan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di Dusun I, Desa Gunung Menang, Kecamatan Penukal, Kabupaten PALI, menjadi sorotan masyarakat. Selain menelan anggaran Dana Desa (DD) Tahun 2026 sebesar Rp107.290.450 sebagaimana tercantum dalam papan informasi kegiatan, proyek tersebut diduga dikerjakan tidak sesuai spesifikasi teknis.

Berdasarkan hasil pantauan di lapangan, sejumlah warga menyoroti penggunaan besi behel pada pekerjaan cor sloof yang diduga hanya menggunakan ukuran 8 mm. Tidak hanya itu, besi yang digunakan juga terlihat terpotong-potong menjadi beberapa bagian dan diduga tidak disambung maupun diikat sesuai standar konstruksi.

oplus_1024

Sorotan juga mengarah pada bagian balok atas bangunan yang diduga menggunakan behel berukuran 8 mm. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan terkait kualitas serta kekuatan struktur bangunan dalam jangka panjang apabila benar tidak sesuai dengan spesifikasi teknis yang telah direncanakan.

Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya berharap instansi terkait segera melakukan pemeriksaan terhadap pekerjaan tersebut.

oplus_1024

“Kalau benar besinya kecil dan sambungannya tidak sesuai, tentu harus diperiksa. Jangan sampai bangunan yang menggunakan uang rakyat kualitasnya tidak maksimal,” ujarnya.

Warga meminta Pemerintah Desa, Tim Pelaksana Kegiatan Desa (TPKD), Inspektorat Kabupaten PALI, serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) melakukan pengecekan guna memastikan pekerjaan sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan spesifikasi teknis yang berlaku.

oplus_1024

Sebelum berita ini diterbitkan, tim media telah berupaya melakukan konfirmasi kepada Kepala Desa Gunung Menang terkait dugaan penggunaan behel 8 mm pada sloof dan balok atas, serta dugaan adanya besi yang terputus tanpa sambungan dan ikatan yang memadai. Namun hingga berita ini diterbitkan, Kepala Desa Gunung Menang belum memberikan jawaban atau tanggapan atas konfirmasi yang telah disampaikan.

Diduga Abaikan Keselamatan, Kendaraan Proyek Preservasi Jalan Nasional Parkir di Jalan Raya

0
oplus_1024

PALI – Sejumlah kendaraan proyek yang mengerjakan kegiatan Preservasi Jalan Harapan Jaya – Purun Timur – Simpang 3 Purun Timur di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) menjadi sorotan masyarakat. Pasalnya, kendaraan-kendaraan tersebut terlihat diparkir di jalan raya, sehingga dinilai mengganggu kelancaran arus lalu lintas.

Berdasarkan pantauan di lokasi, terdapat tiga unit mobil molen, satu unit truk tangki air, serta dua unit mobil pribadi yang diparkir di sisi jalan raya. Keberadaan kendaraan tersebut menyebabkan badan jalan menyempit sehingga pengguna jalan harus melintas secara bergantian, terutama saat kendaraan dari arah berlawanan datang.

oplus_1024

Sejumlah warga berharap pihak pelaksana proyek lebih memperhatikan keselamatan pengguna jalan dengan tidak menjadikan jalan raya sebagai lokasi parkir kendaraan operasional proyek.

“Kalau kendaraan proyek diparkir di jalan raya seperti ini, pengendara harus lebih berhati-hati. Kami berharap ada lokasi parkir khusus agar tidak mengganggu lalu lintas,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Berdasarkan papan informasi proyek, pekerjaan tersebut merupakan Preservasi Jalan Harapan Jaya – Purun Timur – Simpang 3 Purun Timur dengan nilai kontrak sebesar Rp21.174.821.000 yang bersumber dari APBN Tahun 2025–2026 dan dikerjakan oleh PT Sriwijaya Perkasa Abadi.

Masyarakat meminta kontraktor pelaksana agar menyediakan area parkir khusus bagi kendaraan proyek serta memasang rambu-rambu pengamanan selama pekerjaan berlangsung guna menghindari potensi kemacetan maupun kecelakaan di jalan raya.

Hingga berita ini diterbitkan, media masih berupaya meminta konfirmasi kepada pihak kontraktor pelaksana maupun Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) terkait penggunaan jalan raya sebagai lokasi parkir kendaraan proyek.

Masyarakat kepulauan Nias Berteriak Segera Audit Pt.Pln Persero Tbk Up3 Nias Diduga Tidak Beres! 

0
Nias//warta.in —  Nama Besar Pt.Pln Persero Tbk Up3 Nias  Diduga  Sedang Di Uji Publik. Pengumuman Pemadaman Listrik Pada Jam Malam Menjadi Pemicu Amarah Seluruh Masyarakat Kepulauan Nias Sumatera Utara.info tersebut media Warta.in terima Melalui Whsatpp Grup PT.PLN ULP Nias Barat.
Bukti Cakapan Seluruh Kepulauan
Dari Gunungsitoli Hingga Nias Utara, Jeritan Warga Sama. Umkm Gulung Tikar Sementara, Siswa Batal Belajar, Layanan Kesehatan *Diduga  Terancam. Masyarakat *Menyatakan Ada Yang Tidak Beres Di Tubuh Up3  Pt.Pln Persero Tbk Indonesia Di Kepulauan Nias.
Jangka Waktu Pemadaman Selama 2 Hari Memicu Tanya
Sorotan Terbesar Jatuh Pada Jangka Waktu Pemadaman Selama 2 Hari Berturut-Turut. Dua Malam Gelap Bukan Waktu Sebentar. Dampak Ekonomi Dan Sosial Diduga  Sangat Besar. Publik Mempertanyakan Alasan Di Balik Keputusan Padam Malam Hari Tanpa Solusi Pengganti.
Mendesak Audit Up3 Nias Tanpa Tunda
Karena Itu, Masyarakat Mendesak  Pemerintah Dan Pt.Pln Pusat Segera Mengundang Tenaga Kelistrikan Independen Untuk Mengaudit  Pt.Pln Persero Tbk Up3 Nias. “Buka Semua Data. Jangan Tutup-Tutupi. Publik Berhak Tahu Ada Apa Sebenarnya,” Tegas Tokoh Masyarakat Nias.
Keheningan Up3 Nias Diduga Memperkuat Kecurigaan. Dua Malam Gelap Itu Adalah *Bukti  Kepercayaan Publik Kepada  Pt.Pln Persero Tbk Up3 Nias *Diduga Sudah Runtuh.
Catatan : Sorotan Ini Merangkum Aspirasi Masyarakat 5 Kabupaten/Kota Kepulauan Nias 26/6/2026. “Jangka Waktu Pemadaman Selama 2 Hari” Sesuai Pengumuman. Kata “Diduga” Digunakan Hingga Ada Hasil Audit. Hak Jawab Terbuka Untuk Pt.Pln Persero Tbk Up3 Nias.

Perselisihan di Acara Skate Days Sukabumi Berujung Pembacokan, Korban Minta Polisi Segera Tangkap Pelaku

0

Perselisihan di Acara Skate Days Sukabumi Berujung Pembacokan, Korban Minta Polisi Segera Tangkap Pelaku

Warta In Jabar | SUKABUMI – Sebuah acara komunitas skateboard “Skate Days” di Sukabumi yang seharusnya berlangsung damai, justru berujung pada aksi kekerasan berdarah. Indra Kusumah menjadi korban pembacokan setelah terlibat perselisihan sengit dengan seorang pria berinisial M (Mario). Akibat kejadian tersebut, Indra mengalami luka berat di bagian tangan akibat sabetan senjata tajam jenis celurit.

 

Berdasarkan informasi yang dihimpun, ketegangan antara Indra dan Mario sebenarnya sempat diupayakan untuk diselesaikan secara damai. Seorang tokoh masyarakat, Haji Tia, sempat dihubungi oleh pihak pelaku dengan rencana untuk memediasi kedua belah pihak.

Namun, upaya perdamaian tersebut justru berjalan buntu. Di lokasi kejadian, Mario diduga datang dengan membawa senjata tajam berupa besi berkarat dan melakukan pengancaman terhadap Indra.

“Saat itu Haji Tia dan Iduy sudah mencoba melerai dan menenangkan pelaku agar suasananya mendingin. Namun, pertikaian ini malah semakin memanas,” ujar Indra dalam keterangannya.

Situasi yang kian tidak terkendali mencapai puncaknya ketika Mario diduga kehilangan kontrol diri. Ia kemudian membawa sebilah celurit dan melakukan serangan secara membabi buta, yang menyebabkan tangan Indra Kusumah mengalami luka robek serius.

Pasca-insiden berdarah tersebut, pihak korban mengaku sempat membuka ruang komunikasi untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Namun, proses mediasi tersebut tidak membuahkan jalan keluar atau titik temu.

Indra juga mengungkapkan rasa terkejutnya setelah mendengar kabar bahwa Mario justru mengaku-ngaku sebagai korban penganiayaan dalam peristiwa tersebut.

“Saya sebagai korban pembacokan merasa kaget mendengar bahwa Mario (pelaku) justru mengklaim dirinya sebagai korban penganiayaan,” tegas Indra.

Kecewa dengan tidak adanya iktikad baik dan demi menghindari tindakan main hakim sendiri yang merugikan, Indra Kusumah menegaskan bahwa dirinya memilih jalur hukum dan meminta aparat kepolisian bertindak tegas serta adil.

Ia meminta perhatian khusus dari jajaran kepolisian tinggi, mulai dari Kapolda Jawa Barat, Direktur Reskrimum Polda Jabar, hingga Kasat Reskrim Polres Sukabumi Kota untuk segera meringkus pelaku.

“Saya sangat mengedepankan aturan sesuai dengan hukum yang berlaku. Saya khawatir jika tidak diproses, akan ada tindakan yang merugikan kita semua. Karena itu, saya merasa harus melanjutkan proses hukum ini ditegaskan seadil-adilnya. Kami meminta pihak kepolisian menjalankan tugasnya dan segera menangkap pelaku pembacokan agar dihukum seberat-beratnya,” pungkas Indra.

Hingga berita ini diturunkan, tim redaksi masih terus berupaya menghubungi pihak Mario (terduga pelaku) maupun kuasa hukumnya untuk mendapatkan klarifikasi dan keterangan lebih lanjut mengenai klaim sepihak terkait penganiayaan yang disebutkan oleh korban.

Redaksi juga sedang melakukan konfirmasi kepada pihak Polres Sukabumi Kota terkait perkembangan laporan polisi dan pengejaran terhadap terduga pelaku pembacokan ini.(Alfi yonimar)

Desa Berdaya: Dari Pintu Rumah Warga Menuju NTB Makmur Mendunia (Bag. 1)

0

Desa Berdaya: Dari Pintu Rumah Warga Menuju NTB Makmur Mendunia (Bag. 1)

Oleh: Dr. H. Ahsanul Khalik – Kadis Kominfotik/Juru Bicara Pemprov NTB

Warta.in
Mataram,NTB – Kemiskinan ekstrem tidak dapat diputus hanya dengan bantuan sosial. Ia membutuhkan strategi yang mampu membangun kemandirian keluarga, menggerakkan potensi lokal, serta menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Berangkat dari pemahaman tersebut, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menghadirkan Program Desa Berdaya, sebuah pendekatan pembangunan yang memadukan pemberdayaan masyarakat, perlindungan sosial, penguatan ekonomi desa, dan kolaborasi lintas sektor sebagai strategi graduasi kemiskinan ekstrem menuju NTB Makmur Mendunia.

Bagaimana strategi tersebut bekerja dapat dilihat dari kunjungan Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhamad Iqbal, ke Desa Mekarsari, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat. Kunjungan itu bukan sekadar agenda peninjauan program, melainkan upaya memastikan bahwa setiap kebijakan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mengevaluasi berbagai persoalan yang masih menghambat pembangunan desa.

Di Desa Mekarsari, Gubernur berdialog dengan keluarga penerima manfaat, meninjau rumah yang sedang direhabilitasi, melihat usaha-usaha produktif yang mulai tumbuh, hingga menyusuri jalan menuju Dusun Malaka yang masih sempit dan rusak. Dari pertemuan langsung dengan masyarakat itu tampak bahwa bantuan pemerintah telah menumbuhkan harapan, tetapi masih memerlukan dukungan infrastruktur,p pelayanan dasar, dan pendampingan agar benar-benar menghasilkan perubahan yang berkelanjutan.

Kunjungan tersebut memperlihatkan bahwa kemiskinan tidak pernah berdiri sendiri. Modal usaha akan sulit berkembang apabila akses jalan masih terbatas. Rumah yang layak huni akan lebih bermakna apabila diikuti kesempatan memperoleh penghasilan. Potensi desa pun tidak akan menghasilkan nilai tambah apabila belum didukung kelembagaan ekonomi, akses pasar, dan tata kelola yang baik.

Mekarsari menjadi gambaran kecil dari wajah pembangunan di Nusa Tenggara Barat. Dari desa ini terlihat bahwa upaya mengentaskan kemiskinan harus dilakukan secara menyeluruh, menghubungkan pembangunan manusia, pemberdayaan ekonomi, penyediaan infrastruktur dasar, dan pengembangan potensi lokal dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. Gagasan inilah yang menjadi fondasi Program Desa Berdaya.

Membangun Jalan Keluar dari Kemiskinan Ekstrem

Kemiskinan ekstrem tidak hanya berkaitan dengan rendahnya pendapatan, tetapi juga terbatasnya akses terhadap pekerjaan produktif, pendidikan, kesehatan, perumahan yang layak, infrastruktur dasar, dan permodalan. Karena itu, Pemerintah Provinsi NTB mengembangkan Desa Berdaya Transformatif sebagai strategi graduasi untuk membangun keluarga yang mandiri, produktif, dan berdaya saing.

Program ini dilaksanakan melalui empat pilar utama, yaitu perlindungan sosial, pengembangan mata pencaharian, pemberdayaan sosial, dan inklusi keuangan. Keempat pilar tersebut saling melengkapi sehingga bantuan yang diberikan tidak berhenti sebagai intervensi jangka pendek, tetapi menjadi fondasi peningkatan kesejahteraan yang berkelanjutan.

Pada tahap pertama, Program Desa Berdaya Transformatif dilaksanakan di 40 desa dengan sasaran 6.337 kepala keluarga miskin ekstrem yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Nusa Tenggara Barat. Setiap desa memperoleh Bantuan Keuangan Khusus (BKK) sebesar Rp300 juta, sementara setiap kepala keluarga sasaran memperoleh bantuan pemberdayaan ekonomi sebesar Rp7 juta dalam bentuk aset produktif sesuai rencana usaha yang telah diverifikasi. Selain itu, pemerintah juga mengalokasikan bantuan penanganan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) sebesar Rp200 juta per desa untuk rehabilitasi delapan unit rumah.

Antusiasme masyarakat terhadap program ini tercermin dari tingginya partisipasi dalam penyusunan rencana usaha. Dari 6.337 kepala keluarga yang menjadi sasaran, sebanyak 5.277 keluarga atau 83,27 persen telah mengajukan proposal usaha. Setelah melalui verifikasi berjenjang, 5.024 proposal atau 79,28 persen dinyatakan layak memperoleh dukungan. Sebanyak 209 proposal masih memerlukan penyempurnaan, sedangkan 1.104 keluarga yang belum mengajukan proposal menjadi prioritas pendampingan pada tahap berikutnya.

Data tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak lagi memosisikan diri sebagai penerima bantuan semata. Mereka mulai memanfaatkan program sebagai peluang membangun usaha dan meningkatkan kesejahteraan keluarga. Di sisi lain, pemerintah memilih memastikan setiap bantuan benar-benar tepat sasaran sehingga memiliki peluang berhasil dalam jangka panjang.

Sebaran proposal yang telah disetujui memperlihatkan kesiapan masyarakat di berbagai daerah. Kabupaten Lombok Barat mencatat jumlah proposal terbesar dengan 1.443 proposal, disusul Lombok Tengah sebanyak 1.234 proposal, Lombok Timur 935 proposal, Kota Mataram 421 proposal, dan Kabupaten Sumbawa 304 proposal. Sebaran ini menjadi dasar penyusunan pola pendampingan dan pengembangan usaha sesuai karakteristik masing-masing wilayah.

Jenis usaha yang dipilih masyarakat juga menunjukkan arah pembangunan ekonomi desa. Dari 5.024 proposal usaha yang disetujui, 2.481 proposal atau hampir 50 persen memilih peternakan unggas sebagai usaha utama. Selanjutnya 1.588 proposal bergerak di sektor perdagangan, 360 proposal pada pertanian dan perkebunan, sedangkan sisanya tersebar pada sektor perikanan, jasa, industri rumah tangga, dan berbagai usaha produktif lainnya.

Dominasi usaha peternakan unggas dan perdagangan menunjukkan bahwa masyarakat memilih sektor yang telah mereka kuasai. Pemerintah kemudian memperkuat potensi tersebut melalui bantuan aset produktif dan pendampingan usaha agar mampu berkembang menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan.

Selain usaha utama, masyarakat juga mengajukan 2.016 usulan usaha kedua sebagai sumber pendapatan tambahan. Diversifikasi ini menjadi indikator tumbuhnya ketahanan ekonomi keluarga, karena penghasilan tidak lagi bergantung pada satu jenis usaha.

Untuk mendukung seluruh usaha tersebut, Pemerintah Provinsi NTB mengalokasikan Rp35,144 miliar dalam bentuk transfer aset produktif. Sebesar Rp30,296 miliar atau 86,2 persen dialokasikan untuk usaha utama, sedangkan Rp4,848 miliar atau 13,8 persen digunakan untuk mendukung usaha kedua. Skema ini menegaskan perubahan pendekatan pemerintah, dari bantuan yang bersifat konsumtif menjadi investasi produktif yang mampu menghasilkan nilai ekonomi bagi keluarga penerima manfaat.

Meski demikian, prinsip kehati-hatian tetap menjadi bagian penting pelaksanaan program. Masih terdapat 208 proposal yang belum dapat disetujui dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp1,456 miliar, sebagian besar merupakan usulan pada sektor peternakan ternak besar yang masih memerlukan penyempurnaan dan verifikasi lebih lanjut. Langkah ini menunjukkan bahwa kecepatan pelaksanaan tetap diimbangi dengan ketepatan sasaran dan kualitas program.

Lebih jauh lagi, hasil pendataan menunjukkan bahwa kemiskinan ekstrem memiliki dimensi yang lebih luas daripada persoalan pendapatan. Dari 6.337 keluarga miskin ekstrem, masih terdapat 4.809 rumah tidak layak huni, 1.064 keluarga yang belum memiliki akses air bersih yang memadai, 2.424 keluarga yang belum memiliki listrik mandiri, 2.985 keluarga yang belum menerima bantuan sosial, serta 1.570 keluarga dengan 2.074 anak yang belum memperoleh Kartu Indonesia Pintar (KIP).

Di bidang perlindungan sosial, masih terdapat 2.801 keluarga atau 44,2 persen yang belum menerima bantuan sosial dan 1.506 keluarga atau 23,8 persen yang belum memiliki kepesertaan BPJS Kesehatan. Fakta tersebut menegaskan bahwa peningkatan pendapatan harus berjalan seiring dengan pemenuhan layanan dasar agar keluarga benar-benar mampu keluar dari kemiskinan secara berkelanjutan.

Karena itu, Program Desa Berdaya dikembangkan sebagai platform kolaborasi lintas sektor. Data menjadi dasar penyusunan kebijakan, sementara setiap persoalan diterjemahkan menjadi intervensi yang saling melengkapi, mulai dari rehabilitasi rumah, penyediaan air bersih, akses listrik, perlindungan sosial, layanan kesehatan, hingga pendidikan. Tujuan akhirnya bukan sekadar meningkatkan pendapatan, tetapi meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.

(bersambung)

 

Jamda XI 2026 Sumut Siap Digelar, Ketua Kwarda Tekankan Kolaborasi dan Inovasi Kegiatan Pramuka

0
Jamda XI 2026 Sumut Siap Digelar, Ketua Kwarda Tekankan Kolaborasi dan Inovasi Kegiatan Pramuka

Medan ( Warta.In ) — Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Sumatera Utara, Dr. H. Dikky Anugerah Panjaitan, memimpin langsung rapat finalisasi persiapan Jambore Daerah (Jamda) XI Tahun 2026 Sumatera Utara. Rapat ini menjadi tahap penting untuk memastikan seluruh rangkaian persiapan kegiatan berjalan matang, terarah, dan siap dilaksanakan.

Dalam arahannya, Ketua Kwarda Sumut menegaskan pentingnya sinergi antara Gerakan Pramuka, pemerintah daerah, serta masyarakat setempat dalam menyukseskan pelaksanaan Jamda XI. Ia menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam menghadirkan kegiatan berskala besar yang berdampak luas bagi pembinaan generasi muda.

“Keberhasilan Jambore Daerah ini membutuhkan kerja sama yang solid dari semua pihak, agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat nyata,” ujar Dikky Anugerah Panjaitan.

Ia juga meminta seluruh panitia dan pihak terkait untuk mempersiapkan setiap aspek kegiatan dengan serius dan terencana, sehingga pelaksanaan Jambore Daerah XI dapat berjalan optimal sesuai harapan.

Selain itu, Ketua Kwarda Sumut menyoroti keunikan pelaksanaan Jamda XI Tahun 2026. Sumatera Utara menjadi satu-satunya Kwarda di Indonesia yang menggratiskan biaya pendaftaran peserta Jambore Daerah, sebagai wujud komitmen dalam memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi anggota Pramuka untuk berpartisipasi tanpa hambatan biaya.

“Ini adalah bentuk komitmen kita agar seluruh anggota Pramuka dapat mengikuti kegiatan dengan nyaman dan merata tanpa terbebani biaya,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia berharap Jambore Daerah XI Sumatera Utara tidak hanya menjadi kegiatan pertemuan dan pembinaan di alam terbuka, tetapi juga mampu menghadirkan program yang relevan dengan kebutuhan generasi muda masa kini, termasuk penguatan kreativitas, keterampilan, dan inovasi.

Dengan berbagai persiapan yang terus dimatangkan, Jambore Daerah XI Sumatera Utara Tahun 2026 diharapkan menjadi ajang pembinaan karakter, penguatan solidaritas, serta ruang pengembangan potensi bagi seluruh anggota Pramuka di Sumatera Utara.(16su)

Pasiter Kodim 1208/Sambas Dampingi Wakil Bupati Sambas Hadiri Panen Padi di Desa Gelik

0

Sambas – Dalam upaya mendukung program ketahanan pangan serta mempererat sinergi antara pemerintah daerah dan aparat kewilayahan, Pasiter Kodim 1208/Sambas Kapten Inf Erman mendampingi Wakil Bupati Kabupaten Sambas H. Heroaldi Djuhardi Alwi, S.T.,M.T menghadiri kegiatan panen padi di Desa Gelik, Kecamatan Selakau Timur, Kab. Sambas, Sabtu (27/06/26)

Kegiatan panen padi tersebut menjadi bentuk dukungan nyata terhadap para petani yang selama ini berperan penting dalam menjaga ketersediaan pangan di wilayah Kabupaten Sambas.

Kehadiran unsur pemerintah daerah bersama TNI diharapkan dapat memberikan semangat dan motivasi kepada masyarakat untuk terus meningkatkan hasil produksi pertanian.

Dalam kesempatan tersebut, Pasiter Kodim 1208/Sambas Kapten Erman menyampaikan bahwa TNI melalui aparat teritorial terus berkomitmen mendukung program ketahanan pangan nasional dengan hadir di tengah masyarakat, termasuk memberikan pendampingan kepada petani mulai dari proses tanam hingga masa panen.

Sementara itu, Wakil Bupati Kabupaten Sambas mengapresiasi kerja keras para petani Desa Gelik yang telah menjaga produktivitas pertanian serta berharap hasil panen yang diperoleh dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kegiatan berlangsung dengan penuh kebersamaan dan diakhiri dengan panen bersama sebagai simbol sinergi antara pemerintah daerah, TNI, dan masyarakat dalam mewujudkan ketahanan pangan yang kuat di wilayah Kabupaten Sambas.

Penerus MEGA, Lahir di MEGA Turnamen Bola Voli Bupati Cup 2026 GOR Desa Mekarsari Kec. Ciparay Kab.Bandung

0

GOR Desa Mekarsari Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung, Kamis 25 Juni 2026. WARTA. IN
Penerus MEGA, akan Lahir di MEGA Turnamen Bola Voli Bupati Cup 2026 yang berlangsung di GOR Desa Mekarsari.
Kamto, Kepala Desa Mekarsari, memfasilitasi Turnamen tersebut, yang di ikuti 40 SC Voli, 104 Peserta, diharapkan Lahir Mega selanjutnya.
Hadir Pejabat Terkait Kabupaten Bandung dan Laga Perdana antara SC ELEKTRIK VS RETRO yang di menangkan SC ELEKTRIK 2 – 0.
WARTA. IN Biro Bandung Ibnu S SH CSS ALC SIP CIJ CPW.