27.8 C
Jakarta
Sabtu, Mei 16, 2026
Beranda blog

Remaja Tewas Ditikam di Torgamba, Dua Pelaku Menyerahkan Diri ke Kepolisian

0

Warta.in Torgamba – Seorang Remaja bernama Wahyudi Kurniawan (17) meninggal dunia setelah menjadi korban penganiayaan yang diduga dilakukan secara bersama – sama di Dusun Kandang Motor Desa Aek Batu Kecamatan Torgamba Kabupaten Labuhanbatu Selatan Sumatera Utara kamis (14/5/2026).

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 18.00 wib di halaman rumah warga bernama Muhamad Ridwan alias gembo, korban mengalami luka tusuk di bagian punggung kiri belakang yang diduga menyebabkan pendarahan hebat hingga merenggut nyawa korban.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sebelum kejadian korban bersama rekannya Aldo Aima Panggabean melintas menggunakan sepeda motor di depan Rumah salah satu terduga pelaku berinisial St. Saat melintas korban dan rekanya diduga dilempar batu, namun lemparan tersebut tidak mengenai keduanya.

Korban kemudian melanjutkan perjalanan dan berhenti di depan rumah Ridwan, sekitar 30 menit berselang seorang pria berinisial SY datang bersama anaknya menggunakan sepeda motor dan menegur korban. Terkait dugaan komunikasi melalui aplikasi WhatsApp dengan anak perempuan SY masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Teguran tersebut memicu cekcok mulut yang kemudian berujung perkelahian antara korban dan st, dalam situasi itu SY diduga turut terlibat dan menikam korban menggunakan senjata tajam di bagian punggung sebelah kiri.

Warga yang mengetahui kejadian itu segera melapor ke Polsek Torgamba, petugas yang menerima laporan langsung mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara serta memeriksa sejumlah saksi.

Kapolsek Torgamba AKP S. Gurusinga mengatakan pihaknya bergerak cepat setelah menerima informasi dari masyarakat, begitu menerima informasi personel langsung menuju lokasi untuk melakukan penyidikan dan meminta keterangan para saksi. Identitas pelaku berhasil diketahui dan dilakukan pengejaran, Ujur Gurusinga.

Ia menambahkan setelah dilakukan pendekatan terhadap keluarga, kedua terduga pelaku akhirnya menyerahkan diri ke Mapolsek Torgamba sekitar pukul 18.45 Wib . Saat ini kedua pelaku telah di amankan dan menjalani pemeriksaan di unit Reskrim Polsek torgamba. Sementara itu, jenazah korban sempat dibawa ke Puskesmas Cikampak untuk menjalani pemeriksaan luar sebelum diserahkan kepada keluarga untuk makamkan.

Kasus tersebut kini masih dalam penanganan kepolisian untuk proses hukum lebih lanjut. (RN)

Diplomasi Negeri Tirai Bambu: Sambutan Mewah dan Makna Strategis Kunjungan Donald Trump ke Tiongkok

0

Diplomasi Negeri Tirai Bambu: Sambutan Mewah dan Makna Strategis Kunjungan Donald Trump ke Tiongkok

Beijing – Kunjungan kenegaraan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, ke Beijing, Tiongkok, menjadi salah satu peristiwa diplomatik paling signifikan dalam dekade ini. Pertemuan yang berlangsung selama tiga hari tersebut tidak hanya menjadi panggung bagi negosiasi perdagangan yang kompleks, tetapi juga menunjukkan seni diplomasi tingkat tinggi melalui penyambutan yang luar biasa mewah dari Presiden Tiongkok, Xi Jinping.
Dunia menyaksikan pemandangan yang tak biasa ketika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mendarat di Bandara Internasional Beijing. Di bawah langit yang cerah, Tiongkok menggelar apa yang disebut oleh para analis sebagai penyambutan “Negara Plus” (State Visit Plus), sebuah level protokol yang melampaui standar kunjungan kenegaraan biasa. Presiden Xi Jinping tampaknya ingin mengirimkan pesan kuat: bahwa Tiongkok adalah mitra setara yang menghormati martabat pemimpin negara adidaya.

Sejak detik pertama Trump melangkah dari Air Force One, kemewahan sudah terasa. Ia disambut oleh barisan kehormatan militer yang megah dan antusiasme anak-anak sekolah yang mengibarkan bendera kedua negara. Puncak dari “keistimewaan” ini adalah jamuan minum teh dan tur pribadi di Kota Terlarang (Forbidden City). Ini adalah preseden sejarah, di mana untuk pertama kalinya sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, seorang presiden AS dijamu secara pribadi di dalam kompleks istana kuno yang merupakan simbol kedaulatan kekaisaran Tiongkok.

Makan malam kenegaraan yang digelar di Balai Besar Rakyat juga mencerminkan kemegahan visual dan kuliner yang dirancang untuk membangun kedekatan personal. Di tengah ketegangan isu defisit perdagangan dan ketegangan di Semenanjung Korea, kemewahan ini berfungsi sebagai pelumas diplomasi guna mencairkan kekakuan komunikasi politik.

*Harapan bagi Perdamaian Permanen*

Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (Ketum PPWI), Wilson Lalengke, dalam kapasitasnya sebagai aktivis Hak Asasi Manusia internasional, memberikan sudut pandang yang lebih luas mengenai urgensi pertemuan ini. Menurutnya, kemewahan protokoler tidak akan berarti banyak jika tidak dibarengi dengan komitmen kemanusiaan yang konkret.

“Kita mengapresiasi keramahtamahan luar biasa yang ditunjukkan Presiden Xi Jinping kepada Presiden Trump. Namun, sebagai masyarakat dunia, harapan kami jauh melampaui kemegahan acara tersebut. Pertemuan dua pemimpin negara besar pemegang hak veto di Dewan Keamanan PBB ini harus menjadi tonggak lahirnya solusi damai yang lebih permanen di berbagai zona konflik,” ujar Wilson Lalengke, Jumat, 15 Mei 2026.

Petisioner HAM PBB 2025 itu menekankan bahwa kolaborasi AS-Tiongkok sangat krusial dalam meredakan ketegangan global. “Dunia sedang terluka oleh konflik berkepanjangan di Timur Tengah, perseteruan antara US-Israel melawan Iran, hingga isu-isu kemanusiaan lainnya. Jika kedua pemimpin ini dapat menyatukan visi tanpa mengedepankan ego kekuasaan, maka perdamaian abadi bukanlah hal yang mustahil. Keadilan dan hak asasi manusia harus menjadi landasan utama dalam setiap kesepakatan geopolitik yang mereka hasilkan,” tambah Wilson Lalengke.

*Refleksi Filosofis: Kekuasaan dan Keseimbangan*

Kunjungan ini membawa kita pada pemikiran filsuf Tiongkok kuno, Lao Tzu (571-470 SM), yang mengajarkan tentang Tao atau jalan keseimbangan. Dalam pandangan Lao Tzu, pemimpin yang hebat adalah mereka yang mampu menciptakan harmoni melalui kelembutan, bukan sekadar unjuk kekuatan. Diplomasi mewah Xi Jinping dapat dilihat sebagai manifestasi dari “Soft Power” yang bertujuan merangkul lawan tanpa harus menghunus pedang.

Di sisi lain, pemikiran filsuf Jerman, Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831), mengenai dialektika juga relevan. Hubungan AS dan Tiongkok sering kali terjebak dalam pertentangan antara “Tesis” (Kepentingan Amerika) dan “Antitesis” (Kepentingan Tiongkok). Hegel berpendapat bahwa kemajuan sejarah terjadi ketika kedua pertentangan ini melebur menjadi “Sintesis” – sebuah pemahaman baru yang lebih tinggi di mana kedua belah pihak dapat saling melengkapi demi stabilitas dunia.

Senada dengan itu, Immanuel Kant (1724-1804) dalam esainya “Perpetual Peace” (Perdamaian Abadi) menekankan bahwa perdamaian dunia hanya mungkin dicapai melalui pembentukan federasi negara-negara merdeka yang berkomitmen pada hukum internasional dan transparansi. Pertemuan di Beijing ini seharusnya menjadi langkah menuju visi Kantian tersebut, di mana perdagangan tidak hanya tentang angka, tetapi tentang ketergantungan positif yang mencegah terjadinya perang.

*Harapan di Balik Diplomasi AS-China*

Meskipun kunjungan tiga hari ini diakhiri dengan penandatanganan kesepakatan bisnis senilai miliaran dolar, esensi sejati dari pertemuan Trump dan Xi terletak pada kemampuan mereka untuk memelihara stabilitas global. Mewahnya penyambutan di Beijing telah berhasil membangun citra positif dan rasa saling menghargai.

Kini, bola berada di tangan kedua pemimpin tersebut untuk membuktikan bahwa kemesraan di Kota Terlarang dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang menyejukkan dunia. Pertemuan Trump dan Xi, dengan segala kemegahan dan simbolismenya, menjadi pengingat bahwa perdamaian dunia tidak lahir dari dominasi, tetapi dari dialog dan rasa saling menghormati. Sebagaimana filosofi Pancasila (Soekarno, 1945) yang menjunjung tinggi kemanusiaan yang adil dan beradab, dunia menanti peran aktif dua raksasa ini untuk menjadi juru damai, bukan pemicu konflik baru. (TIM/Red)

Satgas Karya Bakti TNI Kodam I/BB Mulai Bangun Jembatan Armco di Aek Bagot Taput

0

Warta.in Tapanuli Utara – Satgas Karya Bakti TNI Kodam I/Bukit Barisan mulai melaksanakan pembangunan jembatan Armco di Sungai Aek Bagot, Desa Hutajulu Parbalik, Kecamatan Parmonangan, Kabupaten Tapanuli Utara, Jumat (15/5/2026). Pembangunan jembatan ini dilakukan untuk membantu membuka akses transportasi masyarakat yang selama ini terkendala kondisi sungai dan medan yang sulit dilalui.

Kegiatan karya bakti tersebut merupakan bagian dari program yang diprakarsai Presiden RI Prabowo Subianto guna mempercepat pembangunan infrastruktur di wilayah terpencil serta mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kehadiran jembatan Armco diharapkan mampu memperlancar mobilitas warga dan distribusi hasil pertanian di kawasan tersebut.

Dalam pelaksanaannya, Satgas melibatkan personel Koramil 08/Parmonangan Kodim 0210/TU, personel Yonif TP 906/Sanalenggam, personel Denzibang, serta dukungan tukang dan masyarakat setempat. Tahap pekerjaan yang saat ini dilakukan meliputi pembersihan area sungai dan persiapan konstruksi awal, dengan progres pembangunan telah mencapai 8,5 persen.

Kapendam I/Bukit Barisan, Kolonel Inf Sandy, S.I.P., mengatakan pembangunan jembatan Armco ini merupakan bentuk nyata kepedulian TNI dalam membantu mengatasi kesulitan masyarakat, khususnya di daerah yang masih terbatas akses infrastrukturnya. Menurutnya, kegiatan karya bakti juga menjadi sarana memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat.

“Melalui program karya bakti ini, TNI hadir untuk membantu masyarakat memperoleh akses transportasi yang lebih aman dan layak. Diharapkan pembangunan jembatan ini nantinya dapat mendukung aktivitas warga serta mendorong pertumbuhan perekonomian di wilayah Parmonangan,” ujar Kolonel Inf Sandy. (RN)

Sumber: Pendam I/BB

Refleksi Kepalestinaan: 78 Tahun Nakba, Jejak Perjuangan dan Harapan yang Tak Padam

0

Refleksi Kepalestinaan: 78 Tahun Nakba, Jejak Perjuangan dan Harapan yang Tak Padam

LAMONGAN//Warta.in,  – Hari ini, tanggal 15 Mei 2026, menjadi momen bersejarah yang menandai genap 78 tahun berlalunya peristiwa Nakba, sebuah peristiwa kelam yang menjadi titik balik sejarah bangsa Palestina. Kata Nakba dalam bahasa Arab bermakna “bencana” atau “malapetaka”, namun bagi rakyat Palestina dan seluruh pendukung kebenaran di dunia, maknanya jauh melampaui sekadar definisi kata. Nakba adalah peristiwa pengusiran massal, hilangnya tanah air, dimulainya pendudukan, serta awal dari rentetan penderitaan panjang yang dialami rakyat Palestina sejak tahun 1948 silam. Selama 78 tahun, kisah ini tidak pernah pudar oleh waktu, melainkan terus hidup dalam ingatan kolektif, menjadi saksi sejarah, sekaligus api semangat perjuangan yang tak pernah padam.

Refleksi ini ditulis bukan hanya sekadar untuk mengenang masa lalu, melainkan untuk memahami hakikat perjuangan, melihat realitas hari ini, serta menguatkan tekad bahwa tanah Palestina akan kembali ke pangkuan pemiliknya yang sah. Artikel ini mengajak kita menelusuri jejak sejarah, memahami dampak kemanusiaan, dan merenungkan makna keberadaan Palestina di tengah dinamika geopolitik dunia hingga hari ini.

Awal Sejarah: Apa yang Terjadi pada Tahun 1948?

Pada pertengahan abad ke-20, tepatnya setelah berakhirnya Perang Dunia II, peta politik dunia mengalami perubahan besar. Di bawah mandat Kerajaan Inggris, tanah Palestina yang saat itu dihuni oleh mayoritas penduduk asli Arab Muslim dan Kristen, menjadi objek kepentingan kekuatan besar dunia. Melalui Resolusi PBB Nomor 181 tahun 1947, PBB membagi wilayah Palestina menjadi dua negara, satu untuk penduduk Arab dan satu lagi untuk imigran Yahudi, meskipun pada saat itu penduduk asli Arab merupakan pemilik mayoritas tanah dan penduduk. Pembagian sepihak ini ditentang keras oleh penduduk asli Palestina, namun didukung penuh oleh kekuatan Barat.

Pada tanggal 14 Mei 1948, Inggris secara resmi mengakhiri mandat kekuasaannya, dan pada hari yang sama kelompok pemukim Yahudi mendeklarasikan berdirinya negara Israel. Sehari kemudian, tanggal 15 Mei 1948, dimulailah apa yang dikenal sebagai peristiwa Nakba. Pasukan paramiliter Zionis melancarkan serangan besar-besaran ke desa-desa dan kota-kota Palestina. Berbagai dokumentasi sejarah mencatat adanya tindakan pembersihan etnis, pembunuhan warga sipil, hingga pembakaran rumah dan ladang pertanian. Sekitar 700.000 hingga 750.000 warga Palestina dipaksa meninggalkan rumah mereka dalam keadaan takut dan terburu-buru. Lebih dari 500 desa Palestina hancur dan hilang dari peta, nama-nama kota suci seperti Yerusalem, Yaffa, Haifa, dan Lod berubah status penguasaannya.

Dalam waktu singkat, rakyat Palestina berubah status dari penduduk yang merdeka di tanah leluhur menjadi bangsa pengungsi yang tersebar di seluruh dunia. Inilah awal mula 78 tahun perjalanan panjang yang penuh tantangan, perlawanan, dan harapan yang tak kunjung mati.

78 Tahun Perjalanan: Dari Pengungsian Hingga Intifadah

Tujuh puluh delapan tahun bukanlah waktu yang singkat. Dalam rentang masa ini, rakyat Palestina telah menempuh berbagai fase sejarah yang berat namun penuh makna. Setelah tahun 1948, diikuti oleh pendudukan wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza pada tahun 1967 dalam Perang Enam Hari, yang semakin memperluas wilayah kekuasaan pendudukan. Berbagai upaya perjanjian damai ditawarkan oleh dunia internasional, namun mayoritas berjalan timpang dan selalu merugikan hak-hak rakyat Palestina. Perjanjian Oslo tahun 1993 misalnya, meski membentuk Otoritas Nasional Palestina, ternyata tidak menghentikan perluasan pemukiman ilegal dan justru semakin memecah belah wilayah Palestina menjadi kantong-kantong terpisah.

Namun, sepanjang sejarah 78 tahun ini, dunia juga menyaksikan kebangkitan semangat perlawanan yang luar biasa. Lahirlah gelombang Intifadah atau pemberontakan rakyat. Intifadah Pertama pada tahun 1987 merupakan gerakan rakyat damai berupa pemogokan, boikot, dan demonstrasi yang menjadi bukti bahwa semangat kemerdekaan tidak bisa dipadamkan dengan senjata. Kemudian Intifadah Al-Aqsa tahun 2000 yang lahir akibat serangan terhadap tempat suci Al-Aqsa, hingga perlawanan-perlawanan bersenjata yang dilakukan oleh kelompok perjuangan sebagai respons atas agresi militer yang berulang kali dilancarkan pendudukan.

Selama 78 tahun pula, Jalur Gaza menjadi saksi bisu keteguhan hati rakyat Palestina. Wilayah kecil yang diblokade darat, laut, dan udara ini telah mengalami beberapa kali serangan militer besar, namun tetap berdiri kokoh. Penduduk Gaza membuktikan bahwa dinding pemisah dan blokade tidak mampu mematikan semangat hidup dan harapan kemerdekaan. Di sisi lain, warga Palestina yang hidup di wilayah 1948 (warga Arab di Israel) juga terus berjuang mempertahankan identitas dan hak sipilnya di tengah berbagai diskriminasi hukum yang diterapkan rezim pendudukan.

Dimensi Kemanusiaan: Luka yang Belum Kering

Ketika kita merenungkan 78 tahun Nakba, kita tidak hanya berbicara tentang peta politik dan perang, tetapi kita berbicara tentang dimensi kemanusiaan yang mendalam. Masalah pengungsi menjadi isu utama yang belum menemukan solusi hingga hari ini. Berdasarkan data Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), saat ini terdapat lebih dari 5,9 juta pengungsi Palestina yang terdaftar, dan jumlah ini terus bertambah mengingat status pengungsian ini diwariskan secara turun-temurun.

Banyak di antara mereka yang lahir dan tumbuh besar di kamp-kamp pengungsi di Lebanon, Yordania, Suriah, Tepi Barat, hingga Jalur Gaza. Mereka hidup dengan membawa kunci rumah leluhur yang tersimpan baik, sebagai simbol hak kembali yang tak tergoyahkan. Hak kembali ini adalah hak yang dijamin oleh Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 194 tahun 1948, namun hingga kini terus diingkari oleh pihak pendudukan.

Selain masalah pengungsian, 78 tahun juga menyisakan luka berupa pelanggaran hak asasi manusia yang terus berulang. Pembatasan kebebasan bergerak, perampasan tanah untuk pemukiman baru, penggusuran rumah-rumah warga, penahanan tahanan politik tanpa proses hukum yang adil, hingga pembatasan akses ibadah di Masjidil Aqsa menjadi pemandangan yang terus terjadi. Laporan organisasi hak asasi manusia internasional seperti Amnesty International dan Human Rights Watch bahkan telah menyimpulkan bahwa kebijakan yang diterapkan di Palestina berpotensi masuk dalam kategori kejahatan apartheid.

Namun di balik semua penderitaan itu, terdapat ketangguhan luar biasa dari rakyat Palestina. Di bawah bayang-bayang pendudukan, pendidikan tetap menjadi prioritas utama. Tingkat literasi di Palestina tergolong tinggi dibandingkan negara berkembang lainnya. Para petani tetap menanam di ladang yang rawan diganggu pemukim, para dokter tetap mengabdi di rumah sakit yang sering menjadi sasaran serangan, dan para anak-anak tetap pergi ke sekolah meski melewati pos pemeriksaan militer. Semua ini adalah bukti bahwa pendudukan mampu mengambil tanah, namun tidak mampu mengambil jiwa dan semangat bangsa Palestina.

Makna Nakba bagi Umat Islam dan Indonesia

Bagi kita umat Islam, perjuangan Palestina memiliki kedudukan istimewa karena tanah Palestina, dan khususnya Kota Yerusalem, adalah tanah yang diberkahi Allah SWT, tempat Masjidil Aqsa berdiri, kiblat pertama umat Islam, serta tempat peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW. Dalam Surah Al-Isra ayat 1, Allah berfirman: “Maha Suci Allah yang telah menjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang Kami berkahi sekelilingnya…”

Maka, peristiwa Nakba bukan sekadar konflik wilayah antara dua bangsa, melainkan ujian sejarah bagi seluruh umat Islam tentang kesetiaan terhadap tanah suci. Selama 78 tahun, Al-Aqsa berada di bawah ancaman dan penguasaan pihak asing, menjadi pengingat bahwa kehormatan umat Islam akan terjaga manakala umatnya bersatu dan berjuang di jalan Allah.

Bagi Indonesia, negara yang kita cintai, dukungan terhadap Palestina telah menjadi konsisten dan tidak berubah sejak kemerdekaan. Indonesia adalah salah satu negara pertama yang menolak pengakuan terhadap rezim Israel dan selalu menjadi suara lantang bagi Palestina di forum internasional seperti PBB, OKI, dan Gerakan Non-Blok. Dukungan ini didasari oleh nilai-nilai Pancasila, khususnya sila kedua “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, serta solidaritas kemanusiaan yang kokoh.

Setiap tahun, peringatan Nakba menjadi momen bagi rakyat Indonesia untuk kembali menyuarakan dukungan, mengirimkan bantuan kemanusiaan, serta mengingatkan dunia bahwa isu Palestina belum selesai. Pemerintah Indonesia terus berupaya mendorong penyelesaian dua negara dan pengakuan penuh terhadap Negara Palestina dengan perbatasan tahun 1967 dan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.

Harapan di Ujung 78 Tahun Perjuangan

Ketika genap 78 tahun berlalu, timbul pertanyaan di benak kita: kapan perjuangan ini berakhir? Jawabannya tertanam kuat dalam hati setiap pejuang Palestina dan para pendukungnya: perjuangan akan berakhir saat hak kemerdekaan dikembalikan sepenuhnya.

Sejarah membuktikan bahwa tidak ada penjajahan yang abadi di muka bumi ini. Kerajaan besar dan kekuatan pendudukan yang pernah dianggap tak terkalahkan, lama-kelamaan runtuh dan hilang ditelan waktu. Hal ini sejalan dengan hukum Allah yang tertulis dalam Surah Al-Hajj ayat 40: “Dan sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”

Di era modern ini, dukungan dunia semakin terlihat. Kesadaran masyarakat internasional mengenai ketidakadilan di Palestina semakin meluas. Gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) terus berkembang, kampanye solidaritas dilakukan di berbagai universitas dunia, dan tuntutan penghentian ekspansi pemukiman semakin menguat. Meskipun tantangan masih berat dan kekuatan politik besar masih berpihak pada pendudukan, arah sejarah perlahan berubah menuju kebenaran.

Bagi generasi muda hari ini, peringatan Nakba ke-78 ini adalah panggilan untuk melanjutkan dukungan. Dukungan itu bisa berupa penyebaran kebenaran sejarah, menolak narasi pemenang yang memutarbalikkan fakta, mengirimkan bantuan kemanusiaan, hingga mendoakan keselamatan saudara kita di Palestina. Jangan biarkan 78 tahun sejarah ini dianggap sebagai nasib yang harus diterima begitu saja, melainkan lihatlah sebagai babak perjuangan yang sedang berjalan menuju kemenangan akhir.

78 tahun Nakba adalah 78 tahun air mata, pengorbanan, dan keteguhan hati. Namun, di balik angka tersebut, tersimpan kisah luar biasa tentang bangsa yang mencintai tanah airnya melebihi nyawanya sendiri. Palestina bukan sekadar peta, bukan sekadar berita konflik di media, melainkan simbol kebenaran yang sedang diperjuangkan.

Masa depan kemerdekaan Palestina ada di tangan kehendak Allah dan usaha manusia. Sebagaimana Nabi Ibrahim AS meninggalkan jejak di tanah itu, dan para Nabi setelahnya menjaga kehormatannya, maka kita hari ini berjanji tidak akan melupakan saudara-saudara kita. Sampai hari di mana kita dapat berucap bersama: “Alhamdulillah, kemerdekaan Palestina telah tegak, dan Masjidil Aqsa kembali bersinar di bawah panji keadilan dan perdamaian.

Oleh: Muhammad Wahit S. Pd. I, M. Pd

Ketua DPP LSM ASLI

Pewarta: roy

NTB Perkuat Tambora Menuju Geopark Dunia, Teluk Saleh Jadi Penyangga Konservasi

0

NTB Perkuat Tambora Menuju Geopark Dunia, Teluk Saleh Jadi Penyangga Konservasi

Warta.in
Mataram, NTB — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus memperkuat langkah menjadikan Tambora sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp) dengan menempatkan konservasi lingkungan sebagai fondasi utama pembangunan kawasan. Salah satu penguatan penting dilakukan melalui perlindungan kawasan Teluk Saleh yang dinilai menjadi penyangga utama ekosistem dan biodiversitas Geopark Tambora.

Komitmen tersebut disampaikan langsung Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, saat mempresentasikan pengajuan Geopark Tambora di hadapan tim panelis UNESCO secara daring, Rabu (13/5).

Dalam presentasi itu, Gubernur Miq Iqbal didampingi Sekretaris Bappeda NTB Baiq Yunita Puji Widiani, General Manager Badan Pengelola Geopark Tambora Makdis Sari, serta General Manager Rinjani UNESCO Global Geopark Qwadru P. Wicaksono.

Di hadapan panelis UNESCO, Gubernur menegaskan bahwa NTB tidak memulai pengelolaan geopark dari titik nol. Pengalaman mengelola Rinjani UNESCO Global Geopark menjadi modal penting dalam memperkuat tata kelola Tambora menuju standar geopark dunia.

“We don’t start from the scratch. Kami sudah memiliki pengalaman bagaimana mengelola geopark sebagai pusat konservasi lingkungan, pelestarian geologi, dan pemberdayaan masyarakat,” tegas Miq Iqbal.

Menurutnya, Tambora merupakan forgotten gem yang selama ini belum sepenuhnya dikenal dunia, padahal memiliki kekayaan geologi, sejarah, budaya, dan biodiversitas yang sangat besar.

Berbeda dengan Rinjani yang dikenal sebagai destinasi wisata pegunungan dunia, Tambora menyimpan jejak salah satu letusan vulkanik terbesar dalam sejarah modern manusia. Letusan Gunung Tambora tahun 1815 tidak hanya mengubah bentang alam Pulau Sumbawa, tetapi juga memengaruhi iklim dunia dan memicu fenomena The Year Without Summer di Eropa akibat penyebaran abu vulkanik ke atmosfer bumi.

“Tambora bukan hanya tentang gunung api. Ia adalah bagian penting dari sejarah dunia,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kawasan Geopark Tambora mencakup tiga wilayah budaya besar, yakni Bima, Dompu, dan Sumbawa, yang menjadi bagian penting dalam penguatan konservasi berbasis masyarakat dan pelestarian budaya lokal.

Selain nilai sejarah dan budaya, kawasan Tambora juga berada di wilayah timur garis Wallace (Wallace Line), yang dikenal memiliki tingkat biodiversitas tinggi dengan banyak spesies flora dan fauna endemik.

Miq Iqbal mengungkapkan, sedikitnya 275 spesies telah berhasil diidentifikasi di kawasan tersebut, meskipun jumlah sebenarnya diyakini jauh lebih besar dan sebagian berada dalam kondisi terancam akibat kerusakan hutan serta aktivitas ilegal.

“Karena itu konservasi menjadi hal yang sangat penting dalam pembangunan kawasan ini,” jelasnya.

Komitmen tersebut diperkuat melalui kebijakan konservasi Teluk Saleh yang menjadi habitat hiu paus (whale shark) serta kawasan penting ekosistem laut di Pulau Sumbawa.

Menurut Gubernur, perlindungan Teluk Saleh menjadi bagian penting dalam memastikan pembangunan kawasan geopark tetap berjalan seimbang dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan dan keberlanjutan ekosistem.

“Konservasi bukan pelengkap pembangunan, tetapi fondasi utama pembangunan kawasan,” tegasnya.

Sementara itu, General Manager Badan Pengelola Geopark Tambora, Makdis Sari, menegaskan bahwa Tambora memiliki nilai universal yang sangat kuat sebagai warisan geologi dunia.

“Tambora bukan sekadar gunung berapi. Ia adalah arsip hidup dari peristiwa geologis yang mengubah sejarah manusia,” ujarnya.

Menurut Makdis, jejak letusan Tambora tahun 1815 hingga kini masih dapat ditelusuri melalui berbagai bukti ilmiah, geologi, dan budaya yang menjadikan kawasan tersebut memiliki nilai penting bagi ilmu pengetahuan dunia.

Pengajuan Tambora sebagai UNESCO Global Geopark menjadi bagian dari langkah strategis Pemerintah Provinsi NTB dalam memperkuat posisi daerah sebagai pusat konservasi, geopark dunia, dan pembangunan berkelanjutan berbasis lingkungan di Indonesia timur.(dkisntb)

Polsek Pantai Labu Gelar Patroli Antisipasi Peredaran Narkoba di Wilayah Rawan

0

Warta.in Pantai Labu – Dalam rangka menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Harkamtibmas), Polsek Pantai Labu Polresta Deli Serdang melaksanakan patroli rutin yang ditingkatkan di wilayah yang rawan peredaran narkoba. Jumat (15/05/2026)

Adapun rute patroli meliputi pemukiman warga dan lokasi-lokasi yang rawan digunakan sebagai tempat peredaran narkoba yakni di Desa Rantau Panjang Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang dan desa lainnya

Dalam kegiatan tersebut, personil Polsek Pantai Labu mendatangi dan melakukan sosialisasi imbauan pesan Kamtibmas tentang dampak dan akibat buruk dari pentalahgunaan narkoba serta mendukung kegiatan Kepolisian untuk memberantas Narkoba dan peredaran nya serta mampu bersama sama untuk menciptajan situasi yang anan dan kondusif

Saat dikonfirmasi, Kapolresta Deli Serdang Kombes Pol Hendria Lesmana, SIK, M. Si, melalui Kapolsek Pantai Labu Ipda Iralfat Yaroni Dachi, SH menyampaikan bahwa kegiatan patroli ini merupakan bagian dari upaya Polri dalam mengantisipasi gangguan kamtibmas serta memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat.

Ipda Dachi juga menegaskan komitmennya untuk terus memberantas peredaran narkoba, sebagai upaya menyelamatkan generasi muda dari bahaya penyalahgunaan narkotika.

“Kepada masyarakat dihimbau agar segera melaporkan kepada pihak kepolisian apabila mengetahui adanya praktik peredaran narkoba di lingkungannya” ungkapnya. (RN)

Jatim Specialty Coffee, Tobacco, dan UMKM Festival ke-3 Resmi Dibuka, Perkuat Ekonomi Berbasis Potensi Lokal

0

Warta.in, Jember — Jatim Specialty Coffee, Tobacco, dan UMKM Festival ke-3 resmi dibuka di Alun-alun Jember Nusantara, Jumat siang 15 Mei 2026. Kegiatan tersebut menjadi wujud sinergi antara Pemerintah Kabupaten Jember dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam memperkuat sektor kopi, tembakau, serta Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebagai pilar penggerak ekonomi daerah dan nasional.

Pembukaan festival dilakukan oleh Pj Sekda Jember, Imam Fauzi, yang hadir mewakili Bupati Jember Muhammad Fawaid yang berhalangan hadir. Turut hadir Direktur Utama Keuangan PDP, Dhima Akhyar, Kasat Pol PP, serta sejumlah tamu undangan dari berbagai unsur pemerintahan dan pelaku usaha.
Dalam sambutannya, Imam Fauzi menegaskan pentingnya membangun sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah provinsi, dan pelaku usaha guna menciptakan ekosistem ekonomi yang kuat berbasis potensi lokal.

“UMKM terbukti menjadi bantalan ekonomi nasional karena mampu menyerap sebagian besar tenaga kerja dan memberikan kontribusi besar terhadap produk domestik bruto,” ujarnya.

Menurutnya, sektor kopi dan tembakau memiliki nilai strategis bagi Kabupaten Jember yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra perkebunan terbesar di Jawa Timur. Kombinasi antara sektor kopi, tembakau, dan UMKM dinilai menjadi simbol penguatan ekonomi sekaligus persatuan masyarakat dalam mendorong pertumbuhan daerah.

Imam Fauzi juga menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Jember untuk terus memperkuat konektivitas program bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur di bawah kepemimpinan Gubernur Khofifah Indar Parawansa.

“Program ini telah memasuki tahun ketiga. Ibarat bayi yang mulai berjalan, tentu membutuhkan dukungan dan pengembangan secara berkelanjutan,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, pemerintah juga menyampaikan rencana peluncuran program “Surga Kopi” yang digagas untuk memperkuat identitas Jember sebagai salah satu pusat kopi nasional. Meski jadwal peluncuran belum ditetapkan, program tersebut dipastikan akan segera direalisasikan setelah proses administrasi dan kebijakan pendukung selesai.

Jember dinilai memiliki potensi besar di sektor kopi, termasuk keberadaan pusat penelitian kopi dan kakao yang menjadi institusi strategis nasional di bidang perkebunan. Potensi tersebut diyakini mampu mendorong daya saing kopi lokal hingga ke pasar internasional.

Selain fokus pada sektor hulu, pemerintah juga terus melakukan pembenahan terhadap badan usaha milik daerah (BUMD) serta mendorong keterlibatan sektor swasta guna memperkuat investasi dan hilirisasi produk kopi maupun tembakau.

“Ekosistem usaha harus dibangun secara menyeluruh, baik melalui birokrasi, korporasi, maupun dukungan sektor swasta,” tegas Imam Fauzi.

Sementara itu, Ketua MAKI Jatim, Heru, menyampaikan optimismenya terhadap program “Surga Kopi Indonesia”. Ia meyakini program tersebut akan membawa dampak positif bagi kemajuan sektor kopi nasional, khususnya di wilayah Jawa Timur dan Kabupaten Jember.

Menurutnya, Jember memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat kopi unggulan di Indonesia. Selain itu, penguatan identitas kopi lokal diyakini dapat membuka peluang lebih luas bagi UMKM, petani kopi, sektor pariwisata, hingga ekonomi kreatif.

Heru berharap produk kopi asal Jember nantinya tidak hanya dikenal di pasar domestik, tetapi juga mampu menembus pasar global dan bersaing di tingkat internasional.

Hotler Pakpahan : “SAMOSIR NAIK KELAS” ala Tim Bupati Vandiko, Harus Dibuktikan

0

Samosir, warta.in – Hotler Pakpahan, keturunan asli warga Kabupat en Samosir, yang sejak muda telah merantau ke Bekasi, merupakan pensiunan ASN Pemkot Bekasi, namun tetap memberikan perhatiannya ke Kabupaten Samosir, melalui tulisan di media ini mengungkapkan uneg unegnya : Apa syarat /kriteria naik kelas versi netizen Kabupaten Samosir di era Bupati Vandiko Gultom ?

Belakangan ini di dunia medsos, khususnya medsos yg membahas eksistensi Kab. Samosir, ada isu yqngg cukup kencang dilontarkan oleh oknum pejabat Kab.Samosir, terkesan bombastis dan dipaksakan.

Nah, kalau dikatakan naik kelas, tentu bukan tiba tiba, ujug ujug, melainkan melalui proses yg cukup panjang dan berliku.

Dan,kalaupun naik kelas biarkanlah itu lahir dari rahim aspirasi masyarakat, artinya tidak direkayasa berdasarkan objektivitas.

Ada beberapa kriteria yang harus ditempuh, dilalui agar bisa dikatakan naik kelas, yakni :

1. Rekrutmen pejabat harus lewat meritokrasi, artinya harus benar benar yang berkompeten, jujur, tidak dipengaruhi oleh unsur KKN.

2. Semua anggaran harus terbuka kepada publik, dan penggunaannya harus efisien dan efektif.

3. APBD tak boleh dibegal, dikorupsi, mutlak diberikan kepada rakyat.

4. Harus mempu memberikan, menyampaikan data akurat kepada publik.

5. Tidak alergi terhadap korektif konstruktif.

6. Pemda harus bisa bersinergi, berkolaborasi, serta membawa obor perubahan signifikan kepada para petani, contoh konkret kalau terjadi musim kemarau yang berkepanjangan, Pemda harus mampu membuat solusi terbaik terhadap petani, dengan perkataan lain, jangan salahkan alam, ini namanya mengkambinghitamkan alam.

7. Kalau naik kelas, tidak terlalu mengharap kepada bantuan, bukan berarti menolak bantuan ya

8. Dikatakan naik kelas bila para petani terpenuhi akan kebutuhan elementernya, contoh konkret, terpenuhinya marsuan eme, atau apalah namanya itu.

9. Dikatakan naik kelas, bilamana disana bertumbuh dan berkembang demokrasi, tak bisa dibendung. alam demokrasi biarkanlah itu berjalan sesuai, relevan dengan dinamika zaman.

  1. Inilah beberapa kriteria naik kelas, bila tidak hanya mempertontonkan kebodohan, arogansi, kecongkakan yang akan menghancurkan sendi sendi utama harkat dan martabat insani bangsa dan negara. S a l a m. M e r d e k a….!!! (red)

Sistem Merit ASN di Toraja Utara Resmi Menggunakan Manajemen Talenta

0

TORAJA UTARA – Pemerintah Kabupaten Toraja Utara secara resmi mensosialisasikan dan Launching Sistem Manajemen Talenta (SIMATA) sebagai sistem merit dan tata kelola kinerja ASN (Aparatur Sipil Negara), Jumat (15/5/2026).

Perkenalan sekaligus meresmikan penggunaan SIMATA ini dilaksanakan pada hari Rabu (13/5/2026) di lantai 4 ruang pola Kantor Bupati Toraja Utara yang beralamat di Panga Kecamatan Tondon.

Peresmian SIMATA itu dihadiri langsung Frederick Viktor Palimbong selaku Bupati Toraja Utara, Nanang Subandi selaku Kepala Kantor Regional IV BKN Makassar.

Turut hadir Ketua DPRD Toraja Utara bersama Ketua Komisi 1 DPRD Toraja Utara, Sekretaris Daerah, Wakapolres Toraja Utara, Pihak Kodim 1414/Tator, Kejaksaan Tana Toraja, Kepala BKPSDM Toraja Utara, Para Staf Ahli dan Asisten Pemda Toraja Utara, serta jajaran Pimpinan OPD dan Camat

Melalui sambutannya, Frederik Victor Palimbong selaku Bupati Toraja Utara menyampaikan bahwa sistem manajemen talenta merupakan langkah strategis dalam mewujudkan sistem merit dan tata kelola ASN.

“Penerapan manajemen talenta merupakan langkah strategis dalam mewujudkan sistem merit dan tata kelola ASN yang profesional, objektif, dan berbasis kompetensi,” ungkap Frederick Viktor Palimbong.

Selain itu selaku Bupati Toraja Utara, Frederick Viktor Palimbong menegaskan bahwa Toraja Utara menjadi kabupaten pertama di Sulawesi Selatan yang menerapkan sistem manajemen talenta setelah Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

“Manajemen talenta bukan sekadar tren, tetapi menjadi kebutuhan strategis dalam pengembangan ASN. Sistem ini memastikan pengembangan karier ASN dilakukan secara objektif berdasarkan kualifikasi, kompetensi, potensi, dan kinerja,” ucap Bupati Frederick Viktor Palimbong.

“Penerapan manajemen talenta bertujuan mendorong transformasi budaya kerja dari sistem konvensional menuju sistem berbasis kinerja atau merit system. Selain itu, sistem ini juga diharapkan mampu menempatkan ASN sesuai kompetensi melalui prinsip the right man on the right place,” bebernya

Dalam sistem manajemen talenta, kata Frederick Viktor Palimbong, terdapat beberapa komponen utama, di antaranya siklus manajemen talenta, pemetaan ASN melalui 9 box talent matrix, serta penilaian kompetensi dan potensi ASN untuk membangun talent pool Pemerintah Kabupaten Toraja Utara.

Bupati Toraja Utara juga menyampaikan jika Management Talenta ini sudah mendapat persetujuan dari BKN RI untuk diterapkan di lingkungan Pemerintah Toraja Utara.

“Pemerintah Kabupaten Toraja Utara telah melakukan ekspos penerapan manajemen talenta di Kantor BKN RI Jakarta pada 27 Februari 2026 dan berhasil memperoleh persetujuan melalui SK Kepala BKN RI Nomor 138 Tahun 2026 tentang Persetujuan Penerapan Manajemen Talenta di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Toraja Utara,” sebut Frederick Viktor Palimbong yang akrab disapa Bro Deddy.

Untuk itu Bupati juga meminta seluruh ASN agar terus mengembangkan kompetensi serta memperbarui data dan dokumen pendukung potensi serta kinerja masing-masing.

“Seluruh ASN memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai potensi dan kompetensinya. Proses mutasi, promosi, dan pengembangan karier akan dilakukan secara terbuka melalui sistem manajemen talenta,” jelasnya..

SIMATA ini juga kata Bupati Toraja Utara, diharapkan mampu mendukung pengelolaan data dan potensi ASN secara terintegrasi, mempercepat proses pemetaan kompetensi dan kinerja ASN, serta mendukung pengembangan karier ASN secara berkelanjutan.

Jeritan Rakyat dari Pelosok Negeri: “Pak Bowo, Ini Sembako Mahal, BBM Mahal, Semua Serba Mahal!”

0

Jeritan Rakyat dari Pelosok Negeri: “Pak Bowo, Ini Sembako Mahal, BBM Mahal, Semua Serba Mahal!”

SUMATERA SELATAN – Suara lantang berisi keluhan mendalam, keprihatinan, dan beban berat yang dipikul oleh masyarakat kecil kini semakin terdengar bergema jelas, menggema dari ujung ke ujung tanah air, menyampaikan satu pesan yang sama: kesulitan nyata dalam menghadapi lonjakan harga berbagai kebutuhan pokok yang kian terasa membebani kehidupan sehari-hari. Di tengah riuh rendah dinamika pembangunan dan kebijakan negara, suara hati rakyat dari pelosok desa dan daerah terpencil ini hadir membawa realita pahit yang harus dihadapi dengan sabar namun penuh perjuangan. Salah satu suara yang paling menyentuh hati datang dari seorang warga bernama Jul, yang berdomisili di sebuah desa di wilayah Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan. Dengan nada suara yang bergetar, penuh haru, dan kepasrahan, ia melontarkan keluhan yang mewakili jutaan nasib senasib sepenanggungan di seluruh Indonesia, seolah berbicara langsung kepada pemimpin tertinggi negeri ini: “Pak Bowo, kami datang menyampaikan isi hati rakyat kecil. Di sini, harga sembako sangat mahal, harga bahan bakar minyak pun melambung tinggi, dan nyaris segala keperluan hidup kami kini terasa mahal-mahal semua!”

Keluhan yang disampaikan oleh Jul ini bukan sekadar ungkapan kekecewaan biasa, melainkan gambaran nyata dari perjuangan berat yang ia rasakan bersama ribuan tetangganya di wilayah tersebut. Sebagai warga yang tinggal jauh dari pusat kota namun tetap terimbas dampak kenaikan harga secara menyeluruh, ia mengaku bahwa dirinya dan keluarga, bersama dengan banyak rakyat jelata lainnya di sekitar tempat tinggalnya, kini semakin terhimpit dan kesulitan luar biasa dalam berusaha mencukupi kebutuhan dasar rumah tangga. Kondisi ini terjadi akibat lonjakan harga yang terjadi dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir, yang kenaikannya dirasakan sangat drastis, tidak sebanding dengan pendapatan yang diterima, dan membuat perekonomian rumah tangga masyarakat golongan menengah ke bawah semakin terguncang hebat.

“Sudah berbulan-bulan lamanya saya rasakan betapa beratnya beban memikul tanggung jawab menghidupi istri dan anak-anak di rumah. Harga beras yang menjadi makanan pokok kami saja telah naik hampir mencapai 30 persen dibandingkan harga sebelumnya. Begitu pula dengan minyak goreng yang harganya semakin tinggi dan sulit dijangkau. Bahkan kebutuhan paling dasar seperti telur dan gula pasir, yang dulunya saya bisa beli dalam jumlah cukup untuk persediaan, kini terpaksa harus saya kurangi porsinya dan jumlah pembeliannya karena uang yang ada tidak lagi cukup untuk membelinya sebanyak dulu,” ungkap Jul dengan suara yang penuh kesusahan, matanya menatap ke bawah seolah menghitung kembali pengeluaran yang semakin membengkak tak terduga.

Lebih jauh lagi, ia menjelaskan bahwa dampak dari kenaikan harga BBM ternyata tidak berhenti pada mahalnya harga bahan bakar itu saja, melainkan menjalar luas dan berdampak pada segala aspek kehidupan, mulai dari biaya transportasi, biaya angkut barang, hingga harga barang kebutuhan itu sendiri. Bagi Jul yang bekerja sebagai tenaga kerja harian di sebuah perkebunan kelapa sawit dengan penghasilan yang pas-pasan, kenaikan harga ini menjadi pukulan berat yang menyusahkan.

“Saat ini saya harus berpikir keras dan menghemat sekuat tenaga dalam penggunaan kendaraan bermotor, karena harga BBM yang dibutuhkan motor saya sangat mahal harganya. Kadang, meski jarak tempuhnya cukup jauh, saya terpaksa berjalan kaki berjam-jam jauh-jauh hanya untuk membeli kebutuhan sehari-hari di warung atau pasar, semata-mata agar bisa menghemat biaya transportasi dan uang hasil kerja saya tidak habis hanya untuk membeli bensin saja,” jelas Jul, menceritakan betapa ia harus mengorbankan tenaga dan waktu demi bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi yang ada.

Dalam perjalanannya ke salah satu pasar tradisional yang ada di Kota Palembang, Jul pun bertemu dan berdiskusi dengan berbagai warga masyarakat lainnya yang datang berbelanja. Di sana, ia mendapati fakta bahwa apa yang ia rasakan bukanlah hal yang sendirian. Hampir seluruh orang yang ditemuinya memiliki keluhan dan cerita kepahitan yang sama persis. Seorang ibu rumah tangga bernama Siti, yang sedang memilah barang dagangan, mengaku sangat terpaksa harus mengurangi porsi konsumsi lauk pauk bagi keluarganya. Daging, ikan, atau sayuran yang dulunya menjadi menu rutin di meja makan, kini harus dikurangi atau diganti dengan alternatif yang jauh lebih murah dan sederhana karena harganya yang kini tidak lagi terjangkau oleh kantong mereka.

Sementara itu, Karto, seorang pedagang sayur-sayuran di pasar tersebut, juga tak luput mengeluh. Ia menceritakan bahwa kenaikan harga yang terjadi ini membuat usahanya ikut terancam dan sulit berkembang. “Barang dagangan seperti sayuran dan daging yang kami jual ini harganya ikut naik karena biaya angkut dan pengiriman yang menjadi jauh lebih mahal akibat kenaikan harga BBM. Kami terpaksa menaikkan harga jual agar tidak rugi, tapi akibatnya banyak pembeli yang hanya datang melihat-lihat, menanyakan harga, lalu pergi begitu saja karena merasa tidak mampu dan berat untuk membelinya. Penjualan kami pun jadi sepi dan turun drastis,” tambah Karto dengan nada pasrah melihat kondisi usahanya yang semakin sulit.

Keluhan serupa, suara keprihatinan yang sama, serta jeritan hati yang senada juga datang mengalir deras dari masyarakat di daerah-daerah lain yang tersebar di seluruh penjuru nusantara. Mulai dari wilayah Jawa Tengah di pulau Jawa, Sulawesi Selatan di kawasan timur, hingga wilayah paling ujung di tanah Papua, masyarakat di berbagai daerah tersebut merasakan dampak nyata dan beban berat yang sama persis. Di manapun berada, wajah rakyat tampak cemas memikirkan masa depan ekonomi keluarga. Mereka semua menyatukan harapan dan doa, berharap agar pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, dapat segera turun tangan, mendengar jeritan ini, dan mengambil langkah-langkah kebijakan yang nyata, konkret, dan efektif untuk segera menekan kenaikan harga, menstabilkan ekonomi, serta memberikan kelegaan nyata bagi kehidupan rakyat jelata yang sedang berjuang keras ini.

“Kami rakyat kecil tidak meminta kemewahan, kami hanya berharap agar harga-harga kebutuhan hidup ini bisa kembali normal, wajar, dan terjangkau seperti sedia kala. Kami hanya menginginkan kesempatan untuk hidup layak, makan cukup, dan menjalani hari tanpa harus selalu merasa cemas, takut, dan bingung memikirkan biaya kebutuhan sehari-hari yang kian memberatkan,” ujar Jul di penghujung perbincangan, sambil menatap jauh ke arah cakrawala dan langit yang luas, menyimpan harapan besar akan datangnya perubahan, kebijakan yang bijak, dan masa depan yang lebih baik serta lebih sejahtera bagi seluruh rakyat Indonesia.

Hingga saat ini, di tengah berbagai kebijakan dan langkah strategis yang tengah disusun maupun telah diterapkan, masyarakat di seluruh pelosok negeri masih terus menanti, menunggu, dan berharap adanya tindakan nyata, hasil yang terasa, serta kebijakan konkret yang mampu memutus rantai kenaikan harga yang terus menerus terjadi, demi meringankan beban berat yang kini sedang dipikul bersama oleh seluruh elemen bangsa Indonesia.

(TIM REDAKSI/PPWI)