Beranda blog

Kecelakaan Tunggal kendaraan roda 6 Terjadi di Desa Bandung Marga Rejang Lebong, Diduga Sopir Mengantuk

0
oplus_0

Warta.in-REJANG LEBONG.

Kecelakaan tunggal lalu lintas kendaraan roda 6 terjadi di wilayah Desa Bandung Marga, Kabupaten Rejang Lebong, pada Senin (2/11/2026) sekitar pukul 02.00 WIB dini hari.
Berdasarkan informasi sementara, kecelakaan tersebut diduga terjadi akibat pengemudi kendaraan mengalami kelelahan atau mengantuk saat berkendara, sehingga kehilangan konsentrasi dan kendali atas kendaraan.

Beruntung, dalam peristiwa kecelakaan tersebut tidak terdapat korban jiwa. Meski demikian, kejadian ini menjadi pengingat bagi seluruh pengguna jalan agar selalu mengutamakan keselamatan selama berkendara.
Pengemudi diimbau untuk memastikan kondisi tubuh tetap prima sebelum melakukan perjalanan, khususnya pada malam hingga dini hari. Apabila merasa mengantuk atau lelah, sebaiknya segera berhenti di tempat yang aman untuk beristirahat.Keselamatan di jalan raya merupakan tanggung jawab bersama. Jangan memaksakan diri berkendara ketika kondisi tubuh tidak memungkinkan.

Tetap waspada, utamakan keselamatan, dan ingat keluarga menanti di rumah.(TimRedaksi)

Honor Peserta Bimtek Pilkades Belum Dibayar, Komisi II DPRD Lebong Minta Dinas PMD Segera Tuntaskan

0

Warta.in – Lebong.

Persoalan pembayaran honor peserta Bimbingan Teknis (Bimtek) Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak tahun 2026 menjadi salah satu perhatian Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lebong.

Untuk menindaklanjuti persoalan tersebut, Komisi II DPRD Lebong menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Lebong, Senin (21/9/2026).

Pertemuan ini membahas sejumlah persoalan terkait persiapan pelaksanaan Pilkades serentak yang dijadwalkan berlangsung di 78 desa se-Kabupaten Lebong,  termasuk menyangkut kepastian pembayaran honor bagi peserta Bimtek.Sebagaimana diketahui, kegiatan Bimtek telah dilaksanakan pada Minggu (20/9/2026). Namun, setelah kegiatan selesai, pembayaran honor kepada para peserta masih belum terealisasi sehingga menimbulkan pertanyaan dan keluhan.

Ketua Komisi II DPRD Lebong, Gunadi Mursalin, S.Sos., menyampaikan bahwa persoalan tersebut akan segera ditindaklanjuti dan diupayakan penyelesaiannya dalam waktu dekat.Menurut Gunadi, belum dibayarkannya honor peserta bukan disebabkan oleh persoalan lain, melainkan terkendala proses administrasi pencairan anggaran yang saat ini masih berjalan.

“Keterlambatan pembayaran honor bagi para peserta Bimtek ini terjadi lantaran pihak Dinas PMD secara teknis belum bisa mencairkan anggaran terkait. Hal ini dikarenakan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) APBD Perubahan Tahun Anggaran 2026 saat ini masih dalam proses verifikasi di tingkat atas,” jelas Gunadi seusai memimpin rapat.

Politisi Partai Bulan Bintang (PBB) yang telah menjalani tiga periode sebagai anggota legislatif tersebut juga memahami pertimbangan Dinas PMD yang tetap melaksanakan kegiatan Bimtek sesuai jadwal.

Menurutnya, pelaksanaan Bimtek tidak dapat ditunda karena berkaitan langsung dengan tahapan Pilkades serentak yang telah disusun sebelumnya. Apabila kegiatan tersebut digeser, dikhawatirkan akan berdampak terhadap jadwal pelaksanaan tahapan Pilkades di 78 desa.RDP yang berlangsung di Ruang Rapat Internal Gedung DPRD Kabupaten Lebong tersebut dimulai sekitar pukul 13.30 WIB. Selain Ketua Komisi II Gunadi Mursalin, turut hadir anggota Komisi II lainnya, yakni Rozi Evandri dari Partai Golkar dan Asniwati dari Partai Demokrat.

Sementara dari pihak eksekutif, hadir Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas PMD Kabupaten Lebong, Herru Dana Putra, S.T., M.Ak., bersama sejumlah kepala bidang dan staf teknis terkait.Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak juga membahas pentingnya menjaga koordinasi dan komunikasi agar seluruh rangkaian persiapan Pilkades serentak dapat berjalan sesuai perencanaan.

Usai RDP, pihak legislatif dan Dinas PMD menyatakan komitmen untuk terus berkoordinasi serta mengawal pelaksanaan setiap tahapan Pilkades serentak tahun 2026.

Sinergi antara DPRD dan pemerintah daerah diharapkan dapat mendukung terselenggaranya Pilkades di 78 desa secara aman, tertib, lancar, demokratis, dan kondusif, sekaligus memastikan berbagai persoalan teknis yang muncul dapat ditangani sesuai ketentuan.

(Tim Redaksi)

Honor Peserta Bimtek Pilkades Belum Dibayar, Komisi II DPRD Lebong Minta Dinas PMD Segera Tuntaskan

0

Warta.in – Lebong.

Persoalan pembayaran honor peserta Bimbingan Teknis (Bimtek) Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak tahun 2026 menjadi salah satu perhatian Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lebong.

Untuk menindaklanjuti persoalan tersebut, Komisi II DPRD Lebong menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Lebong, Senin (21/9/2026).

Pertemuan ini membahas sejumlah persoalan terkait persiapan pelaksanaan Pilkades serentak yang dijadwalkan berlangsung di 78 desa se-Kabupaten Lebong,  termasuk menyangkut kepastian pembayaran honor bagi peserta Bimtek.Sebagaimana diketahui, kegiatan Bimtek telah dilaksanakan pada Minggu (20/9/2026). Namun, setelah kegiatan selesai, pembayaran honor kepada para peserta masih belum terealisasi sehingga menimbulkan pertanyaan dan keluhan.

Ketua Komisi II DPRD Lebong, Gunadi Mursalin, S.Sos., menyampaikan bahwa persoalan tersebut akan segera ditindaklanjuti dan diupayakan penyelesaiannya dalam waktu dekat.Menurut Gunadi, belum dibayarkannya honor peserta bukan disebabkan oleh persoalan lain, melainkan terkendala proses administrasi pencairan anggaran yang saat ini masih berjalan.

“Keterlambatan pembayaran honor bagi para peserta Bimtek ini terjadi lantaran pihak Dinas PMD secara teknis belum bisa mencairkan anggaran terkait. Hal ini dikarenakan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) APBD Perubahan Tahun Anggaran 2026 saat ini masih dalam proses verifikasi di tingkat atas,” jelas Gunadi seusai memimpin rapat.

Politisi Partai Bulan Bintang (PBB) yang telah menjalani tiga periode sebagai anggota legislatif tersebut juga memahami pertimbangan Dinas PMD yang tetap melaksanakan kegiatan Bimtek sesuai jadwal.

Menurutnya, pelaksanaan Bimtek tidak dapat ditunda karena berkaitan langsung dengan tahapan Pilkades serentak yang telah disusun sebelumnya. Apabila kegiatan tersebut digeser, dikhawatirkan akan berdampak terhadap jadwal pelaksanaan tahapan Pilkades di 78 desa.RDP yang berlangsung di Ruang Rapat Internal Gedung DPRD Kabupaten Lebong tersebut dimulai sekitar pukul 13.30 WIB. Selain Ketua Komisi II Gunadi Mursalin, turut hadir anggota Komisi II lainnya, yakni Rozi Evandri dari Partai Golkar dan Asniwati dari Partai Demokrat.

Sementara dari pihak eksekutif, hadir Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas PMD Kabupaten Lebong, Herru Dana Putra, S.T., M.Ak., bersama sejumlah kepala bidang dan staf teknis terkait.Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak juga membahas pentingnya menjaga koordinasi dan komunikasi agar seluruh rangkaian persiapan Pilkades serentak dapat berjalan sesuai perencanaan.

Usai RDP, pihak legislatif dan Dinas PMD menyatakan komitmen untuk terus berkoordinasi serta mengawal pelaksanaan setiap tahapan Pilkades serentak tahun 2026.

Sinergi antara DPRD dan pemerintah daerah diharapkan dapat mendukung terselenggaranya Pilkades di 78 desa secara aman, tertib, lancar, demokratis, dan kondusif, sekaligus memastikan berbagai persoalan teknis yang muncul dapat ditangani sesuai ketentuan.

(Tim Redaksi)

Soroti Penanganan Kekerasan Perempuan dan  Anak, Komisi II DPRD Lebong Minta UPTD PPA Segera Dibentuk

0

Warta.in – Lebong.

Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lebong meminta Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3P2AKB) agar meningkatkan keseriusan dalam menangani berbagai kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, khususnya kekerasan seksual yang menimpa kelompok rentan.

Tidak hanya itu, DPRD juga mendorong agar proses pembentukan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) di Kabupaten Lebong dapat segera direalisasikan.Desakan tersebut disampaikan Ketua Komisi II DPRD Lebong, Gunadi Mursalin, S.Sos., didampingi anggota Komisi II, Rozi Evandri dan Asniwati, dalam rapat dengar pendapat (hearing) bersama jajaran Dinas P3P2AKB Kabupaten Lebong.

Pertemuan yang berlangsung di ruang rapat internal DPRD Lebong pada Senin (21/9), mulai pukul 14.30 WIB tersebut, membahas berbagai persoalan serta kendala yang dihadapi dinas dalam memberikan perlindungan dan pendampingan kepada perempuan dan anak korban kekerasan.Dalam hearing tersebut, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas P3P2AKB Lebong, Eropa, SKM., M.E., memaparkan sejumlah hambatan yang selama ini memengaruhi pelaksanaan program di instansinya.

Salah satu kendala utama yang disampaikan adalah terbatasnya ketersediaan anggaran untuk mendukung kegiatan di bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA). Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi dinas dalam mengoptimalkan penanganan kasus serta menjalankan program perlindungan bagi korban.

Eropa menjelaskan, pihaknya saat ini masih menunggu penerbitan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) APBD Perubahan Tahun Anggaran 2026. Anggaran tersebut nantinya diharapkan dapat mendukung penanganan kasus kekerasan sekaligus membiayai berbagai persiapan pembentukan UPTD PPA.

“Kami masih menunggu terbitnya DPA APBD Perubahan 2026. Di sana terdapat alokasi anggaran yang sebagian nantinya akan kami gunakan untuk menangani berbagai kasus kekerasan, sekaligus membiayai persiapan percepatan pembentukan UPTD PPA di Kabupaten Lebong,” jelas Eropa di hadapan anggota Komisi II DPRD Lebong.

Menanggapi pemaparan tersebut, Komisi II DPRD Lebong menyampaikan sejumlah rekomendasi agar keterbatasan anggaran tidak menghambat upaya penanganan dan perlindungan terhadap perempuan maupun anak yang menjadi korban kekerasan.

DPRD berharap Dinas P3P2AKB tetap mengoptimalkan pengawasan, pelayanan, serta pendampingan terhadap masyarakat yang membutuhkan perlindungan, sembari mendorong percepatan realisasi anggaran melalui APBD Perubahan Tahun 2026.

Pembentukan UPTD PPA juga menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian dalam pertemuan tersebut. Keberadaan unit pelayanan ini diharapkan dapat memperkuat upaya perlindungan, penanganan, dan pendampingan bagi perempuan serta anak korban kekerasan di Kabupaten Lebong.

(Tim Redaksi)

Cahya Sectiantoro Resmi Dilantik Menjadi Sekretaris DPRD Lebong, Bupati Azhari Lantik 17 Pejabat JPT Pratama

0

Warta.in – Lebong.

Bupati Lebong, H. Azhari, S.H., M.H., secara resmi melantik sebanyak 17 pejabat dalam Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lebong.Salah satu pejabat yang mendapat amanah dalam pelantikan tersebut adalah Cahya Sectiantoro, S.H., yang kini resmi menduduki jabatan sebagai Sekretaris DPRD Kabupaten Lebong.

Sebelum ditetapkan sebagai pejabat definitif, Cahya diketahui telah menjalankan tugas sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Sekretaris DPRD Lebong selama lebih dari tujuh tahun. Pelantikan ini sekaligus menjadi penetapan dirinya untuk mengemban jabatan tersebut secara resmi.

Selain Cahya Sectiantoro, terdapat 16 pejabat lainnya yang turut dilantik untuk mengisi sejumlah posisi strategis di lingkungan Pemkab Lebong.

Adapun nama-nama pejabat yang dilantik beserta jabatan barunya adalah sebagai berikut:

  1. Partono, S.E., M.E., sebagai Kepala Badan Keuangan Daerah.

  2. Joni Prawinata, S.E., sebagai Kepala Dinas PUPR-HUB.

  3. Hery Setiawan, S.T., M.E., sebagai Kepala Dinas Kominfo-SP.

  4. Epan Gustanto, S.P., sebagai Staf Ahli Bidang Hukum dan Politik.

  5. Nurmanhuri, S.E., sebagai Asisten Perekonomian dan Pembangunan.

  6. Ir. Doni Swabuana, S.T., M.Si., sebagai Staf Ahli Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan.

  7. Fakhrurozi, S.Sos., sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup.

  8. Indra Gunawan, S.Pi., M.Si., sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

  9. Gusmawati, S.H., M.H., sebagai Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah.

  10. Marthalinda Dwi Putri, S.P., M.Si., sebagai Kepala Dinas Ketahanan Pangan.

  11. Andi Febriansyah, S.E., M.E., sebagai Kepala Dinas Perindagkop-UKM.

  12. A. Ropik, S.Sos., sebagai Kepala BKPSDM.

  13. Desmi Elita Anwar, S.E., M.E., sebagai Kepala Bappeda.

  14. Cahya Sectiantoro, S.H., sebagai Sekretaris DPRD Kabupaten Lebong.

  15. Eropa, SKM., M.E., sebagai Kepala DP3AP2KB.

  16. Herru Dana Putra, S.T., M.Ak., sebagai Kepala Dinas PMD.

  17. Silva Evawani Alisa, S.E., M.Si., sebagai Kepala Disperkan.

Pelantikan 17 pejabat tersebut merupakan bagian dari penataan dan pengisian jabatan pimpinan tinggi pratama di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lebong.

Dengan pelantikan ini, para pejabat yang telah menerima amanah diharapkan dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab sesuai bidang masing-masing serta mendukung peningkatan kinerja pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat Kabupaten Lebong.

(Tim Redaksi)

DPRD Lebong Berang! Desak PLN Tempuh Jalur Hukum terhadap Mantan Petugas yang Rugikan Warga

0

Warta.in – Lebong.

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lebong menunjukkan sikap tegas menyikapi keluhan masyarakat terkait pemutusan sambungan listrik secara sepihak di wilayah Kecamatan Lebong Tengah. Persoalan tersebut dibahas dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) lintas komisi yang digelar di ruang rapat DPRD Lebong dengan menghadirkan jajaran manajemen PLN ULP Rayon Muara Aman serta perwakilan masyarakat terdampak.

Rapat dipimpin langsung Ketua Komisi II DPRD Lebong, Gunadi Mursalin, S.Sos., didampingi Wakil Ketua II DPRD Lebong, Rinto Putra Cahyo, S.Kep.

Dalam RDP tersebut, sejumlah warga menyampaikan keberatan dan kekecewaan atas tindakan pemutusan aliran listrik yang dilakukan PLN. Pasalnya, pemasangan sambungan listrik di rumah mereka sebelumnya dilakukan melalui oknum petugas PLN. Warga mengaku tidak pernah mendapatkan pemberitahuan sebelumnya hingga akhirnya dilakukan penertiban yang melibatkan aparat penegak hukum (APH).

Pemutusan tersebut dilakukan dengan alasan sambungan listrik yang digunakan warga tidak tercatat dalam sistem resmi PLN. Kondisi ini memicu keresahan karena masyarakat merasa telah mengikuti proses pemasangan melalui petugas yang mereka anggap memiliki kewenangan.

Menanggapi persoalan itu, manajemen PLN ULP Rayon Muara Aman mengakui adanya permasalahan administrasi dalam pemasangan sambungan listrik tersebut. Pihak PLN juga mengungkapkan bahwa oknum petugas yang diduga melakukan pelanggaran dan penyalahgunaan wewenang dalam pemasangan jaringan listrik warga telah diberhenti kan dari pekerjaannya.

Pengakuan tersebut langsung menuai reaksi keras dari sejumlah anggota DPRD Lebong. Anggota Komisi II, Pip Haryono dan Debi Sanca Irama, bersama Ketua Komisi III Alpi Haryono, SE, serta sejumlah anggota dewan lainnya, meminta PLN tidak mengorbankan masyarakat yang menjadi korban dugaan penyimpangan oleh mantan petugasnya.Para wakil rakyat menegaskan bahwa pemutusan aliran listrik secara sepihak harus segera dihentikan. Mereka menilai masyarakat tidak seharusnya menanggung kerugian akibat perbuatan oknum petugas yang sebelumnya dipercaya menangani pemasangan sambungan listrik.

Tak hanya meminta penyelesaian persoalan pelanggan, DPRD Lebong juga mendesak PLN mengambil langkah hukum dengan melaporkan mantan petugas yang diduga melakukan pelanggaran tersebut kepada aparat penegak hukum. Langkah itu dinilai penting agar persoalan dapat diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku dan tidak terulang kembali.Dari hasil RDP lintas komisi tersebut, DPRD Lebong menyepakati sejumlah rekomendasi kepada pihak PLN. Di antaranya, menghentikan pemutusan listrik secara sepihak, menyelesaikan status administrasi dan kepesertaan pelanggan yang terdampak, serta mengupayakan pengembalian kerugian yang dialami masyarakat.

Menanggapi rekomendasi tersebut, manajemen PLN ULP Rayon Muara Aman meminta waktu selama satu pekan untuk menyampaikan jawaban resmi sekaligus menunggu keputusan strategis dari manajemen pusat.

DPRD Lebong berharap PLN segera memberikan kepastian dan solusi konkret bagi masyarakat terdampak. Persoalan ini diharapkan tidak berlarut-larut, mengingat warga membutuhkan kepastian atas hak mereka untuk mendapatkan pelayanan listrik secara adil dan sesuai prosedur.

(TimRedaksi)

Narkoba Serang Generasi Muda, Anggota DPRD Muara Enim Muhamad Napoleon Serukan Perang Total!

0

SumSel, Langkah tegas Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) beserta seluruh jajaran Kepolisian Daerah (Polda), Kepolisian Resor (Polres), hingga Kepolisian Sektor (Polsek) dalam memberantas peredaran dan penyalahgunaan narkotika di tanah air mendapat apresiasi tinggi dari parlemen daerah. Dukungan penuh secara terbuka dinyatakan oleh Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Muara Enim, H. Muhamad Napoleon, ST.

Dalam pernyataan resminya pada Minggu (01/11/2026), politisi senior ini menegaskan bahwa aksi bersih-bersih narkoba yang digalakkan aparat penegak hukum merupakan momentum krusial yang harus didukung tanpa syarat. Menurutnya, pembersihan jalur peredaran barang haram ini adalah langkah mutlak demi memayungi masyarakat, terkhusus generasi muda, dari kerusakan moral dan masa depan.

“Narkoba adalah ancaman nyata dan serius bagi kelangsungan masa depan generasi bangsa ini. Kita sedang mempertaruhkan nasib anak-cucu kita. Oleh karena itu, kita wajib berdiri bersama, bahu-membahu melawan dan memutus total rantai peredarannya. Jangan pernah membiarkan satu pun anak atau pemuda di lingkungan kita jatuh menjadi korban berikutnya,” ujar H. Muhamad Napoleon dengan nada tegas.

Bukan Hanya Tugas Polisi, Masyarakat Harus Terlibat, Lebih lanjut, legislator asal Kabupaten Muara Enim ini menggarisbawahi bahwa perang melawan narkotika tidak akan pernah mencapai hasil maksimal jika bebannya hanya diletakkan di pundak aparat kepolisian. Diperlukan sebuah gerakan kolektif dan keterpaduan strategi yang melibatkan seluruh lapisan elemen masyarakat demi menutup rapat celah pergerakan para bandar.

“Sinergi adalah kunci. Polisi tidak bisa bekerja sendirian di lapangan tanpa adanya pasokan informasi dan dukungan moral dari warga. Kita butuh komitmen total dari hulu ke hilir agar ruang gerak para pelaku ini benar-benar terkunci mati,” tambahnya.

Napoleon juga melayangkan ajakan emosional kepada para orang tua, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga organisasi kepemudaan untuk memperketat sistem pengawasan lingkungan. Ia menilai, kelengahan sekecil apa pun di tingkat lingkungan pemukiman dapat dimanfaatkan oleh para pengedar untuk menyusupkan pengaruh buruk mereka.

Keluarga Sebagai Benteng Pertahanan Utama, Di samping pengawasan eksternal, peran domestik di dalam rumah tangga disebutnya sebagai pondasi paling mendasar. Komunikasi yang sehat, perhatian yang utuh, serta kepekaan orang tua terhadap perubahan perilaku anak harus terus diasah dari waktu ke waktu.

“Keluarga adalah benteng pertahanan pertama dan utama. Jika ketahanan di dalam rumah tangga kita kuat, maka pengaruh buruk dari luar tidak akan mudah menembus anak-anak kita. Bentengi mereka dengan nilai agama, kasih sayang, dan perhatian yang cukup,” urai Napoleon.

Ia juga meminta warga masyarakat untuk menghilangkan rasa takut atau ragu dalam melaporkan setiap aktivitas mencurigakan yang mengarah pada penyalahgunaan maupun transaksi narkotika di wilayah mereka kepada pihak yang berwenang.

“Mari kita rapatkan barisan. Jaga keluarga kita masing-masing, lindungi anak-anak kita, dan selamatkan masa depan daerah ini. Jangan pernah memberi ruang sedikit pun bagi para pengedar untuk merusak sendi-sendi kehidupan bangsa. Selamatkan generasi hari ini untuk masa depan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Bersama, kita pasti bisa lawan narkoba!” pungkasnya menutup pembicaraan.

*Parapreneur Indonesia Bahagia Hadirkan Terobosan, Database Disabilitas Kalbar Resmi Diluncurkan*

0

PONTIANAK,WARTA IN – Dalam rangka memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk mendorong pemenuhan hak, kemandirian ekonomi, serta pengembangan prestasi penyandang disabilitas di Kalimantan Barat.

Parapreneur Indonesia Bahagia menyelenggarakan rangkaian kegiatan talkshow, peluncuran database penyandang disabilitas, serta sosialisasi Pekan Paralimpik Provinsi (PEPARPROV) XII Kalimantan Barat. Kegiatan ini dilaksanakan di Gaia Bumi Raya City Kubu Raya, Minggu (01/11/26).

Dengan mengusung semangat “Bersama Membangun Indonesia Inklusif, dari Kesetaraan Menuju Kemandirian dan Kesetaraan Penyandang Disabilitas”, kegiatan ini menjadi langkah untuk memperkuat sinergi antara organisasi penyandang disabilitas, pemerintah, lembaga keuangan, media, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Ketua National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI) Kalimantan Barat, Mustaat Saman, menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor sangat penting untuk memperluas ruang partisipasi penyandang disabilitas sekaligus mengubah stigma negatif yang masih berkembang di tengah masyarakat.

Menurutnya, kerja sama dengan Komisi Nasional Disabilitas (KND), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Radio Republik Indonesia (RRI) telah memberikan ruang yang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk menunjukkan kemampuan dan potensi mereka.

“Banyak hal yang sudah kita jalani bersama KND, OJK, dan RRI. Mereka memberikan ruang bagi disabilitas agar semakin dikenal dan mendapatkan kesempatan yang lebih luas. Kami akan terus berupaya mengubah stigma-stigma negatif terhadap penyandang disabilitas,” ujarnya.

Mustaat menekankan bahwa perubahan pandangan masyarakat harus dimulai dari diri penyandang disabilitas sendiri melalui keberanian untuk bangkit, mengembangkan kemampuan, dan membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk meraih kemandirian.

“Yang bisa mengubah stigma itu adalah diri kita sendiri, bukan orang lain. Kita harus bangkit. Kawan-kawan di sini banyak yang luar biasa dan mampu menunjukkan kemandiriannya,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Mustaat juga memaparkan persiapan pelaksanaan PEPARPROV XII Kalimantan Barat. Ia mengungkapkan bahwa pada awalnya terdapat keraguan untuk kembali menyelenggarakan ajang olahraga tersebut karena keterbatasan anggaran khusus.

Namun, setelah mempertimbangkan berbagai hal dan mendengarkan aspirasi para atlet penyandang disabilitas, pihaknya memutuskan untuk tetap berupaya melanjutkan agenda tersebut.

Ia menyebutkan, para atlet mempertanyakan kesempatan mereka untuk berkompetisi, sementara ajang olahraga bagi atlet nondisabilitas tersedia. Aspirasi tersebut menjadi salah satu dorongan untuk kembali menyatukan semangat dan mempersiapkan penyelenggaraan PEPARPROV.

“Awalnya kami tidak ingin melaksanakannya karena memang tidak ada anggaran khusus untuk PEPARPROV. Namun, setelah kami pertimbangkan, anak-anak bertanya, mengapa mereka tidak bisa ikut, sementara atlet nondisabilitas memiliki ajang kompetisi? Akhirnya kami berkumpul kembali dan memutuskan untuk berjuang bersama,” jelasnya.

Menurut Mustaat, semangat para atlet menjadi modal penting untuk menghadapi berbagai tantangan. Ia menegaskan bahwa perjuangan untuk menghadirkan ruang kompetisi bagi atlet disabilitas harus terus dilanjutkan, meskipun dihadapkan pada keterbatasan.

Ia menuturkan, sebelumnya terdapat gagasan untuk menggunakan arwana sebagai maskot. Namun, pihaknya kemudian memilih sempurna sebagai simbol yang merepresentasikan semangat kebangkitan, kemandirian, dan keyakinan bahwa penyandang disabilitas memiliki kemampuan untuk menentukan masa depannya.

Menurutnya, nama sempurna membawa pesan bahwa penyandang disabilitas tidak boleh terus-menerus bergantung pada penilaian atau harapan orang lain. Sebaliknya, setiap individu harus memiliki keyakinan dan kemauan untuk memulai perubahan dari dirinya sendiri.

“Jangan terus berharap kepada orang lain. Fokus kita harus dimulai dari diri sendiri. Itulah semangat yang ingin kami sampaikan melalui maskot Sempurna,” ungkapnya.

Ia berharap maskot tersebut dapat menjadi simbol motivasi bagi seluruh atlet dan penyandang disabilitas di Kalimantan Barat untuk terus berkarya, berprestasi, serta mengambil peran aktif dalam kehidupan bermasyarakat.

Selain membahas olahraga paralimpik, Mustaat menekankan pentingnya ketersediaan data penyandang disabilitas yang akurat, terverifikasi, dan terintegrasi.

Menurutnya, data menjadi fondasi utama untuk menyusun program pemberdayaan yang tepat sasaran, baik di bidang sosial, ketenagakerjaan, kewirausahaan, maupun olahraga.

Ia menilai, perbedaan data di antara instansi pemerintah dapat menjadi tantangan dalam merancang kebijakan dan program yang sesuai dengan kebutuhan penyandang disabilitas.

“Dasar dari banyak hal yang ingin kita lakukan adalah data. Data di Dinas Sosial bisa berbeda dengan data di Dinas Ketenagakerjaan maupun Dinas UMKM. Karena itu, database ini bukan untuk mendahului siapa pun atau merasa paling depan, tetapi menjadi langkah awal untuk membangun kolaborasi dengan semua pihak,” jelas Mustaat.

Ia menyampaikan bahwa data penyandang disabilitas yang dimiliki pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial disebut mencapai lebih dari 65.000 orang di Kalimantan Barat. Namun, menurutnya, data tersebut masih memerlukan proses verifikasi lebih lanjut, termasuk untuk memastikan identitas, jenis disabilitas, serta status terkini setiap individu.

Sementara itu, database yang dikembangkan pihaknya telah mencakup lebih dari 25.000 data penyandang disabilitas. Data tersebut, menurut Mustaat, telah memuat sejumlah informasi dasar, seperti Nomor Induk Kependudukan (NIK), jenis kelamin, dan jenis disabilitas.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pendataan dan verifikasi tetap perlu dilakukan secara berkelanjutan agar informasi yang tersedia benar-benar akurat dan dapat digunakan sebagai dasar penyusunan program.

Mustaat berharap peluncuran database tersebut menjadi awal dari kerja sama yang lebih kuat antara organisasi penyandang disabilitas dan pemerintah daerah, khususnya Dinas Sosial, Dinas Ketenagakerjaan, serta dinas yang membidangi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dengan adanya data yang lebih terstruktur, program pemberdayaan diharapkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan nyata penyandang disabilitas, mulai dari akses terhadap pekerjaan, pengembangan usaha, peningkatan keterampilan, hingga pembinaan atlet berprestasi.

Ia juga mengajak seluruh pihak untuk tidak menjadikan database sekadar kumpulan angka, melainkan instrumen untuk memastikan penyandang disabilitas memperoleh hak, kesempatan, dan akses pelayanan secara lebih setara.

“Setelah database ini diluncurkan, semua pihak harus bersama-sama memperkuat pendataan dan melakukan verifikasi. Kita ingin data tersebut benar-benar bermanfaat untuk mendukung program dan meningkatkan kemandirian penyandang disabilitas,” pungkasnya.

Parapreneur Indonesia Bahagia bersama para pemangku kepentingan diharapkan dapat memperkuat fondasi pembangunan yang inklusif di Kalimantan Barat, sehingga penyandang disabilitas tidak hanya memperoleh pengakuan atas hak-haknya, tetapi juga memiliki kesempatan yang setara untuk mandiri secara ekonomi, berpartisipasi dalam kehidupan sosial, dan meraih prestasi di bidang olahraga.

Sumber:ismail

“Misteri Talang Sebetung: Lahan Perjuangan Tempirai Selamat dari Karhutla Usai Yasinan Haul Leluhur”

0

Warta.in//PALI – penomena misteri Talang Sebetung, Suasana sakral dan penuh haru menyelimuti kawasan Talang Sebetung saat puluhan warga Tempirai Raya berkumpul untuk menggelar acara Yasinan dan Haul para leluhur serta puyang-puyang. Acara yang diinisiasi oleh tokoh masyarakat, Dr. Subiyanto Pudin Tempirai, ini digelar sebagai bentuk penghormatan spiritual sekaligus persiapan batin menyambut pertemuan penting mengenai tapal batas yang dijadwalkan pada Senin, 2 November 2026.

Prosesi Yasinan yang berlangsung khidmat tersebut dipimpin langsung oleh salah satu sesepuh karismatik Talang Sebetung, Muhamad bin Maju. Beliau merupakan salah satu warga senior yang hingga kini masih setia menetap dan menjaga tanah leluhur di kawasan Talang Sebetung. Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan doa-doa yang dipanjatkan menggema, menciptakan atmosfer religius yang menyentuh hati setiap warga yang hadir.

Fenomena Alam Usai Doa: Isyarat Turunnya Rahmat, Ada pemandangan yang dinilai tidak biasa oleh warga setempat. Begitu rangkaian doa dan Yasinan selesai ditutup, langit di atas Talang Sebetung yang tadinya cerah mendadak mendung dan langsung menumpahkan hujan.

Bagi Dr. Subiyanto Pudin, Tempirai dan seluruh warga yang hadir, turunnya hujan ini bukan sekadar fenomena cuaca biasa, melainkan sebuah manifestasi nyata dari rahmat Allah SWT. Hujan ini diyakini sebagai simbol restu alam dan jawaban atas ketulusan doa warga yang sedang memperjuangkan hak-hak tanah adat mereka.

“Insya Allah, ini merupakan pertanda baik dan turunnya rahmat dari Allah SWT atas niat tulus kita semua. Semoga perjuangan warga Tempirai Raya selalu diridai,” ujar Dr. Subiyanto dalam keterangannya.

Misteri Tapal Batas: Tanah Perjuangan Selamat dari Karhutla, Selain turunnya hujan, sebuah fenomena yang dinilai penuh keajaiban juga menjadi sorotan tajam di lokasi. Saat ini, wilayah perbatasan tanah yang masuk dalam administrasi Mangkunegara Timur dan Mangkunegara dilaporkan sedang dilanda bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang cukup hebat.

Keriuhan asap dan api tampak jelas menghanguskan area tersebut. Namun, pemandangan kontras yang luar biasa terjadi tepat di garis batas tanah yang sedang diperjuangkan oleh warga agar kembali masuk ke dalam tapal batas Desa Tempirai Selatan. Lahan perjuangan tersebut sama sekali tidak tersentuh oleh api maupun dampak Karhutla. Kondisinya tetap hijau, basah, dan aman.

Fenomena ini memicu spekulasi spiritual di kalangan warga Tempirai Raya. Banyak yang meyakini bahwa tanah-tanah adat tersebut sedang dijaga dan dilindungi oleh kekuatan magis serta karomah para leluhur puyang-puyang Tempirai yang tidak rela tanah mereka hangus terbakar menjelang hari penentuan.

Peristiwa bernuansa spiritual ini secara otomatis membakar semangat dan memperkuat mental warga Tempirai Raya. Mereka kini menatap pertemuan tanggal 2 November 2026 dengan keyakinan penuh, membawa harapan besar agar tapal batas Desa Tempirai Selatan dapat dikembalikan ke tempat yang semestinya sesuai sejarah dan warisan para leluhur.

Kapolres Sibolga Sambangi Masjid Al – Azhar, Ajak Jemaah Perangi Narkoba

0

Warta.in Sibolga – Kapolres Sibolga AKBP Budi Prasetyo, S.H., S.I.K., M.H., M.Han., melaksanakan kegiatan Subuh Keliling (Suling) di Masjid Al-Azhar, Kota Sibolga, Sabtu (31/10/2026) sekitar pukul 05.00 WIB.

Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Quick Wins Kapolri tersebut diikuti sejumlah Pejabat Utama (PJU) Polres Sibolga dan jemaah Masjid Al-Azhar. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya Polri untuk mempererat silaturahmi sekaligus membangun komunikasi langsung dengan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Kapolres Sibolga memperkenalkan tagline pelayanan Polri, yakni “Polisi Bersama Masyarakat”. Tagline tersebut menjadi komitmen Polri untuk semakin dekat dengan masyarakat, hadir di tengah kehidupan warga, serta memberikan pelayanan yang responsif dan humanis.

Kapolres juga mengajak seluruh jemaah untuk terus menjaga kerukunan antarumat beragama sebagai bagian penting dalam memelihara persatuan dan menciptakan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang kondusif di Kota Sibolga.

Selain itu, masyarakat diminta turut berperan aktif dalam memerangi penyalahgunaan dan peredaran narkoba. Menurutnya, upaya pemberantasan narkoba membutuhkan kepedulian serta kerja sama seluruh elemen masyarakat agar generasi muda terlindungi dari bahaya narkotika.

Kapolres turut mengingatkan masyarakat agar bijak dalam menggunakan media sosial, tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi, serta menghindari penyebaran berita bohong yang dapat memicu keresahan di tengah masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, AKBP Budi Prasetyo menyampaikan bahwa Polres Sibolga bersama jajaran Polres di wilayah Polda Sumatera Utara sedang melaksanakan Operasi Patuh Toba 2026 selama 14 hari.
Ia mengajak masyarakat untuk meningkatkan disiplin dan kepatuhan dalam berlalu lintas, mulai dari mematuhi rambu-rambu, menggunakan helm berstandar SNI bagi pengendara sepeda motor, hingga melengkapi persyaratan berkendara.
“Ketertiban berlalu lintas merupakan cerminan budaya masyarakat sekaligus bentuk kepedulian terhadap keselamatan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya,” demikian pesan Kapolres kepada para jemaah.

Lebih lanjut, Kapolres menginformasikan bahwa masyarakat dapat memanfaatkan layanan Call Center 110 Polres Sibolga apabila mengalami atau mengetahui adanya gangguan kamtibmas maupun tindak pidana lainnya.

Melalui layanan tersebut, masyarakat dapat menyampaikan laporan untuk mendapatkan respons dan tindak lanjut dari kepolisian.
Kegiatan Subuh Keliling ini diharapkan tidak hanya menjadi sarana mempererat hubungan antara Polri dan masyarakat, tetapi juga memperkuat sinergi dalam menjaga keamanan, ketertiban, serta keharmonisan kehidupan bermasyarakat di Kota Sibolga.

Melalui semangat “Polisi Bersama Masyarakat”, Polres Sibolga berkomitmen untuk terus hadir, mendengar, melindungi, dan melayani masyarakat. (RN)