Beranda blog

Jonimar tak Di beri hak jawab media terkesan pilih pilih Sumber?

0

Q

Pemerintah Kabupaten Sukabumi – mendapatkan anggaran sebesar Rp154 miliar dari pusat pada tahun 2026 untuk merevitalisasi 174 satuan pendidikan.Perkembangan Revitalisasi SekolahTotal Penerima: Sebanyak 174 satuan pendidikan, dengan jumlah terbanyak pada jenjang sekolah dasar (SD) sebanyak 93 sekolah.Prioritas: Fokus utama diberikan pada daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta wilayah yang terdampak bencana. Sumber berita kompas .com

Kami Tim warta.in menyoroti perihal ini sebagai mana Dinas pendidikan kabupaten sukabumi mengalihkan isu dengan dalih bahwa Salah satunya Yang menjadi korban perihal aset pendidikan Di kabupaten sukabumi

Bagaimana steatmean kadis pendidikan perihal anggaran 154 Miliar dengan jumlah sekolah Yang seolah olah media media membesar besarkan menutupi revitalisasi mengalihkan isu Di kemanakan aset pendidikan dari174 sekolah sisa bongkaran ya dan Ada berapa besi
Yang Di gunakan .

Persoalan ini sebetulnya Kami sudah saling memaafkan Banyak Yang membangun narasi ini bahwa media media Yang pro pemerintah Dan Kami tak Di hak jawab sebagai mana mestinya Kami pun Di berikan hak jawab sesuai ketentuan Yang berlaku.

Alfi yonimar mendambakan bahwa ini tidak fair kalau hanya Akun jonimar atau saya Yang Di sudutkan ,apakah ini hanya untuk menyudutkan jonimar Yang tak Di berikan ruang hak jawab
Apa Karena media ITU pilih pilih
Mencari Sumber ,apakah hanya para pejabat Saja Yang bisa memberikan
Steatmean.,ucap Alfi (jonimar)

Jika media massa tidak melayani hak jawab, maka media tersebut terancam sanksi pidana denda maksimal Rp500 juta berdasarkan Pasal 18 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.Berikut adalah ketentuan hukum lengkap terkait kewajiban dan sanksi jika media mengabaikan hak jawab.

Bahwa semua narasi ini apakah Ada narasumber Itu terkesan pilih pilih Dan menekan Salah satu orang Yang saling memaafkan Dan postingannya pun sudah Di hapus kenapa ,Ada apa ini
Apa mereka menyebunyikan sesuatu agar lupa terkait Dana revitalisi Yang fantastic Di kabupaten sukabumi. (Tim)

Panen Melon di SAE Rutan Palembang, Wujud Pembinaan Kemandirian dan Dukungan Ketahanan Pangan

0

Warta.In | Palembang, 28 September 2026 – Rumah Tahanan Negara Kelas I Palembang kembali menunjukkan komitmennya dalam mengoptimalkan program pembinaan kemandirian bagi warga binaan melalui kegiatan pertanian produktif. Hal tersebut diwujudkan melalui kegiatan panen melon yang dilaksanakan di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Rutan Kelas I Palembang, Senin (28/9).

Kegiatan panen melon menjadi bagian dari rangkaian program pembinaan kemandirian yang memanfaatkan lahan SAE sebagai sarana pembelajaran, pengembangan keterampilan, sekaligus kegiatan produktif bagi warga binaan. Sebelum memasuki tahap panen, tanaman melon telah melalui berbagai proses, mulai dari penanaman, perawatan, pemeliharaan hingga pengawasan secara berkala.

Dalam pelaksanaannya, warga binaan yang terlibat mendapatkan arahan dan pendampingan dari petugas. Mereka turut mengikuti proses pemeliharaan tanaman hingga pemanenan dengan memperhatikan tingkat kematangan buah agar hasil yang diperoleh berada dalam kondisi baik dan layak untuk dimanfaatkan.

Setelah dipanen, buah melon dikumpulkan dan dilakukan pemilahan berdasarkan kondisi serta kualitasnya. Tahapan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran praktis bagi warga binaan mengenai pengelolaan hasil pertanian, mulai dari proses budidaya hingga penanganan hasil panen.

Kepala Rutan Kelas I Palembang, Aris Supriyadi, menyampaikan bahwa kegiatan pertanian di SAE merupakan salah satu bentuk nyata pelaksanaan pembinaan kemandirian yang diarahkan untuk memberikan keterampilan praktis kepada warga binaan.

“Melalui kegiatan seperti budidaya dan panen melon ini, warga binaan tidak hanya mendapatkan pengalaman dalam bidang pertanian, tetapi juga belajar mengenai proses kerja, tanggung jawab, ketekunan, serta pengelolaan hasil produksi. Keterampilan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal yang bermanfaat setelah mereka kembali ke tengah masyarakat,” ujar Aris.

Kegiatan budidaya melon juga menjadi bagian dari upaya Rutan Kelas I Palembang dalam mengoptimalkan pemanfaatan lahan SAE untuk kegiatan yang produktif, edukatif dan berkelanjutan. Selain memberikan pengalaman keterampilan kepada warga binaan, pemanfaatan lahan pertanian tersebut turut mendukung upaya penguatan ketahanan pangan melalui pengembangan komoditas hortikultura.

Program pembinaan kemandirian melalui sektor pertanian memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk memahami proses pertanian secara menyeluruh, mulai dari persiapan, penanaman, perawatan, pengendalian tanaman hingga proses panen dan pemanfaatan hasil produksi.

Rutan Kelas I Palembang berkomitmen untuk terus mengembangkan berbagai kegiatan pembinaan yang memberikan manfaat nyata bagi warga binaan. Pengembangan sektor pertanian melalui SAE diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga membentuk keterampilan dan pengalaman kerja yang dapat menjadi modal bagi warga binaan dalam mempersiapkan diri untuk kembali berkontribusi secara positif di masyarakat.

Kegiatan panen melon berlangsung dengan aman, tertib dan lancar, sekaligus menjadi salah satu wujud nyata pelaksanaan pembinaan kemandirian yang berorientasi pada keterampilan, produktivitas dan keberlanjutan.

Jika bertau sukabumi tak beri hak jawab Kami akan polisikan Dan siap laporan Dewan pers

0

Sukabumi -Kami meminta hak jawab Kami terkait pemberitaan Dalam hal ini rumor Itu yang terus beredar menyoroti perihal take down Kami Ini seperti Yang kadis bilang Dalam pemberitaan Dan Kami pun akan melakukan hal Yang Sama .

Jika media massa tidak melayani hak jawab, maka media tersebut terancam sanksi pidana denda maksimal Rp500 juta berdasarkan Pasal 18 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.Berikut adalah ketentuan hukum lengkap terkait kewajiban dan sanksi jika media mengabaikan hak jawab.

Saya selaku orang Yang Ada didalam pemberitaan tersebut merasa bahwa pemberitaan nya tak sesuai dengan Yang Di beritakan Kami akan terus mengejar sesuai dengan pascal Dan undang undang Yang berlaku.

Perihal steatmean kadis Yang mau memberikan jawaban ketika Ada sesuatu bagaimana aset pendidikan Yang begitu besar kemana larinya
Jika Masih belom Ada hak jawab kepada saya Alfi yonimar Kami akan melaporkan bertau sukabumi (jonimar) bila tak Di berikan hak jawab sebagaimana media Yang dirasa berat sebelah .,ungkap Alfi (jonimar)

(Tim)

Manjur Boru Simarmata Ikut Naik ke Tambak, Kebesaran Hati Mangga Albinus yang Dikenang Cucunya

0

Lumban Suhi Suhi Toruan, warta.in — Ada kisah keluarga yang mungkin sederhana bagi orang lain, tetapi memiliki arti sangat dalam bagi keturunannya.


Dalam sebuah ulaon mangokal holi keluarga OH SimarmataSH di Desa Lumban Suhi-Suhi Toruan, Dusun 3 Alngit, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, tulang-belulang atau holi-holi namborunya Manjur boru Simarmata turut dinaikkan atau panakok saring-saring ke tambak keluarga.

Yang membuat kisah ini terasa istimewa adalah keputusan ayahandanya Mangga Albinus Simarmata gelar Voorzitter, yang mengizinkan tulang-belulang ito/saudara perempuannya itu ditempatkan bersama holi-holi kedua orangtuanya dalam satu tambak baru.

Tambak tersebut berada di areal belakang rumah keluarga.

Bagi keluarga, keputusan itu bukan hanya mengenai tempat bersemayamnya tulang-belulang. Ada kasih seorang saudara, penghormatan kepada perempuan dalam keluarga, dan pesan yang kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya.

Bukan hanya orangtua, saudara perempuan pun diingat

Mangokal holi selama ini dikenal sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada leluhur.

Tulang-belulang orangtua, ompung, atau leluhur yang sebelumnya berada di tempat pemakaman lama dipindahkan ke simin atau tambak keluarga. Penelitian terbaru mengenai perempuan Batak Toba dalam tradisi mangokal holi juga menjelaskan bahwa tradisi tersebut merupakan pemindahan tulang-belulang leluhur ke kuburan baru berupa simin/tambak.

Namun, penelitian yang dilakukan Meita Immanuella dan Erda Fitriani di Desa Simarmata, Kabupaten Samosir, memberikan perhatian khusus pada peran perempuan dalam tradisi tersebut.

Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam mangokal holi. Perempuan antara lain terlibat dalam mempersiapkan kebutuhan upacara, membersihkan tulang-belulang leluhur, hingga manjujung holi sebelum tulang-belulang dinaikkan ke tambak.

Temuan tersebut menarik ketika disandingkan dengan kisah Manjur boru Simarmata.

Sebab, dalam keluarga OH Simarmata SH ini, perempuan bukan hanya hadir sebagai bagian dari prosesi. Holi-holi namborunya Manjur boru Simarmata ikut dinaikkan dan ditempatkan di tambak baru bersama kedua

Kebesaran hati seorang saudara laki-laki

Bagi Dr drh R Wendeilyna Simarmata, MSi (CMed CPP CIJ CPW), keputusan opungnya tersebut merupakan sesuatu yang sangat berkesan.

Ia mengenang Mangga Albinus Simarmata bukan hanya sebagai tokoh keluarga, tetapi juga sebagai seorang saudara yang memberikan penghormatan kepada saudara perempuannya.

Menurut Wendeilyna, tanggung jawab dalam keluarga Batak tidak hanya terlihat ketika seorang anak laki-laki melaksanakan ulaon mangokal holi bagi orangtuanya.

Lebih jauh daripada itu, menurutnya, ada nilai kasih dan tanggung jawab ketika seseorang juga mengingat ito/ saudara perempuannya.

“Tanggung jawab tertinggi kepada keluarga di dalam adat Batak adalah melaksanakan acara atau ulaon mangokal holi/panakok saring-saring orangtua, kakek dan nenek. Namun Mangga Albinus Simarmata gelar Voorzitter tidak hanya melakukan ulaon itu terhadap orangtuanya, tetapi juga kepada ito/saudara perempuannya, Manjur boru Simarmata.”

Wendeilyna mengatakan, dirinya bangga terhadap apa yang telah dilakukan opungnya.

“Saya bangga atas apa yang telah dilakukan Opung saya itu. Bagi Opung saya, ini merupakan pesan kepada anak-anaknya bahwa keturunan laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama atas tanah milik.”

Pernyataan tersebut merupakan pemaknaan keluarga terhadap keputusan Mangga Albinus, bukan klaim bahwa seluruh masyarakat Batak memiliki satu ketentuan adat yang seragam mengenai hak tanah atau tempat pemakaman perempuan.


Manjur boru Simarmata, tetap bagian dari keluarga asal

Perkawinan dalam masyarakat Batak membawa seseorang ke dalam hubungan kekerabatan baru. Namun, seorang perempuan tetap dikenal sebagai boru dari marga asalnya.

Karena itu, kisah Manjur boru Simarmata memperlihatkan bahwa hubungan seorang perempuan dengan keluarga asalnya tetap mempunyai tempat dalam ingatan keluarga.

Ketika holi-holi-nya ikut dinaikkan ke tambak keluarga Simarmata, keluarga tidak sedang menghapus perjalanan hidupnya sebagai seorang perempuan yang telah menjalani kehidupannya.

Justru keluarga sedang mengenang bahwa Manjur adalah bagian dari mereka.

Ia adalah boru Simarmata.

Ia adalah saudara perempuan.

Dan ia tetap menjadi bagian dari sejarah keluarga.

Penelitian terbaru ikut membuka ruang pembicaraan

Penelitian Meita Immanuella dan Erda Fitriani yang diterbitkan pada 30 Juni 2026 di Culture & Society: Journal of Anthropological Research menarik karena memang mengambil Desa Simarmata, Kabupaten Samosir, sebagai lokasi penelitian mengenai status dan peran perempuan dalam mangokal holi.

Di sinilah kisah Manjur menjadi menarik.

Karena dalam satu keluarga, terdapat sebuah keputusan yang memberikan tempat kepada seorang perempuan untuk ikut dinaikkan ke tambak bersama orangtuanya.

Bukan penelitian yang membuktikan keputusan keluarga tersebut.

Sebaliknya, kisah Manjur memberikan contoh nyata yang dapat menjadi bahan untuk melihat bagaimana adat, hubungan darah, kasih keluarga dan perubahan pemaknaan terhadap perempuan berjalan dalam kehidupan masyarakat Batak.

Opung yang juga memiliki sejarah besar

Mangga Albinus Simarmata gelar Voorzitter sendiri memiliki tempat penting dalam sejarah organisasi keluarga besar Simarmata.

Catatan sejarah Punguan Simarmata menyebut Mangga Albinus Simarmata sebagai Ketua Umum pertama Punguan Simataraja/Punguan Simarmata dan Boruna, periode 1973–1986. Ia juga disebut sebagai penggagas pembangunan Tugu Ompu Simataraja.

Dalam catatan tersebut, Mangga Albinus disebut meninggal pada 1986 dan dimakamkan di Alngit, Lumban Suhi-Suhi, Samosir.

Karena itu, bagi cucunya, cerita tentang Manjur boru Simarmata bukan sekadar cerita pemakaman.

Ada sosok seorang opung yang meninggalkan pesan melalui tindakan.

Sebuah pesan untuk generasi berikutnya

Pada akhirnya, mangokal holi bukan hanya tentang menggali dan memindahkan tulang-belulang.

Ia adalah tentang mengingat.

Mengingat orangtua.

Mengingat ompung.

Mengingat saudara.

Mengingat dari mana sebuah keluarga berasal.

Dan dalam kisah keluarga Mangga Albinus Simarmata, yang diingat bukan hanya kedua orangtuanya.

Manjur boru Simarmata juga ikut dibawa pulang ke tambak keluarga.

Di tanah keluarga di belakang rumah di Lumban Suhi-Suhi Toruan, holi-holi seorang perempuan ditempatkan bersama holi-holi kedua orangtuanya.

Bagi Wendeilyna, keputusan opungnya itu menjadi warisan nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar tempat peristirahatan terakhir.

Bahwa seorang saudara perempuan tetap saudara. Bahwa hubungan darah tidak hilang karena perjalanan hidup. Dan bahwa kasih seorang kakak atau saudara laki-laki kepada adiknya dapat diwariskan bukan hanya lewat kata-kata, tetapi melalui sebuah tindakan yang dikenang lintas generasi (red)

Kami sudah saling memaafkan dengan sekdis jika harus sailing polisikan Kami siap

0

Menyoroti pemberitaan deden Sumpena-Herdiawan Bantah Isu Keretakan, Dinas Pendidikan Sukabumi Siapkan Tempuh Jalur Hukum

Redaksi
28 September 2026

pemilik akun @Jonimiar dan postingan terkait Kepala dan Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi
BERITAUSUKABUMI.COM-Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi angkat bicara terkait informasi yang beredar di media sosial mengenai hubungan kerja antara Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Deden Sumpena, dengan Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Herdiawan Waryadi retak.

Informasi tersebut mencuat setelah beredar sebuah posting bergambar yang disebut menggunakan hasil kreasi AI dan dikaitkan dengan akun @Jonimar.

Pada gambar tersebut terpampang judul besar, “Sekdis Pendidikan Kabupaten Sukabumi Tak Sudi Bekerjasama Lagi dengan Kadisdik Kabupaten Sukabumi.”

Bacaan Lainnya
Budi Setiawan Jurnalis iNews TV Terpilih Jadi Ketua IJTI Sukabumi Raya Periode 2026–2029Aset Ipda Yayat Sudrajat di Sukabumi Ditelusuri KPK, Ini KasusnyaPolemik Ngoet Fest–SantaSea, Abdul Kohar Sodorkan 3 Tuntutan untuk Pemkot Sukabumi
Narasi dalam gambar itulah yang kemudian dibantah oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi Deden Sumpena dan Sekretaris Dinas Pendidikan Herdiawan Waryadi.

Informasi yang beredar melalui media sosial, termasuk dari akun @junimar, disebut pihak Dinas Pendidikan sebagai informasi yang tidak benar dan tidak berdasar.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi Deden Sumpena bersama Sekretaris Dinas Pendidikan Herdiawan Waryadi menegaskan jika hubungan kerja keduanya hingga saat ini tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Keduanya masih menjalankan koordinasi, komunikasi, serta tugas dan tanggung jawab masing-masing secara profesional dalam menjalankan roda pemerintahan di sektor pendidikan Kabupaten Sukabumi.

“Informasi mengenai hubungan kerja antara saya sebagai Kepala Dinas dan Pak Herdiawaan selaku Sekretaris Dinas yang beredar di media sosial itu tidak benar dan tidak berdasar alias berita bohong,” tegas Deden Sumpena dikonfirmasi BERITAUSUKABUMI.COM Senin (28/9/2026)

Dalam hal ini Alfi menjelaskan Dan meminta maaf perihal tindakan nya mengenai rumor Yang Masih Belum jelas bahwa Disitu Di tulisan rumor bukan tuduhan ,seolah beritau sukabumi meminta hak jawab saya sebagai mana mestinya kode etik pers
Perihal postingan Yang beredar sudah Di takedown.

Kami merasa bahwa jika jalur hukum Yang harus Kita tempuh bahwa ini bukan tuduhan melainkan rumor Dan Kamipun sudah meminta maaf maka Kamipun akan melakukan langkah Yang Sama bilamana hak jawab saya tidak Di berikan maka Kami pun akan menggunakan langkah Yang Sama.
Ucap jonimar

Rumor adalah informasi, cerita, atau desas-desus yang beredar dari mulut ke mulut tetapi belum tentu terbukti kebenarannya,bahwa Ada tuduhan hoak bahwa jelas Disitu terdapat rumor Itu apa ?

Bilamana Kami tak menjawab Dan Kami akan mengambil langkah hukum Yang Sama terkait menyoroti perihal postingan ini saya sudah meminta maaf bahwa hal ini seolah olah tuduhan tersebut benar .,ucap Alfi yonimar (jonimar)

(Tim)

Ada Apa dengan Kadiman Pakpahan? Membaca Jejak Digital, Gagasan dan Aksi Nyatanya dari Dekat

0

Samosir, warta.in – Ada sosok yang menarik ketika gagasan, kritik sosial dan aktivitas pemberdayaan masyarakat dibaca melalui jejak digitalnya: Ir. Kadiman Pakpahan, M.M.

Lantas, ada apa dengan Kadiman Pakpahan?

Pertanyaan itu menarik bukan untuk mencari-cari kontroversi, melainkan untuk melihat gagasan apa yang sebenarnya ia bawa, siapa yang menjadi sasaran pemikirannya, serta sejauh mana gagasan tersebut diwujudkan dalam tindakan nyata.

Dari berbagai gagasan yang dikaitkan dengan dirinya, setidaknya terdapat beberapa isu yang menonjol: pembangunan karakter, kritik terhadap budaya feodal, kemandirian ekonomi, ketahanan pangan, kesadaran gizi dan pemberdayaan masyarakat akar rumput.

Di sinilah jejak digital menjadi menarik. Ia tidak hanya memperlihatkan apa yang dikatakan seseorang, tetapi juga dapat menjadi pintu untuk menelusuri gagasan, aktivitas dan rekam jejak yang pernah dipublikasikan.

Mengkritik “Budaya Bungkus”

Salah satu gagasan yang menonjol adalah kritik terhadap apa yang disebut sebagai “Budaya Bungkus”.

Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan kecenderungan masyarakat menilai seseorang berdasarkan kemasan: jabatan, gelar, kekayaan, status sosial maupun citra yang melekat pada dirinya.

Persoalannya, ketika kemasan menjadi lebih penting daripada substansi, ukuran keberhasilan seseorang dapat bergeser.

Integritas, kapasitas, karya dan manfaat bagi masyarakat berisiko kalah oleh pencitraan.

Dalam konteks pembangunan karakter, kritik semacam ini relevan untuk dibaca sebagai ajakan agar masyarakat tidak berhenti pada pertanyaan “siapa orangnya?”, tetapi juga bertanya “apa yang telah dikerjakannya?”

Dengan demikian, kritik terhadap “Budaya Bungkus” tidak berhenti sebagai kritik sosial, tetapi menyentuh persoalan yang lebih mendasar: bagaimana masyarakat menentukan nilai seseorang.

Dari Gagasan ke Persoalan Gizi dan Pertanian

Hal lain yang menarik adalah gagasan mengenai pemberdayaan masyarakat melalui kebutuhan yang sangat mendasar: pangan dan gizi.

Gerakan Sadar Gizi atau GAZI yang dikaitkan dengan aktivitas Kadiman Pakpahan menunjukkan pendekatan yang berbeda.

Pembangunan masyarakat tidak selalu harus dimulai dari program besar. Kesadaran mengenai apa yang dikonsumsi keluarga, bagaimana memenuhi kebutuhan gizi dan bagaimana memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar rumah merupakan persoalan yang langsung bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari.

Begitu pula dengan dorongan terhadap pemanfaatan lahan dan penanaman bibit.

Jika dilakukan secara konsisten, pendekatan semacam ini dapat diarahkan pada penguatan ketahanan pangan keluarga dan masyarakat, bukan sekadar menunggu bantuan dari luar.

Namun, penting membedakan antara gagasan, program, dan hasil. Setiap klaim mengenai dampak suatu gerakan tetap perlu dilihat berdasarkan bukti kegiatan dan hasil yang dapat diverifikasi.

“Mr. Dreamer” dan Perlawanan terhadap Sikap Pasrah

Kadiman Pakpahan juga dikenal dengan gagasan yang berkaitan dengan mimpi dan masa depan Indonesia.

Melalui buku Membangun Mimpi: Menuju Indonesia Unggul, gagasan mengenai keberanian bermimpi ditempatkan sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang tidak mudah menyerah pada keadaan.

Di tingkat akar rumput, persoalan terbesar terkadang bukan hanya kekurangan sumber daya.

Ada pula persoalan pola pikir.

Ketika masyarakat terbiasa mengatakan “memang sudah begini keadaannya”, perubahan menjadi semakin sulit.

Karena itu, gagasan tentang mimpi, pendidikan diri, kerja keras dan kreativitas dapat dibaca sebagai usaha mendorong masyarakat agar tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti bergerak.

Ketika Pendidikan Tidak Berhenti di Atas Kertas

Latar belakang pendidikan seseorang juga tidak otomatis membuat gagasannya bermanfaat bagi masyarakat.

Ukuran berikutnya adalah bagaimana pengetahuan tersebut diterapkan.

Dengan latar belakang Magister Manajemen (M.M.), Kadiman Pakpahan membawa pendekatan manajemen ke dalam aktivitas sosial kemasyarakatan.

Di titik ini muncul satu pertanyaan penting:

Apakah ilmu pengetahuan hanya berhenti di ruang kelas, atau diterjemahkan menjadi tindakan yang dapat dirasakan masyarakat?

Pertanyaan tersebut justru penting karena pembangunan tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi juga membutuhkan orang yang mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi gerakan yang dapat dipahami dan dijalankan masyarakat.

Mengapa Kadiman Pakpahan Menarik Dibaca?

Jika seluruh gagasan tersebut ditempatkan dalam satu rangkaian, terlihat benang merah yang cukup jelas.

Ada perhatian terhadap karakter manusia, kemandirian ekonomi, pangan, gizi, pendidikan masyarakat dan keberanian untuk mengubah keadaan.

Artinya, fokusnya tidak semata-mata pada pembangunan fisik.

Ada upaya berbicara mengenai manusia sebagai subjek pembangunan.

Masyarakat tidak ditempatkan hanya sebagai penerima bantuan, tetapi didorong agar mampu mengenali potensi yang dimiliki dan menggunakannya untuk memperbaiki kehidupan sendiri.

Di sisi lain, gagasan yang kritis tentu dapat menimbulkan perbedaan pandangan.

Pernyataan yang keras atau cara menyampaikan kritik yang lugas dapat memunculkan respons beragam. Karena itu, penilaian terhadap Kadiman Pakpahan sebaiknya tidak hanya didasarkan pada label, pujian maupun tudingan dari pihak tertentu.

Gagasannya perlu dibaca. Aksinya perlu dilihat. Klaimnya perlu diverifikasi. Dampaknya perlu diukur.

Jejak Digital Bukan Sekadar Pencitraan

Di era digital, seseorang meninggalkan banyak jejak: tulisan, video, buku, dokumentasi kegiatan dan berbagai publikasi.

Jejak tersebut dapat digunakan untuk melihat konsistensi antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan.

Karena itu, membaca sosok Kadiman Pakpahan melalui jejak digital bukan berarti menerima seluruh narasi tentang dirinya begitu saja.

Justru sebaliknya. )

Jejak digital dapat menjadi bahan untuk menguji pertanyaan yang lebih penting:

Apa gagasannya? Apa yang sudah dilakukan? Di mana dilakukan? Siapa yang terlibat? Apa hasilnya? Dan apakah manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat pembacaan terhadap seorang tokoh menjadi lebih objektif.

Pada akhirnya, “Ada Apa dengan Kadiman Pakpahan?” bukan sekadar pertanyaan tentang siapa dirinya.

Pertanyaan yang lebih menarik adalah:

Apa yang sedang ia perjuangkan, mengapa gagasan itu disampaikan, dan sejauh mana gagasan tersebut mampu diterjemahkan menjadi perubahan nyata di tengah masyarakat?

Di situlah jejak digital menjadi penting—bukan untuk menghakimi seseorang, tetapi untuk membaca gagasan, tindakan dan konsistensinya dari waktu ke waktu (red)

Uniknya Tradisi Batak di Lumban Suhi Suhi Toruan, OH Simarmata SH Siapkan Tempat Peristirahatan Terakhir

0

Lumban Suhi Suhi Toruan, tarombotvmedia – Bagi sebagian masyarakat Batak, kematian bukan hanya persoalan akhir kehidupan, tetapi juga berkaitan erat dengan keluarga, leluhur, tanah asal, serta penghormatan terhadap orang-orang yang telah lebih dahulu meninggal dunia.

Hal tersebut tergambar dari keberadaan sebuah makam keluarga di belakang rumah OH Simarmata, SH, yang juga dikenal sebagai Opung Reiner Parlindungan, di Dusun 3 Alngit, Desa Lumban Suhi Suhi Toruan, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir.

Di lokasi tersebut, OH Simarmata SH telah menyiapkan tempat yang kelak menjadi peristirahatan terakhirnya. Di atas area makam itu telah berdiri tambak yang menjadi tempat penyimpanan tulang-belulang sejumlah anggota keluarganya.

Tambak tersebut menyimpan jejak keluarga dan menjadi bagian dari penghormatan terhadap orang-orang yang memiliki hubungan darah dengannya.

Di antaranya adalah tulang belulang (holi holi) istri tercinta, Rusli Aminah boru Pasaribu, ayahanda Mangga Albinus Simarmata gelar Voorziter, ibunda Katarina boru Manik, kakek Amandangas, nenek boru Sinaga, serta namboru Manjur boru Simarmata.

Tanah Keluarga Menjadi Tempat Berkumpulnya Leluhur

Keberadaan makam keluarga di sekitar rumah memperlihatkan kuatnya keterikatan antara keluarga, tanah, dan leluhur dalam kehidupan masyarakat Batak.

Bagi keluarga, tempat tersebut bukan sekadar sebidang tanah untuk pemakaman. Ia menjadi ruang untuk mengenang perjalanan hidup keluarga dari generasi ke generasi.

Kelak, ketika waktunya tiba, OH Simarmata SH juga telah menentukan tempat di mana dirinya akan disemayamkan, berdampingan dengan orang-orang terkasih yang telah mendahuluinya.

Hal itu sekaligus menunjukkan bagaimana hubungan seseorang dengan keluarga dan tanah asal tetap dipertahankan hingga akhir kehidupan.

Rumah Batak dan Jejak Keluarga

Rumah Batak yang berada di lokasi tersebut juga menjadi bagian menarik dari kisah keluarga ini. Rumah tradisional Batak tidak hanya memiliki nilai arsitektur, tetapi bagi banyak keluarga Batak juga menjadi simbol ruang hidup, identitas, dan sejarah keluarga.

Di tengah perkembangan zaman, keberadaan rumah dan makam keluarga dalam satu lingkungan menghadirkan sebuah cerita tentang bagaimana generasi sekarang tetap menjaga hubungan dengan generasi sebelumnya.

Di tempat itulah kenangan tentang orang tua, kakek-nenek, pasangan hidup, serta anggota keluarga lainnya terus diwariskan.

Bukan Sekadar Makam, tetapi Pengingat Sejarah Keluarga

Bagi OH Simarmata, SH, tempat yang telah disiapkan tersebut bukan semata-mata berbicara mengenai kematian.

Lebih jauh, tempat itu menjadi pengingat mengenai siapa yang telah mendahului, dari mana sebuah keluarga berasal, dan bagaimana hubungan antargenerasi tetap dijaga.

Tradisi seperti ini juga memperlihatkan bahwa bagi keluarga Batak tertentu, penghormatan kepada leluhur memiliki tempat penting dalam kehidupan keluarga.

Sebuah makam keluarga akhirnya bukan hanya menjadi tempat peristirahatan terakhir, tetapi juga menjadi penanda perjalanan sebuah garis keturunan.

Di Dusun 3 Alngit, Desa Lumban Suhi-Suhi Toruan, kisah itu kini telah tertanam dalam satu kawasan: rumah keluarga, tambak, dan nama-nama orang yang menjadi bagian dari perjalanan hidup OH Simarmata SH dan keluarganya.

Sebuah pesan sederhana tentang keluarga, tanah leluhur, dan penghormatan kepada mereka yang telah pergi terlebih dahulu (red)

 

Puluhan Pegawai RS Abdul Radjak Purwakarta Tak Lanjut Kontrak, Disnakertrans Pastikan Hak Pekerja

0

Warta.in, Purwakarta — Kabar mengenai tidak dilanjutkannya kontrak kerja terhadap puluhan pegawai RS Abdul Radjak Purwakarta, Jawa Barat, mulai menjadi perhatian serius di kalangan ketenagakerjaan.

Informasi tersebut bahkan memicu keresahan di tengah pekerja dan menjadi perhatian Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Purwakarta.

Menyikapi informasi tersebut, Disnakertrans Purwakarta mengaku telah mengambil langkah-langkah proaktif sesuai dengan tugas dan fungsinya, terutama untuk memastikan proses hubungan industrial berjalan sesuai ketentuan serta hak-hak normatif pekerja tetap terlindungi.

Sekretaris Disnakertrans Kabupaten Purwakarta, Tuti Gantini, S.Pd., didampingi Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Syarat Kerja, Ardi Wahab, S.T., M.T., saat ditemui media warta.in di ruang kerjanya, Senin (28/9/2026), menjelaskan bahwa pihaknya telah menerima informasi dari manajemen RS Abdul Radjak pada Jumat (25/9/2026).

Menurut Tuti, berdasarkan informasi yang diterima Disnakertrans, terdapat 385 pekerja yang mengikuti proses assessment. Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen dinyatakan terserap, sedangkan sekitar 97 orang disebut tidak melanjutkan hubungan kerja.

“Bagi pekerja yang tidak melanjutkan, akan diberikan kompensasi sesuai ketentuan PKWT dan kontrak terakhir, yakni periode kontrak Juli sampai September,” ujar Tuti.

Disnakertrans juga menyampaikan bahwa pembayaran upah yang masih menjadi tanggungan akan diupayakan oleh pihak manajemen agar dapat diselesaikan secepatnya dan tidak harus menunggu hingga Desember.

 

Disnakertrans Dorong Dialog, Cegah Perselisihan

Persoalan tidak dilanjutkannya kontrak kerja tersebut tidak hanya menyangkut berakhirnya hubungan kerja, tetapi juga berpotensi menimbulkan perselisihan apabila komunikasi antara manajemen dan pekerja tidak berjalan dengan baik.

Karena itu, Disnakertrans telah menyarankan kepada pihak manajemen agar membuka ruang dialog dengan para pekerja yang kontraknya tidak dilanjutkan.

Langkah tersebut dinilai penting untuk memberikan penjelasan secara terbuka kepada pekerja sekaligus meminimalisir potensi perselisihan hubungan industrial di kemudian hari.

“Sudah kami sarankan kepada manajemen untuk membuka dialog dengan pekerja yang tidak lanjut kontrak, sehingga dapat meminimalisir potensi perselisihan,” jelas Tuti.

Disnakertrans juga menyebut pihak manajemen akan menyiapkan laporan terkait pekerja yang hubungan kerjanya berakhir karena kontraknya tidak diperpanjang.

Berapa Warga Purwakarta? Belum Terungkap

Di tengah mencuatnya informasi tersebut, satu persoalan yang hingga kini belum diketahui adalah berapa banyak dari sekitar 97 pekerja yang tidak melanjutkan kontrak tersebut merupakan warga Kabupaten Purwakarta.

Data tersebut menjadi penting, mengingat persoalan ketenagakerjaan di perusahaan yang beroperasi di wilayah Purwakarta juga berkaitan dengan dampaknya terhadap masyarakat dan tenaga kerja lokal.

Disnakertrans Purwakarta menyatakan akan terus melakukan langkah-langkah proaktif untuk memastikan apabila proses tersebut benar-benar berujung pada berakhirnya hubungan kerja, seluruh hak normatif pekerja tetap dipenuhi dan diselesaikan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Isu Perubahan Manajemen Belum Terkonfirmasi

Sementara itu, informasi yang berkembang di masyarakat menyebutkan bahwa tidak dilanjutkannya kontrak sejumlah pekerja tersebut berkaitan dengan adanya perubahan pengelolaan/manajemen rumah sakit dari RS Abdul Radjak.

Namun demikian, informasi tersebut belum terkonfirmasi secara resmi kepada pihak-pihak terkait. Karena itu, informasi mengenai perubahan manajemen tersebut belum dapat dijadikan sebagai dasar untuk menyimpulkan penyebab tidak dilanjutkannya kontrak para pekerja.

Hingga berita ini ditayangkan, pihak manajemen RS Abdul Radjak Purwakarta belum memberikan keterangan resmi kepada media warta.in mengenai persoalan tersebut, termasuk jumlah pasti pekerja yang terdampak, alasan tidak dilanjutkannya kontrak, mekanisme assessment, serta langkah manajemen terkait pemenuhan hak-hak pekerja.

Redaksi warta.in tetap membuka ruang bagi pihak manajemen RS Abdul Radjak maupun pihak terkait lainnya untuk memberikan klarifikasi dan keterangan resmi sebagai bagian dari prinsip keberimbangan dalam pemberitaan. (ds)

Dari Cahaya Obor Ke Panggung Wisata. Hatoguan, Mengenang Opera Batak Di Tano Ponggol

0

Pangururan, warta.in – Ada kenangan masa lalu yang mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang, tetapi menjadi sangat berharga bagi mereka yang pernah mengalaminya.

 Salah satunya adalah Opera Batak, pertunjukan seni yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di berbagai kampung di sekitar Tao Toba.

 Bagi generasi tua, Opera Batak bukan sekadar tontonan. Di dalamnya bertemu seni peran, musik, nyanyian, tarian, cerita, humor, sekaligus kehidupan sosial masyarakat kampung.

 Pada zamannya, ketika hiburan modern belum seperti sekarang, kehadiran Opera Batak mampu mengumpulkan masyarakat dalam satu tempat.

 Opera Batak di Bawah Cahaya Obor

 Menurut cerita dan kenangan para tetua, pertunjukan Opera Batak dahulu kerap digelar pada malam hari dengan penerangan yang sangat sederhana.

 Obor dari bambu menjadi salah satu sumber penerangan.

 Bayangkan suasana sebuah kampung pada malam hari. Ketika hari mulai gelap, masyarakat berdatangan. Cahaya obor menerangi tempat pertunjukan, sementara dari panggung terdengar suara musik tradisional, nyanyian dan dialog para pemain.

 Pertunjukan dapat berlangsung hingga malam.

 Bagi masyarakat pada masa itu, suasana tersebut tentu memiliki daya tarik tersendiri. Bukan hanya karena cerita yang dimainkan, tetapi juga karena pertunjukan menjadi ruang berkumpul dan bersosialisasi.

 Memasuki era sekitar 1980-an, Opera Batak masih menjadi salah satu bentuk hiburan yang menarik perhatian masyarakat, termasuk kaum muda.

 Kelompok seni dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dan memperkenalkan cerita serta kesenian kepada masyarakat di kampung yang mereka datangi.

 Kenangan Masa Kanak-Kanak di Tano Ponggol

 Saya sendiri masih menyimpan sedikit kenangan tentang suasana Opera Batak pada masa itu.

 Saat itu saya masih berusia sekitar lima atau enam tahun. Usia yang masih sangat kecil, tetapi beberapa hal dari pertunjukan tersebut ternyata melekat dalam ingatan.

 Saya mulai mengenal berbagai perangkat musik tradisional Batak yang digunakan dalam pertunjukan, seperti kecapi, tagading, ogung, seruling dan garantung.

 Salah satu nama pelakon yang masih saya ingat adalah Nurmala. Sepanjang ingatan saya, ia merupakan salah satu pelakon yang tampil dalam pertunjukan Opera Batak pada masa itu.

 Nurmala, kalau ingatan saya tidak keliru, bukan hanya tampil berakting, tetapi juga memiliki kemampuan bernyanyi.

 Ada pula sebuah lagu yang hingga kini masih samar-samar melekat dalam ingatan saya, dengan judul atau penggalan lirik yang saya ingat sebagai “Poltak Bulan Tula Massai Torang.”

 Saya tidak ingin memastikan kembali detail nama maupun judul lagu tersebut sebagai fakta sejarah tanpa sumber yang lebih kuat. Namun, justru di situlah kekuatan sebuah kenangan masa kecil: beberapa bagian mungkin sudah samar, tetapi suasananya masih terasa.

 Salah satu lokasi yang masih terbayang dalam ingatan saya berada di sekitar alur Tano Ponggol, tepatnya di kawasan yang dahulu dikenal sebagai parjagal biang Naibaho.

 Kini tentu banyak yang telah berubah.

 Namun nama-nama, suara musik, cahaya obor dan keramaian masyarakat pada malam pertunjukan masih menjadi bagian dari memori yang sulit dilupakan.

 Opera Batak dan Tradisi Martandang

 Opera Batak pada masa itu juga hadir di tengah kehidupan masyarakat yang masih kuat dengan adat dan tradisi.

 Bagi kaum muda, dikenal pula tradisi martandang—berkunjung dan bersosialisasi dari satu kampung ke kampung lainnya. Dalam kehidupan sosial masyarakat Batak masa itu, perjumpaan antarkampung menjadi bagian dari ruang pergaulan anak muda, termasuk dalam proses mencari rokkap, atau pasangan hidup.

 Karena itu, sebuah pertunjukan Opera Batak sesungguhnya bukan hanya tempat menonton.

 Masyarakat bertemu.

Anak-anak bermain.

Orang tua berbincang.

Kaum muda berkenalan.

Musik dimainkan.

Cerita disampaikan.

Dan masyarakat dari kampung yang berbeda dapat berkumpul dalam satu suasana.

 Dengan demikian, Opera Batak memiliki fungsi sosial yang lebih luas daripada sekadar hiburan. Ia menjadi salah satu ruang perjumpaan masyarakat.

 Dari Hiburan Kampung Menjadi Potensi Atraksi Budaya

 Zaman kemudian berubah.

Teknologi hiburan berkembang. Televisi, telepon pintar dan media digital mengambil sebagian besar ruang hiburan yang dahulu diisi pertunjukan tradisional.

Tempat-tempat yang dahulu menjadi lokasi berkumpul masyarakat pun mengalami perubahan.

 Kawasan Tano Ponggol dan berbagai kawasan di sekitar Tao Toba kini dikenal sebagai bagian dari ruang wisata Samosir.

Di sinilah muncul sebuah pertanyaan penting:

Apakah Opera Batak hanya akan menjadi cerita masa lalu, atau dapat kembali hadir di tengah kehidupan masyarakat sekarang?

 Pertanyaan tersebut penting karena wisata tidak hanya berbicara tentang pemandangan alam.

 Wisatawan juga mencari pengalaman budaya.

 Mereka ingin mendengar musik tradisional, mengetahui cerita masyarakat, melihat kesenian lokal dan memahami bagaimana sebuah komunitas mempertahankan identitasnya.

 Dalam konteks itulah Opera Batak memiliki peluang untuk kembali diberi ruang.

 Menghidupkan Kembali Opera Batak di Samosir

 Pemerintah Kabupaten Samosir bersama pelaku seni, komunitas budaya dan generasi muda dapat mempertimbangkan Opera Batak sebagai salah satu bentuk atraksi seni budaya.

 Konsepnya tentu tidak harus sama persis dengan pertunjukan masa lalu.

 Teknologi panggung boleh berkembang. Tata cahaya boleh modern. Tempat pertunjukan boleh disesuaikan dengan kebutuhan wisata.

 Tetapi identitas dan ruh keseniannya harus tetap dijaga.

 Generasi muda dapat dilibatkan untuk mempelajari musik tradisional seperti tagading, ogung, garantung, kecapi dan seruling. Mereka juga dapat belajar seni peran, bernyanyi serta menggali cerita-cerita yang bersumber dari kehidupan masyarakat Batak.

 Dengan cara seperti itu, Opera Batak tidak berhenti sebagai dokumentasi masa lalu.

 Ia dapat menjadi ruang pewarisan budaya.

 Jangan Sampai Opera Batak Hanya Tinggal Cerita

 Kebudayaan tidak akan bertahan hanya karena dituliskan dalam buku atau diceritakan oleh orang tua kepada anak-anaknya.

 Kebudayaan akan hidup ketika dipelajari, dimainkan, dipertunjukkan dan diwariskan.

 Dahulu masyarakat berkumpul di bawah cahaya obor untuk menyaksikan Opera Batak.

Kini, mungkin waktunya generasi baru kembali mendengar suara ogung dan tagading di tepi Tao Toba.

 Cahaya panggung boleh menggantikan cahaya obor.

 Peralatan pertujukan boleh menjadi lebih modern.

 Tetapi cerita, musik dan identitas budayanya jangan sampai hilang.

 Samosir memiliki alam.

Tao Toba memiliki sejarah.

Masyarakat Batak memiliki adat dan tradisi.

 Dan Opera Batak adalah salah satu bagian dari warisan seni yang dapat menceritakan semuanya melalui panggung.

 Mungkin suatu hari nanti, di tepi Tao Toba, suara ogung dan tagading kembali terdengar.

 Bukan sekadar untuk mengenang masa lalu.

 Tetapi agar anak cucu dapat melihat sendiri bahwa budaya leluhur masih hidup di tanah kelahirannya.

 Sebab ketika sebuah kebudayaan dirawat dan diwariskan, ia tidak lagi hanya menjadi kenangan.

 Ia menjadi identitas, pengetahuan dan kekuatan budaya bagi masa depan Samosir (Hatoguan Sitanggang, Pemerhati Adat & Budaya Batak di Pangururan)

🌾Tepat Sasaran dan Tertib, Ratusan KPM di Muara Dua Tanah Abang Rasakan Manfaat Bantuan Pangan Nasional🌾 

0

Warta.in//PALI, 28 September 2026 – Ratusan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Desa Muara Dua, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), kini dapat bernapas lega. Pemerintah Desa Muara Dua sukses dan kondusif menyalurkan bantuan pangan beras dari Badan Urusan Logistik (Bulog) yang bekerja sama dengan Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI).

Kegiatan yang berlangsung di kantor desa setempat tersebut berjalan dengan sangat teratur, tertib, dan kondusif, meskipun antusiasme warga yang datang mengantre sangat tinggi sejak pagi hari. Demi memastikan proses pendistribusian berjalan aman dan tanpa kendala, pihak kepolisian setempat turut memberikan pengamanan melekat. Tampak hadir di lokasi, anggota Kepolisian (Polri), Pak Beni Arshal, yang dengan sigap memantau jalannya antrean warga sekaligus memastikan bahwa seluruh bantuan jatuh ke tangan yang berhak.

Apresiasi dari Pemerintah Desa, Kepala Desa Muara Dua, Winsa Obeni, yang memantau langsung jalannya pembagian, menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas terlaksananya program ini. Beliau menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Pusat, Kemensos RI, Bulog, serta Pemerintah Kabupaten PALI atas perhatian nyata yang diberikan kepada masyarakatnya.

“Kami atas nama Pemerintah Desa Muara Dua sangat berterima kasih kepada pemerintah pusat dan daerah. Bantuan pangan beras Bulog ini hadir di waktu yang sangat tepat. Dengan adanya bantuan ini, konsumsi pokok masyarakat kami menjadi sangat terbantu dan aman untuk jenjang beberapa minggu ke depan,” ujar Winsa Obeni di sela-sela kegiatan.

Ia juga menambahkan bahwa pihak desa memastikan seluruh penerima manfaat yang datang telah melalui proses verifikasi yang ketat sesuai dengan data Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang valid, sehingga tidak ada tumpang tindih atau salah sasaran.

Rasa Syukur salah satu Warga ibu murina Penerima Manfaat Kegembiraan tidak mampu disembunyikan oleh para warga yang didominasi oleh ibu-ibu dan lansia saat menerima karung beras berlogo ketahanan pangan tersebut. Salah satu warga setempat saat diwawancarai oleh awak media mengungkapkan rasa lega dan syukurnya atas kepedulian pemerintah.

“Alhamdulillah, kami sangat berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten PALI dan Pemerintah Pusat yang sudah menurunkan bantuan pangan ini. Di tengah kondisi ekonomi yang menantang, bantuan beras ini sangat berarti bagi dapur kami di rumah. Rasanya betul-betul meringankan beban,” ungkapnya dengan wajah sumringah.

Di sisi lain, staf kepanitiaan desa yang bertugas membagikan beras juga menyatakan komitmen penuh mereka untuk melayani warga dengan maksimal. Perwakilan panitia menegaskan bahwa mereka dengan senang hati melayani antrean warga dari awal hingga akhir, memastikan setiap warga yang terdaftar dalam KPM pulang membawa haknya dengan senyuman.

Berkat sinergi yang kuat antara aparatur desa, pihak kepolisian, panitia, dan kedisiplinan warga yang mengantre dengan sabar, penyaluran bantuan pangan nasional di Desa Muara Dua ini dapat menjadi percontohan distribusi bantuan yang rapi, transparan, dan tepat sasaran di wilayah Kecamatan Tanah Abang.

 

Rilis: Randi