29.8 C
Jakarta
Rabu, April 29, 2026
Beranda blog

Polsek Ngimbang Gelar Patroli Dan Pengecekan Antisipasi Pohon Tumbang di Daerah Rawan Bencana

0

Polsek Ngimbang Gelar Patroli Dan Pengecekan Antisipasi Pohon Tumbang di Daerah Rawan Bencana

LAMONGAN//Warta.in –Dalam Rangka bentuk kepedulian polri dalam melayani masyarakat dengan sepenuh hati kali ini jajaran personil Polsek Ngimbang giat patroli pemantauan dan antisipasi Pohon Tumbang Guna cegah gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat di jalan Raya Babat – Jombang di Kecamatan Ngimbang Kabupaten Lamongan, Selasa (28/04/2026) pukul 09.00 wib

Patroli pemantauan pohon tumbang ini di laksanakan oleh anggota jaga Polsek Ngimbang Aiptu Suhadi dan Aipda Afis
untuk mengecek dan memantau kondisi pohon di pinggir jalan antisipasi pohon tumbang agar tidak mengganggu kamtibmas dan tetap kondusif di wilayah Kecamatan Ngimbang

Untuk semua masyarakat di harapkan tetap Waspada apabila waktu Hujan dan Angin untuk menghindari pohon tumbang segera melaporkan ke Polsek atau Damkar setempat

Sementara Kapolsek Ngimbang Iptu I Wayan Sumantra, S.H menjelaskan “Bahwa kegiatan Patroli dan pemantauan pohon tumbang tersebut untuk antisipasi terjadinya bencana alam tumbangnya pohon saat hujan dan angin ribut apabila pengendara melintas dan masyarakat memberikan himbauan kamtibmas juga memberikan himbauan agar selalu menjaga kebersihan yaitu dengan mematuhi Peraturan lalu lintas, ”Pesan Kapolsek Ngimbang

Sehingga masyarakat merasakan kenyamanan dengan pelayanan dan kehadiran polisi ditengah – tengah masyarakat agar kondisi wilayah Ngimbang Aman dan kondusif (roy)

0

Polsek Ngimbang Gelar Patroli Dan Pengecekan Antisipasi Pohon Tumbang di Daerah Rawan Bencana

LAMONGAN//Warta.in –Dalam Rangka bentuk kepedulian polri dalam melayani masyarakat dengan sepenuh hati kali ini jajaran personil Polsek Ngimbang giat patroli pemantauan dan antisipasi Pohon Tumbang Guna cegah gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat di jalan Raya Babat – Jombang di Kecamatan Ngimbang Kabupaten Lamongan, Selasa (28/04/2026) pukul 09.00 wib

Patroli pemantauan pohon tumbang ini di laksanakan oleh anggota jaga Polsek Ngimbang Aiptu Suhadi dan Aipda Afis
untuk mengecek dan memantau kondisi pohon di pinggir jalan antisipasi pohon tumbang agar tidak mengganggu kamtibmas dan tetap kondusif di wilayah Kecamatan Ngimbang

Untuk semua masyarakat di harapkan tetap Waspada apabila waktu Hujan dan Angin untuk menghindari pohon tumbang segera melaporkan ke Polsek atau Damkar setempat

Sementara Kapolsek Ngimbang Iptu I Wayan Sumantra, S.H menjelaskan “Bahwa kegiatan Patroli dan pemantauan pohon tumbang tersebut untuk antisipasi terjadinya bencana alam tumbangnya pohon saat hujan dan angin ribut apabila pengendara melintas dan masyarakat memberikan himbauan kamtibmas juga memberikan himbauan agar selalu menjaga kebersihan yaitu dengan mematuhi Peraturan lalu lintas, ”Pesan Kapolsek Ngimbang

Sehingga masyarakat merasakan kenyamanan dengan pelayanan dan kehadiran polisi ditengah – tengah masyarakat agar kondisi wilayah Ngimbang Aman dan kondusif (roy)

Polsek Ngimbang Gelar Patroli Harkamtibmas Guna Cegah Kriminalitas Dan Premanisme di Siang Hari

0

Personil Polsek Ngimbang Gelar Patroli Harkamtibmas Guna Cegah Kriminalitas Dan Premanisme di Siang Hari

LAMONGAN//Warta.in –Anggota jaga Polsek Ngimbang hari ini telah melaksanakan kegiatan Patroli Harkamtibmas Secara dialogis guna cegah kriminalitas dan tangkal 4 C di wilayah Hukum Polsek Ngimbang, Selasa siang (28/04/2026)pukul 10.00 Wib sampai selesai

Dalam Patroli Harkamtibmas ini di dilaksanakan oleh Anggota jaga Polsek Ngimbang Aiptu Suhadi dan  Apda Afis dengan sasaran Patroli jalan poros Babat – jombang, Pabrik rokok R3, SPBU Ngimbang, Gudang Sampurna dan ATM BNI Ngimbang dan masyarakat Ngimbang yang ada di Kecamatan Ngimbang.

Kapolsek Ngimbang Iptu I Wayan Sumantra, S.H, patroli Harkamtibmas ini di laksanakan guna cegah dan antisipasi kejahatan dan premanisme untuk menjaga harkamtibmas guna cegah kriminalitas dan tangkal 4C di wilayah Kecamatan Ngimbang dan menyampaikan pesan – pesan Keamanan dan ketertiban masyarakat khususnya kepada pengamanan Swakarsa atau security di Wilayah Ngimbang selalu waspada dengan situasi yg berkembang di sekitarnya,ungkapnya

Kapolsek Ngimbang berkometmen dengan Secara rutin patro Obyek Vital di Wilayah Ngimbang sehingga tetap aman dan kondusif,pungkasnya(roy)

Polsek Ngimbang Gelar Patroli Blue Light Guna Menjaga Siskamtibmas Di Daerah Rawan Kriminal

0

Polsek Ngimbang Gelar Patroli Blue Light Guna Menjaga Siskamtibmas Di Daerah Rawan Kriminal

LAMONGAN//Warta.in – Peran Polsek Ngimbang sebagai ujung tombak Polri di tengah masyarakat terus diperkuat. Hal ini sejalan dengan arahan Kapolri Listyo Sigit Prabowo yang menekankan pentingnya pengembangan pengamanan siskamtibmas dalam membangun kemitraan dengan masyarakat serta melakukan deteksi dini terhadap potensi gangguan keamanan.

Polsek Ngimbang sendiri, peran pengamanan sangat di butuhkan selain pengama swakarsa s
Kondisi ini Polri harus bisa mengayomi ratusan bahkan ribuan warga di wilayanya Seperti yang terjadi di Kecamatan Ngimbang secara rutin di laksanakan Patroli Blue Light, Selasa (28/04/2026)

Kegiatan di laksanakan pukul 23.00 wib oleh petugas jaga Polsek Ngimbang Aiptu Suhadi dan Aiptu Hadi Gunarto, S.H,untuk menyasar daerah- daerah rawan kriminalitas di Jalan Poros Jombang – Babat, SPBU Ngimban, Pabrik Rokok R3 Ngimbang dan Ruko depan RSUD Ngimbang

Kapolsek Ngimbang Iptu IWayan Sumantra, S.H, mengatakan bahwa menjaga keamanan lingkungan tidak bisa hanya mengandalkan aparat kepolisian. Peran aktif masyarakat sangat dibutuhkan agar situasi kamtibmas tetap aman dan kondusif.

“Jumlah personel tentu terbatas, sehingga keamanan lingkungan akan lebih kuat jika masyarakat ikut berperan. Kekuatan terbesar sebenarnya ada pada masyarakat itu sendiri untuk menjaga lingkungannya,” ujarnya.

Menurutnya, konsep Polri saat ini tidak hanya berperan sebagai penegak hukum, tetapi juga hadir dengan pendekatan humanis yang dekat dengan masyarakat.

Polri dituntut menjadi garda terdepan yang serba bisa, mampu berkomunikasi, menyelesaikan masalah di masyarakat, hingga menjadi jembatan antara warga dan kepolisian.

Iptu IWayan Sumantra, S.H, juga mengimbau warga Masyarakat untuk kembali menghidupkan budaya gotong royong dalam menjaga keamanan lingkungan. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah dengan memasang portal di pintu masuk kampung serta mengaktifkan kembali kegiatan ronda atau siskamling.

“Kalau siskamling hidup dan warga saling peduli, pelaku kejahatan seperti pencuri kendaraan bermotor tentu akan berpikir dua kali. Lingkungan yang kompak biasanya membuat pelaku kejahatan langsung ciut atau ‘kena mental’,” jelasnya.

Dengan kebersamaan antara masyarakat dan kepolisian, diharapkan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di Ngimbang tetap terjaga, sehingga warga dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan rasa aman dan nyaman, pungkasnya (roy)

TAROMBO OPUNG TONGAM SITANGGANG SIPUKKA LUMBAN SILO PANGURURAN

0

Samosir, Opung Guru Ambosa Sitanggang Silo dan istrinya Opung boru Naibaho Siagian berasal dari Dolok Sohaliapan Kenegerian Buhit yang memiliki anak bernama Opung Tongam Sitanggang Silo yang lahir sekitar 170 tahun an lalu. Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, Opung Tongam Sitanggang Silo turun dari Dolok Sohaliapan Kenegerian Buhit (sekarang masuk Desa Parlondut Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir) dan membuka tempat baru yang kemudian dinamai Lumban Silo (sekarang masuk Desa Parsaoran 1 Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir). Disitulah Opung Tongam Sitanggang Silo dan istrinya Opung boru Sihotang menjalani kehidupannya bersama keturunannya.

Opung Tongam Sitanggang memiliki 2 orang anak yaitu Sindak Sitanggang dan Filipus Sitanggang (selanjutnya Filipus Sitanggang dan istrinya boru Samosir, merantau ke Perdagangan). Huta Lumban Silo pun dihuni oleh keturunan Sindak Sitanggang dan istrinya boru Nainggolan.

Sebagai pembuka tempat baru (Sipukka Lumban), Opung Tongam mendirikan 1 (satu) rumah kayu ciri khas rumah Batak, yang menjadi tanda bahwa Opung Tongam lah yang pertama menjadikan tempat tersebut sebagai tempat tinggalnya dan sampai kini Rumah Batak itu tetap ada di Lumban Silo.

Generasi kedua dari Opung Tongam Sitanggang adalah Sindak Sitanggang dan Filipus Sitanggang

Generasi ketiga yang merupakan keturunan dari Sindak Sitanggang & istrinya boru Nainggolan adalah : (1) Garis Sitanggang yang menikah dengan boru Nainggolan, (2) Dapot Sitanggang yang menikah dengan boru Nainggolan, (3) Mangihut Sitanggang yang menikah dengan boru Nainggolan, (4) Ramos Sitanggang yang menikah dengan beru Sembiring

Generasi keempat yang merupakan keturunan dari Garis Sitanggang & boru Nainggolan adalah : (1) Hotma Sitanggang yang menikah dengan boru Hombing, (2) Sonang Sitanggang yang menikah dengan boru Sigiro

Generasi keempat yang merupakan keturunan dari Dapot Sitanggang & boru Nainggolan adalah : (1) Karudin Sitanggang yang menikah dengan boru Girsang (2) Tahi Sitanggang yang menikah dengan boru Silalahi

Generasi keempat yang merupakan keturunan dari Mangihut Sitanggang & boru Nainggolan adalah : (1) Sudung Sitanggang yang menikah dengan boru Nainggolan, (2) Joni Sitanggang yang menikah dengan boru Sinurat, (3) Gibson Sitanggang yang menikah dengan boru Nainggolan, (4) Polman Sitanggang yang menikah dengan boru Gultom (5) Edu Sitanggang yang menikah dengan boru Pandiangan

Generasi keempat yang merupakan keturunan dari Ramos Sitanggang & boru Sembiring adalah : (1) Syamsudin Sitanggang yang menikah dengan boru Nainggolan, (2) Johannes Sitanggang

Generasi kelima yang merupakan garis pertama yang menjadi sijunjung baringin adalah keturunan dari Hotma Sitanggang & boru Hombing yang bernama Darwin Sitanggang yang menikah dengan boru Marpaung. Darwin Sitanggang mempunyai 2 orang adik lelaki yaitu Bukti & Serasi

Generasi ketiga yang merupakan keturunan dari Filipus Sitanggang & istrinya boru Samosir adalah : (1) Daram Sitanggang yang menikah dengan boru Sitinjak, (2) Karis Sitanggang yang menikah dengan boru Samosir, (3) Elly Sitanggang yang menikah dengan boru Manurung (4) Dangse Sitanggang yang menikah dengan boru Parhusip

Generasi keempat yang merupakan keturunan dari Daram Sitanggang & boru Sitinjak adalah : (1) Morlan Sitanggang yang menikah dengan boru Nainggolan, (2) Parlin Sitanggang yang menikah dengan boru Naibaho. (3) Polber Sitanggang yang menikah dengan boru Silalahi, (4) Mangana Dongan Sitanggang yang menikah dengan boru Manjuntak
Generasi keempat yang merupakan keturunan dari Karis Sitanggang & boru Samosir adalah : (1) Moklen Sitanggang yang menikah dengan boru Sianipar, (2) Artimes Sitanggang yang menikah dengan boru Samosir

Generasi keempat yang merupakan keturunan dari Elly Sitanggang & boru Manurung adalah : (1) Jonny Sitanggang yang menikah dengan boru Pasaribu, (2) Rudi Hartono Sitanggang yang menikah dengan boru Sitorus, (3) Gunawan Sitanggang yang menikah dengan boru Hutabarat

Generasi keempat yang merupakan keturunan dari Dangse Sitanggang & boru Parhusip adalah : (1) Maruba Sitanggang yang menikah dengan boru Marpaung, (2) Rinto Sitanggang yang menikah dengan boru Parhusip, (3) Riduanto Sitanggang yang menikah dengan boru Lumban Tungkup, (4) Martono Sitanggang yang menikah dengan boru samosir (5) Ermis Sitanggang yang menikah dengan boru Lumban Siantar

Hukum adat suku Batak mengikuti garis darah lelaki yang membawa marga bagi keturunannya, sehingga anak anak perempuan tidk dimasukkan dalam silsilah keluarga. Begitu jugalah di silsilah keluarga Opung Tongam Sitanggang Silo ini, hanya mencatat nama nama anak cucu cicit lelaki nya saja

Rumah Batak yang ada di Lumban Silo merupakan peninggalan Opung Tongam Sitanggang. Kami tetap merawat Rumah Batak tersebut karena itu merupakan pertanda bahwa Opung Tongam Sitanggang lah yang menjadi Sipukka di Lumban Silo. Disitu dibangun beberapa rumah kerabat kami yang awalnya kakek mereka menumpang tinggal di Lumban Silo ini

Kami sudah menanyakan langsung melalui surat dari Kepala Desa Parsaoran 1 kepada Ketua Pengadilan Negeri Balige pada awal Januari 1026 lalu dan diperoleh keterangan bahwa Lumban Silo tidak tercatat di Boekoe Radja Bius Hoendoelan Pangururan, yang artinya Lumban Silo hanya merupakan kampug kecil yang buka oleh opung kami Opung Tongam Sitanggang dan dinamai Lumban Silo. Sebagai bukti nyata adalah peninggalan berupa Rumah Batak dan kuburan yang ada di Lumban Silo. Walaupun hampir semua keturunan Opung Tongam Sitanggang merantau, Lumban Silo tetap merupakan kampung kami kerturunan Opung Tongam, tegas Jonni Sitanggang yang menetap di Kota Tebing Tinggi (red)

PRODUK UMKM PT SIMÀRMATA ULOS di SAMOSIR BERUPA STOLA ULOS BERBORDIR

0

Samosir, Awalnya Ulos hanya digunakan pada acara adat di kalangan suku Batak. Dengan ditetapkannya Kabupaten Samosir sebagai destinasi super prioritas pariwisata, maka turis turis lokal mulai membanjiri Samosir disaat liburan. Di kampung kelahiran ayah saya OH Simarmata SH yaitu Desa Lumban Suhi Suhi Toruan banyak kaum perempuan yang memiliki ketrampilan bertenun ulos. Ukuran ulos rata rata 2 meter × 1 meter. Agar ulos dapat digunakan sebagai oleh oleh khas dari Samosir, maka para pelaku umkm disini membuat kreasi ulos berupa STOLA ULOS yaitu semacam syal ato slempang yang ditambahi pernik pernik untuk mempercantik penampilan ketika menggunakan stola ulos

Melalui PT Simarmata Wendeilyna Ulos yang merupakan badan hukum (PT perorangan) dan Simarmata Wendeilyna Totebaggoni yang sudah mendapat HAKI, saya memproduksi Stola Ulos dari berbagai ragam ulos, antara lain ulos ragi idup, ulos ragi hotang, ulos sadum. Ukuran stola ulos 18 cm × 150 cm. Umumnya pesanan stola ulos itu dari komunitas marga atau keluarga, sehingga diminta agar ada tulisan berbordir. Dipinggir kiri kanan nya saya buat renda emas dan di bagian bawah saya buat rumbai emas sehingga tampak menyala dan terkesan mewah. Harga satuan stola ulos Rp 150.000,- Waktu pembuatan sekitar 2 minggu dan dapat dipesan dari seluruh kota.

Di Samosir ini hanya ada 2 pembuat bordir, sehingga kadang kala saya harus ke P Siantar atau Medan untuk membuat bordir. Begitu juga untuk renda dan rumbainya, sangat terbatas disini. Biasanya saya membeli untuk persediaan dari Pasar Sambu Medan. Saya berharap di tahun 2026 ini tren pemakaian stola ulos karya warga Samosir tetap diminati konsumen. Saya tidak menggunakan marketplace, karena saya terima order dalam pesanan banyak, sehingga lebih nyaman jika menerima konsumen langsung menghubungi saya. Bagi yang berminat untuk memesan stola ulos ke PT Simarmata Ulos atau ke Simarmata Wendeilyna Totebaggoni di Desa Lumban Suhi Suhi Toruan Dusun Alngit Kec Pangururan Kab Samosir, dapat menghubungi wa di 082124118373 demikian disampaikan Dr drh Rotua Wendeilyna Simarmata MSi CMed yang biasa disapa Wendy yang juga memiliki kompetensi sertifikasi BNSP sebagai PENDAMPING UMKM (red)

Dorong Keadilan Iklim dan Kepemimpinan Perempuan, Dialog ASEAN Angkat Pengalaman Aceh

0

Dorong Keadilan Iklim dan Kepemimpinan Perempuan, Dialog ASEAN Angkat Pengalaman Aceh

Banda Aceh – Perubahan iklim dan bencana ekologis di Asia Tenggara semakin menunjukkan bahwa krisis yang terjadi tidak hanya bersifat alamiah, tetapi juga berakar pada ketimpangan struktural dalam tata kelola lingkungan, ekonomi politik, dan relasi kekuasaan. Menjawab tantangan tersebut, awal tahun 2026 ini, The Habibie Center (THC) bekerja sama dengan Heinrich Böll Stiftung (HBS) Southeast Asia menyelenggarakan dialog regional level ASEAN di empat kota, yaitu Banda Aceh, Jogjakarta, Makassar, dan Jakarta sebagai bagian dari upaya mendorong tata kelola bencana yang lebih inklusif dan berkeadilan.

Di Banda Aceh, bermitra dengan Fakultas Hukum dan Pusat Riset Perubahan Iklim Aceh, penyelenggaraan Talking ASEAN and Regional Dialogue 2026 #1 memiliki makna yang sangat simbolik dan strategis karena bertepatan dengan dua momentum penting, yakni Hari Kartini (21 April) dan Hari Bumi (22 April). Momentum ini menegaskan keterkaitan erat antara perjuangan emansipasi perempuan dan agenda global keadilan lingkungan.

Bertempat di Aula Fakultas Hukum USK, Selasa 21 April 2026, kegiatan ini mengusung tema “Reframing Disaster Response and Climate Justice in ASEAN: Women’s Protection and Just Recovery in Flood-Affected Aceh” dengan menempatkan Aceh sebagai ruang strategis untuk memahami persilangan antara pasca-konflik, kerentanan bencana, dan ketidakadilan sosial-ekologis.
Aceh dipandang sebagai laboratorium penting karena menghadapi tiga tantangan utama: warisan konflik bersenjata, tingginya paparan terhadap bencana, serta ketimpangan dalam distribusi sumber daya dan proses pemulihan.

Dalam praktiknya, pendekatan penanganan bencana yang masih bersifat teknokratis kerap mengabaikan pengalaman nyata masyarakat, terutama perempuan. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah pembicara terkemuka, yaitu Dr. June Mary Rubis (Global Council Co-Chair for Documenting Territories, ICCA Consortium; Research Fellow, Macquarie University), Ir. Suraiya Kamaruzzaman, S.T., M.T. (Head of Aceh Climate Change Initiative, Universitas Syiah Kuala), Rahmiana Rahman, M.Pd. (Direktur Rumah Relawan Remaja), serta Dr. Debbie Affianty (Associate Fellow The Habibie Center dan Presidium Nasional Jaringan Women, Peace and Security Indonesia).

Diskusi dipandu oleh Julia Novrita, Ph.D selaku Direktur Program dan Pengembangan The Habibie Center. Dalam sambutannya, Direktur The Habibie Center menegaskan bahwa momentum Hari Kartini dan Hari Bumi menjadi pengingat bahwa agenda keadilan iklim tidak dapat dipisahkan dari perjuangan kesetaraan gender, sekaligus pentingnya menjembatani pengalaman lokal dengan kebijakan regional ASEAN.

Sementara itu, Dekan Fakultas Hukum USK dalam pembukaannya menyampaikan bahwa Aceh memiliki pengalaman historis dan sosial yang kaya sebagai ruang pembelajaran global dalam isu bencana, perdamaian, dan pembangunan berkelanjutan. Beliau juga menekankan pentingnya pendekatan multidisipliner dalam merespons kompleksitas keadilan iklim dan perlindungan kelompok rentan.

Forum dialog yang dihadiri lebih dari 50 perwakilan dari berbagai kalangan, termasuk pemerintah, akademisi, mahasiswa dan praktisi membahas sejumlah isu kunci, seperti perubahan batas wilayah pasca-bencana, ketimpangan gender dalam proses pemulihan, serta pentingnya konsep just recovery sebagai pendekatan alternatif yang lebih adil dan berorientasi pada keadilan sosial. Diskusi juga menekankan bahwa perempuan tidak hanya sebagai kelompok rentan, tetapi juga sebagai aktor kunci dalam kepemimpinan, pembangunan perdamaian, dan penguatan ketahanan komunitas.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, diselenggarakan pula lokakarya partisipatif yang melibatkan komunitas local, dipandu oleh Dr. Irfan Zikri dari Pusat Riset Perubahan Iklim Aceh. Melalui pendekatan berbasis pengalaman (lived experience), peserta bersama-sama memetakan persoalan dan merumuskan rekomendasi kebijakan yang kontekstual dan responsif gender.

Kegiatan ini diharapkan menghasilkan masukan strategis bagi penguatan kebijakan ASEAN, sekaligus mempertegas bahwa masa depan tata kelola bencana dan lingkungan tidak hanya ditentukan oleh negara, tetapi juga oleh sejauh mana suara perempuan dan komunitas lokal diakui serta diintegrasikan dalam proses pengambilan keputusan. (DJ/Red)

Sumber: The Habibie Center

*Tragedi di Balik Aroma Kopi: Jeritan Hati “Starling” Kuningan dalam Cengkeraman Pungli dan Kekerasan*

0

*Tragedi di Balik Aroma Kopi: Jeritan Hati “Starling” Kuningan dalam Cengkeraman Pungli dan Kekerasan*

Jakarta – Di bawah bayang-bayang gedung pencakar langit Jakarta Selatan, tepatnya di sepanjang Jalan Rasuna Said, Kuningan Timur, seorang perempuan telah menghabiskan 13 tahun hidupnya untuk menjajakan kopi keliling, atau yang akrab disapa “Starling”. Selama lebih dari satu dekade, Khusnul Khotimah (bukan nama sebenarnya) menjadikan panasnya aspal, guyuran hujan, serta debu jalanan sebagai kawan sehari-hari. Namun, di balik butiran keringat yang menghiasi wajahnya, tersimpan luka mendalam akibat penindasan sistematis oleh oknum yang seharusnya menegakkan aturan.

Bagi Khusnul, kerasnya hidup bukan hanya soal mencari rupiah, tetapi tentang bertahan menghadapi cemoohan, hinaan, hingga ancaman. Para pedagang kecil di kawasan elit Mega Kuningan kerap menjadi “sapi perah” bagi oknum Satpol PP. Pungutan liar (pungli) seolah menjadi pajak tidak resmi yang wajib dibayarkan jika ingin tetap menyambung hidup.

Khusnul menceritakan betapa berat beban yang dipikul para pedagang kaki lima (PKL). “Kami sadar berhenti di bahu jalan atau trotoar melanggar aturan, tapi kami juga terbebani oleh oknum yang melanggar hukum,” ungkapnya pilu. Ancaman penyitaan barang dagangan sering digunakan sebagai alat pemerasan. Bahkan, dalam keadaan menuntun sepeda sekalipun, oknum kerap mencegat hanya untuk meminta minuman atau rokok secara cuma-cuma, ditambah kewajiban “setoran” bulanan.

Setoran ini terorganisir dengan rapi. Ada yang dibayar melalui anggota di lapangan, ada pula yang langsung ditransfer ke rekening “Komandan” di tingkat kecamatan. Di kawasan Mega Kuningan saja, diperkirakan uang pungli mencapai Rp25 juta per bulan. Jika telat membayar, seperti saat musim hujan di bulan Januari yang menyulitkan pedagang, ancaman “obrak-abrik” dari oknum berinisial N dan E langsung menghantui.

*Viralitas yang Berujung Teror*

Keadilan sempat seolah akan datang ketika video pungli tersebut viral di media sosial. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Bukannya perbaikan sistem, Khusnul justru merasa “disatroni” dan dicari-cari oleh oknum Satpol PP dan perangkat kelurahan hingga ke rumah kontrakannya.

Awalnya, mereka datang dengan nada memohon. Demi menyelamatkan jabatan dan menghindari pemecatan, para oknum memberikan janji-janji manis: boleh berdagang di depan Kemenkes tanpa diusir dan bebas dari biaya bulanan, asalkan Khusnul memberikan video klarifikasi yang membantah adanya pungli. Namun, janji itu hanyalah “angin surga”.

Setelah Lebaran berlalu, perburuan terhadap Khusnul justru semakin intens. Ia merasa diintai dan menjadi target utama. “Pedagang lain dilewati, tapi hanya saya yang diusir dengan bengis,” tuturnya. Puncaknya terjadi pada Senin, 6 April 2026, ketika ia dikepung oleh delapan orang oknum berseragam yang bertindak sangat arogan.

Dalam sebuah insiden yang memilukan, Khusnul – seorang perempuan yang berjuang sendirian, mengalami kekerasan fisik. Ia mengaku mulutnya ditabok, dibekap, ditendang, hingga tangannya dipelintir hingga tersungkur dan sesak napas. Upaya warga sekitar dan pengemudi ojek daring untuk menolong pun dicegah oleh oknum tersebut. Tragisnya, mereka justru mencoba membalikkan fakta dengan merekam kejadian seolah-olah Khusnul ingin menyerang petugas dengan tusukan es batu.

*Perbudakan Modern dan Kejahatan HAM*

Melihat fenomena ini, Wilson Lalengke, seorang aktivis HAM internasional dan Ketua Umum PPWI, memberikan pernyataan keras. Ia menilai tindakan oknum Satpol PP tersebut telah melampaui batas kemanusiaan dan merusak marwah institusi negara.

“Apa yang dialami oleh ibu pedagang Starling ini adalah potret nyata perbudakan modern di tengah ibu kota. Sangat memuakkan melihat aparatur negara yang dibayar oleh pajak rakyat justru bertindak seperti ‘predator’ terhadap rakyat kecil yang sedang berjuang menyambung nyawa,” tegas Wilson Lalengke, Selasa, 28 April 2026.

Lebih lanjut, alumni PPRA-48 Lemahannas RI tahun 2026 itu menekankan bahwa pengeroyokan seorang perempuan oleh delapan orang petugas berseragam adalah pelanggaran berat terhadap prinsip Due Process of Law dan hak asasi manusia. “Mengintimidasi korban untuk melakukan klarifikasi palsu adalah kejahatan hukum. Pengeroyokan fisik terhadap seorang perempuan oleh sekelompok pria berseragam adalah tindakan pengecut yang tidak bisa dimaafkan. Dunia internasional harus melihat ini sebagai bentuk degradasi kemanusiaan di Indonesia. Saya menuntut pencopotan hingga proses pidana bagi semua oknum yang terlibat, termasuk komandan yang menerima aliran dana haram tersebut. Tidak boleh ada tempat bagi penindas rakyat kecil di negeri ber-Pancasila ini!” sebut Wilson Lalengke dengan nada berapi-api.

Kasus ini menjadi ujian bagi transparansi dan integritas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta serta Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan dalam mengawasi aparat di bawahnya. Rakyat kecil seperti Khusnul hanya ingin berdagang dengan tenang tanpa harus “menyembah” pada oknum yang korup. Jika hukum tumpul ke atas namun sangat tajam bagi pedagang kopi keliling, maka keadilan di negeri ini memang sedang dalam keadaan gawat darurat. (TIM/Red)

*Sultaf Restaurant Yogyakarta* *Restoran Masakan Pakistan & Yaman Terbaik di Sleman*

0

*Sultaf Restaurant Yogyakarta*
*Restoran Masakan Pakistan & Yaman Terbaik di Sleman*

_Jl. Harjosudiro No.129, Sanggrahan, Condongcatur, Sleman | 4,9/5 Google Reviews_

*Saat Rindu Masakan Timur Tengah Datang Tiba-tiba*

Pernahkah kamu duduk di warung makan biasa, memesan nasi goreng, tapi pikiranmu justru melayang jauh ke aroma rempah kebab yang mengepul? Atau tiba-tiba terbayang semangkuk nasi zurbiyan berbumbu khas Yaman – yang pernah kamu makan entah di mana? Kalau iya, berarti kamu butuh Sultaf Restaurant. Di tengah hiruk-pikuk Condongcatur, Sleman, ada satu restoran yang diam-diam menyimpan rasa otentik Pakistan dan Yaman tanpa perlu kamu beli tiket pesawat.

*Lebih dari Sekadar Tempat Makan*

Sultaf Restaurant bukan restoran sembarangan. Dengan rating 4,9 bintang di ulasan Google, tempat ini telah membuktikan diri sebagai salah satu destinasi kuliner terpercaya di kawasan Sleman. Beroperasi setiap hari dari pukul 12.00 hingga 21.30 WIB, restoran ini menyajikan cita rasa autentik Pakistan dan Yaman yang jarang ditemukan di Yogyakarta.

Begitu masuk, kamu langsung disambut oleh dekorasi yang hangat dan bersahaja – perpaduan nuansa Timur Tengah yang membuat siapa pun merasa nyaman. Tempat duduk outdoor tersedia bagi yang ingin menikmati suasana terbuka, sementara fasilitas Wi-Fi dan high chairs untuk si kecil menjadikan Sultaf pilihan yang ramah untuk keluarga.

*Mengapa Ini Penting Buat Kamu?*

Di era kuliner kekinian yang penuh dengan menu fusion dan foto-foodi belaka, Sultaf hadir dengan penawaran yang berbeda: keaslian rasa. Bagi warga Yogyakarta yang pernah tinggal atau bepergian ke kawasan Asia Selatan dan Timur Tengah, restoran ini adalah obat rindu yang paling mujarab. Dan bagi yang belum pernah mencicipi masakan Yaman atau Pakistan sama sekali? Ini adalah kesempatan emas untuk memperluas pengalaman kulinermu tanpa harus keluar dari kota.

Sultaf juga relevan bagi para pencari makan siang atau makan malam bersama rekan kerja, keluarga besar, maupun pasangan. Nuansanya yang hangat menjadikannya tempat yang cocok untuk obrolan santai maupun pertemuan semi-formal.

*Kisah di Balik Sepiring Nasi Biryani*

Bayangkan kamu tiba di Sultaf pada sore hari. Aroma kapulaga, kayu manis, dan jintan langsung menyambut dari pintu masuk. Kamu duduk, membuka menu, dan tersesat dengan cara yang menyenangkan di antara pilihan: nasi zurbiyan ayam yang dagingnya gugur dari tulang, roti canai yang renyah dan lembut sekaligus, atau mungkin hidangan kari Pakistan yang bumbunya meresap hingga ke tulang.

Ketika makanan datang, presentasinya sederhana tapi terhormat – tidak ada piring artistik yang berlebihan, hanya makanan yang percaya diri dengan rasanya sendiri. Setiap suapan membawa cerita: tentang ibu-ibu di Pakistan yang memasak dengan sabar berjam-jam, tentang pedagang di Sana’a yang menjaga resep turun-temurun. Di Sultaf, kamu tidak sekadar makan – kamu mendengar narasi budaya lewat setiap gigitan.

*Angka Tidak Pernah Bohong*

Rating 4,9 dari 5 bintang adalah pencapaian luar biasa di dunia kuliner yang kompetitif. Di ulasan Google yang terkumpul, konsistensi kualitas rasa, kebersihan, dan pelayanan menjadi poin yang paling banyak dipuji. Akun Instagram @sultafrestaurant dengan lebih dari 320 pengikut juga menunjukkan komunitas loyal yang terus tumbuh – bukan sekadar tren sesaat, melainkan bukti bahwa Sultaf telah berhasil membangun kepercayaan pelanggan secara organik.

Bahkan platform GoFood pun menjadikan Sultaf sebagai Super Partner – sebuah status yang hanya diberikan kepada mitra dengan performa dan penilaian terbaik. Ini bukan kebetulan; ini adalah hasil dari komitmen panjang terhadap kualitas.

*Menu Andalan Sultaf: Dari Chicken Biryani hingga Zurbiyan*

Sultaf menyusun menunya dengan cermat. Setiap hidangan mewakili satu wilayah, satu tradisi, dan satu cara memasak yang berbeda. Inilah yang membedakan restoran masakan Pakistan dan Yaman di Sleman ini dari tempat makan lainnya.

*Chicken Biryani – Rp39.000*

Nasi berbumbu harum yang dimasak bersama ayam empuk, disajikan dengan saus spesial. Chicken Biryani adalah hidangan paling dikenal dari dapur Pakistan – dan versi Sultaf tidak mengecewakan. Rempahnya terasa berlapis, bukan sekadar pewarna.

*White Karahi Chicken – Rp37.000*

Berbeda dari kari biasa, White Karahi Chicken menggunakan saus yogurt yang lembut sebagai basisnya, disajikan dengan 2 roti. Teksturnya creamy, aromanya ringan, dan rasanya membuktikan bahwa masakan Pakistan tidak selalu harus pedas untuk berkesan.

*Chicken Karahi – Rp35.000*

Ayam dimasak dengan tomat dan rempah khas, lalu disajikan dengan 2 roti. Ini adalah comfort food sejati dari dapur Pakistan – sederhana dalam tampilan, kompleks dalam rasa.

*Zurbiyan – Rp39.000*

Nasi khas Timur Tengah dengan ayam dan kentang, disajikan bersama saus spesial. Zurbiyan adalah hidangan yang berakar dari tradisi Yaman – lebih aromatik dari biryani biasa dan lebih bertekstur dari nasi mandi.

*Pendamping dan Cemilan: Fasolya Hamra, Tufaiah Jubon, hingga Raqeef*

Kekuatan Sultaf tidak hanya pada hidangan utamanya. Menu pendamping mereka justru sering menjadi alasan pelanggan datang kembali.

• *Fasolya Hamra (Rp32.000) * – Kacang merah dimasak dengan saus tomat ringan, disajikan dengan 2 roti. Pilihan terbaik untuk vegetarian yang ingin menjelajahi cita rasa Yaman.
• *Tufaiah Jubon (Rp37.000) * – Keju dimasak dengan kentang berbumbu khas Aden, disajikan dengan 2 roti. Kombinasi yang terdengar sederhana tapi mengejutkan di lidah.
• *Raqeef/Roti (Rp5.000) * – Roti berlapis, lembut dengan sedikit renyah. Harga terjangkau, cocok sebagai teman semua hidangan.

*Penutup yang Sempurna: Kheer, Kunafa, dan Minuman Segar*

Jangan terburu-buru pergi setelah makan utama. Sultaf menyediakan dessert dan minuman yang layak untuk dinikmati pelan-pelan.

*Kheer – Rp25.000*

Bubur nasi manis dengan aroma kapulaga. Ringan, hangat, dan menenangkan – penutup yang sempurna setelah hidangan berbumbu kuat.

*Kunafa – Rp45.000*

Pastry renyah dengan keju manis, disajikan dengan sirup gula aromatik. Kunafa adalah dessert ikonik Timur Tengah yang kini bisa kamu nikmati di Sleman tanpa harus jauh-jauh ke Jordania atau Palestina.

*Pilihan Minuman*

Sultaf melengkapi pengalaman makan dengan tiga varian Lassi segar: Mango Lassi (Rp15.000), Strawberry Lassi (Rp15.000), dan Plain Lassi (Rp12.000). Yoghurt dingin yang menyegarkan – pasangan ideal untuk kari dan karahi yang kaya rempah.

*Yuk, Segera Kunjungi! *

Tidak ada alasan untuk menunda. Sultaf Restaurant ada di Jl. Harjosudiro No.129, Sanggrahan, Condongcatur, Kabupaten Sleman – hanya selemparan batu dari kawasan kampus dan pusat perbelanjaan Yogyakarta. Buka setiap hari mulai pukul 12.00 siang, dan kamu bisa menghubungi mereka di 0813-1609-146 untuk reservasi atau informasi lebih lanjut.

Untuk kamu yang tidak sempat datang langsung, Sultaf juga tersedia di GoFood – pesan dari sofa rumahmu dan biarkan aroma Timur Tengah itu datang sendiri ke pintu. Jangan lupa follow @sultafrestaurant di Instagram untuk update menu terbaru dan promo menarik.

Sultaf Restaurant bukan hanya tempat makan. Ia adalah pengingat bahwa dunia ini luas dan penuh cita rasa – dan kadang, kamu bisa menjelajahinya cukup dari meja makan di Condongcatur.

*Rekomendasi Wilson Lalengke*

Tokoh pers nasional dan aktivis kemanusiaan, Wilson Lalengke, S.Pd., M.Sc., M.A., turut memberikan apresiasi terhadap kehadiran Sultaf Restaurant sebagai simbol keberagaman kuliner di Yogyakarta. Pria yang sudah mencicipi berbagai kuliner dunia di tempat asalnya di negara-negara yang dikunjunginya ini mengatakan bahwa warga Yogyakarta beruntung, Sultaf Restaurant mendekatkan makanan favorit masyarakat Asia Tengah dan Timur Tengah ke depan pintu rumah warga Yogyakarta.

“Sultaf Restaurant adalah permata tersembunyi bagi pecinta kuliner otentik kini hadir di halaman rumah warga Yogyakarta. Saya sangat merekomendasikan masyarakat di Kota Pelajar ini, para mahasiswa, hingga wisatawan untuk datang dan menikmati layanan luar biasa serta keaslian rasa yang mereka tawarkan. Di sini, Anda tidak hanya makan, tetapi menghargai dedikasi terhadap tradisi kuliner yang tulus. Pelayanannya ramah, rasanya jujur, dan suasananya sangat mendukung untuk menjalin silaturahmi,” ujar Wilson Lalengke sambil menambahkan “Jangan lewatkan Chicken Biryani dan Kunafa mereka yang ikonik!” (*)

*Jl. Harjosudiro No.129, Condongcatur, Sleman | 0813-1609-146 | 12.00–21.30 WIB | 4,9/5 Google Reviews*

_Note: Artikel review tentang Sultaf Restaurant Yogyakanrta ini adalah bagian dari upaya advokasi Tim PPWI Nasional kepada pemilik restoran tersebut, yakni tiga orang investor muda belia WNA Pakistan & Yaman, yang menjadi korban percobaan pemerasan oleh oknum-oknum petugas Kantor Imigrasi TPI Kelas I Yogyakarta. Artikel terkait dapat dibaca di sini:_ https://pewarta-indonesia.com/2026/04/skandal-pemerasan-di-yogyakarta-ppwi-laporkan-oknum-imigrasi-atas-dugaan-pemerasan-rp450-juta-terhadap-investor-asing/

KAPUR DAN LUKA

0

Goresan: Yusuf Tampani

Aktifis PMKRI Cabang Kupang _28 April 2026

Di papan tulis itu,
namamu ditulis dengan kapur.
Di hati kami,
namamu ditulis dengan luka.

Kau panggil kami _bodok_—
seolah otak kami papan kosong
yang boleh kau coret dengan makian,
lalu kau hapus dengan tepuk tangan.

Kau panggil kami _binatang_—
seolah ilmu hanya tumbuh
di ladang yang kau cangkul dengan hinaan.
Padahal kami datang
membawa bekal nasi kemarin
dan doa mama
yang tak tamat SD.

Bapak,
Togamu hitam,
tapi kata-katamu lebih gelap.
Kau ajarkan kami rumus,
tapi kau gagal menghitung
berapa harga diri yang pecah
tiap kali mulutmu berbunyi.

Kami disuruh kritis,
tapi saat kami salah,
kau jawab dengan palu,
bukan dengan pelita.

Bodok?
Bodok adalah
dosen yang digaji untuk menyalakan,
tapi memilih meniup sumbu.
Bodok adalah
orang yang lupa
bahwa dia pun pernah
tak tahu apa-apa.

Binatang?
Binatang tak pernah
memanggil kawanannya
dengan nama yang mematahkan.
Hanya manusia
yang bisa sekolah tinggi
tapi adabnya
tertinggal di kelas satu.

Bapak,
Kami tidak minta nilaimu murah.
Kami hanya minta:
jika kau harus marah,
marahlah pada salahnya,
bukan pada manusianya.

Sebab besok,
saat kapurmu habis
dan kelasmu sepi,
yang tinggal bukan gelarmu.
Yang tinggal adalah
gema suaramu
di kepala kami—
memilih jadi batu
atau jadi sayap.

Dan kami,
anak-anak yang kau sebut bodok,
sudah memutuskan:
Kami akan jadi guru.
Tapi lidahmu
tidak akan kami wariskan.