Beranda blog

Sambut Final Piala Dunia 2026 Laskar Merah Putih Gelar Nobar  

0

Jakarta, warta.in – Dalam rangka memeriahkan euforia pesta sepak bola terbesar di dunia, Markas Besar Laskar Merah Putih (LMP) secara resmi menggelar acara “Nobar Bareng Ketum LMP: Lomba Domino & Nobar Final Piala Dunia 2026”. Acara yang mempertemukan laga akbar antara Spanyol vs Argentina ini akan diselenggarakan di Playmaker – Cafe & Resto, Jakarta.

 

Kegiatan ini diinisiasi langsung oleh Ketua Umum Laskar Merah Putih, H. M. Arsyad Cannu, didampingi oleh Wakil Ketua Umum Bidang Pertahanan Andi Irwan Nurdin Karumpa, S.E., serta Wakil Ketua Umum Bidang Olahraga Ophan Lamara. Selain sebagai wadah silaturahmi antar anggota dan masyarakat, acara ini juga dirancang untuk mempererat kebersamaan lewat kompetisi yang sportif dan hiburan berkelas.

 

Rangkaian acara akan dibagi menjadi dua sesi utama yang berlangsung sejak hari Minggu hingga Senin dini hari:

 

Lomba Domino: Dimulai pada Minggu, 15.00 WIB. Kompetisi ini menggunakan sistem peserta pasangan dengan kuota yang sangat terbatas.

Live Nobar Final Piala Dunia 2026: Menampilkan duel sengit perebutan trofi juara antara Spanyol vs Argentina yang akan dimulai pada Senin, 02.00 WIB.

Guna memacu semangat para peserta, Laskar Merah Putih telah menyiapkan Total Hadiah sebesar Rp 10.000.000 (Sepuluh Juta Rupiah) bagi para pemenang lomba domino.

 

“Kami mengundang rekan-rekan media dan masyarakat untuk hadir dan merasakan keseruan laga final ini bersama-sama. Melalui kegiatan positif seperti lomba domino dan nonton bareng ini, kami ingin membangun ruang interaksi yang hangat sekaligus mendukung semangat sportivitas olahraga di tanah air,” ujar H.M. Arsyad Cannu kepada wartawan di lokasi, Minggu (19/7/2026).

 

Pendaftaran untuk lomba domino saat ini telah dibuka. Mengingat slot peserta pasangan yang disediakan sangat terbatas, masyarakat yang berminat diimbau untuk segera melakukan registrasi melalui panitia penyelenggara di lokasi acara.

 

(Red*/TI)

 

 

Rumah Belajar Disabilitas Surya Inklusi Resmikan Tempat Belajar Baru, Perkuat Pendidikan Anak Disabilitas

0

Warta.in, Jember – Upaya menghadirkan layanan pendidikan yang ramah dan setara bagi anak penyandang disabilitas di Kabupaten Jember terus diperkuat. Yayasan Center Advokasi Disabilitas (YCAD) melalui Rumah Belajar Disabilitas Surya Inklusi menggelar tasyakuran sekaligus peresmian tempat belajar baru sebagai bagian dari pengembangan layanan pendidikan menuju Rintisan Sekolah Luar Biasa (SLB) Perpenca Wuluhan.

Kegiatan tersebut berlangsung pada Minggu, 19 Juli 2026, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai, bertempat di Aula Gedung SMP Daerah Wuluhan, Jalan Ki Hajar Dewantoro Nomor 18, Dukuh Dempok, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember.

Kegiatan ini merupakan ungkapan rasa syukur atas dukungan berbagai pihak terhadap pengembangan pendidikan inklusif di Kabupaten Jember, sekaligus menjadi momentum peresmian tempat belajar baru yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi anak-anak penyandang disabilitas.

Pembina SLB Rintisan Perpenca Wuluhan, Gatot Siswanto, menyampaikan bahwa pengembangan tempat belajar tersebut merupakan langkah nyata untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak penyandang disabilitas. Menurutnya, pendidikan merupakan hak setiap anak tanpa terkecuali, sehingga dibutuhkan dukungan dan kepedulian seluruh elemen masyarakat agar layanan pendidikan inklusif dapat terus berkembang.

Ia berharap peresmian tempat belajar baru ini tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga menjadi awal dari semakin kuatnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, organisasi sosial, dan masyarakat dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan berkelanjutan.

Selain menjadi ajang tasyakuran, kegiatan ini juga diharapkan menjadi wadah mempererat sinergi berbagai pihak dalam memberikan kesempatan belajar yang setara bagi anak-anak penyandang disabilitas. YCAD bersama Rumah Belajar Disabilitas Surya Inklusi terus berkomitmen mengembangkan layanan pendidikan menuju Rintisan SLB Perpenca Wuluhan, sehingga mampu menjadi sarana belajar yang lebih representatif dan berpihak pada kebutuhan peserta didik disabilitas.

Panitia mengundang berbagai unsur pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, pemerhati disabilitas, serta para mitra untuk hadir dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan pendidikan inklusif di Kabupaten Jember.

Dengan diresmikannya tempat belajar baru ini, diharapkan semakin banyak anak penyandang disabilitas yang memperoleh akses pendidikan yang layak, setara, dan bermutu, sehingga mereka memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensi dan meraih masa depan yang lebih baik.

*Miliaran Rupiah, Sia-sia: Fasilitas Gudang Bawang dan Unit Chiller di Mukomuko Mangkrak Sejak Tahun 2024*

0

“Miliaran Rupiah Terancam Sia-sia: Fasilitas Gudang Bawang dan Unit Chiller di Mukomuko Mangkrak Sejak Tahun 2024.

MUKOMUKO – Dua unit kompleks Gudang Bawang lengkap dengan sarana pendingin (chiller) yang dibangun pada tahun 2024 menggunakan alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) bernilai miliaran rupiah, hingga kini belum beroperasi sama sekali. Padahal seluruh fasilitas fisik utama maupun penunjang telah terpasang di lokasi, namun belum dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya.

Pembangunan dua titik gudang penyimpanan hasil panen bawang di wilayah Kabupaten Mukomuko yang bersumber dari anggaran DAK tersebut kini menjadi sorotan tajam di tengah masyarakat. Pasalnya, hingga pertengahan Juli 2026, bangunan yang telah rampung dibangun tersebut masih berdiri diam tanpa ada aktivitas operasional. Demikian pula dengan perangkat pendingin udara (chiller) yang dipasang khusus untuk menjaga kualitas hasil tani di dalamnya, hingga saat ini belum pernah dinyalakan dan tidak berfungsi sesuai tujuan pengadaannya.

“Secara fisik gudang sudah tegak berdiri, alat pendingin juga sudah terpasang di dalamnya. Namun sayang sekali, hingga hari ini fasilitas tersebut tidak bisa digunakan oleh kami para petani. Ini adalah uang rakyat yang nilainya mencapai miliaran rupiah, sangat disayangkan jika hanya dibiarkan terbengkalai tanpa guna,” ungkap salah satu warga yang meminta namanya tidak dipublikasikan, saat dikonfirmasi pada Sabtu (18/7/2026).

Masyarakat secara tegas meminta perhatian khusus dari Tim Pemeriksa Hasil Pekerjaan (PHO) untuk bekerja lebih teliti, cermat, dan objektif dalam melakukan pemeriksaan, verifikasi, serta penilaian kelayakan terhadap setiap pekerjaan yang dilaksanakan oleh penyedia jasa. Mereka menegaskan bahwa setiap proyek yang menggunakan anggaran negara adalah amanah publik, sehingga wajib dipastikan berfungsi optimal dan memberikan manfaat nyata, terutama bagi kelompok petani bawang yang menjadi sasaran utama program ini.

“Kami meminta kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Mukomuko agar segera mengambil langkah nyata untuk mengaktifkan kembali fasilitas yang sudah dibangun ini. Jangan sampai anggaran sebesar itu terbuang percuma tanpa memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” tegas warga tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, pihak dinas teknis terkait maupun pelaksana kegiatan belum dapat memberikan keterangan resmi. Upaya konfirmasi melalui sambungan telepon dan pesan singkat WhatsApp belum mendapatkan tanggapan, sedangkan kunjungan langsung ke kantor dinas mendapati Kepala Dinas sedang melaksanakan tugas dinas luar daerah. Redaksi tetap membuka ruang seluas-luasnya bagi pihak terkait untuk memberikan klarifikasi, tanggapan, maupun sanggahan atas isi laporan ini sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Masyarakat berharap instansi berwenang segera melakukan evaluasi menyeluruh dan menetapkan langkah tindak lanjut yang tegas, agar fasilitas strategis ini dapat segera dioperasikan sesuai dengan tujuan awal pembangunannya: mendukung ketahanan pangan daerah, meningkatkan daya simpan hasil panen petani, serta menstabilkan harga bawang di pasaran lokal maupun regional.

(HD/ZUL)

Yuk Nobar Final Piala Dunia Bareng Ketua DPRD Samosir Di RM Sederhana Pangururan, Gratis Nasgor Dan Bandrek97

0

Pangururan, warta.in – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Samosir, Nasip Simbolon, mengundang seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Samosir untuk menghadiri kegiatan nonton bareng (nobar) laga puncak Final Piala Dunia 2026 antara Argentina berhadapan dengan Spanyol.
Pertandingan yang paling ditunggu dunia sepak bola ini akan digelar pada Senin, 20 Juli 2026 pukul 02.00 WIB, dan disaksikan bersama di lokasi Rumah Makan Sederhana, Samping Polsek Pangururan, Milik Juan Simarmata

Lebih Dari Sekadar Menonton Bola

Dalam ajakannya, Nasip Simbolon menyampaikan bahwa kegiatan nobar ini bukan hanya sekadar sarana menikmati pertandingan olahraga terbesar di dunia, melainkan momen berharga untuk mempererat tali silaturahmi dan persaudaraan antar warga

“Pada momen Piala Dunia ini, saya mengajak seluruh masyarakat Samosir, khususnya para generasi muda, untuk mencintai olahraga. Dengan demikian, generasi muda diharapkan terhindar dari bahaya penyalahgunaan narkoba serta berbagai bentuk kenakalan remaja,” ujar Nasip Simbolon, Minggu (19/7/2026)

Ia juga berharap semangat kebersamaan yang tumbuh melalui olahraga dapat memperkuat persatuan di tengah masyarakat, sekaligus menumbuhkan gaya hidup yang sehat, aktif, dan positif bagi anak muda Samosir.

Disediakan Makanan dan Minuman Gratis

Kegiatan ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya apapun. Tim Pelaksana yang diwakili Efendi Naibaho menjelaskan bahwa telah disiapkan konsumsi untuk seluruh warga yang hadir, berupa nasi goreng, bandrek hangat, serta air mineral secara cuma-cuma sebagai bentuk kebersamaan.

Diharapkan, acara ini menjadi momentum yang berkesan bagi warga Samosir untuk menyaksikan pertandingan bergengsi ini dalam suasana yang akrab, penuh semangat sportivitas, dan kebersamaan

Mari datang ramai-ramai dan dukung tim kesayangan kita bersama warga Samosir!

Malam ini menjadi momen paling ditunggu penggemar sepak bola dunia. Dua raksasa sepak bola, Spanyol dan Argentina, akan berhadapan di partai puncak Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat, pada pukul 02.00 WIB besok pagi. Pertemuan ini mempertemukan tim yang tampil paling konsisten sepanjang turnamen melawan tim yang memiliki mental baja di laga krusial.
Spanyol: Performa Sempurna Tanpa Kekalahan

La Furia Roja melaju ke final dengan rekor yang sangat mengesankan. Sepanjang perjalanan di turnamen ini, tim asuhan Luis de la Fuente belum pernah merasakan kekalahan, bahkan berhasil menundukkan Prancis dengan skor meyakinkan 2-0 di babak semifinal

Kekuatan utama Spanyol terletak pada penguasaan bola yang memukau, lini tengah yang sangat kokoh dengan peran kunci Rodri, serta pertahanan yang paling rapi di antara semua tim peserta.

Selain itu, kehadiran bintang muda seperti Lamine Yamal memberikan variasi serangan yang sulit dibaca oleh pertahanan lawan.

Secara teknis dan fisik, Spanyol terlihat lebih matang dan segar untuk menghadapi laga terberat ini

Argentina: Di Bawah Tekanan, Tetap Tak Terkalahkan

Sebaliknya, perjalanan Tim Tango ke final terasa lebih berliku. Beberapa pertandingan mereka harus berlanjut hingga babak tambahan, bahkan menuntut ketegangan adu penalti untuk memutuskan pemenang. Meski begitu, satu hal yang tak bisa dipungkiri: Argentina memiliki mentalitas juara yang luar biasa, terutama saat bertanding di momen-momen penentuan.

Keunggulan Albiceleste terletak pada pengalaman besar pemain inti, kehadiran Lionel Messi yang mampu mengubah jalannya pertandingan dalam sekejap, serta keandalan Emiliano Martinez jika laga harus diputuskan lewat adu penalti.

Banyak pengamat menyebutkan, pertandingan ketat seperti final justru menjadi medan bermain yang paling nyaman bagi skuad Argentina.

Peluang Menang: Siapa yang Lebih Diunggulkan ?

Berdasarkan data statistik, analisis teknis dan prediksi berbagai model perhitungan peluang sebelum pertandingan:
• Spanyol memiliki peluang menang sekitar 52 persen, baik di waktu normal maupun perpanjangan waktu.
• Argentina memiliki peluang menang sekitar 26 persen, yang kemungkinan besar datang lewat jalur adu penalti.
• Hasil imbang di waktu normal memiliki peluang sekitar 22 persen

Dilihat dari sisi kekuatan tim secara keseluruhan, Spanyol memang sedikit lebih diunggulkan. Namun di sepak bola, angka tak selalu menjadi kenyataan. Keajaiban sering terjadi di final Piala Dunia, dan Argentina memiliki catatan yang sangat baik dalam membalikkan keadaan di situasi sulit.

Prediksi Jalannya Pertandingan

Kemungkinan besar pertandingan ini akan berjalan sangat ketat dan berimbang. Spanyol akan mencoba menguasai permainan sejak awal, sementara Argentina akan bermain lebih hati-hati dan mengandalkan serangan balik cepat serta momen individu Messi.

Dua skenario hasil yang paling banyak diprediksi pengamat adalah kemenangan tipis Spanyol dengan skor 1-0 atau 2-1, atau hasil imbang 1-1 di waktu normal yang kemudian dimenangkan Argentina lewat adu penalti.

Siapa pun yang akan mengangkat trofi nanti, pertemuan Spanyol dan Argentina dipastikan akan menjadi pertandingan yang tak terlupakan. Mari kita saksikan bersama, dan semoga tim kesayanganmu meraih kemenangan (red)

Musisi Tanah Air Memperkenalkan Musik Klasik di Konser Akbar Monas 2026

0

Jakarta, warta.in – Aula Simfonia Jakarta (ASJ), Jakarta Simfonia Orchestra (JSO) bersama Jakarta Oratorio Society (JOS) kembali menggelar Konser Akbar Monas 2026, Sabtu (18/7/2026), Para musisi dari tanah air memperkenalkan musik klasik untuk seluruh masyarakat secara gratis. Melalui konser ini, JSO ingin membuktikan bahwa musik klasik bukan hanya milik kalangan tertentu, melainkan dapat dinikmati oleh siapa saja.

 

Konser pertama kali dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan kemudian Garuda Pancasila. Turut Hadir Bapak Stephen Tong sebagai Pendiri dan Konduktor Aula Simfonia Jakarta, Jakarta Simfonia Orchestra, dan Jakarta Oratorio Society,

 

“Diharapkan semua orang menginvest anak anak mereka dengan musik”, ujarnya.

 

Konser yang berlangsung di kawasan Monumen Nasional (Monas) ini menghadirkan pengalaman musikal yang berbeda. Seluruh penampilan disajikan secara alami (organik) oleh para musisi dan paduan suara tanpa mengandalkan efek suara berlebihan, sehingga kualitas permainan orkestra dan vokal dapat dinikmati secara maksimal oleh para penonton.

 

Direktur Musik Jakarta Simfonia Orchestra Eunice Tong mengatakan, konser ini merupakan wujud komitmen untuk mendekatkan musik klasik kepada masyarakat sekaligus memperkenalkan kualitas musisi Indonesia yang mampu tampil di panggung internasional.

 

“Tahun lalu kami juga menggelar konser di Monas. Selain itu, sepanjang 2025 kami aktif tampil di berbagai kesempatan, termasuk melakukan tur ke Amerika Serikat dan Jepang. Karena itu, kami ingin kembali berbagi pengalaman bermusik dengan masyarakat Indonesia melalui konser gratis ini,” ujar Eunice Tong.

 

“Penyelenggara tidak memberlakukan registrasi bagi pengunjung. Siapa pun dapat datang dan menikmati pertunjukan tanpa dipungut biaya. Sekitar 10.000 kursi telah disiapkan, bahkan panitia berharap jumlah penonton yang hadir dapat melampaui kapasitas tersebut ucap Wijaya Subekti panitia Konser Akbar Monas 2026.

 

“Selain menyuguhkan karya-karya musik klasik yang telah dikenal luas, konser juga menjadi ajang edukasi bahwa musik klasik dapat dinikmati oleh semua usia. Pengunjung diajak menikmati suasana malam di Monas sambil menyaksikan penampilan orkestra dan paduan suara di bawah langit terbuka”, ujar Eunice Tong.

 

“Persiapan konser dilakukan secara intensif, terutama menghadapi tantangan lokasi pertunjukan yang berada di ruang terbuka. Faktor cuaca menjadi perhatian utama, namun kondisi yang cerah diharapkan membuat masyarakat dapat menikmati konser dengan nyaman”, ucapnya.

 

Melalui Konser Akbar Monas, Jakarta Simfonia Orchestra dan Jakarta Oratorio Society juga mengajak masyarakat untuk memberikan apresiasi lebih besar kepada musisi Indonesia.

 

“Kami ingin masyarakat semakin bangga terhadap musisi Indonesia. Banyak talenta luar biasa yang kualitasnya tidak kalah dengan musisi mancanegara. Konser ini kami persembahkan dari Indonesia untuk Indonesia,” tutupnya.

 

Konser Akbar Monas ini berjalan dengan sukses terlihat dari banyaknya penonton dan antusiasme penonton ketika menonton pertunjukan ini. Di harapkan Pertunjukan seperti ini sering diadakan untuk memperluas apresiasi masyarakat terhadap musik klasik.

 

(Red*/TI)

 

 

 

Back to School! Usai MPLS, Siswa Mulai Menapaki Tahun Ajaran Baru

0

Wartain Banten | Pemerintahan | 19 Juli 2026  — Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) telah berakhir. Mulai hari Senin (20/7/2026), seluruh peserta didik mulai mengikuti kegiatan belajar mengajar secara penuh sebagai awal perjalanan mereka di tahun ajaran baru 2026/2027.

Setelah beberapa hari beradaptasi dengan lingkungan sekolah, mengenal guru, tenaga kependidikan, tata tertib, serta budaya sekolah, kini para siswa memasuki fase pembelajaran yang sesungguhnya. Momentum Back to School menjadi awal bagi mereka untuk membangun semangat belajar, mengembangkan potensi, serta meraih prestasi akademik maupun nonakademik.

MPLS tidak hanya menjadi ajang pengenalan lingkungan sekolah, tetapi juga membentuk karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan beradaptasi peserta didik. Berbekal pengalaman selama MPLS, para siswa diharapkan mampu mengikuti proses pembelajaran dengan percaya diri dan menjalin hubungan yang baik dengan guru maupun teman sebaya.

Tahun ajaran baru juga menjadi momentum bagi seluruh warga sekolah untuk memperkuat kolaborasi dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan menyenangkan. Peran orang tua turut menjadi faktor penting dalam mendampingi anak-anak agar tetap bersemangat mengikuti kegiatan belajar di sekolah maupun di rumah.

Dengan berakhirnya MPLS, kini saatnya seluruh peserta didik menatap masa depan dengan optimisme. Semangat Back to School diharapkan menjadi langkah awal untuk terus belajar, berkarya, berkarakter, dan mengukir prestasi demi mewujudkan generasi Indonesia yang cerdas, kreatif, dan siap menghadapi tantangan zaman.(WartainBanten)

PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Minta Hormati Martabat Wartawan dan Kemerdekaan Pers

0

warta.in Bekasi ◊ Minggu,19 Juli 2026

Jakarta – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat menyampaikan keprihatinan dan penyesalan atas pernyataan Advokat Hotman Paris Hutapea kepada wartawan saat memberikan keterangan kepada media di lingkungan Kejaksaan Agung. Pernyataan tersebut dinilai telah merendahkan profesi wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistik dan berpotensi mencederai semangat kemerdekaan pers yang dijamin Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, menegaskan bahwa bertanya kepada narasumber merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tugas jurnalistik dalam memenuhi hak masyarakat untuk memperoleh informasi. Oleh karena itu, setiap narasumber, termasuk advokat, memiliki hak untuk menjawab atau menolak menjawab pertanyaan, namun tetap berkewajiban menjaga etika komunikasi dan menghormati profesi wartawan.

“Setiap orang berhak menyampaikan pendapat, menjawab atau menolak menjawab pertanyaan wartawan. Namun tidak ada alasan untuk merendahkan martabat profesi wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistik. Wartawan bekerja untuk kepentingan publik dan dilindungi oleh Undang-Undang Pers,” ujar Akhmad Munir di Jakarta, Sabtu (18/07/2026).

Menurutnya, PWI Pusat tidak mempersoalkan pembelaan hukum yang dilakukan seorang advokat terhadap kliennya karena hal tersebut merupakan hak yang dijamin oleh hukum. Akan tetapi, pembelaan tersebut tidak boleh disampaikan dengan cara yang merendahkan profesi lain atau mengintimidasi wartawan yang sedang bekerja.

“PWI Pusat tidak sedang memasuki substansi perkara hukum yang sedang menjadi perhatian publik. Sikap kami murni untuk menjaga marwah profesi wartawan dan memastikan setiap insan pers dapat menjalankan tugas jurnalistik secara bebas, profesional, dan bermartabat tanpa intimidasi verbal dari siapa pun,” tegasnya.

Akhmad Munir mengatakan advokat dan wartawan merupakan dua profesi yang sama-sama memiliki peran strategis dalam negara hukum dan demokrasi. Advokat menjalankan fungsi pembelaan terhadap hak-hak kliennya, sedangkan wartawan menjalankan fungsi kontrol sosial melalui penyampaian informasi yang benar, berimbang, dan bertanggung jawab kepada masyarakat. Karena itu, kedua profesi tersebut semestinya saling menghormati dan menjaga etika dalam setiap interaksi di ruang publik.

Sehubungan dengan peristiwa tersebut, PWI Pusat meminta Advokat Hotman Paris Hutapea memberikan klarifikasi kepada publik serta menyampaikan permohonan maaf kepada insan pers apabila pernyataannya telah menimbulkan kesan merendahkan martabat wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistik. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga hubungan baik antara profesi advokat dan wartawan serta membangun iklim demokrasi yang sehat.

“Kami tidak mempersoalkan hak setiap advokat membela kliennya. Namun pembelaan itu harus tetap menghormati profesi lain. Kritik terhadap pertanyaan wartawan adalah hal yang wajar, tetapi penyampaiannya harus dilakukan secara santun, profesional, dan tidak merendahkan martabat insan pers,” kata Akhmad Munir.

PWI Pusat juga mengingatkan seluruh wartawan Indonesia agar tetap menjalankan tugas secara profesional, independen, akurat, berimbang, dan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik. Organisasi akan terus menjalankan fungsi pembelaan dan perlindungan terhadap setiap wartawan yang mengalami intimidasi, pelecehan, ancaman, atau tindakan lain yang menghambat pelaksanaan kerja jurnalistik.

Lebih lanjut, PWI Pusat mengajak seluruh organisasi profesi, aparat penegak hukum, pejabat publik, advokat, dan seluruh narasumber untuk bersama-sama membangun budaya komunikasi yang saling menghormati. Perbedaan pendapat merupakan bagian dari demokrasi, namun penghormatan terhadap profesi wartawan merupakan syarat penting bagi terpeliharanya kebebasan pers dan hak masyarakat untuk memperoleh informasi.

“Pers yang merdeka tidak lahir dari rasa takut, melainkan dari jaminan bahwa wartawan dapat bekerja secara profesional tanpa intimidasi. Menghormati wartawan berarti menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi. Kami berharap peristiwa ini menjadi pelajaran bersama agar hubungan antara insan pers dan semua narasumber tetap dilandasi sikap saling menghormati dan menjunjung tinggi etika,” tutup Akhmad Munir.

PWI Pusat menegaskan akan terus berdiri di garis terdepan dalam membela kemerdekaan pers, menjaga kehormatan profesi wartawan, serta memastikan setiap insan pers dapat menjalankan tugas jurnalistiknya tanpa tekanan, intimidasi, maupun perlakuan yang merendahkan martabat profesi.

(Alpin A.S)

Resmi Berdiri! Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi Dilantik,Siap Perkuat Persatuan

0

warta.in Bekasi ◊ Minggu, 19 Juli 2026

Kota Bekasi – Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi resmi mendeklarasikan organisasi sekaligus melantik Pengurus Harian dan Pengurus Rayon se-Bekasi untuk masa bakti 2026–2031.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Graha Sintesa, Kota Bekasi, tersebut dihadiri sekitar 500 anggota keluarga besar Simbolon, para tokoh dan sesepuh Simbolon, serta perwakilan dari tujuh sohe Simbolon yang berada di wilayah Kota dan Kabupaten Bekasi.

Ketua Panitia Deklarasi, Amstor Marsius Simbolon, mengatakan bahwa pelaksanaan deklarasi yang dirangkaikan dengan pelantikan pengurus merupakan langkah efektif sekaligus menjadi momentum kebersamaan bagi seluruh keluarga besar Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi.

“Pelaksanaan deklarasi disatukan dengan pelantikan pengurus harian dan pengurus rayon agar lebih efektif serta menjadi momentum kebersamaan seluruh keluarga besar Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi,” ujar Amstor kepada awak media.

Rangkaian kegiatan diawali dengan ibadah, kemudian dilanjutkan dengan prosesi pelantikan pengurus, sambutan dari berbagai pihak, pemaparan materi eksternal, pertunjukan tortor, hiburan, hingga pengundian door prize.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi periode 2026–2031, Omsron Lasman Simbolon, S.T., menyampaikan bahwa pembentukan parsadaan dilandasi keinginan untuk mengakomodasi keluarga besar Simbolon yang selama ini belum tergabung dalam sebuah wadah organisasi bersama.

“Tujuan kami membentuk parsadaan ini adalah mengakomodasi keluarga besar Simbolon di Bekasi agar memiliki wadah untuk berkumpul. Selain itu, kami ingin menjalankan nilai-nilai Dalihan Na Tolu dengan baik serta memberikan manfaat bagi seluruh anggota,” kata Lasman.

Ia juga menyampaikan optimismenya terhadap perkembangan organisasi ke depan. Menurutnya, sejak proses perintisan hingga pelaksanaan deklarasi, antusiasme masyarakat Simbolon di wilayah Bekasi sangat tinggi.

“Kami sangat optimistis. Dukungan masyarakat Simbolon, khususnya para tokoh dan sesepuh di Bekasi, sangat luar biasa sehingga pelaksanaan deklarasi dan pelantikan dapat berlangsung dengan baik dan penuh sukacita,” ujarnya.

Terkait strategi pengembangan organisasi, Lasman menegaskan bahwa semangat pelayanan akan menjadi landasan utama dalam menjalankan roda kepengurusan.

“Parsadaan ini harus berkembang melalui pelayanan yang tulus. Setiap pengurus harus bekerja dengan hati dan mengutamakan kepentingan bersama, bukan mencari penghormatan ataupun kedudukan. Tujuan utama kami adalah melayani,” tegasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan kepengurusan akan diukur dari sejauh mana harapan anggota dapat diwujudkan dan manfaat organisasi dapat dirasakan secara nyata.

“Ketika harapan anggota dapat direalisasikan dan mereka merasakan manfaatnya, itulah kepuasan bagi saya sebagai ketua,” katanya.

Menanggapi keberadaan ketua di masing-masing sohe, Lasman menegaskan bahwa kehadiran Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi tidak menggantikan struktur kepemimpinan yang telah ada.

“Saya bukan Ketua Sipitu Sohe, melainkan Ketua Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi. Masing-masing sohe tetap memiliki ketuanya sendiri. Parsadaan ini hadir sebagai wadah yang mempersatukan seluruh unsur tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, salah seorang penasihat sekaligus pendiri Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi, Argilaus Simbolon (Op. Benjamin), menjelaskan bahwa pembentukan parsadaan bertujuan menjadi wadah pemersatu seluruh keturunan Simbolon Sipitu Sohe, boru, dan bere yang berada di wilayah Bekasi.

Menurut Argilaus, organisasi tersebut diharapkan mampu mempererat persaudaraan, memelihara nilai-nilai Dalihan Na Tolu, melestarikan adat dan budaya Batak, meningkatkan semangat gotong royong, serta memberikan dukungan kepada anggota dalam berbagai situasi, baik suka maupun duka.

“Parsadaan harus menjadi rumah bersama yang menghadirkan rasa nyaman, kebersamaan, dan keharmonisan bagi seluruh keturunan Simbolon Sipitu Sohe, boru, dan bere di Bekasi,” ujar Argilaus.

Ia juga menekankan pentingnya membangun organisasi yang inklusif serta tidak memberikan perlakuan istimewa atau pengultusan terhadap individu tertentu.

“Tidak boleh ada privilese atau pengultusan terhadap seseorang. Nilai Dalihan Na Tolu, yaitu Somba Marhula-hula, Manat Mardongan Tubu, dan Elek Marboru, harus benar-benar dirasakan oleh seluruh anggota,” katanya.

Lebih lanjut, Argilaus menilai bahwa parsadaan merupakan sarana untuk mempermudah pelayanan sosial, kemanusiaan, serta komunikasi antaranggota tanpa membedakan latar belakang perkumpulan yang diikuti.

“Pelaku adat adalah marga, sedangkan punguan merupakan wadah untuk mempermudah komunikasi. Persaudaraan tidak akan pernah putus meskipun suatu saat perkumpulan dapat berubah. Karena itu, mari kita sehati dan sepikir membangun kebersamaan,” tuturnya.

Deklarasi dan pelantikan Pengurus Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi periode 2026–2031 diharapkan menjadi awal yang baik dalam memperkuat persatuan keluarga besar Simbolon di wilayah Bekasi.

Selain itu, kehadiran organisasi ini diharapkan mampu meningkatkan pelayanan sosial, memperkuat pelestarian adat dan budaya Batak, serta menumbuhkan semangat kebersamaan dan gotong royong bagi seluruh anggota.

(Alpin A.S)

Nannie Hadi Tjahjanto: Kebaya Adalah Simbol Perjuangan Perempuan dan Kekuatan Budaya Bangsa

0

Warta.in PALEMBANG – Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) Periode 2024–2029, Ny. Nannie Hadi Tjahjanto, mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk terus melestarikan kebaya sebagai identitas budaya bangsa sekaligus simbol persatuan, perjuangan, dan jati diri perempuan Indonesia.

Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri Parade Perempuan Berkebaya Berkain Songket dalam rangka Hari Kebaya Nasional ke-3 Tahun 2026 yang digelar di kawasan Car Free Day (CFD) Palembang, Minggu (19/7/2026). Kegiatan yang diinisiasi DPD Perempuan Indonesia Maju (PIM) Sumatera Selatan itu berhasil memecahkan Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori Parade Perempuan Berkebaya Berkain Songket Terbanyak.

Sejak pagi, ribuan perempuan dari berbagai organisasi perempuan, komunitas budaya, pelajar, mahasiswa, instansi pemerintah, hingga masyarakat umum memadati kawasan Car Free Day Palembang. Mengenakan kebaya yang dipadukan dengan beragam motif songket khas Sumatera Selatan, para peserta berjalan bersama melintasi Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) hingga Jembatan Ampera, menghadirkan panorama budaya yang menjadi simbol persatuan sekaligus promosi wastra Nusantara.

Dalam sambutannya, Nannie menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Pemerintah Kota Palembang, Perempuan Indonesia Maju (PIM), Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW), Gabungan Organisasi Wanita (GOW), Tim Penggerak PKK, Dharma Pertiwi, Dekranasda, Bhayangkari, Persit Kartika Chandra Kirana, Jalasenastri, Dharma Wanita Persatuan, serta puluhan organisasi perempuan lainnya yang telah bersatu menyukseskan peringatan Hari Kebaya Nasional sekaligus pemecahan Rekor MURI.

Menurutnya, keterlibatan berbagai organisasi perempuan menunjukkan kuatnya semangat persatuan, gotong royong, dan pengabdian perempuan Indonesia dalam menjaga warisan budaya bangsa.

“Atas nama Kongres Wanita Indonesia, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, pimpinan organisasi, dan seluruh perempuan Indonesia yang terus menjaga kebersamaan, memperkuat persatuan, melestarikan budaya bangsa, serta berkontribusi mewujudkan perempuan Indonesia yang maju, mandiri, berdaya, berintegritas, dan berkarakter,” ujar Nannie.

Secara khusus, Nannie juga memberikan penghargaan kepada Ketua DPD Perempuan Indonesia Maju (PIM) Sumatera Selatan sekaligus Ketua Pelaksana Hari Kebaya Nasional ke-3 Tahun 2026, Hj. Helen Ganefo, yang dinilainya berhasil mengoordinasikan penyelenggaraan kegiatan budaya berskala nasional tersebut hingga berlangsung sukses dan mencatatkan Rekor MURI.

Menurut Nannie, keberhasilan menghadirkan ribuan perempuan berkebaya dan berkain songket dalam satu gerakan budaya merupakan hasil kerja keras, dedikasi, serta kolaborasi yang dibangun bersama seluruh panitia, organisasi perempuan, pemerintah daerah, komunitas budaya, dan berbagai pemangku kepentingan.

“Saya menyampaikan penghargaan dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Ibu Hj. Helen Ganefo selaku Ketua DPD Perempuan Indonesia Maju Sumatera Selatan sekaligus Ketua Pelaksana, beserta seluruh jajaran panitia yang telah bekerja dengan penuh dedikasi sehingga peringatan Hari Kebaya Nasional ke-3 ini dapat berlangsung dengan sangat baik dan berhasil mencatatkan Rekor MURI. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa ketika perempuan bersatu, berkolaborasi, dan memiliki tujuan yang sama, kita mampu menghadirkan gerakan budaya yang membanggakan bangsa Indonesia,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, Nannie juga memberikan penghargaan kepada Ketua Umum DPP Perempuan Indonesia Maju (PIM), Lana T. Koentjoro, beserta Tim Nasional Kebaya Indonesia dan seluruh pegiat kebaya yang dinilainya telah berjuang tanpa lelah hingga lahirnya Hari Kebaya Nasional.

“Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Ibu Lana T. Koentjoro yang telah memperjuangkan Hari Kebaya Nasional. Perjuangan itu membuktikan bahwa ketika perempuan Indonesia bersatu, memiliki visi yang sama, dan bergerak secara konsisten, sebuah gagasan mampu menjadi gerakan nasional yang diakui negara.”

Nannie menegaskan bahwa Hari Kebaya Nasional bukan sekadar perayaan seremonial ataupun peragaan busana, melainkan momentum untuk memperkuat identitas nasional.

“Kebaya bukan hanya busana. Kebaya adalah simbol jati diri, kesantunan, keanggunan, martabat, serta semangat perjuangan perempuan Indonesia.”

Menurutnya, gerakan mengenakan kebaya juga memiliki dampak ekonomi yang besar karena melibatkan penenun songket, perajin, penjahit, desainer, hingga pelaku UMKM di berbagai daerah.

“Semakin banyak masyarakat mengenakan kebaya dan kain tradisional, semakin besar pula dukungan terhadap para perajin dan pelaku usaha kreatif yang menjaga keberlangsungan budaya Indonesia,” katanya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak hanya melestarikan kebaya, tetapi juga kain tradisional Nusantara, khususnya songket, sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi kreatif.

Nannie menjelaskan bahwa kebaya memiliki hubungan erat dengan sejarah gerakan perempuan Indonesia. Salah satu momentum penting adalah Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) ke-10 tahun 1964, ketika ribuan perempuan dari seluruh Indonesia mengenakan kebaya sebagai simbol persatuan dan perjuangan.

Menurutnya, penetapan 24 Juli sebagai Hari Kebaya Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 merupakan bentuk pengakuan negara terhadap kebaya sebagai identitas nasional. Pengakuan tersebut semakin diperkuat dengan ditetapkannya kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada tahun 2024 melalui nominasi multinasional bersama sejumlah negara Asia Tenggara.

“Kebaya bukan benda budaya yang hanya disimpan untuk dikenang, tetapi warisan budaya hidup yang harus terus dikenakan, dikenalkan, dikembangkan, dilindungi, dan diwariskan kepada generasi mendatang.”

Dalam kesempatan tersebut, Nannie juga menegaskan bahwa profesi ibu rumah tangga merupakan profesi yang sangat mulia dan memiliki kontribusi besar bagi keluarga maupun bangsa.

“Profesi itu bukan hanya polisi, dokter, insinyur, atau PNS. Ibu rumah tangga juga adalah profesi. Bahkan jika seluruh pekerjaan ibu di rumah dihitung secara ekonomi, nilainya sangat besar dan tidak akan mampu dibayar.”

Ia mengajak masyarakat, khususnya para suami, untuk memberikan penghargaan yang lebih besar terhadap peran perempuan di dalam keluarga karena perempuan merupakan fondasi utama dalam membangun karakter generasi penerus bangsa.

Nannie juga mengajak seluruh organisasi perempuan menyambut satu abad KOWANI pada tahun 2028 melalui penguatan persatuan dan kolaborasi.

Ia memperkenalkan Gerakan Nasional Seribu Profesi, Seribu Sertifikasi, dan Seribu Pemimpin sebagai program strategis KOWANI untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia perempuan, memperluas kesempatan kerja, mendorong kepemimpinan perempuan, serta memberikan solusi terhadap berbagai persoalan sosial, termasuk kekerasan terhadap perempuan dan anak, perdagangan orang, anak terlantar, hingga penyalahgunaan narkotika.

“Gerakan ini kami hadirkan untuk mempercepat lahirnya perempuan Indonesia yang unggul, mandiri, dan berdaya saing, sekaligus mendukung pencapaian Asta Cita, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), serta mewujudkan Indonesia Emas 2045.”

Menutup sambutannya, Nannie mengajak seluruh masyarakat untuk terus mengenakan kebaya dengan bangga, melestarikan songket dengan cinta, memberdayakan para perajin secara nyata, menggerakkan ekonomi perempuan, serta mewariskan budaya kepada generasi muda.

Sementara itu, Ketua Umum DPP Perempuan Indonesia Maju (PIM), Lana T. Koentjoro, mengatakan Hari Kebaya Nasional lahir dari perjuangan panjang berbagai organisasi perempuan yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian kebaya sebagai identitas budaya bangsa.

Menurutnya, penetapan Hari Kebaya Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 merupakan tonggak penting, namun tanggung jawab seluruh masyarakat adalah memastikan kebaya tetap hidup dalam keseharian.

“Hari Kebaya Nasional lahir dari perjuangan bersama berbagai organisasi perempuan. Penetapan melalui Keppres Nomor 19 Tahun 2023 menjadi tonggak penting, tetapi tanggung jawab kita adalah memastikan kebaya terus hidup dalam keseharian masyarakat.”

Ia menilai kebaya harus semakin dekat dengan generasi muda melalui inovasi desain tanpa meninggalkan pakemnya sehingga dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan.

Menurut Lana, pelestarian kebaya membutuhkan kolaborasi pemerintah, komunitas, akademisi, media, pelaku usaha, dan masyarakat.

“Ketika seseorang mengenakan kebaya, yang bergerak bukan hanya pelestarian budaya, tetapi juga ekonomi kreatif. Perajin songket, penjahit, desainer, pengrajin aksesori, hingga pelaku UMKM ikut merasakan manfaatnya.”

Ia menambahkan bahwa pengakuan kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO bukanlah akhir perjuangan, melainkan awal tanggung jawab bersama untuk terus melestarikan dan mewariskannya kepada generasi mendatang.

Apresiasi juga disampaikan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Mewakili Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Sumatera Selatan, Dr. H. Apriyadi Mahmud, M.Si., menyampaikan penghargaan atas terselenggaranya Parade Perempuan Berkebaya Berkain Songket yang dirangkaikan dengan pemecahan Rekor MURI.

Ia mengapresiasi Perempuan Indonesia Maju (PIM), panitia, serta seluruh organisasi perempuan yang telah menginisiasi kegiatan budaya berskala nasional tersebut.

“Kegiatan ini sangat luar biasa. Sejak pagi para peserta mengikuti parade berkebaya dan berkain songket hingga berkumpul di lokasi acara dalam rangka pemecahan Rekor MURI. Ini merupakan wujud nyata kecintaan terhadap budaya Indonesia yang patut kita apresiasi.”

Apriyadi juga menyampaikan permohonan maaf karena Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru dan Wakil Gubernur H. Cik Ujang tidak dapat hadir lantaran telah memiliki agenda pemerintahan yang telah dijadwalkan sebelumnya. Meski demikian, keduanya memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Menurutnya, sinergi antara Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Pemerintah Kota Palembang, Tim Penggerak PKK, Dekranasda, BKOW, Perempuan Indonesia Maju (PIM), dan berbagai organisasi perempuan menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan kegiatan budaya berskala besar.

“Kita sudah saatnya bangga terhadap budaya milik kita sendiri. Siapa lagi yang akan mengangkat, melestarikan, dan mencintai budaya Indonesia kalau bukan kita sendiri.”

Apriyadi berharap kegiatan serupa tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi berkembang menjadi gerakan budaya yang berkelanjutan dengan melibatkan lebih banyak organisasi perempuan, pemerintah daerah, komunitas budaya, serta masyarakat luas.

Ia menegaskan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan siap mendukung berbagai program yang mendorong pemberdayaan perempuan, pelestarian budaya, dan pengembangan ekonomi kreatif.

Keberhasilan memecahkan Rekor MURI, menurutnya, bukan sekadar prestasi, tetapi juga momentum untuk semakin memperkuat posisi Sumatera Selatan sebagai daerah yang aktif menjaga, melestarikan, dan mempromosikan budaya Indonesia kepada dunia.

Nannie Hadi Tjahjanto: Kebaya Adalah Simbol Perjuangan Perempuan dan Kekuatan Budaya Bangsa

0

Warta.in PALEMBANG – Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) Periode 2024–2029, Ny. Nannie Hadi Tjahjanto, mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk terus melestarikan kebaya sebagai identitas budaya bangsa sekaligus simbol persatuan, perjuangan, dan jati diri perempuan Indonesia.

Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri Parade Perempuan Berkebaya Berkain Songket dalam rangka Hari Kebaya Nasional ke-3 Tahun 2026 yang digelar di kawasan Car Free Day (CFD) Palembang, Minggu (19/7/2026). Kegiatan yang diinisiasi DPD Perempuan Indonesia Maju (PIM) Sumatera Selatan itu berhasil memecahkan Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori Parade Perempuan Berkebaya Berkain Songket Terbanyak.

Sejak pagi, ribuan perempuan dari berbagai organisasi perempuan, komunitas budaya, pelajar, mahasiswa, instansi pemerintah, hingga masyarakat umum memadati kawasan Car Free Day Palembang. Mengenakan kebaya yang dipadukan dengan beragam motif songket khas Sumatera Selatan, para peserta berjalan bersama melintasi Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) hingga Jembatan Ampera, menghadirkan panorama budaya yang menjadi simbol persatuan sekaligus promosi wastra Nusantara.

Dalam sambutannya, Nannie menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Pemerintah Kota Palembang, Perempuan Indonesia Maju (PIM), Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW), Gabungan Organisasi Wanita (GOW), Tim Penggerak PKK, Dharma Pertiwi, Dekranasda, Bhayangkari, Persit Kartika Chandra Kirana, Jalasenastri, Dharma Wanita Persatuan, serta puluhan organisasi perempuan lainnya yang telah bersatu menyukseskan peringatan Hari Kebaya Nasional sekaligus pemecahan Rekor MURI.

Menurutnya, keterlibatan berbagai organisasi perempuan menunjukkan kuatnya semangat persatuan, gotong royong, dan pengabdian perempuan Indonesia dalam menjaga warisan budaya bangsa.

“Atas nama Kongres Wanita Indonesia, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, pimpinan organisasi, dan seluruh perempuan Indonesia yang terus menjaga kebersamaan, memperkuat persatuan, melestarikan budaya bangsa, serta berkontribusi mewujudkan perempuan Indonesia yang maju, mandiri, berdaya, berintegritas, dan berkarakter,” ujar Nannie.

Secara khusus, Nannie juga memberikan penghargaan kepada Ketua DPD Perempuan Indonesia Maju (PIM) Sumatera Selatan sekaligus Ketua Pelaksana Hari Kebaya Nasional ke-3 Tahun 2026, Hj. Helen Ganefo, yang dinilainya berhasil mengoordinasikan penyelenggaraan kegiatan budaya berskala nasional tersebut hingga berlangsung sukses dan mencatatkan Rekor MURI.

Menurut Nannie, keberhasilan menghadirkan ribuan perempuan berkebaya dan berkain songket dalam satu gerakan budaya merupakan hasil kerja keras, dedikasi, serta kolaborasi yang dibangun bersama seluruh panitia, organisasi perempuan, pemerintah daerah, komunitas budaya, dan berbagai pemangku kepentingan.

“Saya menyampaikan penghargaan dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Ibu Hj. Helen Ganefo selaku Ketua DPD Perempuan Indonesia Maju Sumatera Selatan sekaligus Ketua Pelaksana, beserta seluruh jajaran panitia yang telah bekerja dengan penuh dedikasi sehingga peringatan Hari Kebaya Nasional ke-3 ini dapat berlangsung dengan sangat baik dan berhasil mencatatkan Rekor MURI. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa ketika perempuan bersatu, berkolaborasi, dan memiliki tujuan yang sama, kita mampu menghadirkan gerakan budaya yang membanggakan bangsa Indonesia,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, Nannie juga memberikan penghargaan kepada Ketua Umum DPP Perempuan Indonesia Maju (PIM), Lana T. Koentjoro, beserta Tim Nasional Kebaya Indonesia dan seluruh pegiat kebaya yang dinilainya telah berjuang tanpa lelah hingga lahirnya Hari Kebaya Nasional.

“Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Ibu Lana T. Koentjoro yang telah memperjuangkan Hari Kebaya Nasional. Perjuangan itu membuktikan bahwa ketika perempuan Indonesia bersatu, memiliki visi yang sama, dan bergerak secara konsisten, sebuah gagasan mampu menjadi gerakan nasional yang diakui negara.”

Nannie menegaskan bahwa Hari Kebaya Nasional bukan sekadar perayaan seremonial ataupun peragaan busana, melainkan momentum untuk memperkuat identitas nasional.

“Kebaya bukan hanya busana. Kebaya adalah simbol jati diri, kesantunan, keanggunan, martabat, serta semangat perjuangan perempuan Indonesia.”

Menurutnya, gerakan mengenakan kebaya juga memiliki dampak ekonomi yang besar karena melibatkan penenun songket, perajin, penjahit, desainer, hingga pelaku UMKM di berbagai daerah.

“Semakin banyak masyarakat mengenakan kebaya dan kain tradisional, semakin besar pula dukungan terhadap para perajin dan pelaku usaha kreatif yang menjaga keberlangsungan budaya Indonesia,” katanya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak hanya melestarikan kebaya, tetapi juga kain tradisional Nusantara, khususnya songket, sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi kreatif.

Nannie menjelaskan bahwa kebaya memiliki hubungan erat dengan sejarah gerakan perempuan Indonesia. Salah satu momentum penting adalah Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) ke-10 tahun 1964, ketika ribuan perempuan dari seluruh Indonesia mengenakan kebaya sebagai simbol persatuan dan perjuangan.

Menurutnya, penetapan 24 Juli sebagai Hari Kebaya Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 merupakan bentuk pengakuan negara terhadap kebaya sebagai identitas nasional. Pengakuan tersebut semakin diperkuat dengan ditetapkannya kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada tahun 2024 melalui nominasi multinasional bersama sejumlah negara Asia Tenggara.

“Kebaya bukan benda budaya yang hanya disimpan untuk dikenang, tetapi warisan budaya hidup yang harus terus dikenakan, dikenalkan, dikembangkan, dilindungi, dan diwariskan kepada generasi mendatang.”

Dalam kesempatan tersebut, Nannie juga menegaskan bahwa profesi ibu rumah tangga merupakan profesi yang sangat mulia dan memiliki kontribusi besar bagi keluarga maupun bangsa.

“Profesi itu bukan hanya polisi, dokter, insinyur, atau PNS. Ibu rumah tangga juga adalah profesi. Bahkan jika seluruh pekerjaan ibu di rumah dihitung secara ekonomi, nilainya sangat besar dan tidak akan mampu dibayar.”

Ia mengajak masyarakat, khususnya para suami, untuk memberikan penghargaan yang lebih besar terhadap peran perempuan di dalam keluarga karena perempuan merupakan fondasi utama dalam membangun karakter generasi penerus bangsa.

Nannie juga mengajak seluruh organisasi perempuan menyambut satu abad KOWANI pada tahun 2028 melalui penguatan persatuan dan kolaborasi.

Ia memperkenalkan Gerakan Nasional Seribu Profesi, Seribu Sertifikasi, dan Seribu Pemimpin sebagai program strategis KOWANI untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia perempuan, memperluas kesempatan kerja, mendorong kepemimpinan perempuan, serta memberikan solusi terhadap berbagai persoalan sosial, termasuk kekerasan terhadap perempuan dan anak, perdagangan orang, anak terlantar, hingga penyalahgunaan narkotika.

“Gerakan ini kami hadirkan untuk mempercepat lahirnya perempuan Indonesia yang unggul, mandiri, dan berdaya saing, sekaligus mendukung pencapaian Asta Cita, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), serta mewujudkan Indonesia Emas 2045.”

Menutup sambutannya, Nannie mengajak seluruh masyarakat untuk terus mengenakan kebaya dengan bangga, melestarikan songket dengan cinta, memberdayakan para perajin secara nyata, menggerakkan ekonomi perempuan, serta mewariskan budaya kepada generasi muda.

Sementara itu, Ketua Umum DPP Perempuan Indonesia Maju (PIM), Lana T. Koentjoro, mengatakan Hari Kebaya Nasional lahir dari perjuangan panjang berbagai organisasi perempuan yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian kebaya sebagai identitas budaya bangsa.

Menurutnya, penetapan Hari Kebaya Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 merupakan tonggak penting, namun tanggung jawab seluruh masyarakat adalah memastikan kebaya tetap hidup dalam keseharian.

“Hari Kebaya Nasional lahir dari perjuangan bersama berbagai organisasi perempuan. Penetapan melalui Keppres Nomor 19 Tahun 2023 menjadi tonggak penting, tetapi tanggung jawab kita adalah memastikan kebaya terus hidup dalam keseharian masyarakat.”

Ia menilai kebaya harus semakin dekat dengan generasi muda melalui inovasi desain tanpa meninggalkan pakemnya sehingga dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan.

Menurut Lana, pelestarian kebaya membutuhkan kolaborasi pemerintah, komunitas, akademisi, media, pelaku usaha, dan masyarakat.

“Ketika seseorang mengenakan kebaya, yang bergerak bukan hanya pelestarian budaya, tetapi juga ekonomi kreatif. Perajin songket, penjahit, desainer, pengrajin aksesori, hingga pelaku UMKM ikut merasakan manfaatnya.”

Ia menambahkan bahwa pengakuan kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO bukanlah akhir perjuangan, melainkan awal tanggung jawab bersama untuk terus melestarikan dan mewariskannya kepada generasi mendatang.

Apresiasi juga disampaikan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Mewakili Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Sumatera Selatan, Dr. H. Apriyadi Mahmud, M.Si., menyampaikan penghargaan atas terselenggaranya Parade Perempuan Berkebaya Berkain Songket yang dirangkaikan dengan pemecahan Rekor MURI.

Ia mengapresiasi Perempuan Indonesia Maju (PIM), panitia, serta seluruh organisasi perempuan yang telah menginisiasi kegiatan budaya berskala nasional tersebut.

“Kegiatan ini sangat luar biasa. Sejak pagi para peserta mengikuti parade berkebaya dan berkain songket hingga berkumpul di lokasi acara dalam rangka pemecahan Rekor MURI. Ini merupakan wujud nyata kecintaan terhadap budaya Indonesia yang patut kita apresiasi.”

Apriyadi juga menyampaikan permohonan maaf karena Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru dan Wakil Gubernur H. Cik Ujang tidak dapat hadir lantaran telah memiliki agenda pemerintahan yang telah dijadwalkan sebelumnya. Meski demikian, keduanya memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Menurutnya, sinergi antara Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Pemerintah Kota Palembang, Tim Penggerak PKK, Dekranasda, BKOW, Perempuan Indonesia Maju (PIM), dan berbagai organisasi perempuan menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan kegiatan budaya berskala besar.

“Kita sudah saatnya bangga terhadap budaya milik kita sendiri. Siapa lagi yang akan mengangkat, melestarikan, dan mencintai budaya Indonesia kalau bukan kita sendiri.”

Apriyadi berharap kegiatan serupa tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi berkembang menjadi gerakan budaya yang berkelanjutan dengan melibatkan lebih banyak organisasi perempuan, pemerintah daerah, komunitas budaya, serta masyarakat luas.

Ia menegaskan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan siap mendukung berbagai program yang mendorong pemberdayaan perempuan, pelestarian budaya, dan pengembangan ekonomi kreatif.

Keberhasilan memecahkan Rekor MURI, menurutnya, bukan sekadar prestasi, tetapi juga momentum untuk semakin memperkuat posisi Sumatera Selatan sebagai daerah yang aktif menjaga, melestarikan, dan mempromosikan budaya Indonesia kepada dunia.