30.4 C
Jakarta
Rabu, Mei 20, 2026
Beranda blog

Polsek Ngimbang Secara Rutin Gelar Commanderwish Di Pagi Hari Guna cegah Kemacetan di Wilayah Ngimbang

0

Polsek Ngimbang Secara Rutin Gelar Commanderwish Di Pagi Hari Guna cegah Kemacetan di Wilayah Ngimbang

LAMONGAN//Warta.in –Anggota jaga Polsek Ngimbang dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat yang berkativitas pagi hari di jalan raya sekaligus mengurai kemacetan dan antisipasi kecelakaan yang sering terjadi tempat keramaian seperti di Jalan Raya simpang tiga Pasar Ngimbang Kecamatan Ngimbang, Rabu Pagi (20/05/2026) pada pukul 06.30 WIB

Kegiatan masyarakat yang beraktifitas pada pagi hari semakin meningkat seiring dengan kegiatan masyarakat yang berangkatnya bekerja dan pergi belanja menuju ke pasar atau kawasan pertokoan, pasar maupun kesekolah.

Terlihat kesibukan Anggota Petugas Polsek Ngimbang Aiptu Suhadi dan Aipda Afis untuk melaksanakan pengaturan lalu lintas cegah lakalantas dipagi hari di daerah rawan kemacetan di wilayah Ngimbang

Untuk melayani masyarakat dalam melaksanakan aktivitas dijalan raya, Kegiatan pengaturan lalu lintas ini untuk menjaga dan memmelihara Kamseltibcar (keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran) arus lalu lintas, dimana pagi hari banyak para pedagang dan pengendara angkutan umum serta masyarakat melakukan aktivitas dipagi hari, sehingga menimbulkan potensi kemacetan, kecelakaan dan antisipasi tindak kriminalitas, sehingga perlu kehadiran petugas kepolisian untuk melakukan pengaturan lalu lintas.

Pada kesempatan terpisah, Kapolsek Ngimbang Iptu I Wayan Sumantra, S.H, mengatakan, “Kegiatan pengaturan lalu lintas di pagi hari ini merupakan bentuk pelayanan polsek Ngimbang secara rutin dipagi hari yang bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat terutama para pengendara dan angkutan umum serta menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam tertib mematuhi aturan berkendara maupun rambu-rambu lalu lintas,helm dan surat – surat kendaraan dengan tetap mengedepankan protokoler kesehatan”, ungkapnya

  1. Kami berharap dengan melaksanakan pengarturan Commonderwish di pagi hari secara rutin wilayah Ngimbang tetap aman dan kondusif, pungkasnya (roy)

Polsek Ngimbang Gelar Patroli Harkamtibmas Di Obvit Guna Cegah Kriminalitas Dan Premanisme

0

LAMONGAN//Warta.in –Anggota jaga Polsek Ngimbang hari ini telah melaksanakan kegiatan Patroli Harkamtibmas di Objek Vital (Obvit) guna cegah kriminalitas dan tangkal 4 C di wilayah Hukum Polsek Ngimbang, Selasa (19/05/2026)pukul 10.00 Wib sampai selesai

Dalam Patroli Obyektif vital ini di dilaksanakan oleh Anggota jaga Polsek Ngimbang Aipda Afis dan Brigadir Elbiyun dengan sasaran di SPBU Ngimbang, ATM BNI, PLN Kakatpenjalin, dan Masyarakat Desa Ngimbang yang ada di Kecamatan Ngimbang.

Kapolsek Ngimbang Iptu I Wayan Sumantra, S.H, patroli di Obyek Vital ini di laksanakan guna cegah dan antisipasi kejahatan dan premanisme untuk menjaga harkamtibmas guna cegah kriminalitas dan tangkal 4C di wilayah Kecamatan Ngimbang dan menyampaikan pesan – pesan Keamanan dan ketertiban masyarakat khususnya kepada pengamanan Swakarsa atau security di Wilayah Ngimbang selalu waspada dengan situasi yg berkembang di sekitarnya,ungkapnya

Kapolsek Ngimbang berkometmen dengan Secara rutin patro Obyek Vital di Wilayah Ngimbang sehingga tetap aman dan kondusif,pungkasnya(roy)

Polsek Ngimbang Gelar Patroli Blue Light Guna Menjaga Siskamtibmas Daerah Rawan Kriminal Di Wilayah Ngimbang

0

Polsek Ngimbang Gelar Patroli Blue Light Guna Menjaga Siskamtibmas Daerah Rawan Kriminal Di Wilayah Ngimbang

LAMONGAN//Warta.in – Peran Polsek Ngimbang sebagai ujung tombak Polri di tengah masyarakat terus diperkuat. Hal ini sejalan dengan arahan Kapolri Listyo Sigit Prabowo yang menekankan pentingnya pengembangan pengamanan siskamtibmas dalam membangun kemitraan dengan masyarakat serta melakukan deteksi dini terhadap potensi gangguan keamanan.

Polsek Ngimbang sendiri, peran pengamanan sangat di butuhkan selain pengama swakarsa s
Kondisi ini Polri harus bisa mengayomi ratusan bahkan ribuan warga di wilayanya Seperti yang terjadi di Kecamatan Ngimbang secara rutin di laksanakan Patroli Blue Light, Selasa (19/05/2026)

Kegiatan di laksanakan pukul 22.00 wib oleh petugas jaga Polsek Ngimbang Aiptu Suhadi dan Aiptu Hadi Gunarto, S.H, untuk menyasar daerah- daerah rawan kriminalitas di Jalan Poros Jombang – Babat, SPBU Ngimbang, Pabrik rokok Ngimbang dan Ruko Depan RSUD Ngimbang

Kapolsek Ngimbang Iptu IWayan Sumantra, S.H, mengatakan bahwa menjaga keamanan lingkungan tidak bisa hanya mengandalkan aparat kepolisian. Peran aktif masyarakat sangat dibutuhkan agar situasi kamtibmas tetap aman dan kondusif.

“Jumlah personel tentu terbatas, sehingga keamanan lingkungan akan lebih kuat jika masyarakat ikut berperan. Kekuatan terbesar sebenarnya ada pada masyarakat itu sendiri untuk menjaga lingkungannya,” ujarnya.

Menurutnya, konsep Polri saat ini tidak hanya berperan sebagai penegak hukum, tetapi juga hadir dengan pendekatan humanis yang dekat dengan masyarakat.

Polri dituntut menjadi garda terdepan yang serba bisa, mampu berkomunikasi, menyelesaikan masalah di masyarakat, hingga menjadi jembatan antara warga dan kepolisian.

Iptu IWayan Sumantra, S.H, juga mengimbau warga Masyarakat untuk kembali menghidupkan budaya gotong royong dalam menjaga keamanan lingkungan. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah dengan memasang portal di pintu masuk kampung serta mengaktifkan kembali kegiatan ronda atau siskamling.

“Kalau siskamling hidup dan warga saling peduli, pelaku kejahatan seperti pencuri kendaraan bermotor tentu akan berpikir dua kali. Lingkungan yang kompak biasanya membuat pelaku kejahatan langsung ciut atau ‘kena mental’,” jelasnya.

Dengan kebersamaan antara masyarakat dan kepolisian, diharapkan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di Desa Klumprit tetap terjaga, sehingga warga dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan rasa aman dan nyaman, pungkasnya (roy)

Hari Kebangkitan Nasional 2026, IWO Indonesia DPD Karawang Dorong Kolaborasi dan Sinergitas Masyarakat

0

Hari Kebangkitan Nasional 2026, IWO Indonesia DPD Karawang Dorong Kolaborasi dan Sinergitas Masyarakat

KARAWANG | Warta In Jabar – Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang diperingati setiap tanggal 20 Mei menjadi momentum penting bagi bangsa Indonesia untuk mengenang lahirnya kesadaran nasional melalui berdirinya organisasi Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908. Semangat persatuan, perjuangan, dan kebangkitan tersebut terus relevan hingga saat ini, termasuk dalam dunia jurnalistik dan media digital.

Di Kabupaten Karawang, semangat kebangkitan itu turut diwujudkan oleh Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWOI) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Karawang yang kini telah memasuki usia tiga tahun pengabdian di tengah masyarakat. Selama perjalanannya, organisasi tersebut terus berupaya membangun ekosistem media yang profesional, edukatif, dan berpihak pada kepentingan publik.

Ketua Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWOI) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Kabupaten Karawang, Syuhada Wisastra, mengatakan bahwa peringatan Hari Kebangkitan Nasional bukan hanya sekadar seremonial tahunan, melainkan pengingat penting bagi seluruh elemen bangsa agar terus menjaga persatuan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, termasuk di bidang pers dan informasi digital.

Menurutnya, wartawan memiliki peran strategis dalam menjaga semangat kebangkitan bangsa melalui penyebaran informasi yang akurat, berimbang, dan membangun optimisme masyarakat.

“Semangat Hari Kebangkitan Nasional harus menjadi energi baru bagi insan pers, khususnya wartawan online, untuk terus berkembang, menjaga independensi, serta menjadi bagian dari pembangunan daerah dan bangsa,” ujar Syuhada Wisastra, Rabu (20/5/2026).

Ia menambahkan, selama tiga tahun berdiri di Karawang, Ikatan Wartawan Online Indonesia telah aktif melakukan berbagai kegiatan sosial, pendidikan jurnalistik, penguatan organisasi, hingga membangun sinergitas dengan pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat.

Selain menjadi wadah bagi wartawan online, organisasi tersebut juga terus mendorong lahirnya media-media digital lokal yang mampu memberikan informasi positif dan edukatif kepada masyarakat Karawang.

Dalam momentum Hari Kebangkitan Nasional 2026, Syuhada juga mengajak seluruh unsur masyarakat, pemerintah, organisasi, pelaku usaha, pemuda, dan insan pers untuk bangkit bersama membangun Kabupaten Karawang yang lebih maju melalui semangat kolaborasi dan sinergitas.

“Kebangkitan hari ini bukan hanya milik satu golongan, tetapi kebangkitan seluruh unsur masyarakat untuk bersama-sama menuju Karawang maju. Dengan saling bersinergi, saling mendukung, dan menjaga persatuan, kita yakin Karawang bisa menjadi daerah yang semakin kuat, maju, dan berdaya saing,” tambahnya.

Momentum Harkitnas tahun ini, lanjut Syuhada, menjadi refleksi bersama bahwa kebangkitan bangsa di era digital tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga kualitas sumber daya manusia dan integritas dalam menyampaikan informasi.

“Pers yang sehat dan profesional merupakan bagian dari kebangkitan nasional modern. Karena itu, IWO Indonesia DPD Karawang akan terus berkomitmen menjaga marwah jurnalistik dan menjadi mitra strategis dalam pembangunan daerah,” pungkasnya.

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2026 diharapkan dapat menjadi penguat semangat kolaborasi seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun Indonesia yang maju, berdaya saing, dan tetap menjunjung nilai persatuan serta kebhinekaan.

Kasus Sepatu BSM Jampang Tengah 2012 Menguap, Siswa Miskin Jadi Korban, Siapa Bertanggung Jawab ?

0

Kasus Sepatu BSM Jampang Tengah 2012 Menguap, Siswa Miskin Jadi Korban, Siapa Bertanggung Jawab ?

sukabumi, Warta In, Polemik pengadaan 6.086 pasang sepatu untuk siswa penerima Bantuan Siswa Miskin [BSM] tahun 2012 di 40 SD Negeri se-Kecamatan Jampang Tengah kembali mencuat setelah 14 tahun nyaris senyap.

Kasus ini bermula dari pengakuan Firmansyah, Direktur CV Abadi Berkat Mandiri, selaku penyedia sepatu merek Ardiles. Ia menyebut nilai kontrak awal mencapai Rp395.590.000 dengan harga Rp65.000 per pasang. Namun hingga Agustus 2026, pembayaran belum tuntas. Firmansyah merasa dirugikan dan menuding ada pengingkaran komitmen dari pihak sekolah dan K3S Jampang Tengah.

Pihak K3S membantah. Dalam klarifikasi 5 Mei 2026, Ketua K3S Lia Rohmalia bersama pengurus lintas periode menyatakan kewajiban sudah lunas. Mantan Ketua K3S 2014 Nyanyang Resmana menjelaskan terjadi perubahan pesanan: dari 6.086 pasang yang dipesan, hanya 4.702 pasang yang diterima dan mereknya tidak sesuai. Harga pun disepakati turun menjadi Rp47.125 per pasang.

Dengan skema itu, total kewajiban menjadi Rp221.581.750. K3S mengklaim sudah melunasi seluruhnya lewat tiga tahap pembayaran terakhir pada 2024 di era Ketua K3S Ujang Junaedi. Bahkan disebut ada kelebihan bayar Rp1,5 juta. Semua proses, kata Nyanyang, didukung kuitansi.

Pegiat sosial media Alfi Yonimar meragukan klarifikasi tersebut. Ia mendesak aparat mengecek ulang data riil penerima BSM 2012.

“Kalau benar pihak sekolah menggelembungkan jumlah penerima, ini bukan lagi sengketa dagang. Ini dugaan niat jahat menyalahgunakan wewenang untuk meraup keuntungan pribadi. Korbannya tetap siswa miskin,” ujar Alfi.

Ia meminta Polsek Jampang Tengah yang kini menangani laporan membuka kembali dokumen BSM 2012: jumlah siswa riil, jumlah sepatu yang diterima, dan aliran dana.

Alfi mengingatkan bahwa sejak 2 Januari 2026, UU No. 1 Tahun 2023 tentang KUHP sudah berlaku. Dua pasal dinilai relevan jika terbukti ada penyalahgunaan dana publik:

Pasal 408 mengatur pidana maksimal 5 tahun bagi yang menggelapkan uang atau barang dalam penguasaan karena jabatan. Pasal 415 mengatur pidana maksimal 20 tahun bagi pejabat yang menyalahgunakan kewenangan untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dan merugikan keuangan negara.

“Kalau terbukti ada mark up, penerima fiktif, atau pemotongan dana BSM, ini masuk ranah pidana korupsi. Klarifikasi sepihak tidak bisa menutup persoalan,” tegasnya.(RD)

Syuhada Wisastra: GOKAR Bukan Sekadar Aplikasi, Tapi Gerakan Ekonomi Digital Masyarakat Karawang

0

Syuhada Wisastra: GOKAR Bukan Sekadar Aplikasi, Tapi Gerakan Ekonomi Digital Masyarakat Karawang

KARAWANG | Warta In Jabar – Di tengah perubahan regulasi transportasi online nasional, GOKAR resmi mengumumkan kebijakan baru terkait potongan aplikator sebagai bentuk dukungan terhadap kesejahteraan driver dan pelayanan terbaik bagi masyarakat Karawang.

Melalui pengumuman resmi management GOKAR yang dirilis Selasa (19/5/2026), aplikasi transportasi online asli Karawang tersebut menegaskan komitmennya mengikuti arahan pemerintah terkait Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun 2026 tentang Perlindungan Pekerja Transportasi Online.

Dalam aturan tersebut, pemerintah menetapkan batas maksimal potongan aplikator sebesar 8 persen dengan pendapatan driver minimal 92 persen. Namun demikian, GOKAR memastikan tetap memberikan skema terbaik bagi mitra drivernya dengan sistem potongan hanya 5 persen yang mulai berlaku efektif Rabu, 20 Mei 2026.

Langkah tersebut disambut positif para driver karena dinilai mampu meningkatkan penghasilan harian sekaligus memberikan semangat baru bagi para mitra pengemudi lokal Karawang.

Founder GOKAR, Syuhada Wisastra, mengatakan bahwa sejak awal GOKAR hadir bukan hanya sebagai aplikasi transportasi online, tetapi juga sebagai gerakan ekonomi kerakyatan berbasis daerah.

“GOKAR lahir dari Karawang untuk masyarakat Karawang. Kami ingin tumbuh bersama driver, UMKM, dan pelanggan dengan sistem yang lebih adil dan bersahabat,” ujar Syuhada Wisastra dalam keterangan resminya.

Ia menegaskan, kebijakan potongan 5 persen merupakan bentuk keberpihakan perusahaan terhadap kesejahteraan para driver di tengah meningkatnya kebutuhan ekonomi masyarakat.

“Kami memahami perjuangan para driver di lapangan. Karena itu management GOKAR mengambil langkah nyata dengan potongan yang lebih ringan agar pendapatan mitra semakin maksimal,” katanya.

Tidak hanya fokus pada driver, GOKAR juga berupaya menjaga kualitas layanan kepada pelanggan dengan pelayanan cepat, aman, dan terpercaya sebagai identitas utama transportasi online lokal Karawang.

Menurut Syuhada, kehadiran GOKAR juga menjadi simbol kebangkitan karya anak daerah yang mampu bersaing di era digital nasional.

“Ini bukan hanya soal aplikasi transportasi. Ini tentang kebanggaan daerah, tentang bagaimana masyarakat Karawang mampu menciptakan platform sendiri dan berkembang bersama,” ungkapnya.

Management GOKAR berharap kebijakan baru tersebut dapat memperkuat loyalitas driver, meningkatkan kepercayaan pelanggan, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal berbasis digital di Kabupaten Karawang.

Dengan semangat “Dekat Bersahabat”, GOKAR optimistis dapat menjadi transportasi online pilihan masyarakat sekaligus membuka peluang kesejahteraan yang lebih luas bagi para mitra driver di Karawang.

Menagih Transparansi Upland Subang, Ke Mana Menguapnya Puluhan Miliar Dana Hibah?

0

Menagih Transparansi Upland Subang, Ke Mana Menguapnya Puluhan Miliar Dana Hibah?

​Penulis : R. Damayanto (Warta In)

Subang digadang-gadang jadi salah satu lumbung sukses Program Upland. Uangnya bukan main-main. Hibah Bank Dunia yang dikucurkan lewat Kementerian Pertanian mencapai puluhan miliar untuk menghidupkan lahan kering dan menggerek manggis Subang ke pasar ekspor.

Narasi di atas kertas memang manis target hektare terukur, benih terdokumentasi, presentasi rapi di ruang rapat tapi tiga tahun berlalu, publik masih menagih satu hal sederhana, buktinya mana ?

Kalau benar penanaman dimulai 2022, maka 2025 ini seharusnya sudah ada kebun manggis yang mulai berbuah. Desa mana yang sudah panen ? Berapa ton yang dihasilkan per hektare ? Apakah pendapatan petani naik, atau justru mereka menanggung biaya perawatan tanpa kepastian pasar? Pertanyaan-pertanyaan ini belum dijawab dengan data terbuka.

Yang ada justru seremoni. Serah terima bibit, foto bersama, lalu diam. Tidak ada peta lokasi yang bisa diakses publik, tidak ada laporan berkala soal survival rate tanaman, apalagi analisis ekonomi dampaknya ke petani puluhan miliar itu seperti menguap menjadi tumpukan laporan administratif yang tak bisa diuji di lapangan.

Begitupun dengan peran pendamping yang tentu ahli bidang nya sesuai dengan persyaratan rekruitmen, tapi kabarnya pun sampai hari ini tidak jelas padahal mereka dikontrak dan mendapatkan Honor

Ironinya, sebelum manggis sempat membuktikan diri, arah program bergeser di 2025. Manggis ditinggal, berganti menjadi program “Upland Nanas” Alasannya klise: Subang adalah “Kota Nanas”. pergantian komoditas sah saja jika berbasis evaluasi dan kebutuhan petani, tapi yang disodorkan publik lagi-lagi hanya narasi baru, tanpa jejak kenapa yang lama ditinggalkan. Gagal bibit, gagal pasar, atau gagal perencanaan ? Tidak ada yang tahu.

Yang lebih meresahkan, bau anyir dugaan korupsi sudah tercium lebih dulu dari panen nanas, Gosip gagal panen, pengadaan tertutup, dan kelompok tani yang luassan Ha tidak sesuai dg CPCL, Gosip kembali terdengar Mark Up pembelian pengadaan bibit Nanas Jika benar, ini bukan sekadar pemborosan. Ini pengkhianatan terhadap petani dan masyarakat pada umumnya nya.

Subang memang punya potensi manggis dan nanas. yang hilang adalah transparansi. tanpa keterbukaan data, program hibah luar negeri hanya jadi ritual cair, tanam, foto, ganti komoditas, ganti cerita.

Jika manggis belum berbuah, katakan sejujurnya. Evaluasi apa yang salah bibit, pendampingan, Infrasruktur, atau pola tanam ? Jika sudah berbuah, tunjukkan datanya. Jika sudah bergeser ke nanas, jelaskan dasarnya dan buka seluruh proses pengadaan. Jangan biarkan publik hanya merasakan manisnya retorika, sementara rasanya pahit di lapangan.

Karena yang ditagih masyarakat bukan janji di dokumen proyek, yang ditagih adalah bukti di kebun. Apakah manggis dan nanas Subang benar-benar semanis uang hibah yang mengantarkannya ?

Sudah saatnya Dinas Pertanian Subang dan Kementerian Pertanian membuka seluruh data lokasi, progres, dan evaluasi Program Upland. Jangan tunggu publik bertanya lebih keras. Jangan tunggu aparat penegak hukum datang baru kemudian mencari-cari alibi pembenaran.

​Program hibah luar negeri tidak boleh dijadikan ritual tahunan bagi-bagi proyek: cairkan dana, tanam bibit, foto bersama, ganti komoditas, lalu ganti narasi untuk menutupi borok sebelumnya.

​Dinas Pertanian Subang dan Kementerian Pertanian tidak boleh lagi bersembunyi di balik dinding birokrasi. Buka seluruh data lokasi, laporan keuangan, dan hasil evaluasi Program Upland ke hadapan publik. Jangan tunggu sampai masyarakat mencari kebenaran dan jangan tunggu sampai Aparat Penegak Hukum datang mengetuk pintu baru kemudian sibuk mencari alibi pembenaran. Rakyat Subang tidak butuh retorika manis, mereka butuh bukti nyata dan kebenaran yang pasti.

‎*Polemik Perusahaan dan Warga Memanas, PPWI Inhil Minta Verifikasi Terbuka Seluruh Dokumen Lahan*

0

‎Polemik Perusahaan dan Warga Memanas, PPWI Inhil Minta Verifikasi Terbuka Seluruh Dokumen Lahan

‎Tembilahan – Polemik konflik lahan antara masyarakat Desa Lubuk Besar, Kecamatan Kemuning, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) dengan pihak perusahaan kembali menjadi sorotan publik. Situasi yang terus memanas dikhawatirkan memicu gesekan sosial di tengah masyarakat apabila para pihak terkait tidak membuka data dan dokumen secara transparan.

‎Ketua DPC Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Kabupaten Indragiri Hilir, Rosmely, meminta semua pihak mengedepankan keterbukaan agar persoalan agraria tersebut tidak berkembang menjadi konflik horizontal. Menurutnya, klaim keberpihakan kepada masyarakat harus dibuktikan dengan data yang jelas dan dapat diuji secara terbuka di hadapan publik.

“Kalau memang yang dibela adalah masyarakat kecil, maka buka saja data penguasaan lahannya secara transparan. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Publik berhak tahu siapa pemilik sebenarnya,” tegas Rosmely, Selasa (19/5/2026).

‎Rosmely mengatakan, hingga kini muncul dugaan adanya pihak luar desa yang menguasai lahan dalam jumlah besar di kawasan eks PT Agroraya Gematrans. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat terkait status dan dasar penguasaan lahan.

‎Ia menilai, keterbukaan data menjadi langkah penting untuk menghindari spekulasi maupun kecurigaan publik. “Kenapa ketika muncul pertanyaan soal data lahan justru tidak dibuka? Ini yang membuat publik curiga. Jangan sampai ada cukong atau pemodal besar berlindung di balik nama masyarakat kecil,” ujarnya.

‎PPWI Inhil, lanjut Rosmely, tidak berpihak kepada korporasi maupun kelompok tertentu. Organisasi yang dipimpin Ketua Umumnya Wilson Lalengke ini hanya mendorong transparansi serta perlindungan terhadap hak masyarakat yang benar-benar sah secara hukum.

‎Ia juga mengingatkan bahwa konflik agraria sangat rentan dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk kepentingan bisnis dan penguasaan lahan dalam skala besar. “Harus dibedakan antara masyarakat asli yang berkebun untuk hidup dengan pihak-pihak yang diduga bermain dalam skala besar. Kalau memang ada orang luar desa memiliki ratusan hektare, maka harus dijelaskan ke publik dasar penguasaannya apa,” katanya.

‎Dalam pernyataannya, PPWI Inhil mendesak DPRD Kabupaten Indragiri Hilir, Badan Pertanahan Nasional (BPN), aparat penegak hukum, hingga Inspektorat untuk turun melakukan verifikasi terbuka terhadap seluruh dokumen penguasaan lahan di wilayah tersebut. Rosmely juga meminta agar polemik yang berkembang tidak hanya menjadi perang opini tanpa pembuktian yang jelas.

“Jangan hanya bermain opini di media. Kalau ada data, buka. Kalau ada dokumen, tunjukkan. Transparansi adalah cara paling sehat untuk menghentikan konflik dan mencegah masyarakat diadu domba,” tutupnya.

‎Polemik lahan ini sebelumnya mencuat setelah Kepala Desa Lubuk Besar, Tri Aprianto, menuding pihak perusahaan melakukan pengalihan isu usai polemik pemetaan lahan dan persoalan dokumen kepemilikan merebak ke publik. (TIM/Red)

RATUSAN PEDAGANG KORBAN KEBAKARAN PASAR TAMAN PURING KECEWA DAN MERASA DIBOHONGI

0

RATUSAN PEDAGANG KORBAN KEBAKARAN PASAR TAMAN PURING KECEWA DAN MERASA DIBOHONGI; JANJI PEMBANGUNAN KEMBALI BERUBAH JADI TAMAN DIFABEL, PEMERINTAH DKI DIMINTA JELASKAN NASIB MEREKA

JAKARTA – Gelombang kekecewaan mendalam, rasa dikhianati, dan keterkejutan luar biasa kini melanda hati ratusan pedagang yang menjadi korban kebakaran hebat di kawasan Pasar Taman Puring, Jakarta Selatan. Perasaan itu muncul dan memuncak tajam setelah beredarnya informasi yang menyebutkan bahwa lahan bekas lokasi pasar yang hangus terbakar tersebut rencananya akan dialihfungsikan menjadi taman ramah penyandang disabilitas atau taman difabel, padahal sebelumnya janji manis dan pernyataan resmi telah disampaikan oleh pihak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bahwa kawasan tersebut akan dibangun kembali sebagai pusat perekonomian rakyat.

Kekecewaan besar yang kini meledak ke permukaan itu berakar dari sebuah kesepakatan dan komitmen yang sempat terjalin di antara kedua belah pihak. Para pedagang menegaskan bahwa mereka telah menerima pernyataan resmi serta janji tegas dari jajaran pemerintah daerah, yang menyatakan secara gamblang dan lugas bahwa kawasan Pasar Taman Puring akan dipugar, dibangun kembali, dan difungsikan kembali sebagai pasar rakyat yang layak, aman, dan nyaman. Dalam rencana awal tersebut, pengelolaan pasar dirancang menggunakan sistem koperasi yang tertib dan transparan, yang keseluruhannya akan dikelola serta diawasi langsung melalui Badan Pengelola Aset Daerah (BPAD), di mana para pedagang lama dipastikan dapat kembali menempati lapak mereka untuk meneruskan kehidupan ekonomi keluarga.

Bahkan, tak lama setelah peristiwa musibah kebakaran besar yang meluluhlantakkan seluruh bangunan pasar pada bulan Juli tahun 2025 silam, Gubernur DKI Jakarta sempat menyampaikan keterangan resmi dan pernyataan terbuka di hadapan publik. Saat itu, kepala daerah tertinggi di ibu kota tersebut menegaskan tekad kuatnya agar Pasar Taman Puring segera dibangun kembali menjadi lebih baik, lebih indah, dan lebih layak, dengan tujuan utama agar para pedagang yang menjadi korban musibah dapat kembali beraktivitas, memiliki tempat usaha yang pasti, dan tidak kehilangan mata pencaharian mereka. Namun, seiring berjalannya waktu, para pedagang justru menilai kenyataan yang terjadi di lapangan sangat jauh berbeda, berbalik arah, dan menyimpang dari janji manis yang sebelumnya disampaikan dengan lantang kepada masyarakat luas.

Puncak dari rasa kecewa yang sedemikian rupa itu akhirnya meletus setelah terselenggaranya pertemuan penting antara para perwakilan pedagang dengan jajaran pejabat pemerintah daerah pada hari Senin, tanggal 18 Mei 2026 yang lalu. Di dalam pertemuan itulah, para pedagang diminta, diimbau, dan diarahkan untuk segera membongkar sendiri sisa-sisa lapak maupun tenda darurat yang masih berdiri di lokasi, dengan alasan bahwa pembongkaran itu perlu dilakukan secara sukarela agar rencana penataan kawasan serta proses pembangunan kembali pasar tidak terhambat, tidak ada halangan, dan dapat berjalan lancar sesuai jadwal yang ditetapkan.

Berbekal rasa percaya yang masih besar terhadap komitmen pemerintah serta harapan agar nasib mereka segera terang, para pedagang akhirnya sepakat, bersedia, dan tidak berkeberatan untuk melakukan pembongkaran bangunan-bangunan darurat itu secara mandiri, tertib, dan tanpa melakukan perlawanan sedikit pun. Namun, betapa terkejut dan patah hatinya mereka, karena hanya berselang satu hari setelah pembongkaran dilakukan dan lahan sudah bersih dari bangunan apa pun, berita besar yang mengejutkan justru muncul ke permukaan. Berita tersebut menyatakan dengan tegas bahwa rencana pembangunan pasar rakyat telah berganti haluan, dan lahan bekas kebakaran itu kini ditetapkan akan dijadikan taman difabel.

Munculnya informasi mendadak dan perubahan rencana sepihak tersebut sontak memicu gelombang kemarahan, keresahan, serta ketidakpercayaan yang mendalam dari seluruh elemen pedagang. Mereka merasa sangat dirugikan, merasa dipermainkan, dan merasa tidak dihargai hak-haknya, karena hingga berita itu beredar luas, mereka mengaku tidak pernah mendapatkan penjelasan resmi, pemberitahuan tertulis, maupun informasi lisan apa pun terkait adanya perubahan drastis pada rencana induk pembangunan kawasan tersebut.

“Kami merasa sungguh dibohongi, dipermainkan, dan dikhianati oleh janji yang diucapkan sendiri oleh pemerintah. Awal mula kejadian, masyarakat kami dijanjikan dengan sangat jelas dan lantang bahwa lokasi ini akan dibangun kembali untuk kami para pedagang, dengan sistem pengelolaan koperasi yang dikelola melalui BPAD. Karena itulah kami percaya, kami ikuti arahan, dan kami mau membongkar lapak serta tenda kami secara sukarela dan ikhlas. Tapi apa buktinya sekarang? Baru saja kami bersihkan lahan, malah muncul berita besar yang menyebutkan lokasi ini akan dijadikan taman difabel. Di mana letak janji yang dulu disampaikan itu? Apakah nasib kami tidak ada harganya sama sekali?” ujar salah satu perwakilan pedagang yang sedang berada di lokasi kejadian pada hari Selasa, 19 Mei 2026, dengan nada suara yang masih menyisakan rasa kaget dan kekecewaan mendalam.

Menurut data yang telah dihimpun dan dicatat secara rinci oleh para pedagang, sejak peristiwa kebakaran dahsyat melanda Pasar Taman Puring pada bulan Juli 2025 yang lalu, tercatat lebih dari 500 kepala keluarga yang menggantungkan hidup di sana kehilangan segalanya. Mereka kehilangan tempat usaha, kehilangan barang dagangan, dan mengalami kerugian ekonomi yang nilainya sangat besar serta sulit diperkirakan jumlahnya. Selama kurun waktu hampir sembilan bulan berlalu pascakebakaran itu, mereka mengaku belum pernah memperoleh solusi nyata, belum mendapatkan kepastian tempat relokasi sementara, maupun kejelasan yang pasti terkait nasib tempat usaha mereka ke depan dari pihak pemerintah daerah.

Kondisi ketidakpastian yang berlarut-larut dan tanpa kepastian itu pun dinilai semakin memperburuk keadaan ekonomi keluarga mereka masing-masing. Sebagian besar dari para pedagang ini adalah masyarakat kecil, warga menengah ke bawah, yang seumur hidupnya menggantungkan seluruh nasib dan kehidupan ekonomi keluarga semata-mata dari aktivitas berdagang di kawasan Pasar Taman Puring tersebut. Ketidakpastian itu membuat masa depan anak istri mereka menjadi terancam dan gelap.

Tak sanggup lagi menahan rasa kecewa, ketidakpastian, serta ketidakadilan yang dirasakan selama berbulan-bulan lamanya, akhirnya pada malam hari di hari yang sama, Selasa, 19 Mei 2026, para pedagang bersatu kembali dan mendirikan tenda perjuangan tepat di lokasi bekas pasar yang hangus itu. Pendirian tenda ini merupakan wujud nyata dari protes damai sekaligus upaya gigih mempertahankan hak konstitusional mereka untuk mendapatkan kepastian hukum dan tempat usaha yang layak sebagaimana yang telah dijanjikan sebelumnya.

Menyikapi persoalan yang kian memanas dan menimbulkan polemik publik ini, Ketua Umum Perkumpulan Mahasiswa Peduli Hukum, Ali Wardana, memberikan pandangan kritis dan penilaian tajamnya. Ia menilai bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah gagal total dalam memberikan kepastian hukum sekaligus perlindungan nyata kepada rakyat kecil yang secara tidak berdosa telah menjadi korban dari musibah kebakaran tersebut.

“Perlu disadari bersama, para pedagang ini adalah korban musibah kebakaran. Mereka adalah orang-orang yang sedang tertimpa ujian berat dan sudah terlalu lama menunggu kepastian nasibnya. Seharusnya, kehadiran pemerintah itu adalah untuk membantu mereka bangkit kembali, menopang ekonomi mereka, dan mewujudkan kesejahteraan rakyat. Bukan malah sebaliknya, membuat kebijakan yang berubah-ubah, tidak konsisten, dan justru menimbulkan keresahan mendalam di tengah masyarakat yang sedang susah,” tegas Ali Wardana dengan lugas dan berwibawa.

Lebih jauh, ia juga meminta agar Gubernur DKI Jakarta selaku pemimpin tertinggi di wilayah ini berkenan turun tangan secara langsung, hadir di tengah masyarakat, dan menyelesaikan persoalan pelik ini hingga ke akar-akarnya. Pemerintah juga diminta untuk memberikan penjelasan yang terbuka, rinci, serta transparan kepada para pedagang maupun publik luas terkait status kepemilikan lahan, rencana tata ruang kawasan, serta rancangan pembangunan Pasar Taman Puring untuk masa yang akan datang.

“Kalau memang pada masa sebelumnya telah dijanjikan secara resmi dan terbuka bahwa kawasan ini akan dibangun kembali untuk kepentingan masyarakat dengan sistem penyewaan yang dikelola melalui BPAD, maka janji mulia itu wajib ditepati, tidak boleh diingkari begitu saja. Jangan sampai rakyat kecil merasa dipermainkan, dikhianati, dan tidak dianggap oleh pemerintah yang sesungguhnya dipilih dan dibayar oleh uang rakyat itu sendiri,” tambahnya lagi mengingatkan.

Hingga berita ini diturunkan dan disebarluaskan kepada publik, ratusan pedagang korban kebakaran masih bertahan, berdiri teguh, dan berkemah di sekitar lokasi bekas Pasar Taman Puring. Mereka tetap menanti, berharap, dan memohon kehadiran serta kepastian resmi dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait nasib tempat usaha mereka yang telah hilang terbakar sembilan bulan silam.

(TIM PPWI/Redaksi)

Sumber: (ZAKAR 0812XXXX7936)

Pangdam I/BB Lakukan Kunjungan Kerja ke Kodim 0204/DS

0

Warta.in Deli Serdang – Pangdam I/BB Mayjen TNI Hendy Antariksa melaksanakan kunjungan kerja ke Kodim 0204/Deli Serdang yang beralamat di Jalan Galang No.238, Tanjung Garbus Satu, Kecamatan Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Selasa (19/5/2026). Kunjungan tersebut bertujuan untuk meninjau kesiapan satuan sekaligus memberikan arahan kepada prajurit dan PNS di lingkungan Kodim 0204/DS.

Setibanya di Makodim 0204/DS, Pangdam I/BB menerima laporan dari Dandim 0204/DS Letkol Arh Agung Pujiantoro. Selanjutnya, Pangdam menerima pengalungan bunga dari Dandim, laporan dari Pos 1, serta penghormatan jajar dari regu jaga sebagai bentuk penghormatan dan tradisi satuan.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan foto bersama di depan Makodim 0204/DS dan penanaman pohon di area markas. Setelah itu, Pangdam I/BB meninjau kantor, pangkalan, serta ketahanan pangan (Hanpangan) milik Kodim 0204/DS guna melihat langsung kondisi dan kesiapan satuan di lapangan.

Dalam arahannya kepada prajurit dan PNS, Pangdam I/BB menyampaikan apresiasi atas dukungan seluruh personel terhadap program-program pemerintah. Ia juga mengingatkan agar seluruh prajurit bijak dalam menggunakan media sosial serta tidak menggunakan pakaian dinas saat mengunggah konten pribadi.

Selain itu, Pangdam I/BB menekankan pentingnya menjalankan setiap tugas dan perintah dengan penuh rasa tanggung jawab, tulus dan ikhlas. Prajurit juga diminta mulai mempersiapkan diri menghadapi masa pensiun, memanfaatkan waktu sebaik mungkin, menjaga kesehatan, serta menerapkan pola hidup sehat demi keluarga. “Gembira adalah obat, tetap semangat dan bahagiakanlah diri kita sendiri,” pesan Pangdam I/BB.

Kegiatan ditutup dengan penulisan pesan dan kesan oleh Pangdam I/BB. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Danrem 022/PT, Asintel Kasdam I/BB, Asops Kasdam I/BB, Aster Kasdam I/BB, serta para perwira Kodim 0204/DS. (RN)

Sumber: Pendam I/BB