Beranda blog

Percepat Pemberdayaan Ekonomi,UMKM Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi

0

warta.in Bekasi ◊ Jum’at 30 Oktober 2026

BEKASI — UMKM Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi mulai mematangkan langkah strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi anggota melalui pengembangan usaha bersama. Salah satu agenda utama yang dibahas adalah percepatan pembentukan Koperasi Serba Usaha sebagai wadah penguatan ekonomi dan pemberdayaan potensi usaha keluarga besar Parsadaan.

Langkah tersebut dibahas dalam rapat UMKM Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi yang digelar pada Jumat (30/10/2026), bertempat di Cafe Bidjie Koffie, Perumahan Pondok Timur Indah, Jalan Pondok Timur Indah No. 7, RT 001/RW 004, Bekasi Timur.

Rapat dipimpin Ketua Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi, Lasman Simbolon, S.T., didampingi Sekretaris,Ir.Joni Simbolon, serta dihadiri jajaran pengurus UMKM.

Pertemuan tersebut secara khusus membahas percepatan pengembangan UMKM dan penguatan perekonomian Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi. Pembentukan Koperasi Serba Usaha dipandang sebagai salah satu langkah strategis untuk membangun sistem ekonomi bersama yang terorganisasi, produktif, dan berkelanjutan.

Dalam pembahasannya, terdapat tiga sektor utama yang menjadi fokus pengembangan koperasi, yakni:

1. Simpan Pinjam, sebagai upaya membangun akses permodalan dan mendukung kebutuhan usaha anggota.

2. Sektor Jasa, untuk membuka peluang usaha dan mengembangkan potensi pelayanan yang dapat memberikan nilai ekonomi.

3. Koperasi Serba Usaha, sebagai wadah pengelolaan berbagai bidang usaha secara terpadu demi meningkatkan kesejahteraan anggota.

Gagasan tersebut diharapkan tidak berhenti sebatas pembahasan dalam rapat, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui langkah konkret, penyusunan program kerja, serta penguatan manajemen organisasi dan usaha.

Pengembangan UMKM ini juga menjadi momentum untuk mendorong anggota Parsadaan agar tidak hanya menjadi bagian dari organisasi sosial dan kekerabatan, tetapi turut mengambil peran dalam membangun kekuatan ekonomi secara kolektif.

Melalui semangat kebersamaan dan gotong royong, UMKM Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi diharapkan mampu menciptakan peluang usaha, memperluas jaringan ekonomi, serta membuka ruang kolaborasi bagi anggota yang memiliki potensi di berbagai sektor usaha.

Membangun ekonomi bersama bukan sekadar wacana, melainkan komitmen untuk menciptakan kemandirian dan kesejahteraan. Pembentukan Koperasi Serba Usaha diharapkan menjadi salah satu fondasi penting bagi kemajuan ekonomi Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi ke depan.

(Alpin A.S)

Polda NTB Bongkar Pengoplosan Beras SPHP, 2 Pengusaha Penggilingan Padi Jadi Tersangka

0

Polda NTB Bongkar Pengoplosan Beras SPHP, 2 Pengusaha Penggilingan Padi Jadi Tersangka

Warta in
Mataram, NTB — Polda NTB menetapkan 2 orang pengusaha penggilingan padi berinisial HM dan Z sebagai tersangka dalam dua kasus dugaan penyalahgunaan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Bulog. Keduanya diduga mengemas ulang beras bersubsidi ke dalam karung berukuran lebih besar untuk dijual kembali.

Dua kasus tersebut terungkap di Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat, dan Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah. Polisi menyita ratusan karung beras, ribuan lembar kemasan bekas, timbangan digital, serta mesin jahit karung dari kedua lokasi.

Kasus ini dipaparkan dalam konferensi pers di Mapolda NTB, Kamis (29/10/2026), yang dipimpin Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Muhammad Kholid bersama Dirreskrimsus Polda NTB Kombes Pol Ade Zamrah.

Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Muhammad Kholid menjelaskan, pada kasus pertama, HM diduga membeli dua ton beras SPHP kemasan 5 kilogram dengan harga Rp12.000 per kilogram. Beras tersebut dikeluarkan dari kemasan aslinya, dicampur dengan beras gilingan lokal, kemudian dikemas ulang ke dalam karung 50 kilogram untuk dijual seharga Rp13.000 per kilogram.

Sementara, tersangka Z diduga membeli 1,5 ton beras SPHP dengan harga Rp12.000 per kilogram. Beras tersebut kemudian dikemas ulang ke dalam karung 25 kilogram dan dijual ke sampai wilayah Bali seharga Rp12.500 per kilogram. Berdasarkan hasil penyelidikan, praktik tersebut telah dilakukan empat kali sejak awal Agustus 2026.

“ Polda NTB tidak akan membiarkan program pemerintah yang diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat disalahgunakan untuk memperoleh keuntungan melalui praktik perdagangan yang melanggar hukum,” tandas Kholid.

Ade Zamrah mengatakan, pengungkapan kedua kasus berawal dari temuan di dua tempat kejadian perkara (TKP) ,lalu ditindaklanjuti dengan penyidikan berdasarkan dua laporan polisi, masing-masing tertanggal 5 Mei 2026 dan 27 Agustus 2026.

Menurut Ade, kedua tersangka yang merupakan pengusaha penggilingan padi di wilayah Ungga, Lombok Tengah, menggunakan modus serupa, yakni memindahkan beras SPHP dari kemasan asli 5 kilogram ke karung polos berukuran lebih besar.

Selanjutnya, Pelaku membuka kemasan SPHP Bulog ukuran 5 kg, kemudian melakukan pencampuran dan repacking ulang ke dalam karung polos berukuran 25 kilogram dan 50 kilogram untuk diperdagangkan kembali,” ujarnya.

Dia menguraikan, Dari lokasi pertama di Dusun Bermi, Lombok Barat polisi menyita 440 karung beras SPHP kemasan 5 kilogram, 396 lembar kemasan kosong SPHP ukuran 5 kilogram, 165 lembar karung putih berlabel UD Sri Ayu, serta 99 karung berisi beras ukuran 50 kilogram yang berlabel Mitra UD Sri Ayu dengan keterangan komoditas beras HPL produksi 2026. Petugas juga mengamankan satu timbangan digital dan satu mesin jahit karung.

Sementara dari lokasi kedua di Dusun Dasan Ketapang, Desa Ungga, Kecamatan Praya Barat Daya, Lombok Tengah, polisi menyita 51 karung bermotif garis merah berukuran 25 kilogram berisi beras SPHP, 45 karung beras SPHP kemasan 5 kilogram, 200 lembar karung putih polos berlist merah ukuran 25 kilogram, serta 1.600 lembar bekas karung SPHP ukuran 5 kilogram. Barang bukti lainnya berupa timbangan digital bermerek General, mesin jahit karung bermerek New Long, serta sebilah gunting.(sr)

 

Jumat Keliling di Ponpes Nurul Hakim, Kapolda NTB Sampaikan Pesan Kamtibmas

0

Jumat Keliling di Ponpes Nurul Hakim, Kapolda NTB Sampaikan Pesan Kamtibmas

Warta.in
Lombok Barat,NTB — Kapolda NTB Irjen Pol. Kalingga Rendra Raharja, SE,.S.I.K., M.H, didampingi Wakapolda NTB Brigjen Hari Nugroho dan sejumlah pejabat utama Polda NTB melaksanakan program Jumat Keliling (Jumling), di Yayasan Pondok Pesantren Nurul Hakim, Kediri, Lombok Barat, Jumat (30/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari program Quick Wins Kapolri bertema Polisi Bersama Masyarakat, untuk memperkuat kedekatan Polri dengan masyarakat.

Sebelum salat Jumat berjamaah, Irjen Kalingga menyampaikan pesan-pesan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) kepada lingkungan pesantren. Ia mengajak para santri, pengurus ponpes, dan masyarakat bersama-sama menjaga kerukunan serta keamanan lingkungan.

“Melalui Jumat Keliling ini, kami ingin mempererat silaturahmi sekaligus membangun komunikasi langsung dengan masyarakat. Polri harus hadir, mendengar, dan menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan di tengah masyarakat,” ungkap Irjen Kalingga.

Menurutnya, pesantren memiliki peran penting dalam membangun karakter generasi muda serta menjaga nilai-nilai kebersamaan. Karena itu, sinergi kepolisian dengan tokoh agama dan kalangan pesantren perlu terus diperkuat.

“Kami berharap lingkungan pesantren terus menjadi ruang yang sejuk, aman, dan mampu melahirkan generasi berakhlak baik. Mari bersama-sama menjaga persatuan serta mencegah berbagai potensi gangguan kamtibmas,” pesannya.

Melalui program Jumling, Polda NTB mendorong pendekatan kepolisian yang humanis dan terbuka. Kehadiran polisi di tengah masyarakat diharapkan memperkuat kepercayaan publik, sekaligus membangun kolaborasi dalam menjaga situasi keamanan tetap kondusif.(sr/hpntb)

Giri founder sf cabut keanggotaan alea dan Sinta di Sukabumi Facebook

0

Giri sebagai founder Sukabumi Facebook tegas mengeluarkan Siti alias alea dan Sinta kedepannya apabila mengatasnamakan Sukabumi Facebook dalam acara ini.

Suherman merasa ikut andil memberikan tanggapan keras bahwa kami tidak terlibat bilamana permasalahan di Sukabumi Facebook fun’s run silahkan tanggung jawab pribadi dari Sinta dan alea .

Bahwa kami tidak ingin ada permasalahan sponsor yang ikut terlibat dalam acara tersebut tidak ikut serta dalam acara tersebut yang di gagas oleh alea dan Sinta jika ada permasalahan di Sukabumi Facebook Dan kami tidak merasa bahwa semua anggota yang berada di Sukabumi Facebook ikut dalam fun run tersebut.

Kepada masyarakat kami tidak bertanggung jawab bila kemudian hari ada masalah besar yang mengatasnamakan keluarga besar persaudaraan Sukabumi Facebook giri selaku founder mengeluarkan alea dan Sinta secara tidak hormat!!

Pemerintah Daerah Diminta Tegas: Kesemrawutan Tiang WiFi, Penegakan Regulasi Hingga PAD Dipertanyakan

0

Warta.in, Purwakarta — Menjamurnya usaha penyedia layanan internet atau WiFi di Kabupaten Purwakarta kini menjadi sorotan. Di tengah pesatnya kebutuhan masyarakat terhadap akses internet, persoalan penataan tiang dan kabel jaringan justru memunculkan tanda tanya serius terkait ketertiban tata ruang, keselamatan publik, penegakan regulasi, hingga kontribusi sektor usaha tersebut terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Kesemrawutan tiang dan kabel WiFi yang terlihat di sejumlah titik wilayah Purwakarta dinilai tidak boleh terus dibiarkan tanpa penanganan konkret. Bahkan, pemasangan sejumlah tiang diduga dilakukan tanpa perencanaan yang matang, sehingga berpotensi mengganggu estetika lingkungan, kenyamanan masyarakat, dan pemanfaatan ruang publik.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Didi Supriady, Ketua DPC Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Purwakarta. Ia meminta pemerintah daerah bersama instansi teknis dan pihak berwenang segera mengambil langkah nyata untuk menata keberadaan infrastruktur jaringan internet yang dinilai semakin tidak terkendali.

Menurut Didi, perkembangan teknologi digital dan menjamurnya penyedia layanan internet merupakan bagian dari kebutuhan masyarakat modern yang tidak bisa dihindari. Namun, pertumbuhan usaha tersebut harus berjalan seiring dengan kepatuhan terhadap aturan, ketertiban pemasangan infrastruktur, serta tanggung jawab terhadap lingkungan dan keselamatan masyarakat.

“Jangan sampai atas nama kebutuhan internet dan perkembangan teknologi, ruang publik justru menjadi semrawut. Pemasangan tiang dan penarikan kabel harus direncanakan dengan baik, memperhatikan aspek keselamatan, estetika, serta ketentuan yang berlaku,” tegas Didi.

Jangan Tunggu Korban, Jangan Tunggu Sidak Om Zein, Baru Sibuk Penertiban

Didi menilai, persoalan kesemrawutan tiang dan kabel WiFi di Purwakarta bukanlah masalah baru. Kondisi tersebut telah berlangsung cukup lama, sementara tindakan penataan yang terukur dan terlihat nyata di lapangan dinilai masih perlu diperkuat.

Apabila tidak segera ditangani, keberadaan tiang dan kabel yang tidak tertata berpotensi menimbulkan gangguan terhadap keselamatan pengguna jalan maupun masyarakat yang beraktivitas di sekitarnya.

Karena itu, ia mempertanyakan sampai kapan persoalan tersebut harus dibiarkan sebelum pemerintah mengambil langkah tegas.

“Haruskah menunggu terjadi kecelakaan atau jatuhnya korban terlebih dahulu, baru dilakukan penertiban? Apakah harus menunggu sidak Bupati Purwakarta, Om Zein, baru kemudian ada tindakan nyata? Jangan sampai penanganan persoalan publik hanya bergerak ketika muncul sorotan atau setelah ada kejadian yang merugikan masyarakat,” ujarnya.

Ia menegaskan, pengawasan dan penertiban seharusnya menjadi bagian dari pelaksanaan tugas rutin instansi yang memiliki kewenangan, bukan semata-mata dilakukan setelah mendapat perhatian pimpinan daerah.

Menurutnya, pemerintah daerah perlu memastikan adanya pendataan, evaluasi perizinan, pemeriksaan kelayakan pemasangan, serta penataan terhadap tiang dan kabel yang terbukti tidak memenuhi ketentuan.

Pembangunan Infrastruktur Dikebut, Penataan Jaringan Jangan Terabaikan

Didi juga menyoroti pentingnya keselarasan antara percepatan pembangunan daerah dan penataan infrastruktur pendukung lainnya.

Di bawah kepemimpinan Bupati Purwakarta yang akrab disapa Om Zein, pemerintah daerah terus mendorong pembangunan dan pembenahan infrastruktur, mulai dari peningkatan kualitas jalan, pembangunan drainase, penataan taman dan gapura, hingga pembangunan di berbagai wilayah.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mewujudkan Purwakarta yang lebih tertata, nyaman, dan memiliki kualitas lingkungan yang semakin baik.

Namun, menurut Didi, upaya pembenahan tersebut perlu diikuti dengan penataan infrastruktur jaringan internet yang berada di ruang publik agar tidak menimbulkan persoalan baru.

“Ketika pemerintah daerah sedang berupaya membenahi jalan, drainase, taman, dan berbagai fasilitas publik, jangan sampai di sisi lain muncul kesemrawutan baru akibat pemasangan tiang dan kabel WiFi yang tidak tertata. Pembangunan harus dilakukan secara terintegrasi, bukan berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi,” katanya.

Ia meminta instansi terkait tidak saling menunggu dalam menangani persoalan tersebut. Koordinasi lintas perangkat daerah, pemerintah desa dan kelurahan, serta pihak penyelenggara jaringan perlu diperkuat agar penataan berjalan efektif dan berkelanjutan.

Menjamurnya Usaha WiFi, Kontribusi PAD Perlu Diperjelas

Persoalan lain yang turut disorot adalah kontribusi usaha penyedia layanan internet terhadap PAD Kabupaten Purwakarta.

Didi mengungkapkan, berdasarkan informasi yang dihimpunnya, jumlah pelaku usaha WiFi di Purwakarta terus bertambah. Namun, ia mempertanyakan apakah seluruh pelaku usaha yang beroperasi telah memenuhi kewajiban perizinan dan kewajiban pembayaran yang memang berlaku, serta sejauh mana kontribusinya terhadap penerimaan daerah.

Ia menyebut, dari puluhan pelaku usaha yang diinformasikan beroperasi, hanya sebagian yang disebut berkontribusi terhadap PAD Purwakarta. Informasi tersebut, menurutnya, perlu ditindaklanjuti melalui pendataan dan verifikasi resmi oleh instansi yang berwenang.

“Jangan sampai jumlah usaha terus bertambah, tiang dan kabel semakin memenuhi ruang publik, tetapi pemerintah daerah tidak memiliki data yang jelas mengenai legalitas usaha, kepatuhan terhadap ketentuan, dan kontribusi yang semestinya masuk ke kas daerah,” ujarnya.

Meski demikian, Didi menekankan bahwa persoalan PAD harus diperiksa secara objektif. Tidak semua kegiatan usaha atau pemasangan jaringan otomatis menjadi objek pajak maupun retribusi daerah. Jenis kewajiban yang berlaku perlu dipastikan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan, bentuk kegiatan usaha, pemanfaatan aset daerah, serta perizinan yang dimiliki masing-masing penyelenggara.

Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah melakukan inventarisasi menyeluruh terhadap pelaku usaha WiFi, termasuk memeriksa legalitas operasional, status pemasangan tiang dan kabel, pemanfaatan ruang publik, serta kewajiban pajak atau retribusi yang relevan.

Apabila ditemukan pelanggaran, pemerintah diminta menindaklanjutinya sesuai kewenangan dan ketentuan hukum yang berlaku.

“Jangan sampai masyarakat melihat ruang publik semakin semrawut, sementara kejelasan tanggung jawab pelaku usaha dan kontribusinya terhadap daerah justru menjadi pertanyaan. Pemerintah harus hadir memberikan kepastian, baik dari sisi ketertiban, keselamatan, maupun tata kelola penerimaan daerah,” tegas Didi.

Siapa yang Bertanggung Jawab? Jangan Saling Lempar Kewenangan

Didi menilai, persoalan kesemrawutan tiang dan kabel WiFi tidak boleh berlarut-larut hanya karena ketidakjelasan koordinasi atau saling lempar tanggung jawab antarlembaga.

Pemerintah daerah perlu memperjelas pembagian kewenangan dengan instansi teknis, pihak yang berwenang atas jalan dan ruang publik, serta penyelenggara jaringan telekomunikasi. Hal tersebut penting agar setiap persoalan dapat ditangani oleh pihak yang tepat berdasarkan regulasi yang berlaku.

Ia juga mendorong pemerintah melakukan evaluasi terhadap titik-titik pemasangan tiang yang berpotensi mengganggu keselamatan, memeriksa kelengkapan persetujuan yang dipersyaratkan, serta menyusun langkah penataan yang terukur.

Apabila diperlukan, penertiban harus disertai tahapan yang jelas, mulai dari pendataan, pemberian teguran kepada pihak yang melanggar, kewajiban perbaikan atau pemindahan instalasi, hingga penerapan sanksi sesuai ketentuan.

“Persoalan ini membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan. Jika memang ditemukan pelanggaran, tindak sesuai aturan. Jika ada kewenangan yang berada di tingkat lain, lakukan koordinasi secara resmi. Jangan sampai masyarakat terus menghadapi dampak kesemrawutan karena setiap pihak merasa bukan menjadi tanggung jawabnya,” ungkap Didi.

Ia berharap Bupati Purwakarta dapat mendorong evaluasi lintas instansi agar persoalan penataan jaringan WiFi memperoleh penanganan yang jelas, terukur, dan berkelanjutan.

Ketertiban Infrastruktur, Keselamatan, dan PAD Harus Berjalan Seimbang

Bagi Didi, persoalan tiang dan kabel WiFi bukan sekadar masalah keindahan kota. Di dalamnya terdapat kepentingan yang lebih luas, mulai dari keselamatan masyarakat, kepastian hukum, ketertiban tata ruang, tanggung jawab pelaku usaha, hingga optimalisasi penerimaan daerah sesuai ketentuan.

Pertumbuhan usaha digital tetap perlu didukung karena memberikan manfaat bagi masyarakat. Namun, dukungan tersebut tidak boleh dimaknai sebagai pembiaran terhadap pemasangan infrastruktur yang tidak tertata atau pengabaian terhadap kewajiban yang berlaku.

Pemerintah daerah, menurutnya, harus mampu menciptakan keseimbangan antara kepentingan pengembangan usaha, kebutuhan akses internet masyarakat, dan perlindungan terhadap kepentingan publik.

“Purwakarta membutuhkan pembangunan yang tertib, bukan sekadar pembangunan yang terlihat cepat. Kita mendukung kemajuan teknologi dan pertumbuhan usaha, tetapi semuanya harus berjalan sesuai aturan, memperhatikan keselamatan masyarakat, serta memberikan kontribusi yang sah bagi daerah,” tuturnya.

Didi menegaskan, momentum pembenahan infrastruktur yang tengah berjalan seharusnya menjadi kesempatan bagi pemerintah untuk menyelesaikan persoalan penataan jaringan WiFi secara menyeluruh.

“Jangan biarkan Purwakarta terus dibuat semrawut sementara kejelasan tanggung jawab dan kontribusi usahanya belum terjawab. Saatnya semua pihak menjalankan tugas dan kewenangannya secara profesional. Stop saling lempar tanggung jawab. Mari bersama-sama mewujudkan Purwakarta Istimewa yang tertib, aman, nyaman, dan taat regulasi,” pungkasnya.

Desa Gunungleutik, Salah Satu Desa Yang Sudah Membentuk KIM, Kelompok Informasi Masyarakat Desa Gunungleutik

0

Desa Gunungleutik, Jum’at, 30 Oktober 2026. WARTA. IN

Agus Hamdani, S. Ip. Kades Gunungleutik, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, .enyisihkan DD melaksanakan Pelatihan Digitalisasi  Bagi Generasi Gen Z, Tingkat Desa Gunungleutik. Sekaligus Dibentuk KIM, Kelompok Informasi Masyarakat Desa Gunungleutik.

Mamat, Konten Kreator Terpilih sebagai Ketua KIM. Amanah, semangat, Pengalaman Baru, bersama membangun Desa Gunungleutik, Medsos Potensi SDM yang handal di Desa Gunungleutik, Papar Mamat, Ketua KIM Desa Gunungleutik.

Pemdes melaksanakan program digitalisasi bagi pemuda, pemudi dan bagi kita lansia, di era digitalisasi, mengikuti, mengingatkan pemakaian Medsos secara bijak, kepada Generasi muda di wilayahnya masing-masing, tetap dalam Regulasi yang Berlaku. Masing peserta pulang di bekali pengganti transport, Papar Agus Hamdani,  S. Ip. Kades Gunungleutik.

Terimakasih Kades Gunungleutik, warga melek digital, pelayanan desa di optimalkan, Pemkab Bandung turut mendorong Desa Digital, Papar Anjar Lugiyana, S. Ip. M. Ip. Camat Ciparay.

Dengan Pelatihan dan Pembentukan KIM Desa Gunungleutik, terbuka luas 16 RW, mengekpos, menggali potensi desa dan warga Desa Gunungleutik untuk kemajuan dan kemakmuran, Desa Gunungleutik dari 270 Desa di Kabupaten Bandung, Papar Tatang Rahmat, S. Pd. MM. TA Tenaga Ahli Kemendes.

WARTA. IN Biro Bandung Ibnu S SH CSS ALC SIP CIJ CPW.

Pegadaian dan Komunitas KOPI Berikan Siswa SDN 09 Pinang Ranti Kacamata Gratis

0

Warta.in JAKARTA – Sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan dan masa depan generasi muda, PT Pegadaian Kantor Wilayah VIII Jakarta 1 berkolaborasi dengan Komunitas Optimal Penglihatan Indonesia (KOPI) menggelar kegiatan sosial berupa pemeriksaan mata dan pemberian kacamata gratis bagi siswa-siswi SDN 09 Pinang Ranti, Jakarta Timur, Rabu (28/10/2026).

Kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan SDN 09 Pinang Ranti, Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Makassar, Jakarta Timur, ini merupakan bagian dari komitmen Pegadaian dalam memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan penglihatan anak sejak usia dini.

Hadir dalam kegiatan tersebut Pemimpin Wilayah VIII Jakarta 1 PT Pegadaian, Dede Kurniawan; Kepala Sekolah SDN 09 Pinang Ranti, Ahmad Pelani; Pemimpin Cabang Syariah Dewi Sartika, Kamsinah; Kepala Bagian TJSL, Sumarno; perwakilan Komunitas KOPI, Syahril; serta Wakil Kepala Sekolah, Anik.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pemeriksaan atau screening awal kesehatan mata bagi para siswa. Melalui pemeriksaan tersebut, tim Komunitas KOPI melakukan identifikasi terhadap siswa-siswi yang memiliki indikasi gangguan penglihatan dan membutuhkan alat bantu kacamata.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Pegadaian memberikan bantuan kacamata gratis yang diserahkan secara langsung kepada sekitar 23 siswa pada hari pelaksanaan kegiatan. Sementara itu, proses pemeriksaan mata bagi siswa lainnya masih terus berlanjut guna mengidentifikasi potensi gangguan penglihatan sejak dini.

Pemimpin Wilayah VIII Jakarta 1 PT Pegadaian, Dede Kurniawan, menyampaikan bahwa kesehatan penglihatan merupakan salah satu faktor penting yang mendukung proses belajar dan perkembangan anak. Menurutnya, gangguan penglihatan yang tidak terdeteksi sejak dini dapat memengaruhi kenyamanan dan kemampuan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar di sekolah.

“Kami percaya bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar, tumbuh, dan meraih cita-cita. Melalui kolaborasi bersama Komunitas KOPI ini, Pegadaian ingin hadir memberikan manfaat nyata, karena kesehatan mata merupakan salah satu aspek penting yang menunjang keberhasilan anak dalam menempuh pendidikan. Harapannya, bantuan kacamata ini dapat membantu anak-anak belajar dengan lebih nyaman, percaya diri, dan semakin semangat meraih prestasi,” ujar Dede Kurniawan.

Lebih lanjut, Dede menegaskan bahwa kegiatan sosial ini merupakan bagian dari komitmen Pegadaian dalam menjalankan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang memberikan dampak positif dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Kolaborasi dengan Komunitas Optimal Penglihatan Indonesia (KOPI) menjadi wujud pentingnya sinergi antara dunia usaha dan komunitas sosial dalam memperluas jangkauan manfaat kepada masyarakat. Melalui kegiatan ini, Pegadaian berharap semakin banyak anak yang mendapatkan akses pemeriksaan kesehatan mata sehingga potensi gangguan penglihatan dapat diketahui dan ditangani lebih awal.

Melalui berbagai program sosial dan pemberdayaan masyarakat, PT Pegadaian terus memperkuat perannya sebagai perusahaan yang tidak hanya berorientasi pada kinerja bisnis, tetapi juga berkomitmen menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan.

Ewin Ketua PJID Pasaman Soroti Kerusakan Jalan Nasional lintas Sumatera jalur Lubuk  Sikaping ke Bukittinggi

0

Lubuk Sikaping ,Warta.in- Sejumlah titik pada ruas jalan nasional Bukittinggi–Pasaman hingga perbatasan dilaporkan masih mengalami kerusakan dan belum dikerjakan.

Korekan (Patching) Dibiarkan terlalu lama, pengguna jalan terancam kondisi semakin memprihatinkan ketika sejumlah titik jalan yang telah dikorek atau dikupas untuk pekerjaan patching (penambalan) dibiarkan terlalu lama tanpa penyelesaian.

Permukaan jalan  terbuka dan tidak segera ditutup kembali berpotensi membahayakan pengguna jalan nasional, terutama pengendara sepeda motor. Kondisi ini menjadi sorotan tajam karena jalur tersebut merupakan akses vital dengan volume pengguna jalan yang tinggi setiap hari. Kamis (29/10/2026)

Ketua PJID Pasaman, Ewin, menyoroti kondisi tersebut dan meminta pihak terkait segera memberikan perhatian serius. Kerusakan jalan dibiarkan tanpa penanganan berpotensi membahayakan keselamatan pengendara, terutama sepeda motor dan kendaraan angkutan  melintasi jalur tersebut.

“Sejumlah titik jalan terlihat masih rusak dan belum dikerjakan, padahal ini merupakan jalan nasional  banyak digunakan masyarakat. Kondisi seperti ini perlu segera mendapat perhatian agar tidak membahayakan pengguna jalan,” demikian pokok sorotan terhadap kondisi ruas tersebut.

Anggaran Puluhan Miliar, Penanganan Jalan Jadi Sorotan. Paket Preservasi Jalan dan Jembatan Batas Kota Bukittinggi–Batas Sumatera Utara Tahun Anggaran 2026 diketahui memiliki nilai kontrak yang diberitakan sebesar Rp23.663.500.000 dari APBN, dengan pelaksana PT Aura Mandiri Sejahtera (AMS)

Menurut Ewin ketika  di hubungi   melalui WhatsApp  pimpinan PT. Aura Mandiri Sejahtera  tidak memberikan  jawaban. Besarnya nilai kontrak tersebut membuat masyarakat berharap penanganan kerusakan jalan berjalan efektif, terukur, dan sesuai dengan rencana pekerjaan.

Ewin Ketua PJID, menilai kondisi di lapangan perlu menjadi perhatian Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat dan kontraktor pelaksana. Titik-titik jalan  belum ditangani perlu diperiksa, terutama apabila kondisinya berisiko terhadap keselamatan lalu lintas. BPJN Sumbar Diminta Segera Turun ke Lapangan

Jalan nasional merupakan jalur penting bagi mobilitas masyarakat, distribusi barang, serta aktivitas ekonomi antardaerah. Karena itu, kerusakan pada ruas Bukittinggi–Pasaman tidak boleh dipandang sebagai persoalan biasa.

BPJN Sumatera Barat dan pihak pelaksana diharapkan segera mengevaluasi kondisi lapangan, mempercepat penanganan titik-titik rusak, serta memasang rambu peringatan atau pengamanan sementara apabila perbaikan belum dapat dilakukan secepatnya.

 

Masyarakat juga berhak memperoleh informasi mengenai progres pekerjaan, titik penanganan, dan target penyelesaian proyek tersebut. Keselamatan pengguna jalan harus menjadi prioritas. Jangan sampai kerusakan yang belum tertangani menimbulkan kecelakaan sebelum ada tindakan nyata dari pihak terkait”, ungkap Ewin Ketua PJID Pasaman Imbauan bagi Pengguna Jalan

Ketua PJID Pasaman, Ewin, mengimbau seluruh pengguna jalan yang melintasi ruas nasional Bukittinggi–Pasaman hingga perbatasan Sumatera Utara agar meningkatkan kewaspadaan, terutama saat melewati titik-titik jalan yang rusak dan belum ditangani.

Pengendara diminta mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, serta memperhatikan kondisi jalan, khususnya pada malam hari dan saat hujan karena lubang jalan  tertutup genangan air.

“Utamakan keselamatan, kurangi kecepatan, dan tetap berhati-hati. Jangan sampai kelalaian saat melintasi jalan rusak berujung kecelakaan,” demikian imbauan bagi pengguna jalan.

Kerusakan jalan bisa menjadi ancaman serius bagi keselamatan pengguna jalan, terutama ketika lubang tertutup genangan air. Secara hukum, kondisi ini tidak hanya dianggap persoalan teknis, tetapi juga dapat dikategorikan sebagai kelalaian penyelenggara yang berpotensi berujung pidana.

Aturan nasional memungkinkan penindakan hukum terhadap pihak yang bertanggung jawab atas jalan, mulai dari pemerintah pusat hingga daerah. Jika pembiaran kerusakan terbukti menyebabkan korban jiwa, ancaman hukuman penjara hingga lima tahun dapat diterapkan.

UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mewajibkan perbaikan segera atau pemasangan rambu peringatan pada jalan rusak. Kelalaian terhadap kewajiban ini dapat menjadi dasar hukum bagi masyarakat untuk menuntut pertanggungjawaban.(Fajri)

Budi Firmansyah jadi korban penyalahgunaan data pribadi

0

Warga bernama Budi Firmansyah RT 001/10 kelurahan Cisarua kecamatan cikole jadi korban penyalahgunaan data pribadi ,meminjamkan uang 25 juta rupiah pada tahun 2024 .

Sebut saja panggilannya Sandy dan udeng Kebonjati juga warga gang zaeniti kelurahan Cisarua diduga menyalahgunakan data pribadi bapak Budi alias sudeng di manfaatkan untuk meminjam uang ke BPR Supra .Dengan cicilan 1,4 juta rupiah yang harus di bayarkan oleh bapak Budi Firmansyah ini menuntut keadilan

 

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) Pasal 67 ayat (3), setiap orang yang dengan sengaja dan melawan hukum menggunakan data pribadi yang bukan miliknya dapat dikenakan sanksi pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp5 miliar.

Karna tidak ada itikad baik dari sodara Shandy Budi akan melaporkan langsung kepada pihak berwajib bilamana unit KIA Picanto tidak di kembalikan ke bank bpr supra tipar ,Budi yang merasa di rugikan akan mengadukan kepada pihak berwajib.(Alfi yonimar)