Beranda blog

Musisi Tanah Air Memperkenalkan Musik Klasik di Konser Akbar Monas 2026

0

Jakarta, warta.in – Aula Simfonia Jakarta (ASJ), Jakarta Simfonia Orchestra (JSO) bersama Jakarta Oratorio Society (JOS) kembali menggelar Konser Akbar Monas 2026, Sabtu (18/7/2026), Para musisi dari tanah air memperkenalkan musik klasik untuk seluruh masyarakat secara gratis. Melalui konser ini, JSO ingin membuktikan bahwa musik klasik bukan hanya milik kalangan tertentu, melainkan dapat dinikmati oleh siapa saja.

 

Konser pertama kali dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan kemudian Garuda Pancasila. Turut Hadir Bapak Stephen Tong sebagai Pendiri dan Konduktor Aula Simfonia Jakarta, Jakarta Simfonia Orchestra, dan Jakarta Oratorio Society,

 

“Diharapkan semua orang menginvest anak anak mereka dengan musik”, ujarnya.

 

Konser yang berlangsung di kawasan Monumen Nasional (Monas) ini menghadirkan pengalaman musikal yang berbeda. Seluruh penampilan disajikan secara alami (organik) oleh para musisi dan paduan suara tanpa mengandalkan efek suara berlebihan, sehingga kualitas permainan orkestra dan vokal dapat dinikmati secara maksimal oleh para penonton.

 

Direktur Musik Jakarta Simfonia Orchestra Eunice Tong mengatakan, konser ini merupakan wujud komitmen untuk mendekatkan musik klasik kepada masyarakat sekaligus memperkenalkan kualitas musisi Indonesia yang mampu tampil di panggung internasional.

 

“Tahun lalu kami juga menggelar konser di Monas. Selain itu, sepanjang 2025 kami aktif tampil di berbagai kesempatan, termasuk melakukan tur ke Amerika Serikat dan Jepang. Karena itu, kami ingin kembali berbagi pengalaman bermusik dengan masyarakat Indonesia melalui konser gratis ini,” ujar Eunice Tong.

 

“Penyelenggara tidak memberlakukan registrasi bagi pengunjung. Siapa pun dapat datang dan menikmati pertunjukan tanpa dipungut biaya. Sekitar 10.000 kursi telah disiapkan, bahkan panitia berharap jumlah penonton yang hadir dapat melampaui kapasitas tersebut ucap Wijaya Subekti panitia Konser Akbar Monas 2026.

 

“Selain menyuguhkan karya-karya musik klasik yang telah dikenal luas, konser juga menjadi ajang edukasi bahwa musik klasik dapat dinikmati oleh semua usia. Pengunjung diajak menikmati suasana malam di Monas sambil menyaksikan penampilan orkestra dan paduan suara di bawah langit terbuka”, ujar Eunice Tong.

 

“Persiapan konser dilakukan secara intensif, terutama menghadapi tantangan lokasi pertunjukan yang berada di ruang terbuka. Faktor cuaca menjadi perhatian utama, namun kondisi yang cerah diharapkan membuat masyarakat dapat menikmati konser dengan nyaman”, ucapnya.

 

Melalui Konser Akbar Monas, Jakarta Simfonia Orchestra dan Jakarta Oratorio Society juga mengajak masyarakat untuk memberikan apresiasi lebih besar kepada musisi Indonesia.

 

“Kami ingin masyarakat semakin bangga terhadap musisi Indonesia. Banyak talenta luar biasa yang kualitasnya tidak kalah dengan musisi mancanegara. Konser ini kami persembahkan dari Indonesia untuk Indonesia,” tutupnya.

 

Konser Akbar Monas ini berjalan dengan sukses terlihat dari banyaknya penonton dan antusiasme penonton ketika menonton pertunjukan ini. Di harapkan Pertunjukan seperti ini sering diadakan untuk memperluas apresiasi masyarakat terhadap musik klasik.

 

(Red*/TI)

 

 

 

Back to School! Usai MPLS, Siswa Mulai Menapaki Tahun Ajaran Baru

0

Wartain Banten | Pemerintahan | 19 Juli 2026  — Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) telah berakhir. Mulai hari Senin (20/7/2026), seluruh peserta didik mulai mengikuti kegiatan belajar mengajar secara penuh sebagai awal perjalanan mereka di tahun ajaran baru 2026/2027.

Setelah beberapa hari beradaptasi dengan lingkungan sekolah, mengenal guru, tenaga kependidikan, tata tertib, serta budaya sekolah, kini para siswa memasuki fase pembelajaran yang sesungguhnya. Momentum Back to School menjadi awal bagi mereka untuk membangun semangat belajar, mengembangkan potensi, serta meraih prestasi akademik maupun nonakademik.

MPLS tidak hanya menjadi ajang pengenalan lingkungan sekolah, tetapi juga membentuk karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan beradaptasi peserta didik. Berbekal pengalaman selama MPLS, para siswa diharapkan mampu mengikuti proses pembelajaran dengan percaya diri dan menjalin hubungan yang baik dengan guru maupun teman sebaya.

Tahun ajaran baru juga menjadi momentum bagi seluruh warga sekolah untuk memperkuat kolaborasi dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan menyenangkan. Peran orang tua turut menjadi faktor penting dalam mendampingi anak-anak agar tetap bersemangat mengikuti kegiatan belajar di sekolah maupun di rumah.

Dengan berakhirnya MPLS, kini saatnya seluruh peserta didik menatap masa depan dengan optimisme. Semangat Back to School diharapkan menjadi langkah awal untuk terus belajar, berkarya, berkarakter, dan mengukir prestasi demi mewujudkan generasi Indonesia yang cerdas, kreatif, dan siap menghadapi tantangan zaman.(WartainBanten)

PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Minta Hormati Martabat Wartawan dan Kemerdekaan Pers

0

warta.in Bekasi ◊ Minggu,19 Juli 2026

Jakarta – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat menyampaikan keprihatinan dan penyesalan atas pernyataan Advokat Hotman Paris Hutapea kepada wartawan saat memberikan keterangan kepada media di lingkungan Kejaksaan Agung. Pernyataan tersebut dinilai telah merendahkan profesi wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistik dan berpotensi mencederai semangat kemerdekaan pers yang dijamin Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, menegaskan bahwa bertanya kepada narasumber merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tugas jurnalistik dalam memenuhi hak masyarakat untuk memperoleh informasi. Oleh karena itu, setiap narasumber, termasuk advokat, memiliki hak untuk menjawab atau menolak menjawab pertanyaan, namun tetap berkewajiban menjaga etika komunikasi dan menghormati profesi wartawan.

“Setiap orang berhak menyampaikan pendapat, menjawab atau menolak menjawab pertanyaan wartawan. Namun tidak ada alasan untuk merendahkan martabat profesi wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistik. Wartawan bekerja untuk kepentingan publik dan dilindungi oleh Undang-Undang Pers,” ujar Akhmad Munir di Jakarta, Sabtu (18/07/2026).

Menurutnya, PWI Pusat tidak mempersoalkan pembelaan hukum yang dilakukan seorang advokat terhadap kliennya karena hal tersebut merupakan hak yang dijamin oleh hukum. Akan tetapi, pembelaan tersebut tidak boleh disampaikan dengan cara yang merendahkan profesi lain atau mengintimidasi wartawan yang sedang bekerja.

“PWI Pusat tidak sedang memasuki substansi perkara hukum yang sedang menjadi perhatian publik. Sikap kami murni untuk menjaga marwah profesi wartawan dan memastikan setiap insan pers dapat menjalankan tugas jurnalistik secara bebas, profesional, dan bermartabat tanpa intimidasi verbal dari siapa pun,” tegasnya.

Akhmad Munir mengatakan advokat dan wartawan merupakan dua profesi yang sama-sama memiliki peran strategis dalam negara hukum dan demokrasi. Advokat menjalankan fungsi pembelaan terhadap hak-hak kliennya, sedangkan wartawan menjalankan fungsi kontrol sosial melalui penyampaian informasi yang benar, berimbang, dan bertanggung jawab kepada masyarakat. Karena itu, kedua profesi tersebut semestinya saling menghormati dan menjaga etika dalam setiap interaksi di ruang publik.

Sehubungan dengan peristiwa tersebut, PWI Pusat meminta Advokat Hotman Paris Hutapea memberikan klarifikasi kepada publik serta menyampaikan permohonan maaf kepada insan pers apabila pernyataannya telah menimbulkan kesan merendahkan martabat wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistik. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga hubungan baik antara profesi advokat dan wartawan serta membangun iklim demokrasi yang sehat.

“Kami tidak mempersoalkan hak setiap advokat membela kliennya. Namun pembelaan itu harus tetap menghormati profesi lain. Kritik terhadap pertanyaan wartawan adalah hal yang wajar, tetapi penyampaiannya harus dilakukan secara santun, profesional, dan tidak merendahkan martabat insan pers,” kata Akhmad Munir.

PWI Pusat juga mengingatkan seluruh wartawan Indonesia agar tetap menjalankan tugas secara profesional, independen, akurat, berimbang, dan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik. Organisasi akan terus menjalankan fungsi pembelaan dan perlindungan terhadap setiap wartawan yang mengalami intimidasi, pelecehan, ancaman, atau tindakan lain yang menghambat pelaksanaan kerja jurnalistik.

Lebih lanjut, PWI Pusat mengajak seluruh organisasi profesi, aparat penegak hukum, pejabat publik, advokat, dan seluruh narasumber untuk bersama-sama membangun budaya komunikasi yang saling menghormati. Perbedaan pendapat merupakan bagian dari demokrasi, namun penghormatan terhadap profesi wartawan merupakan syarat penting bagi terpeliharanya kebebasan pers dan hak masyarakat untuk memperoleh informasi.

“Pers yang merdeka tidak lahir dari rasa takut, melainkan dari jaminan bahwa wartawan dapat bekerja secara profesional tanpa intimidasi. Menghormati wartawan berarti menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi. Kami berharap peristiwa ini menjadi pelajaran bersama agar hubungan antara insan pers dan semua narasumber tetap dilandasi sikap saling menghormati dan menjunjung tinggi etika,” tutup Akhmad Munir.

PWI Pusat menegaskan akan terus berdiri di garis terdepan dalam membela kemerdekaan pers, menjaga kehormatan profesi wartawan, serta memastikan setiap insan pers dapat menjalankan tugas jurnalistiknya tanpa tekanan, intimidasi, maupun perlakuan yang merendahkan martabat profesi.

(Alpin A.S)

Resmi Berdiri! Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi Dilantik,Siap Perkuat Persatuan

0

warta.in Bekasi ◊ Minggu, 19 Juli 2026

Kota Bekasi – Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi resmi mendeklarasikan organisasi sekaligus melantik Pengurus Harian dan Pengurus Rayon se-Bekasi untuk masa bakti 2026–2031.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Graha Sintesa, Kota Bekasi, tersebut dihadiri sekitar 500 anggota keluarga besar Simbolon, para tokoh dan sesepuh Simbolon, serta perwakilan dari tujuh sohe Simbolon yang berada di wilayah Kota dan Kabupaten Bekasi.

Ketua Panitia Deklarasi, Amstor Marsius Simbolon, mengatakan bahwa pelaksanaan deklarasi yang dirangkaikan dengan pelantikan pengurus merupakan langkah efektif sekaligus menjadi momentum kebersamaan bagi seluruh keluarga besar Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi.

“Pelaksanaan deklarasi disatukan dengan pelantikan pengurus harian dan pengurus rayon agar lebih efektif serta menjadi momentum kebersamaan seluruh keluarga besar Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi,” ujar Amstor kepada awak media.

Rangkaian kegiatan diawali dengan ibadah, kemudian dilanjutkan dengan prosesi pelantikan pengurus, sambutan dari berbagai pihak, pemaparan materi eksternal, pertunjukan tortor, hiburan, hingga pengundian door prize.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi periode 2026–2031, Omsron Lasman Simbolon, S.T., menyampaikan bahwa pembentukan parsadaan dilandasi keinginan untuk mengakomodasi keluarga besar Simbolon yang selama ini belum tergabung dalam sebuah wadah organisasi bersama.

“Tujuan kami membentuk parsadaan ini adalah mengakomodasi keluarga besar Simbolon di Bekasi agar memiliki wadah untuk berkumpul. Selain itu, kami ingin menjalankan nilai-nilai Dalihan Na Tolu dengan baik serta memberikan manfaat bagi seluruh anggota,” kata Lasman.

Ia juga menyampaikan optimismenya terhadap perkembangan organisasi ke depan. Menurutnya, sejak proses perintisan hingga pelaksanaan deklarasi, antusiasme masyarakat Simbolon di wilayah Bekasi sangat tinggi.

“Kami sangat optimistis. Dukungan masyarakat Simbolon, khususnya para tokoh dan sesepuh di Bekasi, sangat luar biasa sehingga pelaksanaan deklarasi dan pelantikan dapat berlangsung dengan baik dan penuh sukacita,” ujarnya.

Terkait strategi pengembangan organisasi, Lasman menegaskan bahwa semangat pelayanan akan menjadi landasan utama dalam menjalankan roda kepengurusan.

“Parsadaan ini harus berkembang melalui pelayanan yang tulus. Setiap pengurus harus bekerja dengan hati dan mengutamakan kepentingan bersama, bukan mencari penghormatan ataupun kedudukan. Tujuan utama kami adalah melayani,” tegasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan kepengurusan akan diukur dari sejauh mana harapan anggota dapat diwujudkan dan manfaat organisasi dapat dirasakan secara nyata.

“Ketika harapan anggota dapat direalisasikan dan mereka merasakan manfaatnya, itulah kepuasan bagi saya sebagai ketua,” katanya.

Menanggapi keberadaan ketua di masing-masing sohe, Lasman menegaskan bahwa kehadiran Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi tidak menggantikan struktur kepemimpinan yang telah ada.

“Saya bukan Ketua Sipitu Sohe, melainkan Ketua Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi. Masing-masing sohe tetap memiliki ketuanya sendiri. Parsadaan ini hadir sebagai wadah yang mempersatukan seluruh unsur tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, salah seorang penasihat sekaligus pendiri Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi, Argilaus Simbolon (Op. Benjamin), menjelaskan bahwa pembentukan parsadaan bertujuan menjadi wadah pemersatu seluruh keturunan Simbolon Sipitu Sohe, boru, dan bere yang berada di wilayah Bekasi.

Menurut Argilaus, organisasi tersebut diharapkan mampu mempererat persaudaraan, memelihara nilai-nilai Dalihan Na Tolu, melestarikan adat dan budaya Batak, meningkatkan semangat gotong royong, serta memberikan dukungan kepada anggota dalam berbagai situasi, baik suka maupun duka.

“Parsadaan harus menjadi rumah bersama yang menghadirkan rasa nyaman, kebersamaan, dan keharmonisan bagi seluruh keturunan Simbolon Sipitu Sohe, boru, dan bere di Bekasi,” ujar Argilaus.

Ia juga menekankan pentingnya membangun organisasi yang inklusif serta tidak memberikan perlakuan istimewa atau pengultusan terhadap individu tertentu.

“Tidak boleh ada privilese atau pengultusan terhadap seseorang. Nilai Dalihan Na Tolu, yaitu Somba Marhula-hula, Manat Mardongan Tubu, dan Elek Marboru, harus benar-benar dirasakan oleh seluruh anggota,” katanya.

Lebih lanjut, Argilaus menilai bahwa parsadaan merupakan sarana untuk mempermudah pelayanan sosial, kemanusiaan, serta komunikasi antaranggota tanpa membedakan latar belakang perkumpulan yang diikuti.

“Pelaku adat adalah marga, sedangkan punguan merupakan wadah untuk mempermudah komunikasi. Persaudaraan tidak akan pernah putus meskipun suatu saat perkumpulan dapat berubah. Karena itu, mari kita sehati dan sepikir membangun kebersamaan,” tuturnya.

Deklarasi dan pelantikan Pengurus Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi periode 2026–2031 diharapkan menjadi awal yang baik dalam memperkuat persatuan keluarga besar Simbolon di wilayah Bekasi.

Selain itu, kehadiran organisasi ini diharapkan mampu meningkatkan pelayanan sosial, memperkuat pelestarian adat dan budaya Batak, serta menumbuhkan semangat kebersamaan dan gotong royong bagi seluruh anggota.

(Alpin A.S)

Nannie Hadi Tjahjanto: Kebaya Adalah Simbol Perjuangan Perempuan dan Kekuatan Budaya Bangsa

0

Warta.in PALEMBANG – Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) Periode 2024–2029, Ny. Nannie Hadi Tjahjanto, mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk terus melestarikan kebaya sebagai identitas budaya bangsa sekaligus simbol persatuan, perjuangan, dan jati diri perempuan Indonesia.

Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri Parade Perempuan Berkebaya Berkain Songket dalam rangka Hari Kebaya Nasional ke-3 Tahun 2026 yang digelar di kawasan Car Free Day (CFD) Palembang, Minggu (19/7/2026). Kegiatan yang diinisiasi DPD Perempuan Indonesia Maju (PIM) Sumatera Selatan itu berhasil memecahkan Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori Parade Perempuan Berkebaya Berkain Songket Terbanyak.

Sejak pagi, ribuan perempuan dari berbagai organisasi perempuan, komunitas budaya, pelajar, mahasiswa, instansi pemerintah, hingga masyarakat umum memadati kawasan Car Free Day Palembang. Mengenakan kebaya yang dipadukan dengan beragam motif songket khas Sumatera Selatan, para peserta berjalan bersama melintasi Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) hingga Jembatan Ampera, menghadirkan panorama budaya yang menjadi simbol persatuan sekaligus promosi wastra Nusantara.

Dalam sambutannya, Nannie menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Pemerintah Kota Palembang, Perempuan Indonesia Maju (PIM), Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW), Gabungan Organisasi Wanita (GOW), Tim Penggerak PKK, Dharma Pertiwi, Dekranasda, Bhayangkari, Persit Kartika Chandra Kirana, Jalasenastri, Dharma Wanita Persatuan, serta puluhan organisasi perempuan lainnya yang telah bersatu menyukseskan peringatan Hari Kebaya Nasional sekaligus pemecahan Rekor MURI.

Menurutnya, keterlibatan berbagai organisasi perempuan menunjukkan kuatnya semangat persatuan, gotong royong, dan pengabdian perempuan Indonesia dalam menjaga warisan budaya bangsa.

“Atas nama Kongres Wanita Indonesia, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, pimpinan organisasi, dan seluruh perempuan Indonesia yang terus menjaga kebersamaan, memperkuat persatuan, melestarikan budaya bangsa, serta berkontribusi mewujudkan perempuan Indonesia yang maju, mandiri, berdaya, berintegritas, dan berkarakter,” ujar Nannie.

Secara khusus, Nannie juga memberikan penghargaan kepada Ketua DPD Perempuan Indonesia Maju (PIM) Sumatera Selatan sekaligus Ketua Pelaksana Hari Kebaya Nasional ke-3 Tahun 2026, Hj. Helen Ganefo, yang dinilainya berhasil mengoordinasikan penyelenggaraan kegiatan budaya berskala nasional tersebut hingga berlangsung sukses dan mencatatkan Rekor MURI.

Menurut Nannie, keberhasilan menghadirkan ribuan perempuan berkebaya dan berkain songket dalam satu gerakan budaya merupakan hasil kerja keras, dedikasi, serta kolaborasi yang dibangun bersama seluruh panitia, organisasi perempuan, pemerintah daerah, komunitas budaya, dan berbagai pemangku kepentingan.

“Saya menyampaikan penghargaan dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Ibu Hj. Helen Ganefo selaku Ketua DPD Perempuan Indonesia Maju Sumatera Selatan sekaligus Ketua Pelaksana, beserta seluruh jajaran panitia yang telah bekerja dengan penuh dedikasi sehingga peringatan Hari Kebaya Nasional ke-3 ini dapat berlangsung dengan sangat baik dan berhasil mencatatkan Rekor MURI. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa ketika perempuan bersatu, berkolaborasi, dan memiliki tujuan yang sama, kita mampu menghadirkan gerakan budaya yang membanggakan bangsa Indonesia,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, Nannie juga memberikan penghargaan kepada Ketua Umum DPP Perempuan Indonesia Maju (PIM), Lana T. Koentjoro, beserta Tim Nasional Kebaya Indonesia dan seluruh pegiat kebaya yang dinilainya telah berjuang tanpa lelah hingga lahirnya Hari Kebaya Nasional.

“Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Ibu Lana T. Koentjoro yang telah memperjuangkan Hari Kebaya Nasional. Perjuangan itu membuktikan bahwa ketika perempuan Indonesia bersatu, memiliki visi yang sama, dan bergerak secara konsisten, sebuah gagasan mampu menjadi gerakan nasional yang diakui negara.”

Nannie menegaskan bahwa Hari Kebaya Nasional bukan sekadar perayaan seremonial ataupun peragaan busana, melainkan momentum untuk memperkuat identitas nasional.

“Kebaya bukan hanya busana. Kebaya adalah simbol jati diri, kesantunan, keanggunan, martabat, serta semangat perjuangan perempuan Indonesia.”

Menurutnya, gerakan mengenakan kebaya juga memiliki dampak ekonomi yang besar karena melibatkan penenun songket, perajin, penjahit, desainer, hingga pelaku UMKM di berbagai daerah.

“Semakin banyak masyarakat mengenakan kebaya dan kain tradisional, semakin besar pula dukungan terhadap para perajin dan pelaku usaha kreatif yang menjaga keberlangsungan budaya Indonesia,” katanya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak hanya melestarikan kebaya, tetapi juga kain tradisional Nusantara, khususnya songket, sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi kreatif.

Nannie menjelaskan bahwa kebaya memiliki hubungan erat dengan sejarah gerakan perempuan Indonesia. Salah satu momentum penting adalah Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) ke-10 tahun 1964, ketika ribuan perempuan dari seluruh Indonesia mengenakan kebaya sebagai simbol persatuan dan perjuangan.

Menurutnya, penetapan 24 Juli sebagai Hari Kebaya Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 merupakan bentuk pengakuan negara terhadap kebaya sebagai identitas nasional. Pengakuan tersebut semakin diperkuat dengan ditetapkannya kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada tahun 2024 melalui nominasi multinasional bersama sejumlah negara Asia Tenggara.

“Kebaya bukan benda budaya yang hanya disimpan untuk dikenang, tetapi warisan budaya hidup yang harus terus dikenakan, dikenalkan, dikembangkan, dilindungi, dan diwariskan kepada generasi mendatang.”

Dalam kesempatan tersebut, Nannie juga menegaskan bahwa profesi ibu rumah tangga merupakan profesi yang sangat mulia dan memiliki kontribusi besar bagi keluarga maupun bangsa.

“Profesi itu bukan hanya polisi, dokter, insinyur, atau PNS. Ibu rumah tangga juga adalah profesi. Bahkan jika seluruh pekerjaan ibu di rumah dihitung secara ekonomi, nilainya sangat besar dan tidak akan mampu dibayar.”

Ia mengajak masyarakat, khususnya para suami, untuk memberikan penghargaan yang lebih besar terhadap peran perempuan di dalam keluarga karena perempuan merupakan fondasi utama dalam membangun karakter generasi penerus bangsa.

Nannie juga mengajak seluruh organisasi perempuan menyambut satu abad KOWANI pada tahun 2028 melalui penguatan persatuan dan kolaborasi.

Ia memperkenalkan Gerakan Nasional Seribu Profesi, Seribu Sertifikasi, dan Seribu Pemimpin sebagai program strategis KOWANI untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia perempuan, memperluas kesempatan kerja, mendorong kepemimpinan perempuan, serta memberikan solusi terhadap berbagai persoalan sosial, termasuk kekerasan terhadap perempuan dan anak, perdagangan orang, anak terlantar, hingga penyalahgunaan narkotika.

“Gerakan ini kami hadirkan untuk mempercepat lahirnya perempuan Indonesia yang unggul, mandiri, dan berdaya saing, sekaligus mendukung pencapaian Asta Cita, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), serta mewujudkan Indonesia Emas 2045.”

Menutup sambutannya, Nannie mengajak seluruh masyarakat untuk terus mengenakan kebaya dengan bangga, melestarikan songket dengan cinta, memberdayakan para perajin secara nyata, menggerakkan ekonomi perempuan, serta mewariskan budaya kepada generasi muda.

Sementara itu, Ketua Umum DPP Perempuan Indonesia Maju (PIM), Lana T. Koentjoro, mengatakan Hari Kebaya Nasional lahir dari perjuangan panjang berbagai organisasi perempuan yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian kebaya sebagai identitas budaya bangsa.

Menurutnya, penetapan Hari Kebaya Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 merupakan tonggak penting, namun tanggung jawab seluruh masyarakat adalah memastikan kebaya tetap hidup dalam keseharian.

“Hari Kebaya Nasional lahir dari perjuangan bersama berbagai organisasi perempuan. Penetapan melalui Keppres Nomor 19 Tahun 2023 menjadi tonggak penting, tetapi tanggung jawab kita adalah memastikan kebaya terus hidup dalam keseharian masyarakat.”

Ia menilai kebaya harus semakin dekat dengan generasi muda melalui inovasi desain tanpa meninggalkan pakemnya sehingga dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan.

Menurut Lana, pelestarian kebaya membutuhkan kolaborasi pemerintah, komunitas, akademisi, media, pelaku usaha, dan masyarakat.

“Ketika seseorang mengenakan kebaya, yang bergerak bukan hanya pelestarian budaya, tetapi juga ekonomi kreatif. Perajin songket, penjahit, desainer, pengrajin aksesori, hingga pelaku UMKM ikut merasakan manfaatnya.”

Ia menambahkan bahwa pengakuan kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO bukanlah akhir perjuangan, melainkan awal tanggung jawab bersama untuk terus melestarikan dan mewariskannya kepada generasi mendatang.

Apresiasi juga disampaikan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Mewakili Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Sumatera Selatan, Dr. H. Apriyadi Mahmud, M.Si., menyampaikan penghargaan atas terselenggaranya Parade Perempuan Berkebaya Berkain Songket yang dirangkaikan dengan pemecahan Rekor MURI.

Ia mengapresiasi Perempuan Indonesia Maju (PIM), panitia, serta seluruh organisasi perempuan yang telah menginisiasi kegiatan budaya berskala nasional tersebut.

“Kegiatan ini sangat luar biasa. Sejak pagi para peserta mengikuti parade berkebaya dan berkain songket hingga berkumpul di lokasi acara dalam rangka pemecahan Rekor MURI. Ini merupakan wujud nyata kecintaan terhadap budaya Indonesia yang patut kita apresiasi.”

Apriyadi juga menyampaikan permohonan maaf karena Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru dan Wakil Gubernur H. Cik Ujang tidak dapat hadir lantaran telah memiliki agenda pemerintahan yang telah dijadwalkan sebelumnya. Meski demikian, keduanya memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Menurutnya, sinergi antara Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Pemerintah Kota Palembang, Tim Penggerak PKK, Dekranasda, BKOW, Perempuan Indonesia Maju (PIM), dan berbagai organisasi perempuan menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan kegiatan budaya berskala besar.

“Kita sudah saatnya bangga terhadap budaya milik kita sendiri. Siapa lagi yang akan mengangkat, melestarikan, dan mencintai budaya Indonesia kalau bukan kita sendiri.”

Apriyadi berharap kegiatan serupa tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi berkembang menjadi gerakan budaya yang berkelanjutan dengan melibatkan lebih banyak organisasi perempuan, pemerintah daerah, komunitas budaya, serta masyarakat luas.

Ia menegaskan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan siap mendukung berbagai program yang mendorong pemberdayaan perempuan, pelestarian budaya, dan pengembangan ekonomi kreatif.

Keberhasilan memecahkan Rekor MURI, menurutnya, bukan sekadar prestasi, tetapi juga momentum untuk semakin memperkuat posisi Sumatera Selatan sebagai daerah yang aktif menjaga, melestarikan, dan mempromosikan budaya Indonesia kepada dunia.

Nannie Hadi Tjahjanto: Kebaya Adalah Simbol Perjuangan Perempuan dan Kekuatan Budaya Bangsa

0

Warta.in PALEMBANG – Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) Periode 2024–2029, Ny. Nannie Hadi Tjahjanto, mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk terus melestarikan kebaya sebagai identitas budaya bangsa sekaligus simbol persatuan, perjuangan, dan jati diri perempuan Indonesia.

Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri Parade Perempuan Berkebaya Berkain Songket dalam rangka Hari Kebaya Nasional ke-3 Tahun 2026 yang digelar di kawasan Car Free Day (CFD) Palembang, Minggu (19/7/2026). Kegiatan yang diinisiasi DPD Perempuan Indonesia Maju (PIM) Sumatera Selatan itu berhasil memecahkan Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori Parade Perempuan Berkebaya Berkain Songket Terbanyak.

Sejak pagi, ribuan perempuan dari berbagai organisasi perempuan, komunitas budaya, pelajar, mahasiswa, instansi pemerintah, hingga masyarakat umum memadati kawasan Car Free Day Palembang. Mengenakan kebaya yang dipadukan dengan beragam motif songket khas Sumatera Selatan, para peserta berjalan bersama melintasi Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) hingga Jembatan Ampera, menghadirkan panorama budaya yang menjadi simbol persatuan sekaligus promosi wastra Nusantara.

Dalam sambutannya, Nannie menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Pemerintah Kota Palembang, Perempuan Indonesia Maju (PIM), Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW), Gabungan Organisasi Wanita (GOW), Tim Penggerak PKK, Dharma Pertiwi, Dekranasda, Bhayangkari, Persit Kartika Chandra Kirana, Jalasenastri, Dharma Wanita Persatuan, serta puluhan organisasi perempuan lainnya yang telah bersatu menyukseskan peringatan Hari Kebaya Nasional sekaligus pemecahan Rekor MURI.

Menurutnya, keterlibatan berbagai organisasi perempuan menunjukkan kuatnya semangat persatuan, gotong royong, dan pengabdian perempuan Indonesia dalam menjaga warisan budaya bangsa.

“Atas nama Kongres Wanita Indonesia, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, pimpinan organisasi, dan seluruh perempuan Indonesia yang terus menjaga kebersamaan, memperkuat persatuan, melestarikan budaya bangsa, serta berkontribusi mewujudkan perempuan Indonesia yang maju, mandiri, berdaya, berintegritas, dan berkarakter,” ujar Nannie.

Secara khusus, Nannie juga memberikan penghargaan kepada Ketua DPD Perempuan Indonesia Maju (PIM) Sumatera Selatan sekaligus Ketua Pelaksana Hari Kebaya Nasional ke-3 Tahun 2026, Hj. Helen Ganefo, yang dinilainya berhasil mengoordinasikan penyelenggaraan kegiatan budaya berskala nasional tersebut hingga berlangsung sukses dan mencatatkan Rekor MURI.

Menurut Nannie, keberhasilan menghadirkan ribuan perempuan berkebaya dan berkain songket dalam satu gerakan budaya merupakan hasil kerja keras, dedikasi, serta kolaborasi yang dibangun bersama seluruh panitia, organisasi perempuan, pemerintah daerah, komunitas budaya, dan berbagai pemangku kepentingan.

“Saya menyampaikan penghargaan dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Ibu Hj. Helen Ganefo selaku Ketua DPD Perempuan Indonesia Maju Sumatera Selatan sekaligus Ketua Pelaksana, beserta seluruh jajaran panitia yang telah bekerja dengan penuh dedikasi sehingga peringatan Hari Kebaya Nasional ke-3 ini dapat berlangsung dengan sangat baik dan berhasil mencatatkan Rekor MURI. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa ketika perempuan bersatu, berkolaborasi, dan memiliki tujuan yang sama, kita mampu menghadirkan gerakan budaya yang membanggakan bangsa Indonesia,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, Nannie juga memberikan penghargaan kepada Ketua Umum DPP Perempuan Indonesia Maju (PIM), Lana T. Koentjoro, beserta Tim Nasional Kebaya Indonesia dan seluruh pegiat kebaya yang dinilainya telah berjuang tanpa lelah hingga lahirnya Hari Kebaya Nasional.

“Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Ibu Lana T. Koentjoro yang telah memperjuangkan Hari Kebaya Nasional. Perjuangan itu membuktikan bahwa ketika perempuan Indonesia bersatu, memiliki visi yang sama, dan bergerak secara konsisten, sebuah gagasan mampu menjadi gerakan nasional yang diakui negara.”

Nannie menegaskan bahwa Hari Kebaya Nasional bukan sekadar perayaan seremonial ataupun peragaan busana, melainkan momentum untuk memperkuat identitas nasional.

“Kebaya bukan hanya busana. Kebaya adalah simbol jati diri, kesantunan, keanggunan, martabat, serta semangat perjuangan perempuan Indonesia.”

Menurutnya, gerakan mengenakan kebaya juga memiliki dampak ekonomi yang besar karena melibatkan penenun songket, perajin, penjahit, desainer, hingga pelaku UMKM di berbagai daerah.

“Semakin banyak masyarakat mengenakan kebaya dan kain tradisional, semakin besar pula dukungan terhadap para perajin dan pelaku usaha kreatif yang menjaga keberlangsungan budaya Indonesia,” katanya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak hanya melestarikan kebaya, tetapi juga kain tradisional Nusantara, khususnya songket, sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi kreatif.

Nannie menjelaskan bahwa kebaya memiliki hubungan erat dengan sejarah gerakan perempuan Indonesia. Salah satu momentum penting adalah Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) ke-10 tahun 1964, ketika ribuan perempuan dari seluruh Indonesia mengenakan kebaya sebagai simbol persatuan dan perjuangan.

Menurutnya, penetapan 24 Juli sebagai Hari Kebaya Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 merupakan bentuk pengakuan negara terhadap kebaya sebagai identitas nasional. Pengakuan tersebut semakin diperkuat dengan ditetapkannya kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada tahun 2024 melalui nominasi multinasional bersama sejumlah negara Asia Tenggara.

“Kebaya bukan benda budaya yang hanya disimpan untuk dikenang, tetapi warisan budaya hidup yang harus terus dikenakan, dikenalkan, dikembangkan, dilindungi, dan diwariskan kepada generasi mendatang.”

Dalam kesempatan tersebut, Nannie juga menegaskan bahwa profesi ibu rumah tangga merupakan profesi yang sangat mulia dan memiliki kontribusi besar bagi keluarga maupun bangsa.

“Profesi itu bukan hanya polisi, dokter, insinyur, atau PNS. Ibu rumah tangga juga adalah profesi. Bahkan jika seluruh pekerjaan ibu di rumah dihitung secara ekonomi, nilainya sangat besar dan tidak akan mampu dibayar.”

Ia mengajak masyarakat, khususnya para suami, untuk memberikan penghargaan yang lebih besar terhadap peran perempuan di dalam keluarga karena perempuan merupakan fondasi utama dalam membangun karakter generasi penerus bangsa.

Nannie juga mengajak seluruh organisasi perempuan menyambut satu abad KOWANI pada tahun 2028 melalui penguatan persatuan dan kolaborasi.

Ia memperkenalkan Gerakan Nasional Seribu Profesi, Seribu Sertifikasi, dan Seribu Pemimpin sebagai program strategis KOWANI untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia perempuan, memperluas kesempatan kerja, mendorong kepemimpinan perempuan, serta memberikan solusi terhadap berbagai persoalan sosial, termasuk kekerasan terhadap perempuan dan anak, perdagangan orang, anak terlantar, hingga penyalahgunaan narkotika.

“Gerakan ini kami hadirkan untuk mempercepat lahirnya perempuan Indonesia yang unggul, mandiri, dan berdaya saing, sekaligus mendukung pencapaian Asta Cita, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), serta mewujudkan Indonesia Emas 2045.”

Menutup sambutannya, Nannie mengajak seluruh masyarakat untuk terus mengenakan kebaya dengan bangga, melestarikan songket dengan cinta, memberdayakan para perajin secara nyata, menggerakkan ekonomi perempuan, serta mewariskan budaya kepada generasi muda.

Sementara itu, Ketua Umum DPP Perempuan Indonesia Maju (PIM), Lana T. Koentjoro, mengatakan Hari Kebaya Nasional lahir dari perjuangan panjang berbagai organisasi perempuan yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian kebaya sebagai identitas budaya bangsa.

Menurutnya, penetapan Hari Kebaya Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 merupakan tonggak penting, namun tanggung jawab seluruh masyarakat adalah memastikan kebaya tetap hidup dalam keseharian.

“Hari Kebaya Nasional lahir dari perjuangan bersama berbagai organisasi perempuan. Penetapan melalui Keppres Nomor 19 Tahun 2023 menjadi tonggak penting, tetapi tanggung jawab kita adalah memastikan kebaya terus hidup dalam keseharian masyarakat.”

Ia menilai kebaya harus semakin dekat dengan generasi muda melalui inovasi desain tanpa meninggalkan pakemnya sehingga dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan.

Menurut Lana, pelestarian kebaya membutuhkan kolaborasi pemerintah, komunitas, akademisi, media, pelaku usaha, dan masyarakat.

“Ketika seseorang mengenakan kebaya, yang bergerak bukan hanya pelestarian budaya, tetapi juga ekonomi kreatif. Perajin songket, penjahit, desainer, pengrajin aksesori, hingga pelaku UMKM ikut merasakan manfaatnya.”

Ia menambahkan bahwa pengakuan kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO bukanlah akhir perjuangan, melainkan awal tanggung jawab bersama untuk terus melestarikan dan mewariskannya kepada generasi mendatang.

Apresiasi juga disampaikan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Mewakili Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Sumatera Selatan, Dr. H. Apriyadi Mahmud, M.Si., menyampaikan penghargaan atas terselenggaranya Parade Perempuan Berkebaya Berkain Songket yang dirangkaikan dengan pemecahan Rekor MURI.

Ia mengapresiasi Perempuan Indonesia Maju (PIM), panitia, serta seluruh organisasi perempuan yang telah menginisiasi kegiatan budaya berskala nasional tersebut.

“Kegiatan ini sangat luar biasa. Sejak pagi para peserta mengikuti parade berkebaya dan berkain songket hingga berkumpul di lokasi acara dalam rangka pemecahan Rekor MURI. Ini merupakan wujud nyata kecintaan terhadap budaya Indonesia yang patut kita apresiasi.”

Apriyadi juga menyampaikan permohonan maaf karena Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru dan Wakil Gubernur H. Cik Ujang tidak dapat hadir lantaran telah memiliki agenda pemerintahan yang telah dijadwalkan sebelumnya. Meski demikian, keduanya memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Menurutnya, sinergi antara Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Pemerintah Kota Palembang, Tim Penggerak PKK, Dekranasda, BKOW, Perempuan Indonesia Maju (PIM), dan berbagai organisasi perempuan menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan kegiatan budaya berskala besar.

“Kita sudah saatnya bangga terhadap budaya milik kita sendiri. Siapa lagi yang akan mengangkat, melestarikan, dan mencintai budaya Indonesia kalau bukan kita sendiri.”

Apriyadi berharap kegiatan serupa tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi berkembang menjadi gerakan budaya yang berkelanjutan dengan melibatkan lebih banyak organisasi perempuan, pemerintah daerah, komunitas budaya, serta masyarakat luas.

Ia menegaskan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan siap mendukung berbagai program yang mendorong pemberdayaan perempuan, pelestarian budaya, dan pengembangan ekonomi kreatif.

Keberhasilan memecahkan Rekor MURI, menurutnya, bukan sekadar prestasi, tetapi juga momentum untuk semakin memperkuat posisi Sumatera Selatan sebagai daerah yang aktif menjaga, melestarikan, dan mempromosikan budaya Indonesia kepada dunia.

Napak Wates #5 Purwakarta Tracker Resmi Dibuka Bupati Om Zein, Ribuan Tracker Meriahkan Hari Jadi Purwakarta

0

Warta.in, Purwakarta – Semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap alam mewarnai pelaksanaan Napak Wates #5 Purwakarta Tracker yang dipusatkan di kawasan Cikao Park, Kabupaten Purwakarta, Minggu (19/07).

Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Purwakarta ke-195 dan Kabupaten Purwakarta ke-58 ini secara resmi dibuka oleh Bupati Purwakarta, Om Zein.

Turut hadir dalam pembukaan kegiatan tersebut Kapolres Purwakarta, Dandim 0619/Purwakarta, unsur Forkopimda, para tamu undangan, komunitas pecinta trail, serta ribuan peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.

Sejak pagi hari, kawasan Cikao Park dipadati ribuan motor trail yang berasal dari berbagai klub dan komunitas. Antusiasme peserta begitu tinggi sehingga menjadikan Napak Wates #5 sebagai salah satu agenda otomotif terbesar yang digelar di Purwakarta tahun ini.

Ketua panitia pelaksana, Iwan Kiwonk menjelaskan, kegiatan ini diikuti oleh ribuan tracker dari berbagai provinsi di Indonesia. Selama satu hari penuh, peserta akan menempuh rute yang mengelilingi berbagai wilayah di Kabupaten Purwakarta dengan melintasi jalur perbukitan, hutan, pedesaan, hingga kawasan perbatasan.

“Alhamdulillah antusiasme peserta sangat luar biasa. Ribuan tracker hadir dari berbagai daerah di Indonesia. Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Purwakarta, TNI, Polri, seluruh sponsor, masyarakat di sepanjang jalur, serta seluruh rekan-rekan panitia yang telah bekerja keras sehingga kegiatan ini dapat berjalan dengan baik,” ujar Iwan Kiwonk.

Ia berharap kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi antarpecinta trail, tetapi juga mampu memperkenalkan potensi wisata alam, budaya, dan desa-desa di Kabupaten Purwakarta kepada peserta yang datang dari luar daerah.

Senada dengan itu, Ketua Purwakarta Tracker, Fuji Prianto, mengatakan Napak Wates merupakan agenda rutin komunitas Purwakarta Tracker yang pada tahun 2026 mendapat kehormatan menjadi bagian dari rangkaian resmi Hari Jadi Purwakarta.

Menurutnya, Purwakarta Tracker saat ini menjadi salah satu komunitas trail terbesar di Jawa Barat dengan 57 klub aktif dan sekitar 2.400 anggota yang tersebar di berbagai kecamatan.

“Alhamdulillah tahun ini Napak Wates kembali menjadi bagian dari Hari Jadi Purwakarta. Ini merupakan kebanggaan bagi kami karena kegiatan yang dulu pernah digagas saat Bapak H. Dedi Mulyadi menjabat Bupati Purwakarta kini kembali dilanjutkan oleh Bupati Purwakarta, Om Zein. Artinya, semangat untuk mengenalkan wilayah Purwakarta melalui kegiatan positif tetap terjaga,” kata Fuji.

Ia menambahkan, Napak Wates bukan sekadar kegiatan olahraga otomotif, tetapi juga menjadi sarana mempererat persaudaraan antartracker dari seluruh Indonesia sekaligus mempromosikan keindahan alam Purwakarta.

Napak Wates, Menyusuri Batas Wilayah dengan Makna Filosofis yang Mendalam

Tema “Napak Wates” memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar melintasi jalur ekstrem menggunakan motor trail. Secara harfiah, napak berarti menelusuri atau menapak, sedangkan wates dalam bahasa Sunda berarti batas wilayah.

Filosofi tersebut mengandung pesan bahwa setiap peserta diajak mengenali, menjaga, dan mencintai seluruh wilayah Kabupaten Purwakarta, termasuk kawasan-kawasan perbatasannya.

Dengan menyusuri batas-batas daerah, peserta tidak hanya menikmati tantangan medan, tetapi juga menyaksikan langsung kekayaan alam, potensi pertanian, budaya, hingga kehidupan masyarakat yang berada di pelosok Purwakarta.

Napak Wates menjadi simbol bahwa pembangunan tidak hanya berpusat di perkotaan, tetapi seluruh wilayah, termasuk daerah perbatasan, memiliki nilai penting yang harus dijaga bersama.
Kegiatan ini juga mengandung semangat persatuan. Meski peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia dengan latar belakang berbeda, semuanya dipersatukan dalam semangat persaudaraan, sportivitas, kepedulian terhadap lingkungan, serta kecintaan terhadap Kabupaten Purwakarta.

Efek Domino bagi Perekonomian Masyarakat

Selain menjadi ajang wisata olahraga, Napak Wates #5 juga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat.

Bila dihitung secara sederhana, dengan sedikitnya 2.000 peserta dan setiap peserta mengeluarkan rata-rata Rp300 ribu untuk kebutuhan makan, minum, bahan bakar, penginapan, suvenir, hingga kebutuhan lainnya selama berada di Purwakarta, maka sedikitnya Rp600 juta uang berputar hanya dalam satu hari penyelenggaraan.

Perputaran uang tersebut langsung dirasakan oleh pedagang kuliner, pelaku UMKM, warung kelontong, penjual oleh-oleh, bengkel, tempat pencucian motor, SPBU, hotel, penginapan, hingga masyarakat yang membuka lahan parkir.
Belum termasuk transaksi yang dilakukan oleh keluarga peserta, tim pendukung, panitia, sponsor, maupun wisatawan yang datang untuk menyaksikan acara. Nilai ekonomi riil diperkirakan jauh lebih besar daripada hitungan tersebut.

Inilah yang dikenal sebagai efek domino ekonomi, di mana satu kegiatan berskala besar mampu menggerakkan banyak sektor usaha secara bersamaan. Semakin banyak peserta yang hadir, semakin besar pula peluang peningkatan pendapatan masyarakat.

Napak Wates #5 pun membuktikan bahwa olahraga otomotif tidak hanya menjadi sarana penyaluran hobi dan silaturahmi, tetapi juga mampu menjadi instrumen promosi wisata, memperkuat citra Purwakarta sebagai daerah tujuan wisata petualangan, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan melalui meningkatnya aktivitas perdagangan dan jasa.

Dengan suksesnya penyelenggaraan Napak Wates #5, Purwakarta kembali menunjukkan kemampuannya menjadi tuan rumah berbagai kegiatan berskala nasional yang tidak hanya membangun semangat kebersamaan, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat dan perekonomian daerah. (ds)

Ketua IMI Purwakarta Apresiasi Napak Wates #5, Ribuan Tracker Ramaikan Hari Jadi Purwakarta

0

Warta.in, Purwakarta – Di tengah raungan suara mesin ribuan motor trail yang memadati kawasan Cikao Park, Kabupaten Purwakarta, Minggu (19/7/2026), tampak seorang pria duduk tenang di kursi tenda panitia. Dengan sikap santai namun tetap menunjukkan tatapan tajam dan penuh perhatian, ia mengamati lalu lalang para peserta yang datang dari berbagai daerah.

Sosok tersebut adalah Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kabupaten Purwakarta, Lambert Lilipaly, yang akrab disapa Bung Lambert.

Kehadirannya di arena Napak Wates #5 Purwakarta Tracker menjadi bentuk dukungan nyata terhadap suksesnya penyelenggaraan kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Purwakarta ke-195 dan Kabupaten Purwakarta ke-58 Tahun 2026.

Bung Lambert hadir didampingi jajaran pengurus IMI Kabupaten Purwakarta. Kehadirannya bukan sekadar memenuhi undangan, tetapi juga memberikan semangat kepada panitia dan ribuan peserta yang datang dari berbagai komunitas motor trail atau tracker di seluruh Indonesia.

Dalam keterangannya, Bung Lambert menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras menyelenggarakan kegiatan berskala nasional tersebut.

“Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh panitia Napak Wates #5. Penyelenggaraan kegiatan ini sangat luar biasa, mulai dari persiapan, pengaturan peserta, hingga pelaksanaan di lapangan. Semua berjalan dengan baik dan menunjukkan bahwa Purwakarta mampu menjadi tuan rumah event otomotif yang besar dan berkualitas,” ujar Bung Lambert.

Menurutnya, Napak Wates bukan hanya menjadi ajang adu ketangkasan dan penyaluran hobi para pecinta motor trail, tetapi juga menjadi momentum mempererat tali silaturahmi antarkomunitas tracker dari berbagai daerah di Indonesia.

“Ini adalah ajang silaturahmi akbar bagi para pecinta motor trail. Mereka datang dari berbagai provinsi dan daerah, bertemu dalam semangat persaudaraan, sportivitas, serta kecintaan terhadap dunia otomotif,” katanya.

Lebih jauh, Bung Lambert menilai kegiatan tersebut juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat. Ribuan peserta dan pengunjung yang hadir secara langsung menggerakkan roda ekonomi lokal, mulai dari sektor kuliner, penginapan, hingga pelaku usaha kecil dan menengah.

“Efek ekonomi dari kegiatan seperti ini sangat terasa. Banyak pelaku UMKM lokal membuka stan dan dagangannya laris diserbu pengunjung. Warga yang berada di sekitar lokasi kegiatan maupun di sepanjang lintasan juga ikut merasakan manfaatnya. Inilah salah satu nilai tambah dari sebuah event otomotif yang dikemas dengan baik,” jelasnya.

Puluhan stan UMKM yang menjajakan beragam produk kuliner khas Purwakarta, minuman, aksesori, hingga perlengkapan otomotif tampak dipadati pengunjung sepanjang kegiatan berlangsung.

Kehadiran ribuan tracker dari berbagai daerah turut meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat selama acara berlangsung.

Bung Lambert berharap Napak Wates dapat terus menjadi agenda tahunan yang semakin besar dan mampu menarik lebih banyak peserta pada penyelenggaraan berikutnya.

“Saya berharap tahun depan Napak Wates kembali digelar dengan persiapan yang lebih matang dan jumlah peserta yang semakin banyak. Event seperti ini bukan hanya membesarkan dunia otomotif di Purwakarta, tetapi juga menjadi sarana promosi daerah, memperkuat sektor pariwisata, serta menggerakkan ekonomi masyarakat. Semoga Napak Wates terus berkembang dan menjadi kebanggaan Purwakarta.” Jelas Ketua IMI Purwakarta.

Menutup keterangannya, Bung Lambert mengajak seluruh komunitas otomotif untuk terus menjaga keselamatan berkendara, menjunjung tinggi sportivitas, serta bersama-sama menjaga nama baik Kabupaten Purwakarta sebagai daerah yang ramah terhadap kegiatan otomotif dan wisata.

“Bravo Napak Wates #5! Bravo Purwakarta! Purwakarta Istimewa…!,” pungkas Bung Lamber bersemangat. (ds)

KPK-ME Apresiasi Kapolsek Tanjung Agung Atas Komitmen Menjaga Kantibmas Dan Melayani Masyarakat

0

Warta in

Muara Enim, 19 Juli 2026 – Ketua Komunitas Peduli Kepentingan Masyarakat Muara Enim (KPK-ME), Amat Nangwi (Jangkuk), menyerahkan piagam penghargaan kepada Kapolsek Tanjung Agung, IPTU Roland K.S. Baemamenteng, S.Tr.K, M.Si  sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi, profesionalisme, dan komitmen dalam menjaga keamanan serta memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Penyerahan piagam penghargaan berlangsung di Mapolsek Tanjung Agung yang berlokasi di Jalan Lintas Sumatera, Desa  Pandan Enim, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan menjadi simbol sinergi yang baik antara kepolisian dengan elemen masyarakat.

Piagam penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi Kapolsek Tanjung Agung beserta seluruh jajaran dalam menjalankan tugas sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat, serta keberhasilannya dalam menangani berbagai persoalan keamanan duan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di wilayah hukum Polsek Tanjung Agung.

Ketua KPK-ME, Amat Nangwi (Jangkuk), mengatakan bahwa penghargaan tersebut merupakan bentuk dukungan moral dari masyarakat kepada institusi Polri yang terus bekerja secara profesional dan humanis.

“Kami dari keluarga besar KPK-ME memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bapak Kapolsek IPTU Roland K.S. Baemamenteng, S.Tr.K, M.Si. beserta seluruh personel Polsek Tanjung Agung atas dedikasi, profesionalisme, serta kerja keras dalam menjaga keamanan dan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Semoga penghargaan ini menjadi motivasi untuk terus meningkatkan pengabdian kepada bangsa dan negara,” ujar Amat Nangwi (Jangkuk).

Sementara itu, Kapolsek Tanjung Agung IPTU Roland K.S. Baemamenteng, S.Tr.K, M.Si. menyampaikan rasa terima kasih atas penghargaan yang diberikan oleh KPK-ME. Menurutnya, penghargaan tersebut merupakan bentuk kepercayaan masyarakat yang akan menjadi penyemangat bagi seluruh personel Polsek Tanjung Agung untuk terus memberikan pelayanan yang maksimal.

“Penghargaan ini kami persembahkan untuk seluruh anggota Polsek Tanjung Agung yang telah bekerja dengan penuh dedikasi. Kami akan terus berkomitmen menjaga situasi kamtibmas yang aman, kondusif, serta memberikan pelayanan yang cepat, profesional, dan humanis kepada masyarakat,” ungkap Kapolsek.

KPK-ME berharap sinergi yang telah terjalin antara masyarakat dan Polri dapat terus ditingkatkan. Kolaborasi yang baik diyakini menjadi kunci dalam menciptakan keamanan, ketertiban, dan suasana yang kondusif di wilayah Kecamatan Tanjung Agung maupun Kabupaten Muara Enim secara keseluruhan.

Melalui penyerahan piagam apresiasi ini, KPK-ME menegaskan komitmennya untuk terus mendukung kinerja aparat penegak hukum yang bekerja secara profesional, transparan, dan mengedepankan kepentingan masyarakat. Dukungan dari masyarakat diharapkan dapat menjadi energi positif bagi Polri untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan serta menjaga kepercayaan publik.

(Zulkifli/Tim)

Indonesia Jadi Mitra INNOPROM 2026, Perkuat Kerja Sama Industri Global

0

Wartain Banten | Artikel | 19 Juli 2026  — Indonesia resmi menjadi negara mitra (partner country) pada ajang INNOPROM 2026, salah satu pameran industri internasional terbesar di Rusia. Status tersebut menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk memperluas kerja sama industri, perdagangan, investasi, dan transfer teknologi dengan berbagai negara serta pelaku industri global.

Keikutsertaan Indonesia sebagai negara mitra dalam INNOPROM 2026 mencerminkan semakin kuatnya hubungan ekonomi Indonesia dengan komunitas industri internasional. Melalui forum ini, Indonesia akan menampilkan berbagai potensi unggulan nasional, mulai dari sektor manufaktur, hilirisasi sumber daya alam, energi, teknologi, hingga produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berdaya saing global.

Pemerintah Indonesia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperkenalkan transformasi industri nasional yang sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, termasuk percepatan industrialisasi berbasis inovasi, pengembangan industri hijau, serta penguatan ekosistem investasi yang inklusif dan berkelanjutan.

Selain menjadi ajang promosi produk nasional, INNOPROM 2026 juga diharapkan membuka peluang kemitraan bisnis melalui pertemuan business matching antara pelaku usaha Indonesia dengan investor dan perusahaan internasional. Kerja sama tersebut mencakup sektor manufaktur, teknologi digital, energi terbarukan, logistik, hingga pengembangan kawasan industri.

Partisipasi Indonesia sebagai negara mitra sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan ekonomi yang terus tumbuh di kawasan Asia Tenggara. Dengan potensi pasar domestik yang besar, sumber daya alam yang melimpah, serta komitmen terhadap reformasi industri, Indonesia dinilai memiliki daya tarik tinggi bagi investor global.

Melalui keikutsertaan pada INNOPROM 2026, pemerintah berharap dapat meningkatkan nilai perdagangan bilateral, memperluas investasi asing, mendorong alih teknologi, serta memperkuat daya saing industri nasional di pasar internasional.

INNOPROM sendiri merupakan pameran industri internasional yang setiap tahun mempertemukan pemerintah, pelaku industri, investor, akademisi, dan inovator dari berbagai negara untuk membahas perkembangan teknologi, manufaktur, serta peluang kerja sama ekonomi global. Status Indonesia sebagai Partner Country INNOPROM 2026 menjadi tonggak penting dalam memperkuat diplomasi ekonomi sekaligus memperluas jejaring industri Indonesia di tingkat dunia.(WartainBanten)