28 C
Jakarta
Senin, April 27, 2026
Beranda blog

*Gema Persaudaraan di Tanah Rantau: Catatan Halal Bi Halal dan Pelantikan IKA UNRI Jabodetabek*

0

*Gema Persaudaraan di Tanah Rantau: Catatan Halal Bi Halal dan Pelantikan IKA UNRI Jabodetabek*

Tangerang – Aroma berbalas pantun khas Melayu seolah menembus ruang dan waktu, membawa ingatan kolektif 300-an orang kembali ke tepian Sungai Siak dan kampus kebanggaan di Bumi Lancang Kuning, Universitas Riau Pekanbaru. Di tengah hiruk-pikuk megapolitan Jakarta, sebuah perhelatan akbar bertajuk Halal Bi Halal Ikatan Keluarga Alumni Universitas Riau (IKA UNRI) Jabodetabek dan Sekitarnya digelar dengan penuh khidmat pada hari Minggu, 26 April 2026. Acara yang mengusung tema besar “Stronger Together, Together Stronger” ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, melainkan sebuah tonggak sejarah baru bagi para alumni yang merantau di jantung ibu kota.

Sejak pukul 11.00 WIB, suasana hangat di tempat acara di The Radiant Center, Ciputat, Tangerang, Banten, itu mulai terasa. Alumni dari berbagai fakultas dan lintas generasi, mulai dari senior yang telah malang melintang di dunia profesional hingga lulusan muda, berkumpul menjadi satu. Puncak acara seremonial ditandai dengan Pelantikan Pengurus IKA UNRI Jabodetabek periode 2026-2030. Agustaviano Sofjan secara resmi dilantik sebagai Ketua IKA UNRI Jabodetabek bersama jajaran pengurusnya oleh Ketua Umum IKA UNRI Pusat, Wan Muhammad Hasyim.

Dalam sambutannya, Agustaviano Sofjan menekankan pentingnya sinergi antar-alumni di tanah rantau. “Amanah ini adalah jembatan bagi kita semua untuk saling menguatkan. Dengan semangat Stronger Together, kita ingin IKA UNRI Jabodetabek menjadi rumah yang inklusif bagi seluruh alumni untuk berkarya dan berkontribusi, baik bagi sesama alumni maupun untuk kemajuan almamater kita tercinta,” ujar Agustaviano Sofjan.

Kemeriahan acara ini semakin terasa dengan kehadiran tokoh-tokoh penting universitas dan alumni senior. Rektor UNRI, Prof. Dr. Sri Indarti, S.E., M.Si, hadir langsung bersama Wakil Rektor II, Yuana Nurulita, S.Si., M.Si., Ph.D.; dan Wakil Rektor III, Prof. Dr. Hermandra, S.Pd., MA, serta jajaran pimpinan universitas lainnya. Kehadirannya membawa pesan optimisme tentang perkembangan terkini Universitas Riau yang terus bertransformasi menuju universitas berkelas dunia.

“Melihat kekompakan alumni di Jabodetabek hari ini, saya merasa bangga. Alumni adalah wajah dari Universitas Riau di masyarakat. Dukungan dan jaringan yang bapak dan ibu bangun di Jakarta sangat krusial untuk membantu adik-adik mahasiswa kita dalam menyongsong dunia kerja dan memperkuat ekosistem akademik kita,” ungkap Prof. Dr. Sri Indarti.

Ketua Umum IKA UNRI Pusat, Wan Muhammad Hasyim, atau yang akrab disapa Suhu Wan, turut memaparkan program-program strategis pusat yang akan disinergikan dengan pengurus wilayah. Ia menekankan bahwa kekuatan alumni terletak pada data dan kolaborasi ekonomi.

“Kita harus memastikan bahwa data alumni kita terintegrasi sehingga potensi ekonomi dan profesionalisme antar-alumni bisa kita maksimalkan. Mari kita buktikan bahwa alumni UNRI bisa mewarnai kebijakan nasional dari Jakarta ini,” tegas Wan Muhammad Hasyim.

Kehadiran sosok Edwin, alumni Angkatan 1975, memberikan warna tersendiri. Sebagai perwakilan dari angkatan tertua yang hadir bersama istri, Bang Edwin menjadi simbol keteguhan rasa cinta terhadap almamater. Meski telah puluhan tahun meninggalkan bangku kuliah, semangatnya tidak pudar.

“Melihat wajah-wajah muda di sini mengingatkan saya pada masa-masa perjuangan di kampus dulu. Pesan saya untuk adik-adik, jangan pernah lupakan akar kita. Di manapun kalian berpijak, kibarkan bendera UNRI dengan prestasi,” tutur Bang Edwin dengan nada haru.

Di sela-sela acara, sebuah momen istimewa terjadi ketika Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI), Wilson Lalengke, yang hadir bersama istrinya Winarsih Lalengke, membagikan souvenir khusus. Souvenir tersebut berupa Kalender Spesial bertajuk “PPWI GO TO UNITED NATIONS 2026”. Kalender ini bukan sembarang kalender; di dalamnya terekam jejak diplomasi Wilson Lalengke di Markas Besar PBB, New York, pada 8 Oktober 2025, saat ia menyuarakan pembelaan terhadap hak asasi warga Sahrawi.

Sebagai sesama alumni FKIP Universitas Riau, Wilson memberikan souvenir tersebut secara langsung kepada Rektor, Wakil Rektor, serta pimpinan IKA UNRI. “Jurnalisme dan advokasi kemanusiaan adalah jalan yang saya pilih untuk mengabdi. Melalui kalender ini, saya ingin berbagi semangat kepada rekan-rekan alumni bahwa lulusan UNRI mampu berbicara di kancah internasional dan memberikan dampak nyata bagi isu kemanusiaan global,” kata Wilson Lalengke saat menyerahkan souvenir tersebut.

Acara juga dihiasi dengan kehadiran tokoh-tokoh berpengaruh lainnya seperti Djonieri (OJK), Setri Yasra (Tempo), Rahmad Hidayat (Krakatau Chandra Energi), dan Vendra Wasnury (Subaga Group), yang menunjukkan betapa kuatnya jaringan alumni UNRI di berbagai sektor strategis nasional.

Setelah prosesi formal dan pemaparan program selesai, suasana beralih menjadi santai dengan makan siang bersama yang kental dengan nuansa kekeluargaan. Hiburan musik membuat para alumni tak segan untuk bernyanyi bersama, mengenang masa-masa indah di Pekanbaru. Puncaknya, acara ditutup dengan pembagian door prize yang sangat dinantikan.

Salah satu pemenang door prize utama tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya. “Saya benar-benar tidak menyangka. Datang ke sini niatnya hanya untuk bertemu kawan lama dan silaturahmi, tapi ternyata pulang membawa hadiah dan kebahagiaan ganda. Acara ini benar-benar luar biasa hangatnya,” ujar Julian Caisar, alumnus Program Studi PPKN Fakultas Keguaruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Riau angkatan tahun 2005.

Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 16.00 WIB ini berjalan dengan sangat lancar dan penuh kehangatan. Melalui perhelatan ini, IKA UNRI Jabodetabek telah membuktikan bahwa jarak geografis dari almamater bukanlah penghalang untuk tetap solid. Sebagaimana tema yang diusung, para alumni Universitas Riau hari ini pulang dengan keyakinan baru: bahwa mereka memang lebih kuat saat bersama, dan bersama-sama, mereka akan melangkah lebih kuat menuju masa depan. (TIM/Red)

Sadis Mahasiswa IAKN Kupang Melawan Penonaktifan Dosen Belum Cukup Keadilan Harus Tuntas!

0

KUPANG 26 April 2026

Gelombang keresahan mahasiswa Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang mencapai titik didih. Menanggapi keputusan Rektorat yang menonaktifkan oknum dosen pelaku dugaan kekerasan verbal, Organisasi Mahasiswa Perguruan Tinggi (ORMAWA PT) yang terdiri dari BEM dan DPM terpilih masa bakti 2026-2027 menyatakan sikap tegas: Penonaktifan sementara bukanlah akhir dari perjuangan. Hal ini disampaikan oleh ketua BEM PT terpilih, Frigen Rinaldy Lay pada minggu, (26/04/2026)

Frigen Rinaldy Lay, dalam pernyataan resminya menegaskan bahwa meski mengapresiasi langkah awal pimpinan kampus, pihaknya menolak jika kasus ini hanya diselesaikan di atas kertas administrasi tanpa menyentuh akar persoalan, yakni martabat manusia.

Persoalan ini bermula dari tindakan oknum dosen pengampu mata kuliah Strategi Pembelajaran PAK (Semester 4 Kelas J & I) yang diduga melontarkan makian kasar dengan sebutan binatang dan “manusia bodoh” kepada mahasiswa.

“Ini bukan sekadar soal prosedur, tapi soal etika akademik dan martabat manusia. Kami gelisah jika penonaktifan ini hanya langkah sementara untuk meredam suasana, lalu sewaktu-waktu oknum tersebut diaktifkan kembali tanpa ada pertanggungjawaban moral,” tegas Frigen.

Hingga saat ini, oknum dosen yang bersangkutan diketahui belum menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada para mahasiswa yang terdampak secara emosional dan psikologis. Bagi ORMAWA, luka mental yang dialami mahasiswa tidak bisa sembuh hanya dengan surat keputusan penonaktifan.

Keseriusan mahasiswa tidak main-main. Saat ini, BEM dan DPM tengah melakukan konsolidasi menyeluruh, merangkul mahasiswa aktif hingga para alumni. Mereka bersepakat bahwa praktik “kejahatan moral” di lingkungan kampus harus dihentikan secara permanen.

“Dosen bukan Tuhan ataupun Dewa atas mahasiswa yang lemah dan tertindas mentalnya. Kami adalah wajah terdepan mahasiswa IAKN Kupang, dan sudah menjadi tanggung jawab kami memastikan integritas akademik tetap dijaga,” tambah Frigen dengan nada bicara yang tajam.

Sebagai bentuk nyata pengawalan kasus, ORMAWA PT IAKN Kupang telah menjadwalkan Aksi Damai pada Selasa, 28 April 2026. Aksi ini dirancang sebagai pembuktian bahwa mahasiswa tidak akan tinggal diam dan akan terus bergerak hingga ada keputusan final yang transparan dan mencerminkan keadilan sejati.

Mahasiswa menuntut penyelesaian tuntas yang berlandaskan regulasi Kementerian Agama, bukan sekadar kebijakan formalitas yang berpotensi “meredup” seiring berjalannya waktu.

“Kami akan memeluk mahasiswa yang terdampak secara utuh. Kami ada, kami bergerak, dan kami serius mengawal ini sampai tuntas!” tutup Frigen.

Tradisi budaya Monggok Praje Diamankan Polsek Mataram, Arus Lalu Lintas Lancar

0

Tradisi budaya Monggok Praje Diamankan Polsek Mataram, Arus Lalu Lintas Lancar

 

Warta.in

Mataram, NTB – Tradisi budaya Mongguk Praje yang digelar warga Lingkungan Pusaka, Kelurahan Pejanggik, Kecamatan Mataram, berlangsung meriah pada Sabtu (26/04/2026) sore. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian upacara khitanan yang melibatkan arak-arakan warga melintasi sejumlah ruas jalan utama.

Untuk memastikan kegiatan berjalan aman dan lancar, jajaran Polsek Mataram bersama Babinsa turun langsung melakukan pengawalan di sepanjang rute.

Kapolsek Mataram, AKP Mulyadi, S.H., menjelaskan bahwa pengamanan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan unsur TNI, perangkat lingkungan, serta masyarakat.

“Kami bersinergi dengan Babinsa, Bhabinkamtibmas, Kepala Lingkungan, dan Linmas untuk mengawal kegiatan ini. Fokus utama kami adalah menjaga kelancaran arus lalu lintas karena rute yang dilalui merupakan jalur padat,” ujar AKP Mulyadi.

Adapun rute iring-iringan Praje melintasi Jalan Peresean, Jalan Pejanggik, Jalan Trisula, Jalan Catur Warga, hingga kembali ke titik awal. Sepanjang jalur tersebut, petugas melakukan pengaturan lalu lintas guna mencegah kemacetan serta memastikan keselamatan peserta dan pengguna jalan lainnya.

Selain pengamanan, petugas juga memberikan imbauan kamtibmas kepada panitia dan masyarakat agar tetap menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung.

“Kami mengingatkan warga untuk mematuhi arahan petugas serta tidak mengonsumsi minuman keras selama acara. Hal ini penting untuk menghindari potensi gangguan keamanan,” tegas Kapolsek.

Berkat koordinasi yang baik antara aparat keamanan dan masyarakat, kegiatan adat tersebut berlangsung lancar, tertib, dan penuh kebersamaan.

Tradisi Mongguk Praje pun kembali menjadi simbol kekayaan budaya lokal yang tetap lestari di tengah kehidupan masyarakat Kota Mataram, sekaligus menunjukkan kuatnya sinergi antara warga dan aparat dalam menjaga kondusivitas wilayah.(sr/hpm)

 

 

Naskah Kuno di Pengabuan Jadi Fokus Kajian Kementerian Kebudayaan, Diduga Berasal dari Era Lama

0

Warta.in//PALI- Upaya pelestarian warisan budaya lokal kembali dilakukan melalui penelitian terhadap aksara kuno Surat Ulu (Kaganga) di Desa Pengabuan (Pengabuan Timur), Kecamatan Abab, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Kegiatan ini dilaksanakan 25 April 2026 oleh Tim Goresan Aksara dari Program Dana Indonesia Kementerian Kebudayaan.

Tim peneliti yang terlibat dalam kegiatan tersebut terdiri dari Muhammad Affan Ridhollah, M.Hum., Berlian Susetyo, S.Pd., M.Hum., dan Putra Madani Arifin, S.Hum. Mereka melakukan penelitian langsung terhadap tiga naskah kuno yang hingga kini masih terjaga dan disimpan oleh masyarakat setempat sebagai pusaka keluarga.

Dari hasil pengamatan awal, tim menemukan bahwa ketiga naskah tersebut menggunakan media penulisan yang berbeda. Dua naskah ditulis pada tanduk kerbau, sementara satu naskah lainnya ditulis pada gelondongan bambu. Perbedaan media ini turut memengaruhi karakter bahasa dan isi pesan yang terkandung dalam masing-masing naskah.

Peneliti menduga bahwa naskah pada tanduk kerbau menggunakan dialek lama yang berkembang di lingkungan masyarakat Desa Pengabuan pada masa lalu. Sementara itu, naskah pada media bambu menunjukkan perbedaan gaya bahasa yang cukup mencolok, sehingga memunculkan dugaan bahwa dialek tersebut berasal dari wilayah lain, seperti daerah hulu atau kawasan yang memiliki hubungan historis dengan masyarakat setempat.

Selain perbedaan bahasa, tim juga mengidentifikasi indikasi fungsi yang berbeda pada setiap naskah. Naskah tanduk kerbau pertama diperkirakan berkaitan dengan penetapan tapal batas wilayah, yang mencerminkan kesepakatan masyarakat mengenai ruang hidup dan wilayah adat pada masa lampau. Adapun naskah tanduk kerbau kedua diduga berisi aturan hukum adat, khususnya mengenai tata cara membuka lahan pertanian.

Berbeda dengan kedua naskah tersebut, tulisan pada media bambu lebih mengarah pada bentuk pesan atau surat perintah yang sarat nilai moral dan keagamaan. Isi pesan itu diduga berisi anjuran untuk menuntut ilmu pengetahuan serta mengamalkan kebaikan sebagai bekal keselamatan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.

Meski demikian, tim peneliti menegaskan bahwa hasil terjemahan dan kesimpulan akhir belum dapat dipublikasikan dalam waktu dekat. Hal ini disebabkan oleh tingkat kerumitan bahasa dan kekhasan aksara yang digunakan, sehingga diperlukan proses kajian mendalam untuk mencocokkan kosakata, memahami makna filosofis, serta menelusuri jejak sejarah penyebaran dialek secara akurat.

Penelitian ini juga menjadi bagian dari upaya lebih luas dalam menjaga khazanah budaya dan literasi tradisional Nusantara. Selain itu, kajian tersebut diharapkan mampu mengungkap hubungan sejarah antara masyarakat Desa Pengabuan dengan wilayah lain di masa lampau, sekaligus memperkuat bukti adanya peradaban lokal yang telah berkembang sejak lama.

Sementara itu, pemegang pusaka naskah, Alam Sadat dan Ibu Komria, menyambut baik kegiatan penelitian yang dilakukan tim dari Kementerian Kebudayaan tersebut.

“Kami sangat mendukung penelitian ini karena naskah ini adalah peninggalan leluhur yang selama ini kami jaga. Harapan kami, hasil kajian nanti dapat menjelaskan makna dan pesan yang terkandung di dalam tulisan pada bambu maupun tanduk kerbau, serta membuka kembali sejarah desa kami di masa lalu.”ujarnya.

 

(Muhamad Randi/tim)

KMP di Lembang Pitung Penanian Kecamatan Rantebua, Pembangunan Sudah Capai 100%

0

TORAJA UTARA – Koperasi Merah Putih di Lembang Pitung Penanian kecamatan Rantebua, sudah capai progres pembangunan 100%,, Minggu (26/4/2026).

Progres pembangunan KMP tersebut saat dikonfirmasi pada hari Rabu (22/4/2026), selaku Dandim 1414/Tator, Letkol Inf Armal, membenarkan hal tersebut.

“Ya benar, sudah ada 5 yang capai 100% progres pembangunan termasuk yang di Lembang Pitung Penanian Kecamatan Rantebua,” kata Letkol Inf Armal.

Letkol Inf Armal, juga menyebutkan jika lahan yang digunakan itu merupakan lahan milik pemerintah dinas pendidikan.

Dari 5 titik pembangunan KMP itu yang sudah capai progres pembangunan 109% tersebar di Kelurahan dan Desa di Kabupaten Toraja Utara.

“Dari 5 titik tersebut antara lain, di Kelurahan Pa’paelean Kecamatan Sanggalangi, Lembang Polopadang Kecamatan Kapalapitu, Lembang Bori Lombongan Kecamatan Sesean, Lembang Basokan Kecamatan Nanggala, dan Lembang Pitung Penanian Kecamatan Rantebua,” jelas Letkol Inf Armal.

Secara terpisah melalui sambungan WhatsApp, Kepala Lembang Pitung Penanian, Yohanis Rante Bunga saat dikonfirmasi mengatakan jika posisi KMP itu dibangun di atas lahan milik pemerintah di Dusun Pa’panaran.

“Lahannya milik pemerintah di Dusun Pa’panaran. Dan ukuran bangunan 20 x 30,” singkat Yohanis Rante Bunga.

 

Bhayangkari NTB dan KLU Jaga Ekosistem Gili Lewat Nutrisi Laut Dengan Eco-Enzim dari Sampah Organik

0

Bhayangkari NTB dan KLU Jaga Ekosistem Gili Lewat Nutrisi Laut Dengan Eco-Enzim dari Sampah Organik

 

Warta.in

Lombok Utara, NTB – Kelestarian ekosistem bawah laut Gili Trawangan menjadi perhatian serius Bhayangkari Nusa Tenggara Barat. Dalam rangkaian memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Yayasan Kemala Bhayangkari (YKB) ke-46 tahun 2026, sebuah aksi nyata dilakukan untuk menjaga kualitas perairan ikon wisata tersebut menggunakan cairan hasil fermentasi sampah organik menjadi Eco-Enzyme.

Hadir langsung dalam kegiatan tersebut, Ketua Bhayangkari Daerah NTB, Ny. Uty Edy Murbowo, dengan didampingi Pengurus Daerah Bhayangkari dan Pengurus Daerah YKB NTB. Turut mendampingi pula Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara, Ny. Heny Agus Purwanta, yang selama ini konsisten mengawal program tersebut di wilayah Lombok Utara.

Sebagai bentuk komitmen terhadap lingkungan, rombongan menuangkan sedikitnya 50 liter cairan Eco-Enzyme ke perairan Gili Trawangan. Langkah ini bukan sekadar seremonial, melainkan upaya berkelanjutan untuk “membayar kembali” apa yang telah diambil manusia dari alam.

Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara, Ny. Heny Agus Purwanta, menjelaskan bahwa Eco-Enzyme yang digunakan merupakan hasil olahan limbah organik rumah tangga seperti sisa kulit buah (melon, semangka, jeruk) dan air kelapa yang diproses selama 90 hari.

Pemberian Eco-Enzyme di laut Gili Trawangan memiliki tujuan teknis yang sangat krusial bagi ekosistem. Cairan ini bekerja menjernihkan air laut yang tercemar dan mengurangi zat polutan secara alami. Salah satu manfaat paling signifikan adalah kemampuannya mengubah karbon dioksida (CO2) menjadi karbonat (CO3).

“Perubahan menjadi karbonat ini sangat mendukung keberlangsungan biota laut dan kesehatan terumbu karang,” jelas Ny. Heny. Selain itu, Eco-Enzyme dikenal efektif menetralkan amonia, mengurai bahan organik berlebih, serta menghambat pertumbuhan bakteri patogen yang dapat merusak kualitas air laut.

Untuk menghasilkan cairan berkualitas, Bhayangkari menerapkan standar pembuatan yang disiplin dengan rumus perbandingan 10:3:1 (10 bagian air, 3 bagian sampah organik, dan 1 bagian gula/molase).

“Selama bulan pertama fermentasi, gas harus rutin dibuang setiap minggu untuk memastikan proses berjalan sempurna,” tambah Ny. Heny. Edukasi ini juga rutin diberikan kepada anak-anak sekolah dan pelaku wisata agar mereka bisa memproduksi nutrisi laut ini secara mandiri di hotel atau restoran masing-masing.

Aksi yang menjadi bagian dari peringatan HUT YKB ke-46 ini membawa pesan kuat mengenai kemandirian pengelolaan lingkungan. Dengan laut yang sehat, diharapkan populasi ikan akan melimpah dan kualitas pariwisata meningkat.

“Filosofinya jelas: Ekosistem laut terjaga, biota laut sehat, ikan melimpah, dan pada akhirnya rakyat pun sejahtera,” tutupnya.

Melalui sinergi antara Pengurus Daerah NTB dan Cabang Lombok Utara, gerakan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi masyarakat luas untuk mengubah sampah organik menjadi solusi nyata bagi pelestarian alam bawah laut NTB.(sr/hpntb)

Ditresnarkoba Polda Sum Sel Dan Polres Empat Lawang Ungkap Jaringan Ganja Lintas Provensi Hingga Jawa

0

Warta In

“Empat Lawang -Polda Sumatra Selatan melalui Direktorat Reserse Narkoba bersama Polres Empat Lawang,berhasil ngungkap kasus peredaran narkotika jenis Ganja bersekala besar,melalui operasi gabungan pada Jum’at 24 April 2026.Oprasi ini membongkar ladang ganja seluas 20Hektar diDesa Batu Junggul Kecamatan ,Muara Pinang,Kabupaten,Empat Lawang,sekaligus mengamankan 220 kilogram ganja kering siap edar.

Operasi dipimpin langsung Direktur Reserse Narkoba Polda Sumsel Kombes Pol Yulian Perdana, S.I.K., bersama Kapolres Empat Lawang AKBP Abdul Aziz Septiadi, S.H., S.I.K., M.H. Pengungkapan ini merupakan hasil pengembangan penyelidikan intensif sejak Februari 2026 yang berhasil memetakan jaringan distribusi ganja lintas wilayah hingga Pulau Jawa.

Penangkapan tersangka utama berinisial PD alias Pinhar dilakukan di loket bus Jalan Gubernur H. Bastari, Palembang. Dari tangan tersangka, petugas menemukan ganja yang kemudian mengarah pada pengembangan ke lokasi utama di Desa Batu Jungul. Di lokasi tersebut, petugas menemukan ladang ganja aktif beserta barang bukti ganja kering dalam jumlah besar.

Barang bukti yang berhasil diamankan meliputi 220 kilogram ganja kering yang dikemas dalam 11 karung besar, empat unit sepeda motor hasil tindak pidana, serta dokumen kepemilikan lahan dan peta ladang ganja. Selain itu, petugas juga mengungkap bahwa tersangka mengelola seluruh rantai produksi mulai dari penanaman hingga distribusi.

Dari hasil penyidikan, tersangka PD diketahui mengendalikan jaringan yang telah beroperasi sejak tahun 2024 dengan distribusi mencakup wilayah Empat Lawang, Palembang, hingga Pulau Jawa. Empat orang lainnya yang terlibat dalam jaringan tersebut saat ini telah ditetapkan sebagai daftar pencarian orang (DPO) dan masih dalam pengejaran.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 111 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan kemungkinan pengembangan pasal sesuai hasil penyidikan lanjutan.

Direktur Reserse Narkoba Polda Sumatera Selatan Kombes Pol Yulian Perdana menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil sinergi kuat antara Polda dan jajaran kewilayahan.

“Sejak 2024 jaringan ini mengelola ladang ganja dan mendistribusikannya hingga ke Pulau Jawa. Hari ini seluruh rantai tersebut berhasil kami putus. Barang bukti 220 kilogram ganja tidak jadi beredar, dan pengembangan terhadap jaringan terus kami lakukan,” tegas Kombes Pol Yulian Perdana.

Kapolres Empat Lawang AKBP Abdul Aziz Septiadi menyampaikan bahwa pengungkapan ini menjadi langkah strategis dalam menyelamatkan masyarakat dari ancaman narkotika di wilayahnya.

“Ladang ganja seluas 20 hektar telah kami bongkar dan bandar utamanya berhasil diamankan. Kami juga terus memburu para pelaku lain serta melakukan pendekatan sosial kepada masyarakat agar tidak kembali terlibat dalam aktivitas ilegal ini,” ujar AKBP Abdul Aziz Septiadi.

Kabid Humas Polda Sumatera Selatan Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya, S.I.K., M.H., menegaskan bahwa pengungkapan ini merupakan salah satu capaian terbesar dalam pemberantasan narkotika di wilayah Sumatera Selatan.

“Polda Sumsel tidak hanya menindak peredaran narkoba di hilir, tetapi juga memutus sumber produksi di hulu. Ladang ganja 20 hektar dan 220 kilogram ganja yang berhasil disita merupakan bukti keseriusan kami dalam melindungi masyarakat,” tegas Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya.

Polda Sumatera Selatan menegaskan komitmennya untuk terus melakukan pengembangan kasus hingga seluruh jaringan terungkap, sekaligus mengimbau masyarakat untuk berperan aktif dalam memberikan informasi guna memberantas peredaran narkotika di wilayah Sumatera Selatan.

(Zulkifli//Tim)

 

Peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana 26 di NTB Bertema Perkuat Budaya Siaga Kurangi Risiko

0

Peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana 26 di NTB Bertema Perkuat Budaya Siaga Kurangi Risiko

Warta.in
Mataram, NTB— Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB menggelar rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 26 April 2026 yang dipusatkan di kawasan Car Free Daj Jalan Udayana,Mataram. Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Gubernur NTB, H. Lalu Muhammad Iqbal, yang dalam sambutannya menekankan pentingnya kesiapsiagaan sebagai kunci utama dalam mengurangi risiko dan dampak bencana.Gubernur menegaskan bahwa kesiapsiagaan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.

“Kita tidak bisa menghentikan bencana, tetapi kita bisa meminimalkan dampaknya. Kesiapsiagaan adalah investasi keselamatan. Dengan pengetahuan, latihan, dan sistem yang baik, kita mampu menyelamatkan lebih banyak nyawa dan mengurangi kerugian,” ujar Gubernur.

Ia menambahkan bahwa NTB sebagai wilayah yang memiliki kerentanan terhadap berbagai jenis bencana, seperti gempa bumi, banjir, kekeringan, dan erupsi gunung api, membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dan berkelanjutan dalam membangun budaya siaga. Oleh karena itu, peringatan HKB menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran publik sekaligus memperkuat koordinasi lintas sektor.

Dalam pelaksanaan kegiatan BPBD NTB dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) NTB didukung Program SIAP SIAGA melibatkan berbagai pihak mulai dari pemerintah daerah, instansi vertikal, organisasi kemasyarakatan, komunitas, hingga pelajar Kegiatan diawali dengan “Senam Tangguh” yang diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan. Senam ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kebugaran fisik, tetapi juga menjadi simbol semangat kebersamaan dan kesiapan masyarakat dalam menghadapi situasi darurat.

Setelah kegiatan senam, acara dilanjutkan dengan sejumlah sosialisasi berbagai program terkait penanggulangan bencana di NTB. Salah satu kegiatan adalah sosialisasi Sistem Informasi Kebencanaan (SIK) SiAGA NTB. Sistem ini merupakan platform digital yang dikembangkan untuk menyediakan informasi kebencanaan secara cepat, akurat, dan terintegrasi. Melalui SIK SiAGA NTB, masyarakat dapat mengakses informasi terkait potensi bencana, peringatan dini, serta langkah-langkah mitigasi yang perlu dilakukan.

“Informasi yang tepat waktu dapat menyelamatkan nyawa. Dengan SIK SiAGA NTB, kami ingin memastikan bahwa masyarakat memiliki akses terhadap informasi yang mereka butuhkan untuk mengambil keputusan yang cepat dan tepat,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB,Sadimin.

Selain itu, sosialisasi Desa Tangguh Bencana (Destana) juga menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Program Destana bertujuan untuk membangun kapasitas masyarakat desa dalam mengelola risiko bencana secara mandiri. Dalam sosialisasi ini, peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya perencanaan berbasis risiko, pembentukan relawan desa, serta penyusunan rencana kontinjensi.

Upaya penguatan kapasitas masyarakat juga dilakukan melalui sosialisasi kajian ketangguhan pulau kecil. Mengingat banyak wilayah di NTB yang terdiri dari pulau-pulau kecil, pendekatan khusus diperlukan untuk memastikan ketahanan wilayah tersebut terhadap bencana. Kajian ini mencakup aspek lingkungan, sosial, ekonomi, serta infrastruktur yang menjadi faktor penentu tingkat ketangguhan suatu wilayah. Kajian pulau-pulau kecil telah dilaksanakan di Gili Trawangan,Gili Meno,dan Gili Air untuk di Lombok. Untuk Sumbawa telah dilakukan kajian ketangguhan di Pulau Moyo,Pulau Medang,dan Pulau Bungin.

Selanjutnya, sosialisasi Desa Berdaya turut diperkenalkan sebagai bagian dari strategi pengurangan risiko bencana berbasis pemberdayaan masyarakat. Salah satu tema desa berdaya yang menjadi program unggulan pemerintah provinsi adalah desa tangguh bencana. Program ini menekankan pentingnya kemandirian ekonomi dan sosial sebagai fondasi ketahanan masyarakat. Dengan masyarakat yang berdaya, proses pemulihan pascabencana diharapkan dapat berlangsung lebih cepat dan efektif.

Dalam rangka memastikan inklusivitas dalam penanggulangan bencana, kegiatan ini juga menghadirkan sosialisasi dari Unit Layanan Disabilitas (ULD) BPBD NTB. ULD bertujuan untuk memberikan perlindungan dan pelayanan yang ramah bagi penyandang disabilitas dalam situasi bencana. Sosialisasi ini menyoroti pentingnya pendekatan inklusif dalam setiap tahapan penanggulangan bencana, mulai dari mitigasi hingga rehabilitasi.

“Kita harus memastikan bahwa tidak ada satu pun yang tertinggal dalam upaya penyelamatan. Penyandang disabilitas memiliki kebutuhan khusus yang harus kita perhatikan, dan itu menjadi tanggung jawab bersama,” kata pengurus ULD BPBD NB, Sri Sukarni.

Selain kegiatan sosialisasi, peringatan HKB 2026 di NTB juga dimeriahkan dengan pameran literasi kebencanaan yang melibatkan berbagai komunitas. Pameran ini menampilkan beragam media edukasi, seperti buku, komik, poster, hingga permainan interaktif yang bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya anak-anak, tentang kebencanaan.

Pendekatan literasi dinilai efektif dalam menyampaikan pesan-pesan kesiapsiagaan secara lebih menarik dan mudah dipahami. Melalui media kreatif, masyarakat diajak untuk mengenali risiko di sekitarnya serta memahami langkah-langkah yang harus dilakukan saat terjadi bencana.

Kegiatan sosial juga menjadi bagian tak terpisahkan dari peringatan ini, antara lain donor darah dan pemeriksaan kesehatan gratis. Kegiatan donor darah diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari aparatur sipil negara, relawan, hingga masyarakat umum. Sementara itu, layanan pemeriksaan kesehatan memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memeriksa kondisi kesehatan mereka secara gratis, sebagai bagian dari upaya menjaga kesiapan fisik dalam menghadapi situasi darurat.

Antusiasme masyarakat terhadap kegiatan ini terlihat dari tingginya partisipasi peserta di berbagai rangkaian acara. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesiapsiagaan bencana semakin meningkat. Gubernur NTB dalam penutupannya kembali mengingatkan bahwa upaya membangun budaya siaga tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan membutuhkan komitmen jangka panjang. Ia mengajak seluruh pihak untuk terus berkolaborasi dan berinovasi dalam menghadapi tantangan kebencanaan di masa depan.

“Peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi pengingat bahwa kita harus selalu siap. Kesiapsiagaan adalah tanggung jawab bersama, dan hanya dengan kerja sama kita dapat menciptakan masyarakat yang tangguh dan berdaya,” tutupnya.

Melalui peringatan HKB 2026 ini, Pemerintah Provinsi NTB berharap dapat terus mendorong peningkatan kapasitas masyarakat serta memperkuat sistem penanggulangan bencana yang lebih inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Dengan demikian, risiko dan dampak bencana dapat diminimalkan, serta keselamatan masyarakat dapat lebih terjamin. (sr/dkisntb)

KWI Kukuhkan Pengurus Se-Jatim di Surabaya, Umar Hayat Tegaskan Soliditas dan Legalitas Organisasi

0

Warta.in||SURABAYA – Suasana hangat pasca-Idulfitri dimanfaatkan Komunitas Wartawan Indonesia (KWI) untuk memperkuat konsolidasi organisasi melalui agenda Halal Bihalal sekaligus pengukuhan jajaran pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) se-Jawa Timur. Kegiatan ini digelar di Hotel Sahid, Surabaya, Minggu (26/4/2026), dengan dihadiri ratusan insan pers dari berbagai daerah.

Acara berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan, menjadi momentum penting dalam menunjukkan soliditas serta perkembangan KWI yang kian meluas di berbagai wilayah.

Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) KWI, Umar Hayat, didampingi Sekretaris Jenderal DPP dan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) KWI Jawa Timur. Turut hadir jajaran dewan penasihat, para ketua DPC, serta anggota KWI dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur.

Selain itu, acara juga mendapat perhatian dari sejumlah instansi, di antaranya perwakilan Wali Kota Surabaya, Kasi Humas Polrestabes Surabaya, perwakilan Polres Pelabuhan Tanjung Perak, serta jajaran Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Timur dan Kota Surabaya.


Prosesi Pengukuhan Berlangsung Khidmat
Rangkaian acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan doa bersama, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Suasana semakin sakral saat memasuki prosesi pelantikan dan pengukuhan pengurus DPC KWI dari berbagai daerah di Jawa Timur.


Dalam prosesi tersebut, Ketua Umum Umar Hayat secara simbolis menyerahkan bendera pataka kepada Ketua DPD KWI Jawa Timur, yang kemudian diteruskan kepada para Ketua DPC yang baru dilantik, di antaranya dari Surabaya, Bangkalan, Bojonegoro, Sidoarjo, dan Lamongan.
Penyerahan pataka ini menjadi simbol amanah dan legitimasi kepemimpinan bagi para pengurus daerah untuk menjalankan roda organisasi dalam satu periode ke depan.

Tekankan Persatuan, Bukan Persaingan
Dalam sambutannya, Umar Hayat menegaskan bahwa KWI hadir bukan untuk bersaing dengan organisasi pers lain, melainkan sebagai wadah pemersatu bagi para jurnalis.


“KWI tidak hadir untuk menjadi pesaing organisasi profesi yang sudah ada. Tujuan kami jelas, yakni mempersatukan wartawan, mempererat silaturahmi, serta menjaga marwah profesi,” tegasnya di hadapan peserta.

Ia menambahkan, KWI terus membuka ruang inklusif bagi insan pers di seluruh Indonesia untuk bergabung dalam wadah yang menjunjung kebersamaan, profesionalisme, dan solidaritas.

“Kami ingin membangun ekosistem pers yang kuat melalui kebersamaan. Di sinilah tempat wartawan saling mendukung dan berkembang bersama,” imbuhnya.

Legalitas Resmi dan Infrastruktur Organisasi
Umar Hayat juga menegaskan bahwa KWI telah memiliki legalitas resmi dari pemerintah. Organisasi ini telah mendapatkan pengesahan dari Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia pada 30 Januari 2026 dengan nomor AHU yang sah.

“Legalitas KWI sudah lengkap dan jelas. Ini menjadi jaminan bahwa organisasi berjalan sesuai koridor hukum yang berlaku,” ungkapnya.

Selain itu, KWI juga telah memiliki kantor operasional guna menunjang aktivitas organisasi. Dua kantor pusat yang telah difungsikan berada di kawasan Mangga Dua serta di Hotel Arcadia, kawasan Surabaya Lama, dekat Jembatan Merah Plaza.

Keberadaan kantor ini diharapkan mampu mempermudah koordinasi, pelayanan anggota, serta pelaksanaan program kerja secara optimal.

Apresiasi dan Harapan
Di akhir acara, Umar Hayat menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran pengurus dan pihak yang telah mendukung kegiatan tersebut, termasuk sinergi dengan aparat TNI dan Polri.

Ia juga menyampaikan pesan Idulfitri kepada seluruh anggota KWI.
“Saya mengucapkan terima kasih atas semangat seluruh DPC dan dukungan semua pihak. Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kebersamaan ini terus terjaga,” pungkasnya.(red)

*MERAJUT KEKERABATAN DAN MEMANTAPKAN PERSATUAN, PKPS DPC LUBUK PINANG GELAR HALAL BI HALAL*

0

*MERAJUT KEKERABATAN DAN MEMANTAPKAN PERSATUAN, PKPS DPC LUBUK PINANG GELAR HALAL BI HALAL*

MUKOMUKO – Sebuah momen penuh kehangatan dan kebersamaan tercipta di tengah suasana yang damai. Perkumpulan Keluarga Pesisir Selatan (PKPS) Dewan Pengarah Cabang (DPC) Lubuk Pinang sukses menyelenggarakan kegiatan Halal bi Halal. Acara ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah upaya luhur untuk merajut kembali ikatan silaturahmi yang telah terbentang jauh, serta memperkokoh tali persaudaraan di antara sesama warga perantau asal Pesisir Selatan yang kini menapakkan kaki di bumi Kabupaten Mukomuko.

Kegiatan yang sarat makna persaudaraan ini berlangsung khidmat di Masjid Baiturrahim, Jalan Gang Becek, Desa Lubuk Pinang, Kabupaten Mukomuko, pada Minggu, 26 April 2026. Suasana akrab dan penuh kekeluargaan langsung terasa begitu memasuki lokasi, di mana ratusan insan yang memiliki akar budaya dan asal daerah yang sama berkumpul dalam satu wadah kebersamaan.

Ratusan perantau yang berdomisili di berbagai penjuru Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, tampak antusias menyambut kebersamaan ini. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata bahwa meski telah lama merantau dan meniti karir di tanah perantauan, rasa cinta dan rasa memiliki terhadap kampung halaman serta sesama saudara senasib sepenanggungan tidak pernah luntur, bahkan kian subur seiring berjalannya waktu.

Dalam sambutannya, Ketua DPC PKPS Lubuk Pinang, Jumianto, menegaskan bahwa pertemuan ini memiliki nilai strategis yang sangat besar. Baginya, Halal bi Halal adalah momentum emas untuk mempererat hubungan emosional di antara sesama perantau dan masyarakat Pesisir Selatan yang ada di Mukomuko.

“Halal bi Halal bukan sekadar tradisi tahunan yang kita lakukan seremonial belaka. Lebih dari itu, acara ini hadir sebagai wadah yang paling tepat untuk mempererat hubungan kekeluargaan, serta menghidupkan kembali semangat Raso Bakampuang atau rasa satu kampung, rasa satu saudara, yang hidup di tengah-tengah kita,” ujar Jumianto dengan penuh penekanan dan ketulusan.

Lebih jauh, ia menyatakan bahwa kebersamaan ini adalah modal sosial yang sangat berharga. Dengan silaturahmi yang kuat, maka persatuan akan semakin kokoh, dan kehidupan bermasyarakat akan menjadi lebih harmonis, saling mendukung, dan saling mengisi dalam kebaikan.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengarah Daerah (DPD) PKPS Kabupaten Mukomuko, Wawan Darmo Hasra, S.Pd., menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas antusiasme seluruh tamu undangan dan anggota yang hadir. Ia menilai, acara ini memiliki makna yang sangat mendalam dalam menjembatani jarak dan mendekatkan hati satu sama lain.

“Segala aktivitas yang kita laksanakan hari ini, pada hakikatnya bertujuan untuk menyatukan kembali rasa kebersamaan di antara kita, khususnya keluarga besar Pesisir Selatan yang ada di Kabupaten Mukomuko, dan khususnya di lingkungan DPC Lubuk Pinang. Dalam kesempatan yang berbahagia ini, mari kita satukan hati, satukan niat, dan satukan langkah demi kebaikan bersama,” tegas Wawan dengan penuh semangat.

Acara ditutup dengan suasana yang semakin hangat, di mana saling maaf memaaf dan saling sapa menyapa menjadi penutup indah dari sebuah pertemuan yang membuktikan bahwa perantauan tidak memisahkan, melainkan justru menguatkan janji setia pada persaudaraan. (HD)