29.9 C
Jakarta
Minggu, Februari 15, 2026
Beranda blog Halaman 49

Dimyati Dorong Peran Aktif Komisi II DPR RI Perkuat Bank Banten

0

Wartain Banten | Pemerintahan | 28 Januari 2026  — Wakil Gubernur (Wagub) Banten A Dimyati Natakusumah mendorong Komisi II DPR RI untuk berperan aktif dalam memperkuat PT Bank Pembangunan Daerah Banten (Perseroda) Tbk atau Bank Banten sebagai lokomotif pembangunan ekonomi daerah.

Hal tersebut disampaikan Dimyati usai mendampingi kunjungan kerja spesifik Komisi II DPR RI ke Bank Banten yang berlangsung di Pendopo Gubernur Banten, Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Kota Serang, Rabu (28/1/2026).

Menurut Dimyati, penguatan Bank Banten akan memberikan dampak langsung terhadap percepatan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Banten. Oleh karena itu, dukungan Komisi II DPR RI dinilai sangat strategis, mengingat komisi tersebut memiliki akses langsung ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Ia menambahkan, saat ini Kelompok Usaha Bank (KUB) antara Bank Banten dan Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur (Bank Jatim) telah terbentuk. Kerja sama tersebut diyakini akan memperkuat Bank Banten, baik dari sisi permodalan, tata kelola, maupun penguatan teknologi perbankan

“Ini tentu memperkuat Bank Banten baik dari sisi finansial maupun teknologinya,” ungkapnya.

Dimyati juga menjelaskan, penempatan Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) di Bank Banten akan memberikan efek berganda (multiplier effect) bagi pembangunan dan perekonomian di masing-masing daerah.

“Perputaran ekonominya akan semakin kuat di dalam daerah,” katanya.

Wakil Ketua Komisi II DPR RI Aria Bima menilai kinerja Bank Banten menunjukkan tren positif, ditandai dengan peningkatan aset, laba bersih, serta membaiknya tingkat kesehatan bank.

“Direksi dan komisaris semuanya sudah berkomitmen untuk terus menekan NPL itu. Saya yakin dengan kinerja direksi yang sangat baik ini, kedepan Bank Banten akan semakin kuat,” pungkasnya.

Selain itu, Aria menyatakan telah menginstruksikan Kementerian Dalam Negeri untuk memfasilitasi penguatan peran bank pembangunan daerah agar mampu mengoptimalkan arus fiskal dan menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi daerah.

Direktur Utama Bank Banten Muhammad Busthami menyambut positif kunjungan Komisi II DPR RI sebagai momentum untuk menyampaikan capaian dan tantangan Bank Banten.

“Intinya, kita sama-sama mempunyai kesepemahaman bagaimana Bank Banten ini bisa menjadi motor penggerak pembangunan daerah,” katanya.

Busthami juga menekankan pentingnya penempatan RKUD di Bank Banten sebagai dukungan konkret pemerintah daerah, karena terbukti memberikan dampak signifikan meski baru dikelola oleh dua pemda pada 2025.(WartainBanten)

Pengawas Cabang Surabaya YHT Tinjau Pensi KALARUVI FEST Vol. 3 SMP Hang Tuah 1 Surabaya.

0

Pengawas Cabang Surabaya Yayasan Hang Tuah Tinjau Pensi KALARUVI FEST Vol. 3 SMP Hang Tuah 1 Surabaya.

Surabaya,(28/01/26)

Pentas Seni KALARUVI FEST Vol. 3 SMP Hang Tuah 1 Surabaya berlangsung meriah dengan menampilkan demontrasi seluruh kegiatan ekstrakurikuler berlangsung di halaman SMP Hang Tuah 1, kegiatan ini di buka oleh Ketua Pengurus Cabang Surabaya Yayasan Hang Tuah Kolonel Laut (Purn) R. Joko Heriyanto, S.E., M.M., CHRMP,(28/01/26).

Ketua Panitia Pensi KALARUVI FEST Vol. 3 SMP Hang Tuah 1 Surabaya Jabal Thariq, S.Pd yang kesehariannya sebagai guru olahraga melaporkan kepada Ketua Pengurus Cabang Surabaya YHT bahwa, pentas seni ini diselenggarakan sebagai wadah bagi murid untuk menyalurkan bakat, minat, dan kreativitas di bidang seni, sekaligus sebagai sarana untuk meningkatkan rasa percaya diri, kerja sama, serta kecintaan terhadap budaya dan seni.

Ketua Pengurus Cabang Surabaya Yayasan Hang Tuah Kolonel Laut (Purn) R. Joko Heriyanto, S.E., M.M., CHRMP dalam sambutannya mengungkapkan bahwa
Pentas seni ini bukan sekadar hiburan, bukan pula sekadar acara seremonial. Kegiatan ini adalah etalase mutu pendidikan. Inilah hasil nyata proses pembinaan karakter, kreativitas, disiplin, keberanian, kerja sama, dan kepercayaan diri yang selama ini dibangun di SMP Hang Tuah 1 Surabaya.

Sebagai Ketua Yayasan Hang Tuah Cabang Surabaya, saya menyampaikan apresiasi dan kebanggaan yang setinggi-tingginya kepada kepala sekolah, para guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan terutama kepada anak-anakku sekalian, yang hari ini menampilkan karya, bakat, dan kreativitas terbaiknya.

Pendidikan yang kami kembangkan di sekolah-sekolah Yayasan Hang Tuah, khususnya di SMP Hang Tuah 1 Bogowonto Surabaya, adalah pendidikan yang utuh dan seimbang : cerdas secara akademik, kuat karakternya, santun akhlaknya, disiplin perilakunya, serta memiliki jiwa kebaharian dan nasionalisme yang kokoh.

Melalui kesempatan yang sangat baik ini, izinkan saya menyampaikan secara terbuka dan tegas bahwa SMP Hang Tuah 1 Surabaya siap dan sangat layak menjadi pilihan utama bagi Bapak/Ibu dalam menyekolahkan putra-putrinya pada Sistem Penerimaan Murid Baru ( SPMB) Tahun Pelajaran 2026/2027.

Mengapa demikian? Karena SMP Hang Tuah 1 Surabaya memiliki keunggulan-keunggulan nyata, di antaranya :

1. Terakreditasi A, sebagai bukti mutu pengelolaan dan layanan pendidikan.

2. Pembinaan karakter dan kedisiplinan yang kuat, membentuk siswa yang bertanggung jawab, beretika, dan bermental tangguh.

3. Prestasi akademik dan non-akademik yang membanggakan, dari tingkat kota, provinsi, nasional, hingga internasional.

4. Kegiatan ekstrakurikuler yang aktif, variatif, dan terarah, termasuk seni, olahraga, pramuka, paskibra, PMR, literasi, sains, dan kepemimpinan.

5. Tenaga pendidik yang profesional, berdedikasi, dan berpengalaman, yang mendidik dengan hati, keteladanan, dan komitmen tinggi.

6. Lingkungan sekolah yang aman, nyaman, religius, dan kondusif, sehingga anak-anak dapat belajar dan berkembang dengan optimal.

7. Fasilitas pembelajaran yang memadai dan terus dikembangkan, mendukung pembelajaran abad ke-21.

8. Nilai-nilai kebaharian dan cinta tanah air, sebagai ciri khas Yayasan Hang Tuah, yang membentuk siswa berjiwa nasionalis dan berwawasan kebangsaan.

Apa yang Bapak/Ibu saksikan hari ini melalui KALARUVI FEST adalah bukti konkret bahwa para murid dididik tidak hanya untuk pandai di kelas, tetapi juga berani tampil, mampu berkarya, dan siap bersaing secara sehat.

Oleh karena itu, melalui mimbar ini saya mengajak dengan sungguh-sungguh kepada seluruh orang tua dan masyarakat Surabaya :

Mari bergabung bersama SMP Hang Tuah 1 Bogowonto Surabaya, percayakan pendidikan putra-putri Bapak/Ibu kepada sekolah yang terbukti kualitasnya.

Mari kita siapkan generasi masa depan yang unggul, berkarakter, berprestasi, dan berakhlak mulia.

Kami membuka Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Pelajaran 2026/2027, dan kami siap menyambut putra-putri terbaik Bapak/Ibu untuk tumbuh, belajar, dan meraih masa depan bersama SMP Hang Tuah 1 Surabaya.

Jangan ragu, jangan menunda. Karena memilih sekolah adalah keputusan besar untuk masa depan anak-anak kita.

Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran, dukungan, dan kepercayaan yang terus diberikan kepada Yayasan Hang Tuah dan SMP Hang Tuah 1 Surabaya.

Dalam Pensi kali ini, SMP Hang Tuah 1 menampilkan demontrasi berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler, antara lain : Banjari, Tari, Paduan suara, Karate, Pramuka, Modern dance, Paskibra, Drana jaranan/kontemporer.

Di tengah berlangsungnya demontrasi ekstrakurikuler Banjari, Pengawas Cabang Surabaya Yayasan Hang Tuah Ny. Sandya Ali Triswanto hadir di arena Pensi disambut oleh Pengurus Yayasan Hang Tuah yang lebih awal datang, dan Kasatdik SMP Hang Tuah 1 Surabaya Soni Indrawanto, M.Pd serta undangan lainnya.

Dalam sesi akhir penampilan Band dari SMA Hang Tuah 4 Surabaya, di nana ada beberapa personilnya yang merupakan alumni SMP Hang Tuah 1, Pengawas Cabang Ny. Ny. Sandya Ali Triswanto dan Sekertaris Niken Dyah Puspitorini , S.Pd turut larut dalam menyanyikan lagu “Seperti Yang Kau Minta”, lagu di era tahun 80 an da Chrisye yang mendapat apresiasi dari seluruh murid SMP Hang Tuah 1.

Nampak hadir seluruh pengurus Cabang Surabaya Yayasan Hang Tuah, Sekertaris Niken Dyah Puspitorini , S.Pd, Bendahara Ninik Indra Sunaring Venyanti, Kabid Diklat Dra. Ramayanti, Kabid Bang Kolonel Laut (Purn) Dr. Abdul Rahman, S.T., M.T, Kasatdik SD Hang Tuah 1 dan Kasatdik. SMA Hang Tuah 4 (yht/dar).

Kepala SDIT Raudhatus Sakinah Apresiasi Jambore Ranting Medan Marelan 2026

0

Medan Marelan (Warta.In) – Kepala Sekolah sekaligus Mabigus Gugus Pangkalan SDIT Raudhatus Sakinah, Ira Suparti Ningsih, memberikan apresiasi atas suksesnya pelaksanaan Jambore Ranting Medan Marelan Tahun 2026 yang berlangsung penuh keakraban dan bernilai edukatif.
Ia menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT atas kelancaran kegiatan serta mengapresiasi seluruh tim pelaksana, pembina Pramuka, orang tua, dan peserta didik yang telah bersinergi menyukseskan kegiatan jambore. Menurutnya, jambore menjadi sarana pendidikan luar sekolah yang efektif dalam mengembangkan life skill anak, seperti kemandirian, disiplin, tanggung jawab, dan keterampilan sosial emosional.
“Alhamdulillah, seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan seluruh peserta kembali dalam keadaan sehat walafiat berkat kerja sama semua pihak,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama pelaksanaan kegiatan masih terdapat kekurangan. Ira berharap pengalaman berkemah ini dapat menjadi pembelajaran berharga dalam membentuk karakter anak yang berakhlak karimah, mandiri, tangguh, adaptif, serta berdaya saing, sekaligus meninggalkan kenangan indah bagi seluruh peserta. (Untung)

Hearing FKMSH di Kantor BWS NT1 Tertib ,Libatkan  Pengamanan Polisi

0

Hearing FKMSH di Kantor BWS NT1 Tertib ,Libatkan  Pengamanan Polisi

Warta.in
Lombok Barat,NTB – Jajaran Polsek Narmada mengawal jalannya aksi hearing Forum Komunikasi Mahasiswa Sadar Hukum (FKMSH) di Kantor BWS NT1 Provinsi NTB, Rabu (28/1/2026). Sejak awal kegiatan, personel kepolisian bersiaga guna memastikan situasi tetap aman dan tertib.

Hearing berlangsung sekitar pukul 12.05 Wita di Kantor BWS NT1, Jalan Ahmad Yani No.1, Desa Gerimax Indah, Kecamatan Narmada. Massa aksi berjumlah lima orang dipimpin koordinator lapangan Sahrul Ramdan, S.H. Setibanya di lokasi, peserta langsung diarahkan masuk ke Ruang Rapat Mandalika BWS NT1.

Pengamanan dipimpin langsung Kapolsek Narmada AKP I Kadek Ariawan, S.H. dengan melibatkan delapan personel Polsek Narmada, didukung anggota Sat Samapta serta Pamapta Polresta Mataram. Sebelum kegiatan dimulai, seluruh personel mengikuti apel kesiapan dan arahan pengamanan.

Dalam forum hearing, perwakilan FKMSH menyampaikan sejumlah aspirasi terkait dugaan persoalan proyek bronjong dan pekerjaan infrastruktur, di beberapa wilayah Kabupaten Bima. Penyampaian pendapat berjalan tertib dengan pengawalan aparat di dalam dan sekitar lokasi kegiatan.

Kapolsek Narmada AKP I Kadek Ariawan menyampaikan, pengamanan difokuskan pada pencegahan gangguan keamanan dan kelancaran aktivitas kantor.

“Pengamanan kami lakukan agar penyampaian aspirasi berjalan aman, tertib, dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat sekitar,” ujar Kadek Ariawan.

Pihak BWS NT1 melalui humas dan pengendali teknik menerima langsung perwakilan mahasiswa, serta menyampaikan komitmen menindaklanjuti aspirasi yang disampaikan dan berkoordinasi dengan pihak terkait.

Sekitar pukul 12.45 Wita, hearing berakhir. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan kondusif. Personel kepolisian kemudian menutup pengamanan dengan apel konsolidasi, sebelum kembali ke satuan masing-masing.(sr/hpm)

Polres KlU Sulap Ruang Tunggu Jadi Ruang Literasi, Dorong Wajah Baru Pelayanan Publik

0

Polres KlU Sulap Ruang Tunggu Jadi Ruang Literasi, Dorong Wajah Baru Pelayanan Publik

Warta.in
Lombok Utara ,NTB — Polres Lombok Utara mulai menata ulang wajah pelayanan publiknya. Tidak lagi semata-mata menjadi ruang administratif yang kaku, kini ruang tunggu pelayanan SIM dan SKCK disulap menjadi ruang literasi melalui peresmian Pojok Baca dan Perpustakaan Digital hasil kolaborasi dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lombok Utara.

Program ini ditandai dengan penyerahan bantuan fasilitas literasi dari Pemerintah Daerah Lombok Utara berupa satu unit televisi 32 inci, satu unit komputer, dan satu rak buku, Selasa (27/1/2026).

Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara, Ny. Heny Agus Purwanta, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari upaya membangun pelayanan kepolisian yang lebih edukatif dan ramah masyarakat.

“Selama ini ruang tunggu identik dengan tempat menanti. Sekarang kami ingin mengubahnya menjadi ruang yang memberi nilai tambah—masyarakat bisa membaca, anak-anak bisa bermain edukatif, dan waktu tunggu tidak lagi terasa sia-sia,” ujarnya.

Menurut dia, pembenahan ruang pelayanan bukan hanya soal estetika, tetapi juga menyangkut pengalaman psikologis masyarakat saat berurusan dengan institusi negara.

“Pelayanan yang baik bukan hanya cepat, tetapi juga menenangkan dan “up to date serta mengikuti perkembangan zaman,” katanya.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Lombok Utara, Drs. Rusdianto, mengatakan kehadiran pojok baca di lingkungan Polres merupakan bagian dari strategi memperluas jangkauan literasi ke ruang-ruang publik yang selama ini tidak identik dengan aktivitas membaca.

“Kita harus menjemput pembaca, bukan menunggu mereka datang ke perpustakaan. Kantor pelayanan publik seperti Polres adalah titik temu masyarakat yang sangat strategis,” ujarnya.

Ia mengakui bahwa tantangan literasi saat ini semakin berat seiring dominasi gawai dan konten instan. Karena itu, pendekatan yang ditempuh bukan melawan teknologi, tetapi mengintegrasikan literasi dengan ruang dan kebiasaan baru masyarakat.

“Perpustakaan hari ini tidak bisa hanya menjadi gudang buku. Ia harus hadir di tengah aktivitas warga,” katanya.

Sementara itu, Kabag SDM Polres Lombok Utara AKP Agus Rahman mengatakan bantuan tersebut akan ditempatkan di ruang tunggu pelayanan SIM dan SKCK agar bisa langsung diakses masyarakat.

“Kami mewakili Kapolres Lombok Utara menyampaikan terima kasih atas dukungan ini. Ini sangat membantu meningkatkan kualitas pelayanan kami kepada masyarakat,” ujarnya.

Lebih dari sekadar penambahan fasilitas, program ini mencerminkan pergeseran paradigma pelayanan publik di lingkungan Polres Lombok Utara—dari sekadar mengurus administrasi menuju pelayanan yang juga memperhatikan aspek edukasi dan kenyamanan warga.

Dari sebuah pojok baca di ruang tunggu, Polres Lombok Utara kini sedang menanam pesan sederhana namun kuat:
bahwa negara hadir bukan hanya untuk mengatur, tetapi juga untuk mendidik, menenangkan, dan menumbuhkan. ( sr/hpntb )

Pra Musrenbang 2026 Untuk RKPD 2027 Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung,Rabu, , 28 Januari 2026

0

Ciparay, Kabupaten Bandung, Rabu, 28 Januari 2026 WARTA. IN Anjar Lugiyana, S.Ip. M.Ip. Camat Ciparay, Kabupaten Bandung, Sosialisasi Musrenbang 2026 untuk RKPD 2027 di 14 desa, Kecamatan Ciparay.
443 usulan untuk 14 desa, Musrenbang Kecamatan, Wajib 4 prioritas, Jelas Camat Ciparay, Anjar Lugiyana, S.Ip. M.Ip.
1. Program Strategis Kabupaten Bandung
2. Isu Strategis
3. Realistis
4. Pemerataan Pembangunan Wilayah.
Anggaran 4 Miliyar, bukandi bagi ke-14 desa, tapi dilihat dari urgensi persoalan yang ada di Kecamatan Ciparay, berdasarkan skala prioritas dan urgensi ditentukan bersama Camat Ciparay, jelas Anjar Lugiyana, S.Ip. M.Ip.
Stunting dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), prioritas usulan Musrenbang di Kabupaten Bandung, jadi yang diusulkan berhubungan dengan peningkatan gizi bagi balita, ibu menyusui dan ibu hamil, jangan mengusulkan lapangan sepak bola, lanjut Camat. Sementara KDRT, harus dibangung ketahanan keluarga yang tercukupi kebutuhan dan kesehatan dan keutuhan keluarga. WARTA. IN Biro Bandung Ibnu S SH CSS ALC SIP CIJ CPW.<img src="http://warta.in/wp-content/uploads/2026/01/IMG_20260128_143942-300×139.jpg" alt="" width="300" height="139" class="alignnone size-medium wp-image-158933″ />

PGRI Blanakan Matangkan Persiapan Korcab 2026, Fokus pada Regenerasi Kepemimpinan

0

PGRI Blanakan Matangkan Persiapan Korcab 2026, Fokus pada Regenerasi Kepemimpinan

​SUBANG | Warta In Jabar – Pengurus Cabang Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kecamatan Blanakan mulai memanaskan mesin organisasi menjelang suksesi kepemimpinan. Hal ini ditandai dengan digelarnya rapat pleno Prakonferensi Cabang (Prakorcab) yang berlangsung di SDN Tanjungbaru, Blanakan, pada Rabu (28/1/2026).

​Pertemuan strategis tersebut bertujuan untuk merekapitulasi usulan nama-nama calon pengurus serta menetapkan mekanisme pemilihan yang akan dilaksanakan pada puncak Konferensi Cabang (Korcab), 4 Februari mendatang.

Berdasarkan hasil musyawarah mufakat, SDN Tanjungsari yang berlokasi di Jl. Tanjungsari, RT.01/RW.01, Desa Blanakan, telah ditetapkan sebagai venue resmi pelaksanaan Korcab. Pemilihan lokasi ini mempertimbangkan aksesibilitas serta faktor keamanan dari risiko kendala cuaca.

​Kegiatan ini dipastikan akan melibatkan partisipasi aktif dari 9 ranting pendidikan di wilayah Blanakan, yang mencakup:

​6 Ranting Sekolah Dasar (SD)

​1 Ranting Sekolah Menengah Pertama (SMP)

​2 Ranting Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

​1 Ranting Taman Kanak-Kanak (TK)

Dalam sesi koordinasi yang dihadiri jajaran pengurus seperti Yani Irmayani (Sekbit Peningkatan Profesi Guru), Wawan Hermawan (Sekbit Bagian Hukum), dan Kasim (Sekbit Bagian Pemuda dan Pengembangan Generasi), ditetapkan aturan mengenai hak suara. Meski secara aturan dasar satu suara mewakili 20 anggota, peserta rapat menyepakati setiap sekolah akan mengirimkan 2 orang pemegang mandat sebagai pemilik hak suara sah demi efektivitas proses demokrasi.

Ketua PGRI Cabang Blanakan saat ini, Hj. Entin Suhartini, menegaskan bahwa dirinya tidak akan kembali berkompetisi dalam bursa pemilihan ketua (F1). Keputusan ini diambil mengingat beliau telah menyelesaikan masa jabatan selama dua periode dan akan segera memasuki masa purnabakti.

​”Agenda hari ini adalah memastikan kesiapan administrasi dan penyaringan calon dari setiap ranting,” ujar Hj. Entin dalam diskusi tersebut. Hingga saat ini, proses rekapitulasi nama calon pengurus masih terus berjalan secara tertutup oleh sekretariat sebelum diumumkan pada hari H pemilihan.

​Regenerasi ini diharapkan mampu melahirkan pengurus baru yang membawa semangat baru bagi dunia pendidikan dan kesejahteraan para pendidik di Kecamatan Blanakan.

Peluncuran Buku. “Mengunyah Buku,Melahap Ilmu”

0

Jakarta (28.1.2026).— Di tengah derasnya arus media sosial dan konten instan, budaya membaca buku menghadapi tantangan serius. Hal ini menjadi sorotan utama dalam kegiatan Bedah Buku dan Seminar Literasi Nasional bertajuk “Kutu Buku, Mengunyah Buku, Melahap Ilmu” karya Dr. Joko Nugroho, S.T., M.M. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Auditorium Perpusnas RI Lantai 1, Jakarta Pusat. (Rabu, 28 Januari 2026).

Dalam pemaparannya, Dr. Joko Nugroho menegaskan bahwa membaca dan menulis buku merupakan fondasi penting dalam membangun literasi serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Menurutnya, buku bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan sarana pembentuk peradaban sekaligus pemicu perubahan sosial.
“Dengan membaca buku, sejatinya kita sedang melatih literasi kita.

Dari ilmu itulah manusia bisa menjadi sesuatu yang hebat. Hampir seluruh kemajuan berpijak pada pengetahuan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa sejarah telah membuktikan kekuatan buku dalam mengubah pola pikir masyarakat, bahkan memengaruhi kebijakan negara. Salah satu contoh nyata adalah pemikiran R.A. Kartini yang dituangkan dalam tulisan-tulisannya. Melalui buku, Kartini mampu menggugah kesadaran masyarakat bahwa perempuan memiliki kedudukan setara dengan laki-laki, menentang pandangan lama yang menempatkan perempuan pada posisi subordinat.
Contoh lainnya adalah novel Max Havelaar karya Multatuli yang mengkritik sistem tanam paksa pada masa kolonial.

Buku tersebut memberikan dampak besar hingga akhirnya memengaruhi kebijakan Pemerintah Belanda terhadap praktik tanam paksa. “Ini membuktikan bahwa buku dapat menjadi alat kontrol sosial dan penggerak perubahan kebijakan,” jelasnya.

Dr. Joko Nugroho juga menyinggung karya klasik The Republic karya Plato yang ditulis sekitar 300 SM. Menurutnya, buku tersebut telah memuat gagasan pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, jauh sebelum sistem demokrasi modern berkembang.

“Gagasan besar dunia lahir dari buku,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya peran negara dalam mendukung ekosistem perbukuan. Ia membandingkan kebijakan di India yang memberikan subsidi besar sehingga harga buku menjadi sangat terjangkau.

Sementara di Indonesia, harga buku masih relatif mahal, sehingga membatasi akses masyarakat terhadap ilmu pengetahuan.
Meski perkembangan teknologi digital memungkinkan masyarakat membaca secara daring, Dr. Joko Nugroho menilai dukungan kebijakan pemerintah tetap krusial. “Baik buku cetak maupun digital, literasi tetap memerlukan keberpihakan kebijakan agar dapat diakses secara luas oleh masyarakat,” ujarnya.

Terkait bukunya Kutu Buku, ia menyampaikan bahwa pesan utama yang ingin disampaikan adalah pentingnya membiasakan diri membaca secara sungguh-sungguh. “Makna Mengunyah Buku, Melahap Ilmu adalah membaca dengan serius, mencerna isinya. Dari situlah ilmu dan inspirasi lahir. Harapan saya, terutama untuk generasi muda, agar menjadikan membaca sebagai kebiasaan,” tutupnya.

Mitigasi Multi Bencana NTB sebagai Investasi Peradaban

0

Mitigasi Multi Bencana NTB sebagai Investasi Peradaban, Peringatkan Sejak  Dini Sebelum Bencana terjadi

Warta.in
Mataram,NTB  –  Catatan Lapangan Gubernur Miq Iqbal Meninjau Bencana Lombok dan Sumbawa.

Bencana tidak pernah benar-benar “datang tiba-tiba”. Yang sering tiba-tiba adalah kesadaran kita. Ketika banjir merendam permukiman, ketika longsor memutus jalan, ketika kekeringan memaksa warga antre air, atau ketika gempa mengguncang rumah dan sekolah, barulah semua pihak serentak menyebut kata “mitigasi”.

Padahal mitigasi seharusnya bekerja jauh sebelum hujan turun, jauh sebelum retakan tanah muncul, jauh sebelum sirene peringatan terdengar.
Di titik inilah NTB harus jujur wilayah kita tidak kekurangan keberanian untuk bangkit, tetapi masih membutuhkan ketegasan untuk mencegah.

Dalam catatan lapangan saat Gubernur NTB Miq Iqbal meninjau sejumlah titik terdampak bencana di Lombok dan Sumbawa, ada pesan yang menguat: mitigasi multi bencana bukan biaya, melainkan investasi peradaban. Ini bukan slogan. Ini adalah cara baru membaca pembangunan.

Sebab NTB hidup di lanskap resiko yang kompleks, hidrometeorologi yang makin ekstrem, degradasi lingkungan, kerentanan infrastruktur, hingga ancaman gempa bumi yang selalu mengintai. Jika pembangunan hanya mengejar cepat dan besar tanpa menghitung resiko, maka kita sedang membangun di atas fondasi rapuh. Satu bencana besar saja cukup untuk membuat kita kembali ke titik nol.

Rekam Jejak Bencana Sejak 2016: Ini Bukan Kebetulan, Ini Pola

Catatan dari 2016, NTB mengalami rangkaian kejadian bencana yang membentuk pola berulang: banjir, longsor, angin kencang, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, gelombang ekstrem, hingga gempa bumi. Kita menyaksikan bagaimana banjir dan longsor kerap datang setelah hujan intensitas tinggi, memutus akses jalan dan merusak permukiman. Kita juga mengalami musim kemarau yang keras, ketika beberapa wilayah harus berjuang memenuhi kebutuhan air bersih. Kebakaran hutan dan lahan muncul di periode tertentu, menambah ancaman kesehatan dan, kerusakan ekologi.

Puncak ujian itu terjadi pada Gempa Lombok 2018, yang menjadi salah satu catatan paling traumatik dalam sejarah kebencanaan NTB. Gempa bukan hanya mengguncang bangunan, tetapi mengguncang sendi sosial-ekonomi seperti  rumah warga rusak, fasilitas publik lumpuh, aktivitas pendidikan terganggu, layanan kesehatan terhambat, dan pemulihan membutuhkan waktu panjang.

Setelah itu, NTB tetap menghadapi ancaman berulang, terutama bencana hidrometeorologi yang makin sering dan makin “tidak ramah”, seiring perubahan iklim yang menggeser pola musim, memperpanjang kekeringan, dan memadatkan hujan dalam durasi pendek namun intensitas tinggi.

Rangkaian peristiwa ini mengirim pesan yang tidak boleh kita abaikan: bencana di NTB bukan anomali, melainkan realitas struktural. Karena itu, solusi kita tidak boleh insidental. Tidak bisa lagi sekedar “pemadam kebakaran”. Yang dibutuhkan adalah perubahan cara berpikir: dari respons ke resiko, dari reaktif ke proaktif, dari sektoral ke sistemik.

Dari Teori ke Aksi: Kebencanaan Harus Menjadi Bagian dari Pembangunan

Literatur manajemen bencana menegaskan perubahan paradigma global: bencana tidak cukup ditangani saat darurat, tetapi harus dikelola sebagai resiko pembangunan. Wignyo Adiyoso, salah satu rujukan penting dalam literatur kebencanaan Indonesia, menekankan pendekatan holistik yang mencakup pencegahan, kesiapsiagaan, respons, hingga pemulihan. Intinya, manajemen bencana tidak boleh berhenti pada logistik dan tenda pengungsian, tetapi harus masuk ke desain kebijakan publik sejak awal. Dalam bahasa sederhana: kualitas pembangunan menentukan seberapa besar korban ketika bencana datang.

Namun, teori yang baik sering kali tersandung pada praktik yang tidak solid. Adiyoso juga menyoroti dua persoalan yang kerap menjadi “biang lemah” manajemen bencana: ketimpangan kapasitas antarlevel pemerintahan dan minimnya partisipasi masyarakat dalam perencanaan. Kita harus mengakui, NTB masih menghadapi dua persoalan ini dalam berbagai bentuk. Ada wilayah yang kuat secara kapasitas, ada yang tertinggal. Ada desa yang aktif, ada yang masih menunggu.

Karena itu, arah kebijakan yang ditegaskan Gubernur Miq Iqbal menjadi penting: mitigasi harus menjadi kerja bersama. Pemerintah provinsi tidak bisa bekerja sendiri, kabupaten/kota tidak bisa berjalan sendiri, desa tidak bisa dibiarkan sendiri. Semua harus bertemu dalam satu agenda besar: keselamatan rakyat sebagai prioritas pembangunan.

Mitigasi Hidrometeorologi: Ekologi Adalah Infrastruktur Keselamatan

Bencana hidrometeorologi di NTB tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekologi. Ketika hutan rusak, ketika daerah resapan berkurang, ketika sungai dangkal dan sempadan terokupasi, maka hujan berubah menjadi ancaman. Di musim penghujan, air meluncur cepat membawa material, menimbulkan banjir dan longsor. Di musim kemarau, cadangan air menghilang, memicu kekeringan dan krisis air bersih.

Data daerah menunjukkan degradasi hutan dan tekanan terhadap kawasan tangkapan air menjadi faktor yang memperparah risiko banjir, longsor, dan kekeringan. Pada saat yang sama, perubahan iklim meningkatkan ketidakpastian cuaca: hujan ekstrem lebih sering muncul, sementara kemarau bisa menjadi lebih panjang dan keras.

Ini sebabnya mitigasi tidak boleh semata “proyek fisik”. Mitigasi harus menyentuh akar: pemulihan ekosistem.
Rehabilitasi hutan, perlindungan mata air, penguatan kawasan resapan, serta konservasi lahan adalah investasi yang dampaknya jauh melampaui satu musim.

Pembangunan embung desa, sumur resapan, biopori, dan infrastruktur hijau lainnya harus dipandang sebagai strategi pengurangan risiko, bukan sekadar program lingkungan. Ini bukan romantisme ekologis, tetapi logika keselamatan publik.

Gubernur Miq Iqbal menempatkan isu ini sebagai fondasi: tanpa ekologi yang sehat, tidak ada ekonomi yang stabil. Pertanian tidak bisa hidup tanpa air. Pariwisata tidak bisa berkembang di wilayah rawan banjir dan longsor. Dunia usaha dan investasi tidak akan tahan pada ketidakpastian bencana. Jadi mitigasi adalah syarat pertumbuhan.

Mitigasi Gempa: Rumah Aman dan Budaya Siaga

Jika hidrometeorologi menuntut pemulihan ekosistem, maka gempa menuntut ketegasan standar keselamatan bangunan. NTB berada pada zona rawan gempa, sehingga mitigasi gempa tidak boleh hanya mengandalkan do’a dan keberuntungan.
Gempa tidak bisa dicegah, tetapi korban jiwa dan kerugian bisa ditekan jika rumah dan fasilitas publik dibangun dengan benar.

Pelajaran penting dari 2018 adalah banyak kerusakan terjadi pada bangunan yang tidak memenuhi prinsip tahan gempa. Maka mitigasi gempa harus masuk ke jantung kebijakan pembangunan.

rumah rakyat, sekolah, puskesmas, kantor layanan publik, pasar, dan tempat ibadah harus memenuhi standar aman. Ini bukan urusan teknis semata. Ini urusan keberpihakan. Negara tidak boleh membiarkan rakyat tinggal di rumah yang rapuh.

Tetapi mitigasi gempa juga bukan hanya soal beton dan besi. Mitigasi gempa adalah soal struktur kesadaran. Simulasi evakuasi, pelatihan kebencanaan, pendidikan risiko di sekolah, dan penguatan komunitas siaga harus menjadi kebiasaan, bukan seremoni. Masyarakat harus paham apa yang dilakukan saat guncangan terjadi: melindungi diri, mengevakuasi keluarga, dan bergerak cepat tanpa panik.

Dalam catatan lapangan, kita melihat bahwa kesiapsiagaan paling efektif adalah yang lahir dari kedekatan dengan realitas warga. Karena itu, Gubernur Miq Iqbal mendorong mitigasi sebagai budaya: melibatkan sekolah, desa, tokoh agama, pemuda, relawan, hingga dunia usaha. Dalam jam-jam pertama bencana, “responder” paling cepat bukanlah pemerintah, melainkan warga itu sendiri.

Masalah Terbesar: Bukan Kekurangan Program, Tapi Kekurangan Integrasi

NTB sebenarnya tidak miskin inisiatif. Program ada. Kegiatan ada. Rapat ada. Namun, tantangan besarb kita sering berada pada satu kata: integrasi. Bencana tidak datang sektoral. Tetapi respons dan mitigasi kita masih sering berjalan sektoral.

Rehabilitasi hutan berjalan sendiri. Tata ruang berjalan sendiri. Infrastruktur jalan dan jembatan berjalan sendiri. Pendidikan kebencanaan berjalan sendiri. Sistem peringatan dini berjalan sendiri. Padahal semua ini seharusnya satu orkestrasi.

Kerusakan hutan memperparah banjir. Banjir merusak jalan. Jalan rusak menghambat evakuasi. Evakuasi terlambat meningkatkan korban. Korban meningkat memperbesar beban sosial dan fiskal. Beban fiskal naik m
engurangi ruang pembangunan, layanan publik terganggu, ekonomi rakyat terpukul, lalu kemiskinan meningkat dan kemiskinan adalah bahan bakar kerentanan berikutnya. Siklus ini berulang.

Karena itu, arah yang ditegaskan Gubernur Miq Iqbal menjadi penting: kebencanaan harus menjadi bahasa bersama pembangunan NTB. Setiap perangkat daerah harus memasukkan perspektif resiko. Setiap kabupaten/kota harus disambungkan dalam koordinasi yang nyata, bukan administratif. Setiap proyek fisik harus melewati pertimbangan mitigasi. Dan setiap data bencana harus menjadi dasar kebijakan, bukan sekedar arsip.

Mitigasi Itu Lebih Murah dari Pemulihan: Ini Soal Akal Sehat Fiskal

Ada yang masih menganggap mitigasi itu mahal. Ini logika yang keliru. Yang mahal adalah kerusakan berulang. Yang mahal adalah pemulihan yang tak selesai-selesai. Yang mahal adalah ketika APBD tersedot untuk memperbaiki hal yang sama setiap tahun.

Jalan yang dibangun tanpa memperhitungkan drainase akan rusak lagi saat hujan ekstrem. Permukiman yang tumbuh di sempadan sungai akan tergenang lagi saat debit naik. Rumah yang tidak tahan gempa akan runtuh lagi saat guncangan datang. Sekolah yang rapuh akan menambah trauma anak-anak.

Mitigasi adalah investasi fiskal jangka panjang: mengurangi biaya pemulihan, menjaga kesinambungan layanan publik, dan melindungi ekonomi rakyat. Di sinilah mitigasi disebut investasi peradaban: ia menyelamatkan anggaran, sekaligus menyelamatkan martabat manusia.

Teknologi dan Partisipasi: Peringatan Dini Harus Sampai ke Warga

Era digital memberi peluang besar untuk memperkuat mitigasi: sensor, IoT, drone pemantau kawasan rawan, sistem informasi kebencanaan, hingga komunikasi risiko berbasis platform digital dan bahkan mitigasi dalam bentuk kearifan lokal. Namun teknologi tidak boleh berhenti di dashboard. Peringatan dini harus benar-benar sampai ke warga dan mudah dipahami.
Karena itu, mitigasi yang perlu dibangun bukan sekedar teknologi, tetapi teknologi yang bertemu komunitas: sistem peringatan dini yang hidup, partisipatif, dan responsif. Data bertemu kearifan lokal. Kebijakan bertemu realitas lapangan.

Selain itu, NTB memerlukan penguatan riset dan evaluasi: analisis efektivitas biaya berbagai strategi mitigasi, evaluasi rehabilitasi hutan berbasis masyarakat, pengembangan sistem mitigasi terintegrasi gempa-tsunami, serta pemetaan mikrozonasi yang presisi untuk mendukung tata ruang. Kerja mitigasi tidak bisa sekadar meniru daerah lain. NTB harus membangun modelnya sendiri: berbasis karakter geologi, iklim, sosial budaya, dan kapasitas fiskal.

Penutup: Ukuran Peradaban Ada pada Keselamatan Rakyat

Bencana mungkin tidak bisa kita hentikan. Tetapi korban dan kerugian bisa kita kurangi. Dan di situlah ukuran kemajuan sebuah daerah: bukan pada seberapa cepat ia membangun, tetapi pada seberapa bijak ia melindungi.

Mitigasi multi bencana sebagai investasi peradaban berarti keselamatan rakyat menjadi fondasi pembangunan. Ekologi dipulihkan sebagai infrastruktur keselamatan. Bangunan aman ditegakkan sebagai standar negara. Kesiapsiagaan dijadikan budaya. Koordinasi lintas sektor dipadatkan menjadi sistem. Data dijadikan kompas kebijakan.

Jika NTB ingin benar-benar “makmur mendunia”, maka mitigasi tidak boleh menjadi agenda pelengkap. Ia harus menjadi agenda inti. Sebab peradaban bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi juga soal kemampuan melindungi warganya dari resiko yang berulang.

Dan ketika NTB memilih mitigasi sebagai jalan utama, kita sedang menulis warisan terbaik untuk generasi mendatang: NTB yang tangguh dan beradab. ( sr/dkintb)

Penanganan Masalah Kesehatan Sistem Laser Tingkat Rendah, Kini Sudah Ada di RS Elim Rantepao

0

TORAJA UTARA – Dalam menangani masalah kesehatan, kini Rumah Sakit Elim Rantepao semakin meningkatkan pelayanan dengan meningkatkan sistem peralatan teknologi hingga dokter spesialis, Rabu (28/1/2026).

Hal ini makin dibuktikan dengan dihadirkannya alat therapy sistem laser yang dikenal dengan sebutan Low Level Laser Therapy (LLLT).

LLLT ini merupakan salah satu alat medik dengan teknologi modern sistem laser tingkat rendah yang menggunakan cahaya merah/inframerah untuk menstimulasi perbaikan sel, mengurangi nyeri, dan meredakan peradangan.

Saat dikonfirmasi via WhatsApp, Yulita Timang selaku admin RS Elim Rantepao menyebutkan jika alat therapy menggunakan laser rendah tersebut merupakan alat baru di RS Elim Rantepao dan baru difungsikan.

“Ya, ini alat baru di RS Elim Rantepao dimana penggunaan teknis laser therapy ini untuk penanganan masalah seperti Osteoarthritis , Ankle Sprain, Carpal tunnel Syndrome, Bells Palsy, Facet Joint Syndrome dan lain sebagainya,” sebut Yulita.

Sementara untuk menggunakan alat tersebut kata Yulita Timang, ditangani langsung oleh dr.Jeanie Dewi Wangsa, Sp.KFR (dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi medik).

“Alat sudah difungsikan di RS Elim yang ditangani langsung oleh dr.Jeanie Dewi Wangsa, Sp.KFR (dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi medik). Dimana pelayanan dari pukul 08:00 sampai 15:00 Wita untuk setiap hari Senin sampai Jumat dan untuk hari Sabtu dari pukul 08:00 sampai 13:00 Wita,” sebut Yulita Timang.

Untuk diketahui bahwa fungsi utama dari Low Level Laser Therapy dalam penanganan kesehatan antara lain untuk mengurangi nyeri dan peradangan, mempercepat penyembuhan luka operasi, luka bakar, dan luka tekan (ulkus) dengan menstimulasi regenerasi jaringan.

Juga difungsikan untuk Regenerasi Sel (Biostimulasi), untuk perawatan kulit (Fotorejuvenasi) seperti mengurangi kerutan, mengatasi jerawat, dan memperbaiki kulit yang menua, serta untuk membantu pemulihan pasca stroke (fungsi saraf) dan mengelola nyeri neuropatik.