26.2 C
Jakarta
Selasa, Mei 26, 2026

Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

Kadiman Pakpahan Mr Dreamer : “MEMBELI KEHORMATAN”

  1. Damosir, warta.in – Pada dasarnya, kehormatan tidak dapat dibeli dengan materi atau uang karena nilai transaksional merusak hakikat kehormatan itu sendiri. Kehormatan (*honor*) bukanlah komoditas komersial, melainkan sesuatu pengakuan moral, integritas, dan martabat individu yang tumbuh dari tindakan nyata dan kebajikan.
    Perubahan merupakan hukum alam yang bersifat abadi. Waktu merupakan pengadil atas berbagai perubahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.
    Seiring dengan berjalannya waktu, pernak pernik dan gelombang pasang surutnya kehidupan menjadi penghias sejati.                         Arah dan tujuan dalam kehidupan umat manusia sungguh beraneka ragam.
    Di dalam mencapai suatu rasa nikmat dan kebahagiaan, umat manusia dapat menggapainya dengan berbagai cara tanpa mengusik para tetangga. Namun, tidak dapat dipungkiri, selalu ada saja yang memiliki gaya yang tidak dapat diyakini dan diterima para tetangga. Pemaksaan kehendak dan keyakinan, terkadang tidak dapat dihindari dalam kehidupan bermasyarakat. Pembenaran sering menjadi jargon pamungkas bagi sebagian orang.
    Adanya perbedaan yang sangat tajam ditengah tengah bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tidak terlepas dari  tingkat kemajuan dari PERADABAN anak-anak bangsa itu sendiri.
    Dengan berbagai dalih, terkadang, ada saja dari anak-anak bangsa mau menghalalkan segala cara demi suatu KEHORMATAN (tidak sebangun dengan hasangapon). Harta dunia dan jabatan menjadi lipstik yang sering diperalat demi suatu kehormatan, bagaikan hero dan superior ditengah tengah kaum inferior dan kaum marginal.  Akhir-akhir ini, sering terjadi pemaksaan kehendak atas dasar pembenaran yang dikemas dengan cara-cara tidak terhormat, menjadi suatu pertunjukan yang sering kita saksikan, baik itu yang bersifat informal maupun formal.
    Tidak jarang pula, bungkus dan kemasan menjadi bagian dari pembenaran demi suatu kehormatan. Sebaiknya, bingkai  kehormatan menjauhkan diri dari cermin yang retak agar penampakannya utuh dan menggambarkan yang sebenarnya.
    Kita sadar bahwa setiap umat manusia memiliki keberuntungan, walau bentuk, waktu dan penafsirannya beraneka ragam. Ada yang merasa beruntung dalam hidupnya karena memliki harta yang berlimpah, tapi tidak jarang juga ada yang merasa beruntung karena hidupnya dapat bersuka cita walau hanya sekedar makan minum ala kadarnya, dan lain sebagainya.
    Sejatinya, kehormatan yang sesungguhnya ada pada umat manusia mana kala sanggup mengedepankan nilai-nilai harkat dan martabat serta harga diri di atas godaan yang mengingkari panggilan hati nurani dan akal sehat.
    Seseorang bisa membeli posisi, gelar, kekuasaan, atau kepatuhan orang lain menggunakan uang.
    Namun, kepatuhan yang dibeli hanyalah kepura-puraan (*pseudo-respect*). Rasa hormat yang sejati (*authentic respect*) lahir dari sukarela dan pengakuan orang lain terhadap kebajikan seseorang, bukan karena ketergantungan ekonomi.
    Membeli kehormatan ibarat membeli bayangan, kita bisa memiliki objek tiruannya secara visual, namun kehilangan substansi esensial di dalamnya. Kehormatan sejati didapatkan dari cara hidup yang terjaga dimana terkelola dengan baik dan benar, bukan dari jumlah kekayaan yang dibelanjakan, ungkap Kadiman Pakpahan Mr Dreamer (red)

Berita Terkait