Samosir, Mr Dreamer Kadiman Pakpahan menuangkan pikirannya tentang Pemimpin Bermental Jongos. Penggunaan istilah “mental jongos” merujuk pada kondisi psikologis dimana seseorang merasa rendah diri, tidak memiliki inisiatif, kurang inovatif, menghamba berlebihan, dan hanya bergerak jika diperintah (subservien). Kondisi seperti ini jika dihadapkan dengan rakyat bermental kuli, apa yang akan terjadi?
Bagaimana kondisi tersebut jika terjadi dalam suatu negara atau organisasi, berikut adalah beberapa dampak utamanya:
1.Hilangnya Inovasi dan Kreativitas, pemimpin bermental jongos biasanya hanya ingin menyenangkan “atasan” atau kepentingan tertentu, bukan melayani publik. Akibatnya, rakyat yang kurang berdaya (bermental kuli) hanya akan menunggu instruksi tanpa berani memberikan ide atau kritik membangun.
2.Ketergantungan pada Pihak Luar, karena tidak memiliki rasa percaya diri untuk mandiri, kebijakan yang diambil cenderung lebih menguntungkan pihak asing atau kelompok elit. Negara jadi sulit untuk berdaulat secara ekonomi maupun politik.
3.Budaya Absal (Asal Bapak Senang), terbentuk lingkaran setan di mana pemimpin mencari validasi dari kekuasaan yang lebih tinggi, sementara rakyatnya hanya patuh secara buta demi keamanan jangka pendek atau sekadar bertahan hidup.
4.Stagnasi Kemajuan, pembangunan hanya terjadi di permukaan (simbolis) tanpa menyentuh akar permasalahan, karena tidak ada visi besar yang dikejar. Semuanya hanya soal menjalankan rutinitas dan perintah.
5.Rendahnya Daya Saing, tanpa jiwa kepemimpinan yang kuat dan etos kerja yang cerdas (bukan sekadar kerja otot), bangsa tersebut akan terus tertinggal dalam persaingan global yang dinamis.
Singkatnya, kombinasi mental jongos dan mental kuli akan menciptakan siklus inferioritas yang membuat suatu bangsa sulit untuk berdiri tegak.
Meskipun keduanya sama-sama menggambarkan sikap subservien (tunduk/menghamba), ada perbedaan halus pada posisi dan fokus perilakunya, sebagai berikut
1.Mental Jongos, fokus pada penjilatan dan pengabdian semu, mental ini biasanya dikaitkan dengan seseorang yang berada di posisi “pelayan” namun memiliki akses ke kekuasaan.
a.Karakter Utama, ingin selalu menyenangkan atasan atau pihak yang lebih kuat demi keuntungan pribadi atau keamanan posisi.
b.Ciri Perilaku, bersikap ABS (Asal Bapak Senang), kehilangan harga diri demi validasi, dan cenderung menjadi “bumper” atau alat bagi kepentingan tuannya.
c.Aspek Psikologis, tidak punya prinsip atau integritas; mereka berani menindas yang di bawahnya asal terlihat patuh di mata yang di atasnya.
2.Mental Kuli, fokus pada kepasifan dan ketidakmandirian, mental ini lebih merujuk pada etos kerja dan daya juang seseorang yang merasa dirinya hanya “penerima perintah”.
a.Karakter Utama, hanya bergerak jika disuruh, tidak punya inisiatif, dan membatasi diri pada tugas fisik tanpa menggunakan kreativitas.
b.Ciri Perilaku, pasif, takut mengambil risiko, dan merasa bahwa nasibnya sepenuhnya ditentukan oleh orang lain. Mereka bekerja hanya untuk bertahan hidup hari ini tanpa visi jangka panjang.
c.Aspek Psikologis, merasa inferior (rendah diri) dan percaya bahwa mereka memang tidak ditakdirkan untuk memimpin atau membuat perubahan besar.
Sehinga secara sederhana perbandingannya afalah:
1.Jongos lebih ke arah bagaimana dia bersikap kepada otoritas (penjilat/hamba).
2.Kuli lebih ke arah bagaimana dia bekerja dan memandang kapasitas dirinya (pasif/tanpa inisiatif).
Pada akhirnya, jika disatukan, mental jongos menciptakan pemimpin yang tidak punya kedaulatan, sementara mental kuli menciptakan rakyat yang mudah disetir.
Dampak dari mentalitas jongos (subservien/penjilat) dan kuli (pasif/tanpa inisiatif) sangat fatal bagi kemajuan bangsa karena menciptakan hambatan struktural yang menghalangi kedaulatan dan inovasi.
Berikut adalah dampak mendalamnya terhadap berbagai sektor kehidupan berbangsa:
1.Kematian Inovasi dan Kreativitas, bangsa yang rakyatnya bermental kuli hanya akan menjadi pelaksana tugas tanpa kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Inovasi membutuhkan keberanian untuk mengambil risiko dan berpikir kritis, sementara mentalitas ini justru menekankan pada kepatuhan buta dan ketakutan akan kesalahan.
2.Ketergantungan dan Kehilangan Kedaulatan, pemimpin bermental jongos cenderung membuat kebijakan yang tidak berdaulat karena selalu berusaha menyenangkan kekuatan luar atau kelompok elit tertentu. Dampaknya:
a.Eksploitasi Sumber Daya, kebijakan sering kali bersifat ekstraktif yang hanya menguntungkan pihak asing, mirip dengan pola ekonomi zaman kolonial.
b.Kelemahan Diplomasi, negara sulit memiliki posisi tawar yang kuat dalam kancah internasional karena pemimpinnya merasa inferior terhadap bangsa lain.
3.Rendahnya Daya Saing Global, daya saing sebuah bangsa sangat bergantung pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki karakter unggul dan wawasan global. Dapat terjadi hal berikut:
a.Mental Kuli, menghasilkan tenaga kerja yang hanya bisa bersaing di level pekerjaan rendah (buruh kasar) dengan upah murah.
b.Mental Jongos, menghambat sistem meritokrasi (penghargaan berdasarkan prestasi) karena jabatan sering kali didapat melalui “penjilatan” daripada kompetensi.
4.Siklus Kemiskinan dan Ketimpangan, mentalitas ini melanggengkan struktur sosial yang timpang. Rakyat yang pasif tidak akan menuntut hak atau melakukan mobilitas sosial, sementara elit yang menghamba pada kepentingan tertentu akan terus memperkaya kelompoknya sendiri.
5.Krisis Identitas dan Kebanggaan Nasional, mentalitas inferioritas membuat masyarakat merasa malu dengan budaya asli dan lebih mengagungkan budaya luar secara berlebihan. Tanpa kebanggaan nasional yang kuat, sulit bagi suatu bangsa untuk memiliki visi bersama yang besar guna mencapai kemajuan jangka panjang.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, bangsa tersebut akan tetap menjadi bangsa kelas dua yang hanya menjadi penonton di tengah kemajuan dunia.
Berikut adalah beberapa kiat strategis untuk mereformasi mental jongos dan kuli:
1.Transformasi Pendidikan (dari kepatuhan ke kritis), pendidikan harus berhenti mencetak “operator” dan mulai mencetak “pemikir”. Ada beberapa hal yabg perlu menjadi pusat perhatian, seperti:
a.Hapus Budaya Hafalan, ganti dengan metode problem-based learning yang menuntut siswa mencari solusi sendiri, bukan sekadar menunggu instruksi guru.
b.Ajarkan Berdebat, melatih anak muda untuk berani menyampaikan pendapat dan mengkritik ide secara sehat, agar mereka tidak tumbuh menjadi orang yang hanya bisa mengatakan “iya” kepada otoritas.
2.Penerapan Meritokrasi yang Ketat, untuk menghancurkan mentalitas jongos (penjilat), sistem penghargaan dalam organisasi dan pemerintahan harus diubah:
a.Promosi Berbasis Kinerja, jabatan harus diberikan berdasarkan kompetensi dan hasil kerja nyata, bukan karena kedekatan personal atau kemampuan menyenangkan atasan.
b Transparansi Sistem, jika proses kenaikan pangkat transparan, keinginan orang untuk “menjilat” demi posisi akan hilang dengan sendirinya.
3.Menumbuhkan Jiwa Entrepreneurship (Kemandirian), mentalitas kuli muncul karena ketergantungan ekonomi. Langkah-langkah berikut perlu dilakukan:
a.Literasi Finansial dan Bisnis, mengajarkan masyarakat untuk menciptakan peluang sendiri daripada hanya mencari lowongan pekerjaan.
b.Dukungan pada UMKM, memberdayakan usaha lokal agar masyarakat merasa memiliki kendali atas nasib ekonominya sendiri, bukan sekadar menjadi sekrup kecil dalam mesin industri besar.
4.Kepemimpinan yang Meneladani (Lead by Example), reformasi mental sulit berhasil tanpa contoh dari atas. Perlu memperhatikan hal berukut:
a.Pemimpin yang Melayani:, bangsa butuh pemimpin yang tidak merasa sebagai “tuan”, tetapi sebagai pelayan rakyat.
b Keberanian Berdaulat, pemimpin harus menunjukkan sikap tegas di level internasional untuk membangun rasa bangga (dignity) pada rakyatnya.
5.Rekonstruksi Narasi Budaya, kita perlu mengubah cara kita melihat diri sendiri sebagai bangsa. Untuk itu dibuhkan:
a.Narasi Prestasi, tonjolkan pahlawan-pahlawan di bidang sains, teknologi, dan seni yang sejajar dengan level dunia untuk menghapus perasaan bahwa “bangsa luar selalu lebih baik”.
b.Penghargaan terhadap Integritas, berikan panggung bagi orang-orang jujur dan kritis, bukan bagi mereka yang hanya pandai mencari muka.
6.Berani Mengambil Tanggung Jawab (Level Individu), ecara personal, setiap orang harus mulai melatih sikap, antara lain:
a.Self-Ownership, berhenti menyalahkan keadaan atau menunggu bantuan, dan mulai mengambil tanggung jawab penuh atas pilihan hidup sendiri.
Reformasi mental ini adalah proyek jangka panjang. Perubahan tidak akan terlihat dalam satu atau dua tahun, melainkan melalui konsistensi selama satu generasi.
Tentu saja, sangat menghambat. Bahkan, banyak pakar sosiologi dan sejarah menyebut kombinasi kedua mentalitas ini sebagai “penjara tak terlihat” yang membuat suatu bangsa tetap jalan di tempat meskipun sumber daya alamnya melimpah (kutukan sumberdaya), perlu investasi sejak dini untuk mencerdaskan anak-anak bangsa (gizi yang memadai dan sistem pendidikan yang bermutu). (red)


