Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

Tingkatkan Ekonomi Desa Padurenan, Tim Pengabdi Unpam Modernisasi Produksi Enye-Enye Berbasis Perempuan

GUNUNG SINDUR, BOGOR — Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Pamulang (Unpam) mendampingi Forum UMKM-IKM Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, melalui modernisasi teknologi pengolahan serta tata kelola usaha kuliner tradisional Enye-Enye. Program ini berhasil mendongkrak efisiensi produksi dan daya saing pasar olahan singkong lokal secara drastis.

Usaha mikro olahan pangan tradisional seperti Enye-Enye di Desa Padurenan, Gunung Sindur, selama ini didominasi oleh kelompok ibu rumah tangga. Meski memiliki potensi ekonomi tinggi, para produsen menghadapi hambatan besar pada aspek efisiensi. Pemarutan singkong secara manual serta pengemasan sederhana menggunakan plastik biasa membuat kapasitas produksi harian terbatas di angka 5–8 kg dan produk hanya mampu bertahan 3 hari.

Melihat tantangan tersebut, tim pengabdi Unpam yang dipimpin oleh Anggada Bayu Seta meluncurkan program intervensi berbasis integrasi teknologi dan manajemen resiliensi SDM. Langkah ini direalisasikan melalui hibah alat Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa mesin parut singkong otomatis berkapasitas tinggi serta mesin pengemas otomatis continuous band sealer dengan sistem injeksi gas/kedap udara.

“Kami fokus memberikan solusi dari hulu ke hilir. Dengan mekanisasi pemarutan, kapasitas produksi harian meningkat hingga 25–30 kg per hari. Sementara penggunaan kemasan standing pouch kedap udara mampu memperpanjang masa simpan produk dari 3 hari menjadi 3 hingga 6 bulan tanpa mengubah cita rasa,” ujar Ketua Tim Pengabdi Unpam, Anggada Bayu Seta.

Selain modernisasi mesin produksi, tim Unpam yang terdiri dari lintas disiplin ilmu (Manajemen dan Teknik Elektro) beserta mahasiswa pendamping juga memberikan pelatihan pembukuan keuangan digital, penyusunan Standard Operating Procedure (SOP), serta strategi branding visual.

Ketua Forum UMKM-IKM Gunung Sindur, Nurul Qamila, menyambut baik intervensi ini. Ia mengungkapkan bahwa sentuhan teknologi dan pelatihan manajemen memberikan kepercayaan diri baru bagi kelompok ibu-ibu pengrajin.

“Selama ini kami terkendala proses fisik yang melelahkan dan produk yang cepat basi jika dikirim ke luar daerah. Adanya bantuan mesin dan kemasan baru ini membuat produk Enye-Enye kami siap menembus pasar ritel modern dan marketplace digital,” ungkap Nurul.

Melalui alih teknologi dan penguatan kapasitas SDM perempuan ini, tingkat keberdayaan dan efisiensi manajemen kelompok meningkat drastis hingga 75%. Kegiatan ini juga sejalan dengan komitmen pembangunan ekonomi akar rumput (Asta Cita) serta pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) terkait Kesetaraan Gender dan Pekerjaan Layak.

Berita Terkait