30.8 C
Jakarta
Jumat, Mei 8, 2026

Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

TP PKK NTB Targetkan Hasil Nyata Program Desa Berdaya di Desa Sakra dalam 6 Bulan

 

Warta.in

Lombok Timur, NTB – Tim Penggerak PKK Provinsi NTB mulai mengambil peran lebih konkret dalam agenda pengentasan kemiskinan dari tingkat desa. Desa Sakra, Kecamatan Sakra, Lombok Timur, dipilih sebagai pilot project “Desa Berdaya” yang tidak hanya berfokus pada pembangunan ekonomi, tetapi juga menyasar akar persoalan sosial seperti stunting dan pernikahan anak.

Langkah itu mengemuka dalam Diskusi Awal Penentuan Desa Dampingan TP PKK Provinsi NTB bersama Pemerintah Desa Sakra, TP PKK Kabupaten Lombok Timur, kecamatan, kader posyandu, hingga tim fasilitator Desa Berdaya.

Ketua TP PKK Provinsi NTB, Sinta Agathia menegaskan, program ini lahir dari keinginan PKK untuk tidak lagi hanya hadir sebagai organisasi pendamping seremonial, tetapi menjadi bagian dari solusi nyata persoalan masyarakat.

“Kami ingin PKK terlibat langsung dalam program utama pengentasan kemiskinan melalui Desa Berdaya. Pertanyaannya sekarang, seberapa besar kekuatan PKK NTB ini dan apa yang harus kami lakukan agar benar-benar berdampak,” ujar Sinta.

Ia mengatakan, TP PKK NTB sengaja memilih dua desa dampingan di Lombok Timur dan Lombok Barat karena dinilai merepresentasikan berbagai persoalan sekaligus potensi yang dimiliki NTB. Khusus Lombok Timur, tingginya jumlah penduduk membuat berbagai tantangan sosial muncul secara kompleks.

“Kenapa Lombok Timur? Karena semua ada di sini, termasuk persoalannya. Angkanya tinggi karena jumlah penduduknya besar. Maka kami ingin hadir membantu pemerintah daerah,” katanya.

Dari hasil pemetaan data, TP PKK NTB memutuskan fokus pada dua isu utama, yakni penurunan angka stunting dan pencegahan pernikahan anak. Menurut Sinta, dua persoalan tersebut sangat menentukan kualitas generasi dan berhubungan langsung dengan kemiskinan.

Ia mengungkapkan, angka stunting di Desa Sakra saat ini telah turun menjadi 17 persen dari sebelumnya 25 persen. Namun ia mengingatkan, perhatian tidak boleh hanya tertuju pada anak yang sudah mengalami stunting, melainkan juga calon stunting yang rentan muncul sewaktu-waktu.

“Kadang kita terlalu fokus pada stunting, tapi lupa menjaga calon stunting. Kalau tidak diantisipasi, persoalan ini bisa kembali besar,” tegasnya.

Sinta juga menyoroti lemahnya monitoring sebagai salah satu tantangan utama berbagai program pemberdayaan selama ini. Karena itu, ia meminta seluruh elemen yang terlibat menjaga semangat dan kesamaan visi agar program tidak berhenti di tengah jalan.

“Kita punya kelemahan di monitoring. Semangat harus dijaga, satu pemahaman harus dijaga. Semua harus bergerak dengan arah yang sama,” katanya.

Berbeda dari pendekatan top down, TP PKK NTB justru meminta arahan langsung dari masyarakat dan pendamping desa terkait kebutuhan paling mendesak agar bantuan yang diberikan tepat sasaran dan tidak tumpang tindih dengan program lembaga lain.

“Bukan kami yang memberi arahan, tapi kami yang ingin diarahkan. Bantuan seperti apa yang benar-benar dibutuhkan masyarakat supaya program ini efektif,” ujarnya.

Ketua TP PKK Kabupaten Lombok Timur, Hj. Hartini mengatakan Desa Sakra dipilih sebagai pilot project karena memenuhi tiga komponen utama Desa Berdaya, yakni sektor pariwisata, UMKM, dan ketahanan pangan.

Menurutnya, kekuatan ekonomi Desa Sakra sesungguhnya sudah terbentuk dari aktivitas masyarakat sehari-hari, termasuk produksi tembrodok yang dilakukan hampir di setiap rumah tangga.

“Desa Berdaya adalah desa yang ekonominya digerakkan masyarakat sendiri. Di Sakra, hampir setiap rumah memproduksi tembrodok dan itu sebenarnya sudah menjadi kekuatan ekonomi desa,” ujarnya.

Ia menambahkan, peran pemerintah provinsi nantinya akan diperkuat melalui pembinaan produk agar usaha masyarakat tidak berjalan seragam dan mampu berkembang lebih kompetitif.

“Provinsi akan membantu pembinaan agar produk masyarakat lebih beragam dan punya nilai tambah,” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Sakra, M. Zainuddin mengungkapkan tingginya jumlah kepala keluarga perempuan menjadi salah satu perhatian utama pemerintah desa. Dari sekitar 4.965 kepala keluarga di Desa Sakra, lebih dari 500 di antaranya merupakan perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga.

Menurutnya, kondisi itu membuat program pemberdayaan ekonomi keluarga menjadi sangat penting untuk diperkuat.

“Kami berharap program ini bisa membantu keluarga-keluarga perempuan di Sakra, termasuk lewat penyediaan bahan baku dan kegiatan ekonomi skala keluarga,” ujarnya.

TP PKK NTB menargetkan dampak awal program pendampingan Desa Berdaya mulai terlihat dalam enam bulan ke depan, melalui penguatan kesehatan keluarga, pemberdayaan perempuan, literasi, hingga pengembangan ekonomi rumah tangga berbasis potensi desa. (sr/dkisntb)

 

Berita Terkait