Sastra, HISKI, dan “Masa Depan” (Manusia) Indonesia. HISKI ditulis di tengah diharapkan bisa memediasi antara sastra dan masa depan (manusia) Indonesia?
Kenapa tidak masa depan sastra? HISKI, Indonesia, dan masa depan sastra. Kenapa tidak masa depan HISKI? Sastra, Indonesia, dan Masa depan HISKI.
Saya membayangkan, kerja sastra dan HISKI adalah sedang mempertaruhkan kondisi dan situasi manusia Indonesia, dulu -kini-, dan ke depan. HISKI sebagai ruang kerja dan pengabdian, sastra sebagai cara, alat, dan media.
Kita tahu, Desember 2025 ini, HISKI sudah berusia 41 tahun lebih beberapa hari. Untuk ukuran organisasi profesi sarjana sastra, HISKI telah berusia panjang. Dalam rentang 40-an tahun, dunia telah sangat berubah.
Masyarakat Indonesia berubah, politik dan ekonomi berubah, teknologi berubah, berbagai orientasi berubah. Kondisi tahun 1970-an, telah berbeda jauh dibanding situasi tahun 2020-an. Kini, generasi baru bermunculan dengan kebiasaan yang baru, dengan cara kerja yang lebih komputasional dan digitalis.
Yang terlibat di HISKI terlihat lebih banyak dari generasi yang lebih kemudian. Perkembangan ilmu dan teknologi, menuntut HISKI harus serba cepat, sat-set, dan berdampak. Hal itu butuh energi, niat, dan kemauan yang besar.
Pilar dan poros dari suatu organisasi agar bisa bertahan dan berkembang adalah perencanaan program, realiasi kegiatan, dan target output dan outcome. Itu pun harus beradaptasi dengan berbagai perubahan tersebut.
Akan tetapi, lebih daripada itu, ada yang mengawal secara teknis semua rencana dan berbagai program tersebut. Bagaimana kiprah HISKI dalam arena sastra dan arena sosial di Indonesia?
Tentu HISKI mengalami pasang surut. Tapi, bukti kiprah HISKI seharusnya bisa dilacak dari dokumen, arsip, dan semua laporan yang seharusnya tersedia.
Beberapa komunitas sastra, yang belum berumur sepanjang HISKI, sudah ada tesis dan disertasi yang menggarap relasi komunitas sastra dan sastra Indonesia.
Dengan demikian, ke depan, harus ada yang mendorong dan mengondisikan bagaimana kiprah HISKI dalam arena sastra dan arena sosial di Indonesia untuk digarap sebagai skripsi, tesis, bahkan disertasi.
Ketika HISKI didirikan pada November 1984 dan beberapa waktu setelahnya, beberapa tokoh dan akademisi sastra pernah beken pada masanya. Tapi, tahun 1984 dan hingga masa-masa sepanjang 1990an, tidak bisa dinilai sama dengan 2000an, apalagi dekade 2020-an.
Pada awal pendirian HISKI, tokoh yang terlibat bergelar Dr, apalagi Profesor, sangat sedikit, bahkan bisa dihitung dengan jari. Posisi sosial para tokoh tersebut sangat berharga dan menjadi tumpuan organisasi. Karya-karya para tokoh sastra cukup dikenal pada masanya.
Tapi, generasi baru pembelajar sastra Indonesia sudah mulai banyak yang tidak mengenalinya lagi. Hal ini disebabkan buku-buku sastra yang baru dan jauh lebih keren, karena menawarkan teori dan perspektif baru, terus bermunculan. Di samping itu, buku-buku baru tersebut secara relatif lebih mudah didapatkan.
Beberapa tahun belakangan, teman-teman HISKI yang bergelar Doktor dan Profesor sudah banyak. Kualitas SDM HISKI telah jauh meningkat. Sebagian dari mereka juga menulis kajian-kajian sastra.
Kewajiban dosen dan peneliti dulu dan sekarang sangat berbeda. Dulu, dosen, pendidik sastra, atau peneliti, berbagai kewajibannya tidak banyak dan bahkan tidak ada mekanisme yang bisa memantau dengan ketat. Sekarang, hampir semua kegiatan dosen, pendidik, dan peneliti terpantau secara digital.
Dalam perjalanan HISKI, ada pula masa-masa ketika HISKI “terlihat personal” dalam orientasi kegiatan yang tidak bersistem, dan tidak terdokumentasi dengan baik. Karena beraroma “personal”, produksi HISKI, baik kegiatan, juga berupa output dan outcome seperti buku, sangat sulit untuk dihargai.
Dalam rentang dua tahun ini, Ketua Umum HISKI ada di bawah kepemimpinan Prof. Novi Anoegrajekti. Dengan demikian, Ketum HISKI yang baru harus bekerja lebih keras dan secara cepat menyesuaikan tuntuan zaman.
Belakangan, banyak kegiatan sastra dan produksi literatur (buku) yang penting, mulai dari sastra pariwisata, sastra rempah, sastra maritim, sastra horor, humaniora digital, sastra PAT, sastra wayang, yang semuanya buku-buku tebal karena akumulasi atau kumpulan tulisan anggota keluarga HISKI. HISKI juga sedang mempersiapkan berbagai kumpulan tulisan yang segera diterbitkan pada tahun 2026.
Berbagai buku yang diterbitkan atas nama HISKI melalui berbagai tahap perencanaan yang diumumkan secara terbuka, diseleksi, dikurasi dan didiskusikan secara intensif. Ada pertanyaan, apakah jumlah kuantitatif yang dianggap cukup banyak tersebut berjalan beriringan dengan kualitas? Ya diuji saja. Kalau perlu diuji secara terbuka daripada cuma diprasangkai.
Dua tahun belakangan, kinerja HISKI terus dievaluasi secara transparan. Semua kegiatan dilaporkan dan terlaporkan. Kegiatan penting seperti KIK, selalu dievaluasi peran dan kontribusinya. Akan terus diperbaiki hingga menemukan format dan bentuk kegiatan yang paling mangkus dan sangkil.
Tampaknya pengurus pusat sedang mempersiapkan semacam buku pertanggungjawaban dua tahun kegiatan HISKI. Mudah-mudahan buku pertanggungjawaban tersebut bisa memperlihankan kontribusi HISKI terhadap sastra, dan tentu saja terutama bagi bangsa Indonesia.
Tapi, kembali pada kenyataan, bahwa semua kegiatan harus ada yang mengawal dengan tertib, mengevaluasi dengan cermat, dan mengkaji dengan bijak soal apakah berbagai bentuk aktivitas HISKI bisa dinilai berdampak atau masih belum begitu berdampak.
Berdampak secara internal bagi semua anggota keluarga HISKI, juga berdampak secara eksternal, kepada bangsa dan masyarakat. Berdampak internal bagi sastra dan subjek sastra yang terlibat. Berdampak eksternal terkait dengan kajian dan pemikiran tentang pariwisata, jejak rempah, kemaritiman, humaniora digital, wayang, dan horor-horor.
Pergulatan HISKI dengan sastra pariwisata, rempah, kemaritiman, humaniora digital, wayang, dan politik horor diharapkan memberi manfaat bagi masyarakat dan manusia Indoneia.
Eksplorasi HISKI tentang kontribusi A.A.Navis (2024), Pramoedya Ananta Toer (2025), dan Asrul Sani (untuk tahun 2026) diharapan memberikan faedah tertentu bagi bangsa Indonesia.
Buku humaniora digital jelas buku pertama yang ditulis secara gotong royong tentang humaniora digital. Buku-buku lain segera menyusul dengan kualitas yang, insyaallah, selalu dijaga. Buku sastra wayang, yang diluncurkan pada 30 Januari 2026, saya kira akan menjadi salah satu buku rujukan sastra wayang yang penting di masa datang.
Sepak terjang HISKI tidak bisa dinilai dan dibandingkan dengan situasi pada tahun 1980-an atau 1990-an. Hari-hari ini semua harus berkerja dengan cepat dan akurat. Jumlah peminat dan pengkaji sastra terus meningkat dan membesar. Produk-produk karya sastra terus bermunculan.
Situasi bangsa dan negara Indonesia semakin menuntut kerja-kerja peradaban yang bisa diharapkan berkontribusi terhadap situasi dunia dan Indonesia yang, mohon maat, tampaknya semakin tidak baik-baik saja.
HISKI perlu secara sistematis menyumbangkan gagasan dan pemikiran untuk terlibat dalam persoalan bangsa, negara, masyarakat, dan manusia Indonesia. Manusia Indonesia sebagai warga dunia, sebagai warga semesta.
Bagi-bagi tugas, pekerjaan, dan spesifikasi untuk menangani begitu banyak urusan dan masalah sastra memang diperlukan. HISKI harus selalu siap beradaptasi dan mengantisipasinya.
Yogya, 8 Maret 2026
Oleh Aprinus Salam
(Anggota Pengurus Bidang Organisasi HISKI, Catatan Pribadi)
























