Wartain Banten | Pemerintahan | 18 April 2026 – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten menegaskan komitmennya dalam membuka akses pendidikan inklusif bagi seluruh anak usia sekolah tanpa terkecuali. Gubernur Banten Andra Soni menyatakan bahwa setiap anak memiliki keistimewaan dan potensi yang harus didukung melalui akses pendidikan yang merata.
“Setiap anak adalah istimewa. Saya lihat tadi juga ada di wayang Timun Mas, Joko Kendil, dan Malin Kundang,” tambahnya saat menghadiri Pagelaran Wayang oleh siswa SMA Jaya Plus Montessori dan PKBM Malachi 456 di Hotel VNC Bintaro, Kota Tangerang Selatan, Jumat (17/4/2026).
Dalam kesempatan itu, Andra Soni mengapresiasi semangat para siswa yang tetap kreatif dan produktif meskipun kegiatan belajar dilakukan dengan keterbatasan fasilitas. Ia menilai metode pembelajaran melalui pagelaran wayang yang mengangkat cerita rakyat seperti Timun Mas, Joko Kendil, dan Malin Kundang menjadi bentuk inovasi yang patut diapresiasi.
Menurutnya, sekolah inklusi perlu lebih banyak disosialisasikan kepada masyarakat. Hal ini penting mengingat masih banyak orang tua yang menghadapi kendala dalam mencari sekolah yang sesuai dengan kebutuhan anak.
“Pemprov Banten punya komitmen kuat untuk bisa berkoordinasi dan berkolaborasi untuk memberikan akses kepada seluruh anak-anak kita untuk bisa sekolah,” ujar Andra Soni
Untuk mendukung hal tersebut, Pemprov Banten juga mengoptimalkan peran Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sebagai alternatif pendidikan.
Selain itu, melalui program Sekolah Gratis untuk SMA, SMK, dan SKh swasta, Pemprov Banten telah bekerja sama dengan 801 sekolah yang saat ini diikuti oleh 60.705 siswa, termasuk lebih dari seribu siswa berkebutuhan khusus.
Upaya peningkatan kualitas pendidikan juga terus dilakukan melalui komunikasi intensif antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dengan pihak sekolah.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Jaya Plus Montessori, Anastasia Maria, menyampaikan bahwa sekolahnya tetap menjaga kualitas pendidikan meskipun mengikuti program Sekolah Gratis Pemprov Banten.
Ia juga mengungkapkan berbagai inovasi pembelajaran, salah satunya program magang di kampus selama dua pekan untuk mempersiapkan siswa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
“Kegiatan ini murni mereka yang merancang,” ungkapnya saat menceritakan persiapan para siswa melakukan Pagelaran Wayang
Anastasia menegaskan bahwa keterbatasan fasilitas tidak menghalangi terciptanya pembelajaran yang aktif, dinamis, dan penuh kreativitas, meski sekolah berlokasi di ruko.(WartainBanten)































