Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

Shalat Malam Bukan Sekadar Ibadah Sunnah, tetapi Jalan Membentuk Keteguhan Spiritual dan Akhlak

 Shalat Malam Bukan Sekadar Ibadah Sunnah, tetapi Jalan Membentuk Keteguhan Spiritual dan Akhlak

 

MEDAN ( Warta.In) — Keutamaan shalat malam menjadi salah satu materi utama yang disampaikan Dr. Sulidar, M.Ag. dalam pengajian Muhammadiyah Medan Perjuangan yang dihadiri warga Muhammadiyah, guru, serta staf pengajar di lingkungan Perguruan Muhammadiyah Medan Perjuangan.

Dalam kajiannya, Dr. Sulidar mengajak jamaah tidak memandang shalat malam sekadar sebagai ibadah tambahan yang dilakukan ketika memiliki waktu luang. Menurutnya, shalat malam memiliki kedudukan penting dalam membangun kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT sekaligus membentuk kekuatan spiritual yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menjelaskan, landasan utama shalat malam dapat ditemukan dalam Al-Qur’an, antara lain QS. Al-Isra’ ayat 79, yang memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk melakukan tahajud pada sebagian malam sebagai ibadah tambahan dan mengaitkannya dengan maqaman mahmuda, tempat atau kedudukan yang terpuji. Penjelasan mengenai ayat tersebut juga menjadi bagian dari kajian resmi Muhammadiyah mengenai tahajud.

“Shalat malam harus kita pahami bukan hanya sebagai aktivitas ritual, tetapi sebagai sarana mendidik jiwa agar semakin dekat kepada Allah, semakin kuat menghadapi kehidupan dan semakin baik dalam menjalankan amanah,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam pengajian tersebut.

Al-Qur’an Menempatkan Shalat Malam sebagai Ibadah yang Istimewa

Dalam perspektif Al-Qur’an, shalat malam memiliki dimensi spiritual yang sangat kuat. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra’ ayat 79:

وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَ ۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا

Artinya, pada sebagian malam seseorang diperintahkan melaksanakan tahajud sebagai ibadah tambahan, dengan harapan Allah mengangkatnya kepada kedudukan yang terpuji.

Ayat tersebut menunjukkan bahwa malam memiliki ruang khusus untuk memperkuat hubungan seorang hamba dengan Allah. Ketika aktivitas dunia mulai berhenti dan suasana menjadi lebih tenang, seorang Muslim mengambil kesempatan untuk berdiri menghadap Rabb-nya.

Bagi para pendidik, pesan ini memiliki relevansi yang kuat. Guru bukan hanya dituntut menyampaikan ilmu, tetapi juga menjadi teladan dalam sikap, kedisiplinan, kesabaran dan akhlak.

Keutamaan Menurut As-Sunnah Al-Maqbulah. Dr. Sulidar juga menekankan bahwa keutamaan shalat malam semakin jelas melalui hadis-hadis Nabi Muhammad SAW yang menjadi tuntunan dalam beribadah.

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, terdapat penjelasan bahwa pada malam hari ada satu waktu ketika seorang Muslim memohon kebaikan kepada Allah untuk urusan dunia maupun akhirat, maka Allah memberikan apa yang dimintanya. Penjelasan mengenai hadis ini juga dikutip dalam kajian Muhammadiyah tentang evaluasi diri dalam shalat.

Karena itu, shalat malam tidak hanya menjadi momentum untuk memperbanyak rakaat, tetapi juga kesempatan untuk berdoa, bermunajat, melakukan introspeksi dan memohon pertolongan Allah.

Muhammadiyah sendiri melalui kajian Majelis Tarjih dan Tajdid menempatkan tahajud sebagai salah satu shalat sunnah yang memiliki dasar kuat dari tuntunan Rasulullah SAW.

Sepertiga Malam: Ruang Sunyi untuk Muhasabah

Dalam kajian tarjih Muhammadiyah dijelaskan bahwa shalat tahajud dapat dilaksanakan setelah shalat Isya hingga sebelum Subuh, sementara waktu yang paling utama adalah sepertiga malam terakhir, berdasarkan sejumlah hadis.

Pada waktu tersebut, seorang Muslim berhadapan dengan dirinya sendiri.Tidak ada panggung.Tidak ada penilaian manusia.Tidak ada tuntutan untuk terlihat saleh di hadapan orang lain.Yang ada adalah seorang hamba yang berdiri di hadapan Allah SWT.Di sinilah shalat malam memiliki dimensi pendidikan jiwa yang sangat mendalam.

 

Mendidik Guru untuk Menjadi Teladan

Pengajian yang berlangsung di lingkungan Perguruan Muhammadiyah Medan Perjuangan tersebut juga memiliki relevansi khusus bagi para guru dan tenaga kependidikan.

Guru memiliki tanggung jawab bukan hanya mencerdaskan peserta didik secara intelektual, tetapi juga membentuk karakter.

Karena itu, spiritualitas seorang guru menjadi bagian penting dari proses pendidikan.

Guru yang membangun kedekatan dengan Allah diharapkan memiliki ketenangan dalam menghadapi peserta didik, kesabaran dalam mendidik, keikhlasan dalam menjalankan tugas dan kekuatan moral ketika menghadapi berbagai persoalan pendidikan.

Dalam perspektif Kehidupan Islami Warga Muhammadiyah, warga Muhammadiyah juga dituntut membersihkan jiwa, membangun pribadi muttaqin, melaksanakan ibadah mahdhah dengan sebaik-baiknya serta menghidupkan amal nawafil sesuai tuntunan Rasulullah SAW.

Bukan Banyaknya Rakaat, tetapi Kualitas Penghambaan

Kajian tentang shalat malam juga tidak berhenti pada persoalan jumlah rakaat. Riwayat dari Aisyah RA yang menjadi rujukan Muhammadiyah menjelaskan praktik shalat malam Rasulullah SAW, termasuk riwayat tentang sebelas rakaat.

Yang lebih penting adalah bagaimana shalat tersebut membentuk hubungan manusia dengan Allah.

Shalat malam seharusnya melahirkan pribadi yang lebih rendah hati, lebih sabar, lebih mampu mengendalikan diri dan semakin memiliki kepedulian kepada sesama.

Dengan demikian, indikator keberhasilan shalat malam tidak berhenti ketika seseorang selesai mengucapkan salam, tetapi terlihat dalam perubahan perilakunya setelah kembali menjalani kehidupan.

Shalat malam harus mampu diterjemahkan menjadi energi untuk bekerja, mengajar, mendidik dan melayani.Dari sajadah lahir ketenangan.Dari ketenangan lahir kesabaran.Dari kesabaran lahir keteladanan.Dan dari keteladanan lahir generasi yang berakhlak.

Inilah yang membuat shalat malam memiliki dimensi pendidikan yang sangat luas.

Bagi guru Muhammadiyah, membangun tradisi ibadah malam bukan sekadar meningkatkan kesalehan pribadi, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar membangun ekosistem pendidikan yang berlandaskan iman, ilmu dan akhlak.

Menghidupkan Malam, Menguatkan Gerakan

Pengajian tersebut pada akhirnya menjadi momentum untuk mengajak warga Muhammadiyah Medan Perjuangan kembali menghidupkan malam dengan ibadah.Bukan karena ingin dipuji manusia.Bukan pula sekadar mengejar simbol kesalehan.

Tetapi karena seorang Muslim menyadari bahwa di balik kesibukan kehidupan terdapat kebutuhan yang jauh lebih mendasar: kebutuhan untuk kembali menghadap Allah SWT.

Sebagaimana pesan yang terus ditekankan dalam tradisi keislaman Muhammadiyah, ibadah sunnah hendaknya dihidupkan sesuai tuntunan Rasulullah SAW dan menjadi bagian dari pembentukan pribadi yang saleh, berilmu, berakhlak dan memberikan kemanfaatan bagi sesama.

Pengajian Muhammadiyah Medan Perjuangan pun menjadi ruang penting untuk menguatkan kesadaran tersebut: bahwa membangun pendidikan yang unggul tidak cukup hanya dengan kecerdasan akademik. Ia membutuhkan guru yang kuat secara spiritual, kokoh secara moral dan hidup dalam keteladanan.

Shalat malam menghidupkan hati. Hati yang hidup melahirkan amal yang hidup. Dan amal yang hidup akan memberi manfaat bagi umat dan bangsa.

Berita Terkait