Warta.in | Jakarta — Semangat menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menggema di lingkungan Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan. Salah satunya melalui turnamen catur yang diikuti sekitar 150 peserta dari berbagai kelompok usia.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana membangun kebersamaan sekaligus mendorong minat masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda, terhadap olahraga catur.
Ambia B. Boestam selaku Mantan anggota DPR RI dari Fraksi PAN menyampaikan bahwa sangat mengapresiasi penyelenggaraan turnamen tersebut. Menurut dia, kegiatan kreatif yang digagas warga Kalibata City memberikan nilai positif bagi lingkungan dan berpotensi menjadi contoh kegiatan produktif di kawasan hunian.
“Gagasan kreatif dari warga Kalibata City ini memberikan nilai positif kepada seluruh masyarakat. Kalau kegiatan seperti ini terus disosialisasikan keluar, Kalibata City akan semakin dikenal secara positif,”ucapnya.
Ia menilai turnamen catur juga memberikan manfaat khusus bagi anak-anak. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi alternatif aktivitas yang lebih produktif di tengah tingginya penggunaan gawai dan permainan digital.
“Di sini ada anak-anak. Saya kira kegiatan seperti ini juga bisa mengurangi waktu mereka bermain game yang kurang bermanfaat di gadget. Orang tua tentu senang dengan adanya kegiatan seperti ini,”tuturnya.
Ambia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada turnamen semata. Ia mendukung adanya latihan rutin dan pertandingan lanjutan, termasuk kemungkinan memperluas kompetisi antarapartemen.
“Apalagi kalau nanti ditingkatkan. Saya dengar juga ada latihan-latihan, kemudian bisa digelar pertandingan antarapartemen. Ini luar biasa,”harapnya.
Catur Melatih Kemampuan Berpikir
Ambia mengatakan bahwa olahraga catur memiliki keunggulan karena tidak hanya mengandalkan kemampuan fisik, tetapi juga melatih konsentrasi, strategi, dan kemampuan mengambil keputusan.
“Catur itu olahraga berpikir. Kalau olahraga ini semakin populer, saya berharap semakin banyak orang Indonesia yang pandai berpikir, cerdas, dan mampu merancang hidupnya langkah demi langkah seperti dalam permainan catur.
Ia juga menekankan pentingnya pembinaan sejak usia dini untuk melahirkan atlet-atlet catur berprestasi di masa depan. Menurut Ambia, seorang calon juara tidak cukup hanya memiliki kemampuan teknis. Mereka juga harus mendapatkan pengalaman bertanding sejak kecil agar terbiasa menghadapi tekanan dan mampu mengambil keputusan secara tepat.
“Kalau kita ingin melahirkan juara-juara yang akan datang, tentu pembinaannya harus sejak kecil. Mereka dilatih bermain dan bertanding, sehingga memiliki mental juara,” katanya.
Pengalaman bertanding, lanjut dia, akan membantu anak-anak belajar menghadapi tekanan.
Dalam kondisi tersebut, mereka dituntut mencari solusi dan menentukan langkah terbaik. Dengan tekanan itu mereka bisa mengambil solusi sehingga membuat keputusan yang tepat dalam permainan. Dari situlah nantinya akan lahir juara-juara,”katanya.
Pembinaan Perlu Diperluas
Ambia menilai pembinaan catur di Kalibata City sudah berada di jalur yang baik. Namun, menurut dia, kesempatan bertanding bagi para pemain muda perlu diperluas agar mereka memiliki pengalaman menghadapi lawan dari berbagai latar belakang.
“Dari yang saya lihat dan dengar, pembinaannya sudah bagus. Tinggal bagaimana mereka diberi kesempatan lebih luas untuk bermain di luar,”ujarnya
Menurut dia, pengalaman menghadapi lawan yang belum dikenal sangat penting untuk membentuk mental bertanding sekaligus merangsang kemampuan berpikir para pemain muda.
“Kalau mereka lebih banyak bertanding dengan orang yang tidak dikenal, mental bertanding dan mental menghadapi tekanan akan semakin terbentuk. Itu menjadi stimulus atau rangsangan bagi mereka untuk lebih banyak berpikir,”ucapnya.
Ambia juga mengingatkan bahwa pembinaan atlet tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi antara pengelola lingkungan, warga, orang tua, pelatih, komunitas, dan pihak-pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap perkembangan olahraga.
“Tidak bisa Kalibata City mengelola dan membina anak-anak ini sendirian. Harus banyak yang terlibat dan berkontribusi agar pembinaan menjadi lebih terarah dan teratur.
Ia menilai potensi dukungan masyarakat di lingkungan apartemen sangat besar. Dengan jumlah penghuni yang banyak, kontribusi kecil dari masyarakat secara bersama-sama dapat digunakan untuk menghadirkan pelatih berkualitas dan menyelenggarakan program pembinaan yang berkelanjutan.
“Kesadaran inilah yang harus dibangkitkan. Kalau banyak orang berkontribusi dan berpartisipasi, kita bisa mendatangkan pelatih yang biasa melatih pemain hingga menjadi grandmaster,”pungkasnya.
Ia pun optimistis jika pembinaan dilakukan secara konsisten, bukan tidak mungkin dari lingkungan seperti Kalibata City lahir bibit-bibit pecatur nasional di masa depan.
“Kalau semua berkontribusi dan berpartisipasi, pembinaan akan semakin baik. Tetapi kalau hanya satu pihak yang bekerja sendiri, tentu akan berat,”tutupnya.






























