34.5 C
Jakarta
Minggu, Mei 10, 2026
Beranda blog Halaman 230

Optimalkan Tata Kelola, Lazismu Sumsel Hadirkan Lazismu Jawa Tengah dalam Rakerwil 2026

0

Warta.In | Palembang,- Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Sadaqah Muhammadiyah (Lazismu) Wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) resmi menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) tahun 2026.

Acara yang berlangsung khidmat ini dipusatkan di Aula Prof. Djakfar Murod, Universitas Muhammadiyah (UM) Palembang, pada tanggal 14-15 Februari 2026.

Adapun tema kegiatan Rakerwil ini sendiri mengusung tema “Sinergi Strategis untuk Lazismu Berdampak dan Berkelanjutan.”

Rakerwil ini sendiri dihadiri oleh Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumsel Ridwan Hayatuddin, S.H., M.M., Wakil Ketua Lazismu Pusat Dr Erni Juliana Al Hasanah Nasution, S.E., M.Ak., Ketua Lazismu Sumsel Heru Ginanjar Prayogo, S.E., M.E., jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Sumsel, pengelola Kantor Layanan (KL) Lazismu kabupaten/kota, serta perwakilan Lazismu Provinsi Jawa Tengah (Jateng) sebagai narasumber, demikian diutarakan Ketua Lazismu Sumsel Heru Ginanjar Prayogo, S.E., M.E.

Dikatakannya, ada hal menarik pada perhelatan Rakerwil tahun ini, guna mempercepat transformasi organisasi dan meningkatkan efektivitas penyaluran dana ZIS, Lazismu Sumsel menghadirkan pemateri khusus dari Lazismu Jateng yakni Kukus Tri Wijiyanto (Manajer Marketing Lazismu Jateng) dan Samsudin (Manajer Operasional Lazismu Jateng).

Sebagaimana diketahui, Lazismu Jateng saat ini menjadi Lazismu Percontohan Nasional berkat keberhasilannya dalam manajemen tata kelola yang transparan, akuntabel, serta inovasi program pemberdayaan masyarakat yang berdampak luas.

“Kehadiran rekan-rekan dari Jateng diharapkan mampu menularkan semangat best practice dan sistem manajemen yang solid, agar Lazismu di Sumsel bisa melompat lebih tinggi dalam melayani umat,” ujar Ketua Lazismu Sumsel Heru Ginanjar Prayogo, S.E., M.E.

Kemudian, kegiatan ini diikuti oleh utusan Kantor Daerah Lazismu dari berbagai Kabupaten/Kota di Sumsel, Perwakilan Kantor Layanan (KL) yang tersebar di berbagai cabang dan unit amal usaha.

Selama dua hari, para peserta dibekali dengan materi strategis mulai dari sinkronisasi program nasional, kelembagaan, digitalisasi pelaporan keuangan, hingga teknik fundrising kreatif yang relevan dengan kondisi ekonomi terkini.

“Rakerwil ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga momentum bagi Lazismu Sumsel untuk memperkuat kepercayaan publik melalui profesionalisme pengelolaan dana umat yang lebih modern dan berdampak nyata bagi pengentasan kemiskinan di Bumi Sriwijaya,” ungkapnya.

Dilanjutkannya, di mana suasana Aula Prof Djakfar Murod, UM Palembang, tampak berbeda pada 14-15 Februari 2026. Para amil dari berbagai berbagai daerah di Sumsel berkumpul dengan semangat tinggi dalam agenda Rakerwil Lazismu Sumsel.

Kehadiran perwakilan Lazismu Jateng sebagai pemateri menjadi magnet utama dalam acara ini. Di mana keberhasilan Jateng dalam mengelola dana umat hingga mencapai angka ratusan miliaran rupiah dengan sistem yang rapi menjadi daya tarik yang memicu rasa penasaran peserta.

“Antusiasme ini terlihat dari banyaknya sesi tanya jawab yang berlangsung dinamis. Para peserta dari berbagai Kantor Daerah dan KL tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menggali strategi operasional, mulai dari cara mendekati muzakki besar hingga pengelolaan administrasi yang anti-ribet namun tetap akuntabel,” katanya.

Menurut Wakil Ketua Lazismu Pusat Dr Erni Juliana Al Hasanah Nasution, S.E., M.Ak, Rakerwil Lazismu Sumsel merupakan bagian dari amanah Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lazismu yang sebelumnya digelar di Balikpapan. Amanah tersebut menekankan pentingnya penguatan inovasi sosial melalui pengelolaan dana umat yang terintegrasi, profesional, dan responsif terhadap kebutuhan riil masyarakat.

Lazismu harus hadir sebagai lembaga yang mampu mengintegrasikan dana umat, lembaga, dan jaringan. Program yang dijalankan tidak boleh reaktif semata, tetapi harus berbasis kebutuhan masyarakat dan menjawab persoalan jangka panjang.

“Saya menilai, tantangan sosial di Sumatera Selatan semakin kompleks. Karena itu, Lazismu Sumsel perlu memperkuat kolaborasi dengan majelis, lembaga, organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah, serta pemerintah daerah,” ucapnya.

Masih dilanjutkannya, sinergi lintas sektor dinilai menjadi kunci agar program-program Lazismu tidak berjalan sendiri, tetapi saling menguatkan dan memperluas dampak. Disini saya menekankan bahwa paradigma program Lazismu ke depan harus berorientasi pada dampak (impact oriented).

Artinya, setiap program harus dirancang untuk menyentuh akar persoalan masyarakat, bukan hanya gejala permukaannya. Program yang baik, menurutnya, adalah program yang mampu memberikan manfaat lintas generasi dan bertahan dalam jangka panjang.

“Dan Lazismu tidak cukup hanya menyalurkan bantuan, tapi yang dibutuhkan masyarakat adalah solusi yang berkelanjutan, yang mampu mengubah kondisi sosial dan ekonomi mereka secara bertahap dan bermartabat,” imbuhnya.

Begitu juga disampaikan Ketua PWM Sumsel Ridwan Hayatuddin, dirinya menyampaikan bahwa kepercayaan publik merupakan modal utama Lazismu. Menurutnya, warga Muhammadiyah telah lama dikenal sebagai pihak yang amanah dalam mengelola titipan umat. Warga Muhammadiyah sangat dipercaya saat diberikan amanah.

Ini kekuatan besar yang harus terus dijaga dengan integritas dan profesionalisme. Saya mendorong seluruh pengelola Lazismu di Sumsel untuk memperluas jejaring dan memperkuat sinergi lintas sektor.

“Dirinya juga menilai, tantangan pengelolaan zakat ke depan menuntut cara pandang yang lebih terbuka dan kolaboratif. Mari meluaskan pandangan dan pergaulan kita,” bebernya.

Hulu ke Hilir, Sebuah Mimpi yang terwujudkan Bagi Kelompok Tani Sumber Kelopo 01 Jember

0
Ket Foto : Pengambilan sumber dari mata air (atas), tandon air sementara sebelum disalurkan kesaluran air atau irigasi (bawah).

Warta.in, Jember – 17/02/2026 Kelompok Tani sumber kelopo 01 yang berada di dusun Sumber Kelopo desa Curang Kalong Kecamatan Bangsalsari kini dapat menghela nafas lega tanpa rasa khawatir.

Pasalnya, ladang milik para petani di kelompok tersebut, yang hanya mengandalkan musim penghujan tiba untuk dapat menanam padi, kini sudah menjadi masa kelam yang sudah dilalui. Dalam kurun waktu lebih dari 1 dekade, bantuan yang diharapkan oleh para petani akhirnya terwujud yaitu program bantuan Optimasi Lahan (Oplah) berupa Pipanisasi, yang dapat mengalirkan sumber air dari hulu hingga ke hilir.

“Dulu kita hanya menunggu musim hujan mas jika tanam padi, tepatnya saat musim tanam satu/ MT 1, pada saat musim tanam 2 / MT 2 kita tidak berani tanam, tidak berani ambil resiko mas, karena pasti kekurangan sumber air,” kata teguh wahyudi selaku ketua Poktan setempat.

Menurut keterangan, Kelompok tani Sumber Kelopo 01 sejak dulu tidak memiliki aliran sungai yang mengaliri saluran irigasi mereka, dikarenakan hulu sungai yang ada mengalir berlawanan dengan ladang milik mereka.

“Hulunya sungai ini jauh dari ladang kami sehingga kami tidak bisa memanfaatkannya mas, aliran sungainya juga tidak mengarah ke ladang kami, Maka mau tidak mau kami harus terus berusaha ajukan bantuan untuk bisa mengaliri ladang kami,” pungkas Wahyudi.

Buah kesabaran serta usaha keras yang dilakukan oleh kelompok tani Sumber Kelopo 01 akhirnya terjawab, pada akhir tahun 2025 bantuan Optimasi Lahan berupa Pipanisasi akhirnya terlaksanakan. Dari saluran – saluran pipa air yang diambil langsung dari mata air lalu disalurkan melalui saluran irigasi, para petani tidak khawatir lagi akan datangnya musim kemarau yang mengeringkan ladang mereka.

Namun, Teguh Wahyudi mengaku adanya bantuan ini masih belum maksimal menyelesaikan masalah para petani yang berada dibawah naungannya, dikarenakan bantuan yang diterima belum bisa untuk mengairi 54,16 Ha sawah yang berada diwilayahnya.

Ket Foto : Masuknya aliaran air yang disalurkan melalui tandon sementara (atas), jalan air menuju lahan atau saluran irigasi (tengah), lahan atau sawah yang sudah di airi (bawah).

“Kami mendapat bantuan saluran pipanisasi sepanjang 746m mas, sedangkan lahan sawah yang harus ditempuh untuk mengairi semuanya yaitu ada 5 blok, kurang lebih sepanjang 5000m mas, jadi masih belum maksimal untuk mengairi semua sawah, akan tetapi adanya bantuan ini manfaatnya sudah kami rasakan, 3 blok sawah atau sekitar kurang lebihnya 34,16 Ha aliran airnya sudah masuk, mengalir terus kesaluran irigasi mas, harapan kami semoga untuk kekurangannya bisa dibantu lagi mas,” tandas Wahyudi.

Demi mendukung program Swasembada Pangan atau Lumbung Pangan yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto para petani masih menggantungkan harapan mereka kepada pemerintah pusat serta pemerintah daerah.

Para petani yang berada dibawah naungan kelompok tani Sumber Kelopo 01 berkomitmen akan terus menigkatkan Produktivitas pertanian mereka, akuntabilitas yang diberikan oleh Pemerintah akan mereka jaga, demi kontinuitas pangan Bangsa Indonesia.

Atas terlaksananya program bantuan ini para petani kelompok Sumber Kelopo 01 mengucapkan rasa terima kasih terhadap Bapak presiden Prabowo, kepada kementrian pertanian RI serta kepada pihak – pihak pemerintah daerah yang terkait temasuk Bupati Jember Muhammad Fawait.

Pemprov Banten Pastikan Jalan Provinsi Siap Hadapi Arus Mudik Lebaran 2026

0

Wartain Banten | Pemerintahan | 17 Februari 2026  — Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) memastikan kesiapan infrastruktur jalan kewenangan provinsi menjelang arus mudik Lebaran 2026. Langkah ini dilakukan guna menjamin kelancaran arus lalu lintas, khususnya pada akses strategis menuju destinasi pariwisata di wilayah Banten.

Kepala Dinas PUPR Provinsi Banten, Arlan Marzan, menjelaskan bahwa selain mengandalkan jalur utama seperti jalan tol dan arteri yang menjadi kewenangan pemerintah pusat, Pemprov Banten juga menyiapkan enam ruas jalan provinsi sebagai jalur alternatif.

Menurut Arlan, jalur alternatif tersebut diproyeksikan untuk menopang mobilisasi masyarakat dan wisatawan menuju sejumlah kawasan unggulan seperti Anyer, Carita, Tanjung Lesung, hingga Sawarna.

“Terdapat enam ruas jalan provinsi yang menjadi prioritas penanganan kami. Sesuai arahan Bapak Gubernur, pada H-10 Lebaran seluruh lubang jalan harus sudah tertangani. Hal ini penting untuk memastikan perjalanan masyarakat, terutama yang menuju kawasan wisata, dapat berlangsung aman dan nyaman,” ujar Arlan di Pendopo Gubernur Banten, KP3B, Kota Serang, Senin (16/2/2026).

Enam ruas jalan yang menjadi prioritas perbaikan yakni Taktakan–Gunung Sari, Palima–Cinangka, Mengger–Saringin, Saketi–Malingping, Citeras–Tigaraksa, serta Ciruas–Petir–Warung Gunung.

Meski arus mudik utama tetap melalui tol dan jalan arteri dari Jakarta menuju Merak, jalan provinsi berperan penting sebagai jalur penyangga dan alternatif saat terjadi kepadatan.

“Fungsi jalan provinsi adalah menunjang dan menjadi jalur alternatif strategis bagi pemudik maupun wisatawan,” imbuhnya.

Dinas PUPR Provinsi Banten menunda sementara proyek konstruksi besar yang berpotensi menyebabkan buka-tutup jalan demi menjaga kelancaran arus mudik.

Sebagai gantinya, difokuskan pada pemeliharaan rutin agar kondisi jalan tetap mantap tanpa menimbulkan hambatan baru bagi pengguna jalan.(WartainBanten)

Andra Soni Resmikan Pos Kesehatan Merah Putih di Pasar Rangkasbitung

0

Wartain Banten | Pemerintahan | 17 Februari 2026  — Gubernur Banten, Andra Soni, meresmikan Pos Kesehatan Merah Putih yang berlokasi di Pasar Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, pada Senin (16/2/2026). Peresmian ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Banten dalam memperkuat layanan kesehatan berbasis promotif dan preventif bagi masyarakat.

Dalam sambutannya, Andra Soni menegaskan bahwa kehadiran Pos Kesehatan Merah Putih merupakan langkah strategis untuk membantu pemerintah dalam mendeteksi dini berbagai penyakit tidak menular (PTM) yang banyak dialami masyarakat.

“Pos ini bertujuan mendukung upaya promotif dan preventif kesehatan. Fokus utamanya adalah penanganan serta deteksi dini penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi) dan diabetes,” ujar Andra Soni.

Pos Kesehatan Merah Putih tidak hanya menyediakan layanan pemeriksaan dasar, tetapi juga akan dilengkapi alat deteksi penyakit paru. Pengelolaannya dilakukan oleh relawan Kesehatan Indonesia Raya (Kesira) bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Banten dan Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak.

Aset Milik Masyarakat

Gubernur menegaskan bahwa meski dibangun dan dikelola oleh relawan, fasilitas tersebut merupakan aset publik. Ia mengimbau masyarakat Lebak untuk memanfaatkan sekaligus menjaga fasilitas itu dengan baik.

“Ini bukanlah aset kelompok atau organisasi tertentu, melainkan aset masyarakat Banten, khususnya warga Lebak. Kami berharap kehadiran pos ini dapat memberikan pelayanan pemeriksaan kesehatan yang optimal dan mudah dijangkau,” pungkasnya.

Perluasan Jangkauan Layanan

Pos Kesehatan Merah Putih telah tersebar di sejumlah titik strategis di Banten, yakni masing-masing satu titik di Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang Selatan, dan Kota Serang, serta dua titik di Kota Tangerang.

Pemerintah Provinsi Banten berkomitmen terus mendukung inisiatif kolaboratif yang berdampak langsung pada peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.(WartainBanten)

Mahasiswa STIK-PTIK dan KPA Salurkan 7 Sapi untuk Warga Aceh Barat

0

Aceh Barat – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, suasana kebersamaan terasa hangat di wilayah Aceh Barat. Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK-PTIK) bersama dengan Komite Peralihan Aceh (KPA) melaksanakan kegiatan penyerahan tujuh ekor sapi kepada masyarakat yang membutuhkan sebagai bagian dari tradisi Meugang. Selasa (17/02/2026).

Tradisi Meugang sendiri merupakan kearifan lokal masyarakat Aceh yang telah diwariskan secara turun-temurun. Meugang bukan sekadar momentum menyantap daging menjelang Ramadhan, tetapi menjadi simbol kepedulian sosial, kebersamaan, dan semangat berbagi agar seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan kebahagiaan yang sama dalam menyambut bulan penuh berkah.

Dalam kegiatan tersebut, tujuh ekor sapi diserahkan untuk kemudian disembelih dan dibagikan secara merata kepada fakir miskin di sejumlah gampong di wilayah Aceh Barat. Mahasiswa STIK-PTIK bersama unsur KPA dan masyarakat setempat turut bergotong royong dalam proses penyembelihan hingga pendistribusian daging, mencerminkan nilai “sama rasa” tanpa sekat status sosial.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa semangat pengabdian tidak hanya hadir dalam bentuk pengamanan dan pelayanan, tetapi juga dalam sentuhan kemanusiaan yang nyata. Mahasiswa STIK-PTIK menunjukkan bahwa kehadiran mereka di tengah masyarakat bukan sekadar simbol institusi, melainkan bagian dari keluarga besar masyarakat Aceh yang ikut merasakan denyut tradisi dan budaya lokal.

Momentum Meugang kali ini juga mempererat sinergi antara generasi muda, tokoh masyarakat, dan elemen organisasi daerah. Kebersamaan yang terbangun menjadi pesan kuat bahwa Ramadhan adalah tentang empati—tentang memastikan tidak ada yang merasa sendiri dan tidak ada yang tertinggal dalam merasakan nikmatnya berbagi.

Kapolres Aceh Barat, AKBP Yhogi Hadisetiawan, S.I.K., M.I.K., menyampaikan apresiasi atas kepedulian yang ditunjukkan mahasiswa STIK-PTIK bersama KPA dalam menjaga dan merawat tradisi Meugang melalui aksi nyata berbagi kepada masyarakat.

Menurutnya, Meugang bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan cerminan nilai solidaritas dan kebersamaan yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Aceh. Kegiatan seperti ini dinilai mampu memperkuat ikatan sosial, menumbuhkan empati, serta memastikan kehadiran seluruh elemen benar-benar dirasakan oleh warga yang membutuhkan.

“Kami menyambut baik dan mendukung penuh kegiatan ini. Semoga semangat berbagi dan kepedulian sosial terus terjaga, sehingga keberkahan Ramadhan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat,” ungkap Kapolres.

Ia juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai wujud nyata sinergi antara institusi pendidikan, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat dalam menjaga nilai-nilai budaya serta mempererat tali silaturahmi di Aceh Barat.

Dengan semangat gotong royong dan kepedulian sosial, penyerahan tujuh ekor sapi ini diharapkan menjadi ladang amal sekaligus memperkuat kebersamaan dalam menyambut Ramadhan yang penuh berkah. By: DYmurni

Polresta Mataram Sita 17,29 Gram Sabu dari 3 Pria di Jalur Bung Karno dan Labuapi

0

Polresta Mataram Sita 17,29 Gram Sabu dari 3 Pria di Jalur Bung Karno dan Labuapi

Warta.in
Mataram, NTB — Komitmen Polresta Mataram dalam memberantas peredaran gelap Narkotika kembali dibuktikan. Senin sore (16/02/2026), Tim Opsnal Satuan Reserse Narkoba berhasil membongkar jaringan peredaran sabu di wilayah hukumnya, dengan mengamankan tiga pria dewasa beserta barang bukti Narkotika dalam jumlah cukup signifikan.

Tiga terduga yang diamankan masing-masing berinisial BP (32) dan HS (24), warga Lombok Barat, serta AN (27), warga Pagutan, Kota Mataram. Dari tangan para terduga, petugas menyita Narkotika jenis sabu dengan total berat 17,29 gram, berikut sejumlah barang pendukung peredaran.

Kasat Narkoba Polresta Mataram AKP I Gusti Ngurah Bagus Suputra, S.H., M.H., menjelaskan pengungkapan ini bermula dari informasi masyarakat yang resah terhadap aktivitas peredaran Narkoba di jalur Jalan Bung Karno, Kelurahan Pagesangan. Informasi tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui serangkaian penyelidikan intensif oleh Tim Opsnal.

“Petugas pertama kali mengamankan terduga AN di pinggir Jalan Bung Karno Pagesangan. Saat itu, yang bersangkutan tengah duduk di atas sepeda motor dan diduga sedang menunggu seseorang. Dari penggeledahan, ditemukan tiga klip berisi sabu yang disimpan di dalam bungkus rokok di dashboard motor,” ungkap AKP Ngurah.

Berdasarkan hasil interogasi awal, petugas memperoleh informasi terkait keterlibatan dua terduga lainnya. Tim Opsnal kemudian bergerak cepat menuju Perumahan Anggrek, Labuapi, Lombok Barat. Di lokasi tersebut, BP dan HS berhasil diamankan saat berada di dalam kamar. Penggeledahan lanjutan menemukan puluhan klip berisi sabu siap edar.

“Total barang bukti sabu yang kami amankan mencapai 17,29 gram. Selain itu, turut disita alat konsumsi sabu, perlengkapan pendukung penjualan, alat komunikasi, timbangan digital, sejumlah uang tunai serta kartu ATM,” jelasnya.

Saat ini, ketiga terduga tengah menjalani pemeriksaan intensif untuk pendalaman peran masing-masing. Atas perbuatannya, para terduga dijerat Pasal 114 ayat (2) UU RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Jo Pasal 609 ayat (2) huruf a KUHP Jo. UU RI Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana, dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.

Pengungkapan ini kembali menegaskan keseriusan aparat Kepolisian dalam memutus mata rantai peredaran Narkotika, sekaligus mengajak masyarakat terus berperan aktif memberikan informasi demi menjaga lingkungan yang aman dan bebas dari Narkoba.(sr/hpm)

Kerja Bakti Bersama Bersihkan TPU dan Pantai Calabai, Warga Beri Apresiasi Positif

0

Warta.in
Dompu,NTB– Semangat gotong royong terwujud nyata dalam kegiatan kerja bakti pembersihan Tempat Pemakaman Umum (TPU) dan ruas jalan pantai di Desa Calabai, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari personel aparat hingga masyarakat setempat, dan berhasil menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan nyaman.(17/2/2026)

Kegiatan yang dimulai sejak pukul 08.00 WITA ini dipimpin oleh Komandan Kapal Polisi XXI – 2014. Turut serta dalam agenda bersih-bersih ini antara lain Personel Satpolairud Polres Dompu, Anggota TNI AL Pos Calabai, Perangkat Desa Calabai, serta antusiasme tinggi dari Masyarakat Dusun Sigi Desa Calabai.

Fokus utama kegiatan adalah membersihkan area kuburan di TPU Desa Calabai yang terletak di Dusun Sigi, serta membersihkan ruas jalan di sepanjang pantai. Sampah-sampah yang terkumpul dari hasil pembersihan ini kemudian dipusatkan di satu lokasi dan diolah dengan metode pembakaran terkontrol. Langkah ini diambil untuk memastikan tidak ada pencemaran lingkungan baru yang ditimbulkan.

Hasil dari kerja bakti ini sangat memuaskan. TPU Desa Calabai kini bersih dari berbagai jenis kotoran. Selain itu, ruas jalan yang menjadi penghubung antara kampung Sigi dengan kampung Lombok juga telah berhasil dibersihkan. Tumpukan sampah yang sebelumnya mengotori area tersebut kini telah terolah, dan yang terpenting, lingkungan pantai Desa Calabai menjadi jauh lebih bersih dan nyaman untuk digunakan oleh masyarakat maupun pengunjung.

Masyarakat Dusun Sigi Desa Calabai menyambut baik dan memberikan respons yang sangat positif atas inisiatif kolaboratif ini. Mereka menyampaikan apresiasi mendalam atas upaya bersama dalam menjaga kebersihan lingkungan dan berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkala. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan aman, tertib, dan lancar tanpa menemui kendala berarti.

Dirpolairud Polda NTB, Kombes Pol Boyke F.S. Samola, S.I.K., M.H., menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan ini. “Kami berharap kegiatan positif seperti ini dapat terus berlanjut dan menjadi contoh bagi wilayah lain untuk senantiasa menjaga kebersihan lingkungan, khususnya di wilayah pesisir. Kebersihan adalah tanggung jawab kita bersama untuk keberlanjutan ekosistem dan kenyamanan masyarakat,” ujarnya.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa sinergi antara aparat keamanan, pemerintah desa, dan masyarakat mampu menciptakan dampak positif yang signifikan bagi lingkungan dan kesejahteraan bersama.(sr/hpntb)

Pemprov NTB Tegas, Kasus Norida Akmal Ayob, Tiada Penelantaran Sistemik, Fakta Beda dari Narasi Viral

0

Pemprov NTB Tegas, Kasus Norida Akmal Ayob, Tiada Penelantaran Sistemik, Fakta Beda dari Narasi Viral

warta.in
Mataram, NTB – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat memberikan klarifikasi resmi terkait pemberitaan viral di sejumlah media Malaysia dan Indonesia mengenai warga negara Malaysia atas nama Norida Akmal Ayob yang disebut-sebut ditelantarkan selama 18 tahun di Lombok dan hidup sebagai tukang sapu.

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal melalui Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik NTB sekaligus Juru Bicara Pemprov NTB, Ahsanul Khalik, menegaskan bahwa berbagai informasi yang beredar tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta di lapangan.

Klarifikasi ini didasarkan pada penelusuran langsung yang dilakukan Plt Kepala Bidang Penempatan dan Perluasan Kerja Disnakertrans NTB bersama aparat desa setempat di Dusun Benjelo, Desa Ubung, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, dengan menghimpun keterangan dari Wirawan (keluarga dekat Badi), Kepala Dusun Benjelo Agus, serta Kepala Desa Ubung Mastaal.

Ahsanul Khalik yang akrab disapa Aka menjelaskan, Norida Akmal Ayob merupakan warga negara Malaysia yang menikah pada tahun 2005 di Thailand dengan pria bernama Badi, warga Dusun Benjelo, Desa Ubung. Setelah menikah, Norida melahirkan anak pertama, Nurpatin Akmadiana, di Malaysia. Pada 2007, Norida bersama suami dan anaknya kembali ke Lombok karena ayah Badi meninggal dunia.

Pada tahun yang sama, keluarga tersebut berangkat ke Sumatera untuk bekerja di perkebunan sawit. Pada 2008, Norida melahirkan anak kedua, Muhamad Sabani Daniel, di Sumatera. Keluarga ini kemudian kembali menetap di Lombok sejak 2021, sementara Badi bekerja di bidang ekspedisi.

Terkait pendidikan anak, pemerintah daerah memastikan keduanya sempat mengenyam pendidikan formal. Anak pertama menempuh pendidikan SMP di Sumatera dan melanjutkan SMA di SMA Negeri 2 Jonggat, sedangkan anak kedua menempuh pendidikan di SMP Negeri 3 Jonggat dan melanjutkan ke SMK Negeri 1 Jonggat. Pada 2024, anak pertama diterima melalui jalur beasiswa Bidikmisi pada Program Studi Pendidikan Biologi di Universitas Mataram, meskipun tidak melanjutkan kuliah akibat kondisi keluarga pascaperceraian.

Norida dan Badi resmi bercerai pada 24 Juni 2024, setelah diketahui Badi kawin lagi. Namun dalam proses perceraian tersebut, Norida menerima uang sebesar Rp20 juta dari mantan suami untuk membantu pengurusan biaya kepulangan ke Malaysia.

“Karena itu sangat tidak tepat jika disebut ada penelantaran selama 18 tahun, apalagi setelah perceraian Norida juga menerima bantuan biaya kepulangan,” tegas Aka.

Pada 2024, Norida sempat berangkat ke Bali untuk mengurus dokumen kepulangan, kemudian kembali tinggal sementara di rumah keluarga mantan suami di Dusun Benjelo.

Setelah perceraian, Norida bekerja di Lesehan Bambu Bonjeruk selama kurang lebih delapan bulan pada 2025. Selama masa pernikahan, Norida berstatus sebagai ibu rumah tangga.

Berdasarkan keterangan keluarga, kepala dusun, dan kepala desa, tidak benar bahwa Norida bekerja sebagai tukang sapu selama tinggal di Lombok sebagaimana narasi yang berkembang. Sebelum kembali ke Malaysia pada 14 Februari 2025, Norida berpamitan dan bersalaman dengan keluarga mantan suami.

Selain itu, Norida juga tercatat menerima bantuan BLT Kesra pada November 2025. Saat klarifikasi ini disampaikan, Badi diketahui sedang berada di Pulau Jawa dalam rangka pengantaran barang ekspedisi.

Pemprov NTB menegaskan bahwa narasi yang berkembang di media sosial dan sebagian pemberitaan luar negeri telah membentuk persepsi seolah-olah Norida sepenuhnya ditinggalkan tanpa perlindungan negara selama 18 tahun. Padahal, berdasarkan data lapangan, Norida hidup bersama keluarga suami, memiliki akses pekerjaan pascaperceraian, menerima bantuan sosial, serta difasilitasi proses kepulangan ke Malaysia.

“Kami menghormati sisi kemanusiaan dalam kasus ini. Namun kami juga berkewajiban meluruskan fakta agar opini publik tidak berkembang berdasarkan asumsi. Fakta lapangan menunjukkan keluarga ini berpindah-pindah antara Malaysia, Lombok, dan Sumatera, serta anak-anaknya tetap mendapatkan akses pendidikan,” ujar Aka.

Pemerintah Provinsi NTB menegaskan komitmennya untuk melindungi setiap warga dan pendatang sesuai ketentuan hukum, sekaligus mengimbau publik dan media agar menyajikan informasi secara objektif dan berimbang, sehingga tidak menimbulkan stigma negatif terhadap daerah maupun masyarakat NTB.(sr/dkisntb)

Karya Seni Itu Seperti Lampu

0

Karya seni itu seperti lampu. Dapat dibayangkan, bagaimana dunia ini dengan berbagai warnanya, dapat terlihat jika tidak ada lampu. Lampu yang menerangi tempat-tempat gelap, lampu yang membuat sesuatu bisa dilihat.

Sebagaimana halnya lampu, lampu itu sangat beragam. Pertama, kadar terangnya berbeda-beda. Jadi, tidak semua lampu seni bisa menerangi dunia dan kehidupan secara benderang. Ada lampu yang memang terang, ada lampu yang daya terangnya rendah.

Kadar rendah-terang menyebabkan sesuatu menjadi remang-remang dan seperti nampak atau tidak. Sementara itu, kadar tinggi-terang menyebabkan mata bisa silau dan membuat penglihatan menjadi kabur. Demikianlah, kontra-diksi karya seni.

Kedua, sebagaimana layaknya lampu, warna lampu berbeda-beda. Ada yang putih bersih, ada yang merah, biru, kuning, hijau, ungu, dan sebagainya. Hal warna bisa membedakan posisi, status, dan fungsi kenapa karya seni dihadirkan. Hal warna kadang menjadi ideologis. Hal warna menjadikan lampu berbeda-beda maksud kehadirannya.

Ketiga, seperti lampu, bentuk dan fokus sorotannya berbeda-beda. Ada yang lebih pas untuk pertunjukan, ada yang untuk keperluan komersial, ada yang lebih normatif untuk rumah, kantor, dan berbagai ruang lainnya yang dipakai sehari-hari.

Ketika hidup diterangi oleh karya seni, atau ketika dunia bisa dilihat dan diperlihatkan oleh seniman dalam karyanya, maka akan ada yang gembira, akan ada yang suka, akan ada yang bingung, akan ada yang mungkin marah dan sangat tidak suka.

Karya seni itu sesuatu yang bersifat wacana dan ideologis. Sebagai wacana dan bahkan sesuatu yang ideologis, seniman dan karyanya sering tidak mampu menghindari jebakan kuasa konstruksi sosial, jebakan konstruksi politik dan ekonomi.

Sebagai akibatnya, sangat jarang seniman mampu mengekspresikan karyanya sebagai suatu ekspresi kemurnian. Ini pula yang menyebabkan kadar terang karya seni ada yang benderang, ada yang seperti tidak menerangi apapun. Padahal, semakin murni ekspresi seni, semakin memiliki daya yang terang berderang.

Seperti halnya lampu, sumber energi yang menghidupkannya pun beda-beda. Ada yang mengandalkan energi listrik (maaf kalau penamaannya tidak pas), ada yang dari batere, dan berbagai sumber energi eksternal lainnya.

Bentuk lampu berbeda-beda. Ada yang normatif dan buatan pabrik. Karya seni juga begitu, ada yang dibuat pabrikan. Karya seni menjadi semacam karajinan yang bisa didapatkan dan diperjualbelikan di mana saja dan kapan saja.

Namun, ada lampu yang berhasil dibuat menjadi berbagai karya yang indah yang penggunaannya menjadi khusus dan spesifik. Tidak tertutup kemungkinan bahwa bentuk lampu yang indah tersebut karena dorongan estetik si pembuat lampu. Ada kolaborasi yang harmoni dan serasi antara lampu normatif dan lampu spesifik.

Dalam konteks dan situasi tersebut, karya seni yang agung dan adiluhung tentu saja jika mampu mengonsolidasikan sumber energi dari dalam diri manusia itu sendiri. Energi lampu tidak berasal dari energi listrik atau batere, tapi energi yang disebut sebagai hati nurani.

Karya seni yang adiluhung berbeda dengan lampu-lampu normatif, karena dalam proses penciptaannya, terdapat dorongan-dorongan dari energi murni tersebut, berdasarkan energi hati nurani, yang menhidupkan karya seni menjadi dan memberikan terang yang murni, otentik, dan orisinal.

Karena besarnya penggunaan energi listrik, bateri dan semakin masalnya pabrik-pabrik lampu, karya seni yang otentik menjadi kalah bersinar. Bukan berarti lampu karya seni dominan sekarang tidak mampu menerangi dunia, tetapi banyak yang diterangi hanya hal-hal penampakan saja.

Karya seni seperti itu, tidak mampu menerangi hal-hal yang tidak tampak. Lampu seni seperti itu hanya untuk penampilan, untuk gaya-gaya, untuk memanipulasi ketidakmampuan membuat karya seni yang otentik.

Bahkan sebagian hanya sekedar menjalani suatu proyek seperti runitinas pabrik. Sudah saatnya, para seniman kembali kerja keras, dengan mengandalkan sepenuhnya energi hati nuraninya untuk memproduksi lampu-lampu seni yang otentik dan orisinal sehingga mampu menerangi dunia yang semakin tersuruk dalam kegelapan.

Aprinus Salam, Guru Besar di FIB UGM

Renovasi Skala Besar, Transera Waterpark Bekasi Tutup Selama Puasa

0

warta.in Bekasi ◊ Selasa, 17 Februari 2026

BEKASI – Menjelang bulan suci Ramadhan dan libur Lebaran 2026, destinasi wisata air populer di Bekasi, Transera Waterpark, tengah bersiap memanjakan pengunjung dengan wajah baru, dengan melakukan renovasi skala besar guna meningkatkan kenyamanan dan estetika wahana.

‎General Manager Transera Waterpark, Ahmad Hifni menjelaskan bahwa momentum penutupan operasional selama bulan puasa dimanfaatkan sepenuhnya untuk berbenah.

‎”Memang momen kita di puasa ini tutup, kesempatan itulah kita untuk berbenah. Kita mengadakan renovasi, merehabilitasi, dan repainting (pengecatan ulang),” ujar sang General Manager saat meninjau area.

‎Salah satu fokus utama renovasi kali ini adalah perluasan fasilitas penunjang seperti ruang bilas pria dan wanita. Selain diperluas, area tersebut juga akan didesain ulang agar memberikan pengalaman unik bagi pengunjung.

‎”Ruang bilas kita perlebar, nanti di dalamnya ada taman. Ceiling-nya (langit-langit) juga kita tinggikan. Jadi orang pas masuk ruang bilas itu kayak masuk wahana, merasa nyaman,” tambahnya.

‎Tak hanya soal kenyamanan, Transera juga memberikan sentuhan estetik baru dengan mengusung tema Benua Hitam. Pengunjung akan disuguhi pemandangan yang berbeda berkat adanya ornamen-ornamen khas yang sedang dalam tahap pengerjaan.

‎”Nanti pengunjung akan melihat ornamen Afrika. Konsepnya seperti jungle tapi nuansanya Afrika. Saat kita buka kembali tanggal 18 Maret nanti, penampilannya sudah beda dan lebih rapi,” jelasnya.

‎Penyegaran juga dilakukan di wahana permainan anak, khususnya area Turkana. Seluruh bagian wahana, mulai dari ember tumpah hingga lantai di sekeliling kolam, dicat ulang untuk memberikan kesan segar dan bersih saat menyambut wisatawan di hari raya.

‎Pihak manajemen berharap perubahan besar ini dapat meningkatkan kepuasan pelanggan sehingga mereka tertarik untuk terus kembali berkunjung.

‎”Harapannya agar pengunjung lebih terkesan. Transera sekarang beda, fasilitasnya lebih lengkap, lebih bersih, dan lebih nyaman,” pungkasnya optimis.

‎Transera Waterpark dijadwalkan akan kembali beroperasi normal pada 18 Maret 2026, tepat tiga hari menjelang hari raya Lebaran.

(Alpin A.S)