Beranda blog Halaman 8

Sambut HUT RI Ke-81, Kecamatan Abab Gelar Lomba Lari Maraton Berhadiah Jutaan Rupiah untuk Umum.

0

Warta.in//PALI, kecamatan Abab, 11 Agustus 2026 – Semangat nasionalisme dan gaya hidup sehat akan melebur menjadi satu di Kecamatan Abab, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81, Pemerintah Kecamatan Abab bersama Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP. PKK) Kecamatan Abab secara resmi mengumumkan gelaran Lomba Lari Maraton Tingkat Umum.

Mengusung visi besar nasional “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, ajang ini dirancang bukan sekadar kompetisi olahraga biasa. Acara ini menjadi panggung pemersatu masyarakat, wadah penyaluran bakat atletik lokal, sekaligus pesta rakyat untuk mengobarkan kembali semangat juang kemerdekaan melalui aktivitas fisik yang positif.

Rute Menantang Menyusuri Jantung Kecamatan Abab Kompetisi ini akan mengajak para pelari untuk menaklukkan rute strategis di wilayah Abab. Titik awal (Start) perlombaan akan dimulai langsung dari halaman Kantor Camat Abab. Dari sana, para peserta akan memacu kecepatan menuju checkpoint utama di SMA Negeri 1 Abab, sebelum akhirnya memutar kembali untuk mencapai garis akhir (Finish) yang juga bertempat di Kantor Camat Abab.

Rute ini dipilih untuk memudahkan akses penonton dan suporter yang ingin memberikan dukungan moral di sepanjang jalur lintasan, sekaligus memastikan keamanan dan kenyamanan para pelari selama berkompetisi.Jadwal Pelaksanaan Acara Perlombaan maraton ini akan diselenggarakan tepat pada hari puncak peringatan kemerdekaan. Berikut adalah detail jadwal pelaksanaannya:

Hari & Tanggal: Senin, 17 Agustus 2026Waktu Kick-off: Pukul 14:00 WIB sampai dengan selesai Kategori Peserta: Tingkat Umum (Terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat)Total Hadiah Jutaan Rupiah Menanti Pemenang Pihak panitia penyelenggara yang didukung penuh oleh Camat Abab, Mohamad Reza Pahlevi, SE, dan Ketua TP. PKK Kecamatan Abab, Festy Oktaviani, K, telah menyiapkan apresiasi berupa trofi dan uang tunai bagi para pelari tercepat yang berhasil menembus garis finish:Juara 1: Uang tunai sebesar Rp. 700.000,-Juara 2: Uang tunai sebesar Rp. 500.000,-Juara 3: Uang tunai sebesar Rp. 300.000,-Juara 4: Uang tunai sebesar Rp. 200.000,

Batas Akhir dan Kontak Pendaftaran Mengingat antusiasme warga yang diprediksi akan sangat tinggi, panitia mengimbau kepada seluruh calon peserta untuk segera mendaftarkan diri sebelum kuota terpenuhi. Pendaftaran akan resmi ditutup pada:Hari & Tanggal: Rabu, 16 Agustus 2026Waktu Penutupan: Pukul 21:00 WIB (Malam)Masyarakat yang ingin mendaftar atau membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai regulasi perlombaan dapat langsung menghubungi pusat layanan informasi panitia melalui nomor kontak berikut:Lian Saputra: 0853-7886-7394, Danu Pratama: 0822-8107-1966Eko, Takisita: 0852-7917-3058 Mari persiapkan fisik, asah stamina, dan tunjukkan sportivitas terbaik Anda. Jadilah bagian dari kemeriahan sejarah perayaan HUT RI ke-81 di Kecamatan Abab!

Patroli Dini Hari Bongkar Aksi Pungli di Jalintim Belimbing–Sekayu, Empat Orang Diamankan Polisi

0

Warta In

“MUARA ENIM ,”Jajaran Polsek Gunung Megang, Polres Muara Enim, bergerak cepat menindak dugaan aksi pungutan liar (pungli) yang meresahkan pengguna jalan di ruas Jalan Lintas Belimbing–Sekayu, Kabupaten Muara Enim. Dalam penindakan yang dilakukan pada Senin (10/8/2026) dini hari, polisi mengamankan empat orang yang diduga melakukan pungutan terhadap kendaraan yang melintas.

Kapolres Muara Enim AKBP Hendri Syaputra, S.I.K., M.H., melalui Kapolsek Gunung Megang AKP KMS Erwin, S.H., M.H., menyampaikan bahwa penindakan tersebut merupakan bagian dari upaya Polri menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, khususnya dari praktik premanisme dan pungli di jalan raya.

“Penindakan ini dilakukan sebagai respons terhadap aktivitas yang diduga meresahkan masyarakat dan pengguna jalan. Anggota melaksanakan patroli untuk mencegah serta menindak setiap bentuk gangguan keamanan, termasuk dugaan pungli di jalan,” ujar AKP KMS Erwin.

Penindakan bermula sekitar pukul 02.00 WIB, saat Unit Reskrim Polsek Gunung Megang melaksanakan patroli hunting di wilayah hukum Polsek Gunung Megang, mulai dari Desa Teluk Lubuk hingga Desa Cinta Kasih, Kecamatan Belimbing.

Saat melintas di Jalan Lintas Desa Teluk Lubuk, petugas mendapati dua orang laki-laki yang diduga sedang meminta atau mengutip sejumlah uang dari kendaraan yang melintas. Petugas kemudian mengamankan keduanya untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Patroli kemudian dilanjutkan menuju Desa Cinta Kasih. Di lokasi tersebut, petugas kembali menemukan dua orang laki-laki yang diduga melakukan aktivitas serupa terhadap kendaraan yang melintas di ruas Jalan Belimbing–Sekayu. Keempat orang tersebut selanjutnya diamankan ke Polsek Gunung Megang.

Keempat orang yang diamankan masing-masing berinisial RP (24), warga Desa Teluk Lubuk; AK (29), warga Desa Teluk Lubuk; NR (20), warga Desa Cinta Kasih; dan VP (21), warga Desa Cinta Kasih. Seluruhnya diketahui tidak memiliki pekerjaan tetap.

Dari penindakan tersebut, petugas turut mengamankan sejumlah uang yang diduga berkaitan dengan aktivitas pungutan, yakni 1 lembar pecahan Rp20.000, 1 lembar Rp10.000, 2 lembar Rp5.000, 6 lembar Rp2.000, dan 1 lembar Rp1.000, dengan total Rp58.000.

Selain mengamankan barang bukti dan melakukan pemeriksaan awal, petugas juga melakukan pemeriksaan menggunakan rapid test narkotika terhadap keempat orang tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, keempatnya dinyatakan positif terhadap zat yang terdeteksi sebagai amfetamin (AMP). Hasil tersebut selanjutnya akan ditindaklanjuti melalui pemeriksaan dan penanganan oleh Unit Narkoba Polres Muara Enim sesuai prosedur.

Kapolsek Gunung Megang menegaskan bahwa pihaknya akan terus melakukan patroli dan penindakan terhadap segala bentuk aktivitas yang berpotensi mengganggu keamanan dan kenyamanan masyarakat.

“Kami mengimbau masyarakat, khususnya pengguna jalan, agar tidak takut melaporkan apabila menemukan aksi pungli, premanisme, maupun gangguan kamtibmas lainnya. Setiap laporan akan kami tindak lanjuti sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” tegasnya.

Selanjutnya, keempat orang tersebut beserta barang bukti diamankan untuk proses lebih lanjut.dan dikoordinasikan dengan Unit Narkoba Polres Muara Enim ,guna dilakukan penanganan sesuai hasil pemeriksaan dan ketentuan peraturan perundang-undangan yg berlaku dinegara ini.

(Zulkifli//hms)

PTBA Perkuat Kemandirian Ekonomi Masyarakat Lahat melalui Budidaya Ayam Petelur

0

Warta In

“Lahat, 11 Agustus 2026,” PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) terus memperkuat komitmennya dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), PTBA menyelenggarakan Pelatihan dan Peningkatan Kapasitas Budidaya Ayam Petelur Skala Rumahan dan Komunal di Desa Sirah Pulau, Kecamatan Merapi Timur, Kabupaten Lahat.

Kegiatan yang diikuti sekitar 100 kepala keluarga penerima manfaat Program PPM PTBA ini menjadi tahap awal implementasi program pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis peternakan ayam petelur.

Pada tahap pertama, PTBA memberikan dukungan berupa 2.400 ekor ayam petelur, pembangunan 50 unit kandang skala rumahan dan 1 unit kandang komunal, penyediaan pakan, serta pendampingan teknis oleh tenaga ahli. Dukungan tersebut diharapkan dapat menjadi modal awal bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha produktif secara berkelanjutan.

Corporate Secretary Division Head PTBA Eko Prayitno mengatakan, pemberdayaan masyarakat merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk menciptakan manfaat jangka panjang bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional.

“PTBA tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga berupaya membangun kapasitas masyarakat agar mampu mengelola dan mengembangkan usaha secara mandiri. Melalui budidaya ayam petelur ini, kami berharap masyarakat Desa Sirah Pulau dapat memiliki sumber penghasilan alternatif yang produktif dan berkelanjutan, sekaligus turut memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal,” ujar Eko.

Menurut Eko, keberhasilan program pemberdayaan masyarakat membutuhkan kolaborasi dan keterlibatan aktif dari seluruh pihak, termasuk pemerintah desa, mitra pelaksana, tenaga ahli, dan masyarakat penerima manfaat.

“Program ini kami rancang secara bertahap dan terukur. Selain dukungan sarana, masyarakat mendapatkan pelatihan serta pendampingan teknis agar memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam menjalankan budidaya ayam petelur. Harapannya, usaha ini dapat terus berkembang dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat,” lanjutnya.

Dalam pelatihan ini, PTBA berkolaborasi dengan Rumah Kreatif Sriwijaya sebagai mitra pelaksana dan menghadirkan pakar budidaya ayam petelur Muhammad Yusuf, S.Pt., M.Si. sebagai narasumber. Program ini juga mendapat dukungan dari Forum Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (FP2M) serta Pemerintah Desa Sirah Pulau.

(Zulkifli)

Maksimalkan Pelayanan Pagi kepada Masyarakat Polsek Ngimbang Gelar Commanderwish di Wilayah Ngimbang

0

Maksimalkan Pelayanan Pagi kepada Masyarakat Polsek Ngimbang Gelar Commanderwish di Wilayah Ngimbang

LAMONGAN// Warta.In – Polsek Ngimbang dalam rangka melayani masyarakat melalui kegiatan Commander Wish dipagi hari, dengan beberapa personel untuk hadir memberikan pelayanan di tengah masyarakat pada jam-jam sibuk pagi hari.

Kegiatan Commander Wish di laksanakan di laksanakan oleh personil Polsek Ngimbang Aiptu Suhadi, Aipda Zeni,Aipda Erwan, dan Aipda Afis, S. di pertigaan Pasar Ngimbang dan SMP Negeri 1 Ngimbang di Kecamatan Ngimbang pada Hari Kamis (11/08/2026) pukul 05.40 WIB

Kapolsek Ngimbang AKP Andrian Permana, S. Tr, K. S.I.K, menjelaskan bahwa Commander Wish Layanan Pagi merupakan program prioritas sekaligus kebijakan utama dari Kapolres Lamongan yang bertujuan menghadirkan personel Polri secara maksimal pada pagi hari untuk memberikan pelayanan, perlindungan, dan pengayoman kepada masyarakat.

Dalam pelaksanaannya, personel ditempatkan di sejumlah titik strategis, di antaranya kawasan rawan kemacetan, penyeberangan anak sekolah, pasar atau pusat kegiatan ekonomi, serta kawasan perkantoran.

Kehadiran personel di lokasi tersebut diharapkan mampu menciptakan kelancaran arus lalu lintas, meningkatkan keamanan, sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat yang memulai aktivitas.

Kapolsek Ngimbang menegaskan bahwa pelayanan kepada masyarakat harus menjadi prioritas utama seluruh personel.

Program Commander Wish Layanan Pagi menjadi langkah awal dalam mewujudkan pelayanan kepolisian yang responsif, cepat, dan Presisi melalui kehadiran nyata anggota Polri di tengah masyarakat sejak pagi hari.

Kami harap pelayanan terhadap masyarakat harus lebih maksimal. Saya juga ucapkan terima kasih kepada seluruh anggota yang telah melaksanakan kegiatan layanan pagi ini.” ujarnya.

“Laksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab, profesional, humanis, dan jadikan kehadiran Polri benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.”pungkasnya ( roy)

Personil Polsek Ngimbang Gencar Gelar Patroli Blue Light Guna Daya Cegah Dan Tangkal 4C Di Daerah Rawan

0

Personil Polsek Ngimbang Gencar Gelar Patroli Blue Light Guna Daya Cegah Dan Tangkal 4C Di Daerah Rawan

LAMONGAN//Warta.in –Anggota jaga Polsek Ngimbang ini telah melaksanakan kegiatan Patroli Blue Light Harkamtibmas di malam hari guna cegah kriminalitas dan tangkal 4 C di wilayah Hukum Polsek Ngimbang, Senin (10/08/2026)pukul 23.00 Wib sampai selesai

Dalam Patroli Blue Light ini di laksanakan Anggota jaga Poksek Ngimbang Aiptu Muji. R, Aipda Zeni dan Brigadir Deni dengan sasaran Patroli jalan poros Ngimbang – Jombang, SPBU Ngimbang, ATM BRI Ngimbang dan Lapang Bola Voli Kakatpenjalin Ngimbang serta Masyarakat Ngimbang yang ada di Kecamatan Ngimbang.

Kapolsek Ngimbang AKP Andrian Permana, S.Tr. K. S. I.K, yang di wakili Wakapolsek Ngimbang Ipda Istiono, S.H, saat di hubungi Awak media menjelaskan bahwa, “Patroli Blue Light ini di laksanakan guna cegah dan antisipasi 4C, kejahatan dan premanisme serta untuk menjaga harkamtibmas guna cegah kriminalitas dan tangkal 4C di wilayah Kecamatan Ngimbang.”

Personil Patroli selalu menyampaikan pesan – pesan Keamanan dan ketertiban masyarakat khususnya kepada pengamanan Swakarsa atau security di Wilayah Ngimbang selalu waspada dengan situasi yg berkembang di sekitarnya,ungkapnya Kapolsek Ngimbang

Kami berkometmen dengan Secara rutin patroli di Obyek Vital untuk antisipasi terjadinya tindakan kriminal di Wilayah Ngimbang dengan cara memverikan himbauan kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan sehingga wilayah Ngimbang tetap aman dan kondusif,pungkasnya(roy)

Polsek Ngimbang Gelar Patroli Kamtibmas Di Obvit Guna Cegah Kriminalitas Dan Premanisme

0

Personil Polsek Ngimbang Gelar Patroli Kamtibmas Di Obvit Guna Cegah Kriminalitas Dan Premanisme

LAMONGAN//Warta.in –Anggota jaga Polsek Ngimbang hari ini telah melaksanakan kegiatan Patroli kamtibmas di Objek Vital (Obvit) guna cegah kriminalitas dan tangkal 4 C di wilayah Hukum Polsek Ngimbang, Senin siang (10/08/2026) pukul 10.00 Wib sampai selesai

Dalam Patroli Obyektif vital ini di dilaksanakan oleh Anggota jaga Polsek Ngimbang Aiptu Zeni, Brigadir Sujito dan Brigadir Deni dengan sasaran Jalan raya Ngimbang – Jombang, SPBU Ngimbang dan ATM BNI serta Masyarakat Ngimbang yang ada di Kecamatan Ngimbang.

Kapolsek Ngimbang AKP Andrian Permana, S.Tr.K.S.I.K, “Bahwa patroli yang di laksanakan oleh personil Polsek Ngimbang di Obyek Vital ini di laksanakan guna cegah dan antisipasi kejahatan dan premanisme untuk menjaga harkamtibmas guna cegah kriminalitas dan tangkal 4C di wilayah Kecamatan Ngimbang.

Untuk menyampaikan pesan – pesan Keamanan dan ketertiban masyarakat khususnya kepada pengamanan Swakarsa atau security di Wilayah Ngimbang selalu waspada dengan situasi yg berkembang di sekitarnya,ungkap Kapolsek Ngimbang

Kapolsek Ngimbang berkometmen dengan Secara rutin patroli di Obyek Vital di Wilayah Ngimbang sehingga tetap aman dan kondusif,pungkasnya(roy)

Semarak HUT Ke-81 RI, Pegawai Rutan Palembang Ikuti Donor Darah dan Pemeriksaan Kesehatan di LPKA Palembang

0

Warta.In | Palembang, 10 Agustus 2026 – Dalam rangka menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2026, Rumah Tahanan Negara Kelas I Palembang turut berpartisipasi dalam kegiatan donor darah dan pemeriksaan kesehatan yang dilaksanakan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Palembang, Selasa (10/08).

Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut merupakan bagian dari rangkaian Semarak HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di lingkungan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. Rutan Kelas I Palembang mengikutsertakan sejumlah pegawai untuk berpartisipasi dalam kegiatan donor darah sekaligus pemeriksaan kesehatan.

Sebelum melaksanakan donor darah, para peserta terlebih dahulu menjalani pemeriksaan kesehatan dan skrining oleh petugas kesehatan untuk memastikan kondisi tubuh dan kelayakan peserta sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pegawai yang memenuhi persyaratan kemudian mengikuti proses donor darah sebagai bentuk kepedulian sosial dan solidaritas terhadap sesama.

Selain donor darah, pemeriksaan kesehatan juga menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Melalui pemeriksaan ini, para pegawai diharapkan semakin peduli terhadap kondisi kesehatan serta termotivasi untuk menerapkan pola hidup sehat dalam menunjang pelaksanaan tugas dan fungsi sehari-hari.

Kepala Rutan Kelas I Palembang, **M. Rolan**, menyampaikan bahwa keikutsertaan jajaran Rutan Palembang dalam kegiatan tersebut merupakan wujud nyata dukungan terhadap rangkaian peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus bentuk kepedulian sosial jajaran Pemasyarakatan.

“Donor darah merupakan kegiatan sosial yang sederhana namun memiliki manfaat besar bagi sesama. Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat memberikan kontribusi positif sekaligus meningkatkan kepedulian dan kesadaran pegawai terhadap pentingnya kesehatan,” ujarnya.

Kegiatan berlangsung dengan penuh antusias dan semangat kebersamaan. Keikutsertaan pegawai Rutan Kelas I Palembang juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi serta memperkuat sinergi dan kebersamaan antar-Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan di wilayah Sumatera Selatan.

Dengan terlaksananya kegiatan donor darah dan pemeriksaan kesehatan secara aman, tertib, lancar, dan kondusif, Rutan Kelas I Palembang berkomitmen untuk terus mendukung berbagai kegiatan positif dalam rangka memperingati HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia serta membangun semangat kepedulian, solidaritas, dan kebersamaan di lingkungan Pemasyarakatan.

10 Dapur SPPG Operasional Di Bojong Layani 20 Ribu Lebih Penerima Manfaat

0

Warta.in, Purwakarta — Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta, terus diperkuat melalui koordinasi lintas sektor, pengawasan penerapan standar operasional prosedur (SOP), serta evaluasi rutin di seluruh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Koordinator Kecamatan (Korcam) SPPG Kecamatan Bojong, Wildan, mengatakan dirinya memiliki tanggung jawab membantu melakukan koordinasi dan pengawasan terhadap pelaksanaan program di seluruh dapur SPPG yang berada di wilayah Kecamatan Bojong.

Saat ini, tercatat 10 dapur SPPG telah beroperasional dengan jumlah penerima manfaat mencapai sekitar 20.400 orang.

Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena pendataan ulang penerima manfaat terus dilakukan, khususnya menyusul adanya penerimaan siswa baru di sejumlah satuan pendidikan.

“Sebagai Korcam, kami membantu melakukan koordinasi dan pengawasan terhadap pelaksanaan program di seluruh dapur SPPG yang ada di Kecamatan Bojong,” kata Wildan.

“Sesuai arahan Korwil, pengawasan dilakukan terhadap penerapan SOP di masing-masing dapur. Para relawan juga wajib mengikuti SOP yang sudah ditetapkan,” jelas Wildan menegaskan.

Perkuat Ekonomi Lokal, KDMP dan BUMDes Didorong Terlibat

Menurut Wildan, pelaksanaan MBG juga diharapkan tidak hanya memberikan manfaat dari sisi pemenuhan gizi, tetapi mampu menjadi salah satu penggerak roda perekonomian masyarakat di tingkat lokal.

Karena itu, berbagai potensi ekonomi yang tersedia di Kecamatan Bojong diharapkan dapat dilibatkan, termasuk pelaku usaha lokal, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), serta berbagai potensi lainnya yang dapat mendukung kebutuhan dapur SPPG.

Pengadaan bahan baku diupayakan mengutamakan potensi yang tersedia di wilayah setempat sebagai prioritas, dengan tetap memperhatikan kualitas, keamanan pangan dan standar yang telah ditetapkan dalam SOP.

“Potensi ekonomi lokal diharapkan dapat ikut bergerak. KDMP, BUMDes dan seluruh potensi yang tersedia di wilayah Kecamatan Bojong dapat mengambil peran dalam menggerakkan roda perekonomian rakyat. Bahan baku mengutamakan potensi yang tersedia di tingkat wilayah sebagai prioritas, dengan tetap memperhatikan standar kualitas sesuai SOP,” ujar Wildan.

Dengan demikian, keberadaan MBG diharapkan menciptakan efek berganda bagi masyarakat, mulai dari pemenuhan kebutuhan gizi hingga membuka ruang bagi pelaku ekonomi lokal untuk terlibat dalam rantai pasok program.

Evaluasi Internal Menjadi Kunci Perbaikan

Bagi pengelola SPPG di Kecamatan Bojong, evaluasi internal menjadi bagian penting untuk memastikan pelaksanaan program terus mengalami perbaikan.

Para pengelola SPPG se-Kecamatan Bojong secara rutin melakukan evaluasi bersama setiap hari Jumat setelah kegiatan pengajian malam Jumat.

Forum tersebut menjadi ruang bersama untuk mengevaluasi berbagai aspek pelaksanaan program, mulai dari ketersediaan dan kualitas bahan baku, proses produksi, pelayanan, kedisiplinan relawan hingga kepatuhan terhadap SOP.

Hasil evaluasi kemudian dijadikan bahan untuk melakukan perbaikan secara berkesinambungan.

“Evaluasi dilakukan secara intens, melakukan komunikasi horizontal dan vertikal, serta akselerasi koordinasi lintas sektoral supaya terbangun hubungan komunikasi yang baik,” kata Wildan.

Menurutnya, evaluasi bukan sekadar mencari kekurangan, melainkan menjadi instrumen untuk memastikan setiap persoalan yang ditemukan dapat segera ditindaklanjuti.

Libatkan Forkopimcam dalam Pengawasan

Pengawasan pelaksanaan MBG di Kecamatan Bojong juga terus diperkuat melalui komunikasi dan koordinasi dengan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam).

Wildan mengatakan, sesuai petunjuk Korwil, pihaknya mengagendakan kunjungan bersama Forkopimcam, terutama Camat Bojong dan para kepala desa, untuk melihat secara langsung kondisi penerima manfaat di lapangan.

Kunjungan tersebut tidak hanya bersifat seremonial. Pengelola SPPG juga memanfaatkannya untuk menerima masukan secara langsung dari penerima manfaat serta melihat sejauh mana keberadaan program MBG memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kami melakukan pengawasan bersama Forkopimcam dengan mengagendakan kunjungan bersama, terutama Bapak Camat dan kepala desa, kepada penerima manfaat. Sekaligus menerima masukan dari penerima manfaat dan melihat sejauh mana program ini bermanfaat bagi warga sekitar wilayah Bojong,” ungkapnya.

Selain berkoordinasi dengan Forkopimcam, pihaknya juga tengah melakukan safari komunikasi dengan sejumlah tokoh masyarakat di wilayah Kecamatan Bojong.

Langkah tersebut dilakukan untuk memperluas komunikasi sekaligus membangun dukungan masyarakat terhadap pelaksanaan program MBG.

Komunikasi Lintas Sektor Berjalan Baik

Wildan menyampaikan, komunikasi dan koordinasi dengan unsur pemerintahan serta aparat kewilayahan sejauh ini berjalan dengan baik.

Ia menyebut komunikasi dengan Camat Bojong berlangsung sangat baik dan mendapat dukungan terhadap pelaksanaan program MBG. Koordinasi dengan unsur TNI dan Polri di tingkat kecamatan juga terus dilakukan.

“Komunikasi dengan Bapak Camat berjalan sangat baik dan beliau selalu support. Komunikasi dengan Danramil dan Kapolsek juga berjalan dengan baik,” kata Korcam.

Selain kegiatan operasional, seluruh pengelola MBG dari dapur yang telah beroperasi juga melaksanakan kegiatan pengajian rutin dan kajian Islam yang kemudian dilanjutkan dengan evaluasi bersama.

Para pengelola juga mengadakan kegiatan Jumat Berkah bersama Forkopimcam sebagai salah satu bentuk penguatan kebersamaan sekaligus kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Dapur Goes to School dan Edukasi Gizi

Upaya meningkatkan kualitas pelaksanaan MBG tidak berhenti pada penyediaan dan pendistribusian makanan.

SPPG di Kecamatan Bojong, Purwakarta juga menyiapkan program Dapur Goes to School serta kelompok B3 sebagai bagian dari edukasi dan penguatan pemahaman mengenai pentingnya pemenuhan gizi.

Dalam kegiatan tersebut, Kepala SPPG bersama ahli gizi dan bagian akunting melakukan kunjungan kepada penerima manfaat sebanyak empat kali dalam satu bulan di wilayah kerja masing-masing.

Kegiatan tersebut menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya pemenuhan gizi, sekaligus memberikan kesempatan kepada pengelola SPPG untuk melihat secara langsung kondisi penerima manfaat serta memperoleh masukan dari lapangan.

Program ini diharapkan semakin memperkuat pemahaman bahwa MBG bukan hanya mengenai penyediaan dan pendistribusian makanan, tetapi juga bagian dari upaya membangun kesadaran mengenai pentingnya gizi bagi tumbuh kembang anak.

Kendala Dijadikan Bahan Evaluasi dan Perbaikan

Dalam menjalankan tugas sebagai Kepala SPPG sekaligus Korcam, Wildan mengakui bahwa dinamika dan berbagai kendala di lapangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan program.

Namun, setiap persoalan yang muncul tidak semestinya menjadi penghambat. Sebaliknya, persoalan tersebut dapat dijadikan bahan evaluasi untuk melakukan perbaikan.

Komunikasi intensif antara pengelola SPPG, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, aparat kewilayahan, tokoh masyarakat dan berbagai pihak terkait menjadi salah satu kunci dalam menyelesaikan berbagai persoalan.

Koordinasi lintas sektor pun terus diperkuat agar pelaksanaan program dapat berjalan semakin efektif, tepat sasaran dan memberikan manfaat yang semakin luas.

“Kerja Ikhlas dan Kerja Tuntas”

Menutup keterangannya, Wildan menyampaikan pesan kepada seluruh Kepala SPPG dan jajaran yang terlibat agar menjalankan amanah program tersebut dengan penuh tanggung jawab.

“Bismillah, kerja ikhlas dan kerja tuntas. Saya selalu berpesan kepada semua rekan-rekan Kepala SPPG, program ini bukan hanya sekadar memberikan makan bergizi, tetapi ada nilai ibadahnya,” tuturnya.

“Berikan sajian dan menu yang terbaik untuk anak-anak kita. Dan tidak lupa, selalu libatkan Allah SWT dalam setiap langkahnya,” imbuh Wildan.

Pesan tersebut menjadi semangat bagi para pengelola SPPG di Kecamatan Bojong untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan.

Sebab, keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari seberapa banyak makanan yang tersalurkan, tetapi juga dari kualitas gizi, keamanan pangan, ketepatan sasaran, penerapan SOP, pemberdayaan ekonomi lokal serta dampak nyata yang dirasakan masyarakat.

Dengan pengawasan yang berkelanjutan, evaluasi rutin, dukungan Forkopimcam, pemberdayaan pemasok lokal dan komunikasi lintas sektor, pelaksanaan program MBG di Kecamatan Bojong diharapkan semakin baik.

Pada akhirnya, program tersebut diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi penerima manfaat, tetapi juga mampu memberikan dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat Kecamatan Bojong serta berkontribusi dalam menyiapkan generasi penerus bangsa yang sehat dan berkualitas.

“Perkenankanlah kami para pengelola SPPG beserta seluruh relawan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami, sehingga program MBG di Kecamatan Bojong dapat berjalan dengan baik,” pungkas Wildan. (ds)

SPPG Bojong Sukamanah 2, Perkuat Pengawasan & Pemberdayaan Ekonomi Lokal

0

Warta.in, Purwakarta — Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta, terus diperkuat melalui pengawasan, evaluasi rutin, serta koordinasi lintas sektor.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan program berjalan optimal, mulai dari ketersediaan bahan baku, proses pengolahan makanan hingga pendistribusiannya kepada penerima manfaat.

Salah satu dapur yang terus melakukan penguatan dalam pelaksanaan program tersebut adalah SPPG Purwakarta Bojong Sukamanah 2. Dapur ini dipimpin Wildan, yang juga dipercaya mengemban amanah sebagai Koordinator Kecamatan (Korcam) SPPG Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta.

Wildan menjelaskan, saat ini SPPG Purwakarta Bojong Sukamanah 2 melayani sebanyak 1.827 penerima manfaat (PM). Penerima manfaat tersebut terdiri dari penerima manfaat di lingkungan sekolah serta kelompok B3.

Menurut Wildan, jumlah penerima manfaat yang cukup besar tersebut membutuhkan pengelolaan dapur yang terukur dan disiplin.

Karena itu, pihaknya tidak hanya berorientasi pada pemenuhan jumlah makanan yang harus disalurkan, tetapi juga memberikan perhatian serius terhadap kualitas bahan baku, proses produksi, kebersihan, hingga pendistribusian makanan.

“Dalam menjalankan operasional dapur SPPG, kami tidak hanya berfokus pada pemenuhan jumlah makanan yang harus disalurkan, tetapi juga memastikan kualitas bahan baku, proses pengolahan sampai pendistribusian berjalan sesuai standar operasional prosedur (SOP),” ujar Wildan kepada awak media, Senin (10/8).

Berdayakan Potensi Ekonomi Masyarakat Bojong

Selain menjalankan fungsi utama pemenuhan kebutuhan gizi penerima manfaat, SPPG Purwakarta Bojong Sukamanah 2 juga berupaya agar pelaksanaan MBG memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat di wilayah Kecamatan Bojong.

Salah satunya dilakukan melalui pemanfaatan bahan baku dari pemasok dan pelaku usaha lokal.

“Kebutuhan bahan baku sudah memberdayakan KDMP Sukamanah, peternak wilayah Bojong, beras dari wilayah Bojong, tahu dan tempe dari wilayah Bojong, serta sayuran,” ungkap Wildan.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat dan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok MBG merupakan bagian penting yang perlu terus dikembangkan.

Dengan memanfaatkan potensi yang tersedia di wilayah sekitar dapur, program MBG diharapkan tidak hanya memberikan manfaat berupa pemenuhan kebutuhan gizi bagi penerima manfaat, tetapi juga mampu menciptakan perputaran ekonomi di tingkat masyarakat.

Peternak, petani, pengusaha tahu dan tempe, pemasok beras, hingga pelaku usaha penyedia sayuran dapat ikut mengambil peran dalam mendukung keberlangsungan program.

Dengan demikian, keberadaan dapur SPPG diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas, baik dari aspek gizi maupun pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Kualitas Bahan Baku Menjadi Perhatian Utama

Untuk menjaga mutu makanan yang disalurkan, pengawasan terhadap bahan baku dilakukan sejak bahan pangan tiba di dapur.

Wildan mengatakan, setiap bahan baku yang datang harus mendapatkan perhatian dan pemantauan agar kualitasnya tetap terjaga sebelum masuk ke dalam proses produksi.

“Kami mengawasi dan memonitoring kualitas bahan baku yang datang, sehingga tetap terjaga kualitasnya dan hasilnya bisa dirasakan dengan baik. Selain itu, kami juga memastikan dapur berjalan sesuai SOP yang diterapkan,” katanya.

Pengawasan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas makanan yang nantinya dikonsumsi oleh para penerima manfaat.

Menurutnya, konsistensi dalam menjalankan SOP harus menjadi perhatian seluruh unsur yang terlibat dalam operasional dapur, sehingga setiap tahapan pelaksanaan MBG dapat berjalan secara tertib dan terkontrol.

Evaluasi Internal Dilakukan Setiap Pekan

Untuk memastikan berbagai kegiatan berjalan sesuai target, SPPG Purwakarta Bojong Sukamanah 2 juga melaksanakan evaluasi internal secara rutin.

Evaluasi tersebut dilaksanakan setiap hari Jumat setelah kegiatan pengajian malam Jumat. Forum evaluasi menjadi momentum bagi pengelola dapur untuk melihat berbagai hal yang telah berjalan sekaligus mengidentifikasi aspek-aspek yang masih perlu diperbaiki.

Pembahasan evaluasi mencakup berbagai aspek, mulai dari kualitas bahan baku, proses produksi, pelayanan, kedisiplinan relawan, hingga penerapan SOP di lingkungan dapur.

Hasil evaluasi selanjutnya dijadikan bahan untuk melakukan perbaikan secara berkesinambungan.

Wildan menegaskan bahwa evaluasi bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan bagian dari upaya membangun sistem kerja yang semakin baik.

“Evaluasi dilakukan secara intens, melakukan komunikasi horizontal dan vertikal, serta akselerasi koordinasi lintas sektoral supaya terbangun hubungan komunikasi yang baik,” ujar Wildan.

Koordinasi Lintas Sektor Terus Diperkuat

Sebagai Kepala SPPG sekaligus Korcam SPPG Kecamatan Bojong, Wildan juga menilai komunikasi dan koordinasi menjadi salah satu kunci dalam menjaga keberlangsungan program MBG.

Menurutnya, berbagai persoalan yang muncul di lapangan perlu dikomunikasikan dan dicarikan solusi secara bersama-sama. Dengan koordinasi yang baik, setiap unsur yang terlibat dapat memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing.

Penguatan komunikasi secara horizontal maupun vertikal juga diharapkan dapat mempercepat penyelesaian berbagai persoalan sekaligus meningkatkan kualitas pelaksanaan MBG di Kecamatan Bojong.

“Yang terpenting adalah membangun hubungan komunikasi yang baik, sehingga setiap persoalan dapat segera dikoordinasikan dan dicari solusi bersama,” tambahnya.

Dengan jumlah penerima manfaat yang mencapai 1.827 orang, SPPG Purwakarta Bojong Sukamanah 2 terus berupaya menjaga kualitas pelayanan.

Pengawasan bahan baku, penerapan SOP, evaluasi rutin, pemberdayaan pemasok lokal serta koordinasi lintas sektor menjadi bagian dari upaya memastikan program MBG dapat berjalan secara optimal.

Langkah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya ditentukan oleh tersalurkannya makanan kepada penerima manfaat.

Yang terpenting adalah bagaimana seluruh prosesnya dikelola secara tertib, berkualitas, berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar. (ds)

*MERDEKA UNTUK SIAPA?* ” *Ketika Rakyat Berdiri di Bawah Terik, Pejabat Duduk di Bawah Tenda*.”

0

*MERDEKA UNTUK SIAPA?*

” *Ketika Rakyat Berdiri di Bawah Terik, Pejabat Duduk di Bawah Tenda*.”

Oleh: Jurnalis PPWI

Di setiap upacara bendera, setiap kali Sang Merah Putih dikibarkan ke angkasa, dan setiap kali kita menyanyikan lagu kebangsaan dengan penuh rasa haru dan bangga, terlintaslah sebuah pertanyaan sederhana namun sangat mendalam, yang layak direnungkan oleh kita semua, tanpa terkecuali: kemerdekaan yang begitu mahal harganya ini, sesungguhnya dirasakan dan dinikmati oleh siapa?

Pertanyaan itu seakan terlukis dengan begitu nyata dalam sebuah gambar yang kini menjadi renungan bersama. Di satu sisi, terlihat rakyat, para siswa, dan para pendidik berdiri tegak menahan panasnya terik matahari, berkeringat, namun tetap menjaga sikap dan kesungguhan. Di sisi lain, terlihat sejumlah pejabat duduk dengan tenang, terlindungi di bawah atap tenda yang sejuk, menikmati hidangan dan kenyamanan di tengah suasana seremonial yang berjalan.

Tentu saja, kita tidak boleh serta-merta menjadikan satu lembar gambar sebagai bukti mutlak bahwa seluruh pejabat hidup dalam kemewahan sementara rakyat senantiasa menderita. Gambar itu jauh lebih bermakna apabila kita baca sebagai sebuah cermin, sebuah kritik sosial yang tulus, sekaligus simbol yang menyentuh hati tentang jarak yang kerap tercipta antara mereka yang memegang tampuk kekuasaan dengan rakyat yang sejatinya adalah sumber dari segala kekuasaan tersebut. Dan justru di sanalah pertanyaan tentang makna kemerdekaan menjadi begitu penting, begitu relevan, dan begitu mendesak untuk dijawab dengan jujur.

 

Kemerdekaan Bukan Sekadar Upacara dan Seremoni

Tahun 2026 ini, Bangsa Indonesia memasuki peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81, dengan tema yang begitu indah dan penuh harapan: Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur. Tiga kata yang tertulis dalam tema tersebut bukanlah sekadar rangkaian kata-kata indah yang dipajang di atas baliho, spanduk, atau panggung upacara. Di dalamnya tersimpan tiga tuntutan luhur yang menjadi janji sekaligus kewajiban negara kepada seluruh rakyatnya: kedaulatan yang teguh, keadilan yang nyata, dan kemakmuran yang dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Oleh karena itu, peringatan kemerdekaan sejatinya tidak boleh berhenti hanya pada barisan upacara, perlombaan yang meriah, pidato yang berapi-api, pemasangan bendera di tiang, maupun seremoni pemerintahan yang tertata rapi. Kemerdekaan baru benar-benar terasa dan bermakna ketika anak-anak bangsa mendapatkan pendidikan yang layak dan terjangkau; ketika para pendidik memperoleh penghargaan dan kesejahteraan yang pantas atas pengabdiannya; ketika para petani mendapatkan kepastian atas tanah dan hasil usahanya; ketika para pekerja memperoleh perlindungan yang menjamin kehidupannya; ketika seluruh masyarakat mendapatkan pelayanan publik yang adil dan merata; serta ketika setiap warga negara dapat menyampaikan pendapat dan kritiknya tanpa rasa takut diperlakukan sebagai musuh negara.

Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah menyatakan dengan tegas tujuan dibentuknya Pemerintah Negara Indonesia, yaitu untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Maka dari itu, ukuran keberhasilan kemerdekaan kita bukanlah seberapa megah panggung upacara yang kita bangun atau seberapa meriah perayaan yang kita gelar, melainkan seberapa jauh negara ini mampu mewujudkan keadilan dan kesejahteraan yang sesungguhnya bagi rakyatnya.

 

Kedaulatan Berada di Tangan Rakyat, Jabatan Adalah Amanah

Terdapat satu kalimat dalam konstitusi negara yang seharusnya senantiasa terngiang dan tertanam di dalam hati setiap orang yang memegang jabatan publik di negeri ini: “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar.” Demikian bunyi Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kalimat yang begitu pendek namun mengandung konsekuensi moral dan tanggung jawab yang sedemikian besarnya.

Artinya, jabatan publik bukanlah sebuah hak istimewa untuk menikmati kemewahan, kehormatan, dan kenyamanan semata. Jabatan adalah amanah suci yang dipercayakan oleh rakyat melalui mekanisme konstitusional, yang tujuannya tidak lain adalah untuk mengurus kepentingan rakyat itu sendiri. Maka, semakin tinggi kedudukan seseorang di dalam pemerintahan, seharusnya semakin besar pula tanggung jawabnya untuk merasakan kesulitan, memahami kebutuhan, dan memperjuangkan harapan rakyat yang telah mempercayainya.

Seorang pemimpin yang sejati tidak hanya hadir di tengah-tengah rakyat ketika kamera menyala dan upacara dimulai, melainkan hadir pula ketika rakyat sedang menghadapi kesulitan dan kesusahan. Ia tidak hanya berdiri di atas panggung yang megah ketika menerima penghormatan, melainkan bersedia turun ke tengah-tengah masyarakat ketika bantuan dan pertolongan dibutuhkan. Ia tidak hanya berbicara dengan lantang tentang kesejahteraan rakyat, melainkan memastikan setiap kebijakan yang dibuatnya benar-benar melahirkan kesejahteraan yang nyata bagi rakyatnya.

 

Demokrasi Kerakyatan: Rakyat Bukan Sekadar Objek Pemilu

Pemikiran luhur Bapak Proklamator Kemerdekaan, Mohammad Hatta, tentang demokrasi kerakyatan kiranya sangat relevan untuk kita renungkan kembali di masa kini. Dalam pandangan Bung Hatta, demokrasi yang sesungguhnya adalah demokrasi yang berpihak kepada rakyat. Rakyat adalah pemegang kedaulatan yang berhak menentukan bagaimana negara ini diperintah dan diurus. Namun kedaulatan itu juga harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab, kepatuhan kepada hukum, budaya musyawarah untuk mufakat, serta terwujudnya keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Artinya, demokrasi tidaklah cukup hanya dimaknai sebagai datang ke tempat pemungutan suara setiap lima tahun sekali. Demokrasi berarti pemerintah bersedia mendengarkan suara rakyat. Demokrasi berarti pejabat bersedia dikritik dan diperbaiki kesalahannya. Demokrasi berarti setiap kebijakan publik dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka dan jujur. Dan demokrasi yang sehat berarti rakyat tidak boleh hanya dijadikan objek sanjungan ketika masa pemilihan umum tiba, lalu dilupakan begitu saja setelah kekuasaan berhasil diraih.

 

Berteduh Boleh, Namun Jangan Kehilangan Kepekaan Hati

Tentu saja, berteduh di bawah atap, menikmati hidangan, dan memperoleh kenyamanan bukanlah sebuah kesalahan yang patut dikutuk. Pejabat adalah manusia biasa seperti kita semua, yang juga membutuhkan perlindungan dari panas dan hujan, makanan yang layak, serta tempat yang nyaman untuk beristirahat. Persoalannya bukanlah pada tenda yang berdiri atau hidangan yang tersaji. Persoalannya terletak pada kepekaan hati.

Ketika seorang pemimpin duduk di tempat yang sejuk dan nyaman, apakah hatinya masih mampu merasakan kepanasan yang dirasakan rakyat yang berdiri di bawah terik matahari? Ketika ia menikmati segala fasilitas yang disediakan oleh negara, apakah pikirannya masih tertuju pada warga yang masih bersusah payah memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari? Ketika ia menerima penghormatan dalam setiap langkahnya, apakah ia masih ingat sepenuhnya bahwa kedudukannya itu berasal dari mandat rakyat yang telah mempercayainya?

Pertanyaan-pertanyaan tadi bukanlah tuduhan kepada perseorangan atau kelompok tertentu. Pertanyaan itu adalah pantulan cermin bagi seluruh kita yang memegang kekuasaan publik, agar senantiasa menjaga hati dan menjaga jarak agar tidak terlalu jauh dari rakyat. Sebab, kekuasaan yang tidak disertai kepekaan sosial perlahan-lahan akan menciptakan jurang pemisah yang semakin lebar. Dan apabila jarak antara penguasa dengan rakyat semakin menjauh, maka benih-benih ketidakpercayaan pun perlahan-lahan akan tumbuh dan berkembang.

 

Kekuasaan Tanpa Etika Akan Menjauh dari Rakyat

Pemikiran mendalam dari almarhum Franz Magnis-Suseno, seorang filsuf dan pemikir besar bangsa ini, juga sangat layak kita perhatikan kembali. Beliau menegaskan bahwa sebaik apa pun struktur pemerintahan yang kita bangun, kualitas moral orang-orang yang menjalankan kekuasaan itu tetap menjadi hal yang paling menentukan. Aturan yang sempurna saja tidak akan berarti apabila dijalankan oleh mereka yang tidak memiliki integritas dan kejujuran.

Artinya, undang-undang dan peraturan saja tidak cukup untuk menjamin keadilan. Diperlukan kejujuran hati. Diperlukan rasa malu apabila melakukan kesalahan. Diperlukan keberanian untuk mengakui kekeliruan dan memperbaikinya. Dan yang tidak kalah penting, diperlukan kesediaan untuk menempatkan kepentingan rakyat dan kepentingan negara di atas kepentingan diri sendiri, keluarga, maupun golongan. Inilah yang sering kali terlupakan dalam perbincangan kita tentang pemerintahan: kita terlalu banyak berbicara tentang jabatan dan kekuasaan, namun terlalu jarang berbicara tentang watak, karakter, dan kejujuran orang yang memegang kekuasaan tersebut.

 

Kemerdekaan Adalah Milik Seluruh Rakyat, Bukan Milik Penguasa Saja

Kemerdekaan yang kini kita rayakan setiap tahun ini tidaklah diperjuangkan hanya oleh para pejabat atau penguasa semata. Kemerdekaan Indonesia diperjuangkan dengan darah, air mata, dan pengorbanan oleh rakyat dari segala lapisan kehidupan: petani yang mencangkul di ladang, nelayan yang mengarungi samudra, buruh yang bekerja keras, guru yang mendidik dengan tulus, pemuda yang berjuang dengan pena dan senjata, para ulama yang mendoakan dan membimbing, para perempuan yang berjuang di garis belakang, serta jutaan rakyat biasa yang namanya mungkin tidak tercatat dalam lembaran buku sejarah, namun menjadi tiang penyangga tegaknya kemerdekaan ini.

Oleh karena itu, tidak boleh muncul kesan bahwa hasil kemerdekaan ini hanya dinikmati oleh segelintir orang yang berkuasa. Kemerdekaan harus terasa kehadirannya di desa maupun di kota. Di gedung pemerintahan yang megah maupun di pasar yang ramai. Di ruang kelas sekolah maupun di hamparan sawah yang hijau. Di ruang rapat para pejabat maupun di rumah-rumah sederhana rakyat kecil. Apabila rakyat masih merasa bahwa negara ini terasa jauh dari kehidupannya sehari-hari, maka sesungguhnya tugas dan perjuangan kemerdekaan kita belum selesai sepenuhnya.

 

Seremoni Boleh Megah, Namun Substansi Jangan Hilang

Pemerintah pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia ini juga telah membuka ruang partisipasi masyarakat dalam memilih logo resmi kemerdekaan. Berdasarkan informasi yang telah dipublikasikan, pemilihan logo tersebut dilakukan melalui jajak pendapat pada tanggal 24 hingga 28 Juni 2026, yang diikuti oleh sebanyak 68.569 suara dari masyarakat yang tersebar di berbagai daerah maupun perantau Indonesia di luar negeri. Langkah tersebut patut kita apresiasi sebagai bukti bahwa hal-hal yang berkaitan dengan simbol kenegaraan pun dapat melibatkan suara dan kehendak rakyat.

Namun demikian, semangat partisipasi rakyat itu seharusnya tidak berhenti hanya pada pemilihan gambar atau lambang semata. Semangat yang sama harus hadir pula dalam setiap langkah pembuatan kebijakan publik: rakyat didengar suaranya, dilibatkan pikirannya, diberi ruang untuk mengawasi jalannya pemerintahan, serta memperoleh informasi yang jujur, terbuka, dan transparan. Sebab, kemerdekaan yang sejati bukan hanya berarti rakyat ikut memilih lambang negara, melainkan rakyat juga memiliki ruang yang luas untuk ikut menjaga, mengawal, dan menentukan arah perjalanan bangsa ini ke masa depan.

 

Pemimpin Harus Merasakan, Bukan Hanya Berpidato

Ada sebuah kalimat yang begitu sederhana namun sangat dalam maknanya, yang layak kita jadikan bahan renungan bersama: Pemimpin bukan hanya pandai berpidato di atas panggung, melainkan harus mampu merasakan dan bersedia berdiri bersama rakyat.

Kalimat itu bukan bermaksud menyuruh setiap pemimpin untuk selalu berdiri di bawah terik matahari hingga kepanasan. Maknanya jauh lebih dalam dan luas daripada itu. Seorang pemimpin harus mampu merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatnya. Ia harus memahami kesulitan yang dihadapi masyarakat, memahami harapan yang dipendamkan di dalam hati rakyat, dan mengambil keputusan berdasarkan kepentingan rakyat yang paling luas. Seorang pemimpin boleh saja menempati rumah dinas yang layak, boleh menggunakan kendaraan dinas sesuai ketentuan, dan boleh menerima penghormatan dalam acara kenegaraan. Namun semua itu hendaknya dipahami sebagai kebutuhan jabatan dan amanah negara, bukan sebagai hak istimewa yang boleh dinikmati tanpa rasa syukur dan tanggung jawab.

 

Kemerdekaan Lebih dari Sekadar Bebas Penjajahan

Makna kemerdekaan di masa kini telah berkembang jauh melampaui sekadar terbebas dari penjajahan bangsa asing. Kemerdekaan yang sesungguhnya berarti terbebas dari belenggu kemiskinan yang ekstrem, terbebas dari kebodohan dan ketidaktahuan, terbebas dari ketidakadilan dan perlakuan yang tidak adil, terbebas dari diskriminasi, terbebas dari korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, serta terbebas dari rasa takut untuk menyampaikan kebenaran dan pendapat yang jujur.

Oleh karena itu, pertanyaan “Merdeka untuk siapa?” yang kita ajukan di awal tulisan ini, tidak boleh dianggap sebagai pertanyaan yang mengganggu atau tidak pada tempatnya. Pertanyaan itu justru perlu senantiasa kita pelihara dan kita tanyakan kepada diri kita sendiri, agar semangat kemerdekaan tidak menjadi tumpul dan luntur. Sebab, bangsa yang sehat dan kuat bukanlah bangsa yang hanya pandai memuji pemerintah dan penguasanya, melainkan bangsa yang tetap mencintai tanah airnya sekaligus berani mengingatkan dan mengoreksi jalannya pemerintahan apabila terjadi penyimpangan dari jalan yang benar.

 

Penutup: Kemerdekaan Harus Benar-Benar Terasa oleh Seluruh Rakyat

Pada akhirnya, gambaran rakyat berdiri di bawah terik matahari sementara pejabat duduk di bawah atap yang teduh itu, sebaiknya tidak kita baca sebagai kebencian atau permusuhan antara rakyat dan pemerintah. Kita tidak membutuhkan pertentangan semacam itu. Yang kita butuhkan justru sebaliknya: kita membutuhkan jembatan yang kokoh menghubungkan penguasa dengan rakyat. Pejabat membutuhkan dukungan rakyat agar pemerintahan berjalan lancar. Rakyat membutuhkan pemerintahan yang baik agar kehidupannya tertata aman dan sejahtera. Negara membutuhkan keduanya berjalan beriringan dalam harmoni agar cita-cita kemerdekaan dapat tercapai.

Maka, pada peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 ini, barangkali pertanyaan yang jauh lebih penting dan mendesak untuk kita jawab bersama bukanlah seberapa meriah perayaan yang kita gelar, melainkan: Seberapa jauh kemerdekaan ini telah dirasakan manfaatnya oleh seluruh rakyat Indonesia?

Apabila anak-anak dapat bersekolah dengan tenang dan layak, apabila para pendidik mengajar dengan sejahtera dan dihargai, apabila petani memperoleh penghasilan yang pantas dari hasil kerjanya, apabila pekerja terlindungi hak-haknya, apabila masyarakat memperoleh pelayanan yang adil, dan apabila setiap orang dapat menyampaikan pendapatnya tanpa rasa takut, maka kemerdekaan itu telah menemukan maknanya yang sejati.

Sebaliknya, apabila kemerdekaan ini hanya dirayakan di atas panggung yang megah, sementara sebagian rakyat masih harus berdiri menahan panasnya matahari, dan sebagian kecil orang yang berkuasa terus menikmati segala kenyamanan tanpa peduli keadaan rakyat di sekelilingnya, maka marilah kita bertanya kembali kepada diri kita sendiri dengan jujur: Untuk apa kemerdekaan ini diperjuangkan oleh para pahlawan terdahulu, apabila hasilnya belum dirasakan secara adil dan merata oleh seluruh rakyat Indonesia?

Kemerdekaan ini bukanlah milik para pejabat semata. Kemerdekaan ini adalah milik seluruh rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote. Dan tugas berat para pemimpin dan penguasa negeri ini bukanlah sekadar merayakan kemerdekaan dengan penuh kemegahan, melainkan memastikan bahwa kemerdekaan itu benar-benar terasa manfaatnya oleh setiap anak bangsa, tanpa ada satu pun yang tertinggal.

Merdeka! Merdeka! Merdeka!

(Tim Redaksi)