Samosir, warta.in – Tanggapan Harapan Situmorang tentang Kata-kata yang sering diucapkan.*

Hal yang perlu dijelaskan, diluruskan supaya tidak bias dan tidak salah dipahami/dimengerti (sesuai Firman Tuhan) tentang keadaan orang yang sudah meninggal hubungannya dengan adat dan kebiasaan orang (apalagi orang Kristen) melalui berucap ; berkata sebagai berikut :
1. Nunga dijou/dialap Tuhanta.
2. Naung jumolo mandapothon Tuhanta ;
Nunga hundul di siamun ni Debata ;
Sonang ma di lambung ni Tuhan.
3. Nasa jolma ingkon mate.
4. Mamangkuli naung monding.
Keempat statement/perkataan ; ucapan di atas, itulah yang sering (selalu) diucapkan banyak orang (orang Kristen), jika ada saudara kita yang meninggal/berdukacita.
*Kejadian 1 : 27 (TB) Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia ; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka.*
*Kejadian 2 : 7 ( TB ) ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya ; demikianlah manusia itu manjadi makhluk yang hidup.*
1) Nunga dijou/dialap Tuhanta.
Nunga dijou/dialap Tuhanta arti harfiahnya Sudah dipanggil Tuhan kita. Kata-kata ini selalu/sering diucapkan orang, jika ada orang yang meninggal/marujung ngolu. Perkataan ini sangat bertentangan dengan Alkitab dan karakter Tuhan, karena Tuhan tidak menghendaki kematian manusia yang diciptakanNya. Namun karena kedegilan manusia yg selalu mengeraskan hatinya kedalam dosa, sehingga Tuhan ijinkan kematian itu terjadi “Upah dosa adalah maut”. Namun Tuhan tidak memanggil manusia itu mati/meninggal, sebaliknya Tuhan menghendaki supaya jangan ada yang binasa, menginginkan keselamatan.
*Mazmur 35 : 27 (TB) Biarlah bersorak-sorai dan bersukacita orang-orang yang ingin melihat aku dibenarkan ! Biarlah mereka tetap berkata : “TUHAN itu benar, Dia menginginkan keselamatam hambaNya” !*
*2 Petrus 3 : 9 (TB) Tuhan tidak lalai menepati janjinya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.*
2) Naung jumolo mandapothon Tuhanta ;
Nunga hundul di siamun ni Debata ;
Sonang ma di lambung ni Tuhan.
Naung jumolo mandapothon Tuhanta arti harfiahnya Sudah duluan menemui Tuhan kita.
Nunga hundul di siamun ni Debata arti harfiahnya Sudah duduk di sebelah kanan Allah. Sonang ma di lambung ni Tuhan arti harfiahnya Bahagia di samping Tuhan.
Kata-kata ini juga sering diucapkan oleh banyak orang, jika ada yg berduka terlebih di saat mandok hata dalam acara penghiburan bagi keluarga yg berduka dengan berkata : “Naung jumolo mandapothon Tuhanta ; Nunga hundul di siamun ni Debata di Banua Ginjang ; Sonang ma di lambung ni Tuhan.
Ucapan ini sangat bertentangan dengan Alkitab, karena orang yang meninggal masih ada di dalam makam/tanah sebagaimana kita antarkan ke udean tempat peristirahatan sementara.
Debu Tanah (DT) yaitu Tubuh (Raga) + Nafas Hidup (NH) yaitu Roh (Jiwa) = Makhluk Hidup (MH) yaitu Tubuh (Raga) dan Roh (Jiwa) ialah Manusia.
Apabila Nafas Hidup (NH) yaitu Roh (Jiwa) berpisah dari Debu Tanah (DT) yaitu Tubuh (Raga) inilah yang disebut kematian ; dimana Nafas Hidup (NH) yaitu Roh (Jiwa) kembali kepada yang memberi yaitu Allah (penghembus Nafas Hidup) di Firdaus yaitu Sorga, sementara Debu Tanah (DT) yaitu Tubuh (Raga) kembali ke tanah sebagaimana dilaksanakan acara pemakaman/penguburan.
Debu Tanah (DT) yaitu Tubuh (Raga) – Nafas Hidup (NH) yaitu Roh (Jiwa) = Mati/Meninggal.
*Pengkhotbah 12 : 7 ( TB ) dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya.*
Berdasarkan ayat ini menyatakan bahwa Roh yang disebut Tondi (hata Batak) tidak gentayangan kemana-mana termasuk tidak datang ke udean, parbandaan, tambak, tugu dan lain-lain bukan seperti yang ditafsirkan dalam budaya, adat kita bahwa apabila kita datang jiarah ke makam, udean, parbandaan, tambak, tugu dan lain-lain selalu membawa tomitomian sebagai sesembahan, pelepelean seperti membawa sirih/demban, rokok, unte pangir dan jenis yang lain karena kita bertemu dengan Roh orang tua/ompung kita (bahasa Batak ; Tondi, Simangot, Sahala)
3) Nasa jolma ingkon mate.
Nasa jolma ingkon mate/ingkon mate do sude arti harfiahnya Harus meninggal semua orang ; Semua orang akan meninggal. Pernyataan dan ucapan ini sering diucapkan orang pada saat kejadian berdukacita, terlebih di acara penghiburan, bukan saja orang awan bahkan Parhalado ni Huria. Ini berseberangan/berlawanan dengan Firman Tuhan melalui Alkitab, benar kata Alkitab “Upah dosa adalah maut” tetapi bukanlah berarti semua manusia akan mati.
*1 Tesalonika 4 : 16,17 (TB) Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit ; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.*
Ayat ini sangat jelas mengatakan, bahwa tidak semua manusia akan mati, ada yang hidup yang masih tinggal menyongsong TUHAN pada waktu kedatanganNya yang kedua kali.
Di dalam Alkitab, ada 2 (dua) orang yang hidup masuk sorga tanpa kematian sebagai buah sulung bahwa manusia tidak semua meninggal/mati yakni Henokh dalam Kejadian 5 : 23,24 (TB) dan Elia dalam 2 Raja-raja 2 : 11 (TB)
4) Mamangkulingi naung monding.
Mamangkulingi naung monding arti harfiahnya Berbicara dengan orang yang sudah meninggal. Sering terjadi di saat acara penghiburan, saat seseorang mandok hata di depan peti jenazah berkata kepada orang yang meninggal : “Borhat ma damang/dainang mandapothon Tuhanmu” dohot angka hata naasing dope. Hape nunga sala tu hata ni Tuhanta, ai so diboto na monding/mate be angka na masa.
*Pengkhotbah 9 : 5 (TB) Karena orang-orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati, tetapi orang yang mati tak tahu apa-apa, tak ada upah lagi bagi mereka, bahkan kenangan kepada mereka sudah lenyap.*
Sesuai dengan ayat di atas, orang yang mati/monding tak tahu apa-apa, alai boasa ma hita mamangkulingi naung mate jala mandok : “Borhat ma damang/dainang mandapothon Tuhanmu” ninna hita.
Ada banyak juga membawa sesembahan, pelepelean ke makam, udean, parbandaan, tambak, tugu dan lain-lain, demikian juga memasukkan sesuatu barang/benda kenangan, yang seharusnya tidak perlu karena orang yang mati tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak tahu apa-apa, tetapi ada janji bahwa akan ada kebangkitan bagi orang yang percaya pada waktu Kedatangan Yesus Kristus yang kedua kalinya.
Bagaimana kaitannya dengan penghormatan kita kepada orang tua kita dan siapa saja yang kita kasihi, bahwa penghormatan itu kita lakukan di masa orang tua kita masih hidup bukan sesudah mereka sudah tiada.
Kita boleh datang untuk jiarah ke makam, udean, parbandaan, tambak, tugu dan lain-lain, disanalah meditasi untuk berdoa kepada Tuhan Khalik Pencipta yang kita sembah, namun jangan berbicara kepada orang yang sudah meninggal.
Demikian pencerahan berdasar Alkitab ; Firman Tuhan atas beberapa perkataan dan perlakuan kita yg percaya Yesus Kristus yg bertentangan dengan prinsip dasar kebenaran. Penulis : *Harapan Situmorang.**@Pemerhati Pendidikan & Sosial.* (red)






























