Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

Somuntul Bunga Jalan Pasaribu “Tuan Sariburaja”: Disambut Ratusan Warga di Tano Ponggol Di Masanya

Pangururan, warta.in – Nama Somuntul Bunga Jalan Pasaribu, atau yang lebih dikenal dengan gelar Tuan Sariburaja, tak pernah lekang oleh waktu dalam ingatan masyarakat Pangururan, yang kini masuk wilayah Kabupaten Samosir.

Lahir tepat pada 4 Mei 1916, beliau bukan sekadar pengusaha sukses, melainkan Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia yang sangat dicintai rakyatnya.
Beliau beristrikan Tamelan boru Naibaho Sitangkaraen.

Penyambutan Hangat di Dermaga Tano Ponggol

Pada masa itu, akses menuju Pangururan didominasi jalur air. Setiap kali pulang kampung, kapal yang ditumpangi beliau pasti merapat di Dermaga Tano Ponggol.
Jalan dari dermaga hingga kediamannya saat itu masih berupa hamparan tanah lapang yang luas.
Berdasarkan cerita turun-temurun, sepanjang jalan tersebut sudah berjejer warga dari berbagai dusun untuk menyambut kedatangannya.
Suasana begitu hangat dan meriah. Beliau tak hanya menyapa dan bersalaman, tetapi juga dikenal sangat dermawan—satu per satu warga yang menyapa diserahkan uang sebagai tanda kasih sayang dan perhatian terhadap sesama.

Karena peristiwa ini terekam dalam ingatan warga dan tidak ada catatan resmi angka pastinya, diperkirakan pada penyambutan biasa hadir sekitar 100 hingga 500 orang. Jumlah ini bisa jauh lebih besar saat momen hari raya atau acara adat, bahkan mencapai ribuan orang dari berbagai pelosok Pangururan.

Biografi Singkat

Somuntul Bunga Jalan Pasaribu – Tuan Sariburaja
(4 Mei 1916 – 11 Mei 1986) | Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia Asal Samosir
Beliau lahir di Pangururan, Pulau Samosir, dan hidup melewati masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, hingga masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Atas pengabdiannya, pemerintah menganugerahi status Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia, dan makamnya ditetapkan sebagai Makam Perintis Kemerdekaan RI.

Masa Muda dan Perjuangan

Sejak muda, Tuan Sariburaja dikenal pekerja keras, berjiwa kepemimpinan, dan peduli tinggi terhadap nasib masyarakat.
Pada masa pendudukan Jepang, beliau bahkan beberapa kali ditahan karena keberaniannya membela kepentingan bangsa Indonesia.

Pelopor Usaha dan Tokoh Masyarakat

Setelah kemerdekaan, beliau menjadi pelopor dunia usaha di Pangururan:
• Perintis layanan angkutan bus pertama di kawasan Samosir
• Pemilik kilang padi yang membantu menggerakkan ekonomi warga
• Tokoh masyarakat yang dihormati atas kepemimpinan dan pengabdiannya

Keberhasilan usahanya membuka akses transportasi serta memperkuat kegiatan ekonomi masyarakat setempat.

Kiprah Politik dan Pertemuan Kenangan

Beliau aktif sebagai pengurus Partai Nasional Indonesia (PNI).
Ketika Presiden Ir. Soekarno berkunjung ke wilayah Tapanuli pada dekade 1950-an, Tuan Sariburaja termasuk tokoh yang ikut menyambut langsung kedatangan Kepala Negara.

Kehidupan Keluarga dan Peristirahatan Terakhir

Dari pernikahannya dengan Tamelan boru Naibaho Sitangkaraen, lahir putri-putri yang kemudian menyambung kehidupan keluarga besar.
Putri bungsunya, Maria Magdalena boru Pasaribu, menikah dengan Raja Patuan Sori Sinambela, keturunan Raja Sisingamangaraja XII.

Tuan Sariburaja wafat pada 11 Mei 1986 dalam usia 70 tahun.
Beliau dimakamkan berdampingan dengan istrinya di kompleks pemakaman belakang HKBP Pangururan Gereja Bolon.

Sekitar tahun 1996–1997, Departemen Sosial membangun penanda khusus di lokasi tersebut sebagai penghormatan resmi.

Warisan Keteladanan

Hingga kini, nama Tuan Sariburaja dikenang sebagai tokoh yang menyatukan semangat perjuangan, jiwa wirausaha, kepemimpinan, dan pengabdian tulus.
Beliau membuktikan bahwa perjuangan bagi bangsa tidak hanya dilakukan di medan perang, melainkan juga melalui pembangunan ekonomi, pelayanan kepada sesama, dan menjaga nilai kehidupan berbangsa (red)

Berita Terkait