Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

R Wendeilyna Simarmata, Yuk Simak, Ketika Poto Presiden Tampil Di Ibadah Jubileum 165 Tahun HKBP Di GBK

Jakarta, warta.in – Perayaan Jubileum ke-165 Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) yang mencapai puncaknya melalui ibadah syukur dan Perjamuan Kudus di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu, 18 Oktober 2026, menjadi momentum bersejarah bagi perjalanan pelayanan gereja.
Namun, di tengah sukacita perayaan tersebut, tampilnya banner bergambar Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memunculkan pertanyaan reflektif yang patut direnungkan setiap orang percaya: ketika umat berkumpul untuk beribadah kepada Tuhan, siapakah yang seharusnya menjadi pusat perhatian dan menerima kemuliaan tertinggi?
Pertanyaan ini bukan dimaksudkan untuk menyerang Presiden, merendahkan pemerintah, ataupun menghakimi HKBP. Persoalannya jauh lebih mendasar, yakni bagaimana gereja menempatkan simbol, kekuasaan, penghormatan kepada manusia, dan kemuliaan Allah dalam sebuah kegiatan yang disebut ibadah.
Dalam iman Kristen, jawabannya jelas: manusia dapat dihormati, tetapi hanya Tuhan yang layak menerima penyembahan dan kemuliaan tertinggi.
  1. Yesaya 42:8: Kemuliaan Tuhan Bukan untuk Dialihkan kepada Manusia

Firman Tuhan dalam Yesaya 42:8 menyatakan:
“Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung.”
Ayat ini mengandung prinsip mendasar dalam iman kepada Allah. Kemuliaan yang menjadi hak Allah tidak boleh dialihkan kepada sesuatu atau seseorang yang ditempatkan sebagai pengganti-Nya.
Karena itu, setiap gereja patut menguji kembali orientasi pelayanannya. Apakah seluruh rangkaian ibadah benar-benar mengarahkan jemaat kepada Tuhan? Apakah simbol-simbol yang ditampilkan sudah ditempatkan secara proporsional? Apakah kemegahan acara mendukung penyembahan, atau justru berpotensi mengalihkan perhatian dari tujuan rohaninya?
Pertanyaan tersebut layak diajukan, termasuk dalam evaluasi penyelenggaraan Jubileum ke-165 HKBP.
Namun, harus ditegaskan pula bahwa keberadaan foto Presiden pada sebuah banner tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa gereja telah menyembah manusia atau merampas kemuliaan Tuhan. Penilaian demikian membutuhkan pemahaman mengenai konteks, maksud, penempatan, dan penggunaan banner tersebut.
Kritik yang kuat tidak perlu membangun tuduhan yang belum terbukti. Justru dengan berpijak pada firman Tuhan dan fakta yang dapat diperiksa, evaluasi terhadap penyelenggaraan ibadah akan menjadi lebih bertanggung jawab.
  1. Pertanyaan Kritis: Apa Tujuan Banner Presiden dalam Ibadah?

Foto yang menjadi bahan refleksi memperlihatkan banner bergambar Presiden Prabowo Subianto. Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam tulisan ini, Presiden tidak hadir secara langsung dalam ibadah tersebut.
Keadaan ini menimbulkan sejumlah pertanyaan yang patut dijawab secara terbuka oleh pihak penyelenggara.
Apa tujuan pemasangan banner tersebut? Apakah sebagai bentuk penghormatan kepada kepala negara, bagian dari konsep visual perayaan, atau memiliki tujuan lain? Bagaimana penempatannya ditentukan, dan apakah telah dipertimbangkan kesesuaiannya dengan suasana ibadah?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan tuduhan, melainkan permintaan penjelasan yang wajar dalam sebuah perayaan gerejawi berskala besar.
Mengapa persoalan ini penting?
Karena ibadah bukan sekadar pertunjukan, seremoni kenegaraan, atau panggung untuk menampilkan tokoh-tokoh penting. Ibadah adalah persekutuan umat dengan Tuhan, tempat firman diberitakan, doa dipanjatkan, dan iman diperbarui.
Gereja tentu boleh menghormati Presiden sebagai kepala negara. Akan tetapi, penghormatan tersebut harus memiliki batas dan proporsi yang jelas agar tujuan utama ibadah tidak kehilangan penekanan.
Yang perlu dievaluasi bukan semata-mata siapa yang gambarnya ditampilkan, melainkan mengapa gambar itu ditampilkan, bagaimana penggunaannya, dan apakah seluruh penyelenggaraan tetap mengarahkan umat kepada Tuhan.
  1. Mazmur 115:1: Bukan kepada Kami, tetapi kepada Nama Tuhan
Pemazmur menyampaikan pengakuan iman yang sangat kuat:
“Bukan kepada kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan.” — Mazmur 115:1.
Ayat ini seharusnya menjadi pedoman bagi setiap pelayanan gereja, termasuk bagi para pemimpin, pendeta, panitia, dan seluruh jemaat.
Kemuliaan Tuhan tidak ditentukan oleh megahnya panggung, besarnya jumlah peserta, banyaknya tokoh yang hadir, ataupun tingginya jabatan seseorang. Kemuliaan Tuhan dinyatakan ketika umat sungguh-sungguh menyembah-Nya, hidup dalam kebenaran, mengasihi sesama, dan menjalankan panggilan pelayanan.
Dalam konteks Jubileum HKBP, pertanyaan yang lebih mendalam adalah: apakah perayaan ini membawa jemaat semakin dekat kepada Kristus? Apakah momentum bersejarah ini memperbarui kesetiaan kepada firman Tuhan? Apakah hasilnya tampak dalam kehidupan jemaat dan pelayanan gereja?
Pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar memperdebatkan sebuah gambar.
Namun, simbol tetap memiliki arti. Karena itu, gereja perlu bijaksana dalam menentukan unsur visual, tata panggung, dan bentuk penghormatan dalam ibadah. Segala sesuatu hendaknya ditempatkan sesuai dengan tujuan dan konteksnya.
  1. 1 Korintus 10:31: Segala Sesuatu Harus untuk Kemuliaan Allah

Rasul Paulus menulis:
“Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” — 1 Korintus 10:31.
Prinsip ini tidak hanya berlaku bagi kehidupan pribadi orang Kristen. Prinsip yang sama patut menjadi bahan evaluasi dalam kegiatan pelayanan bersama.
Jika makan dan minum saja diarahkan untuk kemuliaan Allah, terlebih lagi sebuah ibadah raya yang melibatkan puluhan ribu jemaat.
Setiap keputusan penyelenggaraan semestinya diuji melalui pertanyaan sederhana: apakah keputusan ini membantu umat memuliakan Tuhan?
Pemasangan banner, pemilihan simbol, tata panggung, susunan acara, sambutan pejabat, dan bentuk penghormatan kepada tokoh publik seharusnya dipertimbangkan dalam kerangka tersebut.
Tidak berarti semua simbol yang berkaitan dengan negara harus dilarang dalam kegiatan gereja. Gereja tetap berada di tengah kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Akan tetapi, simbol-simbol tersebut tidak boleh mengaburkan perbedaan antara penghormatan sosial dan penyembahan rohani.
  1. Keluaran 34:14: Allah Menuntut Kesetiaan dalam Penyembahan

Keluaran 34:14 menyatakan bahwa Tuhan adalah Allah yang cemburu.
Dalam konteks Alkitab, pernyataan ini menegaskan kesetiaan Allah terhadap umat perjanjian-Nya dan larangan menyembah ilah lain. Ini bukan kecemburuan manusia yang lahir dari iri hati, melainkan penegasan mengenai kesetiaan eksklusif dalam penyembahan kepada Allah.
Karena itu, umat Kristen harus berhati-hati agar jabatan, kekuasaan, popularitas, kekayaan, atau kekaguman terhadap manusia tidak mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik Tuhan.
Tetapi prinsip tersebut juga harus diterapkan dengan benar. Menghormati seorang Presiden tidak otomatis berarti menyembahnya. Menghargai pejabat negara tidak otomatis berarti mengompromikan iman.
Presiden menjalankan kedudukan dalam tata negara, sedangkan Tuhan menjadi pusat penyembahan dalam iman Kristen. Kedua hal ini tidak boleh dicampuradukkan.
Dengan demikian, kritik terhadap banner Presiden dalam ibadah Jubileum HKBP hendaknya diarahkan pada kepantasan, tujuan, dan proporsi penggunaannya, bukan pada serangan pribadi terhadap Presiden atau prasangka terhadap keyakinan seseorang.
  1. Yohanes 14:6: Kristus Harus Tetap Menjadi Pusat Ibadah Kristen

Yesus berkata:
“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” — Yohanes 14:6.
Bagi orang Kristen, ayat ini menegaskan kedudukan Yesus Kristus dalam iman dan keselamatan. Karena itu, ibadah Kristen harus berpusat pada Kristus.
Keteguhan terhadap keyakinan tersebut tidak mengharuskan gereja memusuhi orang yang berbeda agama. Menghormati sesama, membangun hubungan baik dengan pemerintah, serta bekerja sama dalam urusan sosial dan kemanusiaan tidak dengan sendirinya mengubah dasar iman Kristen.
Yang harus dijaga adalah batas antara hubungan sosial dan keyakinan teologis.
Gereja boleh menjalin hubungan baik dengan siapa pun, tetapi dalam ibadah Kristen, Kristus tetap menjadi pusat penyembahan. Tidak ada jabatan politik, tokoh masyarakat, ataupun figur manusia yang dapat menggantikan kedudukan-Nya.
Teguh dalam iman bukan berarti membenci sesama. Sebaliknya, mengasihi sesama juga bukan berarti mengaburkan keyakinan iman.
Inilah keseimbangan yang perlu dijaga dalam kehidupan bergereja.
  1. Kisah Herodes: Peringatan agar Manusia Tidak Mengambil Kemuliaan Allah

Kisah Para Rasul 12:21–23 mencatat peristiwa ketika Herodes menerima seruan orang banyak yang mengagungkan perkataannya sebagai suara Allah, bukan suara manusia. Kisah tersebut berakhir dengan hukuman atas Herodes karena ia tidak memberikan hormat kepada Allah.
Kisah ini memberikan peringatan serius mengenai bahaya kesombongan dan penerimaan kemuliaan yang seharusnya menjadi milik Allah.
Namun, konteksnya harus dibaca dengan cermat. Tidak setiap penghargaan kepada pemimpin merupakan kesombongan, dan tidak setiap pemasangan foto pejabat dapat disamakan dengan tindakan Herodes.
Pelajaran yang dapat diambil adalah bahwa manusia tidak boleh menempatkan dirinya sebagai Allah atau menerima penyembahan yang hanya layak diberikan kepada-Nya.
Karena itu, gereja harus senantiasa menjaga kerendahan hati dan memastikan bahwa pelayanan tidak berubah menjadi sarana untuk meninggikan manusia.
Evaluasi terhadap Jubileum HKBP hendaknya berpijak pada prinsip tersebut tanpa melompat pada kesimpulan yang tidak didukung bukti.
  1. Jubileum Bukan Hanya Perayaan Sejarah, tetapi Momentum Introspeksi Gereja

Perjalanan 165 tahun HKBP merupakan bagian penting dari sejarah kekristenan dan pelayanan masyarakat Batak. Momentum ini patut disyukuri sebagai kesempatan untuk memperbarui komitmen iman dan pelayanan.
Justru karena perayaan tersebut memiliki arti besar, evaluasi terhadap penyelenggaraannya layak dilakukan dengan penuh tanggung jawab.
Gereja tidak perlu alergi terhadap pertanyaan kritis. Sebaliknya, pertanyaan yang disampaikan dengan dasar yang benar dapat menjadi sarana introspeksi dan perbaikan.
Panitia dapat menjelaskan alasan pemasangan banner. Pimpinan gereja dapat menerangkan prinsip yang digunakan dalam menata simbol dan penghormatan kepada tokoh publik. Jemaat pun dapat menyampaikan pandangan dengan santun dan berlandaskan firman Tuhan.
Keterbukaan semacam ini lebih bermanfaat daripada saling menuduh atau menghakimi tanpa memahami duduk persoalan.
Ukuran keberhasilan Jubileum tidak semata-mata terletak pada kemegahan acara, banyaknya peserta, atau perhatian publik. Keberhasilannya juga harus terlihat dalam pertumbuhan iman, pelayanan yang tulus, kepedulian kepada sesama, dan kesetiaan kepada Kristus.

Refleksi R Wendeilyna Simarmata: Hormati Pemimpin, Jangan Geser Kemuliaan Tuhan

Dalam refleksi rohani ini, Dr drh R Wendeilyna Simarmata, MSi (CMed CPP CIJ CPW), Pembina Yayasan Tarombo Dalihan Natolu, merupakan jemaat HKBP Pangururan Gereja Bolon, mengajak umat Kristen untuk memeriksa kembali orientasi ibadah dan pelayanan.
Persoalannya bukan apakah Presiden boleh dihormati. Sebagai kepala negara, Presiden dapat dihormati sesuai kedudukan dan tata krama kehidupan berbangsa.
Persoalan yang perlu direnungkan adalah apakah penghormatan kepada manusia ditempatkan secara tepat dalam kegiatan yang tujuan utamanya adalah memuliakan Tuhan.
Kemuliaan Tuhan tidak boleh digeser oleh kepentingan manusia. Namun, kritik atas nama Tuhan juga tidak boleh berubah menjadi penghakiman tanpa fakta.
Dua prinsip ini harus berjalan bersama: keteguhan iman dan kejujuran dalam menilai.
Apabila terdapat keputusan penyelenggaraan yang kurang tepat, koreksi perlu disampaikan secara terbuka, santun, dan bertanggung jawab. Apabila belum tersedia penjelasan yang cukup, pihak terkait patut diberi ruang untuk menerangkannya.
Dengan demikian, refleksi ini bukan bertujuan mempermalukan HKBP, melainkan mengajak seluruh gereja untuk terus menguji diri berdasarkan firman Tuhan.

Presiden Dapat Dihormati, tetapi Tuhanlah yang Dimuliakan

Foto Presiden dalam sebuah kegiatan gerejawi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa kemuliaan Tuhan telah dialihkan kepada manusia. Akan tetapi, kehadiran simbol seorang pejabat dalam ibadah tetap dapat menjadi bahan evaluasi mengenai tujuan, kepantasan, dan proporsinya.
Karena itu, pertanyaan yang patut diajukan bukan semata-mata apakah foto Presiden boleh dipasang, melainkan apakah seluruh unsur penyelenggaraan benar-benar mendukung tujuan ibadah dan tetap menempatkan Tuhan sebagai pusat penyembahan.
Firman Tuhan dalam Mazmur 115:1 memberikan pengingat yang tidak lekang oleh waktu:
“Bukan kepada kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan.”

Presiden dapat dihormati. Pemimpin dapat diapresiasi. Negara dapat dijunjung. Tetapi penyembahan dan kemuliaan tertinggi hanya bagi Allah.

Inilah prinsip yang patut dijaga oleh setiap orang percaya, dalam Jubileum HKBP maupun dalam seluruh kehidupan bergereja.
Sebab pada akhirnya, menurut Wendeilyna adalpertanyaan terpenting bukanlah siapa yang paling menonjol di atas panggung, melainkan apakah melalui seluruh rangkaian ibadah, umat semakin mengenal, mengasihi, dan memuliakan Tuhan.

Segala puji, hormat, dan kemuliaan hanya bagi Tuhan. Amin.

Berita Terkait