Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

*Usul dan Saran Mm as Karto Glinding Untuk memulihkan Kepercayaan Rakyat*

Usul dan Saran Mm as Karto Glinding Untuk memulihkan Kepercayaan Rakyat.

Warta.in – Ketika kawan-kawan di Atlantika Institut Nusantara hendak mendiskusikan masalah “Runtuhnya Kepercayaan Publik” terhadap penyelenggara pemerintahan di Indonesia, saya sengaja mengajak Mas Karto Gelinding demikian panggilan akrab sahabat lama saya itu sejak tahun 1980 awal, sehingga sejumlah teman yang saya kenalkan kepada beliau pun menyapanya Mas Karto Glinding juga.

Beliau memang tak suka basa-basi, tak juga suka kepada hal-hal yang formal. Bahkan ada yang menyapanya dengan Karto saja, tak menjadi masalah bagi dirinya. Begitulah tipologi Mas Karto Glinding yang sudah saya kenal dan hapal serta kritis dan acap berpikir out the box, sehingga acap sulit untuk diduga sebelumnya apa yang ada dalam pemikirannya. Tapi itu pula yang menjadi daya tarik bagi saya terhadap sosok seorang Karto Glinding yang tidak suka mengumbar komentar untuk hal-hal yang tidak perlu dan tidak penting untuk menyesaki benak pemikirannya. Hingga saya tetap menduga dan percaya bahwa itulah bagian dari penyebab dirinya tampal segar bugar, meski sudah terbilang berusia senja.

Sampai akhirnya untuk menutup acara diskusi tentang “Kepercayaan Publik” terhadap pengelola Negera Indonesia, Karto Glinding kami persilahkan untuk mengudar pendapat atau bahkan kesimpulan yang telah dia simak secara seksama sejak awal pendekatan dan sanggahan serta kesimpulan masing-masing soal perlunya pemerintah mengembalikan atau memulihkan kembali “Kepercayaan Publik” yang telah disepakati sedang ambruk akibat dari konsistensi pelaksanaan hukum, upaya menjaga ekonomi yang ambrol yang diikuti oleh kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok dan keperluan hidup untuk beraktivitas sehari-hari yang semakin berat. Sementara pelaksanaan program yang relatif baik hendak dilaksanakan atau yang telah berlangsung tidak cukup cermat pengawasannya pada tingkat lapangan, sehingga banyak terjadi tumpang tindih dan penyimpangan serta kebocoran yang tidak maksimal dapat dinikmati oleh rakyat.

Diskusi Mingguan Atlantika Institut Nusantara diselenggarakan pada hari libur Tahun Baru 1448 Hijriyah, bertepatan pada hari Selasa, 16 Juni 2026 di kediaman Sekretaris Eksekutif lembaga yang bergiat dalam bidang kajian, penelitian dan pengembangan untuk masyarakat.

Komentar Karto Glinding tentang upaya memilihkan kepercayaan publik atau masyarakat yang kini giat dilakukan oleh lembaga dan instansi pemerintah, justru diawali oleh pertanyaan mengapa kepercayaan publik atau rakyat harus dipulihkan. Mengapa kepercayaan masyarakat sampai terkesan “sakit”, lalu pemulihan kepercayaan dari rakyat seperti apa yang harus dilakukan.

Sejumlah pertanyaan Karto Glibding yang terkesan menteror ini, justru membuat sebagian besar peserta diskusi terperangah takjub bahkan tampak heran dan semakin penasaran dibuat oleh pertanyaan Karto Glinding ini. Begitu juga urainya lebih jauh, sekiranya kepercayaan publik atau rakyat harus dikembalikan, secara semantik siapa yang telah mencuri atau menilep kepercayaan publik itu, sehingga seakan-akan sudah hilang dari rakyat. Lalu siapa yang menilep atau menghilangkannya. Sehingga masalah dasar dari kepercayaan publik gang diperlukan oleh aparatur negara atau pemerintah itu apa maknanya. Lalu bagaimana dengan publik sendiri yang tidak perduli terhadap adanya kepercayaan atau tidak itu terhadap pemerintah.

Oleh karena itu, menurut Karto Glinding, kepercayaan itu — secara umum dan khusus bagi publik itu tidak perlu diucapkan, jadi idealnya cukup diwujudkan dalam berbagai bentuk pekerjaan dan perbuatan yang bisa memberi manfaat kepada rakyat. Jadi istilah publik yang terlalu luas dan umum artinya itu, jelas bahasa politik yang lebih memberi kesan bias. Sebab keberadaan suatu pemerintah tidak untuk mengurus publik — yang cakupannya terlalu luas — karena yang penting, pemerintah memberi perhatian dan kewajiban untuk melayani rakyat. Termasuk melindungi dan memberi jaminan pada keamanan dan kenyamanan rakyat.

Jadi, upaya untuk membangun kepercayaan rakyat yang secara tak langsung diakui telah runtuh itu terhadap penyelenggara negara, seperti membangun rasa cinta terhadap siapa saja dan untuk apa saja, sebab yang terpenting adalah perlakuan dan tindakan yang harus dilakukan, jadi tidak untuk disesumbarkan. Apalagi sekedar pencitraan belajar. Maka itu untuk mengembalikan kepercayaan rakyat kepada pemerintah, cukup menurunkan harga bahan pangan dan kebutuhan hidup sehari-hari, seperti harga BBM, beras, gas elpiji, mintak goreng, telur, tarif listrik dan air hingga pajak khususnya bagi rakyat jejas menengah dan bawah. Begitu saja, tanpa perlu banyak cinngcong serta pidato berbusa-busa, sehingga menambah perbendaharaan bahasa olokan: omon-omon saja, kata anak gaul jaman now.

Begitu juga sikap serius untuk memberantas korupsi, jangan tebang pilih atau bahkan mereka yang korupsi itu hanya dijadikan seperti sapi perah. Artinya, sikap serius untuk memberantas korupsi tidak perlu dipidatokan ke mana-mana, karena tindakan nyata akan menjadi acuan rakyat percaya atau tidak. Termasuk menyelesaikan berbagai kegaduhan yang menambah kejengkelan warga masyarakat tentang tentang kasus ijazah yang sudah terlalu banyak menguras energi dan perhatian yang mengganggu konsentrasi rakyat untuk memberi masukan dan berperan serta mensukseskan program pemerintah untuk rakyat.

Begitulah komentar Mas Karto Glinding terhadap hasil akhir diskusi Atlantika Institut Nusantara. Ia seakan sedang melakukan presentasi dan kesimpulan sendiri dari perspektif pemikirannya yang juga berlatar pendidikan pesantren yang tidak terlalu terkenal di kampung halaman asal kelagirannya. (Tim/Red)

Banten, 16 Juni 2026 Jacob Areste.

Berita Terkait