Wartain Banten | Pemerintahan | 18 April 2026 – Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Banten tahun 2025 mencapai 77,25 poin. Angka tersebut meningkat sebesar 0,90 poin atau 1,18 persen dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebesar 76,35 poin.
Peningkatan IPM ini ditopang oleh seluruh dimensi penyusunnya. Beberapa indikator bahkan mengalami percepatan pertumbuhan, di antaranya Umur Harapan Hidup yang meningkat sebesar 0,48 persen serta Rata-rata Lama Sekolah (RLS) yang tumbuh signifikan hingga 3,58 persen.
Menanggapi capaian tersebut, Anggota DPRD Provinsi Banten, Budi Prajogo, menilai kenaikan IPM menjadi bukti bahwa kebijakan yang dijalankan Pemerintah Provinsi Banten telah tepat sasaran dan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Dengan capaian IPM 77,25, Banten tidak hanya melampaui target, tetapi juga menunjukkan arah pembangunan yang semakin inklusif dan berkeadilan,” ungkap Budi Prajogo pada Kamis (16/4/2026).
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari sinergi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Di tingkat daerah, kebijakan sekolah gratis yang digagas Gubernur Banten Andra Soni bersama Wakil Gubernur Achmad Dimyati Natakusumah dinilai mampu membuka akses pendidikan yang lebih luas.
“Program ini secara langsung mengurangi beban biaya rumah tangga, sehingga anak-anak dari berbagai latar belakang ekonomi memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan,” katanya.
Budi menjelaskan, implementasi program sekolah gratis untuk SMA, SMK, dan SKh swasta pada tahun ajaran 2025–2026 memberikan dampak positif terhadap peningkatan RLS di Banten. Pada tahun 2025, RLS tercatat mencapai sekitar 9,38 tahun, naik dari 9,05 tahun pada 2024.
“Kenaikan sekitar 0,33 tahun ini tergolong signifikan dan menunjukkan semakin banyak penduduk yang menempuh pendidikan lebih lama,” tuturnya.
Selain itu, Harapan Lama Sekolah (HLS) juga mengalami peningkatan menjadi sekitar 13,5 tahun. Hal ini mencerminkan semakin terbukanya peluang generasi muda untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
“Peningkatan ini menjadi fondasi penting dalam mendorong kualitas sumber daya manusia, yang merupakan komponen utama dalam perhitungan IPM,” imbuhnya.
Di sisi lain, Budi juga menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah pusat turut memberikan kontribusi signifikan, tidak hanya dalam aspek kesehatan, tetapi juga ekonomi dan pemerataan.
“Program ini memastikan bahwa anak-anak sekolah mendapatkan asupan gizi yang memadai, sehingga lebih sehat, lebih fokus belajar, dan memiliki potensi berkembang secara optimal,” katanya
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa MBG juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui terbukanya lapangan kerja dan terbentuknya rantai pasok dari sektor pertanian hingga pelaku UMKM.
Dampak positif lainnya terlihat dari penurunan ketimpangan ekonomi. Gini rasio Banten pada tahun 2025 turun menjadi 0,312, yang menunjukkan semakin berkurangnya kesenjangan pendapatan masyarakat.
“Program ini memastikan bahwa anak-anak sekolah mendapatkan asupan gizi yang memadai, sehingga lebih sehat, lebih fokus belajar, dan memiliki potensi berkembang secara optimal,” katanya.
Budi menegaskan, sinergi antara kebijakan sekolah gratis di daerah dan program MBG dari pemerintah pusat menjadi kunci utama dalam mendorong peningkatan IPM di Provinsi Banten.
“Pendidikan yang semakin terjangkau dan gizi yang semakin terjamin menciptakan generasi yang lebih siap, sementara perputaran ekonomi yang terjadi memperkuat kesejahteraan masyarakat secara luas,” jelasnya.
Ia berharap capaian tersebut dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan. Peningkatan IPM Banten dinilai sebagai bukti keberhasilan pembangunan inklusif melalui sektor pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi dalam mewujudkan kesejahteraan dan keadilan masyarakat.(WartainBanten)































