Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

HKBP Lumban Suhi Suhi : Sebab Aku menyukai kasih setia, dan menyukai pengenalan akan Allah

Sanosir, warta.in – Renungan Harian Untuk Jemaat HKBP Lumban Suhi Suhi, Kamis 11 Juni 2026

  1. Doa Pribadi (Silahkan terlebih dahulu berdoa pribadi)
  2. Bernyanyi BN HKBP. No. 762:1 “Ku Rindu Akan Dikau” Masihol Do Rohangku

‘Ku rindu akan Dikau, ya Yesus Tuhanku

‘Ku ingin bersamaMu selama hidupku

Kiranya ‘ku tak goyah di dalam hidupku

Hatiku persembahan bagiMu Tuhanku

  1. Ayat Harian : Hosea 6:6 “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.” / Ai lomoan do rohangku mida asi ni roha, asa mida pelean; jala lomoan mida parbinotoan di Debata, asa mida pelean situtungon.

Bapak, Ibu, Saudara/i yang dikasihi Tuhan,.. Terkadang dalam hidup ini kita terjebak dalam cara pandang yang sempit, seakan-akan keintiman dengan Tuhan hanya terjadi pada momen-momen emosional tertentu, seperti saat pujian penyembahan di gereja atau saat teduh di pagi hari dan malam hari. Tanpa kita sadari, bahwa kita menilai “kehadiran” Tuhan seperti tempat persinggahan sementara yang kita kunjungi/datangi pada waktu-waktu tertentu saja, misalnya ketika jiwa kita membutuhkan penguatan. Tetapi melalui Hosea 6:6, Tuhan memberi tahu kita bahwa dibandingkan dengan ibadah/ritual keagamaan, Ia lebih menyukai pengenalan (Ibr. Da’ath) akan Dia yang nyata dan berkelanjutan. Tuhan menyukai relasi yang hidup, bukan sekadar aktivitas Rohani saja. Ia menghendaki hati yang mengenal-Nya secara mendalam dan berjalan bersama-Nya dalam keseharian, bukan hanya merasakan-Nya di momen-momen tertentu yang dibatasi durasi atau lokasi. Jika kita hanya mencari Tuhan di dalam gedung gereja atau di balik pintu kamar, kita sedang memperlakukan Dia sebagai tamu yang hanya kita temui sesekali, bukan sebagai Tuhan yang memenuhi seluruh ruang hidup kita.

Transisi “From Presence to Settling in” (dari kehadiran menuju tinggal menetap) adalah sebuah perjalanan untuk menghidupi makna “Da’ath”—keintiman yang menuntut transparansi dan kerentanan di hadapan Allah kita. “Settling in” (tinggal menetap) berakar pada persatuan yang tak putus, seperti hubungan antara ranting dan pokok anggur yang tidak dapat dipisahkan. Dalam taraf ini, kita tidak lagi memakai topeng religius pada saat-saat tertentu ketika menghadap Tuhan, melainkan mengizinkan Dia mengisi setiap detil hidup kita. Saat kita “Settling in God”, keintiman bukan lagi sekadar aktivitas yang kita lakukan, melainkan identitas yang kita hidupi; di mana setiap napas menjadi doa dan setiap langkah menjadi cerminan bahwa kita sungguh-sungguh mengenal hati Tuhan dan membiarkan diri kita dibentuk sepenuhnya oleh Tuhan setiap saat. Amin.

  1. Pokok Doa:

Tuhan, ampunilah kami yang selalu sering terjebak mencari perasaan akan hadirat-Mu daripada hidup yang sungguh-sungguh dan tinggal di dalam Engkau. Ajarilah kami untuk mengenal-Mu melalui iman, ketaatan dan kesetiaan setiap saat. Pakai dan bentuklah hidup kami supaya tetap menetap dan melekat pada-Mu, apapun situasi dan keadaan kami.

Marilah kita samasama berdoa, dalam doa Bapa Kami Yang di Sorga!

Bapa Kami Yang di Sorga, dikuduskanlah namaMu……dst, Amin (red)

Berita Terkait