Warta.in//PALI, 15 Juni 2026 – Pergantian tahun baru Islam 1 Muharram 1448 H tidak boleh sekadar menjadi ritual angka dan ucapan selamat di media sosial. Wakil Ketua DPRD Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Firdaus Hasbullah, SH, MH, menyerukan agar momentum ini dijadikan sebuah “jeda sunyi” untuk merefleksikan diri, mengakui kekurangan, dan mengobarkan api perbaikan yang nyata bagi seluruh elemen masyarakat di Bumi Serepat Serasan.

“Firdaus menegaskan bahwa makna hijrah Nabi Muhammad SAW harus diterjemahkan sebagai perpindahan filosofis. Yaitu sebuah keberanian kolektif untuk keluar dari ketertinggalan menuju peradaban yang maju dan bersatu.
“Hijrah hari ini adalah keberanian untuk menantang status quo. Berani memperbaiki tata kelola, berani mengakui kesalahan, dan berani menempatkan kepentingan rakyat di atas ego sektoral maupun pribadi,” ujar Firdaus.
Menurut tokoh legislatif PALI ini, pembangunan daerah yang tengah berkembang tidak boleh hanya bertumpu pada infrastruktur fisik seperti semen dan beton. Tantangan zaman yang semakin kompleks, mulai dari ketimpangan ekonomi hingga tuntutan kualitas pelayanan publik, harus dijawab dengan pembangunan sumber daya manusia yang berkarakter. “Pembangunan yang sesungguhnya harus menyentuh jiwa.
Kita tidak sedang membangun daerah dengan infrastruktur mati, kita sedang membangun masyarakat dengan akhlak yang hidup,” tambahnya.
Secara tajam, Firdaus juga menyoroti pentingnya mengikis “budaya saling menyalahkan” akibat perbedaan kepentingan politik maupun kelompok. Ia mengajak semua pihak untuk meninggalkan residu konflik yang terjadi di tahun 1447 H dan beralih fokus pada kolaborasi yang inklusif serta optimisme baru.
Sebagai pimpinan DPRD PALI, Firdaus menempatkan lembaga legislatif dalam tanggung jawab moral yang besar. Bagi dirinya, kursi jabatan adalah meja kerja untuk menunaikan amanah rakyat, bukan singgasana kekuasaan.
“Politik di tahun ini harus menjadi jalan pengabdian. Jika politisi hanya sibuk dengan perebutan kepentingan, maka mereka telah mengkhianati esensi hijrah itu sendiri,” tegas Firdaus menutup refleksinya, seraya berharap semangat ini menjadi energi yang menggerakkan PALI menuju daerah yang religius, maju, dan berkeadilan.
(Muhamad Randi)






























