Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

Laysia Latifah Raih Gelar Women Grand Master, Percasi DKI Beri Apresiasi Rp50 Juta

Warta.in | Jakarta — Prestasi pecatur muda Indonesia, Laysia Latifah, mendapat apresiasi dari Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) DKI Jakarta setelah berhasil meraih gelar Women Grand Master (WGM). Laysia menerima apresiasi prestasi sebesar Rp50 juta dalam ajang Kejuaraan Daerah (Kejurda) Catur Piala Gubernur DKI Jakarta 2026 yang digelar di Jakarta.

Kejurda tersebut mengusung tema “Mewujudkan Pecatur Jakarta yang Berprestasi dan Berdaya Saing Nasional serta Internasional.”

Bagi Laysia, penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi yang sangat berarti setelah melalui perjalanan panjang untuk mendapatkan gelar WGM.

“Prosesnya cukup panjang. Untuk mendapatkan gelar Women Grand Master ini membutuhkan tiga norma dan juga mencapai rating 2.300,” ujar Laysia.

Ia mengatakan, dua norma WGM telah diraihnya pada 2024. Pada tahun yang sama, dirinya juga telah mencapai rating 2.300. Namun, untuk melengkapi persyaratan dan memastikan gelar tersebut, Laysia masih harus menunggu hingga akhirnya berhasil mendapatkannya pada 2026.

“Norma pertama dan kedua saya dapat pada 2024, kemudian rating 2.300 juga sudah tercapai pada 2024. Setelah menunggu sekitar dua tahun perjalanan, akhirnya pada 2026 ini gelarnya bisa didapatkan,” katanya.

Menurut Laysia, apresiasi Rp50 juta yang diberikan Percasi DKI Jakarta menjadi bentuk penghargaan yang sangat berarti bagi perjuangannya sebagai atlet.

“Alhamdulillah mendapatkan apresiasi yang sangat baik dari Percasi Jakarta. Sebelumnya memang belum pernah ada apresiasi seperti ini untuk prestasi tertinggi yang saya raih, yaitu mendapatkan gelar Women Grand Master,” ujarnya.

Selain mengukir prestasi di tingkat nasional dan internasional, Laysia juga tercatat pernah membawa nama Indonesia dalam ajang SEA Games.

Ia mengungkapkan, persiapan menghadapi kompetisi internasional dilakukan melalui rangkaian latihan, try in, dan try out bersama para atlet.

“Pastinya berlatih. Sebelum Olimpiade juga ada try out dan try in. Kami beberapa hari melakukan persiapan dan berlatih bersama. Saat try out kami juga bertanding bersama di Malaysia,” kata Laysia.

Dari rangkaian persiapan tersebut, Laysia menyebut para atlet Indonesia juga mendapat pengalaman bertanding yang penting sebagai bekal menghadapi kompetisi internasional.

Ia pun berpesan kepada generasi muda yang ingin menekuni olahraga catur agar tidak hanya fokus berlatih, tetapi juga memperbanyak pengalaman bertanding.

“Terus berlatih dan jangan lupa untuk bertanding. Menurut saya, kalau hanya berlatih tanpa bertanding, itu tidak akan berjalan seimbang dan hasilnya tidak akan maksimal,” tuturnya.

Di sisi lain, Laysia berharap pembinaan atlet catur di Indonesia, khususnya di DKI Jakarta, dapat terus diperkuat. Ia berharap semakin banyak atlet junior yang mendapat dukungan untuk mengejar gelar internasional sejak usia muda.

“Saya berharap Percasi bisa mengirim lebih banyak atlet supaya mereka bisa lebih cepat mendapatkan gelar Grand Master dibanding saya,” ujarnya.

Laysia yang kini berusia 20 tahun berharap akan semakin banyak pecatur muda Indonesia yang mampu mencapai gelar Grand Master di usia belia.

Ia mencontohkan sejumlah pecatur muda Indonesia yang berhasil meraih gelar internasional pada usia yang relatif muda.
“Harapannya lebih banyak junior yang bisa mendapatkan Grand Master di bawah usia 20 tahun. Seperti misalnya Irene dan Kak Medina yang sudah mendapatkan gelar pada usia 16 tahun,” katanya.

Karena itu, Laysia berharap organisasi catur dapat memberikan dukungan lebih besar kepada para atlet, baik dalam pembinaan maupun kesempatan mengikuti berbagai turnamen nasional dan internasional.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Ketua Umum Percasi DKI Jakarta yang dinilainya telah memberikan dukungan selama perjalanan kariernya.

“Saya sangat berterima kasih, terutama kepada ketua umum kami. Banyak sekali support yang beliau berikan, baik secara material maupun dukungan mental. Saya banyak dibantu oleh beliau,” ucapnya.

Meski telah meraih gelar Women Grand Master, Laysia belum berhenti mengejar prestasi. Ia kini membidik gelar International Master (IM).

Karena itu, rencana untuk terjun langsung melatih pecatur junior belum menjadi prioritas dalam waktu dekat.

“Untuk saat ini belum karena saya masih punya goal lain, yaitu menjadi International Master. Kalau itu sudah tercapai, mungkin saya akan mulai mengajar junior,” kata Laysia.

Perjalanan Laysia menjadi WGM sekaligus apresiasi yang diterimanya diharapkan dapat menjadi pemacu bagi lahirnya lebih banyak pecatur muda Jakarta yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Berita Terkait