Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

*MAULID NABI: Pesan untuk Orang-Orang yang Merayakan Maulid*

*MAULID NABI: Pesan untuk Orang-Orang yang Merayakan Maulid*

Hadhratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari

Buku ini mengajak setiap jiwa yang beriman untuk memahami makna peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ secara lebih mendalam, lebih hakiki, dan lebih bermakna. Perayaan Maulid, sebagaimana ditekankan oleh Hadhratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, bukan sekadar tradisi berkumpul, membaca shalawat, atau mendengarkan ceramah—semua itu adalah bentuk lahiriah yang baik, namun belumlah sempurna jika tidak diiringi oleh penghayatan batin yang sungguh-sungguh. Maulid sejatinya adalah momentum yang sangat mulia untuk mengenang perjuangan, meneladani akhlak, merenungi kasih sayang, serta mengambil pelajaran dari setiap langkah keteladanan yang ditinggalkan oleh Rasulullah ﷺ sepanjang hidupnya.

Dengan merujuk pada pesan dan pemikiran Hadhratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari—ulama besar, pendiri Nahdlatul Ulama, sekaligus Pahlawan Kemerdekaan Nasional—buku ini membahas dengan jernih dan tulus bagaimana umat Islam seharusnya menempatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad ﷺ dalam kehidupan sehari-hari. Pembaca diajak untuk tidak berhenti pada perayaan yang hanya tampak di permukaan, melainkan menjadikan Maulid sebagai sarana yang nyata untuk memperkuat iman, memperbanyak shalawat, memperbaiki akhlak yang tercela, serta menumbuhkan kecintaan yang tulus dan mendalam kepada Rasulullah ﷺ.

Dalam pandangan KH. Hasyim Asy’ari, peringatan Maulid Nabi adalah amalan yang dianjurkan dan bernilai ibadah, sepanjang di dalamnya dimuat hal-hal yang baik: membaca ayat-ayat Al-Qur’an, mendaras sejarah kehidupan Nabi, meneladani akhlak beliau, mempererat persaudaraan sesama umat Islam, serta memperbanyak sedekah dan kebaikan kepada sesama . Namun beliau juga memberikan peringatan yang tegas dan bijaksana: jika perayaan Maulid justru disertai kemaksiatan dan kemungkaran yang nyata, maka perayaan itu wajib ditinggalkan dan haram dilaksanakan, karena hal tersebut justru tidak menghargai Nabi Muhammad ﷺ sebagai pembawa rahmat dan kebaikan bagi seluruh alam . Prinsip ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada Nabi bukanlah sekadar ucapan lisan atau keramaian acara, melainkan kesesuaian antara niat, perkataan, dan perbuatan dengan ajaran yang beliau bawa.

Buku ini juga menjadi bahan renungan yang mendalam bagi siapa saja yang merayakan Maulid, agar dapat memahami nilai-nilai kebaikan yang tersimpan di balik peringatan kelahiran manusia paling mulia sepanjang sejarah ini. Dengan bahasa yang lugas, mudah dipahami, namun sarat makna, buku ini diharapkan dapat menambah wawasan keislaman sekaligus menumbuhkan semangat yang membara untuk mengikuti sunnah dan meneladani sifat-sifat mulia Rasulullah ﷺ dalam setiap aspek kehidupan—baik dalam urusan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun bangsa dan negara.

Sebuah bacaan yang mengajak kita merayakan Maulid dengan ilmu yang bermanfaat, dengan cinta yang tulus, dan dengan keteladanan yang nyata. Semoga setiap peringatan Maulid Nabi yang kita laksanakan menjadi bukti kecintaan kita yang sejati kepada beliau, sekaligus menjadi jalan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mengikuti jejak langkah Rasulullah ﷺ hingga akhir hayat.

Tim Penyusun / Redaksi

 

“Nawaitu an ahdhural maulidun mitsla maa nawaa aslafuna ash-shalihiin, wa biniyyati ta’zhiiman syahru wiladati Nabi shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, wa biniyyati ziyaadatil imaan, wa ziyaadatit taqwaa wal mahabbati wa qurb ilaa Allah wa ilaa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam.”
(Niat menghadiri peringatan Maulid sebagaimana niat para salih terdahulu: untuk memuliakan bulan kelahiran Nabi, menambah iman, menambah takwa, menumbuhkan kasih sayang, serta mendekatkan diri kepada Allah dan Rasul-Nya.)

Penulis: Hadhratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari

Berita Terkait