32.1 C
Jakarta
Senin, April 13, 2026

Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

*Antara Stetoskop dan Benang Rajut: Mengagungkan Kreativitas Tanpa Batas dr. Zuhria Novianty*

*Antara Stetoskop dan Benang Rajut: Mengagungkan Kreativitas Tanpa Batas dr. Zuhria Novianty*

JAKARTA, 13 April 2026 – Di tengah hiruk-pikuk dunia medis yang menuntut ketelitian dan ketegasan, terdapat sebuah kisah indah tentang keseimbangan hidup. Di balik kesibukannya yang padat sebagai seorang dokter spesialis patologi klinik, dr. Zuhria Novianty, Sp.P.K., menyimpan sisi lain yang begitu lembut dan penuh seni; sebuah kecintaan yang mendalam terhadap dunia kerajinan tangan.

Bagi istri dari Letkol Inf. Benu Supriyantoko yang juga aktif mengabdi dalam organisasi Persit Kartika Chandra Kirana Cabang I Sintelad PG Mabesad ini, kreativitas bukanlah sekadar hobi sesaat. Lebih dari itu, kreativitas baginya adalah napas kehidupan, sebuah jiwa seni yang telah tertanam sejak lama dan tidak pernah benar-benar pudar meski waktu terus berjalan.

Kecintaan terhadap dunia keterampilan tangan ini bukanlah sesuatu yang tumbuh dalam semalam. Benih-benih kesenian itu telah bersemi sejak masa kanak-kanak. Tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat menghargai karya dan keindahan, membentuk karakter Zuhria yang gemar mencipta. Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, tangannya sudah terlatih untuk menghasilkan karya. Mulai dari membuat paper bag sederhana yang penuh imajinasi, belajar menjahit dengan penuh ketelitian, hingga mengenal keajaiban benang dan jarum rajut.

Pada masa itu, di tengah keterbatasan akses informasi dan referensi yang jauh dari kemudahan zaman sekarang, semangat belajarnya justru semakin membara. Keterbatasan bukan dijadikan alasan untuk berhenti, melainkan menjadi pemicu untuk terus bereksperimen dan menggali potensi diri. Ketika menginjak masa perkuliahan, minatnya terhadap dunia mode dan desain sempat menjadi bayang-bayang masa depan yang begitu menarik. Ia sering membayangkan hidup di tengah kain, warna, dan karya seni yang memukau.

Namun, takdir kehidupan memiliki jalannya sendiri. Pilihan untuk menekuni dunia seni sempat menemui kendala dan tidak sepenuhnya mendapatkan restu dari orang tua. Dengan kedewasaan dan rasa hormat yang tinggi, Zuhria akhirnya mengambil keputusan besar untuk menempuh jalan ilmu pengobatan. Ia memilih memasuki gerbang kedokteran, sebuah profesi luhur yang menuntut dedikasi tinggi, kedisiplinan yang luar biasa, serta tanggung jawab besar dalam mengabdikan diri bagi kesehatan dan keselamatan masyarakat.

Profesi sebagai dokter membawanya memasuki dunia yang penuh tantangan. Setelah menyelesaikan pendidikan, kehidupannya pun semakin sarat akan peran. Ia harus mampu membagi waktu dan energi dengan sempurna, menjadi tenaga medis yang handal, sekaligus menjalankan peran mulia sebagai istri dan ibu, serta aktif dalam berbagai organisasi sosial. Kesibukan yang demikian padat sempat membuat waktu untuk sekadar memegang jarum dan benang menjadi sangat terbatas.

Namun, rasa cinta terhadap dunia kerajinan tangan itu ibarat api yang tak pernah padam. Meskipun tertutup oleh kesibukan, apinya tetap menyala di dalam hati. Dan akhirnya, setelah berhasil menuntaskan pendidikan spesialisnya, dr. Zuhria kembali menemukan ruang dan waktu yang dinanti-nantikan. Ia kembali menyambung benang-benang kreativitasnya, kembali mencipta keindahan melalui karya rajut, membuktikan kepada dunia bahwa di tangan yang tangguh menangani stetoskop, pun mampu menciptakan kelembutan dan keindahan yang memukau.

(TIM/Red)

Berita Terkait