Warta.in, Jember — Fenomena pernikahan dini di Kabupaten Jember menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Menyikapi hal tersebut, Bupati Jember, Muhammad Fawait, menggagas langkah strategis melalui peluncuran program Sekolah Berdaya sebagai upaya memperkuat pencegahan pernikahan usia anak.
Program ini dibahas dalam forum diskusi yang digelar di Pendopo Wahyawibawagraha, Rabu (15/4/2026) pagi. Sekolah Berdaya dirancang sebagai model kolaboratif yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari sekolah, keluarga, akademisi, hingga organisasi masyarakat.
Dalam pemaparannya, Bupati Fawait menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh dipahami secara sempit hanya sebatas aktivitas di ruang kelas. Menurutnya, seluruh elemen memiliki tanggung jawab bersama dalam membentuk masa depan generasi muda.
“Sekolah, guru, orang tua, dan lingkungan sekitar harus bersinergi membangun kesadaran demi masa depan anak-anak dan remaja, menuju generasi unggul dalam menyongsong Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Jember juga menyiapkan sejumlah proyek percontohan yang akan disesuaikan dengan karakteristik wilayah. Pendekatan intervensi akan dibedakan antara kawasan perkotaan, pedesaan, dan pesisir, sehingga kebijakan yang diterapkan lebih tepat sasaran.
Sementara itu, Plt Direktur Utama Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi Jember, Dr. dr. I Nyoman Semita, DP.OT., Sp.N (K) FICS, yang turut hadir dalam forum tersebut, menjelaskan pentingnya kesiapan usia dalam pernikahan dari sisi kesehatan dan psikologis. Ia mengacu pada anjuran pemerintah yang menetapkan usia ideal menikah, yakni 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki.
Menurutnya, pada rentang usia tersebut, fungsi executive skill atau kemampuan pengendalian diri yang berpusat di bagian otak depan (prefrontal cortex) telah berkembang secara optimal.
“Fungsi ini mencakup kemampuan mengelola emosi, keuangan, berkomunikasi secara efektif, serta menyusun perencanaan hidup secara matang,” jelasnya.
Ia menambahkan, kematangan tersebut menjadi faktor penting dalam membangun rumah tangga yang sehat dan berkelanjutan, sekaligus meminimalisasi risiko stunting pada anak.
“Dengan kesiapan usia yang cukup, pasangan akan lebih siap menjalankan peran sebagai orang tua dan membangun pola asuh yang baik dalam keluarga,” pungkasnya.































