Warta.in, Jember – Upaya meningkatkan pemahaman masyarakat terkait kesehatan dan produk farmasi berbasis non-kimia terus digencarkan oleh AFC melalui kegiatan roadshow di berbagai daerah. Kali ini, kegiatan tersebut digelar di Jember dengan mengusung tujuan utama sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat pada Minggu 3 Mei 2026.
General Manager AFC, Nicolas Rampisela, dalam wawancara usai acara roadshow LOP di Hotel Aston Jember menegaskan pentingnya kehadiran langsung pihak manajemen di tengah masyarakat. Hal ini dilakukan guna mencegah terjadinya kesalahan informasi, seperti klaim berlebihan maupun penyampaian yang tidak tepat terkait produk.
“Jika manajemen tidak turun langsung, kami khawatir akan muncul banyak miskomunikasi di masyarakat, baik terkait overclaim maupun cara penyampaian yang keliru. Karena itu, kami rutin mengadakan roadshow di kurang lebih 240 kota, dari Aceh hingga Papua,” ujarnya.
Menurut Nicolas, kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada edukasi, tetapi juga memberikan dampak terhadap peningkatan ekonomi para member. AFC juga menekankan pentingnya pendekatan langsung ke masyarakat, mengingat tidak semua daerah di Indonesia efektif dijangkau melalui sistem digital.
“Memang era sekarang serba online, namun di beberapa wilayah justru tidak efektif. Maka kami hadir langsung untuk menjelaskan fungsi produk, alasan harga, hingga bagaimana produk ini berperan dalam mendukung kesembuhan pasien. Dalam setiap kegiatan, kami juga didampingi oleh tenaga medis,” tambahnya.
AFC sendiri merupakan perusahaan farmasi non-kimia asal Jepang yang telah berdiri lebih dari 200 tahun. Di Indonesia, perusahaan ini mulai berkembang sekitar delapan tahun terakhir dan kini telah memiliki sekitar 3,6 juta member.
Meski demikian, Nicolas mengakui bahwa perkembangan di setiap daerah berbeda-beda, tergantung pada kondisi ekonomi masyarakat. Ia mencontohkan pertumbuhan di Jember yang cenderung stabil namun lebih lambat dibandingkan kota besar seperti Surabaya yang mengalami peningkatan signifikan.
Terkait harga produk yang berkisar antara Rp 1.800.00 hingga Rp 1.950.000, pihak manajemen menilai persepsi mahal sangat bergantung pada kondisi ekonomi masyarakat. Namun, dalam konteks kesehatan, khususnya penyakit kronis, biaya pengobatan memang tidak bisa dikatakan murah.
“Dalam upaya mencari kesembuhan, khususnya untuk penyakit kronis, biaya yang dikeluarkan pasti besar. Jadi perspektif mahal itu relatif, tergantung bagaimana masyarakat memandang pentingnya kesehatan,” jelasnya.
Lebih lanjut, AFC menegaskan bahwa kehadirannya bukan sebagai alternatif pengobatan medis, melainkan sebagai pelengkap. Perusahaan ini mengedepankan kolaborasi dengan tenaga medis untuk memastikan masyarakat mendapatkan penanganan yang tepat.
“Masih banyak masyarakat yang ketika sakit justru mencari pengobatan alternatif yang tidak jelas, karena kurangnya edukasi. Kami hadir untuk melengkapi medis, bukan menggantikannya. Kami berjalan bersama dokter,” tegas Nicolas.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, AFC berharap masyarakat semakin memahami pentingnya edukasi kesehatan, sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat dalam menjaga dan memulihkan kondisi kesehatan mereka.





























