Jurnalis RI Ikut Flotilla Kemanusiaan ke Gaza Ditahan Israel, PWI: Ini Ancaman bagi Kebebasan Pers.
SUBANG, WARTA, IN Misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla 2.0 yang berlayar menuju Gaza dicegat militer Israel. Dalam rombongan tersebut terdapat tiga jurnalis asal Indonesia yang sedang menjalankan tugas peliputan.
Persatuan Wartawan Indonesia [PWI] Pusat menyatakan kecaman keras atas tindakan pencegatan dan penahanan rombongan sipil itu. Menurut Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir, perlakuan terhadap misi kemanusiaan dan jurnalis tidak bisa dibenarkan.

“Kami mengecam keras tindakan Israel yang mencegat dan menahan rombongan misi kemanusiaan menuju Gaza, termasuk jurnalis Indonesia yang sedang menjalankan tugas jurnalistik. Keselamatan insan pers harus dihormati dan dilindungi dalam situasi apa pun,” kata Munir di Jakarta, Selasa 19 Agustus 2026.
Tiga jurnalis RI yang ikut dalam misi itu adalah Bambang Noroyono dan Thoudy Badai dari Republika, serta Andre Prasetyo Nugroho dari Tempo. Mereka berlayar bersama puluhan aktivis dan relawan dari berbagai negara.
Munir menegaskan, tugas jurnalis di misi tersebut murni untuk mendokumentasikan dan menyampaikan fakta kemanusiaan kepada publik internasional. Ia meminta semua pihak menghormati independensi dan keselamatan wartawan di wilayah konflik.
“Pers hadir untuk menyampaikan fakta dan suara kemanusiaan kepada dunia. Tidak boleh ada intimidasi ataupun tindakan yang mengancam keselamatan jurnalis yang menjalankan tugas profesinya,” ujarnya.
Data Kementerian Luar Negeri RI mencatat sedikitnya 10 kapal dalam flotilla ditahan Israel, termasuk kapal Amanda, Barbaros, Josef, dan Blue Toys. Hingga kini kapal yang membawa jurnalis Indonesia belum bisa dihubungi dan kondisi awak kapal belum diketahui pasti.
PWI Pusat menyatakan dukungan penuh terhadap langkah diplomatik pemerintah Indonesia melalui Kemlu untuk memastikan keselamatan seluruh WNI yang ikut dalam misi.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Digital juga mengaku terus berkoordinasi dengan Kemlu dan perwakilan RI di Ankara, Kairo, dan Amman untuk memantau situasi serta menyiapkan skenario perlindungan dan pemulangan jika diperlukan.
“Doa dan harapan kami menyertai seluruh jurnalis dan relawan kemanusiaan agar diberikan keselamatan dan segera dapat kembali dengan selamat,” tutup Munir.
(RD)





























