Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

Petrus Tjandra: Petani Sawit Jangan Hanya Jual Buah, Harus Kuasai Hilirisasi

Warta.in | Jakarta — Petani sawit rakyat didorong tidak lagi hanya berperan sebagai pemasok tandan buah segar (TBS), tetapi mulai menguasai rantai usaha hingga ke sektor hilir dengan memiliki pabrik pengolahan sendiri.

Dorongan tersebut disampaikan Direktur Utama (Presiden Direktur) PT Agro Investama Group, Petrus Tjandra, dalam Konferensi Nasional Perkebunan Rakyat II yang digelar Serikat Petani Indonesia (SPI) di Jakarta.

Konferensi mengusung tema “Mewujudkan Perkebunan Sawit Rakyat Berkelanjutan Berbasis Reforma Agraria dan Koperasi Pekebun”.

Petrus mengatakan, petani sawit memiliki peluang untuk membangun dan mengelola pabrik pengolahan secara bersama-sama melalui koperasi maupun skema kerja sama dengan berbagai pihak.

Menurut dia, pola tersebut penting agar petani tidak berhenti pada kegiatan budidaya dan penjualan buah sawit, tetapi dapat memperoleh nilai tambah dari produk olahan hingga minyak sawit.

“Petani sawit bisa punya pabrik sendiri. Jadi bagaimana petani sawit tidak hanya menjual buah, tetapi punya pabrik dan menjual minyak sehingga bisa menikmati nilai tambah,” kata Petrus.

Ia menilai, integrasi antara sektor hulu dan hilir akan memberikan ruang yang lebih besar bagi petani untuk meningkatkan posisi ekonominya.
Petrus menyebut pihaknya juga membuka peluang kerja sama dengan lembaga riset dan pemangku kepentingan terkait untuk membantu petani mengembangkan industri pengolahan sawit.

Salah satunya melalui kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Lampung dan Banten. Kita akan bantu mereka. Kita bekerja sama dengan BRIN, baik di Lampung maupun di Banten, agar petani bisa punya pabrik,” ujarnya.

Petrus berharap pemerintah turut memberikan perhatian terhadap pengembangan industri sawit rakyat. Menurut dia, petani pada dasarnya telah memiliki modal utama berupa bahan baku dari kebun mereka. Petani sawit itu sudah punya bahan. Mereka sudah punya bahan baku. Yang penting kita bantu agar mereka bisa berkembang,” katanya.

Ia menambahkan, penguatan kelembagaan petani dan koperasi menjadi salah satu kunci untuk membangun ekosistem sawit rakyat yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Dengan model tersebut, petani tidak hanya menjadi pemasok bagi perusahaan besar, tetapi dapat mengambil peran lebih besar dalam pengolahan dan pemasaran produk sawit.

“Dengan mereka bekerja sama, kita harapkan terintegrasi hulu-hilir. Petani tidak hanya duduk saja, tetapi ikut mengelola dan mendapatkan manfaat dari proses tersebut,” ujar Petrus.

Menurut dia, berbagai tantangan yang muncul dalam penerapan model tersebut perlu dihadapi melalui praktik dan kerja sama konkret antara petani, dunia usaha, lembaga riset, serta pemerintah. Kalau ada kendala, kita lihat apa kendalanya. Yang penting kita coba dulu,” katanya.

Konferensi Nasional Perkebunan Rakyat II SPI menjadi forum untuk membahas penguatan perkebunan rakyat, termasuk pentingnya reforma agraria, kelembagaan koperasi pekebun, serta pengembangan perkebunan sawit rakyat yang berkelanjutan dan memiliki nilai tambah lebih besar bagi petani.

#PT Agro Investama Group

#Media Partners PT Agro Investama Group

Berita Terkait