Warta.in MUSI BANYUASIN – Masyarakat.Kecamatan Lalan, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan, mengeluhkan rendahnya tegangan listrik PLN yang dinilai telah mengganggu aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran masyarakat karena sejumlah peralatan elektronik tidak dapat digunakan secara optimal, bahkan berisiko mengalami kerusakan.
Keluhan tersebut disampaikan masyarakat dari sejumlah desa di Kecamatan Lalan. Menurut informasi yang dihimpun, persoalan tegangan listrik rendah atau spaning ini disebut terjadi di 27 desa di wilayah tersebut.
Masyarakat mengaku kecewa karena persoalan kelistrikan yang mereka alami hingga kini dinilai belum mendapatkan penyelesaian yang diharapkan.
Aparat desa setempat disebut telah berupaya menyampaikan keluhan tersebut secara resmi dengan mengirimkan surat kepada pihak PLN Unit Sungai Lilin, PLN tingkat provinsi di Palembang, serta menyampaikan surat tembusan kepada Bupati Musi Banyuasin,
Namun, menurut keterangan yang disampaikan, hingga saat ini aparat desa belum menerima balasan atas surat-surat tersebut. Kondisi ini menimbulkan kekecewaan, mengingat masyarakat berharap adanya perhatian dan langkah konkret dari pihak terkait.
Persoalan ini semakin menjadi perhatian karena sebelumnya masyarakat berharap pemindahan layanan kelistrikan dari PT MEP ke PLN dapat membawa perubahan positif, terutama dalam hal kualitas penerangan, kestabilan tegangan, dan biaya listrik yang lebih terjangkau.
Akan tetapi, masyarakat menilai kondisi yang dirasakan saat ini belum sesuai dengan harapan. Bahkan, sebagian warga menyebut bahwa ketika masih menggunakan layanan listrik PT MEP, kondisi penerangan di rumah mereka dirasakan lebih baik dibandingkan sekarang.
Selain tegangan listrik yang rendah, masyarakat juga mengeluhkan listrik yang kerap padam dan kembali menyala. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat menyebabkan kerusakan pada peralatan elektronik, termasuk lampu dan perangkat rumah tangga lainnya.
Gangguan kelistrikan ini tidak hanya dirasakan oleh rumah tangga, tetapi juga berpotensi menghambat pelayanan publik. Aktivitas aparat desa dan pelayanan di puskesmas, terutama yang menggunakan komputer dan peralatan elektronik, turut terganggu ketika tegangan listrik tidak stabil.
Dampak lainnya dirasakan oleh para pelajar. Di tengah kondisi kabut asap yang melanda Sumatera Selatan dan pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di sejumlah sekolah, kestabilan listrik dan jaringan internet menjadi kebutuhan penting.
Masyarakat menilai tegangan listrik yang rendah dapat menghambat kegiatan belajar anak-anak di rumah, terlebih ketika penerangan tidak memadai dan koneksi internet mengalami kendala.
Warga Kecamatan Lalan berharap pemerintah daerah tidak menutup mata terhadap persoalan tersebut. Mereka menginginkan perhatian yang sama sebagaimana wilayah kecamatan lainnya di Kabupaten Musi Banyuasin, terutama dalam mendapatkan pelayanan kelistrikan yang layak.
Masyarakat juga mendesak Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin bersama anggota DPRD Kabupaten Musi Banyuasin agar segera turun ke lapangan untuk melihat secara langsung kondisi kelistrikan yang dialami warga.
Selain itu, mereka berharap pemerintah dan DPRD dapat memanggil pihak PLN guna meminta penjelasan sekaligus mendorong langkah perbaikan terhadap persoalan tegangan listrik rendah di Kecamatan Lalan.
“Kami berharap pemerintah daerah dan anggota DPRD Musi Banyuasin dapat mendengar keluhan masyarakat dan segera mengambil tindakan. Kami hanya ingin menikmati listrik dengan tegangan normal agar aktivitas sehari-hari, pelayanan kesehatan, pekerjaan, dan kegiatan belajar anak-anak dapat berjalan dengan baik,” demikian harapan masyarakat yang disampaikan dalam keluhan tersebut.
Hingga berita ini disusun, tanggapan resmi dari pihak PLN dan Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin terkait keluhan tersebut masih perlu dikonfirmasi.(albert)





























