Beranda blog Halaman 6

Murni Didanai Sekolah, Perpisahan Kelas VI SDN Ciberes Subang Berlangsung Semarak Tanpa Bebani Orang Tua

0
0-0x0-0-0#

Murni Didanai Sekolah, Perpisahan Kelas VI SDN Ciberes Subang Berlangsung Semarak Tanpa Bebani Orang Tua

Warta In Jabar | ​SUBANG PATOKBEUSI – Suasana penuh haru dan keceriaan mewarnai halaman SDN Ciberes, Patokbeusi, Subang pada Jumat (26/6). Sekolah tersebut sukses menggelar acara perpisahan siswa-siswi kelas VI sekaligus kenaikan kelas I sampai V. Acara ini dihadiri oleh Kepala Sekolah, Komite Sekolah H. Rohman, para guru, serta seluruh wali murid.

​Tanpa memungut biaya sepeser pun dari wali murid, sekolah tetap mampu menyelenggarakan kegiatan pelepasan secara khidmat dan tertib. Kebijakan ini menjadi wujud komitmen SDN Ciberes Patokbeusi Subang dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif, berkeadilan, serta tidak membebani orang tua siswa. Seluruh operasional acara didanai murni oleh pihak sekolah sebagai bentuk apresiasi tertinggi bagi para siswa dan wali murid.

​Acara diawali dengan prosesi pelepasan siswa-siswi kelas VI secara simbolis. Suasana berubah haru saat para siswa bersalaman dengan para guru diiringi lagu “Jasamu Guru” sebagai bentuk penghormatan terakhir sebelum melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

​Kepala SDN Ciberes, Hj. Lilis Sumiati, S.Pd., dalam sambutannya memberikan wejangan mendalam agar para lulusan tetap menjaga nama baik sekolah dan terus berprestasi. Selain itu, beliau juga membagikan informasi penting terkait kalender akademik.

​”Hari libur sekolah telah dimulai, dan siswa akan kembali masuk pada 13 Juli. Kami juga mengimbau orang tua untuk mempersiapkan diri terkait proses aplikasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB),” ujar Hj. Lilis Sumiati.

​Kemeriahan acara berlanjut dengan panggung kreasi seni yang menampilkan bakat menyanyi dari perwakilan kelas I hingga kelas VI.

​Tidak hanya menampilkan kreativitas seni, pihak sekolah juga memberikan apresiasi kepada siswa-siswi berprestasi. Acara dilanjutkan dengan pembagian piala dan hadiah alat tulis bagi para siswa yang telah berhasil menyabet juara dalam berbagai perlombaan di tingkat Kecamatan maupun Kabupaten.

​Sebagai pemungkas sekaligus puncak acara, lapangan SDN Ciberes diguncang oleh pertunjukan seni tradisional Sisingaan. Suasana semakin semarak dan pecah saat seluruh guru ikut turun langsung menari bersama, menghibur para siswa dan wali murid yang hadir. Kemeriahan tradisi lokal ini sukses menutup rangkaian acara perpisahan dengan kenangan yang indah dan tak terlupakan.

SDN Gardu Buktikan Perpisahan Bermakna Tak Harus Mewah, Digelar Tanpa Pungutan Biaya

0

SDN Gardu Buktikan Perpisahan Bermakna tak harus mewah, digelar tanpa pungutan biaya

Warta In Jabar | SUBANG – Suasana haru menyelimuti acara pelepasan siswa kelas VI SDN Gardu, Desa Rancabango, Kecamatan Patokbeusi, Kabupaten Subang, yang digelar pada Kamis (25/6/2026). Meski berlangsung dengan sederhana di dalam lingkungan sekolah, acara tersebut sarat makna dan meninggalkan kesan mendalam bagi siswa, guru, maupun orang tua.

Tanpa memungut biaya sepeser pun dari wali murid, sekolah tetap mampu menyelenggarakan kegiatan pelepasan secara khidmat dan tertib. Kebijakan ini menjadi wujud komitmen SDN Gardu dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif, berkeadilan, serta tidak membebani orang tua siswa.

Acara dihadiri oleh siswa kelas VI, kepala sekolah, komite sekolah, orang tua siswa, serta tokoh masyarakat. Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama, dilanjutkan sambutan kepala sekolah, penampilan kreativitas siswa, hingga prosesi perpisahan.

Momen paling mengharukan terjadi saat para siswa menyanyikan lagu perpisahan. Suara mereka bergetar menahan haru, sementara air mata tampak mengalir dari para siswa, guru, dan orang tua yang menyaksikan. Pelukan hangat serta tatapan penuh bangga menjadi penanda berakhirnya perjalanan enam tahun para siswa menempuh pendidikan di bangku sekolah dasar.

Kepala SDN Gardu, Prayogi Thia Nugraha, S.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa esensi pelepasan siswa bukan terletak pada kemewahan acara, melainkan pada rasa syukur, kebersamaan, dan nilai kekeluargaan.

“Kami ingin menanamkan kepada anak-anak dan orang tua bahwa kebahagiaan tidak harus diukur dari besarnya biaya atau kemegahan acara. Justru melalui kesederhanaan, nilai kebersamaan, keikhlasan, dan rasa syukur menjadi lebih terasa,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pihak sekolah sengaja tidak melakukan pungutan biaya demi menjaga prinsip pendidikan yang ramah bagi seluruh orang tua.

“Alhamdulillah, meski tanpa pungutan, acara tetap berjalan lancar dan penuh makna. Semua ini berkat kerja sama para guru, dukungan orang tua, serta semangat anak-anak yang luar biasa,” tambahnya.

Prayogi juga berpesan kepada seluruh lulusan agar terus menjaga akhlak, semangat belajar, serta nama baik almamater di mana pun mereka melanjutkan pendidikan.

“Semoga anak-anak kami tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” pesannya.

Ketua Komite SDN Gardu turut mengapresiasi pelaksanaan pelepasan siswa yang berlangsung sederhana namun tetap berkesan. Menurutnya, keputusan sekolah untuk tidak membebani orang tua dengan pungutan biaya merupakan langkah yang patut diapresiasi.

“Kami sangat mendukung kebijakan kepala sekolah dan dewan guru yang mengedepankan kesederhanaan tanpa membebani wali murid. Walaupun tanpa biaya, acara pelepasan ini tetap berlangsung khidmat dan menyentuh hati,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa makna sebuah pelepasan tidak diukur dari kemegahan acara, melainkan dari penghargaan terhadap proses pendidikan yang telah dilalui para siswa selama enam tahun.

“Justru melalui kesederhanaan seperti ini, pendidikan karakter semakin terasa. Anak-anak belajar tentang keikhlasan, kebersamaan, serta menghormati guru dan orang tua. Nilai-nilai inilah yang menjadi bekal penting untuk menempuh pendidikan ke jenjang berikutnya,” katanya.

Komite sekolah juga berharap sinergi antara sekolah, komite, dan orang tua dapat terus terjalin demi meningkatkan mutu pendidikan di SDN Gardu. Mereka turut mendoakan agar seluruh lulusan mampu meraih cita-cita serta menjadi generasi penerus yang membanggakan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Acara ditutup dengan doa bersama serta salam perpisahan antara siswa dan para guru. Kesederhanaan yang ditampilkan justru menghadirkan kesan mendalam, membuktikan bahwa sebuah perpisahan yang bermakna tidak harus dibalut kemewahan, melainkan cukup dengan keikhlasan, kebersamaan, dan kasih sayang.

Jum’at Berkah Berbagi Bersama BRI Pondok Gede

0

Warta in Jakarta – Jum’at Berkah merupakan Program kegiatan sosial rutin yang dilakukan berbagai kantor cabang BRI untuk berbagi kebahagiaan dan kepedulian kepada masyarakat sekitar terutama kaum Dhuafa, Panti Asuhan dan Masyarakat Sekitaran BRI Pondok Gede, Jumat, 19/6/2026.

Pemimpin Cabang BRI Pondok Gede Achmad Haris Fadhila menyampaikan komitmennya.
“Ini sebagai komitmen bank BRI untuk memberikan manfaat nyata bagi lingkungan” ujarnya.

Secara keseluruhan program ini adalah wujud nyata tanggung jawab perusahaan (CSR) dan komitmen BRI untuk terus hadir di tengah masyarakat khususnya di hari jum’at yang istimewa.

*Di Balik Kilau Mutiara Adonara, Ada Marginalisasi Petani dan Nelayan Flores Timur*

0

“Di Balik Kilau Mutiara Adonara, Ada Marginalisasi Petani dan Nelayan Flores Timur.

Adonara – Di tengah ambisi besar swasembada pangan nasional yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto, sebuah potret kontras dan memprihatinkan terpampang nyata di ujung timur Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kunjungan kerja Ketua Umum Asosiasi Pedagang dan Tani Tanaman Pangan dan Hortikultura Indonesia (APT2PHI), Dr. Rahman Sabon Nama, pada Kamis, 25 Juni 2026, menyingkap tabir kemiskinan struktural yang masih membelenggu para produsen pangan, petani, peternak, dan nelayan, di Pulau Adonara.

Dalam kunjungan tersebut, Dr. Rahman Sabon Nama yang didampingi oleh Dewan Pendiri APT2PHI, Usman Doni Tokan, MBA, serta anggota DPRD Kabupaten Flores Timur dari Fraksi PDIP, Polikarpus Eba Belolo, menyaksikan langsung rapuhnya kehadiran negara dalam melindungi hak-hak ekonomi rakyat kecil. Kunjungan strategis ini juga diisi dengan pertemuan penting bersama adik Raja Larantuka, Don Pati Golo, guna membahas solusi konflik agraria lahan ulayat masyarakat adat di Wailebe, Kecamatan Adonara Barat, sekaligus penjajakan pemanfaatan lahan tidur milik kerajaan untuk ditanami padi dan sorgum demi menyukseskan program ketahanan pangan nasional.

Sorotan paling tajam dalam pemantauan lapangan ini mengarah pada kondisi para nelayan di pesisir Dusun Wure, Kecamatan Witihama. Dusun ini menjadi lokasi operasional sebuah perusahaan asing asal Jepang yang mengelola sektor peternakan kerang mutiara. Di balik industri bernilai ekonomi tinggi tersebut, para nelayan lokal hanya berstatus sebagai buruh harian dengan upah minim, yakni Rp85.500,- per hari. Sementara itu, nelayan yang bekerja dengan sistem bulanan digaji sesuai dengan Upah Minimum Regional (UMR) Provinsi NTT yang hanya sebesar Rp2,5 juta per bulan.

Angka upah tersebut dinilai sangat tidak manusiawi dan tidak lagi relevan di tengah melambungnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) serta meroketnya harga kebutuhan pokok pasca-penyesuaian ekonomi nasional. Dr. Rahman Sabon Nama, yang juga merupakan alumnus Lemhannas RI, menyatakan kekecewaannya atas ketimpangan ini.

“Negara kita ini kaya akan sumber daya alam, tetapi rakyatnya tetap miskin karena lemahnya proteksi negara terhadap produsen lokal. Presiden Prabowo harus segera mewujudkan cetak biru (blueprint) ekonomi nasional berbasis pengelolaan SDA dengan distribusi keadilan sosial yang menyeluruh, terstruktur, dan sesuai dengan amanat Pasal 33 UUD 1945,” tegas Rahman kepada wartawan di tengah kunjungan tersebut.

Sebagai langkah konkret penyelesaian masalah, APT2PHI mendesak tiga langkah taktis. Pertama, Kementerian Ketenagakerjaan segera mengevaluasi dan menaikkan standar UMR Provinsi NTT menjadi Rp3.500.000,- per bulan agar selaras dengan daya beli masyarakat saat ini. Kedua, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di bawah Menteri Sakti Wahyu Trenggono segera mengalokasikan anggaran untuk membangun Kampung Nelayan Layak Huni di pesisir Dusun Wure, lengkap dengan bantuan kapal tangkap modern dan alat tangkap yang memadai.

Dan ketiga, Bupati Flores Timur, Anton Doni Dihen, segera membentuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) perikanan yang berfungsi sebagai penyerap (off-taker) hasil tangkapan nelayan lokal untuk keperluan pasar domestik maupun ekspor guna mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta kesejahteraan nelayan siber, termasuk pengembangan budidaya rumput laut.

Penjajahan Gaya Baru di Atas Tanah Sendiri

Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (Ketum PPWI), Wilson Lalengke, memberikan komentar yang tak kalah tajam terkait realitas pahit di Adonara. Menurut jurnalis senior ini, upah murah yang diterima buruh nelayan di perusahaan asing di NTT adalah bentuk penindasan ekonomi yang dibiarkan secara sistematis oleh pemerintah daerah dan pusat.

“Bagaimana mungkin di atas tanah ulayat yang kaya raya, rakyat kita sendiri diperlakukan seperti kuli murah oleh korporasi asing dengan upah Rp85.000 sehari? Ini adalah ‘penjajahan gaya baru’ (neo-colonialism) di sektor ekonomi!” ujar Wilson Lalengke dari Jakarta, Jumat, 26 Juni 2026.

Aktivis HAM internasional itu menambahkan bahwa pemerintah daerah tidak boleh hanya menjadi penonton pasif yang bangga dengan investasi asing, sementara masyarakat lokalnya hidup megap-megap di garis kemiskinan. “Bupati Flores Timur dan jajarannya harus berani menekan korporasi mutiara tersebut untuk memberikan upah layak dan jaminan sosial bagi nelayan kita. Jika negara tidak hadir melindungi mereka, maka jargon kesejahteraan rakyat hanyalah omong kosong politik,” tandasnya.

Keadilan Distributif dan Capability Approach
Penderitaan para petani dan nelayan di Flores Timur ini sangat relevan jika dibedah menggunakan kacamata teori filsafat sosial dunia. Filsuf politik asal Amerika Serikat, John Rawls (1921-2002), dalam karyanya A Theory of Justice, mencetuskan prinsip Keadilan Distributif melalui konsep Difference Principle.

Rawls menyatakan bahwa ketimpangan sosial dan ekonomi hanya dapat ditoleransi jika tindakan tersebut memberikan manfaat terbesar bagi anggota masyarakat yang paling tidak beruntung (the least advantaged). Dalam kasus Adonara, eksploitasi mutiara oleh korporasi asing tidak memberikan kemaslahatan bagi nelayan lokal, melainkan memperlebar jurang ketimpangan. Oleh karena itu, menurut prinsip Rawls, struktur ekonomi tersebut cacat secara moral karena mengabaikan keadilan sosial bagi mereka yang lemah.

Sejalan dengan itu, filsuf sekaligus ekonom penerima Nobel, Amartya Sen, melalui teori Capability Approach (Pendekatan Kemampuan), menegaskan bahwa kemakmuran suatu bangsa tidak boleh diukur hanya dari pertumbuhan ekonomi atau investasi asing, melainkan dari kebebasan substantif yang dimiliki individu untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Nelayan di Dusun Wure yang terjebak dalam lingkaran upah murah tidak memiliki “kemampuan substantif” untuk menyekolahkan anak mereka secara layak atau mendapatkan fasilitas kesehatan yang baik. Ketiadaan bantuan infrastruktur dari Kementerian KKP semakin membatasi ruang gerak hidup mereka.

*Menagih Kehadiran Negara di Beranda Negeri*

Kondisi nelayan dan petani di Flores Timur merupakan ujian nyata bagi visi kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Pembangunan nasional tidak boleh hanya berpusat di Pulau Jawa, tetapi harus menyentuh wilayah-wilayah pesisir terluar seperti Pulau Adonara.

Mewujudkan Kampung Nelayan Layak Huni, mereformasi standar upah regional, serta mendirikan BUMD perikanan bukan lagi sekadar opsi kebijakan, melainkan kewajiban konstitusional negara untuk memastikan bahwa kekayaan alam Flores Timur benar-benar dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyatnya sendiri. (TIM/Red)

*Siap Selenggarakan Acara Tele-conference Internasional tentang Wilayah Kherson dan Pencarian Perdamaian*

0

*Rusia Siap Selenggarakan Acara Tele-conference Internasional tentang Wilayah Kherson dan Pencarian Perdamaian*

Jakarta – Delegasi Federasi Rusia untuk Negosiasi Wina tentang Keamanan Militer dan Kontrol Senjata akan menyelenggarakan telekonferensi internasional tingkat tinggi bertajuk “Crimes of the Kiev Regime: Terror against the Civilians of the Kherson Region” (Kejahatan Rezim Kiev: Teror terhadap Warga Sipil di Wilayah Kherson). Acara tersebut dijadwalkan berlangsung pada tanggal 10 Juli 2026, pukul 19:00 WIB melalui platform Zoom.

Tele-conference berdurasi tiga jam ini bertujuan untuk mempertemukan perwakilan dari 80 negara yang mencakup kawasan Eropa, Asia, Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin, dan Amerika Utara. Dalam event tersbut akan disajikan presentasi komprehensif mengenai konsolidasi data, statistik, serta kesaksian langsung dari para korban terkait konflik militer yang sedang berlangsung di wilayah Kherson.

Berdasarkan dokumen (concept paper) yang dirilis oleh delegasi Rusia, wilayah Kherson saat ini menyumbang sekitar seperempat dari seluruh serangan Ukraina yang menargetkan infrastruktur sipil Rusia. Karena jalur pergerakan pertempuran langsung melewati wilayah ini, populasi sipil menghadapi risiko yang sangat besar.

Diskusi yang akan dimoderatori oleh Iulia Zhdanova, Kepala Delegasi Rusia dalam Negosiasi Wina, akan berfokus pada empat isu penting. Pertama, dokumentasi pelanggaran, yang akan meninjau pelanggaran hukum humaniter internasional yang diduga dilakukan oleh Angkatan Bersenjata Ukraina (UAF). Kedua, terkait analisis persenjataan yang digunakan, yakni menilai jenis senjata yang digunakan di wilayah tersebut, termasuk tuduhan penggunaan persenjataan terlarang atau “tidak manusiawi” yang dipasok oleh negara-negara anggota NATO dan Uni Eropa.

Ketiga, yakni dampak terhadap infrastruktur, untuk memeriksa taktik peperangan seperti penanaman ranjau jarak jauh di jalan-jalan umum di distrik Aleshky dan Skadovsk, yang memutus pasokan makanan dan obat-obatan penting bagi penduduk. Serta keempat, menyimak kesaksian korban. Peserta akan mendengar laporan langsung dari saksi mata dan korban, di samping presentasi dari tokoh-tokoh kunci seperti Duta Besar Luar Biasa (Ambassador-at-Large) Rodion Miroshnik.

Pihak penyelenggara menegaskan bahwa tujuan utama dari acara ini adalah untuk menyajikan data yang akurat kepada komunitas internasional dan organisasi kemanusiaan mengenai situasi nyata di lapangan, guna mengimbangi narasi propaganda Barat yang dinilai menyembunyikan fakta tersebut.

*Seruan Perdamaian Wilson Lalengke*

Menjelang pelaksanaan acara tersebut, berbagai tokoh masyarakat sipil dan calon peserta mulai menyuarakan motivasi mereka untuk hadir. Salah satu di antaranya adalah Wilson Lalengke, yang menyatakan dukungan penuhnya terhadap penyelenggaraan konferensi internasional ini dan menegaskan kesiapannya untuk hadir sebagai peserta aktif.

“Saya mendukung penuh inisiatif ini dan siap hadir sebagai peserta,” ujar Wilson Lalengke kepada Dubes Rusia untuk Indonesia, Mr. Sergey Tolchenov, saat mengikuti Press Briefing bersama puluhan wartawan nasional dan internasional di kediaman Dubes Rusia pada Rabu, 24 Juni 2026 lalu.

Petisioner HAM PBB tahun 2025 itu memandang platform ini bukan sekadar wadah untuk mendokumentasikan pelanggaran atau menyampaikan keluhan, melainkan sebagai peluang besar untuk mendorong dialog yang dapat menghentikan lingkaran setan kekerasan. “Harapan besar saya adalah agar acara-acara yang diselenggarakan oleh Rusia, seperti telekonferensi internasional ini, dapat menjadi katalisator bagi resolusi konflik yang damai. Kita harus menemukan jalan keluar demi menghindari lebih banyak korban jiwa di kedua belah pihak, baik dari kalangan militer maupun warga sipil yang tidak berdosa,” tegas Wilson Lalengke.

Sikap tokoh pers nasional Indonesia ini mengaskan keinginan kuat dari para pengamat internasional agar forum-forum multilateral dapat beralih fungsi; dari sekadar arena pertempuran retorika menjadi mekanisme nyata untuk penyelesaian konflik dan pengurangan dampak buruk perang.

*Refleksi Filosofis atas Konflik dan Kebenaran*

Telekonferensi yang akan datang beserta pergolakan geopolitik yang melatarbelakanginya mengajak kita untuk merenung secara filosofis. Pada hakikatnya, situasi ini memanggil kembali Teori Perang yang Adil (Just War Theory) yang awalnya dirumuskan oleh para pemikir seperti Thomas Aquinas (1225-1274) dan kemudian diperluas oleh Hugo Grotius (1583-1645).

Kerangka kerja ini menegaskan bahwa bahkan di tengah peperangan sekalipun (jus in bello), kekebalan warga sipil (non-combatant immunity) adalah sebuah imperatif moral yang absolut. Menargetkan infrastruktur sipil, terlepas dari siapa pelakunya, merupakan bentuk runtuhnya batas-batas etis yang memisahkan kekuatan politik yang sah dari kekerasan brutal yang tidak terkendali.

Lebih jauh lagi, konflik narasi seputar wilayah Kherson menyoroti krisis epistemologis dalam peperangan modern. Sebagaimana dicatat oleh filsuf pragmatis William James (1842-1910), kebenaran sering kali dikonstruksikan melalui lensa pengalaman dan utilitas manusia. Dalam konflik kontemporer, “kebenaran” kerap dipersenjatai sebagai alat propaganda, sehingga verifikasi independen menjadi sangat sulit dilakukan.

Dari sudut pandang kemanusiaan, nilai mutlak dari kehidupan manusia, seperti yang dinyatakan dalam Imperatif Kategoris Immanuel Kant (1724-1804), menuntut agar individu tidak pernah dijadikan sekadar alat demi mencapai tujuan geopolitik. Baik korban militer maupun sipil, setiap nyawa yang hilang adalah simbol kegagalan diplomasi yang rasional. Seruan Wilson Lalengke untuk menghindari jatuhnya korban lebih lanjut selaras dengan pandangan Kantian ini; sebuah pengingat bagi para peserta konferensi bahwa di balik papan catur geopolitik, ada kehidupan manusia yang nyata.

Pada akhirnya, forum seperti telekonferensi ini harus melampaui aksi saling tuduh dan mulai menghadapi pertanyaan filosofis yang mendasar: Bagaimana kemanusiaan dapat membangun kembali komitmen bersama terhadap hukum internasional dan koeksistensi ketika rasa saling percaya telah runtuh sepenuhnya? (TIM/Red)

Cegah Gangguan Kamtibmas, Polsek Sunggal Lakukan Patroli Dini Hari

0

Warta.in Medan – Dalam upaya menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), Polsek Sunggal terus mengintensifkan patroli malam guna mengantisipasi potensi tindak kejahatan C3 (curat, curas, dan curanmor) di wilayah hukumnya. Jum’at (26/06/26).

Kegiatan patroli ini dilakukan secara rutin oleh personel unit Samapta Polsek Sunggal, dengan menyasar titik – titik rawan kriminalitas, kawasan pemukiman, pusat keramaian, hingga jalur-jalur sepi yang berpotensi dimanfaatkan pelaku kejahatan, Patroli dilaksanakan secara mobile maupun stasioner, terutama pada jam-jam rawan di malam hingga dini hari.

Kapolsek Sunggal Kompol M.Yunus.Tarigan.S.H,M.H melalui Kanit Samaptanya Iptu Nizar Nasution, menegaskan bahwa peningkatan patroli malam merupakan langkah preventif untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat sekaligus menekan angka kriminalitas.

“Kami berkomitmen untuk terus hadir di tengah masyarakat, khususnya pada malam hari, guna mencegah terjadinya tindak kejahatan 3C. Patroli ini juga sebagai bentuk pelayanan Polri dalam memberikan perlindungan dan rasa aman bagi warga,” ujar Iptu Nizar Nasution, selain patroli, pihak kepolisian juga mengimbau masyarakat untuk turut berperan aktif dalam menjaga keamanan lingkungan, seperti mengaktifkan kembali ronda malam dan segera melaporkan jika menemukan hal – hal mencurigakan dengan nomor Call Center Polri 110

Dengan adanya kegiatan patroli yang intensif ini, diharapkan situasi kamtibmas di wilayah Polsek Sunggal tetap kondusif serta masyarakat dapat beraktivitas dengan tenang dan nyaman. (RN)

*WPF University dan Princonser University Sosialisasikan Program Doktoral D.S.P.P Bersama PPWI*

0

“Menembus Batas Akademik Global: WPF University dan Princonser University Sosialisasikan Program Doktoral D.S.P.P Bersama PPWI.

Jakarta – Menjawab tantangan global akan pentingnya integrasi ilmu pengetahuan, etika, dan aksi nyata, sebuah langkah terobosan di dunia pendidikan internasional baru saja diinisiasi. Pada Kamis malam, 25 Juni 2026, pukul 19.30 hingga 21.30 WIB, telah sukses diselenggarakan Seminar Online dalam rangka sosialisasi Program Doktoral Internasional: Doctor of Scientific-Practical Philosophy (D.S.P.P).

Pertemuan virtual yang dihadiri oleh belasan jurnalis, aktivis, praktisi, dan intelektual dari berbagai daerah di Indonesia ini menghadirkan dua tokoh penting dunia sebagai pembicara utama. Mereka adalah Prof. Muhammad Jesues Chrisnha selaku Chancellor International of World Philosophical Forum (WPF) University, dan Prof. Fidel Gutiérrez Vivanco selaku Rector of Princonser University yang terhubung langsung secara live dari Lima, Peru. Bertindak sebagai moderator sekaligus penerjemah bahasa dalam seminar penting ini adalah Ketua Umum PPWI, Wilson Lalengke, S.Pd., M.Sc., M.A.

Salah satu fokus krusial yang dibahas dalam seminar ini adalah pelurusan pemahaman mengenai istilah “Doctor Award” (Penghargaan Doktor) yang ditawarkan oleh sistim akademik WPF University. Di Indonesia, istilah “penghargaan doktor” kerap disalahartikan sebagai gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa / H.C.).

Prof. Muhammad Jesues Chrisnha menjelaskan dengan terang-benderang bahwa kedua kategori tersebut berada pada spektrum pengakuan yang sangat berbeda. Jika Doktor Kehormatan (H.C.) umumnya diberikan sebagai bentuk apresiasi atas popularitas, jabatan, atau jasa masa lalu seseorang tanpa persyaratan akademik formal, maka Doctor Award D.S.P.P mengharuskan kandidat untuk melalui proses ilmiah tingkat doktoral yang ketat dan terstruktur.

“Seseorang yang menerima gelar D.S.P.P dari kami wajib berpartisipasi aktif dalam proses ilmiah. Mereka harus menyerahkan karya asli, menyusun disertasi atau tesis, menjalani evaluasi akademik independen, peninjauan penelitian, hingga melakukan ujian lisan dan/atau pembelaan karyanya di hadapan panel dewan akademik internasional,” papar Prof. Chrisnha.

Melalui jalur ini, kandidat berhasil membangun berkas akademik yang substantif (academic dossier) seperti jurnal ilmiah, publikasi penelitian, dan keputusan tertulis dewan akademik. Rekam jejak ilmiah ini bernilai jangka panjang karena dapat dievaluasi secara independen oleh universitas, kementerian, atau lembaga profesional mana pun di masa mendatang.

*Sambutan Hangat dan Harapan*

Rektor Princonser University, Prof. Fidel Gutiérrez Vivanco, dalam pemaparannya menyampaikan rasa bahagia dan apresiasi yang luar biasa atas kerja sama internasional yang baru saja terjalin ini. “Saya mengucapkan selamat yang sebesar-besarnya kepada keluarga besar PPWI dan WPF University atas kemitraan strategis yang sangat progresif ini. Menyelenggarakan seminar sosialisasi program doktoral ini dalam waktu singkat adalah bukti nyata komitmen kita bersama untuk memajukan filsafat praktis-ilmiah di tingkat global, khususnya bagi masyarakat intelektual di Indonesia,” ujar Prof. Fidel langsung dari Peru.

Senada dengan Prof. Fidel, Prof. Chrisnha dan Wilson Lalengke menaruh harapan besar agar publik, terutama para peserta seminar, memahami esensi program D.S.P.P dengan utuh dan jernih. “Kami sangat berharap para peserta tidak terjebak dalam kebingungan administratif atau menyamakan program ini dengan PhD tradisional yang terakreditasi lokal. D.S.P.P adalah penghargaan akademik tingkat doktor internasional swasta berdasarkan kontribusi ilmiah nyata yang telah dibuktikan oleh kandidat,” jelas Prof. Chrisnha.

Sementara itu, Wilson Lalengke selaku moderator menambahkan bahwa program ini adalah peluang emas bagi para pemikir dan praktisi Indonesia untuk mendapatkan pengakuan dunia atas karya dan dedikasi nyata mereka. “Filsafat tidak boleh hanya menjadi menara gading yang mengawang-awang. D.S.P.P mewujudkan filsafat praktis, bagaimana ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan diimplementasikan untuk memecahkan persoalan rill manusia. Kami di PPWI berkomitmen memfasilitasi para intelektual tanah air untuk meraih rekognisi internasional ini dengan jujur dan bermartabat,” jelas lulusan pasca sarjana bidang Etika Terapan dari Universitas Utrecht (Belanda) dan Universitas Linkoping (Swedia) ini sambil mengajak semua kalangan tanpa terkecuali untuk bisa mengambil peluang emas tersebut..

*Mengembalikan Khitah Phronesis*

Program Doctor of Scientific-Practical Philosophy (D.S.P.P) sejatinya merupakan manifestasi modern dari konsep Phronesis (kebijaksanaan praktis) yang digagas oleh filsuf klasik Aristoteles. Aristoteles membedakan antara Sophia (kebijaksanaan teoretis) dan Phronesis (kemampuan etis untuk bertindak demi kebaikan manusia secara nyata).

Melalui D.S.P.P, karya-karya praktis para profesional di lapangan diangkat ke derajat akademik tertinggi melalui pisau analisis filsafat. Dengan demikian, ilmu pengetahuan kembali ke khitahnya: bukan sekadar kumpulan kertas dokumen yang tersimpan di perpustakaan, melainkan suluh penerang yang memperbaiki peradaban kemanusiaan.

Sebelum menutup pemaparannya, Prof. Chrisnha menyampaikan bahwa bagi mereka yang berminat menjadi peserta program doctoral internasional ini, dapat menghubungi Tim Kerja Sama PPWI-WPF University. Untuk informasi dan pendaftaran, dapat menghubungi Julian Caisar (+62 813-7895-7515) atau Mr. Abdul Rahman Dabboussi (+62 838-2555-5136). (TIM/Red)

Kisah Masyarakat Pasir Sakti: Dulu Terkikis Abrasi, Kini Tumbuh Mangrove yang Menghidupi

0

Warta In

“Lampung Timur, 26 Juni 2026 ,” Hamparan mangrove yang tumbuh rindang di pesisir Pasir Sakti, Lampung Timur, menyimpan kisah perjuangan panjang masyarakat dalam melawan abrasi yang pernah mengancam tempat tinggal dan mata pencaharian mereka.

Samsudin, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Mutiara Hijau I, masih mengingat bagaimana abrasi mencapai titik terparah pada 1995. Kala itu, gelombang laut terus mengikis daratan hingga memaksa banyak warga berpindah, termasuk dirinya.

“Kami sudah bosan pindah karena abrasi. Saya termasuk yang harus meninggalkan tempat tinggal sebelumnya karena wilayah itu sudah tidak bisa dihuni lagi,” kenangnya.

Berangkat dari pengalaman tersebut, Samsudin bersama warga mulai menanam mangrove secara swadaya pada awal 2000-an. Meski menghadapi berbagai keterbatasan, mereka terus berupaya meyakinkan masyarakat bahwa mangrove adalah pelindung pesisir sekaligus penopang kehidupan.

Perjuangan itu perlahan membuahkan hasil. Mangrove yang kembali tumbuh mampu menahan abrasi, memperbaiki kualitas lingkungan, dan menghidupkan kembali habitat berbagai biota laut.

Upaya rehabilitasi itu semakin berkembang dengan dukungan PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA). Menurut Samsudin, kolaborasi pihaknya dan PTBA mempercepat pemulihan ekosistem yang selama ini diperjuangkan masyarakat.

“Dalam waktu sekitar dua tahun kami bisa melakukan penanaman hingga puluhan ribu bibit mangrove,” ujarnya.

Terbaru, PTBA kembali menyalurkan bantuan 10.000 bibit mangrove dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Bagi Samsudin, dukungan tersebut menjadi penyemangat bagi masyarakat untuk terus menjaga kelestarian pesisir.

“Terima kasih kepada Bukit Asam. Semoga terus eksis dan tetap peduli terhadap lingkungan, khususnya mangrove. Karena mangrove ini tidak bisa dipanen seperti tanaman lain, tetapi manfaatnya sangat besar bagi kehidupan,” tuturnya.

Sustainability Division Head PTBA, Dedy Saptaria Rosa, mengatakan bahwa dukungan terhadap rehabilitasi mangrove di Pasir Sakti merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendorong pemberdayaan masyarakat.

“Bagi PTBA, keberlanjutan tidak hanya tentang menjaga lingkungan, tetapi juga memastikan masyarakat dapat merasakan manfaat dari upaya pelestarian yang dilakukan. Program rehabilitasi mangrove di Pasir Sakti menunjukkan bahwa kolaborasi antara perusahaan dan masyarakat mampu menciptakan dampak positif, baik bagi ekosistem pesisir maupun kesejahteraan warga,” ujar Dedy.

Kini, manfaat mangrove tidak hanya dirasakan oleh lingkungan. Kawasan yang dikelola KTH Mutiara Hijau I juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Kelompok yang beranggotakan 69 orang, termasuk 29 perempuan, aktif dalam pembibitan, penanaman, hingga pengembangan produk olahan mangrove seperti sirup dari buah mangrove.

“Kegiatan penanaman mangrove ini juga telah menggerakkan ekonomi warga. Selain memperoleh upah dari penanaman, anggota kelompok juga mendapatkan penghasilan tambahan dari pembibitan dan penjualan produk olahan mangrove,” kata Samsudin.

Tak berhenti pada penanaman, KTH Mutiara Hijau I juga menyiapkan bibit secara mandiri untuk mengganti tanaman yang tidak tumbuh optimal. Bagi mereka, menjaga mangrove adalah komitmen jangka panjang.

Kolaborasi antara KTH Mutiara Hijau I dan PTBA menjadi bukti bahwa pemulihan lingkungan dapat berjalan lebih efektif ketika dilakukan bersama. Di Pasir Sakti, mangrove kini bukan hanya benteng alami yang melindungi pesisir dari abrasi, tetapi juga sumber penghidupan yang menggerakkan ekonomi warga.

Dari kawasan yang pernah terancam hilang akibat abrasi, kini tumbuh hutan mangrove yang kembali hijau, menghadirkan perlindungan bagi pesisir dan harapan baru bagi generasi yang akan datang.

(Zulkifli)

Dugaan Penganiayaan di Kos-kosan Gerimax Indah Selesai Secara Kekeluargaan

0

Dugaan Penganiayaan di Kos-kosan Gerimax Indah Selesai Secara Kekeluargaan

Warta.in
Lombok Barat, NTB – Polsek Narmada memfasilitasi mediasi terkait dugaan penganiayaan, yang terjadi di sebuah kos-kosan di Dusun Kembang Kuning, Desa Gerimax Indah, Kecamatan Narmada. Proses mediasi berlangsung di ruang Reskrim Polsek Narmada dan berakhir dengan kesepakatan damai antara kedua pihak.

Mediasi dipimpin Bhabinkamtibmas Desa Gerimax Indah Brigadir Nurwandi bersama anggota Reskrim Polsek Narmada, Kamis (25/6/2026). Langkah tersebut dilakukan setelah adanya laporan pengaduan terkait peristiwa yang terjadi pada 23 Juni 2026 lalu.

Kapolsek Narmada AKP I Kadek Ariawan, S.H. mengatakan, pendekatan mediasi dilakukan setelah kedua pihak bersedia duduk bersama, untuk mencari penyelesaian secara kekeluargaan.

“Kami memfasilitasi komunikasi antara kedua pihak agar persoalan dapat diselesaikan dengan baik, tetap mengedepankan musyawarah serta kesepakatan bersama,” ujar AKP I Kadek Ariawan.

Dalam mediasi tersebut, petugas melakukan koordinasi dan dialog dengan pihak yang terlibat guna mencari solusi terbaik. Setelah melalui pembahasan, kedua belah pihak sepakat menyelesaikan persoalan secara damai.

“Hasil mediasi menunjukkan kedua pihak sepakat tidak melanjutkan permasalahan ini ke proses saling menuntut, dan memilih menyelesaikannya secara kekeluargaan,” katanya.

Kesepakatan tersebut kemudian dituangkan dalam surat perdamaian yang ditandatangani para pihak, sebagai bentuk komitmen bersama untuk menjaga hubungan tetap baik ke depan.

“Kami berharap kesepakatan ini dapat dipatuhi bersama, sehingga tidak muncul persoalan lanjutan dan situasi kamtibmas tetap terjaga,” tutup AKP I Kadek Ariawan.(sr/hpm)

Polda NTB Ungkap 442 Kasus Narkoba dalam 6 Bulan, Kapolda Tegaskan “War On Drugs”

0

Polda NTB Ungkap 442 Kasus Narkoba dalam 6 Bulan, Kapolda Tegaskan “War On Drugs”

Warta.in
Mataram, NTB – Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat (Polda NTB) menunjukkan komitmennya dalam memerangi peredaran narkotika dan obat-obatan berbahaya. Sepanjang periode Januari hingga Juni 2026, Polda NTB bersama Polres/ta jajaran berhasil mengungkap 442 kasus penyalahgunaan dan peredaran narkoba dengan mengamankan 574 tersangka, terdiri dari 507 pria dan 67 perempuan.

Keberhasilan tersebut disampaikan langsung Kapolda NTB, Irjen Pol. Kalingga Rendra Raharja, S.E., M.H., saat memimpin konferensi pers pengungkapan kasus sekaligus pemusnahan barang bukti hasil operasi Direktorat Reserse Narkoba Polda NTB dan Satresnarkoba Polres/ta jajaran di Tribun Bhara Daksa Polda NTB, Jumat (26/06/2026).

Kegiatan itu dihadiri unsur Forkopimda dan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya perwakilan Pemerintah Provinsi NTB, Korem 162/Wira Bhakti, Kejaksaan Tinggi NTB, BNN Provinsi NTB, BPOM, Bea Cukai Mataram, MUI NTB, Direktur Resnarkoba Polda NTB, Kabid Humas Polda NTB, para Kasat Resnarkoba jajaran, serta sejumlah stakeholder terkait.

Selain mengamankan ratusan tersangka, aparat juga menyita berbagai barang bukti, di antaranya sabu, ganja, 647 butir ekstasi, 36.995 butir tramadol, 6.370 botol minuman keras ilegal, serta berbagai jenis narkotika dan barang berbahaya lainnya.

Kapolda NTB menegaskan bahwa pengungkapan dan pemusnahan barang bukti tersebut merupakan bukti nyata komitmen Polda NTB dalam memberantas peredaran narkotika, obat-obatan berbahaya, dan minuman keras ilegal di wilayah Nusa Tenggara Barat.

“Kami tegaskan bahwa Polda NTB tidak akan memberi ruang bagi pelaku peredaran narkotika. Semangat kami jelas, Search, Seek, Destroy, War On Drugs, dengan niat tulus mengabdi kepada masyarakat,” tegas Irjen Pol. Kalingga Rendra Raharja.

Meski demikian, Kapolda menekankan bahwa perang melawan narkoba tidak dapat dilakukan hanya oleh aparat penegak hukum. Menurutnya, diperlukan sinergi seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dunia pendidikan, media massa, hingga masyarakat luas untuk bersama-sama menyelamatkan NTB dari ancaman narkotika.

“Kami mengajak seluruh komponen masyarakat untuk bersama-sama mencegah dan memberantas peredaran narkoba. Ini adalah tanggung jawab bersama demi menyelamatkan generasi penerus bangsa,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala BNN Provinsi NTB Brigjen Pol. Marzuki, S.I.K., dan Ketua MUI NTB Dr. TGH. Badrun menyampaikan apresiasi atas langkah tegas Polda NTB dalam memerangi narkoba.

Sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan pencegahan, Ketua MUI NTB mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan naskah khutbah Jumat bertema bahaya narkoba yang akan disampaikan di sekitar 4.250 masjid di seluruh kabupaten dan kota di NTB melalui jaringan MUI dan Kantor Kementerian Agama.

Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat edukasi kepada masyarakat sekaligus membangun kesadaran kolektif bahwa pemberantasan narkoba harus dimulai dari lingkungan keluarga, pendidikan, tempat ibadah, hingga komunitas masyarakat.

Melalui pengungkapan ratusan kasus ini, Polda NTB menegaskan akan terus meningkatkan upaya penindakan sekaligus memperkuat langkah-langkah pencegahan agar Nusa Tenggara Barat terbebas dari ancaman narkotika dan berbagai bentuk kejahatan yang merusak masa depan generasi bangsa. (sr/hpntb)