34.6 C
Jakarta
Senin, April 27, 2026

Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

Ironi Pendidikan Subang: Rp850 Miliar Dibutuhkan, Siswa SDN Dukuh Seberang Masih Belajar di Ruang Rusak

Ironi Pendidikan Subang: Rp850 Miliar Dibutuhkan, Siswa SDN Dukuh Seberang Masih Belajar di Ruang Rusak

SUBANG | Warta In Jabar – Di tengah angka kebutuhan anggaran pendidikan yang mencapai Rp850 miliar, kondisi nyata di lapangan justru berbicara lain. SDN Dukuh Seberang hingga kini masih bergulat dengan ruang kelas rusak, memunculkan pertanyaan serius soal prioritas dan kecepatan penanganan.

Kepala Dinas Pendidikan Subang sebelumnya mengungkapkan lebih dari 2.000 ruang kelas di wilayahnya mengalami kerusakan. Nilai kebutuhan anggaran yang fantastis membuat perbaikan tidak bisa sepenuhnya mengandalkan APBD, sehingga sekolah didorong memaksimalkan dana BOS.

Namun di tingkat sekolah, kebijakan ini dinilai belum menjawab persoalan mendasar, terutama untuk kerusakan berat yang menyangkut keselamatan siswa.

Lantai teras keramik banyak yang rusak

Di SDN Dukuh Seberang, sejumlah ruang kelas dilaporkan mengalami kerusakan cukup parah kondisi atap dan plafon roboh, serta lantai yang rusak. Kondisi ini membuat kegiatan belajar mengajar berjalan dalam keterbatasan.

Kusen dan daun pintu juga banyak yang kropos

Kepala SDN Dukuh Seberang, Amin, S.Pd, menyampaikan bahwa pihak sekolah telah berupaya maksimal sesuai kemampuan.

“Kami sudah berusaha melakukan perbaikan sebisanya melalui dana yang ada. Namun untuk kerusakan berat, tentu membutuhkan penanganan lebih lanjut dari pemerintah,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa kebutuhan tambahan ruang kelas menjadi hal mendesak agar proses belajar dapat berlangsung lebih layak dan aman.

Banyak plafon yang rusak

Pernyataan mengenai perbaikan bertahap hingga 2029 kini memunculkan kegelisahan. Di satu sisi, pemerintah menyusun rencana jangka panjang. Di sisi lain, sekolah-sekolah seperti SDN Dukuh Seberang menghadapi kondisi yang tidak bisa menunggu terlalu lama.

Pertanyaannya bukan lagi soal ada atau tidaknya anggaran, tetapi seberapa cepat dan tepat sasaran kebijakan itu dijalankan.

Jika dana BOS menjadi tumpuan tambahan, publik pun berharap ada kejelasan batasnya: sampai di mana tanggung jawab sekolah, dan kapan negara hadir menyelesaikan kerusakan yang bersifat struktural?

Untuk saat ini, siswa SDN Dukuh Seberang masih belajar dalam situasi yang jauh dari ideal—sebuah ironi di tengah besarnya angka anggaran yang terus digaungkan.

Berita Terkait