Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

Kepala UPTD Puskesmas Maniis Baru Tiga Bulan, Langsung Ngebut Benahi Layanan Kesehatan

Warta.in, Purwakarta – Kepala UPTD Puskesmas Maniis Kabupaten Purwakarta, Aan Suandana, S.Kep., Ners, menyampaikan keterangannya kepada awak media warta.in terkait kondisi pelayanan kesehatan, berbagai tantangan yang dihadapi, serta langkah-langkah yang dilakukan jajaran Puskesmas Maniis dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Aan Suandana diketahui mulai mengemban amanah sebagai Kepala UPTD Puskesmas Maniis sejak 23 Mei 2026. Dalam masa kepemimpinannya yang masih relatif baru, ia mengakui bahwa Puskesmas Maniis menghadapi sejumlah tantangan yang membutuhkan penanganan serius, terukur, dan melibatkan berbagai pihak.

“Saya baru mengemban amanah sebagai Kepala Puskesmas Maniis sejak 23 Mei 2026. Dalam masa kurang lebih tiga bulan ini, kami melakukan penyesuaian sekaligus pembenahan bersama seluruh jajaran. Tantangan pelayanan di wilayah Maniis cukup kompleks dan membutuhkan kerja bersama, bukan hanya dari internal puskesmas,” ujar Aan kepada awak media, Kamis (1/10/2026).

Menurutnya, salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah kondisi geografis dan jarak menuju rumah sakit rujukan, terlebih ketika masyarakat membutuhkan pelayanan lanjutan. Situasi tersebut menuntut Puskesmas Maniis untuk mampu memberikan pelayanan tingkat pertama secara optimal sekaligus memastikan proses rujukan berjalan sesuai kebutuhan medis pasien.

Di sisi lain, tingginya angka kunjungan pasien setiap hari menjadi tantangan tersendiri bagi tenaga kesehatan.
Namun, tingginya kunjungan tersebut juga menunjukkan bahwa masyarakat menjadikan Puskesmas Maniis sebagai salah satu tumpuan utama dalam memperoleh pelayanan kesehatan.

“Bagi kami, tingginya kunjungan bukan semata-mata persoalan beban pelayanan. Ini juga merupakan bentuk kepercayaan masyarakat yang harus kami jawab dengan peningkatan kualitas pelayanan. Karena itu, kami terus mendorong agar pelayanan diberikan secara cepat, tepat, ramah, dan humanis,” tegasnya.

Ketersediaan Obat Jadi Perhatian
Mengenai ketersediaan obat, Aan menjelaskan bahwa stok obat yang mengacu pada Formularium Nasional (Fornas) serta sesuai dengan kompetensi pelayanan tingkat pertama di Puskesmas Maniis saat ini berada dalam kondisi yang relatif aman.

Sementara untuk kebutuhan obat tertentu di luar Fornas yang dinilai dibutuhkan pasien, pihaknya berupaya melakukan pemenuhan melalui dukungan dana Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Namun, ia tidak menutup mata bahwa pemenuhan kebutuhan tersebut memiliki keterbatasan.

“Untuk obat sesuai Fornas dan kompetensi pelayanan tingkat pertama, secara umum stok kami cukup aman. Untuk obat di luar Fornas yang memang dibutuhkan pasien, kami berupaya memenuhinya melalui dukungan dana JKN. Tetapi harus kami sampaikan secara terbuka, alokasi tersebut terkadang belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan karena tingginya kebutuhan di lapangan,” jelas Aan.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi bagian dari tantangan yang harus dikelola secara cermat agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan tanpa mengabaikan ketentuan dan kemampuan fasilitas kesehatan tingkat pertama.

Kapasitas Rawat Inap Hampir Selalu Penuh

Tantangan lainnya adalah tingginya kebutuhan terhadap pelayanan rawat inap (ranap). Aan menyebut kapasitas rawat inap Puskesmas Maniis hampir selalu berada dalam kondisi penuh.
Situasi ini menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, sekaligus menjadi indikator bahwa kapasitas pelayanan harus terus dievaluasi dan dicarikan solusi secara bersama.

“Kapasitas rawat inap kami hampir selalu penuh. Ini tentu menjadi perhatian serius. Kami tidak ingin hanya menyelesaikan persoalan ketika pasien sudah datang. Karena itu, kami mulai memperkuat komunikasi dengan lintas sektor, termasuk pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta tokoh masyarakat,” katanya.

Pendekatan lintas sektor tersebut, lanjut Aan, tidak hanya diarahkan pada penanganan pasien, tetapi juga memperkuat upaya promotif dan preventif dari tingkat masyarakat.

Menurutnya, persoalan kesehatan tidak seluruhnya dapat diselesaikan di dalam gedung puskesmas. Pencegahan penyakit, peningkatan kesadaran masyarakat, pola hidup sehat, serta keterlibatan pemerintah desa dan unsur masyarakat menjadi bagian penting dalam menekan beban pelayanan kesehatan.

Komitmen: Tidak Berhenti pada Keterbatasan

Aan menegaskan bahwa berbagai keterbatasan yang dihadapi tidak boleh menjadi alasan untuk menurunkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Ia memastikan jajaran Puskesmas Maniis akan terus melakukan evaluasi dan pembenahan, baik dari sisi manajemen, pelayanan, ketersediaan obat, penanganan pasien, maupun koordinasi dengan lintas sektor.

“Kami menyadari masih ada keterbatasan dan tantangan yang harus kami benahi. Tetapi komitmen kami jelas, bagaimana masyarakat Maniis mendapatkan pelayanan kesehatan yang maksimal sesuai kemampuan dan kewenangan Puskesmas. Kami akan terus berupaya memberikan pelayanan yang cepat, tepat dan humanis,” tegas Aan.

Ia juga menyatakan keterbukaan terhadap kritik, masukan, maupun informasi dari masyarakat dan media sepanjang disampaikan secara konstruktif dan dapat menjadi bahan evaluasi.

“Kami terbuka terhadap kritik dan masukan yang membangun. Bagi kami, kritik merupakan bagian dari evaluasi. Yang terpenting adalah bagaimana setiap persoalan dapat kita cari solusinya bersama, sehingga pelayanan kesehatan masyarakat di Kecamatan Maniis ke depan semakin baik,” pungkasnya. (ds)

Berita Terkait