Samosir, warta.in – Riuh pembangunan dan penataan kota semestinya menjadi tanda kemajuan. Namun di sudut jantung Kota Pangururan, tepatnya di kawasan Taman Sitolu Hae Horbo, Pangururan, Samosir, sebagian masyarakat justru merasakan kegelisahan yang perlahan berubah menjadi luka budaya.
Taman yang berdiri megah di segitiga pintu masuk Kota Pangururan itu selama ini bukan hanya menjadi tempat warga menikmati sore, berbincang bersama keluarga, ataupun sekadar melepas penat. Lebih dari itu, taman tersebut telah lama hidup sebagai simbol identitas Bius Sitolu Hae Horbo — jejak sejarah yang diwariskan para leluhur kepada generasi penerus: Naibaho, Sitanggang dan Simbolon.
Kini, polemik muncul setelah sejumlah perubahan penataan dilakukan di kawasan taman. Keresahan warga semakin memuncak menyusul hilangnya ornamen pohon besi gaba-gaba salib yang dianggap sebagai bagian penting dari simbol budaya Sitolu Hae Horbo yang diikat dalam kasih beragama.
Bagi masyarakat adat, hilangnya simbol itu bukan perkara sederhana. Sudah mengarah sebagai penghinaan.
“Yang hilang bukan sekadar benda. Yang perlahan hilang adalah penghormatan terhadap sejarah,” ungkap seorang warga Pangururan saat menyaksikan kondisi penataan taman tersebut.
Efendy Naibaho, tokoh keturunan Sitolu Hae Horbo, menegaskan bahwa pembangunan seharusnya tidak memutus akar budaya yang telah tumbuh sejak lama di tanah Pangururan.
Menurutnya, Taman Sitolu Hae Horbo memiliki nilai historis yang tidak dapat diganti hanya dengan konsep estetika modern apalagi materi.
“Budaya bukan pajangan yang bisa dipindahkan sesuka hati. Di taman ini ada sejarah, ada identitas, ada warisan leluhur yang harus dihormati,” ujar Efendy Naibaho kepada wartawan, Jumat (16/5/2026) usai mengadu ke SPKT Polres Samosir.
Ia menilai, penataan kawasan semestinya dilakukan melalui komunikasi bersama tokoh adat dan keturunan Bius Sitolu Hae Horbo agar tidak menimbulkan kesan menghapus simbol budaya masyarakat.
“Kami tidak menolak kemajuan kota. Tetapi pembangunan harus tetap berpijak pada akar budaya. Jangan sampai masyarakat adat hanya menjadi penonton di tanah sejarahnya sendiri,” katanya dengan nada kecewa.
Arifin Naibaho (69), warga Pangururan, mengambil langkah hukum dengan melaporkan dugaan hilangnya gaba-gaba salib itu ke Polres Samosir.
Sebelumnya Arifin Naibaho bersama Efendy Naibaho dan pomparan Sitolu Hae Horbo bersama Kapolsek Pangururan Pak Dalimunthe meninjau hilangnya gaba-gaba tersebut.
Laporan diterima petugas SPKT Polres Samosir, Jumat (16/5/2026), setelah pelapor mendapati ornamen yang sebelumnya berdiri di taman sudah tidak lagi berada di lokasi.
Arifin Naibaho berharap simbol budaya ke-Kristenan tersebut dapat dikembalikan dan dipasang kembali sebagai bentuk penghormatan

terhadap warisan Bius Sitolu Hae Horbo.
“Biar generasi muda tahu bahwa tempat ini punya sejarah. Jangan sampai anak cucu hanya mendengar cerita tanpa lagi melihat simbol budayanya,” ucapnya.
Di tengah berkembangnya Pangururan sebagai daerah wisata yang terus berbenah, masyarakat kini berharap pemerintah dan seluruh pihak dapat duduk bersama mencari solusi terbaik.
Sebab sebuah kota tidak hanya dibangun oleh beton dan lampu-lampu taman, tetapi juga oleh ingatan, sejarah, dan budaya adat serta simbol ke-Kristenan menjaga jati diri masyarakatnya tetap hidup dari generasi ke generasi.
Yang paling penting lagi, Taman Sitolu Hae Horbo itu bukan jadi tempat pajangan baliho (red)





























