Setelah dua tahun berkuasa, apa yang bisa dinilai dari Presiden Prabowo? Pelajaran apa yang perlu digariswawahi?
Ada lima perspektif yang bisa dimanfaatkan. Perspektif (1) kekuasaan, (2) kepemerintahan, (3) kepemimpinan, (4) kewibawaan, dan (5) keinfrastrukturan. Perspektif tersebut tidak harus urut, dari mana saja masuknya bisa.
Apakah sebagai presiden, Prabowo berkuasa? Benar, sebagai presiden Prabowo berkuasa penuh. Bahkan dengan tingkah lakunya yang aneh-aneh, dan berbagai kebijakannya yang tidak jelas, hal itu justru mempertontonkan bahwa Prabowo sedang berkuasa.
Sejauh ini, kekuasaannya memang bisa dikritik, bisa digugat. Seolah seperti ada perdebatan dan demokrasi. Demonstrasi terus berlangsung. Prabowo di beberapa kesempatan tampak merespons kritik terhadap dirinya. Tapi, kritik dan gugatan tidak mengurangi kekuasaannya.
Bagaimana kepemerintahan Prabowo? Kalau melihat menteri-menterinya dan sejumlah pejabat penting Prabowo, juga relasi kerja sama antarkementerian, maka situasinya semrawut. Hampir tidak ada kementerian yang memperlihatkan kinerja dan hasil suatu pekerjaan yang bisa dirasakan manfaatnya. Hal itu dapat dilihat dari begitu banyak masalah yang dihadapi, karhutla, masalah BBM, listrik, sembako, tidak tertangani dengan baik.
Seorang teman saya, Farid Gaban, menyatakan, “Pemerintahan ini akan implode, runtuh dari dalam oleh konflik dan ketegangan di dalam pemerintahan sendiri: konflik kepentingan; rebutan anggaran antar menteri; sentralisasi fiskal yg membuat marah daerah dan bahkan desa yang dananya dirampok untuk KDMP.”
Menurut saya tidak. Seperti diperlihatkan Prabowo selama ini, untuk memberi kesan ia tanggap, sambil menutupi kelemahanan kepemerintahannya, Prabowo bongkar pasang penjabatnya, tentu sambil beli waktu. Ia akan melakukan itu terus, tergantung arah angin ke mana. Prabowo hanya berbagi jabatan, bukan kekuasaan.
Nafsu kekuasaan Prabowo jauh lebih menakutkan daripada bersaing antarmenteri, atau bahkan para menteri tidak berani terlihat menonjol. Banyak menteri tidak mengambil resiko seperti matahari yang juga bersinar. Banyak meteri, atau pejabat tinggi lainnya, hanya mengambil peran menjadi senter-senter kecil di ruang kerjanya masing-masing.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa sebenarnya Prabowo tidak tahu cara memilih menteri dan penjabatnya. Pertimbangan utamanya lebih karena kroni, pernah berjasa, mengabil hati partai politik yang berpotensi menjadi lawannya, orang yang patuh, dan sedikit balas budi. Bukan pertimbangan kemampuan dan kinerja.
Bagaimana soal kepemimpinan? Kepemimpinan Prabowo lumayan buruk, bahkan nyaris tidak punya etika. Dan itu sudah diperlihatkannya. Tapi, itu tidak masalah. Karena kepemimpinan yang buruk tidak menjatuhkan kekuasaan. Banyak raja dan presiden yang sangat buruk, tapi tetap berkuasa. Jadi, kepemimpinan memang tidak penting bagi kekuasaan Prabowo.
Soal kewibawaan? Hal wibawa berwajah ganda dan kadang tumpang tindih. Karena Prabowo berkuasa, maka terkesan ia berwibawa. Karena semua omongan dan kebijakannya dianut orang-orangnya. Akan tetapi, karena kepemerintahannya buruk, kepemimpinannya tidak sopan, maka kita tahu, Prabowo banyak menjadi bahan olok-olok.
Bagaimana dengan kondisi keinfrastrukturan? Prabowo masih sibuk ngumpulin uang. Menterinya sibuk konsolidasi. Secara fisik cukup banyak bangunan kopdes di hampir seluruh desa Indonesia. Tapi, kayaknya belum menggerakkan garis ekonomi baru. Perekonomian masih memanfaatkan jalur-jalur ekonomi yang lama.
Yang jelas, uang sudah banyak berhamburan untuk MBG dan Kopdes, tapi bahkan kebijakan itu hingga hari ini cuma minus dan menjadi ajang korupsi. Sudah cukup banyak pengamat dan peneliti memperlihatkan kegagalan program itu. Belum lagi kerugian akibat banyaknya siswa dan pelajar yang keracunan. Ini bagian yang paling parah.
Kesimpulan apa yang bisa didapatkan? Kalau belajar dari kepresidenan Prabowo, maka negara, masyarakat, dan bangsa Indonesia terserap dalam satu dimensi kekuasaan tertentu yang tidak membawa Indonesia ke mana-mana. Indonesia sibuk berkutat di dalam dirinya, sibuk menghadapi totalitarianisme.
Orang pemerintah tetap melakukan seremonialisasi kekuasaan penguasanya. Para menteri sibuk buka acara ini acara itu. Sebagian warga-rakyat sibuk mengatasi masalah keseharian hidupnya, tetap kerja keras agar bisa bertahan. Kayaknya, situasi ini akan berlangsung lama, jika Prabowo tidak mengubah karakter kekuasaannya.
Aprinus Salam, Guru Besar di FIB UGM.
















