Selintas, saya membaca ada informasi menarik tentang orang berbahaya di Indonesia. Salah satu nama yang muncul adalah Prof. Zainal Arifin (Uceng), dan beberapa nama lain seperti koordinator demonstrasi Fathimah Azzahra mahasiswa UI, dan sejumlah mahasiswa lain.
Berbahaya di situ maksudnya berbahaya buat penguasa totalitarian negeri ini. Saya mendukung pernyataan tersebut. Indonesia perlu lebih banyak orang berbahaya yang berani berhadapan dengan kekuasaan Indonesia yang silang sengkarut.
Namun, berdasarkan catatan sejarah, banyak orang berani dan dinilai intelektual, masa depannya masuk ke dalam dua perkara. Pertama, dia masuk ke dalam sistem kekuasaan tertentu dan menjadi bagian dari kekuasaan. Contoh seperti ini banyak sekali, seperti hari ini diperlihatkan para aktivis 1998.
Kedua, mungkin dia bertahan menjadi intelektual organik atau progresif. Kemudian, mereka menjadi peneliti, pengamat, atau berbagai profesi yang relatif independen. Contoh orang seperti ini tidak cukup banyak, tapi ada. Salah satu yang terkenal sebagai contoh terbaik, dan sebagai kasus terburuk, tentulah Rocky Gerung.
Ada juga yang seolah menjadi peneliti independen. Tapi, terlihat bahwa mereka banyak bermain angka, seolah penelitian ilmiah. Kesan ilmiah untuk mendukung partai politik tertentu, atau calon pemimpin tertentu. Permainan angka terebut sungguh berbahaya.
Yang ingin saya persoalkan adalah siapa orang berbahaya di Indonesia, dan karena dia berbahaya, mereka harus dilawan dan kalau bisa ditekan untuk sedapat mungkin tidak memiliki peran.
Namun, apa itu orang berbahaya? Orang berbahaya di sini maksudnya adalah orang yang berpotensi merugikan dan/atau merusak, mencilakai, merampak, merampas harta dan martabat negara dan bangsa. Bahkan orang berbahaya itu adalah orang yang berpotensi membunuh atau menimbulkan kematian warga, atau katakanlah rakyat.
Orang berbahaya yang paling awal, bisa jadi sekumpulan orang, yakni mereka yang tidak mampu (inkompeten); mungkin karena memang tidak berdaya (dilemahkan), karena miskin, karena bodoh (tidak mau berpikir), untuk memilih atau menghadirkan pemimpin di antara mereka sendiri.
Alhasil, kita tahu, bahwa karena hal itu muncullah pemimpin sebagai “hasil pilihan” dari mereka yang tidak memiliki kemampuan untuk memilih pemimpin di antara mereka sendiri. Kita bisa membayangkan pemimpin seperti apa yang terpilih dari proses seperti itu. Hari ini kita sedang mendapatkan musibah tersebut.
Jadi, jika kelompok orang yang berbahaya adalah mereka yang inkompenten, dimiskinkan, dan dibuat bodoh adalah kelompok orang yang paling berbahaya. Maka, orang lain yang berbahaya adalah para pemimpinnya, para pejabatnya. Semakin dapat dirasakan bahwa sebenarnya merekalah orang paling berbahaya bagi kelangsungan bangsa dan negara.
Orang berbahaya ketiga adalah mereka yang mungkin sedikit punya kepintaran, juga pinter ngomong, tapi sangat berambisi dengan kekayaan dan kekuasaan. Mereka akan menempuh dalam berbagai cara untuk bisa berhasil sesuai dengan harapannya tersebut.
Cukup banyak juga orang seperti ini. Bahkan mereka rela menjadi para pengkhianat negeri. Salah satu contoh terbaiknya adalah orang-orang seperti Raffi Ahmad dan kawan-kawannya. Mereka hidup sukses dan kaya raya, tapi justru sangat berbahaya bagi martabat dan keberadaan negeri Indonesia.
Saya ingin meneruskan, siapa lagi yang berbahaya bagi kekuasaan. Pertama, mereka yang berdiri di antara dua kaki dalam hidupnya; yakni kaki pertama adalah kaki kemiskinan, dan kaki kedua bahwa dia yang mau berpikir dan menulis.
Salah satu contoh terbaiknya adalah penyair Wiji Thukul. Penyair ini menjadi berbahaya bagi kekuasaan karena dia miskin dan buruh pada sebuah perusahaan mebel kecil. Di sela-sela waktunya dia membuat puisi. Puisi itu kadang dibacakan kalau dia ikut demonstrasi.
Dari Wiji Thukul, kita bisa belajar, puisi yang dibuat orang-orang terpelajar dan bukan orang miskin, tidak seberbahaya puisi Wiji Thukul. Bobot berbahaya Wiji Thukul karena ada dukungan empirik dari kemiskinan itu sendiri. Puisinya menjadi bertenaga. Karena berbahaya, Wiji Thukul hilang tanpa kejelasan.
Kedua, jika banyak petani, buruh, nelayan, dan orang miskinnya, mau bersuara bersama-sema melawan kekuasaan yang zalim, gerakan mereka jauh lebih berbahaya dibanding gerakan mahasiswa. Sayangnya, sebagian besar dari mereka memang terlanjur dibuat tidak berdaya.
Ketiga, manusia berbahaya lain bagi kekuasaan adalah mereka yang “dianggap lemah”, seperti emak-emak, anak-anak, datuk-datuk, nenek-nenek yang memang lemah dan dilemahkan. Tapi, kita bisa bayangkan jika ada emak-emak bergabung dengan anak-anak, bahkan datuk dan neneknya ikut, kemudian mereka demonstrasi, mereka akan sangat berbahaya.
Mungkin dengan mudah mereka akan dikalahkan, tapi tetap saja jika mereka kalah, apalagi sebagian dari mereka mati, situasinya sungguh sangat berbahaya. Negeri ini akan kocar kacir berantakan.
Aprinus Salam, Guru Besar di FIB UGM.


















