PALI, 31 Agustus 2026 – Di tengah musim kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), seruan untuk berserah diri dan memohon Rahmat Ilahi menggema kuat. Menanggapi kondisi iklim saat ini, tokoh agama sekaligus Kepala Yayasan Pesantren (Ponpes) Nurul Qur’an Desa Betung Selatan, Kecamatan ABAB, KH. Aman Rohman, S.Q., S.Ag., menyampaikan pesan mendalam sekaligus ajakan terbuka kepada seluruh lapisan masyarakat untuk menggelar Shalat Istisqa (shalat memohon hujan) secara serentak di setiap kecamatan pada Selasa, 1 September 2026.
Momen spiritual ini diharapkan menjadi gerakan masif yang tidak hanya menggerakkan hati manusia, tetapi juga menyatukan energi seluruh makhluk hidup demi mengetuk pintu langit. Hakikat Doa: Kepastian yang Terukur oleh Waktu Allah Menyinggung pelaksanaan ibadah yang berpusat di Masjid Al Johar Karang Agung, KH. Aman Rohman menegaskan bahwa doa-doa yang dipanjatkan dalam Shalat Istisqa memiliki jaminan tersendiri di sisi Allah SWT. Beliau menekankan bahwa tidak ada doa yang sia-sia bagi hamba yang beriman.
“Doa shalat istisqa di Masjid Al Johar Karang Agung selalu dikabulkan Allah, bahkan semua doa itu pada hakikatnya selalu dikabulkan. Permasalahannya hanyalah soal waktu. Ada yang langsung dijawab seketika, ada yang esok hari, bulan depan, atau pada waktu-waktu tertentu yang dinilai terbaik oleh Allah, hingga ada pula yang disimpan sebagai pahala di akhirat nanti,” ungkap beliau penuh keyakinan pada Senin (31/08/2026).
Beliau menambahkan bahwa landasan paling fundamental dalam ibadah ini adalah pemurnian niat. Masyarakat diajak untuk meluruskan niat semata-mata karena Allah (lillahita’ala) serta menghidupkan kembali sunnah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat ketika menghadapi ujian kekeringan di masa lampau. Melalui ibadah ini, seorang hamba akan mendapatkan mutiara keimanan—sebuah tingkat kepasrahan total dan ketergantungan penuh pada Rahmat dan kasih sayang Allah Yang Maha Kuasa.
Pentingnya Ilmu, Adab, dan Ketepatan Bacaan dalam Ibadah Lebih lanjut, KH. Aman Rohman mengingatkan bahwa semangat berdoa harus diimbangi dengan pemahaman ajaran agama yang benar. Doa dan ibadah bukan sekadar rutinitas lisan, melainkan sebuah proses yang memiliki kaidah syariat yang ketat.”Sebagai hamba Allah, kita memang diperintahkan untuk berdoa dalam setiap suasana dan keadaan. Namun, di sinilah pentingnya ilmu pengetahuan agama. Kita harus memahami bagaimana adabnya, tata caranya, kebersihan jiwa, hingga ketepatan waktu dan tempat,” jelasnya.
Beliau juga memberikan catatan krusial mengenai teknis bacaan. Kualitas tajwid, lantunan, dan pemahaman makna ayat yang dibaca memegang peranan penting dalam dikabulkannya sebuah permohonan. “Sebab, bila pelaksanaan tidak sesuai, salah bacaan, atau salah makna, maka doa itu bisa berpotensi tertunda, berbalik, bahkan tidak terkabul,” tegas Kepala Yayasan Ponpes Nurul Qur’an tersebut.
Kesadaran Ekologis Kolektif: Bersahabat dengan Alam Hal menarik yang melandasi pemikiran KH. Aman Rohman adalah korelasi kuat antara ibadah ritual dan tanggung jawab lingkungan. Baginya, musibah kemarau panjang bukan sekadar fenomena alam atau ujian spiritual, melainkan sebuah alarm keras untuk membangkitkan kesadaran kolektif manusia dalam menjaga ekosistem.
Pelaksanaan Shalat Istisqa harus menjadi momentum awal untuk melestarikan alam, merawat kebersihan sungai dan lautan, serta membangun tatanan kehidupan yang harmonis berdampingan dengan tumbuhan dan hewan.”Apa yang kita rasakan akibat kemarau ini, makhluk hidup lainnya juga merasakan hal yang sama. Ketika kita berdoa dan memanjatkan permohonan kepada Allah, satwa dan alam tumbuhan di sekitar kita sebenarnya juga turut berdoa dan mengaminkan. Jika kebersamaan dan kekompakan antar makhluk ini dipanjatkan secara serentak dalam waktu yang sama, maka pintu langit akan terbuka lebar,” urainya.
Sebaliknya, beliau mengingatkan risiko dari sikap apatis. Jika doa untuk kepentingan hajat hidup orang banyak ini hanya diperjuangkan secara terpecah-pecah oleh segelintir orang, maka egoisme kelompok yang tidak peduli akan mendominasi secara tidak langsung, mempersulit datangnya berkah hujan secara demokratis bagi wilayah tersebut.
Ajakan Shalat Istisqa Serentak Besok Menutup penyampaiannya, KH. Aman Rohman mengajak seluruh umat Muslim di Kabupaten PALI untuk menundukkan hati, mengakui kelemahan diri di hadapan takdir Allah, dan melangkah bersama menuju lapangan shalat. Sifat Rahman dan Rahim Allah SWT tidak akan pernah terbatas oleh noda dan dosa umat manusia, asalkan ada pertobatan dan permohonan yang tulus.
“Kami mengundang dan mengimbau seluruh masyarakat untuk hadir dan melaksanakan Shalat Istisqa berjamaah yang akan digelar serentak di setiap kecamatan pada besok hari, Selasa, 1 September 2026. Mari kita ketuk pintu langit secara bersama-sama, satukan suara dengan alam, dan jemput berkah hujan demi kehidupan bumi PALI yang lebih baik,” pungkasnya.
Rilis:(Randi)






























