Wartain Banten | Pemerintahan | 22 November 2025 — Gubernur Banten, Andra Soni, menegaskan bahwa kemajemukan masyarakat bukan sekadar fakta sosiologis, melainkan modal sosial terbesar dalam pembangunan daerah. Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan teknokratis pemerintah, tetapi juga sangat bergantung pada kemampuan masyarakat menjaga harmoni dan saling memahami.

Pernyataan tersebut disampaikan Andra Soni saat memberikan sambutan pada Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) I Pemuda Katolik Tahun 2025, yang digelar di Kinasuh Resort, Kota Depok, Jawa Barat, Jumat (21/11/2025).
Dalam pidatonya, Gubernur Andra menekankan urgensi perubahan cara pandang terhadap perbedaan. Ia mendorong seluruh lapisan masyarakat untuk menilai keberagaman suku dan agama sebagai sumber kekuatan untuk mendorong kemajuan, bukan sebagai sumber potensi konflik.

Pengalaman Inklusif sebagai Landasan Kepemimpinan
Andra Soni menceritakan pengalamannya tumbuh di lingkungan heterogen yang membentuk pandangan inklusifnya.
“Saya tumbuh dalam lingkungan majemuk dan terbiasa hidup berdampingan dengan beragam suku serta agama. Dari situ saya meyakini bahwa kemajemukan adalah modal dasar kehidupan berbangsa kita,” ujar Andra.
Gubernur menyoroti sejarah panjang masyarakat Banten dalam memelihara toleransi sebagai teladan bagi daerah lain di Indonesia.

Kolaborasi Lintas Kelompok dan Peran Pemuda
Pemerintah Provinsi Banten berkomitmen mendorong kolaborasi lintas kelompok, termasuk dengan organisasi kepemudaan berbasis agama, untuk memperkuat jejaring sosial dan mempercepat kesejahteraan.
“Pemerintah Provinsi Banten dan masyarakatnya sangat toleran. Kami berharap kolaborasi dengan semua pihak dapat mempercepat terwujudnya kesejahteraan,” tegasnya.
Andra Soni menekankan peran strategis pemuda, khususnya Pemuda Katolik, sebagai garda terdepan dalam menjaga toleransi dan kebhinekaan di tengah dinamika sosial.(WartainBanten)































