33.3 C
Jakarta
Rabu, Mei 27, 2026

Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

*Lebaran Haji Mengenang Keikhlasan Pengurbanan Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS, Siti Sarah dan Siti Hajar*

*Lebaran Haji Mengenang Keikhlasan Pengurbanan Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS, Siti Sarah dan Siti Hajar*

Simbolika dari kisah sejarah Nabi Ibrahim Alaihi salam bersama Nabi Ismail Alaihi salam peristiwa Idhul Qurban diperkirakan terjadi pada kisaran 4.000 tahun yang lalu, meski ada pendapat yang mengatakan peristiwa sejarah dari keikhlasan untuk berkurban ini juga dipercaya terjadi pada abad ke-18 SM, saat Nabi Ibrahim AS menerima perintah langsung dari Allah SWT untuk mengorbankan putranya yang bernama Nabi Itu Ismail AS. Hingga dari peristiwa yang dramatis ini diperingati oleh umat Islam setiap tahun seusai menunaikan ibadah haji di Mekkah.

Kisah dramatik ini pun tercatat dalam Al Qur’an, Surah Al Saffat (37 : 99 – 113). Diantaranya yang penting dari surah ini adalah (ayat 101) Maka kami beritahu dia — Ibrahim — bahwa kami akan memberinya seorang anak laki-laki yang saleh. Kisah ini terkait dengan waktu yang lama setelah Nabi Ibrahim AS belum juga memperoleh anak dari perkawinannya dengan Siti Sarah sebagai istri pertama
dari Nabi Ismail. Dan kisah yang dramatik ini pun dimulai dari penerimaan Siti Sarah terhadap seorang budak yang bernama Siti Hajar sebagai hadiah dari Pharaoh Mesir.

Yang menarik, tentu saja kesediaan Siri Sarah memberikan Siti Hajar untuk diperistri oleh Nabi Ibrahim AS karena belum memperoleh anak selama masa perkawinannya yang yang sudah cukup lama bersama Siti Sarah. Dan mukjizat pun terus berlanjut setelah Nabi Ibrahim memperoleh anak bernama Ismail, Siti Sarah pun kemudian bisa memberi Nabi Ibrahim seorang anak yang kemudian menjadi Nabi Ishak dan sejumlah saudaranya yang lahir kemudian.

Dalam versi sejarah yang beragam, peristiwa penyembelihan terhadap Ismail yang kemudian diganti oleh Allah SWT dengan seekor kambing, ketika itu ada yang percaya bila Ismail telah menyandang predikat Nabi. Tapi dalan versi yang lain, peristiwa yang diperkirakan terjadi saat Ismail masih berusia dibawah umur itu — sekitar 7 – 10 tahun itu, belum menjadi Nabi. Namun toh, status Nabi dan belum menjadi Nabi ini sosok seorang Ismail tetap saja menegang peran utama dalam peristiwa Idhul Qurban yang terus diperingati oleh umat Islam di seluruh dunia sampai sekarang. Bahkan, perayaan hari Raya Idhul Adha bagi sebagian umat Islam — setidaknya di kampung saya — justru dianggap lebih sakral dan lebih pantas untuk dirayakan lebih semarak dan meriah. Sehingga istilah hari raya “Besar” acap menjadi sebutan bagi mereka yang menganggap hari raya Idhul Adha lebih sakral.

Peristiwa dramatis dan bernilai sejarah besar bagi umat Islam yang diperankan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS ini terjadi di Mina, dekat kota Mekkah, Arab Saudi yang kini lokasi tersebut dikenal dengan sebutan Jamarat — tempat pelemparan jumrah (batu) — saat menunaikan ibadah haji sebagai bagian dari rangkaian perayaan hari raya Idhul Adha, atau lebaran haji. Jadi betapa besarnya peran Nabi Ismail yang bersedia untuk disembelih itu — yang kemudian — menjadi simbolik keikhlasan pengorbanan bagi seorang manusia terhadap keyakinan yang teguh dari Nabi Ismail AS untuk dijadikan korban bagi ayahnya sendiri, yaitu Nabi Ibrahim AS.

Artinya dalam kisah yang sungguh sangat dramatik ini, dua sosok penting sebagai pemeran utamanya adalah Nabi Ibrahim AS bersama Nabi Ismail AS yang dilengkapi oleh Siti Sarah dan Siti Hajar yang tidak besar keikhlasan dari pengorbanannya.

Hingga pada akhirnya, Nabi Ismail AS dianggap sebagai leluhur dari bangsa Arab, karena anak keturunannya kemudian menjadi Kepala Suku di Arab bagian Utara. Lalu pembangunan Ka’bah — yang kini menjadi kiblat bagi umat Islam sedunia — dibangun oleh Nabi Ibrahim bersama Nabi Ismail yang menjadi pusat utama pelaksanaan ibadah haji sebagai rukun Islam yang kelima bagi umat Islam.

Adapun rukun Islam yang kelima ini — yaitu menunaikan ibadah haji bagi yang mampu — setelah memenuhi syarat bersyahadat, sholat, puasa pada bulan ramadhan dan menunaikan kewajiban memberi zakat kepada orang yang berhak menerimanya sebesar 2,5 persen dari nilai harta yang dimiliki, baru kemudian sah serta abdol menunaikan ibadah haji.

Dahulu, tradisi Idhul kurban dilakukan hanya dengan menyembelih seekor kibas, domba atau kambing, kini untuk mengekspresikan dari ritual penyembelihan hewan kurban itu semakin banyak dilakukan dengan seekor sapi, kerbau atau bahkan onta yang gemuk — gemoy — dan sehat. Semoga daging dari hewan kurban itu dibagikan secara merata, seakan terus menyindir serta menandai realitas pemerataan ekonomi dan kesejahteraan di Indonesia yang masih harus terus menerus kita dibenahi sampai Idhul Adha hari ini.

Banten Jacob Ereste, Aidul Adha 1447 Hijriyah

Berita Terkait