SILIH ASAH, SILIH ASIH, DAN SILIH ASUH: *JEJAK PEMIKIRAN DAN PENGABDIAN LUAR BIASA SOSOK PROF. DR. SRI EDI SWASONO MPIA*
(Bagian Kesatu)
BANTEN – Di tengah hiruk-pikuk dunia akademik dan intelektual bangsa Indonesia yang terus bergerak dinamis, jarang sekali, bahkan hampir belum pernah kita temukan sosok seorang intelektual sejati, terlebih lagi yang lahir, tumbuh, dan berkarya dari kalangan lingkungan kampus, yang memiliki komitmen, konsistensi, serta produktivitas setinggi dan sebesar yang dimiliki oleh Prof. Dr. Sri Edi Swasono MPIA. Beliau adalah sosok langka yang memastikan, meneguhkan, dan mewujudkan janji luhurnya untuk terus menerbitkan satu karya besar berupa buku setiap tahunnya secara rutin, berkesinambungan, dan tanpa putus. Hal mulia ini dilakukannya bukan semata-mata karena kewajiban seremonial atau dikaitkan dengan peringatan hari ulang tahun dirinya, melainkan murni sebagai bentuk pengabdian, penyebaran ilmu, serta sumbangan pemikiran bagi kemajuan bangsa dan negara. Sosok inilah Prof. Dr. Sri Edi Swasono, seorang pemikir besar yang namanya menjadi sebutan hormat di berbagai penjuru ruang pendidikan Indonesia.
Sesungguhnya, sosok yang akrab, dekat, dan selalu kami panggil dengan sapaan hangat dan penuh kekeluargaan sebagai Mas Sri Edi Swasono—demikianlah panggilan yang biasa digunakan oleh kami, kalangan para aktivis kampus Universitas Islam Indonesia (UII), yang pada masa silam sangat giat, aktif, dan bersemangat menerbitkan majalah kampus bernama Muhibbah. Majalah yang penuh ide, gagasan, dan pemikiran tajam itu kemudian dibredel, ditutup peredarannya, dan berganti nama menjadi Majalah Himmah. Di masa-masa itulah, kehadiran, tulisan, serta pemikiran mendalam dari Sri Edi Swasono telah memposisikan, mengangkat, dan menempatkan beliau bukan sekadar sebagai seorang penulis atau akademisi biasa, melainkan menjadi idola kami, menjadi panutan utama, serta menjadi tumpuan rujukan tertinggi dan acuan mutlak dalam hal pengelolaan media pemberitaan, penulisan yang benar, serta pola pikir kritis bagi para mahasiswa Indonesia, khususnya di era tahun 1980-an. Beliau adalah mercu suar yang menuntun langkah kami memahami dunia jurnalistik dan pemikiran kebangsaan.
Dalam rentang perjalanan panjang pengabdiannya, nama Prof. Sri Edi Swasono telah berkibar-kibar tinggi, harum, dan sangat dikenal luas di kalangan lingkungan intelektual, para akademisi, serta di setiap penjuru kampus dan lembaga pendidikan di seluruh Indonesia. Ketenaran dan kebesaran nama itu sudah tercapai dan melekat kuat saat beliau masih berada dalam usia yang relatif muda, yakni baru sekitar berusia 40 tahun. Hal ini sepenuhnya sesuai dengan pengakuan beliau sendiri, yang mencatat dan menuliskan tanggal kelahiran aslinya adalah pada tanggal 16 September tahun 1939. Namun, akibat adanya kekeliruan teknis administrasi, kesalahan pencatatan, maupun kekhilafan birokrasi pada masa lalu, tahun kelahiran beliau tertulis, tercantum, dan tercatat secara resmi sebagai 16 September 1940. Kesalahan penulisan ini kemudian terbawa, melekat, dan termuat di dalam berbagai dokumen negara, ijazah pendidikan, serta catatan biografi resmi yang beredar hingga kini.
Seandainya dicatat sesuai tahun kelahiran yang sejati, maka pada tahun 2026 ini, usia beliau sesungguhnya telah menginjak angka 89 tahun. Akan tetapi, sebagai seorang intelektual yang taat pada aturan, taat pada administrasi negara, namun tetap memegang teguh kebijaksanaan tinggi, beliau lebih memilih, bersedia, dan menetapkan usianya sesuai dengan catatan resmi yang sah, tercatat, dan diakui negara, yaitu 86 tahun. Sebuah sikap sederhana namun sarat makna, yang menunjukkan kematangan batin dan rasa hormat terhadap ketentuan yang berlaku.
Salah satu karya besar, penting, dan sangat bermakna yang lahir dari ketekunan pena beliau adalah sebuah buku bunga rampai berjudul “Asah, Asih, Asuh”. Karya ini merupakan kumpulan dari berbagai tulisan, artikel, gagasan, dan esai terpilih yang ditulis oleh Prof. Sri Edi Swasono, yang jumlahnya sudah tak terhitung banyaknya, mengingat dedikasi beliau yang tak pernah berhenti berkarya sepanjang hayat. Buku “Asah, Asih, Asuh” ini memiliki nilai sejarah dan makna mendalam, karena diterbitkan dan disusun untuk menandai peringatan bersejarah 100 Tahun Tamansiswa, kurun waktu yang membentang dari 3 Juli 1922 hingga tahun 2022. Di dalam lembaran-lembarannya, buku ini memuat berbagai kekhususan, pemikiran orisinal, serta gagasan mendalam yang ditulis dan dipikirkan beliau selama menjalankan amanah besar sebagai Ketua Umum Majelis Luhur Tamansiswa, sekaligus menjabat sebagai Ketua Pembina Yayasan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Oleh karenanya, isi tulisan dalam buku ini terasa lebih khas, lebih menyentuh, dan sangat relevan bagi lingkungan besar keluarga Tamansiswa. Sebagian besar tulisan yang termuat di dalamnya sebelumnya telah dimuat, dibacakan, dan menjadi perbincangan hangat di dalam Harian Umum Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, koran legendaris yang menjadi saksi sejarah pemikiran bangsa.
Buku bunga rampai yang agung ini begitu sarat, begitu padat, dan begitu kaya dengan muatan nilai-nilai luhur pendidikan, tata kelola lingkungan kampus yang ideal, serta nuansa budaya yang kental dan membumi. Karya ini tak hanya semakin mengukuhkan, memantapkan, dan meyakinkan kedudukan Mas Sri Edi Swasono sebagai seorang Guru Besar terhormat, intelektual kelas dunia, dan akademisi paripurna, tetapi juga mengangkat derajatnya sebagai penyandang gelar tertinggi, paling mulia, dan paling istimewa yang diakui serta disematkan dari lingkungan Tamansiswa, yaitu gelar kehormatan “Ki”. Gelar agung ini adalah sebutan, penghargaan, dan pengakuan tertinggi yang diberikan kepada seorang Mahaguru, pemimpin pendidikan, dan tokoh pembelajar sejati dari perguruan yang memiliki cita-cita luhur, teguh, dan konsisten, yakni hendak mencerdaskan, membimbing, serta membangunkan anak bangsa Indonesia menuju kemajuan yang hakiki.
Dalam pandangan tajam, analisis mendalam, serta pemikiran kritis yang tertuang jelas dalam halaman 40 buku tersebut, Prof. Sri Edi Swasono mengemukakan pendapat tegas, berani, dan beralasan kuat mengenai konstitusi negara, yakni: “UUD 2002 Tidak Patut Lagi Sebagai UUD 1945”. Buku monumental ini diterbitkan oleh Yayasan Hatta pada tahun 2022, dan isinya sangat lengkap, sangat komprehensif, serta mengupas tuntas berbagai masalah krusial, mendasar, dan penting yang patut, layak, dan wajib mendapatkan perhatian serius dari seluruh elemen bangsa serta negara Indonesia, terlebih bagi mereka yang menaruh kepedulian tinggi terhadap dunia pendidikan dan masa depan generasi penerus.
Berbagai topik besar, mendasar, dan sensitif pun dikupas secara rinci, jernih, dan tajam mulai dari permasalahan persatuan dalam keberagaman atau semboyan Bhineka Tunggal Ika pada halaman 1, pembahasan mendalam mengenai Kaidah Nasionalisme pada halaman 46, ulasan kritis mengenai Kaidah Hutang Luar Negeri pada halaman 49, hingga pembahasan strategis mengenai cara Memberdayakan Petani guna Mengatasi Ketergantungan Pangan pada halaman 61. Tak berhenti di situ, topik-topik besar lainnya seperti Model Pendidikan Nasional yang ideal, Paradoks Indonesia yang nyata, serta wacana Pembangunan Budaya Bangsa yang sangat relevan, dikupas habis dan tuntas oleh Prof. Sri Edi Swasono dengan gaya bahasa yang mempesona, enak sekali dibaca, sederhana namun berisi, mudah dicerna akal, namun tetap berbobot tinggi dan penuh wibawa.
Yang tak kalah menarik, menyentuh hati, dan membuat pembaca tertegun adalah uraian indah, mendalam, serta penuh makna filosofis dari sang Profesor mengenai tulisan berjudul “Mengampu Berita Dari Langit”. Tulisan ini terkesan memiliki getaran spiritual yang sangat sakral, nuansa keagamaan yang mendalam, serta makna batin yang luas, tertuang dalam tampilan yang sangat mengesankan, indah, dan berbobot tinggi sebagai sebuah prosa lirik yang syahdu. Di dalam tulisan indah ini, beliau bercerita dan mengangkat sosok “Ki Ageng dan Nyi Ageng”—sebutan kehormatan, penghargaan, dan rasa hormat tertinggi untuk mereka yang dianggap tua, lanjut usia, namun tua dalam arti luas keilmuan, kedalaman pengetahuan, kekayaan pengalaman, serta kearifan hidup yang tinggi—sebagai gelar dan sebutan kehormatan yang sangat mulia bagi seluruh warga Tamansiswa.
Terdapat pula sebuah ungkapan, keluh kesah, sekaligus peringatan keras yang sangat menyentuh hati, tajam, dan mendalam dari lelenguh sanubari sang Profesor, yang berbunyi: “Begitu mudah Pendidikan Nasional kita menghancurkan ke-Indonesia-an. Sebab, di penghujung milenium lalu, kita tertipu, lengah wacana, tumpul nalar, terjerat hiruk-pikuk globalisasi yang tak beraturan, lalu mencemooh nasionalisme dan patriotisme sendiri, hingga akhirnya menghancurkan Ibu Pertiwi dan kedaulatan negeri kita sendiri.” Sebuah kalimat sakti yang menggambarkan kekhawatiran besar seorang pemikir sejati akan arah bangsa ini.
Karya bernilai tinggi yang berupa tulisan puitis dan kritis ini, menurut penjelasan Prof. Sri Edi Swasono, sejatinya ditujukan secara khusus kepada Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), dan pernah dibacakan secara khidmat oleh Sudartomo Macaryus pada tanggal 3 Januari 2013, tepatnya di dalam ruang sidang utama Kampus Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), Yogyakarta, sebagai pesan moral dan pemikiran strategis bagi pembangunan nasional.
Demikianlah sekelumit kisah, jejak pemikiran, serta karya agung dari sosok Prof. Dr. Sri Edi Swasono MPIA, seorang intelektual yang menanamkan nilai Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh sebagai landasan utama perjuangan panjangnya mencerdaskan bangsa. Sebuah warisan pemikiran yang abadi, terang, dan terus menerangi jalan pendidikan Indonesia.
Banten, 20 Mei 2026
Oleh Jacob Ereste
(HD)































