” ANTARA JAAP KUNST, ARSIP TAHUN 1930, DAN INGATAN YANG KEMBALI BERGEMA DI FLORES TIMUR.
Stefanus Raja Koten tiba-tiba terdiam. Lelaki yang kini berusia 75 tahun itu sedang menyimak suara yang terputar di tengah kehangatan Lewoloba, Kecamatan Ile Mandiri, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Di antara alunan nada yang terdengar begitu asing namun sekaligus begitu dekat di telinganya, ia mengenali irama itu. Lebih dari sekadar mengenali, hatinya berkata bahwa urutan penyajian lagu tersebut ternyata berbeda dari catatan yang dibuat oleh seorang peneliti asal negeri seberang, hampir seratus tahun silam. Tubuhnya seakan merespons lebih dahulu sebelum kata-kata terucap. Tangan kanan dan kirinya perlahan memeluk kedua lengan, kulitnya merinding seketika, lalu ia berbisik lirih dengan suara yang menyimpan kekaguman dan haru: “Aduh, saya merinding.”
Suara yang membuat bulu kuduk berdiri dan hati tergetar itu ternyata telah berusia hampir satu abad.
Rekaman yang kini kembali bergema di tanah kelahirannya itu dibuat pada tahun 1930 oleh Jaap Kunst, seorang ahli musikologi asal Belanda yang dengan ketelitian luar biasa mendokumentasikan kekayaan musik dan tradisi luhur masyarakat di berbagai penjuru Nusantara. Dalam perjalanan penelitiannya di tanah Flores, Kunst berhasil merekam sebanyak 182 lagu yang terekam pada 75 silinder lilin, selain mengabadikan pula potret-potret bersejarah dan cuplikan kehidupan dalam bentuk film. Seluruh harta budaya yang terekam itu kemudian disimpan dan menjadi bagian tak ternilai dari Koleksi Jaap Kunst di Universitas van Amsterdam, Belanda, tersimpan rapi jauh dari tanah tempat suara-suara itu lahir dan dihayati.
Kini, setelah berpuluh-puluh tahun terpisah jarak dan waktu, suara-suara leluhur itu akhirnya kembali pulang ke tanah Nusa Tenggara Timur. Perjalanan pulang yang penuh makna ini terwujud melalui sebuah proyek restitusi digital yang dikerjakan oleh Barbara Titus, seorang ahli musikologi dari Universitas van Amsterdam yang sekaligus menjabat sebagai kurator Koleksi Jaap Kunst, bekerja sama dengan para peneliti dari Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC), yakni Inriyani Takesan, Lommi Dida Kini, dan Julius J. Seran Goran.
SUARA LELUHUR KEMBALI PULANG, TANPA HANYA TINGGAL DI IBU KOTA
Sebenarnya, perjalanan pulang arsip berharga ini telah dimulai sejak jauh lebih dulu. Pada bulan September tahun 2024, koleksi Jaap Kunst yang telah melalui proses pendigitalan secara menyeluruh telah diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah. Sebagian dari kekayaan budaya itu pun kini dapat diakses oleh masyarakat luas melalui ruang layanan bernama Jaap Kunst Hoek yang tersedia di lingkungan perpustakaan daerah di Kupang.
Namun pada akhir bulan Juli tahun 2026, tim peneliti kembali melangkah melintasi jarak yang jauh, membawa suara-suara itu bukan sekadar hingga ke ibu kota provinsi, melainkan langsung kepada masyarakat yang menjadi sumber asalnya. Di Kupang, sejumlah anggota komunitas masyarakat Lamaholot telah dapat mengenali bahasa luhur, syair, irama, serta makna sosial yang tersirat di dalam setiap nada yang terputar dari rekaman lama itu.
Namun bagi Barbara Titus, arsip yang telah tersimpan rapi di Kupang belumlah benar-benar pulang kepada pemiliknya yang sejati. “Kupang masih terlalu jauh,” ujarnya dengan tulus. Jarak yang dipisahkan lebih dari 200 kilometer bukan sekadar jarak fisik yang memisahkan ibu kota provinsi dengan desa-desa di Flores Timur yang menjadi sumber rekaman itu. Yang jauh lebih berharga dan tak tercatat dalam lembaran arsip mana pun adalah pengetahuan yang masih tersimpan rapat di dalam ingatan masyarakat: siapa yang menyanyikannya dahulu, kapan lagu itu dilantunkan, untuk keperluan apa, serta bagaimana cara luhur itu diwariskan dari generasi ke generasi.
Maka, melangkahlah tim itu menuju sumber yang sesungguhnya: ke Lewoloba di Kecamatan Ile Mandiri, serta ke Waibao dan Riangkroko di Kecamatan Tanjung Bunga. Dan ketika suara-suara lama itu akhirnya kembali bergema di tanah tempat mereka lahir berpuluh-puluh tahun silam, yang muncul bukan sekadar kenangan belaka. Tersimpan pula rasa kehilangan yang mendalam, perdebatan yang penuh hikmah, serta pemahaman baru tentang bagaimana sebuah tradisi terus hidup dan menemukan wujud-wujud barunya di tengah perjalanan zaman.
DI LEWOLOBA: ARSIP MENYINGKAP KEBENARAN YANG TAK TERCATAT
Di tanah Lewoloba, rekaman lama itu membuktikan bahwa catatan tertulis dalam arsip belum tentu menjadi kebenaran yang terakhir dan paling sempurna. Jaap Kunst mencatat tiga bagian lagu dalam satu rekaman yang didokumentasikannya. Namun bagi Stefanus, urutan yang tertulis dalam catatan itu seharusnya tidak demikian. Lagu, syair, dan gerak tari, menurut pengetahuannya, adalah satu kesatuan yang tak boleh dipisahkan, dan segala keindahannya baru tampak apabila dilatih dan dibawakan secara bersama-sama.
Persoalan yang sesungguhnya adalah: mereka yang masih menguasai keseluruhan pengetahuan luhur itu kini semakin sedikit jumlahnya. Stefanus sendiri telah berupaya mewariskan gerak dan irama itu kepada generasi muda di desanya. Namun pengetahuan yang tidak senantiasa dipraktikkan dan dijaga dengan kesungguhan hati, sungguh-sungguh mudah memudar dan perlahan-lahan hilang.
Namun beberapa hari kemudian, rekaman dan gambar bergerak yang terekam hampir seratus tahun silam itu ternyata menjadi pemantik yang luar biasa indah. Pada tanggal 9 Agustus, warga Lewoloba tampil kembali membawakan tiga tarian dan dua nyanyian yang tercatat dalam rekaman itu. Sekitar sepuluh orang lelaki mengenakan pakaian adat yang penuh keanggunan, berikat pinggang sarung, dan membawa parang sebagai bagian dari kesatuan gerak. Mereka berdiri di bawah naungan gunung yang sama, tempat di mana Jaap Kunst dahulu berdiri dan merekam segala keindahan itu hampir satu abad silam.
Suara yang kembali pulang itu tidak lagi sekadar didengar oleh telinga. Ia dijawab kembali dengan gerak tubuh, dengan penghayatan, dan dengan rasa bangga yang mengalir di dalam darah.
DI WAIBAO: ANTARA YANG HILANG DAN YANG TETAP HIDUP
Di Waibao, Kecamatan Tanjung Bunga, pertemuan dengan suara leluhur itu memunculkan cerita yang terasa getir namun penuh makna. Yakobus Sogan Brinu telah bertahun-tahun lamanya berjuang mempertahankan keutuhan tradisi Tandak, perpaduan indah antara nyanyian, syair bahasa adat, dan gerak tari yang menjadi napas kehidupan masyarakatnya. Bersama dua orang sahabatnya, ia pernah berupaya menyusun kembali lagu-lagu yang mulai terlupakan, dan mendorong agar keindahan tradisi itu diajarkan kembali di sekolah-sekolah. Namun kini, kedua sahabat yang mendampingi perjuangannya itu telah tiada.
Harapan yang disemai ternyata tidak tumbuh secepat yang diharapkan. Menurut penuturan Sogan, generasi muda kini memang telah akrab dengan dunia teknologi digital, bahkan rekaman lagu-lagu Tandak itu pun dapat ditemukan dan didengar melalui jaringan dunia maya. Namun sayangnya, hati mereka belum tertarik untuk mempelajarinya kembali.
Kegelisahan yang mendalam itu membuat matanya berkaca-kaca. “Perhatian terhadap lagu-lagu ini baru muncul ketika orang-orang dari negeri seberang datang berkunjung. Namun setelah mereka berpamitan dan pergi, perhatian itu pun perlahan-lahan hilang kembali,” ujarnya dengan nada yang menyimpan kesedihan.
Ketika rekaman lama itu diperdengarkan, muncul pula perbedaan pandangan yang terhormat. Yosep, seorang warga dari wilayah Tengahdei, menyampaikan bahwa nyanyian itu sesungguhnya belum hilang begitu saja, melainkan telah berubah bentuk seiring berjalannya waktu. “Masih ada, namun sudah berbeda,” tuturnya dengan bijak.
Namun bagi Sogan, perubahan itu tidak dapat diterima begitu saja. “Lagu itu tidak boleh berubah,” tegasnya. Baginya, setiap nada dan syair itu berkaitan erat dengan pengetahuan tentang musim berkebun, tata cara kehidupan, dan seluruh sistem nilai yang dijunjung tinggi oleh leluhur. Apabila konteks itu hilang, maka yang hilang bukan sekadar irama lagunya, melainkan sebagian dari jati diri dan pengetahuan luhur masyarakatnya sendiri.
Namun kunjungan tim peneliti pada tanggal 8 Agustus ternyata membawa cerita yang lebih luas dan mendalam tentang apa yang sesungguhnya telah hilang dan apa yang masih tetap hidup. Ketika rekaman itu kembali bergema, para keturunan dari mereka yang dahulu menyanyi di hadapan Jaap Kunst ternyata masih mengenali suara leluhurnya, dan tanpa disadari mulai ikut bernyanyi bersama.
Pengalaman yang menyentuh hati itu membuat Barbara Titus menjadi lebih berhati-hati dalam menggunakan kata “hilang”. Menurut pandangannya, keberlanjutan sebuah tradisi tidak harus berarti mengulanginya persis sama seperti pada masa lampau. “Tradisi senantiasa berubah,” ujarnya dengan tenang. Sesuatu yang kita sebut tradisi baru dapat dianggap hilang hanya apabila kita terlebih dahulu menetapkan bahwa ia harus dilakukan persis sama seperti pada masa lalu. Sedangkan perubahan wujud dan penyampaian, belum tentu berarti hubungan masyarakat dengan akar budayanya telah terputus.
DI RIANGKROKO: MENDENGAR SUARA KAKEK UNTUK PERTAMA KALI
Di Riangkroko, pengalaman bertemu dengan suara leluhur itu menjadi sesuatu yang jauh lebih pribadi dan menyentuh kalbu. Ketika rekaman diputar, suasana seakan hening sejenak, dan kulit warga pun ikut merinding menyimak suara yang terdengar begitu asing namun sekaligus begitu akrab. Kemudian datanglah Merien, seorang keturunan dari salah satu penyanyi yang dahulu direkam oleh Jaap Kunst. Merien belum pernah sekalipun melihat wajah maupun mendengar suara kakeknya sendiri. Namun pada hari itu, melalui rekaman yang berusia hampir seratus tahun, untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia mendengar suara leluhur yang selama ini hanya dikenalnya melalui cerita yang disampaikan turun-temurun. Hampir satu abad lamanya terpisah, ternyata dapat dipadatkan menjadi beberapa menit suara yang begitu berharga.
Namun pewarisan pengetahuan luhur itu ternyata tidak selalu berjalan dengan cara yang sama. Merien sendiri belum mampu melantunkan syair yang dinyanyikan kakeknya dahulu. Kemampuan itu sempat diwariskan kepada kakaknya, yang kini pun telah tiada. Di desa Riangkroko, sebagian generasi muda keturunan para penyanyi masih mengenali dan mampu melantunkan syair-syair luhur itu dengan penuh penghayatan. Satu desa mungkin kehilangan sebagian pewarisnya, namun di desa lain, mata rantai pewarisan itu ternyata masih tetap terjaga dengan baik.
DI LARANTUKA: MELODI YANG TETAP HIDUP DALAM PERUBAHAN
Di Larantuka, pertemuan dengan rekaman lama itu menampilkan wajah yang lain namun tak kalah indahnya. Para peneliti memperdengarkan rekaman nyanyian berjudul O Vos Omnes, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Pekan Suci di Larantuka. Para penyanyi masa kini masih mengenali melodi yang terputar, namun mereka menemukan banyak perbedaan apabila dibandingkan dengan rekaman tahun 1930, baik dalam irama, kecepatan, gaya penyampaian, maupun cara pengucapan kata-katanya.
Yang juga berubah adalah siapa yang kini membawakannya. Apabila pada rekaman dahulu para penyanyinya adalah kaum lelaki, maka di masa kini, para perempuanlah yang telah mengambil alih peran luhur tersebut dengan penuh keanggunan dan kesungguhan. Namun nyanyian O Vos Omnes itu tidak dianggap telah mati atau hilang. Tradisi itu tetap hidup, tetap dijunjung tinggi, dan tetap menjadi kebanggaan seluruh masyarakat. Anak-anak pun masih mengenali melodi luhur itu dari orang tua dan kakek-nenek mereka, sementara setiap tahun senantiasa dilangsungkan pemilihan penyanyi terbaik untuk membawakannya dalam prosesi Jumat Agung.
Bentuknya memang telah berubah. Namun perubahan itu sama sekali tidak berarti tradisi itu telah kehilangan nyawanya.
WARISAN BUKAN BENDA, MELAINKAN HUBUNGAN ANTARGENERASI
Di sinilah perjalanan panjang arsip Jaap Kunst menjadi sesuatu yang jauh lebih bermakna daripada sekadar kisah pemindahan salinan data dari benua Eropa kembali ke bumi Nusantara. Di Kupang, arsip itu memang telah tersedia dan dapat dibuka untuk umum. Namun di desa-desa Flores Timur, arsip itu akhirnya bertemu dengan mereka yang memiliki hubungan darah, hubungan batin, dan ingatan langsung terhadap suara-suara yang terekam di dalamnya.
Bagi Barbara Titus, pendigitalan hanyalah langkah pertama yang belum seberapa. Sebuah arsip baru dapat dikatakan benar-benar hidup apabila ia telah bertemu dengan masyarakat yang masih memahami makna bahasanya, menghayati syairnya, merasakan keindahan musiknya, dan memahami konteks kehidupan yang melahirkannya. Ia membayangkan tim penelitinya sekadar menjadi jembatan sederhana, yang menghubungkan kekayaan budaya yang tersimpan rapi di perpustakaan Amsterdam dengan harapan dan kemungkinan yang dimiliki oleh masyarakat di tanah kelahirannya kini.
Oleh karena itu, pekerjaan mulia ini sama sekali bukan soal menentukan bagaimana tradisi itu seharusnya dikembalikan ke bentuk semula. Masyarakatlah yang berhak memiliki ruang seluas-luasnya untuk menentukan sendiri, apa yang ingin mereka lakukan terhadap warisan luhur yang telah pulang ke pangkuan mereka.
Dan untuk mewujudkan hal yang demikian, menurut Barbara, hal yang paling utama dan paling penting sama sekali bukan teknologi canggih, melainkan hubungan yang tulus dan saling menghormati. “Segala sesuatu ini membutuhkan pembangunan dan pemeliharaan hubungan yang baik, dan hal itu paling baik dilakukan secara bersama-sama,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Maka, barangkali pertanyaan yang paling penting dari seluruh perjalanan pulang suara-suara leluhur ini bukanlah apakah arsip itu telah pulang ke tanah airnya. Melainkan: apa yang akan kita lakukan bersama-sama setelah ia kembali pulang?
Ada yang menitikkan air mata karena merasa kembali bertemu dengan bagian dari diri sendiri yang sempat hilang. Ada yang merinding karena mendengar suara leluhur yang selama ini hanya ada dalam cerita. Ada cucu yang untuk pertama kalinya mendengar suara kakeknya sendiri. Ada pula orang-orang yang kembali menyambung napas tradisi dengan menyanyi dan menari di bawah gunung yang sama, tempat di mana semuanya bermula hampir seratus tahun silam.
Karena itulah, warisan budaya bukanlah sekadar benda mati yang dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Ia hidup di dalam ingatan, di dalam gerak tubuh, di dalam hubungan yang terjalin antar generasi, dan di dalam cara masyarakat terus menjaganya di tengah perubahan zaman.
Mungkin, sebuah tradisi tidak akan pernah mati hanya karena tidak lagi terdengar persis sama seperti pada tahun 1930. Yang berubah bukanlah nilai luhurnya, melainkan cara setiap generasi menemukan kembali hubungan batinnya dengan leluhur yang telah pergi mendahului. (Tim/Red)
Kontak Media:
Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC)
Jalan R.W. Monginsidi II Nomor 2B, Pasir Panjang, Kota Lama, Kupang, Nusa Tenggara Timur
Telepon: +62 380 8438188 | Situs web: irgsc.id






























