Warta.in, Purwakarta – Debu abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau yang terbawa hingga wilayah Kabupaten Purwakarta dipastikan tidak memberikan dampak signifikan terhadap tanaman pangan, buah-buahan, maupun komoditas perkebunan.
Bahkan, dalam batas intensitas tertentu, abu vulkanik justru berpotensi memberikan manfaat bagi tanah.
Material vulkanik diketahui membawa sejumlah unsur mineral dan hara yang dapat membantu memperbaiki kondisi tanah sekaligus mendukung kesuburan lahan.
Hal tersebut disampaikan Kepala UPTD Perlindungan Tanaman (Perlintan) Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kabupaten Purwakarta, Wawan Hermawan, saat ditemui di Kantor Dispangtan Purwakarta, Senin (7/9/2026).
Menurut Wawan, abu vulkanik memiliki dua sisi dampak, yakni negatif dan positif. Namun, kondisi abu yang sampai ke wilayah Purwakarta dinilai masih dalam batas yang tidak mengkhawatirkan bagi sektor pertanian.
“Sebetulnya abu vulkanik itu ada dampak negatif maupun positifnya. Alhamdulillah, yang diterima di Purwakarta lebih kepada sisi positifnya. Di dalam debu vulkanik terdapat unsur-unsur hara yang dapat membantu menyuburkan tanaman,” ujar Wawan.
Ia menjelaskan, kandungan mineral pada abu vulkanik dapat berkontribusi dalam memperbaiki sifat dan struktur tanah, salah satunya melalui proses pertukaran kation. Material tersebut juga berpotensi meningkatkan porositas tanah sehingga sirkulasi air dan udara di dalam tanah menjadi lebih baik.
“Abu vulkanik itu bisa membantu memperbaiki kondisi tanah. Tanah yang sebelumnya kurang poros atau cenderung kedap air dapat menjadi lebih berpori, sehingga kondisi tanah menjadi lebih baik bagi tanaman,” jelasnya.
Berpotensi Menekan Hama dan Penyakit Tanaman
Selain berpotensi memperbaiki kualitas tanah, abu vulkanik dalam kondisi tertentu juga dapat memberikan efek terhadap organisme pengganggu tanaman (OPT).
Wawan menyebut, sejumlah kandungan mineral dalam material vulkanik, termasuk senyawa yang mengandung sulfur atau belerang, berpotensi membantu menekan keberadaan sejumlah hama maupun penyakit tanaman.
“Untuk perlindungan tanaman, abu vulkanik juga bisa membantu menekan hama dan penyakit. Misalnya, terdapat kandungan seperti belerang yang tidak disukai oleh sejumlah hama,” katanya.
Kendati demikian, Wawan menegaskan bahwa dampak abu vulkanik terhadap tanaman tetap bergantung pada ketebalan endapan serta lamanya tanaman terpapar material tersebut.
Namun, kondisi Purwakarta yang berada cukup jauh dari sumber erupsi membuat abu vulkanik yang sampai ke wilayah tersebut tidak lagi berada dalam kondisi panas sehingga tidak menyebabkan kerusakan pada permukaan maupun daun tanaman.
“Karena Purwakarta jaraknya cukup jauh, abu vulkanik yang sampai ke sini sudah tidak mengandung panas yang dapat merugikan daun tanaman. Dengan batasan ketebalan dan lamanya paparan, kondisi saat ini justru dapat memberikan manfaat,” ungkapnya.
Petani Diminta Tidak Panik
Di tengah munculnya kekhawatiran masyarakat dan petani terkait dampak abu vulkanik, Dispangtan Purwakarta mengimbau agar para petani tidak panik, terlebih sampai menghentikan atau menunda kegiatan bercocok tanam.
Wawan menegaskan, penyebaran abu vulkanik tersebut diperkirakan berlangsung dalam waktu terbatas sehingga tidak menjadi alasan bagi petani untuk menghentikan aktivitas pertanian.
“Kami imbau para petani jangan terbawa isu harus menunda tanam. Tidak perlu, karena penyebaran abu vulkanik ini waktunya terbatas,” tegasnya.
Ia juga membandingkan kondisi saat ini dengan erupsi Gunung Galunggung pada 1982 yang berlangsung cukup lama dan memberikan dampak besar terhadap sejumlah komoditas pertanian, termasuk tanaman jeruk di wilayah Garut.
Menurutnya, kondisi abu vulkanik yang sampai ke Purwakarta saat ini berbeda dengan situasi pada erupsi besar yang berlangsung dalam waktu lama dan menghasilkan endapan material vulkanik lebih tebal.
“Kondisinya berbeda dengan yang terjadi sekarang di Purwakarta,” ujarnya.
Manggis Purwakarta Dinilai Tetap Aman
Sementara itu, terkait komoditas unggulan Purwakarta seperti manggis, Wawan menilai masyarakat dan petani tidak perlu berlebihan dalam mengkhawatirkan dampak abu vulkanik.
Ia menegaskan, tanaman pangan, buah-buahan hingga komoditas perkebunan di Kabupaten Purwakarta secara umum masih berada dalam kondisi baik.
“Intinya aman. Tanaman pangan, buah-buahan dan perkebunan di Purwakarta masih bagus. Tidak ada pengaruh yang mengkhawatirkan,” pungkas Wawan.






























