Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

*HUT RI ke 81: PEMDES TANJUNG MULYA KOBARKAN SEMANGAT GOTONG ROYONG, KEBERSIHAN, DAN KEBANGGAAN MERAH PUTIH*

*MENYAMBUT HUT RI KE-81: PEMDES TANJUNG MULYA KOBARKAN SEMANGAT GOTONG ROYONG, KEBERSIHAN, DAN KEBANGGAAN MERAH PUTIH*

MUKOMUKO, 1 AGUSTUS 2026 — Di tengah hembusan angin kemerdekaan yang kian terasa hangat, Pemerintahan Desa Tanjung Mulya, Kecamatan XIV Koto, Kabupaten Mukomuko, mengambil langkah bermakna nyata untuk menyambut peringatan bersejarah Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81. Bukan menunggu hari peringatan tiba, melainkan bergerak lebih awal, seluruh jajaran pemimpin desa — perangkat desa bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) — berpadu tenaga, menyatukan niat, membersihkan lingkungan, menata keindahan, serta memasang umbul-umbul dan bendera Merah Putih yang gagah berkibar di sekeliling kawasan Kantor Desa. Kegiatan yang berlangsung penuh semangat pada Jumat, 31 Juli 2026, ini bukan sekadar persiapan seremonial, melainkan perwujudan nyata bahwa semangat kebangsaan tumbuh subur dari setiap jengkal tanah tempat warga berpijak.

Kepala Desa Tanjung Mulya, Wardoyo, menyampaikan dengan tulus bahwa kegiatan gotong royong ini memiliki makna yang jauh lebih dalam sekadar menjaga kebersihan fisik. Ia menegaskan bahwa kebersamaan yang terjalin antara perangkat desa dan BPD adalah fondasi tata kelola pemerintahan yang sehat, kokoh, dan dipercaya masyarakat. Ketika pemimpin desa bahu-membahu membersihkan lingkungan, itu menjadi teladan nyata: kepemimpinan bukan hanya memberi arahan, melainkan turun ke lapangan, bekerja bersama, dan mengayomi segenap elemen.

“Selain menata keindahan di lingkungan Kantor Desa, kami juga mengimbau kepada seluruh masyarakat Desa Tanjung Mulya, mulai dari setiap Rukun Tetangga, agar turut bergotong royong membersihkan lingkungannya masing-masing. Mulai besok, kami mengajak seluruh warga untuk memasang Sang Pusaka — Bendera Merah Putih — di depan setiap rumahnya, dan dikibarkan dengan penuh kebanggaan hingga tanggal 30 Agustus,” ujar Wardoyo dengan tegas namun hangat.

Lebih lanjut, Kepala Desa mengingatkan bahwa bendera yang dikibarkan bukan sekadar kain berwarna merah dan putih. Di balik setiap helai warnanya, tersimpan kisah pengorbanan, keringat, air mata, dan nyawa para pahlawan yang berjuang tanpa pamrih 81 tahun silam. Merah adalah semangat yang tak pernah padam, putih adalah niat tulus yang senantiasa dijaga. Mengibarkan bendera itu berarti menghormati jasa mereka yang telah mewariskan kemerdekaan ini dengan harga yang tak ternilai.

Rangkaian kegiatan peringatan HUT Kemerdekaan ke-81 di Desa Tanjung Mulya disusun secara menyeluruh, merangkul seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali — dari anak-anak yang baru mengenal makna kemerdekaan, pemuda yang menjadi tulang punggung masa depan, hingga warga lanjut usia yang menyimpan kenangan perjuangan di masa lampau:

– Upacara Peringatan Kemerdekaan — dilaksanakan secara khidmat di lapangan desa, dipimpin langsung oleh Karang Taruna dan jajaran perangkat desa. Di sini, kemerdekaan dipahami bukan sebagai pemberian yang datang begitu saja, melainkan amanah suci yang wajib dijaga, diwariskan, dan diperjuangkan kebenarannya dari generasi ke generasi;
– Semi Terbuka Bola Voli Putra dan Putri — diselenggarakan pada tanggal 8 Agustus 2026, membuktikan bahwa persatuan juga tumbuh melalui olahraga yang sehat, sportif, dan membangun karakter pemuda yang tangguh namun tetap santun;
– Berbagai Perlombaan — dirancang meriah, mencakup kategori anak-anak hingga dewasa. Tujuannya bukan sekadar hiburan, melainkan membangun kebersamaan yang hangat, mengembalikan kerinduan akan suasana kekeluargaan yang menyatu tanpa sekat;
– Lomba Kebersihan Lingkungan Antar-RT — mengajarkan bahwa cinta tanah air dimulai dari rumah sendiri. Desa yang bersih, tertata, dan asri adalah cermin warga yang beradab, menghargai kehidupan, dan menjaga warisan alam untuk generasi mendatang;
– Lomba Taman Keluarga (TOGA) — mengajak setiap warga menanam manfaat sekaligus keindahan di pekarangan rumah. Setiap tanaman yang tumbuh adalah simbol kehidupan yang dijaga, kesehatan yang dipelihara, serta kemandirian keluarga yang dibangun bersama;
– Gotong Tumpeng dan Doa Bersama — pada malam 17 Agustus, seluruh warga berkumpul di Gedung Serbaguna Desa Tanjung Mulya. Melalui nasi tumpeng yang disajikan bersama, warga menyatukan doa: memohon keberkahan bagi bangsa, keselamatan sesama, kemajuan desa, serta persatuan yang tak tergoyahkan. Tumpeng yang berbentuk kerucut melambangkan harapan yang menjulang, kebersamaan yang menyatu, dan rasa syukur yang tak terputus.

“Ini adalah wujud kekompakan dan semangat yang kami laksanakan setiap tahun, bukan sekadar rutinitas berulang, melainkan pengingat abadi untuk mengenang para pahlawan yang tanpa jasa-jasanya kita tidak akan pernah berdiri tegak sebagai bangsa yang merdeka, berdaulat, dan bermartabat. Mereka berjuang 81 tahun silam, menumpahkan segala yang mereka miliki — nyawa, harta, masa muda — demi Indonesia yang bebas dari belenggu. Kini, giliran kita menjaga warisan itu dengan persatuan, dengan kerja nyata, dengan kasih sayang sesama anak bangsa,” tegas Wardoyo dengan suara yang bergetar penuh keyakinan.

Kepala Desa menutup pernyataannya dengan kalimat yang meresap ke dalam sanubari setiap warga: “Inilah wujud persaudaraan dan kekompakan kita — satu desa, satu niat, satu cita. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah harga mati. NKRI tidak dapat ditawar, tidak dapat diperjualbelikan, tidak dapat dipisah-pisahkan, dan akan tetap dijaga dengan segenap jiwa raga hingga akhir masa.”

Semangat yang terpancar dari Desa Tanjung Mulya menjadi pelajaran berharga bagi siapa pun yang membacanya: kemerdekaan tidak dirayakan hanya dengan kata-kata yang indah, melainkan dengan tangan yang bekerja membersihkan tempat tinggal bersama, dengan hati yang saling mengasihi tanpa membeda-bedakan, dengan langkah yang beriringan menuju masa depan yang lebih cerah. Di tengah riuh perayaan yang meriah, satu pesan menyatu di hati seluruh warga, dibisikkan angin, dikibarkan bendera, dan dihidupkan dalam tindakan nyata: Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh — NKRI Harga Mati.

(Tim Redaksi — HD)

Berita Terkait