AMANATUN SELATAN, 8 Oktober 2026, Warta.in
Seorang siswa kelas II SD GMIT Oesusu, Desa Kualeu, Kecamatan Amanatun Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Prov. Nusa Tenggara Timur, diduga mengalami kekerasan fisik yang dilakukan oleh seorang oknum guru berinisial YN pada Kamis, 8 Oktober 2026.
Siswa tersebut diketahui bernama Sarci Naklui, berusia 8 tahun. Berdasarkan keterangan yang diperoleh Media ivestigasi pada 08 Oktober 2026, melalui pesan Whaccap, Akibat pemukulan itu, Sarci diduga mengalami luka lebam pada bagian kaki.
Menurut keterangan Keluarga korban, Tidak hanya Sarci yang dipukul, ada pula empat siswa lainnya juga disebut mengalami tindakan serupa yang diduga dilakukan oleh oknum guru (YN) yang sama, Namun, informasi mengenai kronologi lengkap dan kondisi keempat siswa lainnya masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut kepada pihak terkait. Sementara itu, Oknum guru YN juga telah dikomfirmasig namun tidak ada respons.
Peristiwa tersebut terjadi di lingkungan SD GMIT Oesusu, Desa Kualeu, Kecamatan Amanatun Selatan. Dugaan tindak pidana kekerasan tersebut menimbulkan keprihatinan dari pihak keluarga korban.
Menurut keterangan orang tua Sarci, kejadian tersebut turut berdampak pada kondisi anaknya. Orang tua korban menyebutkan bahwa setelah kejadian, Sarci menjadi jarang masuk sekolah karena akibat takut dan rasa trauma. Dengan demikian keluarga korban berharap persoalan tersebut dapat ditangani secara serius sehingga anak merasa aman untuk kembali mengikuti kegiatan belajar di sekolah demi masa depan mereka.
Berdasarkan kejadian tersebut, orang tua korban menyatakan berencana menempuh jalur hukum atas dugaan tindakan kekerasan yang dialami anaknya. Keluarga juga berencana melaporkan kasus tersebut kepada Kepolisian Resor (Polres) untuk mendapatkan penanganan dan proses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
“Kami ingin persoalan ini diproses sesuai hukum karena menyangkut anak kami dan juga masa depannya dalam mendapatkan pendidikan yang aman,” demikian inti sikap keluarga korban berdasarkan informasi yang disampaikan.
Keluarga berharap pihak kepolisian dan instansi terkait dapat melakukan penyelidikan secara menyeluruh, termasuk meminta keterangan dari korban, orang tua, guru, pihak sekolah, serta siswa lain yang disebut mengalami kejadian serupa.
Kasus ini menjadi perhatian karena lingkungan sekolah semestinya menjadi tempat yang aman bagi anak-anak untuk memperoleh pendidikan, perlindungan, serta tumbuh dan berkembang tanpa rasa takut.





























