Kisah SDN Purwamekar: Bukti Nyata Perpisahan Sekolah Bisa Semarak Tanpa Beban Biaya Orang Tua
Warta In Jabar | Subang — Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti halaman sekolah saat Ibu Hj. Suaebah, S.Pd., menyampaikan sambutannya. Dalam kesempatan tersebut, beliau memperkenalkan diri secara resmi kepada seluruh wali murid dan tamu undangan yang hadir. Beliau menjelaskan bahwa dirinya mengemban amanah sebagai PLT Kepala Sekolah untuk menggantikan Kepala Sekolah definitif sebelumnya, Bapak Jumhari, yang telah memasuki masa pensiun.

Di tengah-tengah sambutannya, Ibu Hj. Suaebah mengajak seluruh dewan guru, orang tua murid, hingga para siswa untuk mengheningkan cipta sejenak guna mendoakan salah satu sosok pendidik terbaik mereka yang telah berpulang, yaitu almarhum Bapak Dian Wahyudin, S.Pd.. Dengan suara yang bergetar penuh keikhlasan, Ibu Kepala Sekolah memimpin langsung pembacaan ummul kitab, surat Al-Fatihah, untuk almarhum.

”Mari kita sama-sama berdoa untuk almarhum Bapak Dian Wahyudin, semoga iman Islamnya diterima dan dimaafkan segala dosa-dosanya. Beliau adalah sosok pahlawan pendidikan, putra asli daerah sini yang selalu memberikan dukungan dan selalu bersemangat dalam membimbing putra-putri Bapak dan Ibu sekalian,” ungkap Hj. Suaebah dengan penuh rasa takzim.

Setelah momen haru tersebut, Pengawas Ahli Muda Pendidikan Kecamatan Patokbeusi, Yanto Suswana, yang mewakili Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang, memberikan sambutan dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada pihak panitia serta orang tua siswa. Ia menekankan bahwa esensi dari acara perpisahan bukanlah diukur dari seberapa mewah panggung yang berdiri atau seberapa megah hiburan yang disajikan.

”Kami dari dinas menekankan kepada pihak sekolah, kalaupun mau diadakan acara seperti ini boleh, tetapi jangan terlalu bermewah-mewahan, jangan terlalu berlebih-lebihan,” ujar Yanto dalam sambutannya. “Sejatinya acara seperti ini bukan dilihat dari seberapa mewahnya panggung… tetapi bagaimana cara kita mengapresiasi peserta didik kita dengan memberikan kesempatan mereka untuk tampil di depan orang tua mereka. Itu sudah merupakan penghargaan yang sangat tinggi.”

Kebahagiaan hari itu semakin lengkap dengan pengumuman kelulusan. Sebanyak 25 siswa kelas 6 dinyatakan lulus 100 persen, dan seluruh siswa dari total 150 siswa SDN Purwamekar berhasil naik kelas. Beberapa siswa bahkan mendapatkan penghargaan atas potensi luar biasa yang mereka miliki.
Kepada para siswa kelas 1 hingga kelas 5, Yanto berpesan agar mereka yang sudah berprestasi dapat terus mempertahankan dan meningkatkan prestasinya ke tingkat yang lebih tinggi, baik kecamatan maupun kabupaten. Sementara bagi siswa yang masih mengalami kesulitan belajar, ia meminta mereka tidak khawatir karena para guru siap membimbing dengan sabar di tingkat berikutnya.

Menutup sambutannya, Pengawas Pembina Patokbeusi ini menitipkan pesan mendalam kepada 25 lulusan kelas 6 yang akan segera melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP atau Madrasah Tsanawiyah.

”Tolong jaga nama baik sekolah kalian, jaga selalu nama baik orang tua kalian, dengan senantiasa belajar dan meraih prestasi setinggi-tingginya,” pungkas Yanto penuh harap.

Kemeriahan acara kemudian berlanjut dengan berbagai suguhan tampilan kesenian dari para siswa. Panggung upacara yang bersahaja itu menjadi saksi talenta-talenta luar biasa SDN Purwamekar saat anak-anak dengan percaya diri menampilkan tarian, pembacaan puisi, hingga paduan suara di hadapan mata bangga orang tua mereka. Tampilan kesenian ini menjadi ruang ekspresi nyata sekaligus pembuktian bahwa potensi prestasi anak didik di sekolah ini sangatlah luar biasa.

Setelah seluruh rangkaian unjuk bakat selesai, acara perayaan perpisahan yang penuh kesan ini pun ditutup dengan pembacaan doa bersama. Doa penutup dipanjatkan dengan khusyuk, memohon keberkahan atas ilmu yang telah didapat, keselamatan bagi ke-25 lulusan kelas 6 dalam menempuh jenjang pendidikan yang baru, serta kemajuan bagi SDN Purwamekar ke depannya.

Acara perpisahan ini mengukir cerita indah bahwa kemewahan sejati sebuah perayaan kelulusan tidak diukur dari materi, melainkan dari keikhlasan para guru, keberanian pemimpin, ruang bagi anak untuk berekspresi, serta untaian doa yang tulus.































