Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

Dari Merenung di Rumah hingga Berani Berusaha, Pendampingan CBR Worker Bantu Disabilitas Bangkit

Warta.in, Jember – Di balik berbagai persoalan yang masih dihadapi penyandang disabilitas di Kabupaten Jember, ada cerita tentang perubahan yang tumbuh perlahan melalui pendampingan di tengah masyarakat.

Salah satunya dialami Feri, seorang penyandang disabilitas yang sebelumnya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan cenderung menutup diri dari lingkungan sekitar.

Melalui pendampingan Community-Based Rehabilitation (CBR) Worker, perlahan Feri mulai berani keluar dari keterasingannya. Ia mulai bersosialisasi dengan penyandang disabilitas lainnya, berkomunikasi dengan masyarakat hingga akhirnya mampu merintis usaha secara mandiri.

Cerita tersebut disampaikan Alfin Qomar, CBR Worker atau pendamping penyandang disabilitas di Kecamatan Silo. Menurutnya, perubahan seperti yang dialami Feri menjadi salah satu pencapaian yang cukup berarti dari proses pendampingan yang dilakukan di lapangan.

“Salah satu di antara pencapaian yang juga dihasilkan oleh para CBR Worker adalah perubahan dampak sosial. Sebut saja namanya Feri. Feri yang dulunya hanya merenung di rumah, meratapi nasibnya, sekarang sudah mau bersosialisasi dengan disabilitas lain, berani speak up dengan masyarakat hingga dia bisa membuka usahanya sendiri,” kata Alfin.

Bagi Alfin, perubahan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi seorang penyandang disabilitas yang sebelumnya merasa sendiri dan kehilangan kepercayaan diri, keberanian untuk keluar rumah, berinteraksi dengan masyarakat dan mulai membangun usaha merupakan langkah besar.

“Yang kami lihat bukan hanya soal bantuan atau alat yang diberikan. Ketika seseorang yang awalnya tidak mau berinteraksi kemudian berani berbicara dan mulai punya usaha sendiri, itu merupakan perubahan yang sangat berarti,” jelasnya.

Pendampingan Anak dan Remaja Penyandang Disabilitas

Alfin merupakan salah satu CBR Worker yang terlibat dalam program BEN (Building Effective Network) yang digagas NLR Indonesia. Program tersebut berfokus pada pemberdayaan anak dan remaja penyandang disabilitas di Kabupaten Jember dan dilaksanakan melalui kerja sama dengan Tanoker dan Perpencha Jember.

Pendampingan dilakukan dengan mendekatkan layanan dan penguatan kapasitas kepada penyandang disabilitas serta keluarganya di lingkungan tempat mereka tinggal.

Bagi para pendamping, persoalan disabilitas tidak berhenti pada kondisi fisik. Ada persoalan lain yang tidak kalah penting, seperti rasa percaya diri, penerimaan keluarga, interaksi sosial, pendidikan, akses kesehatan hingga kesempatan untuk mendapatkan penghidupan yang layak.

Di lapangan, Alfin menemukan masih banyak anak dan remaja penyandang disabilitas yang membutuhkan perhatian. Salah satu persoalannya adalah belum sepenuhnya sinkronnya data antara kondisi di lapangan dengan data yang dimiliki instansi terkait.

“Data yang ada di lapangan dengan data di instansi masih belum sepenuhnya sinkron. Banyak anak dan remaja usia produktif yang sebenarnya membutuhkan perhatian dan pendampingan,” ungkapnya.

Menurutnya, setiap angka dalam data sebenarnya menggambarkan kehidupan seseorang. Karena itu, pendataan harus diikuti dengan intervensi yang nyata sesuai kebutuhan masing-masing penyandang disabilitas.

Dari Data Menjadi Pendampingan Nyata

CBR Worker tidak hanya melakukan pendataan, tetapi juga mendampingi keluarga ketika menghadapi persoalan akses layanan.

Mulai dari kebutuhan alat bantu, pendidikan, kesehatan, administrasi kependudukan hingga persoalan sosial di lingkungan tempat tinggal.

Dalam sejumlah kasus, anak penyandang disabilitas juga harus diasuh oleh kakek atau nenek karena kondisi orang tua yang tidak memungkinkan. Pendamping kemudian turut membantu memberikan penguatan kepada keluarga agar anak tetap mendapatkan hak dan perhatian yang semestinya.

Di sinilah pendekatan berbasis masyarakat menjadi penting. Pendampingan tidak hanya diarahkan kepada penyandang disabilitas, tetapi juga kepada keluarga dan lingkungan agar stigma serta sikap diskriminatif dapat dikurangi.

Membangun Kepercayaan Diri dan Kemandirian

Menurut Alfin, kisah Feri menjadi gambaran bahwa proses pemberdayaan membutuhkan waktu dan kesabaran.

Perubahan tidak selalu langsung terlihat. Kadang dimulai dari hal sederhana, seperti keberanian keluar rumah, mau berbicara dengan orang lain, bergabung dengan komunitas, hingga akhirnya berani mengambil keputusan untuk mandiri.

Karena itu, program BEN tidak hanya diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga membangun jejaring, kepercayaan diri dan kemampuan anak maupun remaja penyandang disabilitas agar dapat mengambil peran di tengah masyarakat.

Pendampingan juga diarahkan untuk membuka peluang kemandirian ekonomi. Penyandang disabilitas didorong agar tidak selalu diposisikan sebagai penerima bantuan, tetapi juga memiliki kesempatan menjadi pelaku usaha sesuai kemampuan dan potensi masing-masing.

“Harapannya mereka tidak hanya mendapatkan bantuan, tetapi benar-benar diberi kesempatan. Karena kalau diberikan ruang dan dukungan, anak-anak ini juga bisa berkembang dan memiliki kemampuan,” ujar Alfin.

Kisah Feri menjadi salah satu contoh bahwa ketika penyandang disabilitas mendapatkan ruang, pendampingan dan dukungan dari lingkungan, perubahan bisa tumbuh dari dalam dirinya sendiri.

Dari seseorang yang sebelumnya hanya merenung di rumah, perlahan muncul keberanian untuk bersosialisasi, berbicara dengan masyarakat dan membangun usaha.

Bagi para CBR Worker, perubahan seperti itulah yang menjadi salah satu tujuan penting pendampingan: bukan sekadar membuat penyandang disabilitas menerima bantuan, tetapi membantu mereka menemukan kembali kepercayaan diri dan kesempatan untuk hidup mandiri.

Berita Terkait