Warta.in, Jember — Tuduhan pencurian laptop membuat FN, warga Dusun Kepel, Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember, mengaku mengalami tekanan psikologis. Ia menyebut dirinya mendapat perlakuan yang menurutnya mengarah pada intimidasi saat dimintai keterangan terkait hilangnya sebuah laptop.
FN menuturkan, persoalan tersebut bermula dari tuduhan yang diarahkan kepadanya oleh pamannya sendiri. Ia kemudian dipanggil ke SPPG Taman Sari Wuluhan tempat pamannya bekerja pada Selasa, 29 September 2026, untuk dimintai keterangan mengenai laptop yang disebut telah hilang.
Namun, menurut pengakuan FN, pemanggilan tersebut tidak sekadar berupa permintaan keterangan. Ia mengaku mendapat tekanan agar mengakui telah mengambil laptop tersebut.
“Saya dipanggil untuk diinterogasi dan diminta mengakui bahwa saya mencuri laptop,” ujar FN.
Dalam keterangannya, FN mengaku dirinya juga disebut akan dipenjarakan apabila tidak mengakui tuduhan tersebut. Di sisi lain, ia mengaku sempat ditawari benda berharga apabila bersedia mengakui perbuatan yang dituduhkan kepadanya.
Tekanan yang dirasakan FN, menurut pengakuannya, semakin kuat ketika pihak yang menanyainya menyebut telah menemukan sidik jari miliknya serta memiliki saksi yang disebut mengetahui kejadian tersebut.
FN juga mengaku diminta melakukan sumpah menggunakan Al-Qur’an dalam situasi tersebut.
Kendati demikian, FN tidak membantah bahwa dirinya pernah meminjam laptop yang kini dipersoalkan. Ia menjelaskan bahwa peminjaman tersebut terjadi beberapa kali, namun sudah berlangsung cukup lama.
Setelah itu, FN mengaku tidak pernah lagi meminjam laptop tersebut hingga kemudian dirinya mengetahui barang tersebut dinyatakan hilang.
“Saya memang dulu pernah beberapa kali memakai. Tapi setelah itu sudah tidak pernah lagi, sampai laptop itu hilang. Bahkan sekarang saya sudah lupa mereknya apa karena memang sudah lama sekali tidak pernah memakai lagi,” jelasnya.
Menurut FN, tuduhan tersebut kini tidak hanya berdampak terhadap dirinya. Persoalan itu juga memengaruhi kondisi keluarganya.
Ia mengaku mengalami tekanan karena harus menghadapi tuduhan pencurian, sementara kedua orang tuanya juga ikut terpengaruh oleh persoalan tersebut.
FN mengatakan, orang tuanya kini mulai meragukan keterangannya. Kondisi itu bahkan disebut memicu pertengkaran antara ayah dan ibunya.
“Orang tua saya juga tertekan dan menekan saya. Sekarang mereka tidak percaya kepada saya. Bapak sama ibu sampai bertengkar,” ungkap FN.
Atas kejadian tersebut, FN berharap persoalan hilangnya laptop dapat diungkap berdasarkan fakta dan bukti yang sebenarnya. Ia juga berharap tidak ada pihak yang memberikan tekanan maupun membuat kesimpulan sebelum dugaan pencurian tersebut benar-benar dapat dibuktikan.
FN menilai, apabila memang terdapat bukti berupa sidik jari maupun keterangan saksi sebagaimana yang disebutkan kepadanya, bukti tersebut seharusnya dapat diperiksa melalui mekanisme yang semestinya.
Sementara itu, terkait tuduhan pencurian laptop maupun dugaan intimidasi yang disampaikan FN, hingga berita ini ditulis belum diperoleh keterangan dari pihak yang disebut sebagai penuduh. Karena itu, seluruh tuduhan dan dugaan intimidasi dalam pemberitaan ini masih merupakan keterangan sepihak dari FN dan memerlukan konfirmasi dari pihak-pihak terkait.
Redaksi tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak yang disebut dalam pemberitaan ini.































