28.6 C
Jakarta
Rabu, Mei 20, 2026

Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

Menagih Transparansi Upland Subang, Ke Mana Menguapnya Puluhan Miliar Dana Hibah?

Menagih Transparansi Upland Subang, Ke Mana Menguapnya Puluhan Miliar Dana Hibah?

​Penulis : R. Damayanto (Warta In)

Subang digadang-gadang jadi salah satu lumbung sukses Program Upland. Uangnya bukan main-main. Hibah Bank Dunia yang dikucurkan lewat Kementerian Pertanian mencapai puluhan miliar untuk menghidupkan lahan kering dan menggerek manggis Subang ke pasar ekspor.

Narasi di atas kertas memang manis target hektare terukur, benih terdokumentasi, presentasi rapi di ruang rapat tapi tiga tahun berlalu, publik masih menagih satu hal sederhana, buktinya mana ?

Kalau benar penanaman dimulai 2022, maka 2025 ini seharusnya sudah ada kebun manggis yang mulai berbuah. Desa mana yang sudah panen ? Berapa ton yang dihasilkan per hektare ? Apakah pendapatan petani naik, atau justru mereka menanggung biaya perawatan tanpa kepastian pasar? Pertanyaan-pertanyaan ini belum dijawab dengan data terbuka.

Yang ada justru seremoni. Serah terima bibit, foto bersama, lalu diam. Tidak ada peta lokasi yang bisa diakses publik, tidak ada laporan berkala soal survival rate tanaman, apalagi analisis ekonomi dampaknya ke petani puluhan miliar itu seperti menguap menjadi tumpukan laporan administratif yang tak bisa diuji di lapangan.

Begitupun dengan peran pendamping yang tentu ahli bidang nya sesuai dengan persyaratan rekruitmen, tapi kabarnya pun sampai hari ini tidak jelas padahal mereka dikontrak dan mendapatkan Honor

Ironinya, sebelum manggis sempat membuktikan diri, arah program bergeser di 2025. Manggis ditinggal, berganti menjadi program “Upland Nanas” Alasannya klise: Subang adalah “Kota Nanas”. pergantian komoditas sah saja jika berbasis evaluasi dan kebutuhan petani, tapi yang disodorkan publik lagi-lagi hanya narasi baru, tanpa jejak kenapa yang lama ditinggalkan. Gagal bibit, gagal pasar, atau gagal perencanaan ? Tidak ada yang tahu.

Yang lebih meresahkan, bau anyir dugaan korupsi sudah tercium lebih dulu dari panen nanas, Gosip gagal panen, pengadaan tertutup, dan kelompok tani yang luassan Ha tidak sesuai dg CPCL, Gosip kembali terdengar Mark Up pembelian pengadaan bibit Nanas Jika benar, ini bukan sekadar pemborosan. Ini pengkhianatan terhadap petani dan masyarakat pada umumnya nya.

Subang memang punya potensi manggis dan nanas. yang hilang adalah transparansi. tanpa keterbukaan data, program hibah luar negeri hanya jadi ritual cair, tanam, foto, ganti komoditas, ganti cerita.

Jika manggis belum berbuah, katakan sejujurnya. Evaluasi apa yang salah bibit, pendampingan, Infrasruktur, atau pola tanam ? Jika sudah berbuah, tunjukkan datanya. Jika sudah bergeser ke nanas, jelaskan dasarnya dan buka seluruh proses pengadaan. Jangan biarkan publik hanya merasakan manisnya retorika, sementara rasanya pahit di lapangan.

Karena yang ditagih masyarakat bukan janji di dokumen proyek, yang ditagih adalah bukti di kebun. Apakah manggis dan nanas Subang benar-benar semanis uang hibah yang mengantarkannya ?

Sudah saatnya Dinas Pertanian Subang dan Kementerian Pertanian membuka seluruh data lokasi, progres, dan evaluasi Program Upland. Jangan tunggu publik bertanya lebih keras. Jangan tunggu aparat penegak hukum datang baru kemudian mencari-cari alibi pembenaran.

​Program hibah luar negeri tidak boleh dijadikan ritual tahunan bagi-bagi proyek: cairkan dana, tanam bibit, foto bersama, ganti komoditas, lalu ganti narasi untuk menutupi borok sebelumnya.

​Dinas Pertanian Subang dan Kementerian Pertanian tidak boleh lagi bersembunyi di balik dinding birokrasi. Buka seluruh data lokasi, laporan keuangan, dan hasil evaluasi Program Upland ke hadapan publik. Jangan tunggu sampai masyarakat mencari kebenaran dan jangan tunggu sampai Aparat Penegak Hukum datang mengetuk pintu baru kemudian sibuk mencari alibi pembenaran. Rakyat Subang tidak butuh retorika manis, mereka butuh bukti nyata dan kebenaran yang pasti.

Berita Terkait