PONTIANAK,WARTA IN – Dalam rangka memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk mendorong pemenuhan hak, kemandirian ekonomi, serta pengembangan prestasi penyandang disabilitas di Kalimantan Barat.
Parapreneur Indonesia Bahagia menyelenggarakan rangkaian kegiatan talkshow, peluncuran database penyandang disabilitas, serta sosialisasi Pekan Paralimpik Provinsi (PEPARPROV) XII Kalimantan Barat. Kegiatan ini dilaksanakan di Gaia Bumi Raya City Kubu Raya, Minggu (01/11/26).
Dengan mengusung semangat “Bersama Membangun Indonesia Inklusif, dari Kesetaraan Menuju Kemandirian dan Kesetaraan Penyandang Disabilitas”, kegiatan ini menjadi langkah untuk memperkuat sinergi antara organisasi penyandang disabilitas, pemerintah, lembaga keuangan, media, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Ketua National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI) Kalimantan Barat, Mustaat Saman, menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor sangat penting untuk memperluas ruang partisipasi penyandang disabilitas sekaligus mengubah stigma negatif yang masih berkembang di tengah masyarakat.
Menurutnya, kerja sama dengan Komisi Nasional Disabilitas (KND), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Radio Republik Indonesia (RRI) telah memberikan ruang yang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk menunjukkan kemampuan dan potensi mereka.
“Banyak hal yang sudah kita jalani bersama KND, OJK, dan RRI. Mereka memberikan ruang bagi disabilitas agar semakin dikenal dan mendapatkan kesempatan yang lebih luas. Kami akan terus berupaya mengubah stigma-stigma negatif terhadap penyandang disabilitas,” ujarnya.
Mustaat menekankan bahwa perubahan pandangan masyarakat harus dimulai dari diri penyandang disabilitas sendiri melalui keberanian untuk bangkit, mengembangkan kemampuan, dan membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk meraih kemandirian.
“Yang bisa mengubah stigma itu adalah diri kita sendiri, bukan orang lain. Kita harus bangkit. Kawan-kawan di sini banyak yang luar biasa dan mampu menunjukkan kemandiriannya,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Mustaat juga memaparkan persiapan pelaksanaan PEPARPROV XII Kalimantan Barat. Ia mengungkapkan bahwa pada awalnya terdapat keraguan untuk kembali menyelenggarakan ajang olahraga tersebut karena keterbatasan anggaran khusus.
Namun, setelah mempertimbangkan berbagai hal dan mendengarkan aspirasi para atlet penyandang disabilitas, pihaknya memutuskan untuk tetap berupaya melanjutkan agenda tersebut.
Ia menyebutkan, para atlet mempertanyakan kesempatan mereka untuk berkompetisi, sementara ajang olahraga bagi atlet nondisabilitas tersedia. Aspirasi tersebut menjadi salah satu dorongan untuk kembali menyatukan semangat dan mempersiapkan penyelenggaraan PEPARPROV.
“Awalnya kami tidak ingin melaksanakannya karena memang tidak ada anggaran khusus untuk PEPARPROV. Namun, setelah kami pertimbangkan, anak-anak bertanya, mengapa mereka tidak bisa ikut, sementara atlet nondisabilitas memiliki ajang kompetisi? Akhirnya kami berkumpul kembali dan memutuskan untuk berjuang bersama,” jelasnya.
Menurut Mustaat, semangat para atlet menjadi modal penting untuk menghadapi berbagai tantangan. Ia menegaskan bahwa perjuangan untuk menghadirkan ruang kompetisi bagi atlet disabilitas harus terus dilanjutkan, meskipun dihadapkan pada keterbatasan.
Ia menuturkan, sebelumnya terdapat gagasan untuk menggunakan arwana sebagai maskot. Namun, pihaknya kemudian memilih sempurna sebagai simbol yang merepresentasikan semangat kebangkitan, kemandirian, dan keyakinan bahwa penyandang disabilitas memiliki kemampuan untuk menentukan masa depannya.
Menurutnya, nama sempurna membawa pesan bahwa penyandang disabilitas tidak boleh terus-menerus bergantung pada penilaian atau harapan orang lain. Sebaliknya, setiap individu harus memiliki keyakinan dan kemauan untuk memulai perubahan dari dirinya sendiri.
“Jangan terus berharap kepada orang lain. Fokus kita harus dimulai dari diri sendiri. Itulah semangat yang ingin kami sampaikan melalui maskot Sempurna,” ungkapnya.
Ia berharap maskot tersebut dapat menjadi simbol motivasi bagi seluruh atlet dan penyandang disabilitas di Kalimantan Barat untuk terus berkarya, berprestasi, serta mengambil peran aktif dalam kehidupan bermasyarakat.
Selain membahas olahraga paralimpik, Mustaat menekankan pentingnya ketersediaan data penyandang disabilitas yang akurat, terverifikasi, dan terintegrasi.
Menurutnya, data menjadi fondasi utama untuk menyusun program pemberdayaan yang tepat sasaran, baik di bidang sosial, ketenagakerjaan, kewirausahaan, maupun olahraga.
Ia menilai, perbedaan data di antara instansi pemerintah dapat menjadi tantangan dalam merancang kebijakan dan program yang sesuai dengan kebutuhan penyandang disabilitas.
“Dasar dari banyak hal yang ingin kita lakukan adalah data. Data di Dinas Sosial bisa berbeda dengan data di Dinas Ketenagakerjaan maupun Dinas UMKM. Karena itu, database ini bukan untuk mendahului siapa pun atau merasa paling depan, tetapi menjadi langkah awal untuk membangun kolaborasi dengan semua pihak,” jelas Mustaat.
Ia menyampaikan bahwa data penyandang disabilitas yang dimiliki pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial disebut mencapai lebih dari 65.000 orang di Kalimantan Barat. Namun, menurutnya, data tersebut masih memerlukan proses verifikasi lebih lanjut, termasuk untuk memastikan identitas, jenis disabilitas, serta status terkini setiap individu.
Sementara itu, database yang dikembangkan pihaknya telah mencakup lebih dari 25.000 data penyandang disabilitas. Data tersebut, menurut Mustaat, telah memuat sejumlah informasi dasar, seperti Nomor Induk Kependudukan (NIK), jenis kelamin, dan jenis disabilitas.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pendataan dan verifikasi tetap perlu dilakukan secara berkelanjutan agar informasi yang tersedia benar-benar akurat dan dapat digunakan sebagai dasar penyusunan program.
Mustaat berharap peluncuran database tersebut menjadi awal dari kerja sama yang lebih kuat antara organisasi penyandang disabilitas dan pemerintah daerah, khususnya Dinas Sosial, Dinas Ketenagakerjaan, serta dinas yang membidangi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dengan adanya data yang lebih terstruktur, program pemberdayaan diharapkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan nyata penyandang disabilitas, mulai dari akses terhadap pekerjaan, pengembangan usaha, peningkatan keterampilan, hingga pembinaan atlet berprestasi.
Ia juga mengajak seluruh pihak untuk tidak menjadikan database sekadar kumpulan angka, melainkan instrumen untuk memastikan penyandang disabilitas memperoleh hak, kesempatan, dan akses pelayanan secara lebih setara.
“Setelah database ini diluncurkan, semua pihak harus bersama-sama memperkuat pendataan dan melakukan verifikasi. Kita ingin data tersebut benar-benar bermanfaat untuk mendukung program dan meningkatkan kemandirian penyandang disabilitas,” pungkasnya.
Parapreneur Indonesia Bahagia bersama para pemangku kepentingan diharapkan dapat memperkuat fondasi pembangunan yang inklusif di Kalimantan Barat, sehingga penyandang disabilitas tidak hanya memperoleh pengakuan atas hak-haknya, tetapi juga memiliki kesempatan yang setara untuk mandiri secara ekonomi, berpartisipasi dalam kehidupan sosial, dan meraih prestasi di bidang olahraga.
Sumber:ismail






























