27.9 C
Jakarta
Jumat, Mei 15, 2026

Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

Warga Lakukan Aksi Tanam Pohon Pisang di Tengah Badan Jalan Sebagai Bentuk Protes

Puluhan Tahun Menjadi Keluhan, Kondisi Jalan di Wilayah Air Rami Masih Tak Berubah: Warga Lakukan Aksi Simbolis Tanam Pohon Pisang di Tengah Badan Jalan Sebagai Bentuk Protes

MUKOMUKO – Sebuah permasalahan mendasar yang telah menjadi catatan kelam dan beban berat bagi masyarakat di wilayah Kecamatan Air Rami, Kabupaten Mukomuko, kini kembali mencuat ke permukaan, menjadi sorotan tajam publik, dan memicu gelombang keprihatinan luas di berbagai lini masyarakat. Isu yang dimaksud tak lain adalah kondisi infrastruktur jalan yang berada di wilayah tersebut, yang kondisinya dinilai belum mengalami perbaikan berarti sejak puluhan tahun silam, dan kini kembali ramai diperbincangkan serta mengundang kekesalan warga setelah berbagai dokumentasi dan keluhan mereka diunggah serta menyebar luas di media sosial, memancing reaksi beragam dari warga masyarakat luas.

Dalam unggahan-unggahan yang tersebar dan menjadi perbincangan hangat tersebut, masyarakat setempat menyampaikan pertanyaan besar yang mewakili rasa lelah, kecewa, dan harapan yang tertunda sejak lama. Mereka mempertanyakan batas waktu dan kesabaran yang harus terus diuji, hingga kapan lagi jalan raya yang berupa tanah berwarna kekuningan dan memiliki karakteristik lengket yang khas di wilayah mereka ini belum juga mendapatkan sentuhan perbaikan, pemeliharaan, atau peningkatan kualitas dari pihak berwenang. Keluhan mendasar mengenai kondisi jalan yang memprihatinkan ini ternyata bukanlah masalah baru atau persoalan yang terjadi dalam waktu singkat saja, melainkan sebuah permasalahan kronis yang telah berlangsung sangat lama, tercatat sudah ada sejak tahun 1980 silam, hingga berlanjut terus menerus hingga ke tahun 2026 ini, namun kondisi yang ada di lapangan masih terlihat sama persis dan belum berubah menjadi lebih baik.

“Sudah sangat lama kita menanti perubahan. Dari mulai tahun 1980 silam hingga saat ini di tahun 2026, kondisi jalan tersebut masih tetap sama persis seperti itu, tidak ada perbaikan berarti. Karakteristik tanahnya yang berwarna menguning itu sangat lengket dan sulit dilepaskan, itulah kondisi yang kami hadapi setiap hari puluhan tahun lamanya,” tulis salah satu warga dalam keterangannya yang ikut termuat dalam unggahan tersebut, mewakili suara hati ribuan warga yang merasakan dampak langsung keadaan tersebut.

Ruas jalan yang menjadi sorotan utama dan menuai banyak keluhan keras dari masyarakat ini memiliki jangkauan cukup panjang dan strategis, yang melintasi serta menghubungkan berbagai wilayah pemukiman penting, mulai dari perbatasan wilayah Desa Tirta Kencana, berlanjut ke Desa Cinta Asih, Desa Marga Mulya, Desa Bukit Harapan, hingga menjangkau wilayah Desa Perambah Hutan. Jalur ini merupakan urat nadi utama aksesibilitas masyarakat setempat untuk melakukan segala aktivitas kehidupan sehari-hari. Namun, keadaan jalan yang masih berupa tanah asli tersebut menjadi tantangan berat yang tak berkesudahan. Ketika musim kemarau tiba, permukaan jalan menjadi kering, berdebu tebal, dan mengganggu pernapasan, namun ketika curah hujan turun membasahi wilayah tersebut, pemandangan dan kondisi berubah drastis menjadi medan yang sangat sulit dilalui. Jalan tersebut berubah seketika menjadi jalur berlumpur pekat, sangat licin, berair, dan becek, sehingga sangat menyulitkan, menghambat, bahkan menghalangi segala aktivitas penting warga.

Kesulitan yang dihadapi masyarakat akibat buruknya kondisi jalan ini sangat beragam dan berdampak nyata pada sendi kehidupan. Mulai dari kesulitan berat yang dialami saat harus membawa atau mengantar warga yang sedang sakit menuju Puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat, yang memakan waktu lama dan berisiko tinggi bagi keselamatan nyawa pasien. Belum lagi kesulitan besar dalam mengangkut hasil bumi, hasil kebun, dan produk pertanian masyarakat menuju pusat-pusat penjualan, yang membuat harga jual menjadi rendah dan merugikan ekonomi warga. Tak kalah menyedihkan, kendala ini pun dirasakan secara langsung oleh para tenaga pendidik, di mana para guru kerap kali mengalami kesulitan luar biasa bahkan terhalang untuk sampai ke sekolah dan melaksanakan tugas mulia mereka dalam mengajar, hanya karena terhambat oleh kondisi jalan yang sulit dilalui kendaraan maupun berjalan kaki.

Rasa kekesalan, ketidaksabaran, serta rasa putus asa masyarakat yang sudah menumpuk bertahun-tahun lamanya akhirnya memuncak dan meluap menjadi sebuah aksi nyata yang cukup unik namun sarat akan makna protes mendalam. Sejumlah warga yang merasa hak dasarnya untuk mendapatkan akses jalan yang layak terabaikan, berinisiatif melakukan sebuah aksi simbolis yang cukup mengejutkan, yaitu menanamkan bibit pohon pisang tepat di tengah badan jalan yang rusak dan berlumpur tersebut. Aksi yang sangat berani dan penuh pesan keras ini diduga kuat merupakan bentuk ungkapan kekecewaan yang paling akhir, sebuah protes damai namun tegas atas kondisi jalan yang tak kunjung mendapat perhatian, tak kunjung disentuh perbaikan, dan dibiarkan begitu saja dalam kondisi buruk selama puluhan tahun berjalan.

Masyarakat setempat menilai dengan sangat jelas dan nyata, bahwa kondisi jalan yang rusak, berlumpur, dan sulit dilalui ini telah memberikan dampak negatif yang sangat luas, serius, dan langsung terhadap tiga aspek utama kehidupan warga, yaitu akses pendidikan, pelayanan kesehatan, serta tingkat keselamatan masyarakat di wilayah mereka. Terhambatnya akses berarti terhambatnya kemajuan. Oleh karena itu, dengan penuh harap dan sisa keyakinan yang masih ada, warga memohon dan berharap agar pihak Pemerintah Kabupaten Mukomuko, mulai dari pemimpin daerah hingga dinas teknis terkait, dapat segera turun ke lapangan, melihat langsung realita yang ada, mendengarkan jeritan hati masyarakat, serta segera memasukkan perencanaan dan pelaksanaan perbaikan jalan di wilayah Air Rami ini ke dalam daftar prioritas utama pembangunan daerah pada tahap selanjutnya.

Hingga berita ini disusun, dikumpulkan datanya, dan diturunkan kepada publik, sejauh ini belum ada tanggapan resmi, penjelasan, maupun keterangan rinci yang disampaikan oleh pihak manajemen Pemerintah Kabupaten Mukomuko terkait maraknya keluhan, sorotan, hingga aksi simbolis yang dilakukan oleh warga Kecamatan Air Rami yang kembali menjadi pembicaraan hangat dan viral di berbagai ruang media sosial maupun masyarakat luas.

(TIM REDAKSI / PPWI)

Berita Terkait