ULANG TAHUN RIANDA BERMAWI: MAKNA KONSOLIDASI DEMOKRASI DALAM PANDANGAN IWAN SUMULE, PENUH SEMANGAT DAN KOMITMEN RAKYAT
JAKARTA – Rumah Konsolidasi Demokrasi, atau yang lebih dikenal dengan nama ProDem, beralamat di Jalan Veteran I Nomor 27, Jakarta Pusat, berubah menjadi ruang penuh semangat, kehangatan, dan kebersamaan pada hari Senin, 11 Mei 2026 yang lalu. Gedung yang menjadi pusat pergerakan dan pemikiran demokrasi itu tampak begitu marak dipenuhi kehadiran sejumlah aktivis muda yang datang dari berbagai elemen, latar belakang, dan organisasi masyarakat, yang berkumpul untuk merayakan momentum istimewa: ulang tahun ke-34 Rianda Bermawi, seorang tokoh muda pergerakan yang dikenal memiliki dedikasi tinggi bagi kemajuan bangsa. Rumah demokrasi yang dibesut dan dikelola langsung oleh Iwan Sumule — yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan, serta Komisaris PT Pupuk Indonesia — ini kembali menegaskan eksistensinya sebagai ruang hidup yang tak pernah lelah menjadi wadah pertemuan, pertukaran gagasan, dan penguatan persaudaraan antar elemen bangsa.
Di dinding utama markas besar kaum aktivis di Jalan Veteran I ini, tertera sebuah motto yang tertulis tegas, indah, dan sarat makna mendalam, yang menjadi pedoman dan arah tujuan seluruh aktivitas yang dilakukan: “Perwujudan Demokrasi Harus Hadir Dalam Setiap Kehidupan dan Sampai ke Piring-piring Rakyat”. Kalimat yang sederhana namun sangat tajam dan menyentuh inti persoalan bangsa ini, menegaskan bahwa demokrasi bukan sekadar konsep politik di atas kertas, bukan pula sekadar seremonial pemilu atau kebebasan berpendapat semata, melainkan harus hadir sebagai kenyataan nyata yang dirasakan manfaatnya oleh setiap warga negara, hingga menyentuh kebutuhan paling dasar, yaitu kesejahteraan, kemakmuran, dan kecukupan hidup seluruh rakyat Indonesia.
Pada momen perayaan ulang tahun Rianda Bermawi yang ke-34 inilah, naluri sejati Iwan Sumule sebagai seorang aktivis pergerakan yang tak pernah lupa asal-usulnya, tampak begitu nyata, menonjol, dan memancar kuat ke seluruh penjuru ruangan. Baginya, sebuah perayaan ulang tahun sahabat dan kader perjuangan tidak boleh hanya diisi dengan kegembiraan biasa, tepuk tangan, atau pesta semata. Momentum berharga ini justru ditumpangi, diisi, dan dijadikan wahana strategis bagi konsolidasi politik pergerakan, tempat berkumpul, berhalalbihalbi, berbincang mendalam, dan saling menguatkan tekad di antara para aktivis muda yang datang dari berbagai elemen masyarakat. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa jabatan publik tinggi yang telah diemban dan dipegang teguh oleh Iwan Sumule selama bertahun-tahun, sama sekali tidak menyurutkan, meredam, atau mengurangi sedikit pun api semangat dan kegigihan perjuangannya — bahkan boleh dikatakan sebagai semangat perlawanan — terhadap segala bentuk kebijakan, tindakan, atau kekuasaan yang dinilai tidak berpihak pada rakyat, tidak adil, dan merugikan kepentingan umum.
Ibarat seekor burung bangau yang telah terbang melintasi jarak yang begitu jauh, melintasi pegunungan dan samudera yang luas, namun hati dan ingatannya tetap tak pernah lupa pada tempat asalnya, pada rawa-rawa dan habitat tempat ia tumbuh dan belajar terbang, demikianlah gambaran diri Iwan Sumule. Meski kini berdiri di jabatan strategis negara, memiliki tanggung jawab besar dalam kebijakan nasional, dan bergerak di lingkungan birokrasi yang kompleks, ia tetap tidak melupakan akar perjuangannya, tetap dekat, peduli, dan hadir di tengah kalangan aktivis serta kaum pergerakan yang selalu menjaga nadi demokrasi bangsa ini tetap berdetak kuat.
Acara perayaan ulang tahun seorang sahabat, yang tak keliru jika disebut sebagai kader binaan Iwan Sumule yang diasuh, dibimbing, dan dicermati dengan penuh ketelitian, kelembutan, serta kesungguhan hati, berlangsung sangat meriah namun tetap dibalut dalam suasana yang sederhana, akrab, dan penuh kehangatan persaudaraan. Suasana semakin hidup dan penuh kenangan manakala ruangan itu dipenuhi alunan lagu-lagu kenangan masa keemasan tahun 1980 hingga 1990-an, irama yang membawa kembali ingatan pada masa-masa perjuangan berat namun penuh harapan, selaras dengan usia dan perjalanan panjang para tokoh yang hadir serta sosok yang sedang merayakan hari kebahagiaannya itu.
Rianda Bermawi, sosok yang genap berusia 34 tahun pada hari itu, merupakan representasi nyata dari generasi penerus bangsa yang tangguh, yang lahir dan dibesarkan dalam kancah organisasi. Ia dikenal luas sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang berdedikasi tinggi, dan kehadirannya dalam perayaan ini diramaikan oleh rekan-rekan aktivis serta kaum pergerakan yang tergabung dalam Kelompok Cipayung — wadah persatuan yang ikonik, yang menyatukan segenap elemen pergerakan generasi muda terbaik yang ada di seluruh Indonesia. Di tangan para pemuda seperti Rianda, harapan masa depan demokrasi dan kemajuan bangsa ini diletakkan dan dijaga dengan kuat.
Oleh karena itu, pemaknaan yang mendalam dari acara ulang tahun para generasi kaum pergerakan di Indonesia hari ini pun telah mengalami pendalaman makna dan esensi yang begitu luar biasa. Kehadiran sosok pejabat publik yang juga merupakan Ketua Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan, yang tidak melupakan habitat asalnya, tidak memutus jalinan persaudaraan, dan tetap memegang teguh sikap konsisten serta prinsip yang kokoh di tengah berbagai godaan kekuasaan, menjadi bukti hidup bahwa masih ada pemimpin yang tetap memiliki sikap kritis, tajam, dan peka dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara Indonesia, menuju cita-cita luhur era emas tahun 2045. Ekspresi konsistensi yang menyejarah ini, berjejak jelas dan nyata melalui langkah-langkah kerja besar yang telah dilakukan Iwan Sumule selama ini, yang senantiasa berfokus pada program pengentasan kemiskinan yang tuntas, peningkatan kesejahteraan rakyat secara merata, serta perjuangan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat.
Pesan yang penuh makna mendalam, filosofis, dan menembus kesadaran disampaikan dalam pengantar pembukaan acara oleh Iwan Sumule. Beliau menekankan pentingnya nilai “kesabaran revolusioner” — sebuah sikap yang menggabungkan ketabahan hati yang luar biasa dengan semangat perubahan yang tak pernah padam, kesabaran yang bukan berarti diam, melainkan kesabaran yang bergerak, berjuang, dan membangun. Momen itu pun dilanjutkan dengan pembacaan tiga buah karya puisi indah dan penuh pesan, yang ditulis oleh Bambang Isti Nugroho, seorang penyair dan aktivis legendaris angkatan tahun 1978 yang dikenal luas berhaluan sosialis sejak masa-masa pergerakannya di Yogyakarta. Tokoh yang pernah mendekam lama di balik jeruji besi Orde Baru di Lembaga Pemasyarakatan Wirogunan ini, hadir membawa napas sejarah dan keteguhan hati yang menjadi teladan bagi generasi muda.
“Bapak Bambang Isti Nugroho adalah sosok besar yang karya-karyanya menjadi saksi sejarah perjuangan bangsa, dan dalam waktu dekat, beliau juga akan meluncurkan sekaligus membacakan antologi puisi terbarunya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, sebagai persembahan bagi dunia sastra dan demokrasi tanah air,” ungkap Iwan Sumule di hadapan para hadirin dengan penuh rasa hormat dan bangga.
Puisi pertama yang dibacakan langsung oleh penulisnya itu berjudul “Anjing-anjing Satir Sebagai Penjaga Sosialisme di Indonesia”. Karya indah dan berapi-api ini secara khusus dipersembahkan oleh Bambang Isti Nugroho kepada dua tokoh besar, yaitu Iwan Sumule dan Rachman Tolleng — yang dikenal luas sebagai dedengkot, tokoh utama, dan pelopor pemikiran sosialis di Indonesia, yang sepanjang hidupnya selalu terkesan bersembunyi dalam kesunyian, bekerja diam-diam, namun jejak pemikirannya terngiang keras dan melekat kuat di dalam sanubari sejarah bangsa ini.
Usai pembacaan ketiga puisi yang begitu menggetarkan jiwa dan menyentuh hati itu, acara dilanjutkan dengan penyampaian ucapan selamat, doa, serta pesan-pesan berharga dari sahabat-sahabat dekat Rianda Bermawi yang hadir, di antaranya Risman dan kawan-kawan seperjuangan lainnya. Suasana canda, tawa, serta keceriaan yang hangat pun memenuhi hampir seluruh ruangan, menyatu dengan rasa haru dan kebersamaan yang mendalam sepanjang acara berlangsung. Di sela-sela percakapan hangat itu, asal-usul kelahiran Rianda Bermawi dari Kepulauan Bacan, Maluku Utara, menjadi pembicaraan menarik yang meyakinkan seluruh hadirin: kelak, reputasi, kiprah, dan perjalanan politik Rianda akan bersinar terang, cerah, dan berkilau indah, persis seperti keindahan serta popularitas batu akik khas Bacan yang pernah sangat viral, mendominasi dunia perbatuan dan perhiasan tradisional di seluruh Tanah Air kita.
Sebagai penutup, puncak acara, dan tausiyah pamungkas yang menjadi penanda penting dalam perayaan ulang tahun bernuansa politik dan kaderisasi ini, Iwan Sumule mempercayakan panggung utama kepada sosok yang sangat dihormati, yakni penasehat spiritual yang telah mendampingi perjalanan hidup dan karier politik Joko Widodo — mulai dari masa sebelum beliau menjadi Walikota Surakarta, berlanjut saat menjabat Gubernur DKI Jakarta, hingga mengukir sejarah menjadi Presiden Republik Indonesia untuk dua periode. Menurut pandangan Iwan Sumule, sangatlah tepat, relevan, dan penuh makna apabila di akhir acara ini seluruh hadirin mendengarkan wejangan, tausiyah, serta pesan luhur dari Sri Eko Sriyanto Galgendu, sosok bijaksana yang kini lebih dikenal luas dan diagungkan sebagai Pemimpin Spiritual Nusantara yang penuh wibawa.
Hadirnya wejangan dari tokoh spiritual besar ini menjadikan seluruh rangkaian acara ulang tahun itu berakhir dalam suasana yang penuh hikmat, ketenangan batin, dan pemahaman yang mendalam, khususnya dalam perspektif pergerakan, aktivis, dan kaum demokrasi. Hal ini setidaknya menjadi bukti nyata bahwa konsolidasi demokrasi di Indonesia tetap berjalan konsisten, terjaga keberlangsungannya, dan tumbuh dalam kesadaran para aktivis yang kian matang, berwawasan luas, dan berhati jernih. Sosok seperti Iwan Sumule, dengan sikap hidupnya yang sederhana, ugahari, rendah hati namun teguh pendirian, sungguh meyakinkan seluruh elemen bangsa bahwa iklim demokrasi di Indonesia akan tetap terjaga, tumbuh subur, dan berkembang ke arah yang lebih baik.
Lebih dari itu, janji telah ditegaskan: acara-acara serupa, wadah-wadah pertemuan, serta momentum konsolidasi demokrasi seperti ini akan terus berlanjut, terus dipelihara, dan terus dikembangkan dalam berbagai bentuk serta kemasan yang sederhana namun tetap penuh, padat makna, dan kaya nilai perjuangan, demi menjaga keutuhan, kemajuan, dan kedaulatan bangsa Indonesia tercinta ini.
Pewarta : Hidayat
Sumber : Lingkaran I Istana, 11 Mei 2026
Oleh : Jacob Ereste
(TIM REDAKSI)































