30.2 C
Jakarta
Kamis, Mei 14, 2026

Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

Masyarakat Konawe Utara Geruduk Kantor PLN UP3 Kendari, Tuntut Pertanggungjawaban dan Solusi Nyata

Kesal Arus Listrik Tak Stabil dan Merusak Aset Warga, Masyarakat Konawe Utara Geruduk Kantor PLN UP3 Kendari, Tuntut Pertanggungjawaban dan Solusi Nyata

KENDARI, 13 Mei 2026 – Amarah, kekecewaan mendalam, serta rasa ketidaksabaran masyarakat Kabupaten Konawe Utara akhirnya memuncak dan meluap menjadi sebuah aksi protes yang tegas dan nyata. Berbulan-bulan lamanya warga di wilayah tersebut terpaksa hidup dalam ketidakpastian, keresahan, dan kerugian materiil yang terus menumpuk akibat kondisi pelayanan kelistrikan yang dinilai semakin memburuk, tidak stabil, dan jauh dari kata layak. Puncaknya, pada hari Rabu, 13 Mei 2026, sejumlah warga dari Kabupaten Konawe Utara secara berkelompok mendatangi dan menggeruduk kantor Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Kendari, membawa serta tuntutan yang jelas, tegas, dan mendesak agar pihak manajemen PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) memberikan pertanggungjawaban penuh atas segala permasalahan yang terjadi, serta segera menghadirkan solusi konkret yang dapat mengakhiri penderitaan dan kerugian yang dirasakan oleh masyarakat luas.

Suasana di halaman dan lingkungan kantor PLN UP3 Kendari terasa sangat panas, tegang, dan dipenuhi semangat protes yang meluap-luap. Massa aksi hadir dengan membawa spanduk bertuliskan aspirasi dan keluhan mereka, serta menyuarakan tuntutan secara lantang, bersatu padu, dan penuh tekad agar suara mereka didengar, dipahami, dan ditindaklanjuti dengan sungguh-sungguh oleh pihak berwenang. Dalam aksi damai namun berisi ketegasan ini, warga menyoroti secara gamblang dan rinci mengenai kondisi kelistrikan yang terjadi di seluruh wilayah Kabupaten Konawe Utara, yang menurut pengakuan dan pengalaman nyata mereka sehari-hari, kualitasnya terus menurun drastis dan tak kunjung menunjukkan perbaikan berarti meskipun telah berkali-kali disampaikan keluh kesahnya.

Selain frekuensi pemadaman listrik yang sangat sering terjadi, tak menentu waktunya, dan berlangsung dalam durasi yang cukup lama, masalah yang jauh lebih serius dan merugikan adalah ketidakstabilan tegangan arus listrik yang disalurkan. Kondisi tegangan yang senantiasa naik turun secara drastis, tidak beraturan, dan melonjak di luar batas standar keamanan inilah yang menjadi biang kerok utama dan sumber malapetaka bagi aset-aset berharga milik masyarakat. Akibat fluktuasi arus listrik yang parah tersebut, tercatat sudah sangat banyak peralatan elektronik, barang rumah tangga, hingga perangkat penunjang usaha warga yang rusak berat, terbakar, hingga tidak dapat diperbaiki kembali. Kerusakan tersebut meliputi berbagai jenis barang kebutuhan pokok masyarakat, mulai dari pesawat televisi, lemari es, mesin cuci, pompa air, hingga peralatan dan mesin-mesin yang digunakan dalam kegiatan usaha kecil dan menengah yang menjadi tumpuan penghasilan keluarga.

Di hadapan massa aksi yang berkumpul, Hendrik, salah satu perwakilan masyarakat yang turut memimpin jalannya protes, menyampaikan orasi dengan nada suara yang tinggi, penuh penekanan, dan mewakili perasaan seluruh warga yang merasa sangat dirugikan. Beliau mengemukakan fakta yang menjadi dasar kemarahan mereka, yaitu kewajiban warga sebagai pelanggan yang senantiasa dipenuhi dengan tertib dan tepat waktu, namun hak mendapatkan pelayanan yang layak justru tidak pernah mereka peroleh.

“Kami masyarakat Konawe Utara ini selalu membayar tagihan listrik kami tepat waktu, bahkan tidak pernah sekalipun menunggak kewajiban pembayaran tersebut. Akan tetapi, apa yang kami dapatkan? Arus listrik yang kami terima tidak pernah stabil, kondisinya buruk, dan masalah ini terjadi terus-menerus dari hari ke hari. Akibat ketidakstabilan itu, sudah sangat banyak alat elektronik milik warga yang rusak parah, terbakar, dan tidak dapat digunakan lagi, semuanya murni disebabkan oleh tegangan listrik yang naik turun secara liar dan tidak terkontrol dari pihak PLN,” ujar Hendrik dengan tegas, lantang, dan penuh rasa keberatan.

Lebih jauh lagi, Hendrik menyampaikan pernyataan keras yang ditujukan langsung kepada pihak pengelola PLN, mengingatkan kembali betapa panjangnya kesabaran yang telah dicurahkan oleh masyarakat selama ini, yang sayangnya belum berbalas dengan perbaikan kinerja maupun pelayanan. Beliau menegaskan bahwa batas toleransi masyarakat sudah habis dan tuntutan ini disampaikan sebagai peringatan serius agar pihak terkait segera bergerak dan bertindak.

“Jangan jadikan masyarakat Konawe Utara ini sebagai korban yang harus menderita terus-menerus akibat buruknya kualitas pelayanan kelistrikan yang kami terima. Hampir setiap hari kami merasakan gangguan, arus tidak stabil, dan suasana hidup yang tidak tenang. Alat-alat berharga milik warga rusak satu demi satu, namun seolah-olah pihak PLN menutup mata, menutup telinga, dan tidak mau tahu atas apa yang menimpa kami semua. Jika memang pihak PLN merasa tidak mampu, tidak siap, atau tidak sanggup memberikan pelayanan yang layak, aman, dan baik kepada masyarakat, maka jangan biarkan kami terus-menerus menanggung kerugian dan penderitaan ini sendirian. Kami menuntut tanggung jawab penuh,” tegas Hendrik di hadapan para peserta aksi yang terus menyuarakan dukungan atas setiap kalimat yang disampaikannya.

Beliau juga kembali menyoroti besaran kerugian materiil yang ditanggung oleh masyarakat, yang sama sekali bukanlah angka atau nilai yang kecil dan sepele. Kerusakan yang terjadi mencakup barang-barang kebutuhan hidup yang harganya cukup tinggi, seperti televisi, kulkas, mesin air, hingga alat-alat produksi usaha yang menjadi tumpuan hidup banyak keluarga. Namun, sampai aksi ini digelar, belum ada kejelasan, tanggapan, maupun bentuk pertanggungjawaban yang nyata dari pihak PLN terkait ganti rugi atau penyelesaian masalah atas kerugian yang telah dialami oleh ratusan bahkan ribuan warga tersebut.

“Ini bukanlah kerugian yang nilainya kecil atau bisa dianggap remeh. Televisi, kulkas, mesin air, sampai alat-alat usaha yang menjadi nyawa penghidupan kami, semuanya rusak satu per satu dan menjadi sampah tak berguna hanya karena kualitas arus listrik yang benar-benar amburadul dan tidak terstandar. Ironisnya, sampai hari ini, masyarakat dipaksa dan dipersulit untuk menanggung sendiri segala kerugian itu, sementara pihak penyedia layanan belum memberikan kepastian hukum maupun keadilan bagi kami,” lanjutnya dengan nada yang semakin tinggi dan penuh penekanan rasa ketidakadilan.

Selain menuntut pemulihan kualitas pasokan listrik agar kembali stabil, kuat, dan aman serta terbebas dari gangguan pemadaman maupun lonjakan tegangan, masyarakat juga secara khusus menuntut agar pihak manajemen PLN bersikap transparan, terbuka, dan jujur dalam memberikan penjelasan mendasar mengenai apa sebenarnya penyebab utama dari rangkaian panjang gangguan dan masalah kelistrikan yang terus-menerus melanda wilayah Konawe Utara ini selama berbulan-bulan. Tidak hanya itu, massa aksi juga mendesak disusunnya langkah-langkah pembenahan, rencana kerja, dan perbaikan jaringan yang nyata, terukur, dan berjangka panjang guna menjamin kualitas layanan di masa depan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Situasi di lokasi sempat berlangsung cukup tegang dan memanas seiring berlanjutnya penyampaian aspirasi, mengingat besarnya beban kekecewaan yang tertumpah. Namun, suasana akhirnya dapat mereda dan menemukan titik terang setelah pihak manajemen PLN UP3 Kendari bersedia menerima perwakilan dari massa aksi untuk masuk ke dalam ruang pertemuan, duduk bersama, dan melaksanakan dialog terbuka guna menyerap seluruh keluhan, catatan, serta tuntutan yang disampaikan oleh masyarakat Konawe Utara.

Di akhir kegiatan yang penuh makna dan ketegasan ini, masyarakat melalui perwakilannya kembali menegaskan sikap mereka dengan sangat jelas dan serius. Apabila persoalan mendasar mengenai ketidakstabilan arus listrik, gangguan yang berulang, dan kerugian yang ditimbulkan ini terus berlanjut tanpa adanya solusi nyata, tindakan perbaikan, dan keadilan yang jelas, maka mereka bertekad bulat untuk kembali melakukan aksi protes yang lebih besar, lebih masif, dan melibatkan jumlah massa yang jauh lebih banyak di waktu mendatang, sebagai bukti ketidakterimaan yang tegas terhadap buruknya kualitas pelayanan kelistrikan di wilayah Kabupaten Konawe Utara.

(Tim Redaksi)

Berita Terkait