29.9 C
Jakarta
Selasa, Maret 24, 2026

Wartawan Investigasi

Pencari Bukti Yang Tersembunyi

Kadiman Pakpahan, BERFIKIR INTELEKTUAL CARA  FEODAL

kadiman pakpahan

Samosir, Kadiman Pakpahan, mr. dreamer berpendapat bahwa Intelektual berpikir feodal adalah suatu kritik terhadap sosok berpendidikan atau akademisi yang secara formal memiliki pemikiran modern, namun secara mentalitas masih terjebak dalam pola hubungan atasan-bawahan yang kaku dan haus akan penghormatan berlebihan.

Dalam konteks sosial di Indonesia, fenomena ini sering terlihat melalui beberapa ciri utama:

1.Haus Kehormatan dan Status, lebih mementingkan gelar, jabatan, atau posisi sosial daripada kualitas ide, gagasan atau argumen yang dihasilkan.

2.Otoriter secara Intelektual:, menganggap pendapatnya paling benar karena faktor usia atau senioritas, sehingga menutup ruang diskusi (kurang terbangunnya dialektika)  bagi mereka yang dianggap lebih rendah.

  1. Sikap “Yes Man” atau ABS, kecenderungan untuk selalu setuju pada penguasa atau atasan demi menjaga posisi, alih-alih bersikap kritis sebagai seorang intelektual sejati.

4.Melanggengkan Hierarki di Pendidikan, fenomena di mana dosen atau guru besar diposisikan seperti “raja” yang tidak boleh dibantah, yang justru menghambat kemajuan emansipasi intelektual dan kebebasan berfikir.

5.Formalisme yang Berlebihan:, lebih fokus pada protokoler, seremoni, dan tata krama yang kaku dibandingkan esensi dari hakekat  ilmu pengetahuan itu sendiri.

Kesimpulannya, intelektual yang berpikir feodal adalah mereka yang menggunakan kecerdasannya bukan untuk  membebaskan pikiran, melainkan untuk melanggengkan struktur kekuasaan kaku yang menguntungkan diri mereka sendiri.

Usaha-usaha memperbaiki karakter feodal adalah:

1.Menumbuhkan Kesadaran Egaliter:

Langkah awal adalah menyadari bahwa setiap individu memiliki martabat dan hak yang sama tanpa memandang jabatan atau latar belakang sosial.

– Hargai Kompetensi, okuslah pada kemampuan dan kontribusi seseorang, bukan pada gelar atau status sosialnya.

– Gunakan Bahasa yang Setara, di lingkungan profesional, mulailah membiasakan komunikasi yang lebih cair dan tidak terlalu kaku pada protokol birokrasi yang berlebihan.

  1. Membangun Budaya Berpikir Kritis:

Karakter feodal biasanya menghambat  daya kritis karena adanya tuntutan loyalitas penuh tanpa tanya.

– Buka Ruang Diskusi, biasakan diri untuk menerima masukan atau kritik dari bawahan atau orang yang lebih muda.

– Pertanyakan Tradisi yang Menghambat, jangan hanya mengikuti sesuatu karena “sudah dari sananya”. Evaluasi apakah suatu kebiasaan masih relevan dan adil untuk semua

  1. Mengubah Gaya Kepemimpinan Kepemimpinan:

Jika Anda berada dalam posisi pemimpin, hindari gaya otoriter yang hanya memerintah.

 Kepemimpinan yang Melayani, fokuslah pada bagaimana Anda bisa membantu tim mencapai tujuan bersama, bukan bagaimana tim melayani kepentingan pribadi Anda.

– Transparansi, kurangi jarak komunikasi  dengan tim agar informasi mengalir secara objektif, bukan sekadar laporan yang menyenangkan telinga atasan.

  1. Pendidikan dan Lingkungan Sosial:

Feodalisme sering kali langgeng karena struktur pendidikan dan

Dalam Keluarga, hindari menjadikan ajang kumpul keluarga sebagai tempat pamer prestasi atau status untuk merendahkan anggota keluarga lain.

– Edukasi Berkelanjutan, teruslah belajar mengenai nilai-nilai demokrasi dan hak asasi manusia untuk memperluas perspektif tentang relasi sosial yang sehat.

Upaya ini memerlukan aktivitas berpikir yang konsisten dan kemauan untuk keluar dari zona nyaman hierarki yang menguntungkan diri sendiri (red)

Berita Terkait